Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 September 2010

Dan Sungguh, Kurindu Hadirmu Ramadhan


Dan Sungguh, Kurindu Hadirmu Ramadhan

Duh…ngomongin rindu, ada apa nih yah? Eits, jangan piktor dulu alias pikiran kotor dong. Rindu kali ini kita bakal ngomongin tentang Ramadhan. Rindu Ramadhan meski kita masih ada di dalamnya. Merindu Ramadhan meski kita belum meninggalkan bulan mulia ini dan harus menunggu 11 bulan ke depan. Yah…Ramadhan memang pantas untuk dirindu karena berjuta hikmah terkandung di dalamnya.

Ramadhan, suatu momen penempaan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bulan puasa untuk menahan diri dari semua hawa nafsu yang seringkali dominant pada diri kita. Bukan sekedar hawa nafsu untuk makan, minum dan syahwat yang harus ditahan, tapi nafsu-nafsu lain yang negatif dan nggak sesuai syariat juga harus dikontrol. Sehingga, selepas bulan Ramadhan, ajang latihan ini bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia akan mencapai derajat muttaqin seperti yang diharapkan oleh Al Qur’an surat Al Baqarah 183, insya Allah.

Namun, kenapa eh kenapa yah, selepas bulan Ramadhan, lepas pula seluruh control hawa nafsu tadi. Seakan-akan Idul Fitri yang menjadi penanda usainya Ramadhan, menjadi penanda kebebasan hawa nafsu. Bukannya bebas dari api neraka seperti yang dituju, tapi malah kebebasan untuk melakukan maksiat seperti bulan-bulan sebelumnya. Duhhh….

Lalu, apa dong efek puasa kalau ternyata maksiat masih merajalela di bulan-bulan selepas Ramadhan? Trus, kenapa pula bisa terjadi kondisi demikian? Fenomena masyarakat jadi suka buah ‘tomat’ alias Ramadhan tobat, selepasnya jadi kumat kembali. Naudzhubillah. Yuk, kita telusuri ‘what dan why’ ini semua terjadi.

…Ramadhan adalah ajang penempaan dan kontrol diri dari segala hawa nafsu, itu idealnya. Faktanya ternyata Ramadhan menjadi ajang Tebar Pesona selebritis untuk menjadi sedikit lebih alim dan taat…

‘What?’ Apa yang terjadi di bulan Ramadhan?

Ramadhan adalah ajang penempaan dan kontrol diri dari segala hawa nafsu manusia, itu idealnya. Faktanya ternyata Ramadhan adalah ajang “TP” alias Tebar Pesona selebritis untuk menjadi sedikit lebih alim dan taat. Yang termasuk golongan selebritis ini bukan sekedar artis loh, tapi bisa juga para pejabat dan politikus (baca: poli tikus hehe:P) yang aji mumpung dengan datangnya Ramadhan. Kok bisa?

Para artis, kita semua pasti paham banget kalo mereka sangat gembira dengan datangnya Ramadhan. Mau tobat dan insaf? Please deh, mereka malah kebanjiran job karena semua saluran TV siaran 24 jam non stop untuk menemani pemirsa buka puasa dan sahur. Alih-alih semakin alim dan taat syariat, para selebritis dari kalangan artis ini dengan PD-nya bilang kalo mereka ‘dengan terpaksa’ membatalkan puasa bila memang dibutuhkan oleh tuntutan scenario.

Itu dari segi artisnya. Dari segi isi tayangan Ramadhan yang marak di TV, sangat jauh panggang dari api. Jauh banget dari mengajak permirsa untuk semakin bertakwa. Yang ada malah tayangan-tayangan gak bermutu semacam tasahur (pentas saat sahur) yang berisi konser lenggok-lenggok umbar aurat. Belum lagi kuis yang ada juga sangat gak mendidik. Bukannya memberi pertanyaan yang ada kaitannya dengan wawasan keislaman, tapi malah judul lagu-lagu dan nama artis yang jadi bahan kuis. Jadilah pemirsa makin hapal nama artis-artis dan lagu-lagunya daripada ayat-ayat Al Qur’an dan maknanya.

Itu dari selebritis kalangan artis. Sekarang coba kita tengok dari selebritis kalangan politisi negeri si Komo ini. Tiba-tiba saja banyak di antara mereka yang mengadakan buka puasa bareng dengan kaum dhuafa. Bagus sih, tapi akan sangat jauh lebih bagus bila hak-hak kaum dhuafa ini juga diberikan bukan hanya berupa ajakan buka puasa bersama. Beri dong hak mereka berupa penyediaan lahan pekerjaan yang layak, jangan cuma memanjakan orang-orang asing dengan Exxon mobile dan Freeport. Beri juga mereka hak pendidikan dan kesehatan gratis. Itu hak masyarakat yang seharusnya diberikan bukan hanya di bulan Ramadhan berupa takjil gratis.

“TUTUP” ditulis dengan huruf besar. “Selama bulan Ramadhan” ditulis dengan huruf kecil. Tulisan di atas sangat banyak dijumpai di lokalisasi pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Duh…betapa inginnya satu hari nanti kita bisa membaca tulisan ini menjadi “TUTUP, SELAMANYA”.

Ternyata, para pejabat terhormat itu mempunyai kekuatan juga untuk menutup lokalisasi pelacuran. Jadi, bukannya tidak bisa tempat-tempat semacam itu ditutup selamanya kan? Yang tidak ada Cuma satu, KEMAUAN. Nah, di momen Ramadhan ini seharusnya kemauan itu harus mulai ditumbuhkan. Agar nggak sia-sia kita berpuasa selama satu bulan ini. Seperti yang dinyatakan oleh Rasul tercinta bahwa betapa banyak di antara kita yang puasanya tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Na’udzubillah.

…Kelakuan para selebritis dari kalangan artis dan politisi, terjadi bukan tanpa sebab. Mereka hanya korban sekulerisme dan kapitalisme…

“Why” ini terjadi?

Kelakuan para selebritis dari kalangan artis dan politisi, terjadi bukan tanpa sebab. Mereka hanya korban saja kok. Loh, kalo mereka korban, trus siapa dong biang keroknya?

Sekulerisme. Inilah biang kerok sebenarnya sebagai ide dasar dari kapitalisme. Sekulerisme yang jelas-jelas memisahkan agama dari kehidupan merupakan akar masalah yang menyebabkan Ramadhan kehilangan makna. Artis-artis dan para pejabat menjadi saleh dadakan. Mereka jadi fasih menyebut lafadz-lafadz Islam di bulan Ramadhan. Tapi kondisi ini jadi berubah begitu Ramadhan berlalu. Maka sungguh, seandainya semua bulan adalah Ramadhan, tentu kesalehan ini akan bertahan selamanya.

Tapi apa bisa semua bulan adalah Ramadhan? Sedangkan hari saja bisa berganti malam, muda bisa berubah jadi tua, hidup ada saatnya untuk mati. Ternyata perubahan adalah sebuah keharusan dalam kehidupan. Maka bukanlah Ramadhan yang seharusnya diandaikan selamanya, tapi kesalehan sebulan itu yang seharusnya dijadikan dua belas bulan dalam setahun. Apa bisa?

Bisa banget! Kalau wajah palsu para selebritis artis dan pejabat adalah akibat sekulerisme, maka artinya harus ada wajah asli dari mereka semua. Wajah asli yang bersih tanpa noda. Wajah asli seorang hamba dari Sang Mahapencipta dan pengatur kehidupan. Wajah asli dari sosok manusia yang sadar akan kemanusiaannya.

…Kesalehan sebulan itu yang seharusnya dijadikan dua belas bulan dalam setahun. Apa bisa? Bisa banget!...

Bila kapitalisme yang menjadikan materi sebagai berhala modern adalah ideologi penyebab ini semua, maka sudah saatnya kita bertanya: pantaskah ia dipertahankan? Atau adakah jalan keluar lainnya agar Ramadhan bukan sekedar bulan tebar pesona? Bisakah Ramadhan sungguh-sungguh memberi efek nyata bagi kehidupan?

Sekulerisme, campakkan!

Sekulerisme yang menjadi asas bagi kapitalisme sudah jelas kerusakannya bagi kehidupan. Paham ini meniadakan Tuhan sebagai pengatur kehidupan. Akal manusia menjadi berhala baru untuk sok jadi pembuat peraturan. Inilah yang menjadikan Ramadhan ternoda dan kehilangan makna.

Ramadhan dianggap bulan ibadah. Bulan lain selepas Ramadhan dianggap bulan bukan ibadah. Maka itu artinya semua kemaksiatan jadi boleh. Perzinaan dilindungi undang-undang. Minuman keras mempunyai izin usaha. Korupsi dianggap salah prosedur. Repot memang bila Islam hanya dijadikan stempel di KTP saja. Namun pemikiran dan perilaku sangat jauh dari aturan syariat Islam.

Tak heran bila Ramadhan dari tahun ke tahun tidak membuat bangsa ini dan orang-orangnya berubah jadi baik. Yang ada hanya kemunduran dan keterpurukan yang semakin menjadi-jadi. Karena sungguh, Islam adalah ad-diin alias the way of life, alias lagi jalan hidup atau ideologi. Bila Islam hanya diambil separuh-separuh, bukannya bermanfaat tapi malah seringkali jadi kambing hitam atas semua masalah.

…Ramadhan dianggap bulan ibadah. Bulan lain selepas Ramadhan dianggap bulan bukan ibadah. Maka tak heran bila Ramadhan dari tahun ke tahun tidak membuat bangsa ini berubah jadi baik….

Padahal sudah nyata terbukti, Islam akan memberi rahmat bagi semua bila ia diambil total tanpa pilih-pilih hokum. 14 abad lamanya Khilafah Islam tegak dan berjaya ketika syariat diterapkan, bukan sekulerisme. Bukan pula hokum buatan manusia yang lemah ini.

Ramadhan akan terlihat efeknya bila saja selepas Ramadhan, bangsa ini mempunyai kesalehan yang sama dengan di bulan puasa. Tidak boleh ada lagi pembedaan antara bulan Ramadhan dengan bukan Ramadhan. Bila lokalisasi ditutup selama bulan Ramadhan, maka itu artinya ia harus ditutup juga di luar bulan Ramadhan.

Ramadhan, bulan perubahan

Harus ada yang berubah selepas Ramadhan. Harus ada efek yang membekas pertanda kita pernah berpuasa di bulan Ramadhan. Agar di saat Idul Fitri nanti, kita pantas menyandang predikat muttaqin (orang-orang yang bertakwa) dan menjadi orang yang menang.

Indahnya Ramadhan, tak akan pernah memberi efek nyata bagi kehidupan bila tak ada kemauan dari semua pihak untuk menjaga perilaku saleh di bulan lain. Saya individu ingin bertahan baik. Kamu juga sama. Tapi itu tak cukup bila masyarakat kita tidak mendukung niat baik ini. Bila pun masyarakat sudah mendukung niat baik dan menolak kemaksiatan tidak hanya di bulan Ramadhan, masih ada satu lagi pihak yang ketinggalan. Siapakah dia?

Pejabat beserta kewenangan yang dipunyainya. Mereka ini yang mempunyai wewenang untuk menutup atau memberi izin atas sesuatu, termasuk buka atau tutupnya tempat perzinaan terbesar di Asia Tenggara. Akan sangat timpang bila masyarakat menolak, tapi kemaksiatan itu sendiri mempunyai izin untuk beroperasi.

Jadi tidak bisa tidak, para pejabat berwenang, masyarakat serta individu harus bergandeng tangan. Kita tidak ingin moment Ramadhan ini berlalu sia-sia. Kita tidak ingin bencana alam akan semakin sering menghampiri negeri ini karena kelalaian manusia sendiri. Maka sudah saatnya Ramadhan tahun ini kita berkaca diri dan introspeksi.

Kurindu Ramadhan

Ketika hari demi hari, detik demi detik Ramadhan berjalan menuju penghujung waktu, ada getir di sana. Terlebih lagi saat ini. Ketika perbedaan antara Ramadhan dengan bulan lain begitu jelas terasa, maka sungguh, ingin sekali semua bulan adalah Ramadhan.

Ketika masjid-masjid jadi semarak dengan suara tadarus Qur’an. Ketika malam-malam jadi hidup dengan makan sahur dan qiyamul lail. Ketika siangnya adalah ajang menahan diri dari segala hal yang sia-sia apalagi maksiat. Ketika tiap diri ingin meraih pahala dengan bersedekah sebanyak-banyaknya. Ketika diskotek, bar, pub, rumah mesum dan lokalisasi kompak untuk tutup. Dan masih banyak lagi keistimewaaan lainnya.

…Rindu Ramadhan berarti merindukan nuansa keislaman hadir di tengah-tengah kita setiap hari; rindu syariat Islam diterapkan...

Dan rindu itu akan semakin kental ketika selepas Ramadhan, kemaksiatan seakan menemukan pembenaran. Semua tempat maksiat yang selama Ramadhan tutup, kembali dibuka dan semakin ramai pengunjung. Duuh….na’udzubillah.

Maka, rindu Ramadhan itu semakin kental dan pekat. Rindu Ramadhan berarti rindu tutupnya tempat-tempat maksiat, selamanya. Bukan sementara.

Rindu Ramadhan berarti rindunya nuansa keislaman hadir di tengah-tengah kita, setiap hari. Rindu Ramadhan artinya rindu syariat Islam diterapkan. Dan syariat Islam tak mungkin sempurna ada tanpa adanya naungan Khilafah.

Semoga rasa rindu ini bukan hanya milik perorangan saja. Tapi rasa ini sudah menjadi milik semua, yaitu kaum muslimin yang rindu kejayaan Islam kembali seperti sedia kala. Dan sungguh, kurindu hadirmu Ramadhan. Bahkan di bulan-bulan selepas Ramadhan berikutnya. Selamanya. [ria fariana/voa-islam.com]

Kamis, 09 September 2010

Hujan Meteor di Malam Ramadhan 1431 H

Hujan Meteor di Malam Ramadhan 1431 H

Ditulis oleh alhabib Print This Post
Hujan Meteor di Malam Ramadhan 1431 H

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan segala isinya. Yang menciptakan segala sesuatu dengan kadar dan ukuran masing-masing.

Menurut NASA, malam ini adalah salah satu malam di mana akan terjadi hujan meteor Perseid. Seperti namanya, meteor atau bintang jatuh atau bintang beralih ini seolah-olah datang dari rasi bintang Perseus. Hingga 80 meteor bisa disaksikan dalam satu jam pada saat puncaknya.

Apakah hujan meteor Perseid ini?

Meteor ini berasal dari sisa-sisa ‘debu’ atau materi ekor komet Switt-Tuttle yang tertarik oleh gravitasi bumi dan masuk ke dalam atmosfer. Kometnya sendiri mengitari matahari selama 130 tahun sekali.

Hujan meteor Perseid adalah salah satu hujan meteor tahunan yang biasa muncul mulai pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus. Dan puncaknya adalah 12-13 Agustus untuk tahun ini. Untuk di Indonesia insyaallah, puncaknya adalah sekitar jam 2 dini hari hingga shubuh. Hujan meteor akan terlihat dari arah timur laut. Lihat gambar peta langit di bawah ini.

Simulai horison timur laut indonesia pada saat hujan meteor perseid bulan Ramadhan 1431 H(Gambar dari catatan Agus Triawan)

Tips mengamati hujan meteor

  • Cari tempat yang lapang dan tidak terhalang untuk melihat langit
  • Cari tempat yang cukup gelap terhindar dari silau dan pendaran cahaya
  • Meteor akan terlihat dengan mata telanjang, tak perlu alat khusus (teropong). Teropong justru akan mempersempit area sudut pandang.
  • Adaptasikan mata paling sedikit 45 menit untuk membiasakan penglihatan pada kondisi gelap.
  • Siapkan baju pelindung dari dampak buruk cuaca (angin/dingin).
  • Bawa kursi/sandaran untuk bisa menopang badan melihat ke atas dalam waktu lama.
  • Gunakan lotion anti nyamuk.
  • Bawa teman untuk mengamati.
  • Rekam atau foto dengan kamera. (Jika berhasil, coba dibagi di internet ya…)

Bagi yang ingin menyaksikan keagungan ciptaan Allah ini, bersiap-siap untuk bangun malam ya… Sambil menunggu waktu sahur, baca Al Quran dan persiapkan diri pergi keluar.

Demikian, sekedar berbagi informasi tentang sebuah peristiwa alam yang semoga bisa mengingatkan kita akan kebesaran allah swt.

Sumber : /blog.al-habib.info

Rabu, 08 September 2010

Beberapa Kekeliruan Seputar lailatul Qadar


Oleh : Syaikh Masyhur bin Hasan Salman

Lailatul Qadar adalah amalan yang sangat agung dalam hati kaum mukminin. Malam yang sangat ditunggu kehadirannya demi menambah bekal menghadap Ilahi. Sehingga seakan tidak masuk akal, ada sebagian kaum muslimin yang sengaja melakukan kesalahan-kesalahan di malam itu. Namun kenapa kekeliruan-kekeliruan itu sering dan terjadi dan berulang? Tuduhan sengaja pasti ditampik oleh para pelaku. Lalu kenapa? Faktor ketidaktauan serta semangat yang tidak terarah sering menjadi pemicunya.

Oleh karenanya, kami sajikan sebuah karya tulis berisi beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh sebagian kaum muslimin berkaitan dengan Lailatul Qadar. Makalah ini, kami terjemahkan dari Al-Ashaalah, Edisi 3/15 Sya’ban 1413H hlm.76-78. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kami serta segenap kaum muslimin (Redaksi)

Banyak kesalahan-kesalahan dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam masalah puasa dan shalat tarawih; baik dalam masalah keyakinan, hukum atau praktek. Diantara kesalahan ini, ada yang khusus berkaitan dengan lailatul qadar. Kesalahan ini kami bagi menjadi dua bagian.

Pertama : Salah Duga dan Keyakinan

Misalnya:
1. Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa tanda yang dapat dilihat oleh sebagian orang. Lalu mereka ini merangkai cerita-cerita khurafat dan khayalan. Mereka mengaku melihat cahaya dari langit atau dibukakan pintu langit dan lain sebagainya. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 4/266, menyebutkan bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar ada upaya keras untuk mencarinya. Berbeda jika lailatul qadar tersebut ditentukan, maka mereka akan bersungguh-sungguh hanya pada malam itu saja. Kemudian Ibnu Hajar menukil pendapat Imama ath-Thabari yang memilih pendapat yang menyatakan bahwa semua tanda itu bukan merupakan suatu keharusan. Kehadiran lailatul qadar tidak mesti ditandai dengan melihat atau mendengar sesuatu.Ath-Thabari mengatakan,”Dalam hal dirahasiakannya lailatul qadar, terdapat bukti kebohongan orang yang beranggapan, bahwa pada malam itu mata akan melihat sesuatu yang tidak pernah terlihat sepanjang tahun. Jika pernyataan itu benar, tentu lailatul qadar itu akan tampak bagi setiap orang yang menghidupkan malma-malam selama setahun, utamanya malam-malam Ramadhan.”

2. Perkataan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat (sudah tidak ada lagi,pent). Al-Mutawalli, seorang tokoh madzhab Syafi’i dalam kitab at-Tatimmah telah menceritakan pernyataan itu dari kaum Rafidhah (Syiah). Sementara al Fakihani dalam Syarhul Umdah telah menceritakan, bahwasanya pendapat ini berasal dari madzhab Hanafiyah.Ini adalah sebuah kesalahan fatal. Pendapat ini berangkat dari salah memahami sabda Rasulullah, ketika ada dua orang yang saling mengutuk pada lailatul qadar:

“Sesungguhnya lailatul qadar itu sudah terangkat.”

Menjadikan kalimat ini sebagai dalil yang menunjukkan lailatul qadar itu sudah terangkat, terbantah dari dua segi:

Para ulama mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan “terangkat”, yaitu terangkat dari hatiku, sehingga aku lupa waktu pastinya;karena sibuk dengan dua orang yang bertengkar ini. Ada juga yang mengatakan bahwa maksud “terangkat”, dalam hadits itu adalah barakahnya diangkat (dihapus) pada tahun itu,bukan lailatul qadarnya yang diangkat. Ini ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan oleh Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya 4/252, dari Abdullah bin Yahnus, dia berkata,”Aku berkata dari Abu Hurairah,’Mereka menyangka bahwa lailatul qadar sudah diangkat’,” Abu Hurairah berkata,”Orang yang mengatakannya itu telah berbuat bohong.”

Keumuman hadits yang berisi motivasi untuk menghidupkan lailatul qadar dan juga yang berisi penjelasan tentang keutamaannya. Seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan lainnya, Nabi bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ اْلقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَلَهُ مَاتَقَدٌَمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar karena iman dan karena mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat.”

Imam Nawawi mengatakan,”Ketahuilah, bahwa lailatul qadar itu ada. Dan lailatul qadar itu terlihat, telah dibuktikan oleh manusia yang dikehendaki Alloh setiap tahun pada bulan Ramadhan, sebagaimana telah jelas melalui hadits-hadits ini, dan melalui berita-berita orang shalih. Bukti bahwa orang-orang shalih itu melihat sangat banyak, tidak bisa dihitung.”

Saya (Syaikh Masyhur) mengatakan: Ya, ada kemungkinan lailatul qadar itu bisa diketahui. Banyak tanda yang telah dipaparkan oleh Nabi yang menunjukkan bahwa lailatul qadar itu adalah salah satu malam diantara malam-malam bulan Ramadhan. Mungkin ini yang maksud perkataan Aisyah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya:

قُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيٌُ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُوْلُ فِيهَا

“Aku berkata,’Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam itu (sebagai) lailatul qadar, apa yang kuucapkan pada malam itu?”

Dalam hadits ini-sebagaimana dikatakan Imam Syaukani dalam Nailul Authar 3/303-terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan lailatul qadar itu bisa diketahui dan (juga dalil yang menunjukkan,pent) lailatul qadar itu tetap ada.

Az-Zurqani dalam syarah Muwaththa’ 2/491 mengatakan,”Barangsiapa yang menyangka, bahwa kalimat rufi’at dalam hadits diatas bermakna keberadaan lailatul qadar sudah diangkat, berarti dia keliru. Jika benar seperti itu, tentulah kaum muslimin tidak akan diperintahkan untuk mencarinya. Ini dikuatkan dengan kelanjutan hadits:

عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًالَكُمْ

“Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent)[1] menjadi lebih baik bagi kalian.”

Karena dengan dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan manusia tertuntut untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh, berbeda jika waktu pastinya masih diketahui dengan jelas.

Kesimpulannya : Lailatul qadar itu masih tetap ada sampai hari Kiamat. Sekalipun waktu kejadiannya tidak bisa dipastikan. Meski pendapat yang rajah (terkuat) menyatakan bahwa lailatul qadar ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan dalil-dalil juag menguatkan bahwa dia ada pada malam keduapuluh tujuh, namun memastikannya dengan penuh keyakinan merupakan perkara sulit. Allahu a’lam

Kedua : Kesalahan-Kesalahan Dalam Amal Perbuatan dan Tingkah Laku

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada lailatul qadar itu banyak sekali, jarang yang bisa selamat, kecuali yang dipelihara Alloh. Diantaranya kesalahan-kesalahan itu:

1. Sibuk mencari dan menyelidiki keberadaannya. Sibuk mengamati tanda-tanda lailatul qadar, sehingga meninggalkan ibadah ataupun perbuatan taat pada malam itu. Betapa banyak orang-orang lupa membaca al-Qur’an, dzikir dan lupa mencari ilmu karena sibuk mengamati tanda-tanda lailatul qadar. Menjelang matahari terbit, terkadang kita dapati ada yang sibuk memperhatikan dan mengamati matahari untuk mencari tahu, apakah sinar matahari pagi ini terik ataukah tidak? Mestinya, orang-orang ini memperhatikan pesan Rasulullah dalam sabda beliau:“Semoga(dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent) menjadi lebih baik bagi kalian.”

Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa malam itu tidak ditentukan waktu pastinya. Dari sabda Rasulullah ini, para Ulama menyimpulkan bahwa dirahasikannya waktu lailatul qadar itu lebih baik. Mereka mengatakan,”Hikmahnya, agar manusia bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada seluruh malam dengan harapan ada yang bertepatan dengan lailatul qadar. Berbeda jika lailatul qadar itu telah dipastikan waktunya,maka tentu kesungguhan dalam beramal hanya akan ada dan dipompa pada satu malam itu saja. Akibatnya,kesempatan beribadah pada malam-malam lainnya akan berlalu begitu saja atau minimal amal ibadahnya menurun. Bahkan sebagian Ulama mengambil satu faidah dari sabda Nabi diatas, yaitu sebiaknya orang yang mengetahui lailatul qadar itu menyembunyikannya karena Alloh telah mentaqdirkan pada Nabi-Nya untuk tidak memberitahukannya. Dan semua kebaikan ada pada sesuatu yang telah ditaqdirkan bagi Nabi. Sehingga kita disunnahkan untuk mengikutinya.

Dari uraian diatas, dapat diketahui kekeliruan sebagian orang yang giat beribadah, khususnya qiyamul lail, atau ibadah secara umum pada malam kedua puluh tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan, malam itu adalah lailatul qadar. Selanjutnya mereka meninggalkan qiyamul lail dan tidak lagi bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan pada malam-malam lainnya, karena mengira dengan mengidupkan malam ini (malam keduapuluh tujuh,pennt), mereka telah mendapatkan pahala ibadah yang lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Persepsi yang keliru ini menggiring banyak orang untuk berlebih-lebihan dalam melakukan ketaatan pada malam ini. Diantara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat disamping memaksakan diri tidak tidur.

Ada juga yang shalat dan memperpanjang waktu berdirinya, padahal sedang berjuang keras melawan kantuk, sehingga ada diantara mereka yang tertidur dalam sujudnya. Dalam kasus ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita-berkat karunia dan nikmat-Nya.

2. Diantara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk mengatur acara, menyampaikan ceramah. Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid dan nyanyian puji-pujian, sehingga meninggalkan perbuatan taat. Anda bisa saksikan, ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling ke masjid-masjid dengan menyampaikan berita terkini, serta bagaimana upaya pemecahannya. Itu dilakukan hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan syariat.

3. Diantara kekeliruan sebagian kaum muslimin yaitu mengerjakan ibadah khusus pada malam itu seperti shalat khusus lailatul qadar. Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat Tasbih secara berjamaah padahal tidak ada dalilnya. Sebagian lagi melaksanakan shalat hifzhul Qur’an, padahal tidak ada dasarnya.

Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan lailatul qadar-yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin-sangat banyak dan beragam.Kalau kita teliti dan bahas tuntas, tentu pembicaraan ini akan menjadi panjang. Apa yang kami sampaikan disini, baru sebagian kecil saja, semoga bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari al haq.



[Disalin dari Majalah As Sunnah Edisi Khusus No.04-05 /Th.XIV, Ramadhan-syawal 1431H/Agustus-September 2010M]

Sumber : www.abuayaz.co.cc

Senin, 30 Agustus 2010

Nuansa Ramadhan di Negeri Paman Sam

Beginilah Suasana Kekhusyuan dan kehangatan suasana di bulan suci ramadhan para umat muslim di negeri paman sam...












Minggu, 29 Agustus 2010

Busana Musim Amerika

Tren Pakaian Unik Muslim Amerika
Rancangannya menutupi aurat sesuai Islam lewat sentuhan pemberontak dengan unsur punk rock
Senin, 16 Agustus 2010, 12:26 WIB
Petti Lubis, Anda Nurlaila
Busana Muslim rancangan James Nikiema (pe.com)

VIVAnews - Tak lahir dari komunitas Arab di negara muslim, wanita muslim Amerika punya cara sendiri memperlihatkan identitas keislaman mereka. Tren mode pakaian muslim di Amerika yang sedang tumbuh pesat tak sekadar gaya, tetapi diakui sebagai bagian pergeseran budaya Islam di Amerika.

Perancang busana asal Corona, Jamesa Nikiema, mencipta tren pakaian unik yang menjaga kesederhanaan sekaligus menjaga tradisi berpakaian muslimah.

Desain pakaian yang dia pasarkan lewat situs www.rebirthofchic.com, lebih dari sekadar gaya baru pakaian. "Untuk pertama kalinya saat generasi muslim keempat kita mencari identitas muslim Amerika," kata Nikiema seperti dimuat Press Entreprise.

Bagi wanita muslim yang lahir di Amerika, pakaian tradisional Islam terasa sangat asing. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir, berbagai mode pakaian muncul memenuhi kebutuhan muslimah Amerika. Popularitas pakaian muslimah gaya baru mulai naik daun sekitar lima tahun lalu, terutama di kalangan generasi muda.

"Generasi muda mencoba menangkap kesederhanaan pakaian muslim tetapi dengan sentuhan barat."

Bersamaan meluasnya kesadaran berpakaian trendi namun sesuai syariat islam memunculkan blog-blog mode muslimah yang kini kian populer di berbagai komunitas keislaman di negeri Paman Sam tersebut.

Nikiema menyatakan mulai merancang busama muslim sejak 2004. Seiring meningkatnya permintaan, ia lalu mendirikan toko pakaian serta penjualan dalam jaringan.

Pakaian rancangannya menutupi aurat sesuai islam, dengan sentuhan pemberontak dengan unsur punk rock. Tunik kotak-kotak dengan inset kotak-kotak sebetis dengan sapuan warna Jamaika membuat rancangan terkesan berani. Atau, kombinasi favorit lainnya sebuah rok A-line dengan blus balon seperti masa renaisans di Eropa.

"Saya senang tampil berbeda dan wanita muslim juga pantas tampil beda," katanya menegaskan.

Sumber : VIVAnews.com

Halaman Ke