Sabtu, 04 September 2010

Berguru Menjaga Nafsu Kepada Malaikat


Berguru Menjaga Nafsu Kepada Malaikat Oleh: Abdul Adzim

Pada bulan puasa jin, syetan, iblis dibelenggu agar tidak mengoada manusia yang sedang menunaikan ibadah puasa. Tetapi, ternyata manusia masih nafsunya lebih tinggi dari pada kelompok jin dan syeten. Lihat saja, banyak dari manusia yang masih suka berjudi, mencaci, memeras, korupsi, bahkan berbuat onar dengan meng-atas namakan agama. Padahal, agama tidak pernah mengajarkan demikian. Apalagi Nabi Saw, beliau senantiasa mengajarkan kebenaran, keadilan, dan tidak saling membenci. Justru Nabi Saw mengatakan:” jadilah kaian orang-orang yang saling bersaudara”.

Nafsu manusia, semakin hari semakin sulit terkendali, padahal mereka sedang melakukan puasa Ramadhan. Lantas, apakah mereka tidak merasa, bahwa puasa itu mengurangi hawa nafsunya? Sebagian orang beriman merasakan, ketika sedang berpuasa, bisa menjaga dan mengendalikan diri, mulai tindakan, ucapan, bahkan aktifitas sehar-hari dapat terkendali dengan sebaik-baiknya. Dan inilah yang disebut dengan puasa sejati.

Berbicara tengtang perguruan tinggi para malaikat. Allah SWT berfirman bahwa malaikat itu tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, dan selalu melaksanakan perintah-Nya”. Jika umat islam demian, maka dunia ini akan aman, adil, dan kemakmuran akan terjamin. Tetapi, sayang Malaikat itu tidak bisa memberikan ceramah atau kuliah setiap subuh. Sehingga, pencerahah-penceramah juga sering terjerat pada ranjau-ranjau dakwahnya. Seperti mengajarkan Ihlas, tetapi jika fee-nya kurang banyak nrundel (ngedumel). Mengajarkan bersedekah, tetapi masih banyak juga orang-orang tak tersantuni. Mengajak kebaikan, jutru langkahnya ngak bisa diikuti, karena menyesatkan.

Perguruan Malaikat itu akan bisa didapat jika manusia telah memahami betul karakter malaikat. Karakter malaikat ialah” Tidak pernah bermaksiat Kepada Allah”, taat menjalankan perintah-Nya, dan tidak pernah demontrasi, protes, bahkan bertindak anarkis. Mendengar dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka.

Sedangkan, manusia itu telah berikrar bahwa dirinya beriman kepada-Nya, tetapi kadang masih selingkuh (syirik) dengan menyembah tuhan selain Allah. Ada juga mentakan taat, tetapi ketika memiliki uang banyak, ternyata tidak mau mengeluarkanya, karena takut miskin. Ketika ada perintah puasa dan sholat tarawih. Ternyata, masih juga tidak mau melaksanakan dengan sebaik-bainya, sehingga derajatnya tidak terangkat menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Semoga waktu yang tinggal beberapa hari ini mampu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Puasa, tarawih dan al-Qur’an masih setia menemaninya. Semoga, Ramadhan kali ini menjadi renuangan, dan bisa berjumpa dengan ramadhan dikemudia hari. Sebab, manusia kadang tidak tahu kapan menjemput ajalnya. Wallau al’lam

sumber : ramadhan.kompas.com

Jumat, 03 September 2010

Bajaj-unik-khusus-para-blogger


Bajai unik yang disebut Bufalino ini didesain Cornelius Comanns seorang desainer yang berasal dari Jerman. Kendaraan mirip bajai ini sebenarnya berbasis pada Piaggio APE 50 three-wheeler tetapi telah dimodifikasi dan dijejali oleh banyak peralatan yang dibutuhkan oleh seorang blogger untuk beraktifitas sehari-hari.

Tapi hanya satu fasilitas yang kurang dari kendaraan ini yaitu kamar mandi. Atau mungkin sang desainer merasa bahwa para blogger tidak perlu mandi selama berbulan-bulan ya ? ^,^

Coba lihat beberapa gambar desainnya dibawah ini :




















Sumber : http://www.whooila.com/2010/09/bajaj-unik-khusus-para-blogger.html#ixzz0yRs2bUbc
Whooila! - Ensiklopedia Fakta Unik dan Aneh

Kamis, 02 September 2010

Fakta Ilmiah Mengapa 1 Malam Lailatul Qodar Lebih Mulia dari 1000 Bulan

Fakta Ilmiah Mengapa 1 Malam Lailatul Qodar Lebih Mulia dari 1000 Bulan

Whooila! - Ensiklopedia Fakta Unik dan Aneh
Ini ada artikel bagus tentang Lailatul Qadar yang bersumber dari karya Rajendra Kartawiria, Quranic Quotient Centre. Sebagian isi buku ini kemudian dipublikasikan di internet oleh Aulia Muttaqin dan beberapa sumber lainnya.

Manfaatkan malam Ramadhan untuk memperluas ilmu dan membangun keyakinan

Mengapa Ramadhan?
Dalam Islam kita mengenal adanya 4 bulan suci, yaitu Dzulka’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ramadhan yang berarti panas pun tidak termasuk sebagai bulan suci. Mengapa Ramadhan dipilih untuk puasa sebulan penuh?



Dalam ilmu astronomi, Radiasi Matahari memiliki siklus 11 tahunan. Tahun 2007 sendiri merupakan akhir dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18.



Bumi dilindungi Magnestosphere, sehingga dampak badai radiasi bukan terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari).



Saat badai radiasi matahari datang, dampaknya terasa pada bagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari).



Radiasi di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak.



Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tingkat kesadaran dan aktivitas otak.

Umat muslim dianjurkan puasa sunnah 3 hari “shaumul biidh” pada saat terang bulan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Hijriyah dan menghidupkan malam-malamnya.

Tingkat radiasi bervariasi 0-100,000 dan di skala S1-S5 oleh NOAA.



Berdasarkan pengamatan, radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 terjadi 10 kali dalam satu siklus 11 tahunan, atau terjadi setiap 13 bulan sekali. Radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 ini digolongkan dalam skala S3, dan mulai berbahaya bagi manusia sebesar 1 chest x-ray.

Radiasi dengan siklus 11,7 bulan (1 tahun hijriyah) adalah sebesar 800 MeV particles s-1 ster-1 cm-2.



Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3)



Building Block …
Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama
Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr
Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan
Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahunan (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan

Itulah sebabnya…

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka senang merenungkan hakekat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan Ramadhan.

Secara umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi, banyak yang diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan.
Penataan ayat-ayat Al Quran ke dalam surat-surat seperti yang tersaji saat ini, dilakukan Nabi Muhammad pada malam-malam bulan Ramadhan.

Umat muslim diajak untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan
Lebih utama adalah i’tiqaf di masjid pada 10 malam terakhir, pada malam-malam sebelum dan setelah Lailatul Qadr

Energi ekstra untuk pembelajaran di bulan Ramadhan.
Untuk bisa mengaji malam Ramadhan dibutuhkan energi ekstra
Kenyataannya puasa siang hari bukanlah menyebabkan tubuh kekurangan / kehabisan energi
Justru puasa menghemat energi tubuh 10% karena tidak digunakan untuk mencerna makanan
Energi yang dihemat ini sangat membantu pemahaman pelajaran di malam hari

Three in One di bulan Ramadhan.
Efektif memahami Al Quran di malam hari
Detoksifikasi dan Manajemen Energi di siang hari
Kembali fitrah setelah berpuasa 28 hari berturut-turut

Manfaatkan malam-malam Ramadhan.
Untuk dapat dengan mudah memahami makna kehidupan secara komprehensif dan benar, manfaatkan keenceran otak di kesunyian malam Lailatul Qadr

Untuk mendapat pemahaman lebih luas, malam-malam di sekitar Lailatul Qadr juga oke (10 malam terakhir Ramadhan)

Lebih oke lagi kalau dimulai malam pertama Ramadhan, mumpung siangnya berpuasa
Hasil renungan malam ini harus dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari

Nikmat hidup akan diperoleh jika kita berkontribusi positif kepada kehidupan dunia dengan berserah diri kepadaNya

Nikmat kehidupan akhirat akan diperoleh bila kita mampu selalu menikmati dan mensyukuri kehidupan dunia


Sumber : www.whooila.com

Kisah Non Muslim yang Ingin Terapi Al-Qur’an

Kisah Non Muslim yang Ingin Terapi Al-Qur’an
Hanny Rono


Ada seorang non muslim yang tertarik untuk mencoba “Terapi al-Qur’an“. Sebut saja namanya Michael, setelah sekian lama membuka-buka blog saya, ia pun melontarkan pendapatnya yang belum pernah saya dengar sebelumnya:

“…Dokter banyak menulis seputar kesehatan dan sering pula mengarahkan audience untuk dekat dengan al-Qur’an. Sayangnya saya bukanlah seorang muslim sekalipun saya tidak memungkiri rasa minat saya untuk mencoba terapi penyembuhan dengan kitabnya orang muslim. Mungkinkah hal itu buat kalangan non muslim seperti saya ini?…”

Seakan-akan saya diberi ilham oleh Allah, tiba-tiba saya menjadi teringat suatu ayat:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Q.S. al-Anbiyaa’ 21:107]

Ya benar, saya pun memberitahukan keberadaan ayat tersebut kepadanya dengan lugas mengatakan kepadanya bahwa ISLAM ITU RAHMATAN LIL’ALAMIN, jangankan bagi non muslim, hewan-tumbuhan bahkan kerikil batu pun dapat memperoleh cipratan barokah dari al-Qur’an.

Ketika mendengar hal itu, Michael terkejut dan meminta penjelasan khususnya bagaimana mungkin tumbuhan dan hewan bisa beroleh barokah seperti itu?

Ada sebuah artikel yang berjudul “Menyayangi Hewan: Melatih Sifat Rahmat Bagi Alam Semesta” dan saya pun menganjurkan untuk membacanya lebih lanjut untuk membuktikan bahwa Islam pun sangat concern terhadap kelestarian hewan dan tumbuhan sebagaimana Green Peace atau Go Green yang terkenal itu.

Walaupun hanya mendapat penjelasan singkat, Michael mengutarakan pendapat barunya:

“Kalau hewan saja bisa dapat untung dari al-Qur’an, kenapa tidak bagi saya yang non muslim?!“

Saya lebih meyakinkannya lagi dengan menginformasikan bahwa jangan sangka di dalam al-Qur’an pun seringkali ayat-ayatnya menyebutkan “WAHAI MANUSIA…” atau “WAHAI BANI ADAM…“, jadi al-Qur’an pun tidak hanya ditujukan untuk kalangan muslim tetapi juga bagi kalangan non muslim.

Akhirnya ia pun memaksa saya untuk membimbingnya memulai terapi al-Qur’an ini.
Saya berkata:

“Kalau memang anda sangat berminat terapi dengan al-Qur’an, maka saya ingatkan bahwa al-Qur’an itu tergantung dari yang membacanya! Bila yang membacanya menggunakan teknik yang benar dalam menyelami al-Qur’an, maka saya jiplak jaminan dari Allah, Tuhan saya, pasti al-Qur’an akan memperlihatkan keajaibannya pada anda.“

“Apa yang harus saya lakukan pertama kali?” tanya Michael, saya pun mengatakan kepadanya sebelum membacanya, ia harus mandi dengan sebersih-bersihnya, berpakaian dengan sopan, dan bacalah dengan hati yang tenang dan usahakan di tempat yang sunyi. Bagaimana mungkin barokah itu turun kepadanya sedangkan ia sedang dalam kondisi yang kotor.

“Wah repot juga dok kalau di kantor!” ungkap Michael, saya informasikan juga kepadanya dalam Islam dikenal dengan “Wudhu” dan “Tayamum” sebuah ritual pensucian sebelum melaksanakan sholat. Saya pun mengajarkan teknik wudhu kepadanya seraya sambil mengingatkan akan percuma bersuci tapi ia berpakaian kotor, maka saya sarankan kepadanya untuk berkorban membawa pakaian bersih atau berjuang untuk menjaga pakaian yang dipakainya tetap bersih.

“Setelah anda membersihkan badan dan pakaian, selanjutnya anda jangan langsung membacanya, tapi sebelum itu ada semacam kalimat pembuka kalau diibaratkan seperti kunci pembuka“

Saya pun mengajarkan beberapa ucapan kepadanya: Bismillahirrahmaanirrahiim, lalu setelah itu Syahadatain dan kalimat Ta’udz.

Saat saya memberitahukan ucapan-ucapan pembuka tersebut kepadanya, saya lihat Michael tidak nampak keberatan di raut mukanya, mungkin karena memang ia tidak tahu bahasa arab. Sebenarnya ia pun sempat menanyakan makna kalimat-kalimat tersebut, dan saya pun mengatakan kepadanya:

“Bertahaplah, kelak anda pun akan mengetahuinya, sekarang yang penting anda ikuti saja dulu aturan mainnya karena yang penting bukankah anda ingin dapat efek terapinya?“

“Waduh, apa mungkin saya mampu membaca semuanya?” tanya Michael, saya katakan inilah budaya yang salah interpretasi, janganlah mempersempit pengertian membaca (Iqra) hanya sekadar melihat dengan mata lalu dilafalkan dengan mulut! Membaca dalam Islam adalah “gunakan inderamu, pahami maknanya, amalkan apa yang diserunya, sebarkan kepada yang lain, lalu pertahankanlah kesinambungannya“.

“Apa akan terasa kenyang bila anda hanya mencium harum ranumnya buah apel tanpa tergiur untuk memakannya hingga habis?!” Jadi, sebagai tahap awal saya menyarankan dia untuk bertahap-tahap membacanya hingga kelar (khatam). Setelah itu pilihlah ayat-ayat mana saja yang disukainya dan ulangi membaca ayat-ayat tersebut karena itulah yang menjadi kunci bagi penyembuhannya.

Mungkin karena ia masih pemula yang masih hijau, ia pun memutuskan untuk menjiplak ayat-ayat yang saya sukai. Saya katakan kepadanya:

“Saya beritahu sesuatu berdasarkan pengalaman saya…

Bayangkan oleh anda sebuah gelas berisi air, lalu celupkan sebuah jarum ke dalam gelas itu, nah tetesan air yang menempel pada jarum itu adalah barokah atau ilmu hikmah yang akan didapatkan oleh yang membaca al-Qur’an. Dan tahukah anda darimana asalnya air itu? yang air itu diambil dari lautan samudra.

Sekalipun saya dan anda memakai jarum yang sama dan masih dalam gelas air yang sama, tetapi tetesan yang saya dapat akan berbeda dengan yang anda dapat. Bisa jadi saya mendapat barokah dari ayat tertentu sedangkan anda justru mendapatkannya dari ayat yang lainnya.

Oleh karena itu, janganlah tergesa-gesa, membaca al-Qur’an itu butuh seni yang tinggi yaitu anda harus sabar dan konsisten. Saya tidak dapat memutuskan ayat mana yang cocok bagi anda karena itu adalah urusan anda dengan Sang Pemilik Kitab itu.“

Secara bertahap saya anjurkan dia untuk membiasakan diri membaca Basmalah dan Syahadatain setiap kali dia punya waktu luang hal ini dalam rangka untuk mengarahkan dia mulai mengaplikasikan terapi al-Qur’an lebih luas lagi.

Itulah sepenggal pengalaman unik dengan Michael, mudah-mudahan ia mendapatkan apa yang dicarinya dari al-Qur’an itu. Bagi saya sekalipun sudah lama tidak mendapat kabar lagi darinya, tapi saya sangat yakin Allah S.W.T. jua yang akan menangani apa yang menjadi keterbatasan saya dalam membantunya.

Andaikan saya masih diberi waktu untuk hidup lebih lama lagi oleh Allah, saya sangat berkeinginan untuk mengajarkannya terapi dzikrullah kepadanya seperti kalimat-kalimat:

  • Tahlil (La ilaha illallah)
  • Tasbih (Subhanallah)
  • dan Tahmid (Alhamdulillah)

Sumber : kesehatan.kompasiana.com


Rabu, 01 September 2010

Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal



Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."
(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:

"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."

Dalam sebuah riwayat berbunyi:

"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun."
(H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:

"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."

Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.
Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud
Wallahu a'lam.

VIDEO MALAIKAT DI ATAS KA'BAH ADALAH REKAYASA

VIDEO MALAIKAT DI ATAS KA'BAH ADALAH REKAYASA

2:46
Tiba2 aku menjadi gerah ketika melihat salah satu stasiun televisi membahas video" malaikat di atas Ka'bah" yg beredar luas di internet.

Orang tuaku, saudara2ku & para sahabatku mungkin tlh menontonnya...dan aku khawatir mereka meyakini video tsb.

Sungguh aku tak ingin keimanan orang2 yang kusayangi berubah ttg "makhluk ghaib" ciptaan Allah ini..

Akhirnya kuputuskan membuat video ini. Semoga ikhtiar ini membawa manfaat utk kita bersama.amiin. Rekan2 dan siapapun saya izinkan mensharenya. OK. Please share this video for Da'wah...!!!



Sumber : Sholat-Tahajud-by-Qiyamul-lail

10 Bersaudara Hafal Al Quran


Siapa yang menyangka bila 10 putra pasangan H Mutammimul Ula (Ustadz Tammim) dan Wirianingsih (Ibu Wiwi), ternyata bisa menjadi penghapal Alquran alias Hafizh. Pada Sabtu (28/8) lalu, keluarga ini mengikuti undangan DPD PKS Jambi.

Kedua pasangan suami istri tersebut mendidik dan membina kepribadian putra-putrinya dengan kebaikan akhlak, perilaku Qurani, anggota keluarga tidak pernah lepas untuk menghapal ayat suci Alquran yang menjadi pegangan hidup bagi seluruh umat muslim.

Keluarga tersebut juga menjadi inspirasi bagi keluarga muslim lainnya untuk dapat meneladani keistimewaannya. Kesepuluh putra mereka, selain berhasil di bidang keagamaan, juga berhasil di bidang akademik dan kemasyarakatan.

Misalnya, putra pertama H Mutamimul ‘Ula, Afzalurahman Assalam. Kini dia semester akhir Teknik Geofisika ITB, hafal Alquran sejak usia 13 tahun, dan Juara I MTQ putra pelajar SMU se-Solo. Selain itu, dia juga menjabat sebagai Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.

Hal itu membuktikan bahwa prestasi di bidang menghapal Alquran tidak menyurutkan prestasi lainnya di bidang keduniawiaan, terutama dalam bidang pendidikannya yang terus menanjak.

Selain dari seorang putranya itu, sembilan saudara lainnya juga memiliki prestasi gemilang, dari prestasi akademik, jabatan di keorganisasian, juara MTQ, dan selalu mendapatkan amanah yang baik di dalam lingkungan. Dari kesepuluh putranya, empat putranya hapal 30 juz, ada yang hapal 29 juz, 15 juz, 13 juz, sembilan juz, dan dua juz bagi dua putranya yang masih duduk di bangku SDIT Mampang Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan menyambut momen Nuzul Quran (turunnya Alquran), DPD PKS Kota Jambi menghadirkan langsung H Mutamimul ‘Ula dan seorang putranya yang kedelapan yaitu Muhammad Syaihul Basyir atau akrab disapa Basyir, Sabtu (28/8) lalu di Aula Museum Negeri Jambi Telanaipura.

Keluarga Mutamimul pun membagikan tip dan menjadi motivator bagi keluarga muslim di Kota Jambi. Antusiasme peserta yang hadir dalam kegiatan cukup tinggi. Itu terlihat dari jumlah kursi yang disediakan seluruhnya terisi, bahkan ada peserta yang rela untuk berdiri demi mendengarkan motivasi dari H Mutamimul ‘Ula tersebut.

Bagaimana kunci kesuksesannya? Meski keduanya sibuk atas pekerjaan yang sebelumnya merupakan politikus dari PKS serta sibuk dalam dunia dakwah (menyebarkan syiar Islam di tengah masyarakat), namun, pasangan suami-istri ini memiliki komitmen terhadap pendidikan anak. Terutama pendidikan agama, akhlak dan kepribadian anak.

Keluarga ini sebagaimana keluarga lainnya yang hidup di tengah arus globalisasi, putra mereka tetap diberi kebebasan menikmati berbagai fasilitas teknologi. “Namun, yang terpenting adanya imun (kekebalan) di dalam diri anak. Sehingga anak dapat tetap terjaga,” ujar Ustad Tamim saat menyampaikan urainnya di hadapan peserta.

Tamim menekankan, banyak beramal ibadah, berdoa, merupakan kunci keberhasilan untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Kedua pasangan ini sangat memperhatikan pentingnya manajemen waktu, konsisten (istiqamah), dan terus mengontrol perkembangan putra mereka dalam keluarga yang terus membina hubungan baik.

Bahkan, mengenai pengecekan hasil belajar putra mereka, kedua pasangan ini lebih mengutamakan untuk mengecek hapalan Alquran putra mereka, dan selanjutnya barulah menanyakan mengenai tugas sekolah atau kuliah. “Karena bila hapalan telah baik. Maka, yang lainnya akan ikut sendiri,” ujar Ustad Tamim yang sangat rendah hati dan tak pernah ingin berbangga diri itu.

Putra kedelapan Ustad Tamim yang baru kelas III SMP, Basyir mengutarakan, dia tidak begitu tertarik dengan permainan yang membuatnya lalai. Alquran aktivitas kebaikan lainnya, lebih menarik hatinya ketimbang harus menghabiskan waktu dengan permainan anak-anak yang marak akhir-akhir ini.

Saat dikonfirmasi kepada ketua pelaksana yang juga Ketua DPD PKS Kota Jambi Syafruddin Dwi Aprianto, dihadirkannya seorang inspirator generasi Qurani itu, bertepatan dengan momen Nuzul Quran pada Ramadan kali ini. “Selain itu, untuk memotivasi keluarga muslim agar dapat meneladani Ustad Tamim dan istri yang dapat mendidik 10 putranya menjadi bintang Alquran,” katanya.(dwy/ji)

Sumber : Oleh: Tim dakwatuna.com

Halaman Ke