Tampilkan postingan dengan label Riyadathus Shalihin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riyadathus Shalihin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Riyadathus Shalihin : Jujur


1. Dari Ibnu Mas’ud ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta .” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata : “Saya menghafal beberapa kalimat dari Rasulullah SAW, yaitu : “Tinggalkanlah apa yang kamu ragukan dan kerjakanlah apa yang tidak kamu ragukan. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan .” (HR. Tirmidzi)

3. Dari Abu Sufyan Shahr bin Harb ra., di dalam haditsnya yang panjang tentang cerita pertanyaan Heraklius kepadanya :
“Apa saja yang diperintahkan oleh Nabi SAW kepada kamu ?” Abu Sufyan berkata : “Nabi SAW bersabda : “Sembahlah Allah Yang Maha Esa dan janganlah kamu menyekutukan apapun
dengan-Nya, tinggalkanlah ajaran-ajaran nenek moyangmu. Beliau juga menyuruh kami untuk melaksanakan salat, jujur, pemaaf dan menghubungkan sanak kerabat .” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Dari Abu Tsabit, (Abu Sa’id atau Abul Walid Sahl bin Hunaif), ia adalah orang yang ikut perang Badar. Menurut beliau, Nabi SAW bersabda : “Siapa saja yang benar-benar mohon untuk mati syahid kepada Allah Ta’ala niscaya Allah akan
mengabulkan ke tingkat orang yang mati syahid walaupun ia mati di atas tempat tidur . “ (HR. Muslim

5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Ada salah seorang di antara para nabi sewaktu akan berangkat perang, ia berpesan kepada kaumnya : “Janganlah mengikuti kami, yaitu orang yang baru kawin, sedangkan ia belum berkumpul dengan isterinya. Orang membangun rumah, sedangkan ia belum selesai membangunnya. Dan
janganlah mengikuti kami orang yang baru membeli kambing atau onta, dan ia menunggu kelahiran anaknya .” Kemudian Nabi berangkat berperang dan ketika mendekati sebuah
dusun kira-kira menjelang Nabi itu berkata kepada matahari : “Wahai matahari, sesungguhnya kamu diperintah dan saya pun diperintah. Ya Allah, tahanlah ia untuk membantu kami.”
Maka tertahanlah matahari itu, sehingga Allah memberikan kemenangan kepada nabi itu. Kemudian Nabi itu mengumpulkan barang-barang rampasan perang dan mendatangkan api untuk memakannya, tetapi api itu tidak mau memakannya, oleh karenanya Nabi itu bersabda:
“Sesungguhnya ada di antara kamu sekalian yang tidak ikhlas, maka setiap kelompok harus mengirimkan seorang laki-laki untuk berbai’at kepadaku.” Kemudian melekatlah
tangan dua atau tiga orang dengan tangan Nabi, maka beliau bersabda : “Kalianlah yang tidak ikhlas.” Orang-orang itu lalu membawa emas sebesar kepala sapi kemudian diletakkan di hadapan Nabi dan datanglah api, memakan emas tadi.
Barang-barang rampasan perang belum dihalalkan bagi seseorang sebelum kami. Kemudian Allah melihat kelemahan kami, karena Allah itu menghalalkan barang rampasan itu
bagi kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Abu Khalid Hakim bin Hizam ra., ia masuk Islam sewaktu pembukaan kota Makkah, sedangkan ayahnya termasuk tokoh Quraisy, baik di zaman Jahiliyah maupun setelah masuk Islam, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dua orang yang berjual beli itu haruslah bebas memilih sebelum mereka berpisah. Apabila keduanya jujur dan berterus terang di dalam berjual beli, maka keduanya akan mendapatkan berkah. Tetapi apabila keduanya menyembunyikan dan dusta, maka jual belinya itu tidak akan membawa berkah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Senin, 20 Juni 2011

Sejarah Ringkas Imam An-Nawawi


Sejarah Ringkas Imam An-Nawawi

Disusun Oleh: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.

Beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau dididik oleh ayah beliau yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.

Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliaupun menjadi semakin besar.

An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai rihlah thalabul ilminya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah–halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah didekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Iapun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata : “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya,baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy,Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi.

Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.

Beliau digelari Muhyiddin ( yang menghidupkan agama ) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ beliau. Disamping itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata :”Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin”.

Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud, wara’ dan bertaqwa. Beliau sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan. Sering tidak tidur malam untuk ibadah atau menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: ”Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: ”Kenapa !?” Beliau menjawab: ”Karena berisi kedhaliman yang nyata”. Raja semakin marah dan berkata: ”Pecat ia dari semua jabatannya”. Para pembantu raja berkata: ”Ia tidak punya jabatan sama sekali. Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: ”Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Rajapun menjawab: ”Demi Allah, aku sangat segan padanya”.

Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya:

1. Dalam bidang hadits : Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al- Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir.

2. Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.

3. Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

4. Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-Adzkar.

Kitab-kitab ini dikenal secara luas termasuk oleh orang awam dan memberikan manfaat yang besar sekali untuk umat. Ini semua tidak lain karena taufik dari Allah Ta’ala, kemudian keikhlasan dan kesungguhan beliau dalam berjuang.

Secara umum beliau termasuk salafi dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadits, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka. Namun beliau tidak ma’shum (terlepas dari kesalahan) dan jatuh dalam kesalahan yang banyak terjadi pada uluma-ulama di zaman beliau yaitu kesalahan dalam masalah sifat-sifat Allah Subhanah. Beliau kadang menta’wil dan kadang–kadang tafwidh. Orang yang memperhatikan kitab-kitab beliau akan mendapatkan bahwa beliau bukanlah muhaqqiq dalam bab ini, tidak seperti dalam cabang ilmu yang lain. Dalam bab ini beliau banyak mendasarkan pendapat beliau pada nukilan–nukilan dari para ulama tanpa mengomentarinya.

Adapun memvonis Imam Nawawi sebagai Asy’ari, itu tidak benar karena beliau banyak menyelisihi mereka (orang-orang Asy’ari) dalam masalah-masalah aqidah yang lain seperti ziyadatul iman dan khalqu af’alil ‘ibad. Karya-karya beliau tetap dianjurkan untuk dibaca dan dipelajari, dengan berhati-hati terhadap kesalahan-kesalahan yang ada. Tidak boleh bersikap seperti kaum Haddadiyyun yang membakar kitab-kitab karya beliau karena adanya beberapa kesalahan didalamnya.

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa kerajaan Saudi ditanya tentang aqidah beliau dan menjawab: ”Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah).

Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H -rahimahullah wa ghafarahu-.

Catatan: Lihat biografi beliau di Tadzkiratul Huffazh 147, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra, Syadzaratudz Dzahab 5/354

Selasa, 04 Januari 2011

Riyadathus Shalihin : ISTIGFAR (MEMOHON AMPUNAN KEPADA ALLAH)

1. Dari Aghar Al Muzanniy ra., bahwasanya Rasulullah saw.Bersabda:”Bahwasanya kadang-kadang timbul perasaan yangkurang baik dalam hatiku, dan sesungguhnya aku membacaistigfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kalisehari.”(HR.Muslim)

2. Dari Abu hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullahsaw. Bersabda:”Demi Allah, sesungguhnya aku mohon ampundan bertobat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalamsehari.”(HR. Bukhari)

3. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah saw.Bersabda:”Demi Zat yang menguasai diriku, seandainyakalian tidak berbuat dosa(dan tidak beristigfar dan bertobat),niscaya Allah Ta’ala pergi membawa kalian dan datang dengan kaum lain yang berbuat dosa, lalu meminta ampun kepada Allah Ta’ala, Allah pun mengampuni Mereka.”(HR.Muslim)

4. Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata:”Kami menghitung Rasulullah saw. Membaca:RABBIGH FIRLII WATUB’ALAIYYA INNAKA ANTA TTAWWABUR RAHIM (Ya tuhan,ampunilah saya dan terimalah tobat saya. Sesungguhnya Engkau Zat penerima tobat lagi Maha Penyayang) seratus kali dalam satu majlis(satu kali duduk).”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)

5. Dari Ibnu Abbas ra .,ia berkata :Rasulullah saw. Bersabda:”Barangsiapa yang membiasakan membawa istigfar, maka Allah akan melapangkan segala kesempitannya,
memudahkan segala kesulitannya dan memberi rezeki yang tanpa diduga-duga
.”(HR. Abu Dawud)

6. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Barangsiapa yang membaca:ASTAGFIRULLAAH ALLADZI LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAHI (Saya mohon ampun kepada Allah Zat yang tidak ada Tuhan kecuali Dia yang Maha Hidup, lagi terusmenerus mengurus makhluk-Nya dan saya bertobat kepada- Nya), maka diampunilah dosa-dosanya walaupun ia telah meninggalkan perang.”

Dari Saddad bin Aus ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda:”Pokok istighfar ialah bila seorang hamba mengucap:ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA ILAAHA ILLAA ANTA KHALAQTANII WA-ANA ‘ABDUKA WA-ANA ‘AHDIKA WAWA’DIKA MASTATHA’TUM ‘AUUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU-U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAIYYA ABUU-U BIDZAMBII FAGHFIRLII FAINNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILAA ANTA(Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan selain engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi atas perjanjian pada apa yang aku perbuat. Aku mengakui-Mu dengan nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosaku. Karena itu ampunilah aku, sebab tiada yang dapat mengampuni dosadosa selain Engkau).
Barangsiapa mengucap kalimat-kalimat ini di waktu siang dengan penuh keyakinan (ikhlas dan membenarkan). Lalu ia mati pada hari itu sebelum datang waktu sore, maka ia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa mengucapkan pada malam hari, sedangkan ia yakin dengan ucapan itu, lalu mati sebelum datang subuh, maka ia termasuk ahli surga.”(HR. Bukhari)

8. Dari Tsauban ra., ia berkata: “Adalah Rasullulah SAW, apabila telah selesai dari salatnya, beliau beristigfar kepada Allah SWT tiga kali dan mengucap: ALLAAHUMMA ANTAS SALAAMU WAMINKASSALAAMU TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAMI (Ya Allah, Engkau adalah Zat yang maha sejahtera dan dari Engkaulah segala kesejahteraan. Engkaulah yang senantiasa memberi berkah wahai Zat Yang Maha Agung lagi Maha Mulia).” Ditanyakan kepada Al’Auza’I dimana ia adalah salah seorang perawi hadis: “Bagaimanakah istigfar ini?” Jawabannya: ASTAGFIRULLAH ASTAGFIRULLAH (saya mohon ampun kepada Allah, saya mohon ampun kepada Allah).”(HR. Muslim)


9. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Adalah Rasulullah SAW, sebelum meninggal dunia, beliau senantiasa membaca SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGFIRULLAAHA WA
ATUUBU ILAIH
(Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya saya mohon ampun dan bertobat kepada-Nya).”(HR. Bukhari dan Muslim)

10. Dari Anas ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan mengharap kepadaku niscaya aku
ampuni dosa yang kamu lakukan dan Aku tidak memperdulikan berapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak memperdulikan kamu datang ke hadapan-Ku
dengan membawa dosa se isi bumi, kemudian bertemu dengan Aku tanpa menyekutukan sesuatu apapun dengan-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa yang se-isi bumi itu.”(HR. Turmudzi)

11. Dari Umar ra., bahwasannya Nabi SAW, bersabda: “Hai kaum wanita! Bersedekahlah dan perbanyaklah istigfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian lebih banyak menjadi ahli
neraka.”
Seorang wanita diantara mereka bertanya: ”Mengapa kebanyakan dari kami menjadi ahli neraka?” Rasulullah SAW bersabda: ”Kalian banyak mengutuk dan mengingkari suami.
Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya lebih daripada kalian
.” Wanita itu bertanya lagi: ”Apa itu kurangnya akal dan amal?” Rasulullah SAW bersabda: ”Persaksian seorang lelaki (berarti akal perempuan dianggap hanya setengah akal laki-laki), dan perempuan yang tinggal diam beberapa hari dalam keadaan tidak salat.”(HR. Muslim)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Tanda-tanda kecintaan Allah ta’ala

1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Siapa saja yang memusuhi kekasih-Ku, maka aku nyatakan perang kepadanya. Sesuatuyang paling Aku sukai dari yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku, yaitu apabila ia mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Seseorang itu senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia pergunakan untuk mendengar, Aku merupakan penglihatan
yang ia pergunakan untuk melihat, Aku merupakan tangan yang ia pergunakan untuk menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia pergunakan untuk berjalan. Seandainya ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya, seandainya ia berlindung diri kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya.” (HR. Bukhari)

2. Dari Abu hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril seraya berfirman : “Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai Fulan, maka cintailah ia, “Kemudian jibril mencintai orang itu dan berkata kepada penghuni langit :
“Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia.“ Penghuni langit pun akhirnya mencintai orang itu. Setelah kecintaannya diteruskan kepada penghuni bumi. (HR Bukhari
dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan : “Rasulullah SAW bersabda : “Sesunguhnya apabila Allah Ta’ala mencintai seseorang, maka Allah memanggil Jibril dan berfirman :
“Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia.” Kemudian jibril mencintai orang itu, setelah itu Jibril berkata kepada penghuni langit : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia.” Penghuni langit pun mencintai orang itu.

Setelah itu, kecintaannya diteruskan kepada penghuni bumi. Dan apabila Allah membenci seseorang, maka Allah memanggil Jibril dan berfirman : “Sesungguhnya Aku membenci Fulan, maka bencilah ia. “Kemudian Jibril membenci orang itu. Setelah itu
Jibril berkata kepada penghuni langit : “Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka bencilah ia.” Kemudian kebencian tersebut diteruskan kepada penghuni bumi.”

3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk mengimami salat pada suatu pasukan. Dalam salatnya, ia selalu menutup bacaannya dengan ucapan
: “QUL HUWALLAHU AHAD” (Surat Al-Ikhlsah) Ketika pulang, mereka menceritakan hal yang demikian itu kepada Rasulullah SAW beliau bersabda : “Tanyakan kepadanya,
mengapa ia berbuat seperti demikian?” merekapun menanyakannya dan orang itu menjawab : “Karena ayat itu mengandung sifat Zat yang Maha Pemurah, maka saya
senang membacanya.” Setelah disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Beritahukan kepadanya,bahwa Allah ta’ala mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim )

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Bergaul dengan wanita

1. Dari Abu Hurairah ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda :Berpesan baiklah kamu terhadap wanita, sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan paling bengkok adalah bagian atas. Oleh karena itu, apabila kamu paksa untuk meluruskannya, maka akan hancurlah ia, dan apabila kamu membiarkannya, maka akan bengkoklah ia selamalamanya. Oleh karena itu berpesan baiklah terhadap wanita.(H.R Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abdullah bin Zam`ah ra. Ia mendengar Nabi SAW Berkhutbah dan bercerita tentang unta sebagai mu`jizat Nabi Shaleh dan orang yang membunuhnya. Rasulullah SAW,
bersabda: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu seorang laki-laki yang amat kuat dan gagah perkasa serta disegani kaumnya. Setelah selesai, beliau melanjutkan khutbahnya tentang wanita, dan memberi nasihat tentang cara bergaul dengan wanita. Beliau bersabda : “Salah seorang di antara kalian ada yang sengaja memarahi isterinya bahkan memukul bagaikan budaknya, lalu pada malam harinya mungkin ia bersetubuh dengannya.”
Selanjutnya beliau menasihati para sahabat karena mereka tertawa ada yang buang angin, beliau bertanya : “Mengapa salah seorang di antara kamu menertawakan sesuatu yang iasendiri juga melakukannya?” (H.R Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Hurairah ra. Berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
Janganlah seorang laki-laki mukmin memarahi seorang perempuan mukmin! Apabila tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan.” ( H.R Muslim)

4. Dari `Amr bin Al-Ahwash Al-Jusyamiy ra. Ia mendengar Nabi SAW, pada haji Wada` berkhutbah. Setelah beliau memanjatkan pujian, sanjungan kepada Allah Ta`ala dan
selesai memberi peringatan dan nasihat, beliau bersabda:
“Ingatlah, berpesan baiklah terhadap isteri-isteri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu tidak boleh berbuat kejam terhadap mereka,
kecuali mereka telah nyata melakukan kejahatan. Jika mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemani mereka di dalam tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Bila mereka telah taat, janganlah kalian, berlaku keras terhadap mereka. Ingatlah! Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas isterimu dan isterimu juga mempunyai hak pada diri kalian. Hak kamu atas mereka, yaitu tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam kamarmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sukai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah, hak mereka atas kamu adalah kamu bergaul dengan cara yang baik. Terutama dalam memberi pakaian dan makanan. ( H.R Tirmidzi )

5. Dari Mu`awiyah bin Haidah ra. Ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah : “ Apakah hak isteri atas suaminya?” Beliau menjawab : “ Kamu harus memberinya makan apabila kamu makan, harus memberinya pakaian apabila kamu berpakaian, tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, serta tidak boleh mendiamkannya
kecuali di dalam rumah.” (H.R Abu Daud)

6. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadapisterinya.” (HR.Tirmidzi)

7. Dari Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab ra. Ia berkata :
Rasulullah SAW Bersabda : “Janganlah kamu memukul kaum wanita !” Kemudian Umar mendatangi Rasulullah SAW Dan berkata : “Wanita-wanita itu kini berani kepada suaminya.”
Mendengar yang demikian beliau membolehkan untuk memukulnya.” Kemudian banyak wanita yang mengerumuni Rasulullah SAW, mengadukan perlakuan suaminya. Lalu Rasulullah sw. bersabda: “Sungguh banyak wanita yang mengerumuni rumah Muhammad untuk mengadukan
perlakuan suaminya, maka mereka (suaminya) itu bukanlah orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (H.R Abu Dawud)

8. Dari Abdullah bin `Amr Al-Ash ra. Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dunia adalah suatu kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shalihah.” ( H.RMuslim)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Menjaga sunnah – sunnah Nabi SAW

1. Dari Abu hurairah ra. Dari Nabi SAW beliau bersabda :
Biarkanlah jangan kalian pertanyakan suatu hukum meninggalkannya (selagi aku tidak menerangkan hukumnya)
pada kalian. Sebab, orang-orang sebelum kalian celaka, karena banyaknya bertanya dan perselisihan mereka dengan para Nabi. Jadi, apabila aku mencegah sesuatu kepada kamu, maka jauhilah, dan apabila aku mememrintahkan kamu sesuatu maka kerjakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah ra., ia berkata :
Rasulullah SAW memberi nasihat kepada kami. Nasihat itu menggetarkan hati dan mencucurkan air mata kami. Maka kami bertanya: “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan merupakan nasihat merupakan nasihat yang terakhir, maka berilah kami wasiat.” Beliau bersabda :”Aku wasiatkan kepadamu agar tetap selalu bertakwa kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, serta tetap mendengar perintah dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak. Sesungguhnya orang yang masih hidup diantaramu, akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atasmu memegang teguh akan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan berpegang teguhlah pada sunnah itu dan jauhilah urusan-urusan yang dibuat-buat (bid’ah) sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.”(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)

3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Semua umatku masuk surga, kecuali orang-orang yang berpaling.” Ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, siapa saja
mereka?” Rasulullah SAW bersabda :”Siapa saja yang taat kepadaku pasti masuk surga. Dan siapa saja mendurhakaiku dialah termasuk orang-orang yang berpaling.” (HR Bukhari)

4. Dari Abu Muslim, ada yang mengatakan Abu Iyas Salamah bin ‘Amr Al-Akwa’ra., ia berkata : Ada seorang laki-laki makan di hadapan Rasulullah SAW dengan tangan kirinya, kemudian
beliau bersabda : ”Makanlah dengan tangan kananmu!” Ia menjawab : “Saya tidak dapat makan dengan tangan kanan.” Beliau bersabda lagi : “Tidak, sebenarnya kamu bisa, yang
menyebabkanmu tidak mau menggunakan tangan kanan karena kesombonganmu.” Akhirnya, ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim)

5. Dari Abu Abdullah Nu’man bin Basyir ra’, ia berkata :”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :”Luruskanlah dan samakanlah barisan shalatmu, atau kalau tidak, niscaya Allah
akan benar-benar merubah bentuk wajahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan :”RasulullahSAW Senantiasa meluruskan shaf-shaf kami, seakan-akan beliau meluruskan kayukayu panah. Kemudian ketika beliau menganggap bahwa kami sudah mengerti, pada suatu hari beliau keluar langsung siap untuk salat, tetapi beliau melihat ada seseorang yang dadanya menonjol ke depan, kemudian beliau bersabda : ”Wahai hamba Allah, kamu semua harus benar-benar meluruskan barisanmu, atau kalau tidak,
niscaya Allah akan benar-benar merubah bentuk wajahmu.”

6. Dari Abu Musa ra’, ia berkata :”Pada suatu malam di Madinah ada satu rumah terbakar disebabkan penghuninya lalai. Ketika peristiwa tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW,
beliau bersabda : ”Sesungguhnya api ini bisa menjadi musuh bagi kalian, maka dari itu, jika kalian tidur, padamkanlah api itu (lampunya).” (HR Bukhari dan Muslim)

7. Dari Abu Musa ra., ia berkata :Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang ditugaskan oleh Allah untukku menyiarkannya adalah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada yang baik, sehingga dapat menerima air dan menyimpannya kemudian menumbuhkan rerumputan dan tetumbuhan yang lain. Sebagian ada yang kering tapi dapat menyimpan air lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan bumi yang kering yang mengandung air itu, sehingga manusia minum, menyiram dan bertanam darinya. Sebagian lagi adalah tanah berbatu yang tidak bisa menyimpan air dan tidak dapat pula menumbuhkan rerumputan. Demikianlah perumpaman orang yang pandai dengan agama Allah dan ilmu atau petunjuk-petunjuk dari Allah yang bisa memberi manfaat pada dirinya, dia belajar hingga pandai lalu mengajarkan ilmunya (kepada orang lain). Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli yang tidak dapat menerima petunjuk ajaran Allah yang diutuskan untukku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan diriku di antara kalian adalah bagaikan seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu mulailah laronlaron
dan serangga-serangga mengerumuni api. Sementara itu, laki-laki tersebut mencegat laron dan serangga-serangga itu, jangan sampai tercebur ke dalam api. Saya akan selalu menarik kalian dari belakang,jangan sampai kalian tercebur kedalam api, tetapi (diantara) kalian memberontak lepas dari tanganku.” (HR Muslim)

9. Dari Jabir ra., ia berkata :”Sesungguhnya Rasulullah SAW menyuruh untuk membersihkan tangan dan piring ketika makan. Beliau bersabda : “Sesungguhnya kalian tidak tahu
dimana letak keberkahan makanan itu.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Jika makanan salah seorang di antara kamu jatuh, hendaklah ia mengambilnya dan membersihkan kotoran yang melekat kemudian
makanlah, dan jangan biarkan makanan itu untuk setan. Dan janganlah kamu membersihkan tangan dengan sapu tangan sebelum membersihkan jari-jari tangan dengan mulut, karena
sesungguhnya ia tidak tahu di mana letak keberkahan makanan itu.”


Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Setan itu
selalu hadir menyertai salah seorang di antara kalian dalam segala hal, juga ketika ia makan. Oleh sebab itu, jika makanan salah seorang di antara kalian itu terjatuh, maka hendaklah ia membersihkan kotoran yang melekat kemudian makanlah dan janganlah ia meninggalkan makanan itu untuk setan.”

10. Dari Ibnu Abbas ra’, ia berkata : ”Rasulullah SAW berdiri di tengah-tengah kami untuk memberi nasihat : “Hai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan di hadapan
Allah Ta’ala dalam keadaan telanjang bulat dan tidak beralas kaki sebagaimana pertama kali kita diciptakan. Itu adalah janji Allah untuk kita dan sesungguhnya janji itu pasti akan dilaksanakan. Ingatlah! Sesungguhnya pertama kali makhluk yang diberi pakaian kelak di hari kiamat adalah Nabi Ibrahim as. Ingatlah! Sesungguhnya nanti akan ada dari umatku yang didatangkan dari sebelah kiri dan mereka akan disiksa, kemudian aku berkata : “Wahai Tuhanku, mereka itu adalah umatku.” Allah berfirman : “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang diperbuat mereka sepeninggalanmu.” Maka saya berkata sebagaimana perkataan Nabi yang lain :
“Sesungguhnya saya menjadi saksi mereka selama saya berada di sisi mereka dan sesudah saya mati, Engkau pulalah yang mengetahui segala sesuatuanya. Apabila engkau Menyiksa mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka maka
sesungguhnya engkau adalah Zat Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.” Kemudian aku diberitahu :”Sesungguhnya mereka itu murtad dari agama Islam semenjak engkau tinggalkan
mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Dari Abu Said Abdullah bin Mughaffal ra’, ia berkata : “Rasulullah SAW melarang bermain ketepil dan bersabda : “Ketepil itu tidak dapat membunuh binatang buruan, dan tidak dapat untuk melukai musuh, hanya saja ia akan mencukil mata dan mematahkan gigi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain. Rasulullah SAW bersabda : “Kerabat Ibnu Mughaffal ada yang bermain ketepil kemudian ia dilarangnya dan dikatakan, bahwa Rasulullah SAW melarang untuk bermain ketepil, dan ia mengatakan pula bahwa ketepil itu tidak dapat digunakan untuk berburu. Setelah itu mereka masih tetap terus bermain ketepil. Akhirnya ia berkata : “Kata telah saya beri tahu, bahwa Rasulullah SAW melarang bermain ketepil, oleh sebab itu saya tidak akan berbicara lagi denganmu selamanya.”

12. Dari ‘Abbas bin Rabi’ah, ia berkata : “Saya pernah melihat Umar bin Khattab ra. Mencium Hajar Aswad, seraya berkata: “Aku tahu engkau adalah batu, engkau tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula membahayakan. Seandainya aku tidak pernah dan tidak pula membahayakan. Seandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menciummu, tentu
akupun tidak menciummu.” (HR Bukhari dan Muslim)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Yakin dan Tawakal

1. Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu. Kulihat ada seorang Nabi yang disertai dengan rombongan kecil, ada pula Nabi yang disertai dengan satu dua orang saja, bahkan ada seorang Nabi yang tanpa pengikut seorangpun. Kemudian tampak satu rombongan besar yang aku sangka mereka adalah umatku, akan tetapi dikatakan kepadaku : “Ini adalah Musa dan kaumnya tetapi lihatlah ke ufuk sana.” Kemudian aku melihat ke ufuk itu. Tiba-tiba aku melihat satu rombongan besar, lantas dikatakan kepadaku : “Lihatlah ke ufuk yang lain.” Di sana aku melihat satu rombongan yang besar lagi, kemudian dikatakan kepadaku : “Itulah umatmu yang didalamnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang akan memasuki surga tanpa hisab1 dan tanpa disiksa lebih dahulu.”

Beliau kemudian bangkit dan masuk ke dalam rumah. Orang-orang ramai membicarakan tentang orang-orang yang akan masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Salah seorang di antara mereka berkata : “Mungkin saja mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW” Dan ada pula yang mengatakan : “Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan dia tidak menyekutukan Allah.” Dan mereka menafsirkan bermacammacam. Kemudian Rasulullah SAW keluar dan bersabda kepada mereka : “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Kemudian mereka menceritakannya, maka beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjampi, dan mereka tidak pernah minta dijampi, mereka yang tidak
meramal dan hanya kepada Tuhan sajalah mereka bertawakkal.” Kemudian ‘Ukasyah bin Mihshan berkata : “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk
golongan mereka.” Beliau menjawab : “Engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian berdirilah orang lain sambil berkata : “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab : “Engkau telah didahului oleh Ukasyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
1 Tanpa dihitung atau diperiksa amal perbuatannya

2. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah SAW berdoa : “ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WABIKA AAMANTU WA’ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU
WABIKA KHAASHAMTU ALLAHUMA A’UUDZU BI’IZZATIKA LAA ILAAHA ILLAA ANTA ANTUDHILLANI ANTAL HAYYUL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA.

” (Ya Allah, hanya kepada-Mu saya berserah diri, dan kepada-Mu saya percaya sepenuh hatu, dan hanya kepada Engkau-lah saya kembali dan untuk-Mulah saya berjuang. Ya Allah, saya
berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau dan aku mohon agar Engkau tidak menyesatkan diriku. Engkau adalah Zat Yang Hidup yang tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “HASBUNALLAH WANIKMAL WAKIL, kalimat ini pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. Ketika beliau dilemparkan ke dalam api, dan juga dibaca oleh Nabi
Muhammad SAW ketika orang-orang kafir mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah kalian kepada mereka.” Akan tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan “HASBUNALLAAHU WANIKMAL WAKIIL.” (HR. Bukhari)


Pada riwayat Bukhari yang lain, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata :
“Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam api adalah “HASBUNALLAHU WANIKMAL WAKIIL” (Allah cukup menjadi Penolong bagi kami, Allah adalah sebaik-baik pelindung).”

4. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Akan masuk surga orang-orang yang mempunyai hati berpendirian seperti pendirian burung.” (HR. Muslim)

5. Dari Jabir ra., ia berkata : “Saya berperang bersama Nabi SAW menuju ke arah Najd. Tatkala Rasulullah kembali kami pun ikut kembali. Di suatu lembah yang banyak pohon berduri, kami merasa payah dan mengantuk, Rasulullah SAW pun turun dan berpencar untuk berteduh di bawah pohon, kemudian beliau menggantungkan pedangnya, sedangkan kami semua tertidur. Tiba-tiba Rasulullah SAW memanggil kami, sedangkan di dekat beliau ada seorang Badui,
kemudian beliau bersabda “Sesungguhnya orang ini telah menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku terbangun pedang itu sedang terhunus di tangannya.” Lalu orang ini berkata : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ?” Aku menjawab : “Allah” (tiga kali). Kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung duduk. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan : Jabir berkata : “Kami bersama Rasulullah SAW berperang di Dzatur riqa’. Tatkala kami sampai pada salah satu pohon yang rindang kami meninggalkan Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki musyrik sedangkan pedang Rasulullah SAW bergantung di pohon dan laki-laki itu menghunusnya seraya berkata : “Apakah kamu takut kepadaku?” Beliau menjawab : “Tidak.” Dia bertanya lagi : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ?” Beliau menjawab : “Allah.”

Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Isma’iliy di dalam shahihnya dikatakan : “Laki-laki itu bertanya : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari serangan ini?” Beliau menjawab : “Allah,” maka jatuhlah pedang itu dari tangannya, kemudian Rasulullah SAW mengambil pedang itu seraya bertanya : “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku ini?” Dia menjawab “Jadilah engkau sebaik-baik orang yang memegang pedang.” Beliau
bersabda : “Hendaklah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya saya adalah pesuruh Allah.” Ia menjawab : “Tidak, tetapi saya berjanji tidak akan memerangi kamu dan saya tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangi kamu.”
Kemudian Rasulullah melepaskan orang itu dan mendatangi sahabatnya seraya bersabda : “Baru saja bertemu dengan sebaikbaik manusia.”

6. Dari Umar ra., ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Andaikata kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, yaitu keluar dengan perut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari. (HR. Tirmidzi)

7. Dari Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Hai fulan apabila kau hendak tidur maka bacalah “ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA WAWAJJAHTU WAJHII ILAIKA WAFAWWADTU AMRII ILAIKA WA ALJA’TU
DHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA LAA MALJA’A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA AAMANTU BIKITAABIKAL LADZII ANZALTA WA NABIYYIKAL LADZII ARSALTA.

” (Ya Allah, saya menyerahkan diri kepada-Mu. Saya hadapkan wajahku kehadirat-Mu, saya menyerahkan segala urusanku kepada-Mu dan saya menyandarkan punggungku
kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada-Mu. Saya percaya dengan sepenuh hati terhadap Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan terhadap Nabi-Mu yang telah engkau utus.) Dengan membaca doa ini, apabila kalian mati pada malam itu, maka matinya dalam keadaan bersih dari dosa, dan jika kamu masih hidup sampai pagi harinya maka kamu akan memperoleh kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Al-Barra’, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku : “Jika engkau hendak tidur maka berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana kamu wudhu akan shalat, kemudian berbaringlah pada pinggangmu yang sebelah kanan lalu bacalah doa seperti tersebut di atas.” Ia meneruskan hadis itu seperti hadis di atas, kemudian beliau bersabda : “Dan jadikanlah doa sebagai akhir (penghabisan) dari apa yang kamu ucapkan.”

8. Dari Abu Bakar As Shiddiq Abdullah bin Utsman bin Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisy At-Taimiy ra., ia ayah dan ibunya
termasuk sahabat Nabi, ia berkata : “Tatkala kami berada di gua Tsur, saya melihat kaki-kaki orang musyrik berada di atas kepala kami, kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah,
seandainya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah telapak kakinya dia pasti akan melihat kita.” Beliau menjawab : “Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu cemaskan terhadap
dua orang sedangkan Allah ketiganya ?” (HR. Bukhari dan Muslim)

9. Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, nama sebenarnya adalah Hindun binti Abu Umayyah Hudzaifah Al-Makhzumiyah ra., ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW jika keluar dari rumahnya, beliau berdoa : “BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH. ALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA ‘AN ADHILLA AU UDHALLA WA ‘AZILLA AU UZALLA AU ADZLIMA AU AUDZLAMA AU AJHALA AU YUJHALA ‘ALAYYA
(Dengan menyebut nama Allah saya bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari sesuatu yang menyesatkan, dari sesuatu yang menggelincirkan atau digelincirkan dari sesuatu yang menganiaya atau teraniaya, atau dari sesuatu yang
membodohkan atau diperbodohkan.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi dan yang lain dengan sanad yang sahih).

10. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang keluar dari rumahnya membaca : “BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAHI WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah),” maka dikatakan kepadanya : “Kamu telah mendapat petunjuk, kamu telah dijamin, kamu dipelihara dan dijauhkan dari setan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Nasa’i dan yang lain)

Akan tetapi dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan : “Maka setan yang satu berkata kepada setan yang lain : “Bagaimana kamu dapat menggoda orang itu sedangkan dia telah diberi petunjuk, telah dijamin dan dipelihara oleh Allah.”

11. Dari Anad ra., ia berkata : “Masa Nabi SAW ada dua orang yang bersaudara, yang satu suka datang kepada Nabi SAW dan yang lain giat berusaha. Kemudian orang yang giat berusaha mengadu kepada Nabi SAW tentang keadaan saudaranya itu, lantas beliau bersabda : “Barang kali kamu mendapatkan rezeki karena saudaramu.” (HR. At Tirmidzi)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Berkunjung dan bergaul dengan orangorang

1. Dari Anas ra., ia berkata: ketika Rasulullah SAW, wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra., seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra., sebagaimana Rasulullah SAW, sering mengunjunginya.” Ketika keduanya
sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasulullah itu sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk rasul-Nya, sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.”(HR. Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala
mengutus malaikat untuk mengujinya, setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?” Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat
saudaraku yang berada di desa itu.” Malaikat itu bertanya: “apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu mengunjunginya?” Ia menjawab: “Tidak, saya mengunjungi
dan mencintainya karena Allah Ta’ala” Malaikat itu berkata:Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana
kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (HR.Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada dua malaikat yang memuji dan mendo’akan: “Bagus kamu dan bagus pula
perjalananmu, maka surgalah tempatmu.” (HR.Tirmidzi)

4. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., berkata: Nabi SAW, bersabda:
“Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shalih dan orang jahat, seperti orang yang bergaul dengan orang yang membawa minyak kasturi dan
orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli minyak kepadanya, paling tidak kamu mendapatkan bau
harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Pilihlah perempuan yang dinikahi karena empat perkara: Hartanya, derajatnya, kecantikannya, atau karena agamanya. Utamakanlah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Nabi SAW, bertanya kepada
Jibril as.: “Apa yang mencegahmu untuk sering datang kepada kami?” Maka turunlah ayat: “Wamaa natanazzalu illa bi amri rabbika lahu maa baina aidiina wa maa khalafnaa wa maa baina dzaalik. (Dan tidaklah kami (jibril) turun, kecuali
dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada dihadapan kita, di belakang kita, dan diantarakeduanya.)” (HR. Bukhari)

7. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sesungguhnya nabi SAW,
bersabda: “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang diantara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

9. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata: Sesungguhnya Nabi SAW, bersabda: “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Ada seseorang yang bertanya kepada nabi
SAW, tentang orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka, maka ia menjawab:Ia akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya.”

10. Dari Anas ra., sesungguhnya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah SAW, balik bertanya: “Bekal apakah yang telah
kamu siapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab:Mencintai Allah dan Rasul-Nya” Beliau bersabda: “kamu akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai (nanti di akhirat)” (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah SAW, dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah SAW, menjawab: “Seseorang akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya (kelak di akhirat)” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: Manusia itu berbeda-beda dalam watak baik dan buruknya,begaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik
pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa islam, apabila mereka memahami syari’at. Roh itu berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling
mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenalberpisah.” (HR. Muslim)

13. Dari Umar bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: “Tatkala umar bin Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk Yaman, ia bertanya: “Apakah ada diantara kamu yang
bernama Uwais bin ‘Amir?” ia menjawab: “Ya” Umar bertanya lagi: “Apakah kamu dari Murad dan Qaran?” Ia menjawab: Ya” Umar bertanya: “Apakah kamu dulu pernah mengalami
sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar dirham?” ia menjawab: “Ya” Umar kembali bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: “Ya” Umar
menjelaskan: Saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda:
“Nanti kamu akan kedatangan orang bernama Uwais bin ‘Amir bersama dengan serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang lalu
sembuh, kecuali sebesar dirham. Dia masih mempunyai ibu dan ia sangat berbakti kepadanya. Seandainya dia berbuat baik karena Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku. Kemudian diamemohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya:
“Engakau akan kemana lagi?” ia menjawab: “Ke Kufah” Umar menawarkan: “Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil(bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?” Ia
menjawab: “Saya lebih senang menjadi orang biasa.” Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar.
Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais.
Orang itu menjawab : “Saya meninggalkan dia dalam keadaan sangat menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong miskin.” Umar berkata : “Sesungguhnya saya mendengarRasulullah SAW bersabda : “Nanti kamu akan kedatangan seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama-sama denganserombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang kemudian sembuh kecuali sebesar dirham. Dia masih mempunyai ibu dan sangatberbakti kepadanya. Seandainya dia berbuat baik karenaAllah, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Setelah pulang, orang itu menemui Uwais dan berkata : “Mohonkan ampunbuat diriku.” Uwais menajwab : “Sebenarnya Engkaulah yang mendoakan saya, katrena baru pulang dari bepergian yang baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.”
Orang itu bertanya : “Kamu pernah bertemu Umar ? “ Uwais menjawab : “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang
mengenalnya dan berbondonh-bondong meminta agar dia memohonkan ampun buat mereka. Melihat yang demikian Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR.Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain, Dari Usair bin Jabir ra. Ia berkata :
Penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap Umar ra. Di antara mereka ada seseorang yang mengejek Uwais, kemudian Umar bertanya : “Apakah di sini ada seseorang yang berasal dari Qaran?” maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata
: Rasululllah SAW bersabda :
”Nanti kamu akan kedatangan seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apaapa di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang,
setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah agar dia memohonkan ampun buat kalian. “Pada riwayat lain, dari Umar ra. Ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, maka mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”

14. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Saya minta izin kepada Nabi SAW untuk mengerjakan umrah. Beliau mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, jangan
kau lupakan kami dari doamu. ”Umar berkata : “itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan ungkapan itu lebih berharga dariku daripada dunia.” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda :Wahai saudaraku,sertakanlah kami dalam doamu.”

15. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Nabi SAW sering beziarah ke Kuba’, baik naik kendaraan maupun berjalan. Di sana beliau salat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Setiap hari Sabtu Nabi SAWdatang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan.
Ibnu Umar juga mencontohnya.”

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Muroqobah

1. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah SAW tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak terlihat dan tidak seorangpun di antara kami mengenalinya. Ia duduk menghadap Beliau SAW, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi, seraya berkata : Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah SAW menjawab: Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika
memenuhi syaratnya.” Ia berkata : “Engkau benar!” Kami keheranan karenanya, dia bertanya tetapi membenarkannya. Lebih lanjut ia berkata : Sekarang terangkanlah kepadaku tentang Iman!” Rasulullah SAW menjawab : “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir, serta engkau beriman kepada baik dan jeleknya taqdir. Ia berkata : “Engkau benar.”Selanjutnya terangkan kepadaku tentang ihsan!” Rasulullah menjawab : “Yaitu hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Ketahuilah, bahwa Dia selalu melihatmu.” Orang itu kembali bertanya: “Beritahukan
kepadaku kapan terjadinya hari kiamat?”

Rasulullah SAW menjawab : “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui
daripada yang ditanya.”
Orang itu berkata lagi : “Kalau
begitu beritahukanlah tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat!”
Rasulullah SAW menjawab: “yaitu apabila budak perempuan
melahirkan bayi perempuan yang akan menjadi majikannya
dan engkau akan melihat orang yang asalnya tidak bersandal,
telanjang, papa, penggembala kambing, menjadi orang-orang
yang saling berlomba meninggikan bangunan rumahnya.”
Kemudian orang itu berlalu. Kami terdiam beberapa saat. Lalu
Rasulullah SAW bertanya : “Hai Umar, tahukah engkau siapa
yang bertanya tadi?” Umar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu.” Rasulullah SAW memberitahukan : “Dia adalah
Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama
Islam.” (HR. Muslim)

2. Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin
Jabal ra., dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada.
Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya
kebaikan tadi akan menghapus kejelekan dan gaulilah
manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

3. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : “Kali tertentu saya berada di
belakang Nabi SAW, kemudian beliau bersabda : “Hai anak
kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat,
yaitu : “Jagalah (perintah) Allah, niscaya ia akan menjaga
dirimu, jagalah (larangan) Allah niscaya kamu dapati Allah
selalu dihadapanmu. Jika engkau minta, mintalah kepada
Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah
pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, jika umat manusia
bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) kepadamu
niscaya mereka tidak akan dapat melakukan hal itu kepadamu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah
kepadamu. Dan jika mereka bersatu hendak mencelakakan
dirimu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakanmu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu.
Telah diangkat pena dan telah keringlah (tinta) lembaranlembaran
itu.” (HR. Imam Tirmidzi)

Dalam riwayat selain Tirmidzi dikatakan, Rasulullah SAW
bersabda : “Peliharalah (perintah) Allah niscaya engkau akan
menemui-Nya di hadapanmu. Hendaklah engkau mengingat
Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingatmu
di waktu susahmu. Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang
seharusnya luput mengenaimu, tentulah sesuatu itu tidak akan
mengenaimu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu disertai
kesabaran, kesenangan itu ada kesudahan dan sesudah kesulitan
pasti ada kemudahan.”

4. Dari Anas ra., ia berkata : “Sesungguhnya kalian sekarang
melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mudah, padahal
pada masa Rasulullah SAW perbuatan-perbuatan semacam itu
kami anggap termasuk hal-hal yang merusak agama.” (HR.
Bukhari)

5. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu cemburu; dan cemburunya
Allah Ta’ala yaitu, apabila ada seseorang yang melakukan
perbuatan-perbuatan yang diharamkannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

6. Dari Abu Hurairah ra., ia mendengar Nabi SAW bersabda :
“Ada tiga orang Bani Israil yang mempunyai penyakit belang,
botak dan buta. Kemudian Allah hendak menguji mereka,
maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat itu
datang kepada Si belang dan bertanya : “Apakah yang paling
kamu inginkan?” Si belang menjawab : “Saya menginginkan
paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang
penyakitku yang menjadikan orang-orang jijik melihatku.
Malaikat itu kemudian mengusap Si belang, maka hilanglah
penyakit yang menjijikannya, ia juga diberi paras yang
tampan dan kulit yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi :
“Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si belang
menjawab : “Unta,” ada yang mengatakan “sapi”. Kemudian
ia diberi unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan
Malaikat tadi berkata : “Semoga Allah memberi berkah atas
rahmat yang kamu terima.”
Kemudian malaikat mendatangi Si botak, dan bertanya :
“Apakah yang paling kamu inginkan ?” Si botak menjawab :
“Rambut yang rapi dan hilangnya penyakitku, yang
menyebabkan orang-orang jijik kepadaku.” Malaikat itu lalu
mengusap si botak dan hilangkah penyakitnya, serta
tumbuhlah rambut yang rapi. Malaikat itu bertanya lagi :
“Harta apakah yang paling kamu senangi ?” Si botak
menjawab : “Sapi.” Malaikat pun memberinya sapi yang
sedang bunting. Dan ia berkata : “Semoga Allah memberi
berkah atas rahmat yang kamu terima.”
Selanjutnya malaikat itu mendatangi Si buta dan bertanya :
“Apakah yang paling kamu inginkan ?” Si buta menjawab :
“Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat
melihat orang.” Malaikat itu lantas mengusap Si buta dan
Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya
lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si buta
menjawab : “Kambing.” Kemudian ia diberi kambing yang
sedang bunting.

Selang beberapa tahun, unta, sapi dan kambing berkembang
biak yang akhirnya unta itu memenuhi suatu lapangan,
demikian pula dengan sapi dan kambing. Kemudian malaikat
tadi datang kepada Si belang dengan menyerupai orang yang
berpenyakit belang seperti keadaan Si belang waktu itu, dan
berkata: “Saya adalah orang miskin, yang kehabisan bekal di
tengah-tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang
mau memberi pertolongan kepada saya kecuali Allah, saya
harap engkau mau memberi pertolongan. Saya benar-benar
minta pertolongan kepadamu dengan menyebut yang telah
memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus
serta harta kekayaan, dan saya minta seekor unta untuk
bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.” Si belang
berkata : “Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak
saya tidak bisa membekali apa-apa.”
Malaikat itu berkata: “Kalau tidak salah saya kenal dengan
kamu. Bukankah kamu dulu orang yang berpenyakit belang
sehingga orang-orang lain merasa jijik kepadamu. Bukankah
kamu dulu orang yang miskin kemudian Allah memberi
rahmat kepadamu?” Si belang berkata : “Harta kekayaanku
ini adalah dari nenek moyang.” Malaikat itu berkata: “Jika
kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti
keadaan semula.” Kemudian malaikat itu datang kepada Si
botak seperti keadaan Si Botak waktu itu, dan berkata seperti
yang dikatakan pada Si belang. Si botak juga menjawab
seperti jawaban Si belang. Kemudian malaikat itu berkata :
“Jika kamu berdusta semoga Allah mengembalikanmu seperti
semula.” Malaikat tadi terus ke tempat Si buta dengan
menyerupai orang yang buta seperti keadaan Si buta waktu
itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin yang kehabisan
bekal di tengah-tengah perjalanan dan sampai hari ini tidak
ada yang mau memberi pertolongan kepada saya kecuali
Allah, saya berharap mudah-mudahan kamu mau memberi
pertolongan. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu
dengan menyebut yang telah mengembalikan penglihatanmu
dan saya minta satu ekor kambing untuk bekal di dalam
melanjutkan perjalanan saya.” Si buta berkata : “Saya dahulu
adalah orang buta kemudian Allah mengembalikan
penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan
tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah
sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu
yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Agung. Malaikat itu
berkata : “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu
hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridha kepadamu dan
Allah telah memurkai kedua kawanmu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

7. Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra., dari Nabi SAW,. beliau
bersabda : “Orang yang cerdik adalah orang yang selalu
menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati.
Sedangkan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya
mengikuti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai
harapan kepada Allah.” (HR. Tirmidizi)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
: Termasuk kesempurnaan Islam seseorang, apabila ia
meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
(HR. Tirmidizi)

9. Dari Umar ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Seorang
suami tidak akan ditanya kenapa ia memukuli isterinya?” (HR.
Abu Dawud)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Sabar

1. Dari Abu malik al-Harits bin Ashim Al-Asy`ariy ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Suci adalah sebagian dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, salat itu adalah cahaya,sedekah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita dan AlQuran untuk berhujjah (berargumentasi) terhadap yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya,kemudian ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yangmembinasakan dirinya.” (H.R Muslim)

2. Dari Abu Sa`id bin Malik bin Sinan Al-Khudriy ra. Berkata:
“Ada beberapa sahabat Anshar meminta sesuatu kepada
Rasulullah SAW, maka beliau memberinya, kemudian mereka
meminta lagi dan beliau pun memberinya sehingga habislah
apa yang ada pada beliau. Ketika beliau memberikan semua
yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka :
”Semua kebaikan yang ada padaku tidak akan aku
sembunyikan pada kalian. Siapa saja yang menjaga
kehormatan dirinya, maka Allah pun akan menjaganya dan
siapa saja yang menyabarkan dirinya, maka Allah pun akan
memberikan kesabaran. Dan seseorang tidak akan
mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang
melebihi kesabaran.” (H.R Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. Ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda : ”Sangat menakjubkan bagi orang mukmin,
apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak
akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila
mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian
itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia
bersabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya.” (H.R
Muslim)
4. Dari Anas ra ., ia berkata : Ketika Nabi SAW menderita sakit
keras, Fathimah ra., mengeluh : “ Aduh ayah sakit keras.”
Kemudian beliau bersabda : “ Ayahmu tidak akan menderita
sakit lagi setelah hari ini.” Ketika beliau wafat, Fathimah ra.
berkata : “ Wahai ayahku, engkau telah memenuhi panggilan
Tuhan. Wahai ayahku, surga Firdauslah tempat kembalimu.
Wahai ayahku, kepada Jibril kami memberitakan wafatmu.”
Ketika beliau telah dikubur, Fathimah ra. berkata : “Apakah
kalian menyukai untuk menaburkan tanah di atas makam
Rasulullah SAW ?” (HR. Bukhari)

5. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, (dia adalah
pelayan,kekasih dan anak kekasih Rasulullah SAW ) ia
berkata : “ Salah seorang putri Nabi SAW mengutus
seseorang untuk memberitahu kepada beliau bahwa anaknya
sedang sakaratul maut, maka kami diminta untuk datang,
kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda
: “Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi
dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka
hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah .”
Kemudian orang itu disuruhnya kembali, menghadap Nabi
SAW, seraya meminta yang disertai dengan sumpah agar
beliau berkenan hadir. Maka pergilah beliau beserta Sa’ad bin
Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan
beberapa sahabat yang lain. Maka diberikan anak yang sakit
itu kepada Rasulullah SAW dan didudukkan di pangkuan
beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal, maka
meneteslah air mata beliau, kemudian Sa’ad bertanya :
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau meneteskan air mata ?”
Beliau menjawab : “Tetesan air mata adalah rahmat yang
dikaruniakan Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya.”
Dalam riwayat lain disebutkan : “Ke dalam hati hamba-hamba yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-
Nya yang mempunyai rasa sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Shuhaib ra., Rasulullah SAW bersabda : “Pada zaman
dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang
sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata
kepada rajanya : “Sesungguhnya saya sekarang sudah lanjut
usia. Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta kepada
tuan untuk mengirimkan seorang pemuda dan saya akan
mengajarinya ilmu sihir.” Raja itupun mengirimkan seorang
pemuda untuk belajar ilmu sihir. Akan tetapi di tengah
perjalanan ke tempat tukang sihir, ia bertemu dengan
seorang pendeta,1 kemudian pemuda itu berhenti untuk
mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh
karena itu, ia terlambat datang ke tempat tukang sihir. Ketika
pemuda itu sampai ke tempat tukang sihir, maka pemuda itu
dipukul. Kemudian ia mengadukan kepada pendeta, dan si
pendeta itu berkata : “Apabila kamu takut terhadap tukang
sihir itu, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu,
dan apabila kamu takut terhadap keluargamu maka
katakanlah bahwa tukang sihir itu menahanmu.” Suatu hari
ketika dalam perjalanan, dijumpai di tengah jalan seekor
binatang yang sangat besar, sehingga orang-orang tidak
berani meneruskan perjalanan. Pada saat itulah si pemuda
berkata : “Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah
yang lebih utama ataukah pendeta ?”
Pemuda itu mengambil batu seraya berkata : “Ya Allah,
apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka
matikanlah binatang yang sangat besar itu agar orangpun
dapat meneruskan perjalanannya.” Kemudian ia lemparkan
batu itu, dan matilah binatang itu, sehingga orang-orangpun
dapat melanjutkan perjalanannya. Ia lalu mendatangi pendeta
itu dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu
berkata : “Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dari
saya karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui,
dan ketahuilah, kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi
ingatlah, apabila kamu diuji, janganlah kamu menyebutnyebut
namaku.” Setelah itu pemuda tadi dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang, dan berbagai
jenis penyakit lain.
Tersebarlah berita, bahwa kawan raja sakit mata hingga buta
dan sudah diusahakan ke mana-mana tetapi belum juga
sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan
membawa beraneka macam hadiah dan berkata : “
Seandainya kamu dapat menyembuhkan saya, akan saya
penuhi semua permintaanmu.” Pemuda itu menjawab :
“Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan seseorang,
tetapi yang menyembuhkan adalah Allah Ta’ala. Apabila
engkau beriman kepada Allah Ta’ala niscaya saya akan
berdo’a kepada-Nya agar menyembuhkan penyakitmu.” Maka
berimanlah orang itu kepada Allah Ta’ala dan sembuhlah
penyakitnya.
Orang itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama
sebagaimana biasanya, kemudian sang raja bertanya
kepadanya : “Siapakah yang menyembuhkan matamu itu ?”
Ia menjawab : “Tuhanku.” Sang raja berkata : “Apakah kamu
mempunyai Tuhan selain aku ?” Ia menjawab : “Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Allah.” Maka raja itu langsung menyiksanya
sehingga orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka
dipanggillah pemuda itu dan berkatalah sang raja kepadanya
: “Hai anakku, sihirmu sangat ampuh sehingga dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa
berbuat ini dan itu.” Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnnya
yang bisa menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” Maka
disiksalah pemuda itu sehingga ia menunjuk kepada sang
pendeta, maka dipangillah pendeta itu. Raja itupun berkata
kepadanya : ”Kembalilah kamu kepada agamamu semula.”
Tetapi pendeta itu tidak mau, kemudian raja itu menyuruh
untuk menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya
terbelah dua. Kemudian dipanggilah kawan raja itu dan
dikatakan kepadanya : “Kembalilah pada agamamu semula.”
Tetapi orang itu tidak mau, ia pun digergaji dari atas kepala
sampai badannya terbelah dua. Kemudian dipanggillah
pemuda itu. Raja itu kemudian berkata : “Kembalilah pada
agamamu semula.” Tetapi pemuda itu menolak, kemudian ia
diserahkan kepada pasukan dan memerintahkan untuk
membawanya ke suatu gunung. Ketika sampai di puncak
gunung, paksalah supaya kembali kepada agamanya semula.
Bila tidak, lemparkan ia dari atas gunung biar mati. Pasukan
itu pun membawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di
sana pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkan saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau
kehendaki.” Kemudian bergoncanglah gunung itu sehingga
pasukan tadi bergulingan dari atas gunung. Pemuda itu
mendatanginya, dan sang raja bertanya keheranan : “Apa
yang diperbuat oleh pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab :
“Allah Ta’ala telah menghindarkan saya dari kejahatan
mereka.” Pemuda itu ditangkapnya dan diserahkan kembali
kepada sekelompok pasukan yang lain, untuk membawa
pemuda itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah
lautan. Pasukan itu membawanya naik kapal, kemudian
pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkanlah saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan yang Engkau kehendaki.”
Kemudian kapal itu terbalik dan tenggelamlah mereka.
Pemuda itupun kembali kepada sang raja, dan sang raja
bertanya lagi keheranan : “Apakah yang diperbuat oleh
pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala telah
menghindarkan aku dari kejahatan mereka.” Kemudian
pemuda itu berkata kepada sang raja : “Sesungguhnya
engkau tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau
memenuhi permintaanku.” Raja bertanya : “Apakah yang
engkau inginkan ?” Pemuda itu menjawab : “Engkau harus
mengumpulkan orang banyak dalam satu lapangan dan
saliblah saya di atas sebuah tiang, kemudian ambillah anak
panahku dari tempatnya serta letakkanlah pada busurnya,
kemudian bacalah : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan
pemuda ini,” kemudian lepaskanlah anak panah itu ke arahku.
Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan
berhasil membunuhku. “ Mendengar yang demikian, raja itu
mengumpulkan orang banyak di salah satu lapangan dan
menyalib pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil
anak panah dari tempatnya dan diletakkan pada busurnya
kemudian ia membaca : “Dengan menyebut nama Allah,
Tuhan pemuda ini,” dan dilepaskanlah anak panah itu ke arah
pelipisnya, kemudian pemuda itu meletakkan tangannya pada
pelipis yang terluka, lalu ia pun mati. Pada saat itu juga
serentak orang-orang berkata : “Kami beriman dengan
Tuhannya pemuda itu .” Ada seorang yang menyampaikan
berita itu kepada sang raja seraya berkata : “Tahukah
engkau, apa yang engkau khawatirkan sekarang telah
menjadi kenyataan. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada
gunanya sama sekali karena orang-orang sudah beriman .”
Kemudian raja itu memerintahkan membuat parit yang besar
pada setiap persimpangan jalan, di dalamnya dinyalakan api,
kemudian memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau
kembali pada agama semula, maka akan dilemparkan ke
dalam parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita
yang berpegang teguh pada agama yang hak, namun ia
membawa bayinya dan merasa sangat kasihan kepada
anaknya kalau ia beserta anaknya masuk ke dalam parit,
akan tetapi bayi itu berkata : “Wahai ibu, sabarlah, karena
engkau berada dalam kebenaran .”
(HR. Muslim)
1 Pada masa itu, yang dimaksud dengan kata ar-rahib atau
pendeta, adalah pendeta yang masih kuat memegang ajaran
Tauhid dan menyembah Allah SWT.

7. Dari Anas ra., ia berkata : “Sewaktu Nabi SAW menjumpai
seorang wanita sedang menangis di atas kubur, maka beliau
bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah !” Wanita
itu berkata : “Pergilah dairi sini karena sesungguhnya engkau
tidak tertimpa musibah sebagaimana yang aku alami !”
Wanita itu tidak tahu bahwa yang berkata adalah Nabi.
Kemudian ada seseorang yang memberitahukan kalau itu
adalah Nabi SAW Maka wanita itu segera datang ke rumah
Beliau SAW dan ia tidak menjumpai para penjaga pintu,
sehingga dengan mudah ia memasukinya kemudian ia berkata
: “Saya tidak tahu kalau yang berkata tadi adalah engkau.”
Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya sabar itu hanyalah
pada hari pertama dari musibah itu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Wanita itu menangisi
anaknya yang baru meninggal.”

8. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Allah
Ta’ala berfirman : “Tidak ada balasan kecuali surga bagi
hamba-Ku yang mukmin, yang telah Aku ambil kembali
kekasihnya dari ahli dunia, dan ia hanya mengharapkan
pahala dari-Ku.” (HR. Bukhari)

9. Dari Aisyah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
wabah penyakit yang tersebar di seluruh negeri, kemudian
beliau memberitahu, bahwa wabah itu merupakan siksaan
yang ditimpakan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikannya
sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka
seseorang yang tetap tinggal pada suatu daerah yang
kejangkitan wabah dan ia sabar serta hanya memohon
kepada Allah kemudian sadar bahwa ia tidak akan tertimpa
wabah kecuali Allah akan menakdirkannya, maka ia mendapat
pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid.”
(HR.Bukhari)

10. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan
kubutaan pada kedua matanya kemudian ia sabar, maka Aku
akan menggantikannya dengan surga .” (HR. Bukhari)

11. Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata : “Ibnu Abbas ra.
berkata kepadaku : “Maukah saya tunjukkan seorang wanita
yang termasuk ahli surga ?” Saya menjawab tentu saja saya
mau. “ Ia berkata : “Adalah wanita berkulit hitam yang
pernah datang kepada Nabi SAW, waktu itu berkata :
“Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan, dan aurat
saya terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah
kepada Allah agar penyakit saya sembuh.” Beliau kemudian
bersabda : “Apabila kamu mau sabar maka kamu akan masuk
surga, dan apabila kamu tetap meminta maka saya pun akan
berdoa kepada Allah agar engkau sembuh dari penyakitmu.”
Wanita itu menjawab : “Kalau begitu saya akan bersabar.”
Kemudian wanita itu berkata lagi : “Sesungguhnya aurat saya
terbuka karenanya, oleh karena itu, mohonkanlah kepada
Allah agar aurat saya tidak terbuka.”Maka Nabi pun berdoa
untuknya agar auratnya tidak terbuka.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

12. Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Mas’ud ra., ia
berkata : “Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah SAW,
sewaktu menceritakan salah seorang dari para Nabi ketika
dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan ia
mengusap darah dari mukanya sambil berdoa : “Ya Allah,
ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, ia
berkata : “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan,
kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun
kedukacitaan, sampai yang tertusuk duripun niscaya Allah
akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

14. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : “Saya masuk ke
tempat Nabi SAW, waktu itu beliau sedang sakit panas.
Kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
engkau benar-benar menderita sakit yang sangat panas. “
Beliau memberitahukan : “Benar, sakit panas yang saya
derita ini dua kali lipat lebih panas dari yang biasa diderita
kalian.” Saya bertanya : “Kalau begitu engkau mendapat
pahala dua kali lipat?” Beliau menjawab : “Benar, memang
demikianlah keadaannya.” “Seorang muslim yang tertimpa
suatu kesakitan, baik itu tertusuk duri maupun lebih dari itu,
niscaya Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan
menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun-daun yang
berguguran dari pohon.” (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda : “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang
baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)

16. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Janganlah salah seorang di antara kamu sekalian
menginginkan mati karena tertimpa kesulitan. Seandainya
terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah : “Ya
Allah, biarkanlah saya hidup apabila hidup lebih baik bagiku,
dan matikanlah saya apabila mati itu lebih baik bagiku.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

17. Dari Abu Abdillah Khabbab bin Arati , ia berkata : “Kami
mengadu kepada Rasulullah SAW Saat ini beliau sedang
berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kami
bertanya : “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan
buat kami ? Apakah engkau tidak mendoakan kami ?“ Beliau
menjawab : “Orang-orang sebelum kalian, ada yang ditanam
hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya
terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir
besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu
tidak menggoyahkan agama mereka. Demi Allah, Allah pasti
akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di
Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka
tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya
kambing terhadap serigala. Tetapi kalian sangat tergesa-gesa
.” (HR. Bukhari)
Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beliau sedang berbantalkan
sorbannya sedangkan kami baru saja bertemu dengan orangorang
musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat
berat .”

18. Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata : “Setelah perang
Hunain Rasulullah SAW mendahulukan orang-orang yang
terkemuka didalam membagi rampasan perang. Beliau
memberikan masing-masing seratus onta kepada Al-Aqra’ bin
Habis dan kepada ‘Uyainah bin Hishn. Dalam pembagian
rampasan perang pada beberapa hari itu, yang didahulukan
oleh beliau beberapa pemuka Arab. Ada seorang laki-laki yang
berkata : “Demi Allah sesungguhnya pembagian rampasan
perang ini tidak adil dan nampaknya semata-mata bukan
karena Allah.” Maka saya berkata : “Demi Allah, saya benarbenar
akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW”
Kemudian saya datang kepada beliau dan menceritakan apa
yang dikatakan oleh laki-laki tadi. Tiba-tiba berubahlah wajah
beliau bagaikan kesumba merah, kemudian bersabda :
“Siapakah yang adil bila Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak
adil ?” Beliau bersabda lagi : “Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat kepada Nabi Musa karena beliau telah
disakiti hatinya melebihi diriku, tetapi beliau tetap sabar.“
Saya berkata : “Tidak apa-apa, saya tidak menyampaikan
berita semacam itu lagi kepada beliau sesudah peristiwa itu .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

19. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang
baik, maka ia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila
Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka ia
menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan
menuntutnya pada hari kiamat .” (Perawi tidak tercantum)

20. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya pahala
itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta
suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga
siapa saja yang ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa
saja yang murka, maka Allah akan memurkainya .” (HR.
Tirmidzi)

21. Dari Anas ra., ia berkata : “Abu Thalhah mempunyai
anak yang sedang sakit. Sewaktu Abu Thalhah pergi, anaknya
meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya :
“Bagaimana kondisi anak kita ?” Ummu Sulaim, ia menjawab
: “Anak kita lebih tenang.” Kemudian isterinya
menghidangkan makanan lalu Abu Thalhah pun makan.
Selesai makan, isterinya berkata : “Kuburkanlah anak itu !”
Kemudian pada pagi harinya, Abu Thalhah datang kepada
Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu. Beliau bertanya :
“Apakah tadi malam kamu bersetubuh dengan dengan
isterimu ?” Abu Thalhah menjawab : “Ya.” Kemudian
Rasulullah SAW mendoakan keduanya : “Ya Allah mudahmudahan
Engkau memberkahi keduanya.” Selang beberapa
bulan, isterinya melahirkan bayi laki-laki. Kemudian Abu
Thalhah menyuruh saya ( Anas ) untuk membawa bayi itu
kepada Nabi SAW dengan menyertakan beberapa kurma.
Setelah sampai di hadapan Nabi, beliau bertanya : “Adakah
sesuatu yang disertakan bersama bayi ini ?“ Ia menjawab :
“Ya, beberapa buah kurma.” Beliau mengambil kurma-kurma
itu, dan dikunyah sampai halus, kemudian diambil kembali
dari mulut beliau lalu dimasukkannya ke dalam mulut bayi itu.
Ia diberi nama Abdullah . (HR. Bukhari dan Muslim )
Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, disebutkan, Ibnu
Uyainah berkata : “Ada seorang sahabat Anshar yang berkata :
“Saya melihat ada sembilan anak yang kesemuanya telah pandai
membaca Al-Quran.” Salah seorang di antaranya adalah Abdullah.”
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan : “Sewaktu
anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu
Sulaim berkata kepada segenap keluarganya : “Janganlah kalian
menceritakan peristiwa anakku kepada Abu Thalhah sebelum saya
sendiri menceritakannya.” Setelah Abu Thalhah datang, isterinya
segera menghidangkan makan, maka makan dan minumlah Abu
Thalha, setelah itu isterinya mengajak bercanda sehingga
bersetubuh dan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya.
Setelah isterinya tahu bahwa suaminya telah kenyang dan puas,
maka berkatalah Ummu Sulaim : “Wahai Abu Thalhah, bagaimana
pendapatmu seandainya ada sekelompok orang yang meminjamkan
sesuatu kepada salah satu keluarga kemudian orang itu meminta
kembali pinjamannya, apakah pantas keluarga itu menolaknya ?”
Abu Thalhah menjawab : “Tidak pantas.” Isterinya berkata :
“Relakan putramu.” Abu Thalhah marah-marah seraya berkata :
“Kenapa kamu diam saja sejak tadi sehingga saya bersetubuh
denganmu, barulah kamu memberitahu tentang anak kita.”
Kemudian Abu Thalhah pergi dan datang kepada Rasulullah SAW
serta menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Rasulullah SAW
bersabda : “Semoga Allah memberkahi apa yang telah kalian
lakukan tadi malam .”
Selang beberapa bulan hamillah isterinya. Setelah itu Rasulullah
SAW bepergian bersama-sama Abu Thalhah dan isterinya. Ketika
kembali dan akan masuk kota Madinah, Ummu Sulaim tidak bisa
melanjutkan perjalanan. Abu Thalhah berdoa : “Ya Allah,
sesungguhnya saya sangat senang kalau keluar masuk kota
bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sewaktu saya akan masuk
kota, ditahan di sini sebagaimana Engkau ketahui.” Kemudian
Ummu Sulaim berkata : “Wahai Abu Thalhah, rasa sakit perutku kini
hilang, maka mari kita berjalan terus.” Dan mulai terasa kembali
perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Di sanalah kemudian
Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia berkata :
“Janganlah ada seorang pun yang menetekinya sebelum engkau
bawa kepada Rasulullah SAW” Maka pada pagi harinya saya
membawa bayi itu ke hadapan Rasulullah SAW kemudian Rasulullah
menyuapkan makanan yang telah dikunyah dan bayi itu diberi
nama “Abdullah”.

22. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Yang
dikatakan orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat.
Tetapi, yang dikatakan orang kuat adalah orang yang dapat
mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

23. Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata : “Saya duduk
bersama Nabi SAW, tiba-tiba ada dua orang yang saling
memaki, salah seorang di antara mereka merah mukanya dan
pertikaian hampir terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda
: “Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, apabila
kalimat itu dibaca niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi ;
yaitu apabila ia membaca : “A’UUDZU BILLAAHI
MINASYSYAITHAANIRRAJIIM “ ( saya berlindung kepada Allah
dari godaan syaitan yang terkutuk ), niscaya hilanglah apa
yang sedang terjadi.” Maka para sahabat mengatakan kepada
orang yang sedang bertengkar itu : “Sesungguhnya Nabi SAW
menyuruh kalian supaya berlindung kepada Allah dari syaitan
yang terkutuk .” (HR. Bukhari dan Muslim)

24. Dari Mu’adz bin Anas ra., Nabi SAW bersabda : “Siapa
saja yang menahan marah padahal sebenarnya ia bisa untuk
melampiaskannya, maka pada hari kiamat Allah SWT. akan
memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian ia disuruh
untuk memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang
diinginkannya .” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

25. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ada seseorang
berkata kepada Nabi SAW : “Nasihatilah aku!” Beliau
bersabda : “Janganlah kamu marah ! “ Orang itu berkali-kali
minta nasihat kepada Nabi, tetapi Nabi SAW, tetap
menjawabnya : “Janganlah kamu marah !” (HR. Bukhari)

26. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW,
bersabda : “Orang mukmin, baik laki-laki maupun
perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya,
anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah
Ta’ala tanpa membawa dosa. “ (HR. At-Tirmidzi)

27. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Ketika Uyainah bin
Hishn datang, ia menginap di tempat kemenakannya Al Hurr
bin Qais, ia termasuk orang yang dekat dengan Umar ra. dan
Umar memang mengangkat orang-orang yang pandai di
dalam Al-Qur’an sebagai kawan duduk dan kawan
bermusyawarah, baik tua maupun muda. Uyainah berkata
kepada kemenakannya : “Wahai kemenakanku kamu adalah
orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan
izin agar saya dapat menghadap kepadanya !” Kemudian
kemenakannya memintakan izin, Umar pun mengizinkan.
Ketika Uyainah masuk ia berkata : “Wahai putra Al-
Khaththab, demi Allah engkau tidak berbuat banyak terhadap
kami dan engkau tidak adil di dalam mengadili kami.” Maka
marahlah Umar dan hampir saja ia dipukulnya. Kemudian Al-
Hurr berkata kepada Umar : “Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya
SAW : “Berikanlah maaf, suruhlah untuk berbuat baik dan
janganlah kamu hiraukan orang-orang yang bodoh .” Dan
sebenarnya orang ini adalah termasuk orang yang bodoh.
Demi Allah, ketika ayat ini dibaca, Umar seakan-akan belum
pernah mendengarnya, padahal Umar adalah orang yang
sangat teliti terhadap kitab Allah Ta’ala. “ (HR. Bukhari)

28. Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda :
“Sepeninggalanku akan ada orang yang hanya mementingkan
dirinya sendiri dan ada pula hal-hal yang diingkarinya.” Para
sahabat bertanya : “Wahai …Rasulullah, apa yang harus kami
lakukan ?” Beliau menjawab : “Kamu harus menyampaikan
kebenaran yang kamu ketahui dan memohonlah kepada Allah
agar mendapatkan hakmu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

29. Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair ra., ia berkata : “Ada
seorang sahabat Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah,
mengapa engkau tidak memperkerjakanku sebagaimana
engkau telah memperkerjakan si Fulan ?” Beliau menjawab :
“Sesungguhnya sepeninggalku nanti kamu akan mendapatkan
orang yang suka mementingkan diri sendiri maka bersabarlah
kamu sampai bertemu denganku di dekat Telaga Kautsar .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

30. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa ra., dikatakan
kali tertentu : Rasulullah SAW menanti kedatangan musuh
sehingga matahari tergelincir, maka bangkitlah beliau di
tengah-tengah para sahabat seraya bersabda : “Wahai
manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh
dan mintalah selalu pengampunan-Nya, serta sabarlah.
Ketahuilah, bahwa surga itu di bawah naungan pedang.”1
Kemudian Nabi SAW berdoa : “Wahai Allah yang menurunkan
Kitab, yang menjalankan awan, dan yang mengalahkan
musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk
mengalahkan mereka .” (HR. Bukhari dan Muslim)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Halaman Ke