Tampilkan postingan dengan label Kisah Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sufi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

Kisah Sahabat Abu Yazid Al Bistami

Abu Yazid al-Bistami adalah nama masyhur dari Al 'Arif Billah Sultanul Arifin Asysyaikh Thaifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan. Beliau lahir pada tahun 188 H/804 M dan wafat sekitar tahun 261 H/875 M ini merupakan tokoh sufi termashur dan berada di urutan kelima dalam silsilah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah. Tidak sedikit tokoh sufi lain yang bersahabat dengannya,beberapa diantaranya adalah Ahmad Ibn Khadrawyh dan Yahya ibn Mu’adz al-Razi.

Ahmad Ibn Khadrawyh

Nama lengkapnya Abu Hamid ibn Ahmad ibn Khadrawyh al Balkhi, seorang syaikh sufi yang begitu agung dalam futuwwah,yaitu perilaku mulia yang mengikuti teladan Nabi SAW, wali, orang-orang bijak,dan para pecinta Allah. Ia belajar kepada Abu Turab al-Nakhsyaby. Ketika datang di Naishabur ke rumah Abu Hafs – sapaan Abu Turab al-Nakhsyaby – beliau berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih besar hasratnya dan lebih benar kondisi rohaninya dibanding Ahmad ibn Khadrawyh.” Ketika melanjutkan perjalanan ke Bistam menemui Abu Yazid al-Bistami, Abu Yazid pun menyambutnya dengan menyebut, “Ahmad, guru kami.”
Ahmad ibn Khadrawyh menulis karya-karya terkenal mengenai etika dan wacana-wacana cemerlang tentang tasawuf. Ujaran-ujarannya bermutu tinggi dan kebenaran ungkapan-ungkapannya bisa dipertanggungjawabkan. Berikut ucapan-ucapan Ahmad ibn Khadrawyh.

Tiada tidur yang lebih berat ketimbang kealpaan. Tiada belenggu yang memperbudak ketimbang syahwat. Bila saja muatan berat kealpaan pada dirimu tidak ada, tentu engkau tidak berbuat syahwat.

“Jalan sudah terbentang dan kebenaran sudah jelas, penggembala telah menyerukan panggilannya. Sesudah itu,jika seseorang kehilangan dirinya sendiri karena kebutaannya sendiri, sungguh keliru mencari-cari jalan, karena jalan menuju Tuhan adalah seperti kilatan sinar matahari. Hendaknya engkau mencari dirimu sendiri, karena bilamana engkau telah menemukan dirimu sendiri, engkau akan sampai pada tujuan perjalanan,karena Tuhan terlalu nyata untuk dicari.”

“Bunuhlah jiwamu itu sehingga ia dapat kamu hidupkan kembali. Tuhan itu terang dan nyata. Jika engkau tidak dapat melihatnya maka matamulah yang buta.”

Ahmad ibn Khadrawyh yang beristri Fatimah putri Amir Balkh, tinggal di Naishabur dan wafat pada 240 H/854 M dalam usia 95 tahun.

Yahya ibn Mu’adz al-Razi

Nama lengkapnya Abu Zakariyya Yahya ibn Mu’adz al-Razi. Pada suatu hari ia menulis sepucuk surat kepada sahabatnya, Abu Yazid al-Bistami, bahwa dia sudah mabuk oleh karena terlalu banyak meminum khamar cinta. Abu Yazid membalas,“Orang lain pun telah meminum air demikian sepenuh lautan, langit dan bumi, tetapi dia belum juga merasa puas,dia masih tetap menjulurkan lidahnya meminta tambah lagi dan tambah lagi.”Tentu yang ia maksud dengan ‘orang lain’ itu adalah dirinya (Abu Yazid) sendiri.

Yahya ibn Mu’adz al-Razi adalah salah seorang murid Ibn Karram yang meninggalkan Rayy, kota kelahirannya dan beberapa lama menetap di Balkh. Kemudian, pindah ke Naishabur dimana beliau wafat pada 258 H/871 M.

Yahya menulis banyak kitab yang sebagian besar telah hilang. Ucapanucapan di dalam bukunya disusun hati-hati, enak didengar, padat isinya, serta berguna bagi pengabdian. Ungkapanungkapannya yang tersebar dan beberapa sajaknya yang sampai kepada pembaca,memiliki gaya yang indah dan berbeda dengan ungkapan para sufi Baghdad dan Khurasan. Ia dikenal sebagai seorang khatib yang memanggil jamaahnya untuk mendekat kepada Allah. Meskipun banyak sufi lain yang suka memberikan khatbah bagi umum, ia adalah satu-satunya sufi yang mendapat julukan al-wa’iz (juru khatbah).

Yahya juga banyak berbicara tentang Cinta illahi. Ia pernah mengatakan, “Cinta sejati tidak redup oleh kekejaman kekasih,dan tidak tumbuh oleh karunia Tuhan, ia senantiasa berlangsung sama.”

Ia pernah berbicara tentang perbedaan antara orang yang datang menghadiri pesta dan orang yang datang ke pesta dengan maksud menemui kekasihnya. Inilah perbedaan antara petapa yang merindukan surga demi kenikmatan dan pecinta yang merindukan wajah gemilang Kekasih Abadinya. Yahya mengucapkan kata-kata yang sering dikutip.

“Maut itu indah, sebab ia menggabungkan sahabat dengan Sahabat.”

Ciri yang paling menonjol dalam kesalehan Yahya adalah renungan suatu kepercayaan mengenai Allah yang penuh kasih sayang. Dalam bentuk dialektis,doa-doanya menunjukkan kontras antara pendosa yang putus asa dan Allah Maha Kuasa yang bisa memaafkan umat-Nya yang papa dengan harta ampunan yang tak habis-habisnya.

Di antara doanya, “Ya, Allah.Kau telah mengirim Musa dan Harun kepada Fir’aun si pemberontak dan berkata. ‘Berbicaralah baik-baik dengannya.’‘Ya, Allah, inilah kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menganggap dirinya Tuhan; bagaimana pula gerangan kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menjadi abdi-Mu sepenuh jiwanya? Ya, Allah, aku takut kepada-Mu karena Kaulah Tuan. Ya,Allah, bagaimana aku tidak berharap pada-Mu, padahal Kau penuh maaf, dan bagaimana pula aku tidak takut pada-Mu karena Kau Maha Kuasa? Ya, Allah, bagaimana aku datang kepada-Mu karena aku budak yang memberontak, dan bagaimana aku tidak datang kepada-Mu karena Kau Penguasa Yang Pemurah?”

Yahya mempercayai sedalamdalamnya Maha Rahman dan Rahim Tuhan dapat menutup setiap dosa. Sebab betapa pun hampir sempurna seorang manusia, berbuat dosa tetap merupakan sifat manusia.Oleh karena itu, Yahya bermunajat,“Ya, Allah, meskipun aku tidak bisa menghindarkandiri dari dosa, kau bisa memaafkan dosa-dosa. Ya, Allah, aku tidak melakukan apa pun untuk bisa mencapai surga dan aku tidak tahan menghadapi api neraka, segalanya terpulang kepada kemurahan-Mu belaka. Ya, Allah, maafkan aku, karena aku milik-Mu.” (BAMS-MFH)

Minggu, 29 Mei 2011

Kisah Tuhfah (sang sufi wanita)


Begitu taatnya kepada Allah, akhirnya Tuhfah dianggap gila oleh majikannya. Sehingga, ia dimasukkan di RS jiwa. Tiba-tiba seorang sufi ingin menebusnya, tapi majikan Tuhfah yang semula menjual harga tinggi, akhirnya malah tidak menjual. Bahkan, mereka akhirnya menjalankan ibadah haji bersama-sama sampai meninggal dunia.

Budak Yang Sufi
SUFI wanita, Tuhfah, hidup sezaman dengan sufi Sari al-Saqati (sekitar tahun 250 H/853 M). Tuhfah seorang budak yang tidak mengenal tidur maupun makan, sepanjang hari menangis serta merintih dalam mengabdi kepada Allah. Akhirnya ketika keadaan sudah demikian gawat untuk ditangani keluarga majikannya. Mereka pun mengirim ke rumah sakit jiwa.

Sufi yang banyak bercerita tentang Tuhfah adalah Sari al-Saqati. Menurut al-Saqati, dia pergi ke rumah sakit karena kesumpekan hati nya. Di suatu kamar, ia mendapati seorang gadis hanya saja kedua kakinya dirantai Air matanya berlinangaan sepanjang hari ia selalu melantunkan syair
Ketika ingin tahu identitas gadis itu, seorang perawat mengatakan ia seorang budak yang gila dan bernama Tuhfah. la dikirim oleh seseorang yang rupanya majikannya. Ketika perawat itu menerangkan kepada al-Saqati perihal dirinya. la pun berlinang matanya.

Tuhfah berkata, “Tangisanmu ini, lahir dari pengetahuanrnu tentang sifat-sifat Allah. Bagaimana jadinya jika engkau benar-benar mengenal-Nya sebagaimana dibutuhkan oleh makrifat hakiki?” Setelah berkata begitu Tuhfah pingsan satu jam. Sesudah itu ia bersyair kembali.

Saqati menganggap, Tuhfah sebagai saudara. Ketika Saqati bertanya siapa yang memenjarakan (maksudnya mengirim) ke rumah sakit ini?” Orang-orang yang iri dan dengki,” jawabnya. Mendengar jawaban itu, Saqati menganjurkan kepada petugas rumah sakit itu agar Tuhfah dilepas saja dan membiarkan ia pergi ke mana saja. Melihat gelagat itu Tuhfah bereaksi.

SAQATI BERDOA
Mendadak seseorang muncul di rumah sakit. Menurut seorang perawat, dia adalah majikan Tuhfah. Siapa yang memberi tahu, kalau budaknya yang gila itu sudah bersama al-Saqati, seorang syaikh. la sangat gembira dan mengatakan barangkali Sufi yang datang itu bisa menyembuhkan budaknya. la mengaku bahwa dirinya yang mengirim ke rurnah sakit. Seluruh hartanya sudah ludes untuk membiayai pengobatannya. Katanya budak itu dibeli dengan harga 20.000 dirham.

Saqati tertarik rnembeli karena ketrampilannya sebagai penyanyi, sementara alat musik yang sering ia pakai adalah harpa. la seorang sufi wanita yang begitu kuat cintanya kepada Allah.

Mendengar kisah itu Saqati kemudian dengan berani menawar berapa saja uang yang diminta jika sang majikan menjualnya. Sang majikan menukas, “Wahai Saqati, engkau benar seorang sufi, tetapi engkau sangat fakir, tidak bakalan bisa menebus harga Tuhfah,” tukasnya.

Benar apa yang dikatakan majikan Tuhfah. Kala menawar, Saqati tak memiliki uang sedirham pun. Saqati pulang dengan hati menangis. Tekadnya untuk membeli Tuhfah begitu besar dan menggebu-gebu, namun apa dikata, uang pun ia tak mengantungi. Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, Engkau mengetahui keadaan lahiriah dan batiniahku. Hanya dalam rahmat dan anugerah-Mu aku percayakan diriku. Janganlah Engkau hinakan diriku kini!”

Selesai berdoa tiba-tiba pintu diketuk orang. Saqati pun membuka pintu. Didapati seseorang yang mengaku bernama Ahmad Musni dengan membawa empat orang budak yang memanggul pundi-pundi. Musni mendengar suara gaib, agar ia membawa lima pundi-pundi ke rumah Sari Al Saqati, supaya sufi fakir itu memperoleh kebahagiaan untuk membeli Tuhfah. Itulah salah satu karomah yang dimiliki al-Saqati.


HAJI BERSAMA
Mendengar cerita Musni itu, Saqati langsung sujud sukur, dilanjutkan dengan salat malam, dan bangun sampai pagi. Ketika matahari sepenggalah, Saqati mengajak Musni ke rumah sakit. Majikan Tuhfah yang mengejeknya itu sudah
berada di rumah sakit lebih dahulu. Ketika hendak dibayar berapa saja harga yang diminta, majikan itu malah mengelak, “Tidak Tuan, sekiranya Anda memberiku seluruh dunia ini untuk mernbelinya, aku tidak mau menerimanya. Aku telah membebaskan Tuhfah. la henar-benar bebas untuk mengikuti kehendak Allah,” tuturnya.

Mendengar kata-kata majikan itu, Ahmad Musni yang memberi Saqati lima pundi-pundi ikut menangis. Musni menangis karena terharu kepada majikan itu yang sudah meninggalkan duniawi, melepaskan hartanya seperti dirinya juga.” Betapa agung berkah yang diberikan Tuhfah, kepada kita bertiga ini” ujar Musni sambil menatap Sari Al Saqati dan majikan Tuhfah.

Ketiga orang itu pun kini berperilaku seperti sufi. Ketiganya pergi haji ke Makkah Dalam perjalanan Baghdad-Makkah Musni meninggal dunia Ketika sampai di Baitullah dan keduanya thawaf, Ketika saqati memberi tahu, bahwa Musni sudah meninggal Tuhfah berkomentar, “Di surga ia akan menjadi tetanggaku, Belum ada seorang pun yang melihat nikmat yang diberikan kepadanya”.

Ketika Saqati memberi tahu bahwa majikannya juga melaksanakan haji bersamanya, Tuhfah hanya berdoa sebentar, sesudah itu ia roboh di samping Kakbah. Ketika majikannya datang dan melihat Tuhfah sudah tak bernyawa, ia sangat sedih dan roboh di sampingnya. Saqati kemudian memandikan, mengkafani, menyalati dan menguburkan Tuhfah dan majikannya. Saqati selesai berhaji pulang sendirian ke Irak.


Syair-Syair Mahabbah Tuhfah kepada Allah

Aku bahagia berada dalam jubah Kesatuan

yang Engkau kenakan pada diriku

Engkaulah Tuhanku, dan Tuhan dalam kebenaran, seluruhnya

Hasrat-hasrat sekilas mengepung qalbuku

Namun, setiap dorongan berhimpun dalam diri-Mu

bersama-sama, saat kutatap diri-Mu

Segenap tenggorokan tercekik kehausan pun

terpuaskan air minuman

Tapi, apa yang terjadi atas orang orang yang kehausan oleh air?

Qalbuku pun merenungkan dan merasa sedih atas segenap dosa dan kesalahan di masa lalu

Sementara jiwa yang terikat raga ini pun menanggung derita kepedihan

Jiwa dan pikiranku pun kenyang dengan kerinduan

Ragaku pun sepenuhnya bergelora dan membara

Sementara dalam relung qalbuku, cinta-Mu pun tertutup rapat-rapat



Betapa sering aku kembali menghadap kepada-Mu

seraya memohon ampunan-Mu

Wahai junjunganku, wahai Tuhanku,

Engkau tahu apa yang ada dalam diriku

Kepada orang banyak telah kuserahkan dunia dan agamanya

Dan aku sibuk terus menerus mengingat-Mu

Engkau, yang merupakan agama dan duniaku



Sesudah mencari-Mu dengan kecemburuan liar seperti ini,

kini akyu dibenci dan didengki

Karena Engkau adalah Tuhanku

kini akulah kekasih di atas segalanya




Ada lagi syair Tuhfah ra. lainnya

Qalbuku, yang mabuk oleh anggur lembut kasih sayang dan cinta,

kembali merindukan kekasihnya

Wahai, menangislah! Bebaslah dalam menangis di Hari Pengasingan

Air mata berlimpah yang jatuh berderai sesungguhnya baik semata

Betapa banyak mata yang dibuat Allah menangis ketakutan dan merasa risau kepada-Nya

kemudian merasa lega dan tentram

Sang budak yang tak sengaja berbuat dosa tapi menangis penuh penyesalan tetaplah seorang budak

Sekalipun ia kebingungan dan begitu ketakutan


Dalam qalbunya lampu terang pun bersinar cemerlang.

sumber : sufiroad.blogspot.com

Minggu, 22 Mei 2011

sebuah kisah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili


Syadziliyah adalah nama suatu desa di benua Afrika yang merupakan nisbat nama Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. Beliau pernah bermukim di Iskandar sekitar tahun 656 H. Beliau wafat dalam perjalanan haji dan dimakamkan di padang Idzaab Mesir. Sebuah padang pasir yang tadinya airnya asin menjadi tawar sebab keramat Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a.

Beliau belajar ilmu thariqah dan hakikat setelah matang dalam ilmu fiqihnya. Bahkan beliau tak pernah terkalahkan setiap berdebat dengan ulama-ulama ahli fiqih pada masa itu. Dalam mempelajari ilmu hakikat, beliau berguru kepada wali quthub yang agung dan masyhur yaitu Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, dan akhirnya beliau yang meneruskan quthbiyahnya dan menjadi Imam Al-Auliya’.

Peninggalan ampuh sampai sekarang yang sering diamalkan oleh umat Islam adalah Hizb Nashr dan Hizb Bahr, di samping Thariqah Syadziliyah yang banyak sekali pengikutnya. Hizb Bahr merupakan Hizb yang diterima langsung dari Rasulullah saw. yang dibacakan langsung satu persatu hurufnya oleh beliau saw.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. pernah ber-riadhah selama 80 hari tidak makan, dengan disertai dzikir dan membaca shalawat yang tidak pernah berhenti. Pada saat itu beliau merasa tujuannya untuk wushul (sampai) kepada Allah swt. telah tercapai. Kemudian datanglah seorang perempuan yang keluar dari gua dengan wajah yang sangat menawan dan bercahaya. Dia menghampiri beliau dan berkata, ”Sunguh sangat sial, lapar selama 80 hari saja sudah merasa berhasil, sedangkan aku sudah enam bulan lamanya belum pernah merasakan makanan sedikitpun”.

Suatu ketika saat berkelana, beliau berkata dalam hati, “Ya Allah, kapankah aku bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur?”. Kemudian terdengarlah suara, “Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya kamu saja”. Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal Engkau sudah memberi nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?”. Kemudian terdengarlah suara lagi, “Jika tidak ada Nabi, kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu tidak akan merasa aman. Itu semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”.

Beliau pernah khalwat (menyendiri) dalam sebuah gua agar bisa wushul (sampai) kepada Allah swt. Lalu beliau berkata dalam hatinya, bahwa besok hatinya akan terbuka. Kemudian seorang waliyullah mendatangi beliau dan berkata, “Bagaimana mungkin orang yang berkata besok hatinya akan terbuka bisa menjadi wali. Aduh hai badan, kenapa kamu beribadah bukan karena Allah (hanya ingin menuruti nafsu menjadi wali)”. Setelah itu beliau sadar dan faham dari mana datangnya orang tadi. Segera saja beliau bertaubat dan minta ampun kepada Allah swt. Tidak lama kemudian hati Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. sudah di buka oleh Allah swt.

Demikian di antara bidayah (permulaaan) Syekh Abul Hasan As-Syadzili. Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya? Sabdanya, “Guruku adalah Syekh Abdus Salam Ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Ustman bin ‘Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika’il, Isrofil, Izro’il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, “Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat”. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, “Aku setiap malam banyak membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku”. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, “Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu ‘An Asy-Syekh Abil Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah SWT. apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?”. Lalu Nabi saw. Menjawab, “Abul Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawashul kepada Abul Hasan, maka berarti dia sama saja bertawashul kepadaku”.

Pada suatu hari dalam sebuah pengajian Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. menerangkan tentang zuhud, dan di dalam majelis terdapat seorang faqir yang berpakaian seadanya, sedang waktu itu Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili berpakaian serba bagus. Lalu dalam hati orang faqir tadi berkata, “Bagaimana mungkin Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili r.a. berbicara tentang zuhud sedang beliau sendiri pakaiannya bagus-bagus. Yang bisa dikatakan lebih zuhud adalah aku karena pakaianku jelek-jelek”.

Kemudian Syekh Abul Hasan menoleh kepada orang itu dan berkata, “Pakaianmu yang seperti itu adalah pakaian yang mengundang senang dunia karena dengan pakaian itu kamu merasa dipandang orang sebagai orang zuhud. Kalau pakaianku ini mengundang orang menamakanku orang kaya dan orang tidak menganggap aku sebagai orang zuhud, karena zuhud itu adalah makam dan kedudukan yang tinggi”. Orang fakir tadi lalu berdiri dan berkata, “Demi Allah, memang hatiku berkata aku adalah orang yang zuhud. Aku sekarang minta ampun kepada Allah dan bertaubat”.

Di antara Ungkapan Mutiara Syekh Abul Hasan Asy-Syadili:

1. Tidak ada dosa yang lebih besar dari dua perkara ini : pertama, senang dunia dan memilih dunia mengalahkan akherat. Kedua, ridha menetapi kebodohan tidak mau meningkatkan ilmunya.

2. Sebab-sebab sempit dan susah fikiran itu ada tiga :
pertama, karena berbuat dosa dan untuk mengatasinya dengan bertaubat dan beristiqhfar.
Kedua, karena kehilangan dunia, maka kembalikanlah kepada Allah swt. sadarlah bahwa itu bukan kepunyaanmu dan hanya titipan dan akan ditarik kembali oleh Allah swt.
Ketiga, disakiti orang lain, kalau karena dianiaya oleh orang lain maka bersabarlah dan sadarlah bahwa semua itu yang membikin Allah swt. untuk mengujimu.Kalau Allah swt. belum memberi tahu apa sebabnya sempit atau susah, maka tenanglah mengikuti jalannya taqdir ilahi. Memang masih berada di bawah awan yang sedang melintas berjalan (awan itu berguna dan lama-lama akan hilang dengan sendirinya). Ada satu perkara yang barang siapa bisa menjalankan akan bisa menjadi pemimpin yaitu berpaling dari dunia dan bertahan diri dari perbuatan dhalimnya ahli dunia. Setiap keramat (kemuliaan) yang tidak bersamaan dengan ridha Allah swt. dan tidak bersamaan dengan senang kepada Allah dan senangnya Allah, maka orang tersebut terbujuk syetan dan menjadi orang yang rusak. Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.Di antara keramatnya para Shidiqin ialah : 1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah (kontineu). 2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).

3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.


Diantara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.


Kamu jangan menunda ta’at di satu waktu, pada waktu yang lain, agar kamu tidak tersiksa dengan habisnya waktu untuk berta’at (tidak bisa menjalankan) sebagai balasan yang kamu sia-siakan. Karena setiap waktu itu ada jatah ta’at pengabdian tersendiri. Kamu jangan menyebarkan ilmu yang bertujuan agar manusia membetulkanmu dan menganggap baik kepadamu, akan tetapi sebarkanlah ilmu dengan tujuan agar Allah swt. membenarkanmu. Radiya allahu ‘anhu wa ‘aada ‘alaina min barakatihi wa anwarihi wa asrorihi wa ‘uluumihi wa ahlakihi, Allahumma Amiin.


sumber : sufiroad.blogspot.com

Sabtu, 16 April 2011

Wilayat dan Qutbaniyyat


Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

WILAYAT berarti maqam kewalian dan ia merupakan maqam yang khas di kalangan

Ummat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang beriman. Seseorang yang telah mengamalkan Syari‘at Islam dengan sempurna dan menuruti Tariqat yang dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan menuruti segala Adab dan Sunnahnya, Makrifat dan mengenal Zat Allah dengan Sifat-SifatNya, Nama- NamaNya serta Perbuatan-PerbuatanNya dengan keyakinan yang sempurna serta telah mencapai Haqiqat dalam kefahamannya tentang wajibnya kewujudan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hakikat Kenabian Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, hakikat Agama, hakikat kewujudan diri, dan segala hakikat kewujudan makhluk dan alam semesta, dia pasti akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala angkatkan ke darjat Para WaliNya.

Wali adalah seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul dengan keimanan yang sempurna dan dia sentiasa dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan membantunya dalam setiap urusan. Allah mengasihinya dan dia mengasihi Allah. Di dalam hatinya tidak ada rasa takut terhadap makhluk dan tidak ada rasa kesusahan hati baginya.

Perkataan Auliya adalah lafaz jamak bagi Wali yang bererti Para Wali dan memberikan makna Para Kekasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Para Wali adalah mereka yang menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pelindung dansentiasa menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adalahAl-Wa l iy yang bererti Yang Maha Melindungi dan Dialah jugaAl-Wal i yang bererti Yang Maha Memerintah dan Menguasai Segala Urusan. Perkataan Wali dari sudut timbangan wazan dalam bahasa ‘Arab boleh membawa makna Isim Fa’il yang bermaksud katanama pelaku dan ianya juga boleh membawa makna Isim Maf’ul yang bermaksud katanama bagi sesuatu yang kena dari perlakuan tersebut.

Jika diandaikan perkataan Wali itu membawa makna Isim Fa’il, maka Wali itu bermaksud, orang yang sentiasa menjaga ketaatannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menolak semua perkara yang selain dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kerana itulah, maka Wali adalah seorang yang mendapat pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika diandaikan perkataan Wali itu membawa makna Isim Maf’ul, maka perkataan Wali itu bermaksud, orang yang sentiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jestru, seorang Wali itu jika dilihat dari sudut hamba, maka dia sentiasa taat menjaga hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melaksanakan segala yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika dilihat dari sudut Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka dia sentiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga dia boleh melakukan ketaatan kepadaNya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Quran pada Surah
Yunus ayat 62 – 64 bagi menerangkan keadaan Para WaliNya yang bermaksud,

“Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan di Akhirat, tidak ada perubahan bagi kalimah janji-janji Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Para Wali sentiasa mendapat perlindungan khusus dari Allah dan di kalangan mereka ada yang mencapai berbagai tahap dan tingkatan kesucian. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa menyucikan dan mensucikan diri dengan Istighfar, Taubat, Zikrullah dan Selawat serta pembacaan Al-Quran.
Di dalam kitab Risalah Qusyairiyah ada dinyatakan ciri-ciri untuk mengenal
pasti bahawa seseorang itu adalah Wali Allah dan ianya menerusi tiga perkara, iaitu:
1) Mereka selalu menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala.
2) Mereka selalu bermunajat, meminta dan memohon kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala.
3) Mereka menjadikan maksud dan tujuan mereka satu iaitu Allah SubhanahuWa Ta’ala.

Hadhrat ‘Abdullah As-Salim Rahmatullah ‘alaih mentakrifkan Wali sebagai,

“Mereka yang dapat dikenal kerana bicara mereka yang baik, tingkah laku yang sopan, merendahkan diri, murah hati, tak suka berselisih, menerima permintaan maaf dari siapa saja yang meminta maaf kepadanya, halus budi terhadap segala ciptaan baik yang elok rupanya mahupun yang buruk.”

Hadhrat Ibnu ‘Arabi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa,

“Seseorang itu disebutkan sebagai Wali apabila dia sudah mencapai tingkatan Ma’rifat, iaitu tingkatan tertinggi dalam tingkatan Tasawwuf Akhlak. Tetapi yang sulitnya Ma’rifat ini tidak dapat diperolehi melalui teori atau manhaj. Ma’rifat adalah pemberian dan anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih berkata bahawa,
“Wali ialah seorang yang sentiasa sabar di bawah suruhan dan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Walaubagaimanapun, di kalangan Para Wali dan Auliya, Wilayat merupakan suatu maqam yang umum yang mampu dicapai oleh sekelian Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan di sisi Allah terdapat suatu maqam kewalian yang lebih tinggi dan merupakan suatu maqam yang khusus di kalangan Para Wali yang menduduki maqam Wilayat dan ianya merupakan maqam Qutbaniyat. Ianya merupakan suatu kedudukan yang khusus bagi golongan yang khas.

Terdapat berbagai jenis Wali yang datang silih berganti yakni apabila wafatnya salah seorang dari mereka maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat seorang lagi hambanya dikalangan orang-orang yang beriman untuk menggantikan tempat WaliNya yang telah wafat.

Iman merupakan syarat utama kerana sekiranya seseorang itu tidak beriman, bagaimanakah dia hendak mengenali Penciptanya? Walaubagaimanapun, hanya orang-orang beriman yang telah mencapai martabat Iman dan ‘Amal yang sempurna kepada Allah dan Rasul, barulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkatnya sebagai Wali. Seseorang Wali sekali-kali tidak akan dapat mencapai pangkat Nabi dan sesungguhnya setiap Nabi adalah Wali.
Hadhrat Ibrahim bin Adham Rahmatullah ‘alaih pernah bertanya kepada
seorang lelaki,
“Apakah kamu suka bila Allah menjadikanmu seorang Wali?”
Kemudian lelaki itu menjawab,
“Ya, aku suka.”

Ibrahim bin Adham Rahmatullah ‘alaih lalu berkata,

“Janganlah engakau menyenangi perkara dunia dan akhirat tetapi kosongkanlah jiwamu untuk Allah semata dan hadapkan wajahmu kepada Nya supaya Allah menerimamu dan menjadikanmu sebagai WaliNya.”

Hadhrat Syeikh Ahmad Al-Fathani Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di
dalam kitabnya Faridatul Faraid bahwa,

“Mengi’tiqadkan tsabit Karamat bagi Para Auliya pada ketika hidup dan setelah wafat mereka adalah wajib. Karamat atau Karamah ialah sesuatu pekerjaan atau perbuatan atau perlakuan yang menyalahi dan mencarik adat secara nyata dan ianya dikurniakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman lagi beramal soleh. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa mendirikan dan menegakkan segala hak-hak Allah di atas muka bumi.”

Berkata Hadhrat Syeikh Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Ahmad An- Nasafi Rahmatullah ‘alaih di dalam kitabnya ‘Aqaid An-Nasafi menyebutkan bahawa,

“Segala Karamah yakni segala perlakuan yang mulia dan indah yang terbit dari segala Wali itu adalah kebenaran yang Haq. Maka menjadi nyatalah segala Karamah itu atas jalan melawan adat bagi seseorang Wali, seperti melalui perjalanan yang jauh dalam masa yang sedikit, kelihatan hadirnya makanan atau minuman atau pakaian tatkala berkehendak, berjalan di atas air dan pada udara, boleh berkata-kata dengan Jamad yakni segala benda yang bersifat beku dan juga boleh berkata-kata dengan ‘Ajma yakni segala benda yang tidak tahu berkata-kata, dapat menolak sesuatu bala yang dihadapi, dapat memelihara daripada sesuatu yang mendukakan dari kalangan musuh dan seteru serta berbagai-bagai lagi yang selain dari yang telah disebutkan.”

Adapun perkara yang sedemikian itu apabila berlaku ke atas Para Nabi maka ianya disebutkan sebagai Mukjizat dan bagi orang-orang yang beriman, perkara tersebut dinamakan sebagai Karamat. Apabila perkara-perkara yang berbentuk Karamat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala zahirkan di kalangan Ummat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ianya adalah untuk menzahirkan bahawa sesungguhnya dia itu seorang Wali.
Hadhrat Ibnu ‘Ataillah Al-Iskandari Rahmatullah ‘alaih ada menyebut,
“Maha Suci Allah yang telah menutup berbagai rahsia Wali dengan
ternampaknya sifat-sifat manusia biasa.”
Menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abbas Al-Mursi Rahmatullah ‘alaih bahawa,

“Jika Allah bukakan dan perlihatkan rahsia atau Nur Kewalian itu nescaya boleh merosakkan Tauhid Wali itu sendiri. Misalnya Hadhrat Mansur Al-Hallaj Rahmatullah ‘alaih yang pernah mengucapkan:
“Maha Suci Engkau, Maha Suci Aku” adalah ketika Nur Kewaliannya Tajalli
pada dirinya.”

Sumber :'Abdu Dhaif Faqir Haqir
Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi
Naqshbandi Mujaddidi Uwaisi'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

sumber : sufiroad.blogspot.com

Martabat Wali


Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

ADALAH terkenal di kalangan Para Wali dengan tingkatan kedudukannya di Alam
Ruhaniyah iaitu suatu yang berupa hirarki tingkatan dan kuasa keruhanian. Tingkatan kekuasaan yang tertinggi yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan hanya kepada satu hamba sahaja dan dia takkan digantikan kecuali dia wafat. Mereka di gelarkan dengan gelaran Qutub karana telah mencapai maqam Qutbaniyat yakni maqam yang khas dikalangan Para Wali. Perumpamaan yang dapat hamba berikan adalah Para Wali itu diibaratkan seperti Para Nabi dan Para Qutub itu pula diibaratkan seperti Para Rasul di kalangan Ummat Muhammadiyah ini. Wallahu A’lam.

Menurut sebuah Hadits yang telah dikeluarkan oleh Hadhrat Abu Na’im dan Hadhrat Ibnu ‘Asakir yang meriwayatkan daripada Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya bagi Allah ‘Azza Wa Jalla ada 300 orang dari kalangan manusia ini yang hati mereka itu seperti hati Nabi Adam ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 7 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 40 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 5 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Jibril ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada 3 orang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Mikail ‘Alaihissalam, dan bagi Allah itu ada seorang di kalangan manusia yang hati mereka itu seperti hati Israfil ‘Alaihissalam. Apabila wafat yang seorang ini, maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 3 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 3 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 5 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 5 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 7 orang itu. Apabila wafat seorang dari yang 7 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari yang 40 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 40 orang itu maka Allah akan menggantikannya dengan melantik salah seorang dari golongan yang 300 orang itu. Dan apabila wafat seorang dari yang 300 orang itu, maka Allah menggantikannya dengan melantik salah seorang dari kalangan orang ramai. Maka dengan Para Wali yang tersebut itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan, diturunkan hujan, dihidupkan tumbuh-tumbuhan dan dihalang bala dari menimpa ummat manusia ini.” Hadhrat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud telah ditanya, “Bagaimana dikatakan bahawa dengan Para Wali itulah seseorang itu dihidupkan dan dimatikan?” Beliau menjawab, “Kerana Para Wali itu memohon kepada Allah supaya Allah meramaikan bilangan manusia, maka manusia pun menjadi bertambah ramai. Mereka itu berdoa kepada Allah agar orang-orang yang zalim dan tidak berbelas kasihan dibinasakan, maka mereka itupun dihancurkan. Mereka memohon supaya diturunkan hujan, maka diturunkanlah hujan. Mereka memohon agar disuburkan bumi, maka suburlah bumi. Mereka itu berdoa, maka dengan doa mereka itu dijauhkan berbagai rupa bala.”

Bilangan Para Wali tidak dapat ditentukan jumlahnya yang sebenar karana mereka adalah Ahli-Ahli Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya Dialah yang tahu berapakah jumlah bilangan yang sebenar Para AuliyaNya. Namun bilangan mereka yang khusus dari kalangan Para Wali itu adalah tetap sepertimana yang ada dinyatakan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Na’im Rahmatullah ‘alaih bermafhum,
“Orang-orang yang terbaik dari kalangan Ummatku pada setiap kurun itu
ialah seramai lima ratus orang.”


Mereka adalah orang-orang yang ‘Arif tentang Allah serta tekun membuat kebaikan dan menjauhkan maksiat dan nafsu syahwat. Ingatan mereka hanya tetap kehadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadhrat Imam Muslim dan At-Tirmizi Rahmatullah ‘alaihima bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda yang mafhumnya,

“Telah memperoleh kemenangan golongan Al-Mufarridun.” Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah orang- orang yang sangat suka menghabiskan masa untuk berzikir mengingati Allah. Zikir itu tidak memberatkan mereka, maka mereka itu akan datang di Hari Qiyamat dalam keadaan ringan.”

Sebuah Hadits ada menyatakan yang mafhumnya,

“Satu golongan dari Ummat Islam ini sentiasa dapat menegakkan kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menentang mereka itu sehinggalah datang ketentuan urusan Allah Ta’ala.”

Dalam sebuah Hadits yang telah diriwayatkan oleh Hadhrat An-Nasa’I dan Hadhrat Ibnu Hibban Rahmatullah ‘alaihima, bahawa Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,

Sesungguhnya ada hamba-hamba dari kalangan Hamba Allah yang dipandang tinggi dan sangat mulia oleh Para Nabi dan Syuhada.” Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah ditanya, “Siapakah mereka itu, Ya! Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam? Mudah- mudahan kami juga kasihkan mereka. Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mereka itu ialah kaum yang berkasih sayang antara satu dengan yang lain dengan Nur Allah tanpa memandang kepada harta kekayaan dan keturunan. Wajah-wajah mereka adalah bercahaya dan mereka itu adalah berada di atas limpahan Cahaya Allah. Mereka tidak akan berasa takut walaupun manusia lainnya berasa takut dan mereka tidak akan berasa dukacita bila manusia lain berdukacita.”

Hadhrat Mujaddidul Millat Maulana Ashraf ‘Ali Thanwi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa, istilah-istilah Tasawwuf terbahagi kepada dua jenis
Yang pertama ialah apa yang bertakluk dengan maksud, iaitu apa yang terkandung di dalam Syari’at, yang mana hakikat segala istilah yang digunakan dalam Tasawwuf adalah untuk merujuk kepada Syari’at.
Yang kedua ialah, istilah-istilah yangdigunakan untuk perkara-perkara tambahan. Ianya digunakan untuk menyatakan perkara-perkara yang di luar Syari’at, sebagai contohnya Tajdid Imtsal, Tauhid Wujudi, Shughal, Rabitah dan sebagainya.

Perkara ini merupakan sesuatu yang halus di kalangan Para Sufi yang mulia, yang mana bagi menyembunyikan rahsia mereka dari pengetahuan umum, maka mereka pun menggunakan berbagai istilah. Jikalau tidak, tentulah ianya akan bercanggah dengan Al-Quran dan Hadits, maka wujudlah perkataan-perkataan yang baharu. Sebahagian ‘Ulama yang tidak mengerti dengan penggunaan istilah mereka telah membantah ke atas mereka, yang mana pada hakikatnya memang perkara itu tidak berlaku secara Waqi’, bahkan ianya hanya berlaku pada sudut kefahaman seseorang.

Hadhrat Syeikh ‘Ali Bin ‘Utsman Al-Hujwiri Rahmatullah ‘alaih menyatakan di dalam kitabnya Kashful Mahjub bahawa, menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abdullah Muhammad Bin ‘Ali Al-Hakim Al-Tirmizi Rahmatullah ‘alaih, ada terdapat sebanyak empat ribu Wali yang sentiasa hidup di dunia ini dan tidak dapat diketahui oleh orang ramai kerana mereka dilindungi dan disembunyikan oleh Allah Ta’ala, dan mereka tidak mengenal antara satu dengan yang lain.

Beliau menyatakan lagi bahwa terdapat tiga ratus orang yang bergelar Akhyar, empat puluh orang yang bergelar Abdal, tujuh orang yang bergelar Abrar, empat orang yang bergelar Awtad, tiga orang yang bergelar Nuqaba dan seorang yang bergelar Qutub dan Ghauts. Mereka yang termasuk dalam golongan tersebut itu adalah mengenali diri mereka antara satu sama lain.

Adapun pembahagian jenis-jenis Wali dinyatakan seperti berikut seperti yang
telah dinyatakan di dalam kitab-kitab.

1. Wali Abdal
2. Wali Abrar
3. Wali Akhyar
4. Wali Aqtab
5. Wali Autad
6. Wali ‘Imad
7. Wali Ghauts
8. Wali Mufradan
9. Wali Maktuman
10. Wali Nujaba
11. Wali Nuqaba
12. Wali Qutub

1. ABDAL

Terdapat empat puluh orang Wali Abdal kesemuanya. Dua puluh dua orang dari mereka berada di Negara Syam yakni Damsyik, Syria dan lapan belas dari mereka berada di Negara Iraq. Menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih bahawa sekali Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah ditanyakan orang tentang Ahli Syam yakni Para Abdal. Hadhrat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu telah berkata bahawa dia telah mendengar Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahawa,

Wali Abdal berada di Negeri Syam dan mereka berjumlah empat puluh orang kesemuanya. Apabila seorang daripada mereka mati, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikan tempatnya dengan seorang yang lain. Dengan menerusi keberkatan mereka maka diturunkan hujan dan membantu mereka menghadapi musuh-musuh dan menjauhkan azab bagi para penduduk Syam.”

2. ABRAR
Kebanyakan Ulama mengatakan bahawa Wali Abdal adalah Wali Abrar.

3. AKHYAR
Terdapat lima ratus orang Wali Akhyar kesemuanya dan adakalanya meningkat sehingga tujuh ratus orang. Kedudukan mereka ada di merata tempat di atas muka bumi ini. Terdapat Hussain pada nama mereka.

4. AQTAB
Terdapat 2 jenis Wali Aqtab:
1.AQTAB MU‘AIYINAH
-Terdapat satu Qutub Al-‘Alam yang dikenali juga sebagai Qutub Akbar atau Qutub Al-Irshad atau Qutub Al- Aqtab atau sebagai Qutub Al-Madar. Namanya di Alam Ghaib ialah ‘Abdullah dan memiliki dua orang pembantu. Di bawahnya terdapat dua belas orang Wali Qutub. Tujuh orang dari Wali Qutub tersebut menduduki tujuh benua dan dinamakan mereka sebagai Qutub Aqlim dan lima orang dari Wali Qutub tersebut tinggal di Negara Yaman. Mereka dinamakan sebagai Qutub Wilayat.

2.AQTAB GHAIR MU‘AIYINAH - Terdapat di setiap bandar atau kariah, seorang Qutub yang akan mendoakan kesejahteraan dan memohon dijauhkan dari segala bala dan musibah.

5. AUTAD
Tedapat 4 orang kesemuanya dan mereka menduduki empat penjuru alam.

6. ‘IMAD
Terdapat 4 orang kesemuanya dan mereka juga menduduki empat penjuru alam dan
bernama Muhammad.

7. GHAUTS

Hanya seorang sahaja Ghauts pada setiap zaman dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia juga adalah Qutub Al-Aqtab dan sebahagian Ulama mengatakan tidak. Beliau tinggal di Mekah dan sebahagian Ulama mengatakan bahawa dia tidak tinggal di Mekah.

8. MUFRADAN
Seseorang Wali Ghauts yang menuju kepada maqam Qutub Al-Aqtab akan terlebih dahulu melalui kedudukan Wali Fard atau dikenali sebagai Mufradan atau Mufarridan.

9. MAKTUMAN
Mereka adalah Auliya yang tersembunyi dan tidak diketahui keadaan mereka.

10. NUJABA
Mereka berjumlah 70 orang kesemuanya dan tinggal di Negara Mesir serta terdapat
Hassan pada nama mereka.

11. NUQABA
Mereka berjumlah tiga ratus orang kesemuanya dan mereka tinggal di Negara
Maghribi (Maroko) dan mereka bernama ‘Ali.

12. QUTUB
Terdapat 2 jenis Wali Qutub
1. QUTUB AL-IRSHAD -Yang pertama adalah mereka yang memberi khidmat petunjuk, memperbaiki hati, mentarbiyah nafsu, membimbing kepada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan makbul di sisiNya. Mereka dikenali sebagai Ahli Irshad. Dari kalangan mereka ini yang paling sempurna dan terbaik di zaman masing-masing dan memiliki limpahan Faidhz yang sempurna, maka mereka digelar sebagai Qutub Al-Irshad. Mereka adalah Naib Para Anbiya yang hakiki. Hati-hati manusia bercahaya dan diberkati kerana mereka dan syarat bagi memperolehi keberkatan tersebut dari mereka adalah dengan meletakkan I’tiqad serta kepercayaan yang penuh terhadap mereka. Keupayaan mereka seumpama Nubuwwat.

2.QUTUB AT-TAKWIN - Kemudian ada golongan yang kedua iaitu mereka yang berkhidmat mengislahkan manusia dan mentadbir urusan keagamaan dan sebagai penghindar bala dan musibah yang mana dengan kehendak Batin mereka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperbetulkan urusan-urusan tersebut. Mereka digelar sebagai Ahli Takwin. Dari kalangan mereka itu yang paling tinggi dan kuat kedudukannya dan menjadi penghukum atau penyembuh bagi mereka yang lain, maka mereka itu digelar sebagai Qutub At-Takwin. Hal kehidupan mereka sepertimana kehidupan Hadhrat Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menjalankan urusan pentadbiran. Hadhrat Khidhr ‘Alaihissalam menduduki maqam seperti ini. Dengan kedudukan mereka yang tinggi maka terzahirlah perkara-perkara yang ajaib dan perkara ini adalah lazim. Keadaan mereka tidak seperti Ahli Irshad kerana pada Ahli Irshad tidaklah semestinya berlaku perkara-perkara yang menyalahi adat. Ahli Irshad memiliki Karamat dalam bentuk yang berbeza di mana orang- orang awam tidak dapat memahaminya, bahkan ianya adalah urusan yang berupa Zauq dan perasaan Syauq. Seseorang yang berhajat dan berkhidmat dengan mereka ini dalam suatu jangkamasa yang panjang akan beroleh faedah yang besar dan adalah mereka ini mengetahui keadaan tersebut.

Perkataan Qutub pada pengertian bahasa ‘Arab bererti penghulu kaum manakala menurut istilah Ahli Tasawwuf dan Tariqat, Qutub bererti Penghulu bagi Para Auliya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka berada pada tingkatan yang teratas dari kebanyakan Para Wali serta terhimpun padanya kesempurnaan Syari’at, Tariqat, Ma’rifat dan Haqiqat. Para Qutub menjadi tempat rujukan dan petunjuk bagi Para Wali yang lain.

Mereka membantu menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri Para Wali dan orang-orang yang menuju kepada Kewalian. Kedudukan mereka sangat tinggi dan tidak mudah dicapai melainkan dengan Rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka ada di tiap pelosok muka bumi dan tidak seorang pun yang mengenali mereka kecuali bagi orang-orang yang benar-benar ikhlas ingin mengenali mereka dan mengambil istifadah ruhaniah yakni faedah keruhanian dari mereka

Di dalam kitab Jami’ Karamatil Auliya dinyatakan bahawa Wali Qutub diberi gelaran ‘Abdullah dan tingkatan Wali sesudahnya adalah Wali Aimmah yang berjumlah dua orang saja. Seorang diberikan nama ‘Abdur Rabb dan seorang lagi bernama ‘Abdul Malik. Dua orang Wali inilah yang nantinya akan menggantikan Wali Qutub ketika dia wafat meninggalkan Dunia. Di bawah keduanya terdapat Wali Autad yang berjumlah empat orang dan mempunyai tugas yang berlainan pada kawasan yang berlainan. Seorang di Timur, seorang di Barat, seorang di Utara dan seorang di Selatan. Wali Autad adakalanya terdiri dari kalangan kaum perempuan.

Tingkatan selanjutnya di bawah mereka adalah Wali Abdal dan mereka berjumlah tujuh orang dan ditugaskan menjaga tujuh iklim benua di Dunia. Kemudian ada tingkatan Wali Nuqaba iaitu Wali Pengganti sebanyak dua belas orang di setiap peredaran masa dan jumlah mereka tidak akan pernah bertambah mahupun berkurang sesuai dengan jumlah Buruj Falak yang berjumlah dua belas. Kemudian terdapat juga di bawah mereka tingkatan Wali Nujaba yang berjumlah lapan orang dan tingkatan yang terakhir sekali adalah tingkatan Hawariyun. Wallahu A’lam.
Menurut Hadhrat Syeikh Muhammad Hisham Kabbani Quddisallahu Sirruhu
terdapat lima tingkatan Qutub yang tertinggi yaitu:

1. Qutub
2. Qutub Al-Bilad
3. Qutub Al-Mutasarrif
4. Qutub Al-Irshad
5. Qutub Al-Aqtab

Menurut beliau,Qutu b adalah seseorang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala kurniakan keupayaan menerusi Hakikat Muhammadiyah untuk menghuraikan ilmu pengetahuan tentang hakikat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum kewujudannya sehinggalah diutuskan ke Dunia. Qutub juga menghuraikan cabang- cabang ilmu pengetahuan yang baru menerusi hati Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Bilad adalah bertanggungjawab untuk mentadbir urusan di Dunia dan memastikannya berjalan lancar.

Dia mengetahui tentang keperluan jasmani setiap bangsa manusia dan bukan manusia. Qutub Al-Mutasarrif diberikan kemuliaan untuk mengarahkan Malaikat kepada manusia atau makhluk yang berlainan dan dia bertanggungjawab untuk berkhidmat kepada makhluk sehinggakan kepada ulat di dalam batu. Segala kemuliaan ini diperolehinya menerusi Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Qutub Al-Irshad pula bertanggungjawab untuk memberikan nasihat dan petunjuk kepada seratus dua puluh empat ribu Para Wali manakala Qutub Al-Aqtab pula bertanggungjawab mengawasi kesemua Wali Aqtab

Di atas sekelian Wali Qutub dan Aqtab adalahGhaut s dan Rohaniahnya adalah yang paling dekat dengan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada zamannya. Ghauts ada pada setiap zaman dan dia diibaratkan seperti suatu terusan yang akan membawa sesiapa sahaja yang dikehendakinya kepada Hakikat Muhammadiyah dan Hakikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hadhrat Khwajah Khwajagan Ghautsul Tsaqilain Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari mereka sepertimana Hadhrat Qutubul Aqtab Ghautsul A’zam Syeikh ‘Abdul Qadir Al- Jailani Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Ghautsul Aqtab Khwajah ‘Abdul Khaliq Ghujduwani Rahmatullah ‘alaih dan begitu juga Hadhrat Imam Rabbani Ghauts As- Samdani Mujaddid Alf Tsani Syeikh Ahmad Faruqi Sirhindi Rahmatullah ‘alaih. Mereka datang silih berganti pada setiap zaman sama ada mereka diketahui ataupun tidak diketahui. Para Wali Qutub, Aqtab dan Ghauts menghasilkan limpahan ilmu kerohanian terus dari Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menerusi hati ke hati. Mereka diberikan pengetahuan tentang segala perkara dan kejadian yang berlaku di atas muka bumi yang berkaitan dengan angin ribut, gempa bumi dan hujan yang lebat.

Mereka selalunya dari keturunan yang mulia Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam iaitu menerusi Hassani dan Hussaini. Meskipun jika seseorang yang dikurniakan Qutub atau Aqtab atau Ghauts tidak mempunyai pertalian keturunan Hassani mahupun Hussaini, mereka adalah orang-orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala hendak meninggikannya sepertimana Hadhrat Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang mendapat pengiktirafan sebagai Ahli Keluarga Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Meskipun beliau adalah seorang A’jam yang datang berhijrah dari Parsi dan memeluk Islam setelah bertemu dengan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun kerana ketinggian Iman dan amalannya yang Ikhlas, beliau telah diisytiharkan sebagai Ahlul Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Adapun kedudukan yang lebih tinggi dari yang tersebut di atas, adalah Sultanul Auliya dan ia merupakan kedudukan yang tertinggi bagi seseorang

Wali Allah. Mereka diberikan kewajipan untuk memenuhi keperluan hati dan ruhani manusia. Mereka membawa raja-raja di Dunia kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sultanul Auliya merupakan Khalifah Allah yang sebenar di atas muka bumi pada zamannya dan dia merupakan wakil Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara seratus dua puluh empat ribu Para Wali yang lain adalah sebagai mewakili kesemua seratus dua puluh empat ribu Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimus Solatu Wassalam. Wallahu A’lam.

Walaubagaimanapun, satu perkara yang perlu sentiasa dipegang oleh sekelian Ahli Tariqat bahawasanya Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Khatamun Nabiyyin yang bererti Penutup Sekelian Nabi. Ini bermaksud, sesudah Hadhrat Baginda Nabi MuhammadRasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak akan ada lagi sebarang Nabi atau Rasul yang baru akan muncul dengan membawa sebarang Syari’at yang baru sehinggalah ke Hari Qiyamat yang mana inilah merupakan ‘Aqidah sekelian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang telah disepakati.

Jika ada yang mendakwa dirinya sebagai Nabi atau Rasul atau mendakwa membawa suatu Syari’at yang baru untuk ummat manusia dan ianya bercanggah dengan Syari’at yang telah dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka adalah diyakini bahawa ianya tertolak, manakala orang yang mengeluarkan dakwaan tersebut adalah sesat dan jika dia mengajak manusia lain maka adalah dia itu sesat lagi menyesatkan, dan adalah mereka itu Dajjal-Dajjal kecil yang sememangnya ditakdirkan wujud sesudah kewafatan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di kalangan Ummat sepertimana Musailamah Al-Kazzab dan ini merupakan suatui ujian atas keimanan dan I’tiqad di kalangan Ummat Islam.

Adapun Hadhrat Baginda Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam yang akan muncul menjelangnya Hari Qiyamat bukanlah Nabi yang baru kerana Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam telah pun dihantar 600 tahun sebelum kelahiran Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan pada usia 33 tahun telah diangkat ke langit. Nabi ‘Isa ‘Alaihissalam tidak akan membawa sebarang Syari’at yang baharu, sebaliknya beliau akan turun sebagai seorang Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melaksanakan Syari’at Islam dengan Haq.
Wallahu A'lam Wa 'Ilmuhu Akmal Wa Atam

Sumber :'Abdu Dhaif Faqir Haqir
Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi
Naqshbandi Mujaddidi Uwaisi'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi

sumber : sufiroad.blogspot.com

Kamis, 20 Januari 2011

Mengenai Wali Allah dan Tanda-tandanya

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari tkebatalan kepada ketetapannya adalah kesungguhan menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah segala kebaikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, dalam kitabnya Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”

Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya (awliya’), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah pasti menang. (QS. al Maidah : 56)

Bagi Allah, ada orang takkan dapat dikenal melainkan oleh para khusus. Bagi Allah, ada orang (kelompok) yang dapat dikenal oleh oleh para khusus dan awam. Bagi Allah, ada orang yang takkan dapat dikenal oleh para khusus maupun para umum. Bagi Allah, ada yang telah diungkapkan pada “Bidayat” (permulaan)dan ditutup rapat pada “Nihayat” (kesudahan). Bagi Allah, ada orang yang ditutup rapat pada “Bidayat” (permulaan) dan diungkapkan pada “Nihayat”. Dan bagi Allah ada orang (kelompok) yang tidak dapat dikenal selain oleh Dia sendiri. Tiada yang dapat mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan Allah Swt, kecuali para malaikat.


Seorang wali selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dia tidak tertarik mengejar keutamaan duniawi, apalagi menguasai seperti diinginkan banyak orang. Ketika mendapat sedikit nikmat dia tetap bersabar, jika banyak dia bersyukur. Celaan atau pujian, terkenal atau tidak, baginya sama saja. Dia tidak sombong dengan kewalian yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Semakin tinggi Allah menaikkan derajadnya, semakin bertambah kedudukannya. Dialah orang yang berakhlak baik, sangat ramah dan bijaksana. Seorang wali senantiasa menyibukkan dirinya dengan hal yang disenangi dan di sunahkan Allah, sehingga ia dicintai Allah, menyatu dengan-Nya, do’a-do’anya selalu terkabul dan selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : اِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا يُغْبِطُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ. هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِنُوْرِ اللهِ مِنْ غَيْرِ اَمْوَالِ وَاَنْسَابِ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ. وَهُمْ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ لاَيَخَافُوْنَ اِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَخْزَنُوْنَ اِذَا حَزِنَ النَاسُ. ثُمَّ تَلاَ. اَلاَ اِنَّ اَوْلِياَءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ.
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Dan apa amal perbuatan mereka? Semoga kita dapat mencintai mereka? Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda yang dengannya mereka saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Di antara sifat-sifat mereka adalah dapat mewariskan kepada para kawan semajelis mereka mengenai kesempurnaan dzikir. Mereka karena cintanya kepada Allah dan menyatu dengan-Nya, maka setiap orang yang menyebut Allah, mereka pun harus diingat pula. Dan setiap orang yang menyebut mereka, berarti Allah pun disebut. Karena nama Allah tidak bisa dipisahkan dengan nama mereka, dan nama mereka pun tidak bisa dipisahkan dengan nama Allah.
اِنَّ اَوْلِياَئِى مِنْ عِبَادِى وَاَحِبَّانِى مِنْ خَلْقِى الَّذِيْنَ يُذْكَرُوْنَ بِذِكْرِى وَاذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para wali diantara para hamba-Ku dan para kekasih-Ku di antara makhluk adalah mereka yang selalu disebut dengan nama-Ku. Begitu juga Aku disebut dengan sebutan (nama) mereka.

Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka.

Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para hawariyun telah bertanya kepada Nabi Isa tentang siapa para wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada batin dunia ini, padahal para manusia yang lain memandang dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya umur) dunia ini, ketika para manusia melihat pada kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia ini merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan mereka terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi berikut ini :
ياَ أَوْلِيَائِى، جَزَائِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْجَزَاءِ، وَعَطَائِى لَكُمْ اَجْزَلُ الْعَطَاءِ، وَبَذْلِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْبَذْلِ، وَفَضْلِى عَلَيْكُمْ اَكْثَرُ الْفَضْلِ، وَمُعَامَلَتِى لَكُمْ اَوْفَى مُعَامَلَةٍ وَمُطَالَبَتِى لَكُمْ اَشَدُّ الْمُطَالَبَةِ. اَناَ مُجْتَبَى الْقُلُوْبِ وَاَناَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ وَاَناَ مُرَاقِبُ الْحَرَكَاتِ وَمُلاَحِظُ اللَّحَظَاتِ اَناَالْمُشْرِفُ عَلىَ الْخَوَاطِرِ، اَناَ الْعَالِمُ بِمَا جَالَ الْفِكْرُ فَكُوْنُوْا دُعَاةً لِى لاَ يَفُزُّ عَنْكُمْ ذَوِى سُلْطَانٍ سِوَايَ، فَمَنْ عَادَاكُمْ عَادَيْتُهُ وَمَنْ وَالاَكُمْ وَالَيْتُهُ وَمَنْ اَذَاكُمْ اَهْلَكْتُهُ وَمَنْ اَحْسَنُ اِلَيْكُمْ جَازَيْتُهُ، وَمَنْ هَجَرَكُمْ قَلَّيْتُهُ
Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku kepadamu adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku demi untukmu adalah semulia-mulianya pendermaan. Anugerah-Ku terhadapmu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku atas kamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilik setiap hati sanubari. Akulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran.

Dengan demikian hendaklah kamu menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barang siapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barang siapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Akulah yang akan membinasakannya. Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang memberinya pahala dan barang siapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya.

Dalam riwayat yang lain, yaitu dari Dzunnun yang juga berkenaan dengan sifat mereka adalah bersegera kepada amal kebaikan, berpaling daripada senda gurau dan terbebas dari keraguan serta kekejian. Mereka seperti orang-orang yang bisu dan buta, padahal mereka fasih dan melihat, malah mereka memiliki pandangan yang tajam. Tentang kaum ini, tiada seorang pun yang berkemampuan untuk menguraikan seluruh dari hal ihwal mereka. Bersama mereka, dapat tercegah balas dendam dan atas mereka diturunkan berbagai keberkahan di muka bumi. Merekalah manusia yang paling indah dalam bertutur kata, manusia-manusia yang sangat memenuhi janji setia, cahaya bagi para hamba yang memberi sinar terang kepada Negara, pelita dimalam gelap gulita, pancaran hikmat kebijaksanaan, tiang yang kokoh bagi umat dan masyarakat. Tulang rusuk mereka amat renggang dari tempat tidur, memiliki sifat pemaaf dan gemar memberi keringanan. Tangan mereka terbuka serta dermawan. Mereka memandang pahala Allah dengan jiwa-jiwa yang penuh kerinduan. Dengan lirikan mata yang tepat. Amal perbuatan mereka yang rapi penuh dengan kesesuaian.

Mereka itulah yang telah mendapatkan cahaya Ilahiyat dengan nur ar Rahman, sehingga dapat memandang keindahan maut dan memandang akhirat dengan mata keridlaan. Membeli yang kekal dengan yang fana. Alangkah nikmatnya apa yang mereka jual-belikan dengan menghimpun dua kebaikan dan menyempurnakan dua kelebihan. Nabi bersabda :
اَحَبُّ الْعِبَادِ إِلىَ اللهِ اْلاَتْقِيَاءُ اْلاَخْفِيَاءُ الَّذِيْنَ اِذَا غَابُوْا لَمْ يَفْتَقِدُوْا وَاِذَا شَهِدُوْا لَمْ يَعْرِفُوْا اُولَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيْحُ الْعِلْمِ
Hamba yang paling cinta kepada Allah adalah yang tersembunyi. Apabila mereka gaib (tidak hadir), sekali-kali tiada orang yang dapat mengenalnya. Mereka itu adalah para imam hidayat dan lampu-lampu ilmu pengetahuan.

Sabda Beliau Saw yang lain :
اِنَّ مِنْ خِيَارِ اُمَّتِى قَوْمٌ يَضْحَكُوْنَ جَهْراً مِنْ سَعَةِ رَحْمَةِ رَبِّهِمْ وَيَبْكُوْنَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ شِدَّةِ عَذَابِ رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ يَذْكُرُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ وَيَدْعُوْنَهُ بِأَلْسِنَتِهِمْ رَغَبًا وَرَهَباً وَيَشْتَاقُوْنَ اِلَيْهِ بِقُلُوْبِهِمْ عَوْدًا وَبَدَأَ مُؤْنَتُهُمْ عَلىَ النَّاسِ خَفِيْفَةً وَعَلىَ اَنْفُسِهِمْ ثَقِيْلَةً عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالىَ شُهُوْدٌ حَاضِرَةٌ وَاَعْيُنٌ حَافِظَةٌ وَنِعَمٌ ظَاهِرَةٌ يَتَوَسَّمُوْنَ الْعِبَادَ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى الْبِلاَدِ اَجْسَادُهُمْ فِى اْلاَرْضِ وَقُلُوْبُهُمْ فِى السَّمَاءِِ
Orang yang terbaik di antara umatku adalah suatu kaum yang tersenyum karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Di samping itu, mereka manangis tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya adzab (siksa) Allah. Mereka senantiasa berdzikir dan berdoa sambil menaruh penuh harapan dan rasa takut. Mereka merindukan Rabb-Nya dengan hati yang tulus. Beban mereka atas manusia sangat ringan tapi atas diri mereka sendiri berat sekali. Penyaksian atas mereka dari Allah Swt dengan penglihatan yang memelihara dan aneka nikmat yang nyata. Mereka melihat tanda-tanda seorang hamba dan memikirkan negerinya. Jasad mereka berada di permukaan bumi, sedang hati sanubari mereka menjulang tinggi di langit.

Kemudian Beliau bersabda :
Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku. (QS. Ibrahim : 14)

Al Hakim at Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (tanda-tanda kewalian), yang diantaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kewalian itu.


Sumber : Wasiat Sufi (Drs. K. Ahmad Mufid)

Kamis, 06 Januari 2011

Kisah WALI WAFAT DI HADAPAN PARA WALI

Ada seorang wali Allah bernama Abu Jahir telah keluar dari negerinya dan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kampung asal bersama isteri dan keluarganya yang lain. Di tempat baru ini, dia telah mendirikan sebuah masji dan beribadah di situ dengan tekun dan tenang. Beliau sentiasa dikunjungi oleh orang yang ingin belajar dan mendalami jalan menuju Allah SWT.

Pada suatu hari seorang wali Allah yang lain bernama Soleh Al-Mari berazam untuk menziarahi Abu Jahir untuk mendapatkan barakah dari beliau. Maka pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Soleh menuju negeri tempat tinggalnya Abu Jahir. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Muhammad bin Wasi’, kenalannya yang juga seorang Wali Allah.

“Assalaamuálaikum.” kata Soleh.

“Waálaikumussalaam warahmatuLlah” jawab Muhammad bin Wasi’

Kedua wali Allah ini pun berpelukan sambil bertanyakan khabar masing-masing dan berbual mengenai masalah kesufian.

“Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Muhammad.

“Aku hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Ke rumah Abu Jahir?”

“Ya, betul”

“Masya Allah, aku juga hendak pergi bersama.”

Kedua-duanya pun berangkat menuju ke tempat tinggal Abu Jahir dan setelah berjalan beberapa batu, mereka bertemu dengan seorang lagi Wali Allah bernama Hubaibul Ajami. Mereka bersalaman dan bertanyakan khabar.

“Hendak ke mana anda berdua ini?” tanya Hubaibul Ajami.

“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Aku juga dalam perjalanan ke sana”

“Kalau begitu eloklah kita pergi bersama”

Mereka meneruskan perjalanan dalam keadaan yang sungguh menggembirakan kerana bilangan mereka semakin ramai. Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba mereka berjumpa dengan Malik bin Dinar, seorang wali Allah yang masyhur. Mereka bersalaman.

“Hendak pergi ke manakah kamu ini?” tanya Malik bin Dinar.

“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Subhanallah, aku juga sedang menuju ke sana.”

“Kalau begitu, kita pergi bersama.”

Sekarang mereka menjadi berempat dengan tujuan yang sama. Dengan kuasa Allah SWT, di tengah perjalanan, mereka berjumpa seorang lagi rakan Wali Allah yang bernama Thabit Al-Bannani. Mereka pun bersamalam dan saling bertanyakan khabar.

“Kamu hendak ke mana?” tanya Thabit.

“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Masya Allah, saya juga akan ke sana.”

“Kalau begitu, kita pergi bersama.”

“Segala puji-pujian bagi Allah sWT yang telah mengumpulkan kita dan pergi bersama-sama walaupun tanpa perjanjian” kata Thabit Al-Bannani

Berjalanlah kelima-lima Wali Allah berkenaan menuju rumah Abu Jahir. Sepanjang perjalanan, mereka tidak putus-putus memuji dan bersyukur ke hadhirat Allah SWT justeru mengurniakan peluang berjalan bersama menuju ke rumah WaliNya. Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut mereka melainkan perkataan yang mendatangkan manfaat.

Setelah berjalan beberapa lama, mereka singgah di suatu tempat untuk berehat dan solat.

“Marilah kita solat dua rakaat di sini, agar tempat ini ikut menjadi saksi esok di hari Kiamat di hadapan Allah Azza Wajalla” kata Thabit Al-Bannani

“Satu cadangan yang baik” sahut yang lain.

Lalu mereka mengerjakan solat bersama-sama dengan penuh khusyuk dan tawadduk. Setelah menunaikan solat, mereka berdoa untuk kepentingan umat Islam sekeliannya untuk di dunia dan di akhirat. Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Abu Jahir.

Terasa kedamaian pada mereka apabila terpandang rumah dan masjid yang didirikan oleh Abu Jahir. Namun mereka tidak terburu-buru mengetuk pintu atau minta izin untuk masuk demi menjaga peradaban Wali Allah. Mereka pun duduk di masjid menunggu Abu Jahir keluar untuk solat. Tidak berapa lama kemudia, waktu Zohor pun masuk. Maka keluarlah Abu Jahir tanpa bercakap apa-apa sebaliknya terus masuk ke masjid, berazan, iqamah dan solat. Kelima-lima tetamunya yang mulia itu solat berjemaah berimamkan Abu Jahir.

Selepas solat, barulah mereka menemui Abu Jahir satu persatu. Mula-mula sekali Muhammad bin Wasi’.

“Assalaamuálaikum” kata Muhammad

“Waálaikumussalaam” jawab Abu Jahir disambung dengan pertanyaan

“Anda ini siapa?”

“Saya saudaramu Muhammad bin Wasi’ “

“O...Kalau begitu andalah orang Basrah yang terkenal paling bagus solatnya itu kan?”

Muhammad diam tanpa berkata apa-apa.

Kemudian, Thabit Al-Bannani maju ke hadapan.

“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir

“Saya saudaramu Thabit Al-Bannani”

“O...Kalau begitu kamu yang dikatakan sebagai orang Basrah yang paling banyak solatnya itu kan?” Tanya Abu Zahir.

Thabit juga diam tanpa berkata apa-apa.

Tiba pula giliran Malik bin Dinar.

“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir

“Saya saudaramu Malik bin Dinar” jawabnya.

“Masya Allah, jadi kamulah yang termasyhur sebagai orang yang paling zuhud di kalangan penduduk Basrah, bukan?”

Malik juga tidak berkata apa-apa. Kemudian Hubaib Al-Ajami menemui Abu Jahir.

“Anda ini siapa?” tanya Abu Jahir

“Saya adalah saudaramu Hubaib Al-Ajami”

“Masya Allah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai orang yang mustajab doanya” kata Abu Jahir

Seperti yang lain, Hubaib mendiamkan diri. Akhirnya tiba giliran Soleh Al-Mari maju ke hadapan untuk memperkenalkan dirinya.

“Anda pula siapa?” tanya Abu Jahir.

“Saya saudaramu Soleh Al-Mari” jawabnya.

“Subhanallah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai qari yang fasih dan bagus suaranya.”

Soleh juga tidak mengeluarkan apa-apa komen.

Abu Jahir bertafakur sebentar seperti mengenangkan sesuatu.

“Aku sebenarnya sangat rindu dan ingin mendengar suaramu wahai saudaraku” kata Abu Jahir. “Oleh itu, aku suka engkau bacakan empat atau lima ayat Al-Qurán kerana aku ingin sangat mendengarnya.”

Soleh memenui permintaannya lalu dia membuka Al-Qurán dan membaca Surah Al-Furqan : Ayat 22 yang bermaksud :

“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada khabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata “Hijraan mahjuuraa” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu debu yang berterbangan”

Sebaik sahaja mendengar bacaan ‘debu yang berterbangan’, Abu Jahir berteriak kuat sehingga pengsan disebabkan rasa ketakutan yang teramat sangat kepada Allah SWT. Apabila beliau sedar dari pengsannya, dia berkata “Sila ulangi pembacaan ayat tadi”

Soleh mengulangi bacannya dan apabila sampai kepada “Debu yang berterbangan”, sekali lagi Abu Jahir berteriak sehingga rebah di tempat sujud dan wafat ketika itu juga.

Soleh dan teman-teman Wali Allah nya sangat terharu menyaksikan kewafatan Abu Jahir yang mengkagumkan itu. Beliau wafat dalam keadaan amat ketakutan mendengar Kalam Ilahi. Tidak lama kemudian, isteri Abu Jahir muncul.

“Siapakah kalian ini?” tanya isteri Abu Jahir.

“Kami datang dari Basrah. Yang ini Malik bin Dinar, Hubaib Al-Ajami, Muhammad bin Wasi’, Thabit Al-Bannani dan saya adalah Soleh Al-Mari” jawab Soleh mewakili para aulia sahabatnya itu.

Tiba-tiba perempuan itu berkata “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raajiúun...kalau begitu Abu Jahir telah wafat”

Soleh dan rakan-rakan wali Allah nya merasa hairan terhadap perempuan itu, kerana dia telah memastikan kematian suaminya, padahal dia belum menyaksikannya dan mereka juga belum memberitahunya apa yang telah terjadi.

“Dari mana puan tahu bahawa Abu Jahir telah wafat?” tanya mereka kehairanan.

“Saya telah banyak kali mendengar doanya di mana beliau sering mengucapkan “Ya Allah, kumpulkanlah para Aulia-Mu pada saat ajalku” dan perempuan itu menyambung “Jadi, tidaklah kamu berkumpul di sini sekarang ini melainkan Abu Jahir telah wafat”

Rupa-rupanya doa Abu Jahir telah dimakbulkan Allah SWT.

Maka para Aulia itu pun menguruskan mayatnya dari memandikan, mengkafankan, menyembahyangkan sehinggalah menguburkan.

Maha Suci Allah, yang telah mewafatkan hambaNya yang mulia dan diuruskan oleh tangan-tangan yang mulia pula. Semoga kita dikumpulkan oleh Allah SWT dalam golongan orang yang baik-baik dan mati syahid..Amin Ya Rabbal Aa’lamiin.

sumber : sufiroad.blogspot.com

Menembus Alam Ruhaniah

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A di dalam kitabnya al-Ghunyah; 1/101, menyebutkan: “Di dalam hati manusia terdapat dua ajakan: Pertama ajakan malaikat. Ajakan malaikat itu mengajak kepada kebaikan dan membenarkan kepada yang benar (haq); dan kedua, ajakan musuh. Ajakan musuh itu mengajak kepada kejahatan, mengingkari kebenaran dan melarang kepada kebajikan”. Yang demikian telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud R.A.

Al-Hasan al-Bashri R.A berkata: “Sesungguhnya kedua ajakan itu adalah kemauan yang selalu mengitari hati manusia, kemauan dari Allah dan dari musuh, hanya dengan sebab Rahmat Allah, seorang hamba mampu mengontrol kemauan-kemauannya tersebut. Oleh karena itu, apa-apa yang datang dari Allah hendaknya dipegang oleh manusia dengan erat-erat dan apa yang datang dari musuh, dilawannya kuat-kuat “.

Mujahid R.A berkata; Firman Allah s.w.t:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi”. (QS. an-Nas; 114/4)

Bisikan itu mencengkram hati manusia, apabila manusia berdzikir kepada Allah, maka setan itu akan melepaskan cengkramannya namun apabila manusia kembali lupa, maka setan itu akan kembali mencengkram hatinya. Muqotil R.A berkata: “Dia adalah setan yang berbentuk babi hutan yang mulutnya selalu menempel di hati manusia, dia masuk melalui jalan darah untuk menguasai manusia lewat hatinya. Apabila manusia melupakan Allah Ta’ala, dia menguasai hatinya dan apabila manusia sedang berdzikir kepada Allah dia melepaskan dan keluar dari jasad manusia itu“.

Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani R.A berkata, bahwa di dalam hati ada enam bisikan (khotir): (1) Bisikan nafsu syahwat;

(2) Bisikan setan;
(3) Bisikan ruh;
(4) Bisikan malaikat;
(5) Bisikan akal; dan
(6) Bisikan keyakinan.

1. Bisikan Nafsu Syahwat
Bisikan nafsu syahwat adalah bisikan yang secara qudroti tercipta untuk memerintah manusia mengerjakan kejelekan dan memperturutkan hawa nafsu.

2. Bisikan Setan
Bisikan setan itu adalah perintah agar manusia menjadi kafir dan musyrik (menyekutukan Allah), berkeluh-kesah, ragu terhadap janji Allah s.w.t cenderung berbuat maksiat, menunda-nunda taubat dan apa saja yang menyebabkan kehidupan manusia menjadi hancur baik di dunia maupun di akherat. Ajakan setan ini adalah ajakan paling tercela dari jenis ajakan jelek tersebut.

3. Bisikan Ruh
Bisikan ruh adalah bisikan yang mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan juga kepada apa saja yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia, baik di dunia maupun di akherat. Ajakan ini adalah dari jenis ajakan yang baik dan terpuji.

4. Bisikan Malaikat
Bisikan malaikat sama seperti bisikan ruh, mengajak manusia mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah s.w.t dan segala yang bersesuaian dengan ilmu pengetahuan dan juga kepada apa saja yang menyebabkan keselamatan dan kemuliaan.

5. Bisikan Akal
Bisikan akal adalah bisikan yang cenderung mengarahkan pada ajakan bisikan ruh dan malaikat. Dengan bisikan akal tersebut sekali waktu manusia mengikuti nafsu dan setan, maka manusia terjerumus kepada perbuatan maksiat dan mendapatkan dosa. Sekali waktu manusia mengikuti bisikan ruh dan malaikat, maka manusia beramal sholeh dan mendapatkan pahala. Itulah hikmah yang dikehendaki Allah s.w.t terhadap kehidupan manusia. Dengan akalnya, supaya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan hidup yang dikehendaki namun kemudian manusia juga harus mampu mempertanggungjawabkan atas kesalahan dan kejahatan dengan siksa dan neraka dan menerima balasan dari amal sholeh dengan pahala dan surga.

6. Bisikan Keyakinan
Bisikan yakin adalah Nur Iman dan buah ilmu dan amal yang datangnya dari Allah s.w.t dan dipilihkan oleh Allah s.w.t. Ia diberikan khusus hanya kepada para kekasih-Nya dari para Nabi, ash-Shiddiq, asy-Shuhada’ dan para Wali-wali-Nya. Bisikan yakin itu berupa ajakan yang selalu terbit dari dalam hati untuk mengikuti kebenaran walau seorang hamba itu sedang dalam lemah wiridnya. Bisikan yakin itu tidak akan sampai kepada siapapun, kecuali terlebih dahulu manusia menguasai tiga hal;
(1) Ilmu Laduni;

(2) Ahbārul Ghuyūb (khabar dari yang gaib);
(3) Asrōrul Umur (rahasia segala urusan).

Bisikan yakin itu hanya diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang-orang yang dicintai-Nya, dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya. Yaitu orang-orang yang telah mampu fana di hadapan-Nya. Yang telah mampu gaib dari lahirnya. Yang telah berhasil memindahkan ibadah lahir menjadi ibadah batin, baik terhadap ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Orang-orang yang telah berhasil menjaga batinnya untuk selama-lamanya. Allah s.w.t yang mentarbiyah mereka. Sebagaimana yang telah dinyatakan dengan firman-Nya:

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِي

Sesungguhnya Waliku adalah Allah, dan Dia mentarbiyah (memberikan Walayah) kepada orang-orang yang sholeh”. (QS. al-A’raaf; 7/196)

Orang tersebut dipelihara dan dicukupi dengan sebab-sebab yang dapat menyampaikan kepada keridlaan-Nya dan dijaga serta dilindungi dari sebab-sebab yang dapat menjebak kepada kemurkaan-Nya. Orang yang setiap saat ilmunya selalu bertambah. Yaitu ketika terjadi pengosongan alam fikir, maka yang masuk ke dalam bilik akalnya hanya yang datangnya dari Allah s.w.t. Seorang hamba yang ma’rifatnya semakin hari semakin kuat. Nurnya semakin memancar. Orang yang selalu dekat dengan yang dicintainya dan yang disembahnya. Dia berada di dalam kenikmatan yang tiada henti. Di dalam kesenangan yang tiada putus dan kebahagiaan tiada habis. Surga baginya adalah apa yang ada di dalam hatinya.

Ketika ketetapan ajal kematiaannya tiba, disebabkan karena masa baktinya di dunia fana telah purna, maka untuk dipindahkan ke dunia baqo’, mereka akan diberangkatkan dengan sebaik-baik perjalanan. Seperti perjalanan seorang pengantin dari kamar yang sempit ke rumah yang luas. Dari kehinaan kepada kemuliaan. Dunia baginya adalah surga dan akherat adalah cita-cita. Selama-lamanya mereka akan memandang wajah-Nya yang Mulia, secara langsung tanpa penghalang yang merintangi. Allah s.w.t menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu, berada di taman-taman dan sungai-sungai – Di tempat yang disenangi di sisi Tuhannya yangMaha Kuasa” . (QS. al-Qomar; 54/54)

Dan firman Allah s.w.t:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahan “. (QS. Yunus; 10/26)

Firman Allah s.w.t di atas: “Ahsanuu”, artinya berbuat baik dengan menta’ati Allah s.w.t dan Rasul-Nya, serta selalu mensucikan hatinya dengan meninggalkan amal ibadah yang selain untuk-Nya. Allah s.w.t akan membalasnya di akherat dengan surga dan kemuliaan. Diberi kenikmatan dan keselamatan. Ditambahi dengan pemberian yang abadi. Yaitu selama-lamanya memandang kepada wajah-Nya yang Mulia.

Nafsu dan Ruh” adalah dua tempat bagi setan dan malaikat. Keadaannya seperti pesawat penerima yang setiap saat siap menerima signal yang dipancarkan oleh dua makhluk tersebut. Malaikat menyampaikan dorongan ketakwaan di dalam ruh dan setan menyampaikan ajakan kefujuran di dalam nafsu. Oleh karena itu, nafsu selalu mengajak hati manusia untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan fujur.

Di antara keduanya ada Akal dan Hawa. Dengan keduanya supaya terjadi proses hikmah dari rahasia kehendak dan keputusan Allah yang azaliah. Yaitu supaya ada pertolongan bagi manusia untuk berbuat kebaikan dan dorongan untuk berbuat kejelekan. Kemudian akal menjalankan fungsinya, memilih menindaklanjuti pertolongan dan menghindari ajakan kejelekan, dengan itu supaya tidak terbuka peluang bagi hawa untuk menindaklanjuti kehendak nafsu dan setan. Sedangkan di dalam hati ada dua pancaran Nur, “Nur Ilmu dan Nur Iman”. itulah yang dinamakan yakin. Kesemuanya indera tersebut merupakan alat-alat atau anggauta masyarakat hati. Hati bagaikan seorang raja terhadap bala tentaranya, maka hati harus selalu mampu mengaturnya dengan aturan yang sebaik-baiknya. (Asy-Syekh Abdul Qodir al-Jailani, “Al-Ghunyah”; 1/101)

Walhasil, yang dimaksud alam ruhaniah itu bukan alam jin atau alam ghaib, tetapi alam-alam batin yang ada dalam jiwa manusia. Alam batin yang menyertai alam lahir manusia secara manusiawi. Dengan alam batin, manakala indera-indera yang ada di dalam alam batin itu hidup, maka manusia bisa mengadakan interaksi dengan makhluk batin dengan segala rahasia kehidupan yang ada di dalamnya sebagaimana dengan alam lahir manusia dapat mengadakan komunikasi dengan makhluk lahir dengan segala urusannya.

Untuk menghidupkan indera-indera yang ada di alam batin tersebut, manusia harus mampu mencapainya dengan jalan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Mengharapkan terbukanya matahati (futuh) dengan menempuh jalan ibadah (thoriqoh) dengan bimbingan seorang guru mursyid sejati. Perjalanan tersebut bukan menuju suatu tempat yang tersembunyi, melainkan menembus pembatas dua alam yang di dalamnya penuh mesteri. Dengan itu supaya ia mencapai suatu keadaan yang ada dalam jiwa yang dilindungi, supaya dengan keadaan itu ia dapat menemukan rahasia jati diri yang terkadang orang harus mencari setengah mati. Itulah perjalanan tahap awal yang harus dicapai seorang salik dengan sungguh hati. Lalu, dengan mengenal jati diri itu, dengan izin Allah selanjutnya sang pengembara sejati dapat menemukan tujuan akhir yang hakiki, yakni menuju keridhoan Ilahai Rabbi.

fanggaz.wordpress.com

sumber : sufiroad.blogspot.com

Halaman Ke