Jumat, 05 November 2010

Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam (1)


Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam (1)
Lauren Booth
Lauren Booth Lauren bersama koleganya dari Partai Buruh Lauren Booth bersama sang ayah Lauren Booth
LONDON--Belum sebulan menjadi mualaf, ipar mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, Lauren Booth, kembali menjadi bahan berita. Kali ini ia disebut menganut Islam syiah garis keras. Tudingan itu, dilatari perjalanannya ke Iran yang mengantarkannya menjadi Muslim.


Publikasi lain menyebut, ia menjadi Muslim hanya demi mencari popularitas. "Ia ingin diperhatikan," demikian sebagian orang mengomentari.

Alih-alih menanggapi semua tudingan, ia malah membuat surat terbuka tentang rasa syukurnya menjadi seorang Muslim. Suratnya itu dimuat di harian Daily Mail edisi awal pekan ini. Berikut ini petikannya:


Ditanya mengenai penjelasan singkat tentang bagaimana saya -- seorang jurnalis, orang tua tunggal yang juga wanita karier, bekerja di media Barat -- memilih agama ini, saya selalu menjelaskan tentang pengalaman spiritual paling intens di sebuah masjid di Iran sebulan lalu.

Tetapi, hal ini membawa saya menengok ke belakang, pada Januari 2005, ketika saya datang seorang diri ke Tepi Barat untuk meliput pemilu di sana yang nantinya diterbitkan di The Mail edisi Minggu. Asal Anda tahu, sebelum pergi ke sana, saya belum pernah menghabiskan waktu dengan seseorang berdarah Arab, atau seseorang beragama Islam.

Seluruh pengalaman mungkin akan sangat mengejutkan, namun bukan untuk alasan yang mungkin saya harapkan. Sangat banyak informasi yang kita tahu tentang orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad, walau belakangan saya sadari banyak yang bias.

Intinya, saya tetap terbang ke Timur Tengah, dengan beragam pikiran berkecamuk di kepala saya: ekstremis radikal, kaum fanatik, kawin paksa, bom bunuh diri, dan jihad. Tak banyak brosur perjalanan yang saya bawa.

Pertama menginjakkan kaki, saya datang tanpa mantel, karena otoritas bandara Israel menahan kopor saya. Saat berjalan di Ramallah, saya menggigil, sebelum kemudian seorang wanita tua mencengkeram tangan saya.

Berbicara tak jelas dalam bahasa Arab yang cepat, ia membawa saya masuk ke dalam rumah di sisi jalan. Oh, apakah saya tengah diculik oleh seorang teroris? Saya masih bingung dan bertanya-tanya, ketika ia membuka lemari pakaian dan menarik sebuah mantel, topi, dan scarf.

Saya keluar dari rumah itu dengan mengenakan mantel, topi, dan scaft pemberiannya. Ciuman wanita tua itu mengantarkan kehangatan pada perjalanan saya. Kami tak saling bertukar kata.

Kejadian itu sangat sulit saya lupakan. Dalam wujud yang berbeda, kehangatan yang sama saya dapatkan ratusan kali. Hal yang sungguh tak saya dapatkan dalam apapun yang telah saya baca sebelumnya, atau terlihat di artikel manapun.

Sejak itu, saya setidaknya beberapa kali pergi ke sana selama tiga tahun. Pertama kali saya pergi untuk urusan kerjaan, maka kali lain saya pergi untuk alasan yang berbeda: bergabung dengan relawan pembawa bantuan dan grup pro-Palestina. Saya merasa tertantang oleh kesulitan yang dialami Palestina. Penting untuk diingat, ada umat Kristen di Tanah Suci ini yang telah tinggal selama 2.000 tahun dan bahwa mereka juga menderita di bawah pendudukan ilegal Israel.

Secara bertahap saya menemukan ekspresi seperti 'Masya Allah!' dan 'Alhamdullilah!' (mirip dengan 'Haleluya'), dan itu mulai masuk dalam percakapan sehari-hari saya. Ini adalah seruan gembira yang berasal dari 100 nama Tuhan (maksudnya mungkin 99, red), atau Allah.

Dari semula saya selalu gugup bila berada di dekat kelompok Muslim, kini saya malah mencoba untuk mendekati mereka. Sebuah tantangan bisa ada di dekat kaum terpelajar, yang lebih di atas semua itu, adalah sangat ramah dan murah hati.

Sejak itu, saya tak ragu lagi untuk memulai perubahan pemahaman politik, bahwa sesungguhnya warga Palestina adalah sebuah keluarga yang hangat ketimbang tersangka teror, dan kaum Muslim adalah sebuah komunitas ketimbang serangkaian "Collateral Damage".

(OK, saya hentikan di sini dulu, karena saya harus shalat selama 10 menit. Sekarang pukul 01.30 PM. Ada lima kali waktu berdoa dalam Islam tiap hari, sepanjang tahun sejak terbit matahari hingga malam hari). Bersambung

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: republika.co.id

Kamis, 04 November 2010

Delapan Kunci “Menjaga” Anak


Hidayatullah.com--Anak merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena amanah, maka kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban kepada kita atas amanah tersebut.

Jika anak-anak tumbuh menjadi shalih dan shalihah, tentu akan membawa keuntungan dunia dan akhirat bagi orangtuanya. Sebaliknya, jika orangtua lalai dalam mengajar dan mendidik, keberadaannya akan membawa bencana dunia dan akhirat.

Bukan satu dua kali kita dikejutkan dengan pemberitaan akibat ulah anak-anak kita. Seorang siswa yang sopan, tiba-tiba bisa bunuh diri. Seorang mahasiswa yang ketika di rumah kalem, tiba-tiba bisa menjadi perampok bahkan memperkosa atau membunuh teman dekatnya. Yang tak kalah mengejutkan, berita terbaru dari Jawa Timur, seorang gadis belia, sudah mampu menjadi bos mucikari dan agen pelacuran. Sungguh mengagetkan.

Ada apa yang salah dengan kita, para orangtua? Bukankah kita semua ini, adalah para sarjana dan orang-orang terdidik?

Akidah yang Benar


Sesungguhnya, agama kita (Islam) telah menetapkan banyak hal, termasuk masalah pendidikan pada anak. Ini hal yang sangat penting. Jika anak-anak memiliki akidah yang benar, maka itu lahan subur bagi tumbuhnya kebaikan-kebaikan. Tidak ada kebaikan pada diri anak yang akidahnya melenceng.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak, aku akan ajarkan padamu beberapa kalimat: Jagalah Allah pasti engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa menolongmu dengan sesuatu kecuali atas hal yang telah Allah takdirkan. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat berkumpul untuk mencelakaimu, mereka tidak bisa mencelakaimu dengan sesuatu kecuali atas yang telah Allah takdirkan, pena-pena telah diangkat dan catatan-catatan telah kering.” (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)

Memohon Pahala


Rasulullah bersabda, “Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka baginya adalah pahala sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Mas’ud)

Diingatkan Shalat

Shalat merupakan kewajiban paling utama seorang hamba terhadap Allah. Rasulullah menegaskan, “Perintahkan anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)

Menuntun Berakhlak Baik dan Memperbaiki Kesalahan

Umar bin Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu saat masih kecil dalam asuhan Rasulullah, tangannya ke sana ke mari di atas makanan. Dia bersabda, “Wahai anak, bacalah ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat darimu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah)

Memisahkan Tempat Tidur

Memasuki usia sepuluh tahun, pisahkanlah tempat tidurnya. Anak-anak pada usia ini sudah terhitung dewasa dan mendekati masa baligh (puber), gairahnya mulai muncul. Maka memisahkan tidur mereka akan mencegah petaka yang tidak diinginkan. Rasulullah bersabda, “…pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Baihaqi, dan lain-lain)

Berlaku Adil

Tidak bijak bila membeda-bedakan anak dalam berinteraksi dan menafkahi. Perlakuan pilih kasih kerap membawa permusuhan di antara saudara. Hal itu merupakan bentuk kezhaliman terhadap anak.

Rasulullah bersabda, ”Aku tidak akan bersaksi atas suatu kejahatan, takutlah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir)

Lemah Lembut, Bermain, dan Mencium

Rasulullah tidak segan mengajak anak-anak untuk bermain, berlaku lemah lembut, serta mendekati dan mencium mereka. Simaklah bagaimana cara Rasulullah memanggil mereka, “Wahai anakku.”

Tegas Saat Diperlukan

Anak yang tidak pernah mendapat hukuman (saat diperlukan) akan mempunyai tabiat yang kurang bagus. Hendaklah orangtua bisa menunjukkan kepada anak-anak dan keluarganya bahwa dia adalah orang yang tegas dan keras saat kondisi mengharuskan itu.

Rasulullah pernah bersabda, “…pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) saat usia sepuluh tahun.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Juga, “Gantunglah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluargamu, karena hal itu akan menjadi sebuah pelajaran.” (Riwayat Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad)

Selain yang terurai di atas, hendaknya para orangtua tampil menjadi teladan bagi buah hatinya, lalu mengajari ilmu yang membawa kemanfaatan dunia dan akhirat, serta tidak mendoakan yang buruk kepada mereka (anak-anak). [Ali Athwa, berbagai sumber/hidayatullah.com]

Pertama Kali Ikut, Australia Buat Kejutan

Hidayatullah.com -- Baru kali pertama ikut, wakil dari Australia tampil membanggakan pada Musabaqah Hafalan al-Quran & Hadits Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz Alu Su'ud Tingkat Asia Pasifik tahun 2010 di Indonesia ini.

Salah satu peserta dari Negeri Kanguru, Heitham Sabri, berhasil merebut posisi Terbaik III pada kategori Hafalan Al-Qur'an 15 Juz dengan nilai 168. Padahal sejak acara MHQH pertama kali digelar pada tahun 2008 lalu, Australia belum pernah mengirimkan perwakilannya. Barulah pada momen ini Australia mampu mengirimkan pesertanya.

"Ini capaian yang membanggakan. Ini surprise," kata Koordinator Sekretariat MHQH Asia Pasifik Ghuniam Ihsan, di Jakarta, Senin (04/10).

Bahkan, lanjut Ghunaim, meski kali pertama ikut serta, tapi Australia langsung sekaligus dapat mengikusertakan peserta pada kategori Hafalan Hadits. Padahal selama ini, negara-negara yang dikenal sebagai juara bertahan dan diunggulkan seperti Malaysia dan Indonesia, sangat jarang menyertakan pesertanya pada kategori Hafalan Hadits.

Keikutsertaan peserta MHQH dari Australia, kata Ghunaim, tidak lepas dari dukungan Kedutaan Besar Australia yang ada di Indonesia dan Kantor Dakwah Kerajaan Saudi di Australia.

"Peserta dari Australia direkomendasikan langsung oleh Kedutaan Besar Australia dan Kantor Dakwah Kerajaan Saudi di Australia," jelas Ghunaim.

Pada MHQH Asia Pasifik tahun ini, merupakan perhelatan yang kali ketiga yang paling tinggi peminatnya. Disebutkan Ghunaim, ada sebanyak 103 peserta yang ikut. Sedangkan peserta paling banyak berasal dari Thailand, 23 orang peserta beserta official.

Penutupan sekaligus pemberian hadiah dilakukan oleh Presiden RI H Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Beberapa tamu kehormatan yang hadir pada penutupan tersebut di antaranya adalah Imam dan Khotib Masjidil Haram Syaikh Su'ud asy-Syuraim, Ketua WAMY sekaligus Menteri Urusan Islam dan Wakaf Arab Saudi Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Alu Syaikh.

Akan hadir pula Ketua Mahkamah Agung Arab Saudi Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah al Humaid yang juga utusan khusus Pangeran Sultan, dan Ketua Majelis Ulama Saudi Syaikh Abdullah bin Sulaiman Al-Mani'. Sedangkan Imam Besar Masjid Madinah Syaikh Sa'ad Al Ghomidi yang sebelumnya dijadwalkan hadir, berhalangan hadir.

Kategori lomba meliputi Hafalan Alquran 30 juz, 20 juz, 15 juz, dan 10 juz, serta hafalan hadis. Pemenang mendapatkan hadiah 1.000 dolar AS belum termasuk umroh sebagai tamu kerajaan. Sementara peserta yang belum berhasil akan membawa pulang uang saku sebesar 100 dolar AS. Selain itu, uang tiket pulang-pergi para peserta juga ditanggung penyelenggara. [ain/hidayatullah.com]

Foto: Peserta MHQH asal Tajikistan

"Trauma" Gina Ikut Militer Amerika


Gejala PSTD pada anjing sama seperti yang dialami tentara AS usai pulang dari medan perang, inilah yang dialami Gina

Hidayatullah.com—"Kalau anjing bisa ngomong, mungkin dia tak akan bohong" bahwa perang yang dilakoni pasukan Amerika di luar negeri memang sangat berat. Tak heran banyak tentara Paman Sam yang menderita post-traumatic stress disorder (PSTD), termasuk prajurit anjing meski hanya bisa teriak "guk-guk."

Gina adalah seekor anjing gembala Jerman berusia 2 tahun yang riang, ketika untuk pertama kalinya dikirim ke Iraq sebagai seekor anjing militer yang sangat terlatih dalam mengendus bom dari pintu ke pintu. Menyaksikan segala macam ledakan bersuara keras merupakan bagian tak terpisahkan dari tugasnya.

Sekembalinya dari tugas di medan tempur, anjing betina asal Colorado ini menjadi sering berdiam jongkok sambil ketakutan. Ketika pengasuhnya mengajak masuk ke sebuah gedung, maka dia akan mengendus-endus kakinya dan menolak. Kalaupun akhirnya bisa dibawa masuk ke dalam, maka dia akan menyembunyikan ekor di bawah badannya, lalu membenamkan diri di lantai. Biasanya dia akan bersembunyi di bawah furnitur atau di pojok ruangan guna menghindari orang di sekitarnya.

Seorang dokter hewan militer mendiagnosa Gina menderita post-traumatic stress disorder--sebuah kondisi yang menurut banyak pakar juga bisa terjadi pada anjing, sebagaimana yang dialami manusia.

"Dia menunjukkan semua gejalanya dan dia memiliki semua tandanya," ujar Eric Haynes, seorang sersan kepala yang bertugas sebagai kepala kandang di Pangkalan Udara Peterson.

"Dia takut pada semua orang, dan jelas sekali ada sebuah kondisi yang menyebabkannya berlaku seperti itu."

Setahun kemudian, Gina mulai menjalani perawatan. Jalan-jalan rutin, bertemu dengan orang-orang yang ramah dan kembali diperkenalkan dengan kehidupan militer yang sibuk, perlahan memulihkan kondisinya.

Haynes menyebut kemajuan yang ditunjukkan Gina "luar biasa."

"Cukup menakjubkan, sebenarnya," tambah Mellinda Miller, sersan wanita yang menjadi rekan kerja Gina sejak bulan Mei 2010.

"Dia membuat saya kelihatan cukup baik," puji Miller atas rekan anjingnya.

Para prajurit AS baik pria maupun wanita yang mengalami PSTD sepulang dari Iraq atau Afghanistan terdokumentasi dengan baik, namun PSTD di kalangan prajurit anjing tidak ada catatan yang jelas. Sebagian dokter hewan mengatakan binatang juga mengalami hal itu, atau yang semacamnya.

"Ada kondisi pada anjing yang hampir mirip, jika tidak benar-benar mirip, dengan PSTD pada manusia," kata Nicholas Dodman, kepala program perilaku hewan di Tufts University’s Cummings School of Veterinary Medicine.

Namun sebagian dokter hewan enggan memakai istilah PSTD untuk hewan, karena dianggap merendahkan para prajurit pria dan wanita.

Meskipun demikian kata Dodman dia tidak bermaksud merendahkan para prajurit dari kalangan manusia, ketika menggunakan istilah tersebut pada anjing.

Pihak militer mendefinisikan PSTD sebagai sebuah kondisi yang muncul akibat trauma atas kejadian yang mengancam hidup. Para penderitanya mengalami tiga macam keadaaan, sekalipun ketika berada di tempat aman. Mereka sering terbayang kembali peristiwa menakutkan yang pernah dialaminya itu, baik dalam mimpi maupun kenangan yang terlihat nyata. Mereka cenderung menghindari situasi atau perasaan yang akan mengingatkannya pada kejadian tersebut . Dan mereka merasa tegang sepanjang waktu.

Ketika Gina kembali ke Peterson tahun lalu, setelah bertugas di Iraq selama 6 bulan, dia bukan lagi "anak anjing yang menakjubkan," kenang Haynes.

Gina ditugaskan di angkatan darat, pekerjaannya mencari bahan peledak setelah para prajurit memasuki sebuah rumah. Tentara kadang menggunakan granat pijar yang bising dan menendang pintu hingga roboh. Haynes menceritakan, Gina sedang melakukan konvoi ketika sebuah kendaraan militer dihantam bom rakitan.

Sekembalinya ke Peterson, Gina tidak mau bertemu dengan orang-orang.

"Dia menarik diri sama sekali dari masyarakat," ujar Haynes.

Haynes, yang telah menangani lebih dari 100 anjing dan berpengalaman 12 tahun sebagai kepala kandang mengatakan bahwa ada anjing-anjing lain yang juga mengalami trauma. Tapi mereka tidak separah Gina.

Haynes dan pendamping hewan lain membujuk Gina sambil berjalan-jalan, mereka meminta orang untuk berpura-pura berpapasan dengannya lalu memberikan belaian kapada Gina. Untuk menghilangkan rasa takut ketika melewati pintu, mereka menempatkan seseorang yang dikenal Gina di depannya dan akan memberikan belaian serta mengajak anjing itu bermain.

Teknik yang sama dipakai oleh pengasuh anjing militer ketika menyembuhkan trauma pada ayah Gina.

"Dia mulai belajar bahwa semua orang tidak sedang berusaha mengejarnya," jelas Haynes. "Dia mulai bergaul lagi."

Di suatu petang akhir Juli silam, Gina berlari kencang menyeberangi lapangan tempatnya berlatih. Dia melompati berbagai rintangan menuruti komando dan dengan terampil mendorong sebuah bola menggunakan kaki depan dan dadanya. Ketika berkunjung ke sebuah toko di pangkalan militer, dengan tenang dia berjalan di antara susunan rak dan duduk manis saat seorang wanita membungkuk untuk memberinya makanan.

"Dia anjing yang menggemaskan," ujar Miller, sambil menceritakan bagaimana anjing seberat 61 pon itu berbaring di pangkuannya. "Saya bisa mendekapnya sepert bayi."

Namun menurut Haynes, mereka tidak membiarkan perasaan mereka larut. Memperlakukan Gina seperti manusia--misalnya dengan menghiburnya ketika dia takut--bisa membuat anjing itu berpikir bahwa pendampingnya senang ketika dia takut.

Gina kini telah kembali menunaikan tugas, mengendus kendaraan yang masuk untuk mencari bahan peledak di Peterson maupun di fasilitas militer lain di sekitarnya. Bahkan mungkin dia sudah siap untuk diterjunkan kembali dalam operasi berbahaya seperti yang pernah dilakukannya di Iraq.

Tapi menurut Haynes, setidaknya hal itu tidak akan dilakukan hingga satu tahun ke depan.

"Kami tidak berencana untuk melakukannya dalam waktu dekat, karena jelas kami tidak ingin mengacaukan semua yang telah kami perbaiki," katanya.
Sementara Dodman ragu bahwa Gina bisa pulih seperti sediakala.

"Faktanya adalah bahwa rasa takut sekali dialami maka tidak akan pernah dilupakan," ujar Dodman. "Hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah memberikan pengalaman baru, seperti yang dilakukan pendamping Gina," tambahnya.

Haynes memahami masalah itu, dan meskipun dia berharap Gina pulih 100%, dia tidak tahu apakah anjing itu bisa.

"Adakalanya seseorang takut terhadap semua hal, dan jelas hal itu sulit untuk dipulihkan," kata Haynes.

"Tapi yang saya maksudkan adalah, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak boleh menyerah. (Bagaimanapun) dia adalah rekan kerjamu," tandas Haynes. Gina saja stres ikut militer Amerika!. [di/ap/hidayatullah.com]

Foto: Gina si Anjing Stress (AP)

Menjadi Muslim di Kansas


Tidak mudah hidup menjadi minoritas, tapi Muslim di Kansas tetap semangat mengajak orang untuk memahami Islam

Hidayatullah.com --Ketika Mohammad Awad-Eljied bermigrasi ke Amerika Serikat dia sadar bahwa dirinya akan menghadapai tantangan-tantangan tertentu.

"Saya mengimpikan pergi ke negeri ini sejak usia 12 tahun," katanya. "Ketika umur 22, saya datang ke negeri ini."

Ketika pertama kali tiba dari Sudan, dia tinggal di New York dan mencari nafkah dengan cara bekerja di McDonald's. Dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Kansas setelah seorang kawan mengatakan hal itu akan lebih baik baginya.

Mohammad melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Wichita. Dia lalu bekerja menjadi teller bank dan akhirnya sekarang menjadi salah satu konsultan keuangan terkemuka di Edward Jones. Menurutnya, sukses yang dia raih adalah karena dia memiliki tekad yang kuat.

"Saya menolak untuk gagal."

Lahir dan dibesarkan sebagai seorang Muslim, Mohammad berpendapat bahwa kelompok teroris dan ekstrimis tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Islam.

"Saya merasa orang-orang itu membajak Islam. Saya tidak menganggap mereka yang menyerang kita pada 11 September sebagai Muslim. Saya menganggap mereka teroris dan penjahat."

Tapi di Amerika sekarang ini, banyak orang mempertanyakan pendapat seperti yang dinyatakannya itu, meskipun serupa dengan apa yang disampaikan para tokoh Muslim di Wichita.

"Kami menggunakan hak-hak kami, kami bayar pajak, kami berusaha mematuhi hukum dan menjadi warga yang baik," papar Hussam Madi, seorang imam di Pusat Islam Wichita. Dia ingin mengajak orang datang ke pusat Islam supaya bisa belajar lebih banyak, sehingga non-Muslim tidak salah paham.

"Jika Anda tidak pergi ke tempat dan mendengar dari sumbernya, bukan dari orang yang ingin mengacaukannya, melainkan dari sumbernya langsung, seperti pusat-pusat Islam semacam ini, maka Anda akan tahu apakah (Islam) itu misterius atau tidak."

Diperkirakan ada sekitar 8.000 orang Muslim yang sekarang menetap di Kansas dan mungkin mendatangani pusat Islam tersebut. Di dalamnya ada masjid dan Sekolah An-Nur yang memiliki kelas mulai pra-taman kanak-kanak hingga kelas 8.

"Biaya pendidikan kami USD 259," kata Stephanie Musleh yang mengajar kelas 2 di An-Nur. Sekolah juga memberikan pelajaran bahasa Arab dan Al-Qur`an.

Stephanie masuk Islam 22 tahun lalu, dia dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen di Wichita.

"Saya masuk Islam sekitar 4 tahun setelah menikah dengan suami saya yang Muslim."

"Saya mendapati, semakin banyak saya membaca tentang Islam, semakin cocok dengan apa yang saya yakini."

Katanya, sebelum peristiwa 9/11 dia belum pernah mendapati pengalaman seputar Islamofobia, atau dicurigai karena dia seorang Muslim.

Namun setelah itu, "Orang mengatakan hal-hal buruk kepada saya, orang menuding dan menatap (sinis)."

Ketika putrinya naik kelas 5, dia berpikir untuk menanggalkan jilbabnya, karena khawatir dengan keselamatan putrinya.

"Saya katakan padanya, jika kamu ingin saya melepasnya maka akan saya lepas. (Tapi) dia bilang 'tidak bu, tidak apa-apa. Saya tidak takut'."

Stephanie mengatakan, kerudung adalah hal pertama yang orang perhatikan ketika dia berada di tempat umum.

"Saya merasa semakin banyak yang menatapi."

Baginya dan Muslim lain, sangatlah membuat frustasi karena banyak orang mengaitkan Islam secara keseluruhan dengan terorisme.

"Ya, itu membuat saya frustasi. Saya harap in akan berubah. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan keluar dan bicara pada orang-orang."

"Islam tidak berwarna dan tidak memiliki ras," kata Awad-Eljied. "Di seluruh ras, Anda akan mendapati seorang Muslim."

Sekarang ada sekitar 1,3 milyar Muslim di seluruh dunia, sehingga menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua. Di Kansas dia menjadi minoritas. Meskipun demikian, kata mereka yang tinggal di sana, Kansas menerima mereka.

"Kota Wichita sangat baik dan penuh pengertian," ujar Hussam Madi.

Dia mengundang siapa saja yang ingin datang ke pusat Islam untuk mengetahui Islam lebih banyak. Semua orang akan disambut dan mereka akan menjawab pertanyaan apapun dengan jawaban yang mereka punya.[di/ewn/ hidayatullah.com]
Keterangan Foto:
1. Seorang pelajar Kansas, zigha Tufail shalat . Para siswa Muslim berdoa lima kali sehari dan sering merasa disalahpahami oleh siswa lain. [ljworld.com]

2. Wajah Tufail tersenyum saat mendengarkan pelajaran agama. Dalam beberapa kasus, katanya, mengenakan pakaian Islam telah membawa dia menjadi ejekan teman-temannya [Ljworld.com]

Rabu, 03 November 2010

KELEMBUTAN ALLAH DALAM MUSIBAH


KELEMBUTAN ALLAH DALAM MUSIBAH

Gempa Bumi, Gunung Meletus, Banjir, Wabah Penyakit, Hama, Angin Taufan, Matahari, Bulan, kesemuanya merupakan tentara Rabbul Alamiin yang bergerak dan bertugas dengan Kehendak Nya dan Perintah Nya. Maka Dia Yang Maha Agung dalam Kekuasaan Nya yang Tunggal dan Abadi telah berfirman kepada Pemimpin para Duta Nya, Sayyidina Muhammad saw : "Sungguh Kuutus Engkau Sebagai Pembawa Rahmat Bagi Seluruh Alam". (QS Al Anbiya : 107).

Maka sebagaimana disebutkan pada Tafsir Imam Attabari Juz 17 hal. 106, bahwa Rasul saw adalah Rahmat Allah (Kasih Sayang Allah) untuk seluruh manusia, muslim dan kafir, Rahmat Nya pada orang kafir adalah dengan tertundanya siksa mereka di muka bumi, tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang mana saat mereka kafir pada Nabi Nya maka Allah segera menumpahkan musibah pada mereka, namun untuk ummat ini walaupun mereka Kufur dan kufur, Allah tetap tidak segera menjatuhkan siksa.

Maka fahamlah kita bahwa Bumi ini sejak Kebangkitan Rasul saw hingga akhir zaman, dalam naungan Rahmat Nya swt, yaitu Muhammad saw. Alangkah luhurnya nabi yang satu ini, hingga muslim dan kafir di masa beliau hingga akhir zaman tetap terjaga dari siksa kekufuran (Tafsir Imam Qurtubi Juz 4 hal 63).

Bila kita menjenguk sedikit pada ayat yang lain Allah swt berfirman: "Hampir Saja Seluruh Langit Itu Pecah, Bumi Terbelah dan Gunung-Gunung Itu Hancur, Ketika Mereka Mengatakan Allah Mempunyai Putra". (QS Maryam 90-91), Allah menahan alam ini hancur padahal seluruh alam ini murka terhadap manusia yang menghina Rabbul Alamin, sebagaimana kita murka bila orang yang kita cintai dihina, atau ayah atau guru yang kita muliakan dihina, demikian pula alam, namun Allah menahannya karena masa ini adalah Masa Muhammad saw,

Nah.. Rahmatan Lil alamin ini adalah Penangkal Musibah bagi alam, dan ternyata bukan hanya itu, namun para ummat beliau saw pun mewarisi Rahmat itu, yaitu mereka yang beriman kepada beliau saw, Allah jadikan mereka itu penangkal musibah bagi kaumnya, sebagaimana firman Allah swt : "Dan Ketika Mereka (orang-orang kafir) Berkata: Wahai Allah, Bila Ini (Muhammad saw) Merupakan Kebenaran Dari Sisi Mu, Maka Turunkan Pada Kami Hujan Batu Atau Datangkan Pada Kami Siksaan Yang Pedih, dan Tiadalah Allah Akan Menyiksa Mereka Selama Engkau (Wahai Muhammad saw) Berada Diantara Mereka, dan Tiadalah Allah Akan Menyiksa Mereka Selama Ada Diantara Mereka (ada diantara muslimin diantara mereka) Yang Beristigfar" (QS Al Anfal 33).

Nah..jelaslah bahwa orang-orang yang beristighfar menahan siksa/ azab pula bagi kaumnya yang kufur, bahkan ayat lainnya : "Kalau Bukan Karena Lelaki-Lelaki Mukmin dan Wanita-Wanita Mukminat, Yang Kalian Tidak Mengetahui dan Hampir Kalian Membunuhnya, Maka Kalian Akan Mendapat Kesulitan Bila Mencelakai Mereka, dan Agar Allah Mengumpulkan Siapa Yang Dikehendaki Nya Dalam Kasih Sayang Nya, Dan Bila Mereka Itu Pergi, Maka Niscaya Kami Tumpahkan Siksaan Pada Orang Yang Kafir Diantara Mereka Dengan Siksaan Yang Pedih" (QS Al Fath 25) dan kini Allah menjelaskan bahwa orang-orang mukmin membuat kesejahteraan pada kaumnya, walaupun mereka kufur dan jahat, namun keberadaan orang-orang mukmin diantara mereka membuat Allah menahan siksa Nya.

Bahkan Rasul saw bersabda : "Tidaklah akan datang hari kiamat selama masih ada yang mengucapkan Allah.., Allah..". (Shahih Muslim hadits no.148) dan sabda Rasul saw : "Tidak terjadi Kiamat diatas seseorang yang berkata Allah, Allah". (Shahih Muslim no.149). Tentunya seorang muslim dari Ummat Muhammad saw, maka fahamlah kita bahwa Dzikir orang-orang muslim menahan datangnya Kiamat, dan kiamat adalah Musibah terbesar sepanjang usia Alam diciptakan, dan apalah artinya musibah banjir, gunung meletus dan lainnya yang tak sedebu dari kejadian Kiamat..,
Ketahuilah makin banyaknya musibah dimuka bumi ini adalah disebabkan semakin berkurangnya orang-orang yang berdzikir, semakin kurangnya orang yang beristighfar, semakin kurangnya orang yang berdoa, bermunajat, dan bertahajjud di malam hari. Lalu kelaparan, gunung meletus, gempa, banjir, dan segala bencana alam ini semakin santer dimuka bumi, maka jawabannya segera kita temukan, karena semakin berkurangnya orang-orang yang berdzikir dan beristighfar kepada Allah swt.

Maka muncullah segala musibah ini, mengapa, dari Rahmat Nya swt tentunya, sebagaimana hadits-hadits dibawah ini, Sabda Rasululllah saw : "Tiadalah musibah menimpa seorang muslim, terkecuali dikurangi dosa darinya, walaupun hanya duri yang menusuknya". (Shahih Muslim hadits no.2572, Shahih Bukhari hadits no.5317), Sabda Rasulullah saw : "Tiadalah seoang mukmin mendapat musibah berupa kesulitan, permasalahan, kesedihan, penyakit, bahkan kegundahan hati yang menyelimuti hatinya, kecuali merupakan penghapusan dosa baginya" (Shahih Muslim hadits no. 2573, Shahih Bukhari hadits no.5318).

Ketika turunnya ayat : "Semua Yang Berbuat Dosa Pasti Akan Dibalas", maka para sahabat tampak kebingungan dan sangat ketakutan, maka Rasul saw memanggil mereka dan berkata : "Kemarilah kalian.., mendekatlah dan duduk berkumpullah padaku.., ketahuilah bahwa semua yang menimpa muslimin adalah penghapusan dosa, bahkan kesusahan dan pula duri yang melukainya" (Shahih Muslim hadits no.2574).

Wahai saudaraku, semakin banyak dosa kita maka telapak tangan penghapus dosa segera menyeka dosa-dosa kita, bila tak kita bersihkan maka akan datang "Tangan Penyeka" yang mengajak kita kembali kepada Nya dalam keadaan suci, "Tangan Penyeka" itu menyeka dosa disertai antibiotik pembersih penyakit di tubuh, bila dosanya kecil maka hanya perlu sedikit diusap maka akan bersih, namun bila kotoran itu sudah berkerak dan menular sekampung pula, bahkan sewilayah, bahkan sedunia, maka alat penyeka itu akan bertebaran dibelahan barat dan timur..,
Wahai Saudaraku bangkitlah, Majelis Rasulullah saw ditegakkan dengan tujuan agung, yaitu memperbanyak orang-orang bertobat dan mengenal Allah, menghidupkan dzikir, mengguncang jakarta dengan dzikir Allah, Allah.., dan menumbuhkan semangat dihati muslimin agar mewarisi semangat Muhammad saw, yang dengan jiwa seperti inilah musibah akan sirna,

Anda lihat di Aceh, bagaimana Pekuburan para shalihin tidak disentuh musibah, bagaimana Air setinggi 30 meter dengan kecepatan rata-rata 300km/jam dengan kekuatan ratusan juta ton itu terbelah di masjid-masjid dan pekuburan orang shalih, ada di masjid itu, ada apa di kubur itu, Singkat saja, ini adalah isyarat Nya kepada seluruh penduduk Bumi bahwa tempat-tempat sujud kepada Ku, dan tempat berdzikir bekas peninggalan hamba-hamba Ku yang shalih tak akan disentuh musibah, demikian pula pusara-pusara mereka yang telah wafat dari Hamba Ku yang shalih pun tak akan disentuh musibah..!"

Dan begitulah.. air bah yang sedemikian dahsyatnya itu tunduk dan menyingkir dari tempat-tempat beribadah mereka, siapa, para ahli dzikir tentunya, hamba-hamba yang sujud dengan khusyu pada Nya, merekalah penangkal musibah, maka kita mesti memperbanyak kelompok masyarakat yang seperti ini.. Kita sering terlalu jauh, tak mungkin kita bisa menjadi penangkal musibah, kita adalah pendosa.., opini semacam ini sering meracuni pemikiran kita.. Ok kita buktikan, bukankah tempat yang paling banyak maksiatnya di seluruh Indonesia adalah jakarta, berarti jakarta lah yang paling berhak ditimpa "Tangan Penyeka", namun mengapa musibah selalu menimpa wilayah luar jakarta, betul di jakarta ada kebanjiran, ada wabah, namun sangat tak seberapa dibanding musibah diluar jakarta, mengapa, Ketahuilah bahwa jakarta inipun kota yang paling banyak majelis taklimnya di seluruh Indonesia, paling banyak majelis Dzikir, majelis maulid dll.

Maka semakin kita meramaikan masjid-masjid dan majelis-majelis, maka kasih sayang Nya terlimpah, sebagaimana Firman Nya dalam hadits Qudsiy : "Sudah Kupastikan Kasih Sayangku Pada Mereka Yang Saling Mengasihani Karena Aku, Saling Berkumpul Karena Aku, Dan Saling Berkorban Karena Aku" (Imam Hakim dalam Mustadrak ala Shahihain hadits no.7314 yang menyebutkan bahwa hadits ini memenuhi syarat shahihain sebagai hadits shahih), demikian pula dengan makna yang sama pada Shahih Ibn Hibban hadits no.575.

Maka sudah selayaknya kita segera bangkit meramaikan masjid-masjid kita, rumah-rumah kita, wilayah kita, dengan dzikrullah dan majelis-majelis dzikir dan Ibadah, inilah yang mesti kita makmurkan, jangan kita terfokus kepada kemajuan dan kemajuan, yang pada dasarnya kemajuan tanpa iman adalah kepastian datangnya musibah, Gempa Bumi, Gunung meletus, taufan dan masih banyak lagi tentara Rabbul Alamin yang akan diutus Nya sebagai alat penyeka..

Wahai Yang Maha Luhur dan selalu memuliakan hamba Nya yang berzikir kepada Nya, muliakanlah setiap pembaca risalah ini dengan pengampunan Mu, penyelesaian dari segala kesulitan dan musibah, pengabulan segala doa dan munajat, dan pula Curahkan kemuliaan Mu dengan kenikmatan dan kebahagiaan Dunia dan Akhirat bagi saudara saudara kami muslimin yang tertimpa musibah di Jogja dan seluruh belahan bumi muslimin, gantikan harta mereka dengan yang lebih indah di dunia dan akhirat, muliakan yang wafat dari mereka dengan mati syahid, dan kumpulkan arwah mereka bersama para syuhada di alam barzakh, amiin amiin..

Dan mudahkanlah perjuangan Majelis Rasulullah saw dan seluruh majelis taklim dan dzikir di muka bumi, selesaikan kesulitan dan hambatan kami, maafkan seluruh dosa pendukung kami, dan curahkan shalawat sebanyak banyaknya dan semulia-mulianya kepada Imam kami dan Idola kami Sayyidina Muhammad saw serta keluarga dan sahabatnya, muliakan pula semua orang orang yang memuliakannya, walhamdulillahi ala dzalik..

sumber : salamizhar.blogspot.com

Subhanallah..! Masjid Tak Tersentuh Tsunami Mentawai, 50 Orang Selamat


Mentawai (voa-islam.com) -Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei.

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.


Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah berkumpul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.

..."Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan,...

Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.

Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfikar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.

Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.


Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. Di luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu.


Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya. (LieM/jpo)

Halaman Ke