Senin, 27 Desember 2010

Kisah Perjalanan Imam Junaid AL Bagdadi

Makalah ini akan berisi cerita-cerita dari perjalanan hidup dan spiritual seorang imam Junaid, penulis menyertakannya agar dapat dijadikan sebagai ‘itibar dalam mengarungi dunia yang pana ini, dengan cerita ini mutiara hikamah dapat dipetik dari sebuah pola hidup orang besar. Adapun cerita-cerita itu sebagai berikut :


1. Junad dengan Seorang Wanita Cantik
Setiap insan yang ingin mencapai keridhaan Allah pastinya akan menerima ujian dan cobaan. Imam Junaid menerima ujian dari beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan citra Imam Junaid.

Musuh-musuhnya telah bekerja keras menghasut khalifah di masa itu agar membenci Imam Junaid. Namun usaha mereka untuk menjatuhkan kemasyhuran Imam Junaid tidak berhasil.

Musuh-musuhnya berusaha berbuat sesuatu yang bisa memalukan Imam Junaid. Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk memikat Imam Junaid. Wanita itu pun mendekati Imam Junaid yang sedang tekun beribadat. Ia mengajak Imam Junaid agar melakukan perbuatan terkutuk.

Namun wanita cantik itu hanya dikecewakan oleh Imam Junaid yang sedikitpun tidak mengangkat kepalanya. Imam Junaid meminta pertolongan dari Allah agar terhindar daripada godaan wanita itu. Beliau tidak suka ibadahnya diganggu oleh siapapun. Beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Tuhan, wanita cantik itu rebah ke bumi dan mati.

Khalifah yang mendapat berita kematian wanita itu akhirnya marah kepada Imam Junaid karena menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang melanggar hukum.

Lalu khalifah memanggil Imam Junaid untuk memberikan penjelasan di atas perbuatannya. “Mengapa engkau telah membunuh wanita ini?” tanya khalifah.“Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Imam Junaid.

Cerita imam Junaid di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa cobaan paling besar dalam kehidupan manusia, apalagi orang besar adalah wanita, karena wanita banyak mengantarkan orang meraih kesuksesan seperti pepata “dibalik kesuksesan besar laki-laki,dibelakangnya ada wanita-wanita perkasa”, akan tetapi tidak dapat pula disangkal bahwa wanita juga banyak menyebabkan orang hancur, terperangkap dalam belenggu setan, kesuksesan Junaid membendung godaan wanita cantik itu, menyebabkan ia menjadi orang yang kian bersinar di zamannya.

2. Junaid dan Iblis
Dikisahkan dari junaid: pada suatu hari Junaid ingin melihat Iblis, Junaid berkata: aku berdiri di pintu masjid dan dari kejahuan terlihatlah olehku seorang tua yang sedang berjalan ke arahku, begitu aku memandangnya, rasa ngerih mencekam perasaanku.

“siapakah engkau ini?”, aku bertanya.

“yang engkau inginkan”, jawabnya.

“wahai makluk yang terkutuk”, aku berseru, “apakah yang menyebabkan engkau tidak mau bersujud pada Adam?”

“bagaimanakah pendapatmu Junaid?”, Iblis menjawab, “jika aku bersujud kepada yang lain daripada-Nya?”

Junaid mengisahkan, betapa ia menjadi bingung karena jawaban Iblis itu. Dan dari dalam lubuk hatiku terdengarlah sebuah seruan, “katakanlah, engkau adalah pendusta, seandainya engaku adalah seorang hamba yang setia niscaya engkau menaati perintah-Nya”.

Ketika Iblis mendengar kata-kata ini, ia meraung nyaring. “demi Allah Junaid, engkau telah membinasakan aku!” dan setelah itu iapun hilang.[11]

Cerita ini dapat dijadikan pelajaran bahwa Iblis selalu membuat manusia terperangkap dalam logika yang menyesatkan dengan argument yang secara rasional sehingga dapat di percaya, sehingga banyak manusia yang menjadi korbannya.

3. Junaid dan Pengemis
Ketika Junaid sedang berkhutbah, salah seorang pendengarnya bangkit dan mulai mengemis. “orang ini cukup sehat”, Junaid berkata dalam hati. “ia dapat mencari nafkah, tetapi mengapa ia mengemis dan menghinakan dirinya seperti ini?”

Malam itu Junaid bermimpi, di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung.

“Makanlah!”, sebuah suara memerintah Junaid. Ketika Junaid mengangkat tudung itu, terlihat olehnya si pengemis terkapar mati di atas piring.

“aku tidak mau memakan daging manusia”, jawab Junaid menolak.

“ tetapi bukanlah yang itu telah engkau lakukan kemarin ketika berada di dalam masjid?”

Junaid segera menyadari bahwa ia bersalah karena telah melakukan fitnah di dalam hatinya dan oleh karena itu ia dihukum.

“Aku tersentak dalam keadaan takut”, Junaid mengisahkan. “aku segera bersuci dan melakukan shalat sunnat dua rakaat.” Setelah itu aku pergi keluar mencari si pengemis.. Kudapatkan ia sedang berada di tepi sungai Tignis. Ia sedang memunguti sisa-sisa makanan sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Si pengemis mengangkat kepala dan terlihat olehnya aku yang sedang menghampirinya. Maka bertanyalah ia kepadaku: “Junaid sudahkah engkau bertaubat karena berprasangka buruk terhadapku?” sudah, jawabku. “jika demikian pergilah dari sini. Dia-lah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya. Dan jagalah pikiranmu”.

4. Junaid Meninggal Dunia
Ketika ajalnya sudah dekat, Junaid menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membentangkan meja dan mempersiapkan makanan.

“Aku ingin menghembuskan nafasku yang terakhir ketika sahabat-sahabatku menyantap seporsi sop”, Junaid berkata.

Kesakitan pertama menyerang dirinya.

“Berilah aku air untuk bersuci”, ia meminta kepada sahabat-sahabatnya.

Tanpa disengaja mereka lupa membersihakan sela-sela jari tangannya. Atas permintaan Junaid sendiri kekhilafan ini mereka perbaiki. Kemudian Junaid bersujud sambil menangis.

“Wahai ketua kami”, murid-muridnya menegurnya,”dengan semua pengabdian dan kepatuhanmu kepada Allah seperti yang engkau telah lakukan, mengapa engakau bersujud saat-saat seperti ini?”

“tidak pernah aku merasa lebih perlu bersujud dari pada saat-saat ini”, jawab Junaid.

Kemudian Junaid membaaca ayat-ayat al-Qur’an tanpa henti-hentinya.

“dan engkau pun membaca al-Qur’an?”, salah seorang muridnya bertanya.

“siapakah yang lebih berhak dari padaku membaca al-Qur’an, karena aku tahu bahwa sebentar lagi catatan kehidupanku akan digulung dan kulihat pengabdian dan kepatuhanku selama tujuh puluh tahun tergantung di angkasa pada sehelai benang. Kemudian angin bertiup dan mengayungkan kesana kemari, hingga aku tak tahu, apakah angin itu akan memisahkan atau akan mempertemukan dengan-Nya. Di sebelahku akan membentang tebing pemisah surga dan neraka, dan disebelah yang lain adalah Malaikat maut. Hakim yang adil akan menantikanku disana, teguh tak tergoyahkan di dalam keadilan yang sempurna. Sebuah jalan telah terbentang di hadapanku dan aku tak tahu dimana akan hendak dibawa”.

Setelah tamat dengan al-Qur’an yang dibacanya, dilanjutkannya pula tujuh puluh ayat dari surah al-Baqarah.

Kesakitan kedua menyarang Junaid.

“sebut nama Allah”, sahabat-sahabatnya membisikkan.

“aku tidak lupa “, jawab Junaid. Tangannya meraih tasbih dan keempat jarinya kaku mencengkram tasbih itu, sehingga salah seorang muridnya harus melepaskannya.

“dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”, Junaid berseru, kemudian menutup matanya dan sampai pulalah ajalnya.

Ketika jenazahnya dimandikan, saalah seorang yang ikut memandikannya bermaksud membasuh matanya. Tetapi seruan dari langit mencegah: “lepaskan tanganmu dari mata sahabatku. Mataku tertutup bersama nama-Ku dan tidak akan dibukakan kembali kecuali ketika dia menghadap-Ku nanti”. Kemudian ia hendak membuka jari-jari Junaid untuk di basuhnya. Sekali lagi terdengar suara mencegah: “jari-jari yang telah kaku bersama nama-Ku tidak akan dibukakan kecuali melalui perintah-Ku”.

Ketika jenazah Junaid di usung, seekor burung dara berbulu putih hinggap di sudut peti matinya. Percuma saja para sahabat mencoba mengusir burung itu, karena ia tidak mau pergi. Akhirnya burung itu berkata :

“janganlah kalian menyusahkan diri kalian sendiri dan menyusahkan aku. Cakar-cakarku telah tertancap di sudut peti mati ini oleh paku cinta. Itulah sebabnya aku hinggap disini. Janganlah kalian bersusah payah. Sejak saat itu jasadnya dirawat oleh para malaikat. Jika bukan karena kegaduhan yanh kalian buat, niscaya jasad Junaid telah terbang ke angkasa sebagai sebagai seekor elang putih bersama-sama dengan kami”..

M. Ali Rusdi

Sumber : sufiroad.blogspot.com

Kamis, 23 Desember 2010

Surat Al Waqiah (1.fadhilah dan do'a) & Video

Surat Al Waqiah (سورة الواقعة) adalah salah satu surat yang penuh dengan fadhilah dan keberkahan. Surah Al-Waqi'ah adalah surah yang ke-56 dalam Al-Quran, terletak pada juz ke 27 dan terdiri dari 96 ayat. Surat yang diturunkan setelah Surah Taahaa ini dinamakan dengan Al-Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al-Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama. Surat ini banyak menceritakan tentang perihal hari kiamat dan bagaimana nanti pembagian umat di hari tersebut. Akan tetapi surat ini banyak memiliki fadhilah terutama dalam hal rezeki.
Berikut beberapa riwayat fadhilah dari surat waqiah
Sabda Rasulullah SAW:
"Surah al-Waqiah adalah surah kekayaan. Hendaklah kamu membacanya dan ajarkanlah ia kepada anak-anak kamu." (Riwayat Ibn Mardawaih daripada Anas: Kasyf al-Khafa').
"Sesiapa yang membaca surah al-Waqiah pada setiap malam ia tidak akan ditimpa kefakiran." (Riwayat daripada Ibn Mas'ud: al-Azkar, al-Jami al-Soghir).
"Ajarkanlah surah Al-Waqi'ah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan." (Hadis riwayat Ibnu Ady)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah pada malam Jum’at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia, tidak melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan, dan penyakit dunia; surat ini adalah bagian dari sahabat Amirul Mukimin (sa) yang bagi beliau memiliki keistimewaan yang tidak tertandingi oleh yang lain.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah surat Al-Waqi’ah; dan barangsiapa yang ingin melihat sifat neraka, maka bacalah surat As-Sajadah.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah sebelum tidur, ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama.” (Tsawabul A’mal, halaman 117).
Ubay bin Ka’b berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan.”

Ibnu Katsir didalam mengawali penafsirannya tentang surat al Waqi’ah mengatakan bahwa Abu Ishaq mengatakan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata : Abu Bakar berkata,”Wahai Rasulullah saw tampak dirimu telah beruban.” Beliau bersabda,”Yang (membuatku) beruban adalah surat Huud, al Waqi’ah, al Mursalat, عما يتساءلون (An Naba’, pen) dan إذا الشمس كورت.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata : ia adalah hasan ghorib.
Beliau mengatakan bahwa Al Hafizh Ibnu ‘Asakir didalam menerjemahkan Abdullah bin Mas’ud dengan sanadnya kepada Amr bin ar Robi’ bin Thariq al Mishriy : as Surriy bin Yahya asy Syaibaniy bercerita kepada kami dari Syuja’ dari Abu Zhobiyah berkata ketika Abdullah (bin Mas’ud) menderita sakit, ia dijenguk oleh Utsman bin ‘Affan dan bertanya,”Apa yang kau rasakan?” Abdullah berkata,”Dosa-dosaku.” Utsman bertanya,”Apa yang engkau inginkan?” Abdullah menjawab,”Rahmat Tuhanku.” Utsman berkata,”Apakah aku datangkan dokter untukmu.” Abdullah menjawab,”Dokter membuatku sakit.” Utsman berkata,”Apakah aku datangkan kepadamu pemberian?” Abdullah menjawab,”Aku tidak membutuhkannya.” Utsman berkata,”(Mungkin) untuk putri-putrimu sepeningalmu.” Abdullah menjawab,”Apakah engkau mengkhawairkan kemiskinan menimpa putri-putriku? Sesungguhnya aku telah memerintahkan putri-putriku membaca surat al Waqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”

Lalu Ibnu ‘Asakir mengatakan : begitulah dia mengatakan. Yang betul : dari Syuja’, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahab dari Surriy. Abdullah bin Wahab berkata bahwa as Surriy bin Yahya telah memberitahuku bahwa Syuja’ telah bercerita kepadanya dari Abi Zhobiyah dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.” Dan Abu Zhobiyah pun tidak pernah meninggalkan dari membacanya.

Demikian pula Abu Ya’la meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim dari Muhammad bin Munib dari as Surriy bin Yahya dari Syuja’ dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas’ud. Kemudian Ishaq bin Abi Israil dari Muhammad dari Munib al ‘Adaniy dari as Surriy bin Yahya dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.”, didalam sanadnya tidak disebutkan Syuja’. Ibnu Mas’ud mengatakan,”Sungguh aku telah memerintahkan putriku membacanya setiap malam.”
Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dari hadits Hajjaj bin Nashir dan Utsman bin al Yaman dari as Sirriy bin Yahya dari Syuja’ dari Abu Fathimah berkata,”Abdullah mengalami sakit lalu Utsman bin ‘Affan datang mengunjunginya dan disebutkan hadits panjang ini. Utsman bin al Yaman berkata,”Abu Fathimah adalah hamba sahaya dari Ali bin Abu Thalib. (Tafsir al Quranil Azhim juz VII hal 512 – 513)

Begitupula dengan hadits yang diriwayatkan oleh ad Dailamiy dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Surat al Waqi’ah adalah surat kekayaan maka bacalah dan ajarkanlah ia kepada anak-anakmu.”

Banyak sekali riwayat-riwayat lain yang menjelaskan tentang fadhilah surat Al Waqiah ini. Adapun berikut adalah Do'a yang sebaiknya dibaca setelah membaca surat al waqiah
Doa ini diambil dari kitab Kholashoh Nabawiy dari Al Habib Umar Bin Muhammad bin Hafidz




sumber : http://sufiroad.blogspot.com/2010/11/sufi-road-surat-al-waqiah-1fadhilah-dan.html



video surat Al Waqiah



Rabu, 22 Desember 2010

Doa Wanita (Sebuah Artikel Memperingati Hari Ibu 22 Desember)

1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W. akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”

2. Wanita yang salehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.

3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takut akan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada
keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S.

5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.

6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

7. Daripada Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

9. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).

12. Aisyah r.a. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah ang lebih besar haknya
terhadap wanita? Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah
S.A.W.”Ibunya.”

13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dia kehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.

17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.

20. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang lelaki Saleh.

21. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1,000 lelaki yang jahat.

22. 2 rakaat shalat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

23. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

24. Wanita yang melayan dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.

25. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.

26. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.

27. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

28. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.

29. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “bismillah”, Allah akan berkatkan rezekinya.

30. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.

31. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

32. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.

33. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.

34. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.

35. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.

36. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajib baginya.

37. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

38. Jika wanita memijit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memijit suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola perak.

39. Wanita yang meninggal dunia dengan keredhaan suaminya akan memasuki syurga.

40. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

41. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

Kekuatan Doa

Dalam kitab Fiqhus Sirah karya Syekh Muhammad al-Ghazali, Imam Muslim meriwayatkan bahwa sewaktu Perang Badar, Rasulullah SAW berdoa di dalam kemah. Rasulullah berdoa dengan penuh khusyuk dan merendah diri seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit memohon supaya diberi kekuatan untuk mengalahkan musuh.

Di antara doa yang beliau ucapkan adalah: ”Ya Allah, kalau pasukan kaum Muslimin ini sampai binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi oleh manusia di muka bumi ini.” Kemudian beliau memperkeras suaranya, ”Ya Allah, tunaikanlah janji yang telah Engkau berikan kepadaku, ya Allah pertolongan-Mu ya Allah!”

Beliau mengangkat kedua belah tangannya sedemikian tinggi hingga burdahnya jatuh dari pundaknya tanpa disadarinya, sehingga Abu Bakar menyampirkan kembali burdah itu di atas pundak beliau seraya berkata dengan perasaan haru, ”Ya Rasulallah, kurangilah kesedihan Anda dalam berdoa kepada Allah! Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepada Anda!”

Di tengah begitu banyaknya musibah dan bencana yang menerpa dan mendera bangsa Indonesia saat ini, baik itu berupa krisis ekonomi, politik, hukum, dan moral, serta bencana alam berupa banjir, kebakaran hutan, kemarau panjang, pertumpahan darah di banyak wilayah negeri ini, serta musibah-musibah lainnya, kisah di atas selayaknya dapat memberikan pelajaran kepada kita.

Doa itu senjata dan kekuatan orang beriman (HR Al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib). Ibnu Qayyim mengatakan, ”Jika perisai doamu lebih kuat dari musibah maka ini akan menolaknya, tetapi jika musibah lebih kuat dari perisai doamu, maka ia akan menimpamu, namun doa itu sedikitnya tetap akan mengurangi efeknya. Dan jika perisai doamu seimbang dengan kekuatan musibah, maka keduanya akan bertarung.”

Tak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun doa bermanfaat menghadapi takdir sebelum dan sesudah ia turun dan sesungguhnya ketika musibah itu ditakdirkan turun dari langit maka ia akan segera disambut oleh doa di bumi lalu keduanya bertarung sampai hari kiamat (HR Ahmad, al-Hakim dan Thabarani).

Begitulah kekuatan doa, ketika segala daya dan upaya telah kita lakukan untuk mengatasi berbagai macam persoalan kehidupan, maka sudah selayaknya kita tetap berdoa kepada Allah SWT. Ketika seorang sahabat Rasulullah selalu langsung meninggalkan masjid setelah selesai shalat tanpa berdoa, Nabi pun menegurnya dengan pertanyaan, ”Apakah kamu sama sekali tidak mempunyai kebutuhan kepada Allah?” Sahabat itu pun terperanjat dan mulai memahami arti doa, maka setelah itu ia pun rajin berdoa kepada Allah. ”Bahkan,” katanya di kemudian hari, ”garam pun kuminta kepada Allah SWT.”

Nah, marilah kita berdoa, sebagaimana yang diperintahkan di dalam firman-Nya, ”Dan Tuhanmu berkata, ‘berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kupenuhi permintaanmu’.” (QS Al Ghafir ayat 60)

Sumber http://www.al-azim.com/~beringin/agama/doawanita.htm

Minggu, 19 Desember 2010

Pindah Agama, Lindsay Wheeler Pernah Diteriaki "Bajingan Kulit Putih"


Pindah Agama, Lindsay Wheeler Pernah Diteriaki
Aqeela Lindsay (nomor dua dari kiri) bersama beberapa rekan mualafnya

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--"Sebagai seorang remaja saya pikir semua agama adalah menyedihkan. Pandangan saya saat itu adalah: apa gunanya menempatkan pembatasan pada diri sendiri? Anda hanya hidup sekali di dunia ini," kata Lindsay Wheeler, peraih BSc bidang psikologi pada De Montfort University mengisahkan masa mudanya.

Bagi wanita yang kini berusia 26 tahun, hidup sekali harus diisi dengan "kebahagiaan". Yang dilakukannya untuk bahagia saat itu adalah: mabuk-mabukkan, berpenampilan mengikuti tren terkini, dan melakukan apa saja yang ingin dilakukan.

Namun ketika pola pikirnya makin tertata saat memasuki bangku universitas, ia mulai mencari makna hidup. "Minum-minum, clubbing, dan kebiasaan lama lainnya makin menjadi aktivitas yang membosankan. Apa gunanya semua itu?" ia menyatakan pikirannya saat itu.

Saat dalam kondisi penuh tanda tanya, wanita yang kini tinggal di Leichester, Inggris ini bertemu Hussein. "Saya tahu dia seorang Muslim, dan kami saling jatuh cinta. Saya mencoba memasukkan seluruh masalah agama 'di bawah karpet', tapi tak bisa," ujarnya.

Ia pun makin rajin melahap buku-buku keislaman. "Saya ingat, saat itu tangis saya meledak ketika saya berpikir, 'Ini bisa jadi arti seluruh kehidupan'. Menjadi Muslim artinya menjalani hidup secara terarah," ujarnya.

Ia mencoba masuk dalam komunitas Muslim. Berada di tengah mahasiswi berjilbab, ia merasa tenteram. "Mereka benar-benar mengubah pandangan saya. Mereka berpendidikan, cerdas, dan sukses. Saya menemukan jilbab yang membebaskan," ujarnya. Tak perlu pikir panjang, tiga pekan kemudian ia bersyahadat dan resmi masuk Islam.

"Ketika saya bilang pada ibu saya beberapa minggu kemudian, dia menerima. tapi dia membuat beberapa komentar seperti, "Mengapa kau mengenakan kerudung itu? Kau punya rambut indah," ujarnya.

"Teman saya yang terbaik di universitas sepenuhnya dihidupkan saya: dia tidak bisa mengerti bagaimana satu minggu saya keluar clubbing, dan berikutnya aku diberi segalanya dan masuk Islam. Dia terlalu dekat dengan kehidupan lama saya, sehingga saya tidak menyesal kehilangan dia sebagai teman.

Begitu menjadi Muslimah, ia memilih nama Aqeela untuk dipasang di depan nama lamanya. "Aqeela berarti 'masuk akal dan cerdas' - dan itulah yang saya cita-citakan ketika masuk Islam enam tahun lalu. Saya menjadi seseorang yang baru: semuanya harus dilakukan Lindsay di masa lalu, sudah terhapus dari ingatan saya," ujarnya.

Apa yang tersulit setelah menjadi Muslim? Ia menggeleng. Semuanya bisa disesuaikan, kecuali mengubah cara berpakaian. "Saya selalu sadar mode. Pertama kali saya mencoba jilbab, saya ingat duduk di depan cermin, berpikir, "Apa yang aku harus meletakkan sepotong kain di atas kepalaku?" Tapi sekarang saya akan merasa telanjang tanpa itu."

Memakai jilbab, katanya, mengingatkan dirinya bahwa semua yang perlu dilakukannya setiap saat adalah melayani Tuhan dan rendah hati. Jilbab juga mengingatkan bahwa ia adalah duta Islam dimanapun dia berada.

Cobaan paling berat dialami setelah bom meledak di London. Saat itu, Muslim berada di titik terendah dalam hubungan sosial di Inggris. "Saat berjalan di luar rumah, selalu saja ada teriakan, atau bahkan ada yang menyebut saya "bajingan kulit putih". Saya pernah merasa takut keluar rumah karenanya," ujarnya.

Kini, ia menjadi Nyonya Hussein dengan satu putra berusia 1 tahun, Zakir. Ia masih menyimpan cita-cita sebagai psikolog, "Tapi saya menunggu Zakir siap ditinggal di rumah sementara saya bekerja," ujarnya.

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: republika.co.id

Catherine Heseltine, Semula Bilang: Menjadi Muslim? Tidak, Terima Kasih!

.
Catherine Heseltine, Semula Bilang: Menjadi Muslim? Tidak, Terima Kasih!
Penampilan Catherine sehari-hari

Jika kau bertanya padaku pada usia 16 apakah aku ingin menjadi seorang Muslim, aku akan berkata," Tidak, terima kasih. Agamaku adalah minum-minum, berpesta dan aku nyaman dengan teman-temanku," ujar Catherine Heseltine, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tumbuh di London Utara, Catherine tidak pernah mempraktikkan agama apapun di rumahnya. Besar dalam lingkungan kelas menengah terpelajar, agama bagi keluarga ini dianggap "sedikit kuno dan tidak relevan".

Hingga suatu hari, guru sekolah tumbuh kembang ini bertemu seorang pemuda bernama Syed. Pemuda ini, diakuinya, beda dengan laki-laki yang pernah dikenalnya. "Ia menantang semua prasangkaku tentang agama. Dia masih muda, Muslim, sangat percaya pada Tuhan - dan sialnya, ia sangat "normal", sama seperti pria seusianya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa, tidak seperti kebanyakan pemuda Inggris, dia tidak pernah minum minuman keras."

Bagi Catherine, diskusi-diskusi dengan Syed membuatnya seperti ditampar. Menurutnya, seorang penganut agnotism akan menyadari bahwa menjadi pribadi tanpa agama adalah juga sebuah keyakinan; yakin Tuhan tak ada. "Kalau bagiku, bahkan Tuhan ada tidak pun, aku tak pernah peduli."

Setahun kemudian, ia jungkir balik dengan pemikirannya. Sampai akhirnya diam-diam ia menyadari, mulai jatuh hati pada Syed dan Islam. Entah ia jatuh hati lebih dulu pada Islam kemudian baru Syed, atau sebaliknya. Yang jelas, ia yang makin penasaran kian rajin membaca buku-buku keislaman.

Apa yang paling menarik perhatiannya dari semua literatur yang dibacanya? "Alquran. Kitab ini sangat menarik dari sisi intelektual, sisi emosional, dan spiritual. Aku menyukai penjelasannya tentang alam semesta dan menemukan bahwa 1.500 tahun yang lalu, Islam telah memberikan hak-hak perempuan yang tak dimiliki di sini, di dunia Barat ini. Aku makin yakin Alquran betul-betul sebuah wahyu."

Namun, menyatakan keislaman, dia belum sanggup. Baginya, berislam bukan sekadar bersyahadat, atau demi mendapatkan apa yang kita inginkan -- dalam konteks Catherine adalah mendapatkan Syed sebagai suaminya. "Agama ini benar-benar cool. Tapi selama tiga tahun aku menyimpan minat dalam Islam untuk diriku sendiri," ujarnya.

Sampai kemudian, timbul keberanian untuk bersyahadat saat kuliah di tahun pertama. Di tahun yang sama, karena alasan tak ingin berlama-lama pacaran, ia memutuskan menikah. "Reaksi awal Ibuku adalah, "tidak dapatkah kau hidup bersama saja dengannya tanpa menikah?" Bagi ibuku ia agak keberatan," tambahnya.

Bagi ibunya, rumah tangga Muslim adalah rumah tangga yang menindas istri. Namun ia sudah bulat tekadnya. "Kini aku sudah lima tahun lebih menjadi Nyonya Syed dan ibuku tak menemukanku dirantai di dapur," ujarnya terbahak-bahak.

Beda dengan Joanne atau Sukina (kisahnya ditulis di Republika Online dalam serial ini) yang berjilbab begitu bersyahadat, Catherine pada awal keislamannya belum sepenuhnya berjilbab. Di acara-acara keagamaan, ia mengenakan jilbab. Namun dalam kesehariannya, dia mengenakan bandana atau topi untuk menutupi rambutnya.

Ia beralasan, sengaja tampil demikian untuk menarik perhatian ketika tengah berada di rumah makan, tempat belanja, atau dimanapun ia berada di luar rumah. Ketika orang bertanya, maka akan mudah baginya untuk bercerita tentang Islam.

"Sepertiku, aku ingin orang bertahap mengadopsi ajaran Islam. Aku juga ingin orang menilaiku pertama kali dari kecerdasan dan karakterku, bukan agamaku. Ini aku sebut sebagai syiar."

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: republika.co.id

Ketika Sukina Douglas Pilih Tukar Rambut Gimbal dengan Jilbab


Dok. Pri
Ketika Sukina Douglas Pilih Tukar Rambut Gimbal dengan Jilbab
Sukina Douglas (kiri)

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--"Islam merendahkan perempuan? Anda baca lagi literaturnya dengan benar," ujar Sukina Douglas. Mendengar penyair muda Inggris ini bertutur tentang Islam, orang tak akan menyangka dia belum lima tahun menjadi Muslim.

Sebelumnya, ia selalu menggeleng ditanya agama. "Sebelum saya menemukan Islam, pandangan saya tegas tetap pada Afrika. Agama saya Afrika. Saya dibesarkan sebagai seorang Rastafarian dan memiliki rambut gimbal panjang: satu setengah pirang dan setengah lainnya hitam," ujarnya.

Kemudian, pada tahun 2005, mantan pacarnya kembali dari perjalanan ke Afrika dan mengumumkan bahwa ia akan masuk Islam. Saat itu dia sangat marah dan mengatakan bahwa dia telah 'kehilangan akar Afrika'-nya. "Mengapa ia mencoba untuk menjadi orang Arab? Setiap kali saya melihat seorang wanita Muslim di jalan saya berpikir, mengapa mereka harus ditutp-tutup seperti itu? Bukankah mereka panas?" ujarnya mengisahkan.

Namun diam-diam, ia melahap buku-buku keislaman. "Ketika saya mulai membaca otobiografi Malcolm X di universitas, sesuatu terbuka dalam diri saya. Suatu hari saya berkata kepada seorang sahabat, Muneera, 'Aku jatuh cinta dengan Islam. "Dia tertawa dan berkata," Jadilah tenang, tak usah terburu-buru!"

Selain kisah Malcolm X, ada satu yang menarik perhatiannya. "Saya selalu bersemangat tentang hak-hak perempuan; tidak ada cerita saya memasuki agama yang berusaha untuk merendahkan perempuan. Jadi, ketika saya membaca sebuah bukuyang ditulis seorang feminis Maroko, terurailah semua pendapat negatif saya tentang Islam, bahwa agama ini tidak menindas perempuan."

Ia belum memutuskan untuk menjadi Muslim, ketika ia coba-coba berpenampilan seperti Muslimah. Ia mencoba mengenakan rok model Gypsy, dan bertudung kepala juga ala Gypsy. "Tapi aku tidak merasa lusuh, aku merasa cantik. Aku sadar, aku bukan komoditas seksual bagi pria untuk nafsu birahi mereka, tiba-tiba saya betul-betul jatuh hati pada agama ini."

Ia pun bersyahadat. Tak mudah bagi Sukina setelah itu, karena tiga minggu setelah menjadi Muslim, bom meledak di London. "Saya tidak pernah mengalami rasisme di London sebelumnya, tetapi dalam minggu-minggu setelah bom, orang-orang akan melemparkan telur pada saya dan berkata, 'Kembalilah kepada negara Anda sendiri'. Mana negara saya? Negara saya ya Inggris," ujarnya.

Setelah menjadi Muslim, ia menemukan "masa depan"-nya. Saat sang pacar memutuskan menjadi Muslim, mereka berpisah. Ketika ia menjadi Muslim, Sukina mencoba membuka hati lagi bagi sang mantan. "Kini dia menjadi suami saya," ujarnya tersenyum.

"Sebelum saya menemukan Islam, saya adalah seorang pemberontak tanpa alasan, tapi sekarang saya punya tujuan hidup: saya bisa mengidentifikasi kekurangan saya dan bekerja untuk menjadi orang yang lebih baik. Bagi saya, menjadi seorang Muslim berarti memberikan kontribusi pada masyarakat, tidak peduli di mana Anda berada dan dari mana Anda berasal."

Red: Siwi Tri Puji B/ REPUBLIKA.CO.ID

Awalnya Catherine Huntley Sembunyi-Sembunyi Shalat Lima Waktu


Awalnya Catherine Huntley Sembunyi-Sembunyi Shalat Lima Waktu
Ilustrasi

Orang tua saya selalu mengira saya tidak normal, bahkan sebelum saya menjadi seorang Muslim. Pada remaja awal saya, bila mereka menemukan saya menonton TV pada Jumat malam maka mereka berkata, "Apa yang kamu lakukan di rumah? Apakah kau tidak punya teman untuk pergi keluar? " Catherine Huntley, 21 tahun, berkisah masa lalunya.


Padahal, katanya, yang benar adalah, "Saya tidak suka alkohol, saya belum pernah mencoba merokok, dan saya tidak tertarik pada anak laki-laki Inggris kebanyakan." Ini berlangsung sejak dulu, sejak dia remaja.

Catherine adalah gadis pendiam. Dia juga cerdas. Baginya, ketimbang keluyuran tidak jelas, mendingan duduk di belakang laptop; berselancar di dunia maya. Hingga suatu hari, ia terpaku pada sebuah situs keislaman. Ia mencoba mencari tahu ke situs-situs lainnya. "Saya bisa menghabiskan waktu makan siang setiap membaca tentang Islam pada komputer. Damai di dalam hati saya dan tidak ada lagi yang lebih penting selain itu," ujar asisten ritel yang tinggal di Bournemouth, Inggris ini.

Baginya, ajaran Islam sungguh memesona. Tak puas hanya berselancar, diapun mulai rajin mengoleksi buku-buku keislaman. Terjemah Alquran sudah dimilikinya sejak awal pertama berselancar dan menemukan damai yang dimaksudnya. "Saya tidak pernah bertemu seorang Muslim sebelumnya, jadi saya tidak punya prasangka," ujarnya.

Suatu hari, ia mendiskusikan apa yang dibacanya dengan orangtuanya. "Tetapi orangtua saya tidak begitu berpikiran terbuka. mereka ngeri dan berkata, 'Kita akan membicarakannya bila nanti kau berusia 18 tahun," ia mengisahkan.

Namun, gairah mempelajari Islam menyala-nyala dalam diri Catherine. Tak cukup membeli buku-buku keislaman, ia pun muklai mengoleksi baju-baju panjang dan kerudung. "Semua saya simpan rapi dalam laci," tambahnya.

Ia pun mulai berpakaian lebih sederhana dan diam-diam berpuasa selama bulan Ramadhan. Ia mengaku seperti menjalani kehidupan ganda, sampai suatu hari, ketika berumur 17 tahun, ia merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Saya menyelinap keluar rumah, meletakkan jilbab saya dalam sebuah tas dan naik kereta ke Bournemouth. Tujuannya satu, saya akan berikrar sebagai seorang Muslim."

Seminggu setelah bersyahadat, sang ibu datang ke kamarnya dan berkata," Apakah kau punya sesuatu untuk dikabarkan padaku?" Dia menarik sertifikat mualaf dari sakunya. Bagi orangtuanya, mereka lebih suka menemukan hal lain pada saat itu - obat-obatan, rokok, kondom - tapi bukan sertifikat mualaf dan jilbab.

"Mereka hingga kini tidak bisa memahami mengapa saya menyerahkan kebebasan saya demi sebuah agama asing. Mengapa saya ingin bergabung semua teroris dan pelaku bom bunuh diri," ujarnya.

Namun, ia bertahan. Walau diakuinya, sangat sulit menjadi satu-satunya Muslim dalam keluarga pembenci Muslim, dan menempatkannya menjadi "musuh keluarga". Dia mengaku melakukan shalat secara sembunyi-sembunyi, persis di depan pintu kamar, sehingga setidaknya, sang kakak akan terganjal saat ia mencoba masuk ke kamar. Atau, sang ibu tiba-tiba akan menjadi sangat aktif bicara saat dia sedang shalat, sehingga mau tak mau ia harus sering berhenti untuk menyahuti pertanyaannya.

Ia mulai tak nyaman ketika mereka terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya pada Islam. Misalnya saja, saat membaca tulisan tentang cadar di koran, ibunya berkata, "tak lama lagi Catherine akan menjadi seperti itu."

Puncaknya, saat sang kakak mengolok-olok perempuan Muslim yang selalu berjalan tiga langkah di belakang suaminya. "Mendapat ini saya benar-benar marah, karena itu budaya, bukan agama. Tunangan saya, yang saya temui delapan bulan lalu, dari Afghanistan dan ia percaya bahwa seorang wanita Muslim adalah mutiara dan suaminya adalah kerang yang melindungi dia."

Ia pun memutuskan keluar dari rumah itu.

Kini, Catherine tengah bersiap menikah. Dia mengundang keluarganya, tapi tak banyak berharap mereka akan datang." Sungguh menyakitkan berpikir saya tidak akan pernah memiliki pernikahan seperti dalam dongeng, dikelilingi oleh keluarga saya. Tapi saya berharap hidup baru saya dengan suami saya akan jauh lebih bahagia. Aku akan membuat rumah yang sejuk dan damai, tanpa harus merasakan sakit orang menilai saya."

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: republika.co.id

Halaman Ke