Selasa, 04 Januari 2011

Riyadathus Shalihin : Berkunjung dan bergaul dengan orangorang

1. Dari Anas ra., ia berkata: ketika Rasulullah SAW, wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra., seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra., sebagaimana Rasulullah SAW, sering mengunjunginya.” Ketika keduanya
sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasulullah itu sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk rasul-Nya, sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.”(HR. Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala
mengutus malaikat untuk mengujinya, setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?” Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat
saudaraku yang berada di desa itu.” Malaikat itu bertanya: “apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu mengunjunginya?” Ia menjawab: “Tidak, saya mengunjungi
dan mencintainya karena Allah Ta’ala” Malaikat itu berkata:Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana
kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (HR.Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada dua malaikat yang memuji dan mendo’akan: “Bagus kamu dan bagus pula
perjalananmu, maka surgalah tempatmu.” (HR.Tirmidzi)

4. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., berkata: Nabi SAW, bersabda:
“Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang yang shalih dan orang jahat, seperti orang yang bergaul dengan orang yang membawa minyak kasturi dan
orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli minyak kepadanya, paling tidak kamu mendapatkan bau
harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak enak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Pilihlah perempuan yang dinikahi karena empat perkara: Hartanya, derajatnya, kecantikannya, atau karena agamanya. Utamakanlah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Nabi SAW, bertanya kepada
Jibril as.: “Apa yang mencegahmu untuk sering datang kepada kami?” Maka turunlah ayat: “Wamaa natanazzalu illa bi amri rabbika lahu maa baina aidiina wa maa khalafnaa wa maa baina dzaalik. (Dan tidaklah kami (jibril) turun, kecuali
dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada dihadapan kita, di belakang kita, dan diantarakeduanya.)” (HR. Bukhari)

7. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sesungguhnya nabi SAW,
bersabda: “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang diantara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

9. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata: Sesungguhnya Nabi SAW, bersabda: “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Ada seseorang yang bertanya kepada nabi
SAW, tentang orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka, maka ia menjawab:Ia akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya.”

10. Dari Anas ra., sesungguhnya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah SAW “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah SAW, balik bertanya: “Bekal apakah yang telah
kamu siapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab:Mencintai Allah dan Rasul-Nya” Beliau bersabda: “kamu akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai (nanti di akhirat)” (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah SAW, dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah SAW, menjawab: “Seseorang akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya (kelak di akhirat)” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: Manusia itu berbeda-beda dalam watak baik dan buruknya,begaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik
pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa islam, apabila mereka memahami syari’at. Roh itu berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling
mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenalberpisah.” (HR. Muslim)

13. Dari Umar bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: “Tatkala umar bin Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk Yaman, ia bertanya: “Apakah ada diantara kamu yang
bernama Uwais bin ‘Amir?” ia menjawab: “Ya” Umar bertanya lagi: “Apakah kamu dari Murad dan Qaran?” Ia menjawab: Ya” Umar bertanya: “Apakah kamu dulu pernah mengalami
sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar dirham?” ia menjawab: “Ya” Umar kembali bertanya: “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: “Ya” Umar
menjelaskan: Saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda:
“Nanti kamu akan kedatangan orang bernama Uwais bin ‘Amir bersama dengan serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang lalu
sembuh, kecuali sebesar dirham. Dia masih mempunyai ibu dan ia sangat berbakti kepadanya. Seandainya dia berbuat baik karena Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku. Kemudian diamemohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya:
“Engakau akan kemana lagi?” ia menjawab: “Ke Kufah” Umar menawarkan: “Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil(bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?” Ia
menjawab: “Saya lebih senang menjadi orang biasa.” Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar.
Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais.
Orang itu menjawab : “Saya meninggalkan dia dalam keadaan sangat menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong miskin.” Umar berkata : “Sesungguhnya saya mendengarRasulullah SAW bersabda : “Nanti kamu akan kedatangan seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama-sama denganserombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang kemudian sembuh kecuali sebesar dirham. Dia masih mempunyai ibu dan sangatberbakti kepadanya. Seandainya dia berbuat baik karenaAllah, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Setelah pulang, orang itu menemui Uwais dan berkata : “Mohonkan ampunbuat diriku.” Uwais menajwab : “Sebenarnya Engkaulah yang mendoakan saya, katrena baru pulang dari bepergian yang baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.”
Orang itu bertanya : “Kamu pernah bertemu Umar ? “ Uwais menjawab : “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang
mengenalnya dan berbondonh-bondong meminta agar dia memohonkan ampun buat mereka. Melihat yang demikian Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR.Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain, Dari Usair bin Jabir ra. Ia berkata :
Penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap Umar ra. Di antara mereka ada seseorang yang mengejek Uwais, kemudian Umar bertanya : “Apakah di sini ada seseorang yang berasal dari Qaran?” maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata
: Rasululllah SAW bersabda :
”Nanti kamu akan kedatangan seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apaapa di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang,
setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah agar dia memohonkan ampun buat kalian. “Pada riwayat lain, dari Umar ra. Ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, maka mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”

14. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Saya minta izin kepada Nabi SAW untuk mengerjakan umrah. Beliau mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, jangan
kau lupakan kami dari doamu. ”Umar berkata : “itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan ungkapan itu lebih berharga dariku daripada dunia.” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda :Wahai saudaraku,sertakanlah kami dalam doamu.”

15. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Nabi SAW sering beziarah ke Kuba’, baik naik kendaraan maupun berjalan. Di sana beliau salat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Setiap hari Sabtu Nabi SAWdatang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan.
Ibnu Umar juga mencontohnya.”

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Muroqobah

1. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika kami sedang duduk di dekat Rasulullah SAW tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak terlihat dan tidak seorangpun di antara kami mengenalinya. Ia duduk menghadap Beliau SAW, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi, seraya berkata : Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah SAW menjawab: Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika
memenuhi syaratnya.” Ia berkata : “Engkau benar!” Kami keheranan karenanya, dia bertanya tetapi membenarkannya. Lebih lanjut ia berkata : Sekarang terangkanlah kepadaku tentang Iman!” Rasulullah SAW menjawab : “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir, serta engkau beriman kepada baik dan jeleknya taqdir. Ia berkata : “Engkau benar.”Selanjutnya terangkan kepadaku tentang ihsan!” Rasulullah menjawab : “Yaitu hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Ketahuilah, bahwa Dia selalu melihatmu.” Orang itu kembali bertanya: “Beritahukan
kepadaku kapan terjadinya hari kiamat?”

Rasulullah SAW menjawab : “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui
daripada yang ditanya.”
Orang itu berkata lagi : “Kalau
begitu beritahukanlah tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat!”
Rasulullah SAW menjawab: “yaitu apabila budak perempuan
melahirkan bayi perempuan yang akan menjadi majikannya
dan engkau akan melihat orang yang asalnya tidak bersandal,
telanjang, papa, penggembala kambing, menjadi orang-orang
yang saling berlomba meninggikan bangunan rumahnya.”
Kemudian orang itu berlalu. Kami terdiam beberapa saat. Lalu
Rasulullah SAW bertanya : “Hai Umar, tahukah engkau siapa
yang bertanya tadi?” Umar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu.” Rasulullah SAW memberitahukan : “Dia adalah
Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama
Islam.” (HR. Muslim)

2. Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin
Jabal ra., dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada.
Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya
kebaikan tadi akan menghapus kejelekan dan gaulilah
manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

3. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : “Kali tertentu saya berada di
belakang Nabi SAW, kemudian beliau bersabda : “Hai anak
kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat,
yaitu : “Jagalah (perintah) Allah, niscaya ia akan menjaga
dirimu, jagalah (larangan) Allah niscaya kamu dapati Allah
selalu dihadapanmu. Jika engkau minta, mintalah kepada
Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah
pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, jika umat manusia
bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) kepadamu
niscaya mereka tidak akan dapat melakukan hal itu kepadamu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah
kepadamu. Dan jika mereka bersatu hendak mencelakakan
dirimu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakanmu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu.
Telah diangkat pena dan telah keringlah (tinta) lembaranlembaran
itu.” (HR. Imam Tirmidzi)

Dalam riwayat selain Tirmidzi dikatakan, Rasulullah SAW
bersabda : “Peliharalah (perintah) Allah niscaya engkau akan
menemui-Nya di hadapanmu. Hendaklah engkau mengingat
Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingatmu
di waktu susahmu. Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang
seharusnya luput mengenaimu, tentulah sesuatu itu tidak akan
mengenaimu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu disertai
kesabaran, kesenangan itu ada kesudahan dan sesudah kesulitan
pasti ada kemudahan.”

4. Dari Anas ra., ia berkata : “Sesungguhnya kalian sekarang
melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mudah, padahal
pada masa Rasulullah SAW perbuatan-perbuatan semacam itu
kami anggap termasuk hal-hal yang merusak agama.” (HR.
Bukhari)

5. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu cemburu; dan cemburunya
Allah Ta’ala yaitu, apabila ada seseorang yang melakukan
perbuatan-perbuatan yang diharamkannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

6. Dari Abu Hurairah ra., ia mendengar Nabi SAW bersabda :
“Ada tiga orang Bani Israil yang mempunyai penyakit belang,
botak dan buta. Kemudian Allah hendak menguji mereka,
maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat itu
datang kepada Si belang dan bertanya : “Apakah yang paling
kamu inginkan?” Si belang menjawab : “Saya menginginkan
paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang
penyakitku yang menjadikan orang-orang jijik melihatku.
Malaikat itu kemudian mengusap Si belang, maka hilanglah
penyakit yang menjijikannya, ia juga diberi paras yang
tampan dan kulit yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi :
“Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si belang
menjawab : “Unta,” ada yang mengatakan “sapi”. Kemudian
ia diberi unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan
Malaikat tadi berkata : “Semoga Allah memberi berkah atas
rahmat yang kamu terima.”
Kemudian malaikat mendatangi Si botak, dan bertanya :
“Apakah yang paling kamu inginkan ?” Si botak menjawab :
“Rambut yang rapi dan hilangnya penyakitku, yang
menyebabkan orang-orang jijik kepadaku.” Malaikat itu lalu
mengusap si botak dan hilangkah penyakitnya, serta
tumbuhlah rambut yang rapi. Malaikat itu bertanya lagi :
“Harta apakah yang paling kamu senangi ?” Si botak
menjawab : “Sapi.” Malaikat pun memberinya sapi yang
sedang bunting. Dan ia berkata : “Semoga Allah memberi
berkah atas rahmat yang kamu terima.”
Selanjutnya malaikat itu mendatangi Si buta dan bertanya :
“Apakah yang paling kamu inginkan ?” Si buta menjawab :
“Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat
melihat orang.” Malaikat itu lantas mengusap Si buta dan
Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya
lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si buta
menjawab : “Kambing.” Kemudian ia diberi kambing yang
sedang bunting.

Selang beberapa tahun, unta, sapi dan kambing berkembang
biak yang akhirnya unta itu memenuhi suatu lapangan,
demikian pula dengan sapi dan kambing. Kemudian malaikat
tadi datang kepada Si belang dengan menyerupai orang yang
berpenyakit belang seperti keadaan Si belang waktu itu, dan
berkata: “Saya adalah orang miskin, yang kehabisan bekal di
tengah-tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang
mau memberi pertolongan kepada saya kecuali Allah, saya
harap engkau mau memberi pertolongan. Saya benar-benar
minta pertolongan kepadamu dengan menyebut yang telah
memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus
serta harta kekayaan, dan saya minta seekor unta untuk
bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.” Si belang
berkata : “Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak
saya tidak bisa membekali apa-apa.”
Malaikat itu berkata: “Kalau tidak salah saya kenal dengan
kamu. Bukankah kamu dulu orang yang berpenyakit belang
sehingga orang-orang lain merasa jijik kepadamu. Bukankah
kamu dulu orang yang miskin kemudian Allah memberi
rahmat kepadamu?” Si belang berkata : “Harta kekayaanku
ini adalah dari nenek moyang.” Malaikat itu berkata: “Jika
kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti
keadaan semula.” Kemudian malaikat itu datang kepada Si
botak seperti keadaan Si Botak waktu itu, dan berkata seperti
yang dikatakan pada Si belang. Si botak juga menjawab
seperti jawaban Si belang. Kemudian malaikat itu berkata :
“Jika kamu berdusta semoga Allah mengembalikanmu seperti
semula.” Malaikat tadi terus ke tempat Si buta dengan
menyerupai orang yang buta seperti keadaan Si buta waktu
itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin yang kehabisan
bekal di tengah-tengah perjalanan dan sampai hari ini tidak
ada yang mau memberi pertolongan kepada saya kecuali
Allah, saya berharap mudah-mudahan kamu mau memberi
pertolongan. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu
dengan menyebut yang telah mengembalikan penglihatanmu
dan saya minta satu ekor kambing untuk bekal di dalam
melanjutkan perjalanan saya.” Si buta berkata : “Saya dahulu
adalah orang buta kemudian Allah mengembalikan
penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan
tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah
sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu
yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Agung. Malaikat itu
berkata : “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu
hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridha kepadamu dan
Allah telah memurkai kedua kawanmu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

7. Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra., dari Nabi SAW,. beliau
bersabda : “Orang yang cerdik adalah orang yang selalu
menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati.
Sedangkan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya
mengikuti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai
harapan kepada Allah.” (HR. Tirmidizi)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
: Termasuk kesempurnaan Islam seseorang, apabila ia
meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
(HR. Tirmidizi)

9. Dari Umar ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Seorang
suami tidak akan ditanya kenapa ia memukuli isterinya?” (HR.
Abu Dawud)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Sabar

1. Dari Abu malik al-Harits bin Ashim Al-Asy`ariy ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Suci adalah sebagian dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, salat itu adalah cahaya,sedekah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita dan AlQuran untuk berhujjah (berargumentasi) terhadap yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya,kemudian ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yangmembinasakan dirinya.” (H.R Muslim)

2. Dari Abu Sa`id bin Malik bin Sinan Al-Khudriy ra. Berkata:
“Ada beberapa sahabat Anshar meminta sesuatu kepada
Rasulullah SAW, maka beliau memberinya, kemudian mereka
meminta lagi dan beliau pun memberinya sehingga habislah
apa yang ada pada beliau. Ketika beliau memberikan semua
yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka :
”Semua kebaikan yang ada padaku tidak akan aku
sembunyikan pada kalian. Siapa saja yang menjaga
kehormatan dirinya, maka Allah pun akan menjaganya dan
siapa saja yang menyabarkan dirinya, maka Allah pun akan
memberikan kesabaran. Dan seseorang tidak akan
mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang
melebihi kesabaran.” (H.R Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. Ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda : ”Sangat menakjubkan bagi orang mukmin,
apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak
akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila
mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian
itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia
bersabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya.” (H.R
Muslim)
4. Dari Anas ra ., ia berkata : Ketika Nabi SAW menderita sakit
keras, Fathimah ra., mengeluh : “ Aduh ayah sakit keras.”
Kemudian beliau bersabda : “ Ayahmu tidak akan menderita
sakit lagi setelah hari ini.” Ketika beliau wafat, Fathimah ra.
berkata : “ Wahai ayahku, engkau telah memenuhi panggilan
Tuhan. Wahai ayahku, surga Firdauslah tempat kembalimu.
Wahai ayahku, kepada Jibril kami memberitakan wafatmu.”
Ketika beliau telah dikubur, Fathimah ra. berkata : “Apakah
kalian menyukai untuk menaburkan tanah di atas makam
Rasulullah SAW ?” (HR. Bukhari)

5. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, (dia adalah
pelayan,kekasih dan anak kekasih Rasulullah SAW ) ia
berkata : “ Salah seorang putri Nabi SAW mengutus
seseorang untuk memberitahu kepada beliau bahwa anaknya
sedang sakaratul maut, maka kami diminta untuk datang,
kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda
: “Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi
dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka
hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah .”
Kemudian orang itu disuruhnya kembali, menghadap Nabi
SAW, seraya meminta yang disertai dengan sumpah agar
beliau berkenan hadir. Maka pergilah beliau beserta Sa’ad bin
Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan
beberapa sahabat yang lain. Maka diberikan anak yang sakit
itu kepada Rasulullah SAW dan didudukkan di pangkuan
beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal, maka
meneteslah air mata beliau, kemudian Sa’ad bertanya :
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau meneteskan air mata ?”
Beliau menjawab : “Tetesan air mata adalah rahmat yang
dikaruniakan Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya.”
Dalam riwayat lain disebutkan : “Ke dalam hati hamba-hamba yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-
Nya yang mempunyai rasa sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Shuhaib ra., Rasulullah SAW bersabda : “Pada zaman
dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang
sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata
kepada rajanya : “Sesungguhnya saya sekarang sudah lanjut
usia. Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta kepada
tuan untuk mengirimkan seorang pemuda dan saya akan
mengajarinya ilmu sihir.” Raja itupun mengirimkan seorang
pemuda untuk belajar ilmu sihir. Akan tetapi di tengah
perjalanan ke tempat tukang sihir, ia bertemu dengan
seorang pendeta,1 kemudian pemuda itu berhenti untuk
mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh
karena itu, ia terlambat datang ke tempat tukang sihir. Ketika
pemuda itu sampai ke tempat tukang sihir, maka pemuda itu
dipukul. Kemudian ia mengadukan kepada pendeta, dan si
pendeta itu berkata : “Apabila kamu takut terhadap tukang
sihir itu, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu,
dan apabila kamu takut terhadap keluargamu maka
katakanlah bahwa tukang sihir itu menahanmu.” Suatu hari
ketika dalam perjalanan, dijumpai di tengah jalan seekor
binatang yang sangat besar, sehingga orang-orang tidak
berani meneruskan perjalanan. Pada saat itulah si pemuda
berkata : “Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah
yang lebih utama ataukah pendeta ?”
Pemuda itu mengambil batu seraya berkata : “Ya Allah,
apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka
matikanlah binatang yang sangat besar itu agar orangpun
dapat meneruskan perjalanannya.” Kemudian ia lemparkan
batu itu, dan matilah binatang itu, sehingga orang-orangpun
dapat melanjutkan perjalanannya. Ia lalu mendatangi pendeta
itu dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu
berkata : “Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dari
saya karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui,
dan ketahuilah, kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi
ingatlah, apabila kamu diuji, janganlah kamu menyebutnyebut
namaku.” Setelah itu pemuda tadi dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang, dan berbagai
jenis penyakit lain.
Tersebarlah berita, bahwa kawan raja sakit mata hingga buta
dan sudah diusahakan ke mana-mana tetapi belum juga
sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan
membawa beraneka macam hadiah dan berkata : “
Seandainya kamu dapat menyembuhkan saya, akan saya
penuhi semua permintaanmu.” Pemuda itu menjawab :
“Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan seseorang,
tetapi yang menyembuhkan adalah Allah Ta’ala. Apabila
engkau beriman kepada Allah Ta’ala niscaya saya akan
berdo’a kepada-Nya agar menyembuhkan penyakitmu.” Maka
berimanlah orang itu kepada Allah Ta’ala dan sembuhlah
penyakitnya.
Orang itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama
sebagaimana biasanya, kemudian sang raja bertanya
kepadanya : “Siapakah yang menyembuhkan matamu itu ?”
Ia menjawab : “Tuhanku.” Sang raja berkata : “Apakah kamu
mempunyai Tuhan selain aku ?” Ia menjawab : “Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Allah.” Maka raja itu langsung menyiksanya
sehingga orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka
dipanggillah pemuda itu dan berkatalah sang raja kepadanya
: “Hai anakku, sihirmu sangat ampuh sehingga dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa
berbuat ini dan itu.” Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnnya
yang bisa menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” Maka
disiksalah pemuda itu sehingga ia menunjuk kepada sang
pendeta, maka dipangillah pendeta itu. Raja itupun berkata
kepadanya : ”Kembalilah kamu kepada agamamu semula.”
Tetapi pendeta itu tidak mau, kemudian raja itu menyuruh
untuk menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya
terbelah dua. Kemudian dipanggilah kawan raja itu dan
dikatakan kepadanya : “Kembalilah pada agamamu semula.”
Tetapi orang itu tidak mau, ia pun digergaji dari atas kepala
sampai badannya terbelah dua. Kemudian dipanggillah
pemuda itu. Raja itu kemudian berkata : “Kembalilah pada
agamamu semula.” Tetapi pemuda itu menolak, kemudian ia
diserahkan kepada pasukan dan memerintahkan untuk
membawanya ke suatu gunung. Ketika sampai di puncak
gunung, paksalah supaya kembali kepada agamanya semula.
Bila tidak, lemparkan ia dari atas gunung biar mati. Pasukan
itu pun membawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di
sana pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkan saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau
kehendaki.” Kemudian bergoncanglah gunung itu sehingga
pasukan tadi bergulingan dari atas gunung. Pemuda itu
mendatanginya, dan sang raja bertanya keheranan : “Apa
yang diperbuat oleh pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab :
“Allah Ta’ala telah menghindarkan saya dari kejahatan
mereka.” Pemuda itu ditangkapnya dan diserahkan kembali
kepada sekelompok pasukan yang lain, untuk membawa
pemuda itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah
lautan. Pasukan itu membawanya naik kapal, kemudian
pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkanlah saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan yang Engkau kehendaki.”
Kemudian kapal itu terbalik dan tenggelamlah mereka.
Pemuda itupun kembali kepada sang raja, dan sang raja
bertanya lagi keheranan : “Apakah yang diperbuat oleh
pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala telah
menghindarkan aku dari kejahatan mereka.” Kemudian
pemuda itu berkata kepada sang raja : “Sesungguhnya
engkau tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau
memenuhi permintaanku.” Raja bertanya : “Apakah yang
engkau inginkan ?” Pemuda itu menjawab : “Engkau harus
mengumpulkan orang banyak dalam satu lapangan dan
saliblah saya di atas sebuah tiang, kemudian ambillah anak
panahku dari tempatnya serta letakkanlah pada busurnya,
kemudian bacalah : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan
pemuda ini,” kemudian lepaskanlah anak panah itu ke arahku.
Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan
berhasil membunuhku. “ Mendengar yang demikian, raja itu
mengumpulkan orang banyak di salah satu lapangan dan
menyalib pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil
anak panah dari tempatnya dan diletakkan pada busurnya
kemudian ia membaca : “Dengan menyebut nama Allah,
Tuhan pemuda ini,” dan dilepaskanlah anak panah itu ke arah
pelipisnya, kemudian pemuda itu meletakkan tangannya pada
pelipis yang terluka, lalu ia pun mati. Pada saat itu juga
serentak orang-orang berkata : “Kami beriman dengan
Tuhannya pemuda itu .” Ada seorang yang menyampaikan
berita itu kepada sang raja seraya berkata : “Tahukah
engkau, apa yang engkau khawatirkan sekarang telah
menjadi kenyataan. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada
gunanya sama sekali karena orang-orang sudah beriman .”
Kemudian raja itu memerintahkan membuat parit yang besar
pada setiap persimpangan jalan, di dalamnya dinyalakan api,
kemudian memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau
kembali pada agama semula, maka akan dilemparkan ke
dalam parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita
yang berpegang teguh pada agama yang hak, namun ia
membawa bayinya dan merasa sangat kasihan kepada
anaknya kalau ia beserta anaknya masuk ke dalam parit,
akan tetapi bayi itu berkata : “Wahai ibu, sabarlah, karena
engkau berada dalam kebenaran .”
(HR. Muslim)
1 Pada masa itu, yang dimaksud dengan kata ar-rahib atau
pendeta, adalah pendeta yang masih kuat memegang ajaran
Tauhid dan menyembah Allah SWT.

7. Dari Anas ra., ia berkata : “Sewaktu Nabi SAW menjumpai
seorang wanita sedang menangis di atas kubur, maka beliau
bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah !” Wanita
itu berkata : “Pergilah dairi sini karena sesungguhnya engkau
tidak tertimpa musibah sebagaimana yang aku alami !”
Wanita itu tidak tahu bahwa yang berkata adalah Nabi.
Kemudian ada seseorang yang memberitahukan kalau itu
adalah Nabi SAW Maka wanita itu segera datang ke rumah
Beliau SAW dan ia tidak menjumpai para penjaga pintu,
sehingga dengan mudah ia memasukinya kemudian ia berkata
: “Saya tidak tahu kalau yang berkata tadi adalah engkau.”
Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya sabar itu hanyalah
pada hari pertama dari musibah itu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Wanita itu menangisi
anaknya yang baru meninggal.”

8. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Allah
Ta’ala berfirman : “Tidak ada balasan kecuali surga bagi
hamba-Ku yang mukmin, yang telah Aku ambil kembali
kekasihnya dari ahli dunia, dan ia hanya mengharapkan
pahala dari-Ku.” (HR. Bukhari)

9. Dari Aisyah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
wabah penyakit yang tersebar di seluruh negeri, kemudian
beliau memberitahu, bahwa wabah itu merupakan siksaan
yang ditimpakan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikannya
sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka
seseorang yang tetap tinggal pada suatu daerah yang
kejangkitan wabah dan ia sabar serta hanya memohon
kepada Allah kemudian sadar bahwa ia tidak akan tertimpa
wabah kecuali Allah akan menakdirkannya, maka ia mendapat
pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid.”
(HR.Bukhari)

10. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan
kubutaan pada kedua matanya kemudian ia sabar, maka Aku
akan menggantikannya dengan surga .” (HR. Bukhari)

11. Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata : “Ibnu Abbas ra.
berkata kepadaku : “Maukah saya tunjukkan seorang wanita
yang termasuk ahli surga ?” Saya menjawab tentu saja saya
mau. “ Ia berkata : “Adalah wanita berkulit hitam yang
pernah datang kepada Nabi SAW, waktu itu berkata :
“Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan, dan aurat
saya terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah
kepada Allah agar penyakit saya sembuh.” Beliau kemudian
bersabda : “Apabila kamu mau sabar maka kamu akan masuk
surga, dan apabila kamu tetap meminta maka saya pun akan
berdoa kepada Allah agar engkau sembuh dari penyakitmu.”
Wanita itu menjawab : “Kalau begitu saya akan bersabar.”
Kemudian wanita itu berkata lagi : “Sesungguhnya aurat saya
terbuka karenanya, oleh karena itu, mohonkanlah kepada
Allah agar aurat saya tidak terbuka.”Maka Nabi pun berdoa
untuknya agar auratnya tidak terbuka.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

12. Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Mas’ud ra., ia
berkata : “Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah SAW,
sewaktu menceritakan salah seorang dari para Nabi ketika
dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan ia
mengusap darah dari mukanya sambil berdoa : “Ya Allah,
ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, ia
berkata : “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan,
kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun
kedukacitaan, sampai yang tertusuk duripun niscaya Allah
akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

14. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : “Saya masuk ke
tempat Nabi SAW, waktu itu beliau sedang sakit panas.
Kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
engkau benar-benar menderita sakit yang sangat panas. “
Beliau memberitahukan : “Benar, sakit panas yang saya
derita ini dua kali lipat lebih panas dari yang biasa diderita
kalian.” Saya bertanya : “Kalau begitu engkau mendapat
pahala dua kali lipat?” Beliau menjawab : “Benar, memang
demikianlah keadaannya.” “Seorang muslim yang tertimpa
suatu kesakitan, baik itu tertusuk duri maupun lebih dari itu,
niscaya Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan
menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun-daun yang
berguguran dari pohon.” (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda : “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang
baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)

16. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Janganlah salah seorang di antara kamu sekalian
menginginkan mati karena tertimpa kesulitan. Seandainya
terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah : “Ya
Allah, biarkanlah saya hidup apabila hidup lebih baik bagiku,
dan matikanlah saya apabila mati itu lebih baik bagiku.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

17. Dari Abu Abdillah Khabbab bin Arati , ia berkata : “Kami
mengadu kepada Rasulullah SAW Saat ini beliau sedang
berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kami
bertanya : “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan
buat kami ? Apakah engkau tidak mendoakan kami ?“ Beliau
menjawab : “Orang-orang sebelum kalian, ada yang ditanam
hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya
terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir
besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu
tidak menggoyahkan agama mereka. Demi Allah, Allah pasti
akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di
Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka
tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya
kambing terhadap serigala. Tetapi kalian sangat tergesa-gesa
.” (HR. Bukhari)
Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beliau sedang berbantalkan
sorbannya sedangkan kami baru saja bertemu dengan orangorang
musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat
berat .”

18. Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata : “Setelah perang
Hunain Rasulullah SAW mendahulukan orang-orang yang
terkemuka didalam membagi rampasan perang. Beliau
memberikan masing-masing seratus onta kepada Al-Aqra’ bin
Habis dan kepada ‘Uyainah bin Hishn. Dalam pembagian
rampasan perang pada beberapa hari itu, yang didahulukan
oleh beliau beberapa pemuka Arab. Ada seorang laki-laki yang
berkata : “Demi Allah sesungguhnya pembagian rampasan
perang ini tidak adil dan nampaknya semata-mata bukan
karena Allah.” Maka saya berkata : “Demi Allah, saya benarbenar
akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW”
Kemudian saya datang kepada beliau dan menceritakan apa
yang dikatakan oleh laki-laki tadi. Tiba-tiba berubahlah wajah
beliau bagaikan kesumba merah, kemudian bersabda :
“Siapakah yang adil bila Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak
adil ?” Beliau bersabda lagi : “Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat kepada Nabi Musa karena beliau telah
disakiti hatinya melebihi diriku, tetapi beliau tetap sabar.“
Saya berkata : “Tidak apa-apa, saya tidak menyampaikan
berita semacam itu lagi kepada beliau sesudah peristiwa itu .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

19. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang
baik, maka ia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila
Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka ia
menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan
menuntutnya pada hari kiamat .” (Perawi tidak tercantum)

20. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya pahala
itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta
suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga
siapa saja yang ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa
saja yang murka, maka Allah akan memurkainya .” (HR.
Tirmidzi)

21. Dari Anas ra., ia berkata : “Abu Thalhah mempunyai
anak yang sedang sakit. Sewaktu Abu Thalhah pergi, anaknya
meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya :
“Bagaimana kondisi anak kita ?” Ummu Sulaim, ia menjawab
: “Anak kita lebih tenang.” Kemudian isterinya
menghidangkan makanan lalu Abu Thalhah pun makan.
Selesai makan, isterinya berkata : “Kuburkanlah anak itu !”
Kemudian pada pagi harinya, Abu Thalhah datang kepada
Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu. Beliau bertanya :
“Apakah tadi malam kamu bersetubuh dengan dengan
isterimu ?” Abu Thalhah menjawab : “Ya.” Kemudian
Rasulullah SAW mendoakan keduanya : “Ya Allah mudahmudahan
Engkau memberkahi keduanya.” Selang beberapa
bulan, isterinya melahirkan bayi laki-laki. Kemudian Abu
Thalhah menyuruh saya ( Anas ) untuk membawa bayi itu
kepada Nabi SAW dengan menyertakan beberapa kurma.
Setelah sampai di hadapan Nabi, beliau bertanya : “Adakah
sesuatu yang disertakan bersama bayi ini ?“ Ia menjawab :
“Ya, beberapa buah kurma.” Beliau mengambil kurma-kurma
itu, dan dikunyah sampai halus, kemudian diambil kembali
dari mulut beliau lalu dimasukkannya ke dalam mulut bayi itu.
Ia diberi nama Abdullah . (HR. Bukhari dan Muslim )
Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, disebutkan, Ibnu
Uyainah berkata : “Ada seorang sahabat Anshar yang berkata :
“Saya melihat ada sembilan anak yang kesemuanya telah pandai
membaca Al-Quran.” Salah seorang di antaranya adalah Abdullah.”
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan : “Sewaktu
anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu
Sulaim berkata kepada segenap keluarganya : “Janganlah kalian
menceritakan peristiwa anakku kepada Abu Thalhah sebelum saya
sendiri menceritakannya.” Setelah Abu Thalhah datang, isterinya
segera menghidangkan makan, maka makan dan minumlah Abu
Thalha, setelah itu isterinya mengajak bercanda sehingga
bersetubuh dan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya.
Setelah isterinya tahu bahwa suaminya telah kenyang dan puas,
maka berkatalah Ummu Sulaim : “Wahai Abu Thalhah, bagaimana
pendapatmu seandainya ada sekelompok orang yang meminjamkan
sesuatu kepada salah satu keluarga kemudian orang itu meminta
kembali pinjamannya, apakah pantas keluarga itu menolaknya ?”
Abu Thalhah menjawab : “Tidak pantas.” Isterinya berkata :
“Relakan putramu.” Abu Thalhah marah-marah seraya berkata :
“Kenapa kamu diam saja sejak tadi sehingga saya bersetubuh
denganmu, barulah kamu memberitahu tentang anak kita.”
Kemudian Abu Thalhah pergi dan datang kepada Rasulullah SAW
serta menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Rasulullah SAW
bersabda : “Semoga Allah memberkahi apa yang telah kalian
lakukan tadi malam .”
Selang beberapa bulan hamillah isterinya. Setelah itu Rasulullah
SAW bepergian bersama-sama Abu Thalhah dan isterinya. Ketika
kembali dan akan masuk kota Madinah, Ummu Sulaim tidak bisa
melanjutkan perjalanan. Abu Thalhah berdoa : “Ya Allah,
sesungguhnya saya sangat senang kalau keluar masuk kota
bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sewaktu saya akan masuk
kota, ditahan di sini sebagaimana Engkau ketahui.” Kemudian
Ummu Sulaim berkata : “Wahai Abu Thalhah, rasa sakit perutku kini
hilang, maka mari kita berjalan terus.” Dan mulai terasa kembali
perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Di sanalah kemudian
Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia berkata :
“Janganlah ada seorang pun yang menetekinya sebelum engkau
bawa kepada Rasulullah SAW” Maka pada pagi harinya saya
membawa bayi itu ke hadapan Rasulullah SAW kemudian Rasulullah
menyuapkan makanan yang telah dikunyah dan bayi itu diberi
nama “Abdullah”.

22. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Yang
dikatakan orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat.
Tetapi, yang dikatakan orang kuat adalah orang yang dapat
mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

23. Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata : “Saya duduk
bersama Nabi SAW, tiba-tiba ada dua orang yang saling
memaki, salah seorang di antara mereka merah mukanya dan
pertikaian hampir terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda
: “Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, apabila
kalimat itu dibaca niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi ;
yaitu apabila ia membaca : “A’UUDZU BILLAAHI
MINASYSYAITHAANIRRAJIIM “ ( saya berlindung kepada Allah
dari godaan syaitan yang terkutuk ), niscaya hilanglah apa
yang sedang terjadi.” Maka para sahabat mengatakan kepada
orang yang sedang bertengkar itu : “Sesungguhnya Nabi SAW
menyuruh kalian supaya berlindung kepada Allah dari syaitan
yang terkutuk .” (HR. Bukhari dan Muslim)

24. Dari Mu’adz bin Anas ra., Nabi SAW bersabda : “Siapa
saja yang menahan marah padahal sebenarnya ia bisa untuk
melampiaskannya, maka pada hari kiamat Allah SWT. akan
memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian ia disuruh
untuk memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang
diinginkannya .” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

25. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ada seseorang
berkata kepada Nabi SAW : “Nasihatilah aku!” Beliau
bersabda : “Janganlah kamu marah ! “ Orang itu berkali-kali
minta nasihat kepada Nabi, tetapi Nabi SAW, tetap
menjawabnya : “Janganlah kamu marah !” (HR. Bukhari)

26. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW,
bersabda : “Orang mukmin, baik laki-laki maupun
perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya,
anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah
Ta’ala tanpa membawa dosa. “ (HR. At-Tirmidzi)

27. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Ketika Uyainah bin
Hishn datang, ia menginap di tempat kemenakannya Al Hurr
bin Qais, ia termasuk orang yang dekat dengan Umar ra. dan
Umar memang mengangkat orang-orang yang pandai di
dalam Al-Qur’an sebagai kawan duduk dan kawan
bermusyawarah, baik tua maupun muda. Uyainah berkata
kepada kemenakannya : “Wahai kemenakanku kamu adalah
orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan
izin agar saya dapat menghadap kepadanya !” Kemudian
kemenakannya memintakan izin, Umar pun mengizinkan.
Ketika Uyainah masuk ia berkata : “Wahai putra Al-
Khaththab, demi Allah engkau tidak berbuat banyak terhadap
kami dan engkau tidak adil di dalam mengadili kami.” Maka
marahlah Umar dan hampir saja ia dipukulnya. Kemudian Al-
Hurr berkata kepada Umar : “Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya
SAW : “Berikanlah maaf, suruhlah untuk berbuat baik dan
janganlah kamu hiraukan orang-orang yang bodoh .” Dan
sebenarnya orang ini adalah termasuk orang yang bodoh.
Demi Allah, ketika ayat ini dibaca, Umar seakan-akan belum
pernah mendengarnya, padahal Umar adalah orang yang
sangat teliti terhadap kitab Allah Ta’ala. “ (HR. Bukhari)

28. Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda :
“Sepeninggalanku akan ada orang yang hanya mementingkan
dirinya sendiri dan ada pula hal-hal yang diingkarinya.” Para
sahabat bertanya : “Wahai …Rasulullah, apa yang harus kami
lakukan ?” Beliau menjawab : “Kamu harus menyampaikan
kebenaran yang kamu ketahui dan memohonlah kepada Allah
agar mendapatkan hakmu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

29. Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair ra., ia berkata : “Ada
seorang sahabat Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah,
mengapa engkau tidak memperkerjakanku sebagaimana
engkau telah memperkerjakan si Fulan ?” Beliau menjawab :
“Sesungguhnya sepeninggalku nanti kamu akan mendapatkan
orang yang suka mementingkan diri sendiri maka bersabarlah
kamu sampai bertemu denganku di dekat Telaga Kautsar .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

30. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa ra., dikatakan
kali tertentu : Rasulullah SAW menanti kedatangan musuh
sehingga matahari tergelincir, maka bangkitlah beliau di
tengah-tengah para sahabat seraya bersabda : “Wahai
manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh
dan mintalah selalu pengampunan-Nya, serta sabarlah.
Ketahuilah, bahwa surga itu di bawah naungan pedang.”1
Kemudian Nabi SAW berdoa : “Wahai Allah yang menurunkan
Kitab, yang menjalankan awan, dan yang mengalahkan
musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk
mengalahkan mereka .” (HR. Bukhari dan Muslim)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Riyadathus Shalihin : Taubat

1. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Saya mendengar dari
Rasulullah SAW, bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuhpuluh kali setiap hari.” (HR. Bukhari)
2. Dari Al-Aghar bin Yasar Al-Muzanniy ra., ia berkata:Rasulullah SAW, bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlahkalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya,sesungguhnya saya bertaubat seratus kali setiap hari.” (HR.Muslim)
3. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshariy (pembantuRasulullah SAW) berkata: Rasulullah SAW, bersabda:“Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya,melebihi kegembiraan seseorang diantara kalian ketikamenemukan kembali untanya yang hilang di padang yangluas.” (Muttafaqalaih)
Dalam riwayat Imam muslim disebutkan, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah sangat gembira menerima taubat hamba-Nya ketika bertaubat kepada-Nya, melebihi dari kegembiraan seseorang yang berkendaraan di tengah padang
pasir tetapi hewan yang dikendarai lari meninggalkannya, padahal di atas hewan itu terdapat makanan dan minuman, kemudian dia berteduh di bawah pohon, dan membaringkan
badannya, sedang ia benar-benar putus asa untuk menemukan kembali hewan yang dikendarainya. Ketika bangkit, tiba-tiba ia menemukan kembali hewan yang dikendarainya lengkap dengan bekal yang dibawanya, ia pun segera memegang tali kekangnya, seraya berkata karena sangat gembira: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-mu.” Ia keliru mengucapkan kalimat itu karena luapan kegembiraannya.”

4. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra., dari Nabi
SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu
membentangkan tangan-Nya (memberikan kesempatan) pada
waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada
waktu siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya
pada waktu siang, untuk taubat orang yang berbuat dosa di
malam hari, hingga matahari terbit dari barat.” (HR Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja bertaubat sebelum matahari terbit dari barat,
niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim)
6. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra.
Dari Nabi SAW, beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah Yang
Maha Agung akan menerima taubat seseorang sebelum
nyawa sampai di tenggorokan (sebelum sekarat).” ( H.R.
Tirmidzi )
7. Dari Zir bin Hubais, ia berkata : “Saya mendatangi Shafwan
bin `Assal ra. untuk menanyakan tentang mengusap ke dua
khuf, kemudian dia menanyaiku: “Wahai Zir, mengapa
engkau kemari?” . Saya menjawab : “Untuk mencari ilmu.” Ia
pun berkata : “Sesungguhnya malaikat membentangkan
sayapnya bagi orang yang mencari ilmu, karena senang
terhadap apa yang dicarinya.” Kemudian aku melanjutkan
pertanyaanku : “Wahai Shafwan saya masih belum jelas
tentang cara mengusap kedua sepatu sesudah berak dan
kencing sedangkan engkau adalah salah seorang sahabat Nabi
SAW, maka saya datang ke sini untuk bertanya kepadamu,
apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan
masalah itu?” Ia menjawab : “Ya, beliau menyuruh kami bila
dalam perjalanan agar tidak melepas khuf selama tiga hari
tiga malam kecuali berjanabat6, tetapi kalau hanya berak,
kencing, atau tidur tidak perlu dilepas.” Saya bertanya lagi
:”Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah SAW,
menyebut tentang cinta?” Ia menjawab : “Betul, ketika kami
datang bepergian bersama Rasulullah SAW mendadak
seorang Badui memanggil Rasulullah SAW dengan suara
keras: Ya..Muhammad,” maka Rasulullah pun menjawab
menyerupai suaranya. Kemudian saya berkata kepada orang
Badui itu : “Rendahkanlah suaramu, karena engkau
berhadapan dengan Nabi SAW Dan kamu dilarang berkata
seperti itu.” Dan orang Badui itu berkata lagi: “Bagaimana
seseorang yang mencintai sekelompok orang, tetapi ia tidak
boleh berkumpul bersamanya?” Nabi SAW menjawab :
“Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya
di hari kiamat.” Beliau selalu bercerita kepada kami, sampai
akhirnya beliau menceritakan tentang sebuah pintu yang
berada di sebelah barat, pintu itu sebesar 40 atau 70 tahun
perjalanan.” Menurut Sufyan, salah seorang perawi dari
daerah Syiria berkata : “Allah Ta`ala menciptakan pintu itu
ketika Ia menciptakan langit dan bumi; pintu itu senantiasa
terbuka untuk menerima taubat dan tidak akan ditutup
sebelum matahari terbit dari arah barat. ( H.R Tirmidzi ) Bab
Taubat, Hal 20-21.
6.Apabila keluar air mani karena mimpi atau bersetubuh
dengan istrinya.
8. Dari Abu Sa`id Sa`ad bin Malik bin Sinan Al- Khudriy ra. Nabi
SAW bersabda : “Sebelum kalian, ada seorang laki-laki
membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk
sekitar tentang seorang yang alim, maka ia ditunjukkan
kepada seorang rahib ( pendeta Bani Israil). Setelah
mendatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh
99 orang, kemudian ia bertanya : “ Apakah ia bisa
bertaubat?”. Ternyata pendeta itu menjawab : “Tidak” Maka
pendeta itupun dibunuh sehingga genaplah jumlahnya
seratus. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang
paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang
laki-laki alim. Setelah menghadap ia bercerita bahwa dirinya
telah membunuh seratus jiwa, dan bertanya : “ Bisakah saya
bertaubat?” Orang alim itu menjawab: “Ya, siapakah yang
akan menghalangi orang bertaubat? Pergilah kamu ke kota ini
(menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud) sebab di sana
terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta`ala.
Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan
kembali ke kotamu. Karena kotamu kota yang jelek!” Lelaki
itupun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan maut
menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara
malaikat Rahmat dengan malaikat Azab, siapakah yang lebih
berhak membawa rohnya. Malaikat Rahmat beralasan bahwa
: “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, lagi pula
menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat
Azab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa)
beralasan: “Orang ini tidak pernah melakukan amal baik.”
Kemudian Allah SWT. mengutus malaikat yang menyerupai
manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah
itu dan berkata: “ Ukurlah jarak kota tempat ia meninggal
antara kota asal dan kota tujuan, Manakah lebih dekat, maka
itulah bagiannya.” Para malaiakat itu lalu mengukur, ternyata
mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat kota tujuan,
maka malaikat Rahmatlah yang berhak membawa roh orang
tersebut.” ( H.R Bukhari dan Muslim ).
Pada riwayat lain di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan : “Ia lebih
dekat sejengkal untuk menuju daerah tujuan, maka ia dimasukkan
dalam kelompok mereka.”
Dalam riwayat lain, di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan :
“Kemudian Allah Ta`ala memerintahkan kepada daerah hitam itu
untuk menjauh dan memerintahkan kepada daerah yang baik itu
untuk mendekat kemudian menyuruh kedua malaikat itu
mengukurnya, akhirnya mereka mendapakan daerah yang baik itu
sejengkal lebih dekat sehingga ia diampuni.”
Di dalam riwayat lain disebutkan: “Allah mengarahkan hatinya
untuk menuju ke daerah yang baik itu”
9. Dari Abdullah bin Ka`ab bin Malik ra. ( beliau adalah seorang
panglima perang), dari anaknya, ia berkata : “Saya
mendengar Ka`ab bin Malik bercerita tentang tertinggalnya
(tidak bersama) Rasulullah SAW Dalam perang Tabuk, Ka`ab
bin Malik berkata : “ Saya selalu bersama Rasulullah SAW
Dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk.
Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar,
tetapi tak seorang pun dicela, karena tidak ikut perang
tersebut. Sebab waktu itu Rasulullah SAW bersama kaum
muslimin keluar bertujuan menghadang rombongan Quraisy,
lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan
musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama
Rasulullah SAW pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah,
ketika kami berjanji memeluk Agama Islam. Saya tidak
merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang
Badar, tetapi tidak mengikuti ba`iat di Jumrah Aqabah,
meskipun perang Badar lebih banyak disebut-sebut
keutamaanya di kalangan manusia daripada Ba`iat Jumrah
Aqabah. Adapun cerita tentang diriku tidak ikut perang Tabuk,
waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat ataupun
lebih mudah (mencari perlengkapan perang), daripada ketika
aku tertinggal Rasulullah SAW daripada ketika aku tertinggal
dari perang Tabuk. Demi Allah sebelum perang Tabuk saya
tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus, tetapi
waktu perang Tabuk kalau mau saya bisa melakukannya.
Dikarenakan Rasulullah SAW berangkat ke Tabuk ketika hari
itu sangat panas, menghadapi perjalanan jauh dan sulit, serta
menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka Rasulullah
merasa perlu membekali kaum muslimin akan kesulitankesulitan
yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin
membuat persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan
tentang tujuan mereka.
Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama
Rasulullah SAW cukup banyak (sekitar 30.000 orang), tetapi
nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku. Sedikit sekali
di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut
perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa
Rasulullah SAW tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah
Ta`ala tidak turun.
Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan dan
tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatiku lebih condong
ke sana (kepada buah-buahan dan tetumbuhan). Tatkala
Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat
mempersiapkan segala sesuatunya, akupun bergegas keluar,
guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun saya
kembali tanpa menghasilkan apa-apa, padahal dalam hati aku
berkata: “Saya mampu mempersiapkannya jika bersungguhsungguh.“
Demikian itu berlangsung terus, dan saya selalu
menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang,
sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya,
di pagi hari Rasulullah SAW beserta kaum muslimin
berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan.
Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya
kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin
bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian
saya putuskan untuk menyusul kaum muslimin. Dengan
perasaan menyesal ia berkata: “Andai saja saya berbuat
demikian, namun takdir menentukan lain,”
Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat
sesudah berangkatnya Rasulullah SAW Hatiku resah dan saya
menganggap diri ini tidak lebih sebagai seorang munafiq, atau
lelaki yang diberi keringanan oleh Allah karena lemah (pada
saat itu, di Madinah yang tinggal hanyalah orang-orang yang
disebut munafiq dan orang-orang yang udzur karena amat
lemah, seperti orang yang tidak dapat berjalan, buta, sakit,
dan sebagainya). (Menurut keterangan teman-teman)
Rasulullah SAW tidak pernah menyebut-nyebut saya, hingga
sampai ke Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau
bertanya : “Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka`ab Bin
Malik?” Salah seorang dari Bani Salimah menjawab : “Ya
Rasulullah, dia terhalang oleh selendangnya dan sedang
memandang kedua pinggangnya (sedang bersenang-senang
memakai pakaiannya). “Tetapi Mu`adz bin Jabal
menghardiknya : “Betapa buruk perkataanmu, Demi Allah,
yang kami ketahui pada Ka`ab hanyalah kebaikan.”
Rasulullah SAW pun diam. Pada saat itulah melihat seorang
lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan.
Rasulullah bersabda: “Mudah-mudahan itu adalah Abu
Khaitsamah.” Ternyata benar, orang itu adalah Abu
Khaitsamah Al-Anshariy. Dialah orang yang bersedekah
segantang kurma, ketika diolik-olok oleh orang munafiq.
Ka`ab meneruskan ceritanya: ”Tatkala saya mendengar,
bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk,
maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai
mereka-reka, alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari
Rasulullah SAW Saya juga meminta bantuan keluargaku
mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Tetapi,
ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW sudah dekat,
hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan,
hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat
menyelamatkan dari Rasulullah SAW selamanya. Karena itu
saya mengatakan yang sebenarnya. Keesokan harinya,
Rasulullah SAW tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari
bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid.
Beliau mengerjakan shalat dua raka`at lalu duduk menunggu
kaum muslimin melaporkan sesuatu dan sebagainya.
Maka berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut ke Tabuk,
menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan
kepada Rasulullah SAW disertai dengan sumpah. Mereka yang
tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih.
Rasulullah SAW Menerima mereka, beliau memperkenankan
memperbaharui bai`at dan memohonkan ampun bagi
mereka, sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada
Allah Ta`ala. Tibalah giliran saya menghadap. Ketika saya
mengucapkan salam beliau tersenyum sinis, kemudian
bersabda : “Kemarilah” Ka`ab berjalan mendekat dan duduk
di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya: “Apa yang
menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau
telah membeli kendaraan?” Saya menjawab: “Ya, Rasulullah!
Demi Allah, andaikan saya duduk di hadapan orang selainmu,
saya yakin dapat bebas dari kemarahannya dengan
menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh,
saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi
Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata
bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah
Ta`ala menggerakan hatimu untuk marah kepada saya.
Sebaliknya, jika saya berkata benar yang membuatmu marah,
maka saya dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari
Allah. Demi Allah, aku tidak mempuyai udzur7.” Demi Allah,
diriku sama sekali tidak merasa kuat dan lebih mudah
daripada ketika aku tidak mengikutimu ke Perang Tabuk.
Sekarang ini, saya merasa cukup segalanya”
Rasulullah SAW, bersabda : Orang ini (Ka`ab bin Malik) telah
berkata benar. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah
terhadap dirimu. Akupun berdiri. Beberapa orang dari Bani
Salimah menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya :
“Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa
sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu
mengemukakan alasan kepada Rasulullah SAW seperti yang
dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk.
Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah SAW memintakan
ampun untukmu.”
Ka`ab melanjutkan : “Demi Allah, orang-orang Bani Salimah
itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya
saya kembali kepada Rasulullah SAW Untuk meralat
perkataanku. Tetapi kemudian aku bertanya kepada orangorang
Bani Salimah itu: “Adakah orang lain yang mengalami
seperti yang saya alami?” Mereka menjawab: “Ya, memang
ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang
engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti
jawaban yang engkau terima.” Saya bertanya :”Siapa
mereka?” Mereka menjawab:” Murarah bin Rabi`ah Al-Amiriy
dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifiy.”
Dua orang lelaki shalih itu telah mengikuti perang Badar dan
dapat kuikuti karena akhlaknya. Sejak saat itu, Rasulullah
SAW melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga.
Sejak itu pula mereka telah mengubah sikap dan menjauhi
kami, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi
yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah kukenal.
Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari.
Dua orang temanku ( Murarah dan Hilal) menyembunyikan
diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada hentihentinya
menangis mohon ampun kepada Allah karena tidak
ikut perang.
Di antara kami bertiga, akulah orang yang paling muda dan
paling kuat. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti salat
jama`ah bersama kaum muslimin, juga pergi ke pasar, tetapi
tak seorangpun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap
Rasulullah SAW Untuk sekadar mengucapkan salam kepada
beliau di tempat duduk beliau sesudah salat. Tetapi hati ini
berkata: “Apakah Rasulullah SAW, akan menggerakan bibir
beliau untuk menjawab salam, ataukah tidak?” Kemudian
saya mengerjakan salat berdekatan dengan beliau, sesekali
aku melirik beliau. Apabila menghadap ke salat, beliau
memandangku, kalau menengok ke arah beliau, beliau
berpaling dari saya.
Hal ini terjadi berturut-turut sampai suatu hari saya berjalanjalan,
lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah. Dia
adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi.
Kuucapkan salam kepadanya, demi Allah, bukankah engkau
tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?” Abu
Qatadah diam saja. Sehingga kuulangi pertanyaanku, dia
tetap diam, sesudah saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi,
barulah dia menjawab:”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Seketika itu mengalirlah air mata saya dan saya pun pulang.
Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan-jalan di kota
Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Kristen dari
Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan
makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang
berada di pasar) :” Siapakah yang dapat menunjukkanku
kepada Ka`ab bin Malik?” orang-orang memberikan isyarak
ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan
sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah saya
baca ternyata isinya sebagai berikut: ”Amma ba`du. Sungguh
kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad SAW)
mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu
untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu
datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.”
Saat membaca surat itu aku berpikir: ”Ini juga merupakan
cobaan.” Kemudian saya bakar surat itu di dapur. Selang
empat puluh hari, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah SAW
Datang kepadaku dan berkata : “Rasulullah SAW
memerintahkanmu untuk menjauhi isterimu.” Ka`ab
bertanya: “Apakah saya harus menceraikannya atau
bagaimana?”
Utusan itu menjawab :”Tidak, tetapi hindarilah dia, jangan
dekat-dekat padanya!”
Rasulullah SAW juga mengirimkan utusan kepada kedua
orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama
dengan yang kuterima. Saya berkata kepada isteriku:
”Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah
engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.
Suatu saat isteri Hilal bin Umayyah menghadap kepada
Rasulullah SAW Memohon kepada beliau :”Ya Rasulullah!
Suamiku, Hilal bin Umayyah, adalah seorang tua
sebatangkara dan tidak mempunyai pelayan, Apakah engkau
keberatan bila aku melayaninya?” Rasulullah SAW menjawab:
”Tidak, tetapi yang saya maksud jangan sampai dia dekatdekat
padamu.” Isteri Hilal pun berkata: ”Demi Allah, Hilal
sudah tidak lagi mempunyai keinginan sedikitpun(gairah)
terhadapku. Dan demi Allah, tak henti-hentinya dia menangis
sejak engkau melarang kaum muslimin berbicara dengannya,
sampai hari ini.”
Sebagian keluarga berkata kepada saya : “Hai Ka`ab! Kalau
saja engkau meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk
isterimu tentu itu lebih baik, sebagaimana isteri Hilal bin
Umayyah untuk melayani suaminya.” Saya menjawab: ”Saya
tidak akan meminta izin kepada Rasulullah SAW Saya tidak
tahu apa yang akan dikatakan Rasulullah SAW Apabila saya
meminta izin beliau, sedangkan saya seorang yang masih
muda.”
Saya lalui kehidupan tanpa isteri itu selama sepuluh hari
(menunggu keputusan Allah). Genaplah sudah bagi kami, lima
puluh hari sejak ada larangan berbicara dengan kami.
Kemudian pada hari ke lima puluh, di bagian atas rumahku
pada saat aku sedang duduk ketika shalat shubuh, Allah
menyebut-nyebut tentang kami. Di saat itu pula hatiku sangat
resah, bumi yang sedemikian luas seakan sempit bagiku.
Kemudian aku mendengar suara orang yang berteriak-teriak
naik ke atas Sal`i. “Hai Ka`ab bin Malik, bergembiralah !”
Serta merta aku menjatuhkan diri bersujud syukur dan aku
tahu. Bahwa saya dapat penyelesaian.
Rasulullah SAW memberi tahu kepada kaum muslimin, bahwa
Allah Yang Mahaagung dan Maha Tinggi telah menerima
taubat kami bertiga. Kabar itu disampaikan seusai beliau
mengerjakan shalat Subuh. Maka kaum muslimin
berdatangan mengucapkan selamat dan ikut bergembira, juga
kepada kedua orang teman (Murarah dan Hilal). Mereka ada
yang datang berkuda, ada lagi penduduk Aslam yang berjalan
kaku dan ada pula yang naik gunung berteriak mengucapkan
selamat, sehingga suaranya lebih cepat dari larinya kuda.
Ketika saya mendengar ucapan selamat dari orang pertama
dan datang kepada saya, seketika itu juga saya melepaskan
pakaian dan saya kenakan kepadanya. Padahal demi Allah
waktu itu saya tidak memiliki pakaian.
Setelah itu, saya meminjam pakaian dan berangkat untuk
menghadap Rasulullah SAW Sementara kaum muslimin
menyambutku, mengucapkan selamat atas diterimanya
taubatku. Mereka berkata kepada saya : “Selamat atas
pengampunan Allah kepadamu.”
Demikianlah, sepanjang jalan kaum muslimin memberikan
selamat. Sesampainya di masjid, ternyata Rasulullah SAW
Sedang duduk dikelilingi oleh para sahabat. Melihat
kedatanganku, sahabat Thalhah bin Ubaidillah segera berdiri
menyongsongku. Menjabat tangan saya dan memberi
selamat. Demi Allah! Tak seorangpun di antara para sahabat
Muhajirin yang berdiri, kecuali dia. Karena itulah Ka`ab tak
bisa melupakan kebaikannya.
Ka`ab meneruskan ceritanya.:”Tatkala saya mengucapkan
salam kepada Rasulullah SAW Beliau menyambut saya
dengan wajah berseri-seri dan berkata:”Bergembiralah!
Karena, hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak
kamu dilahirkan ibumu.”Aku bertanya: “Wahai Rasulullah
apakah darimu sendiri ataukah dari sisi Allah?” Beliau SAW
Menjawab :”Dari Allah yang Mahaagung dan Maha Tinggi.”
Jika merasa senang, wajah Rasulullah SAW, bersinar terang,
seolah-olah merupakan potongan rembulan. Melalui
wajahnya, kami mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang
senang hatinya.
Ketika saya duduk menghadap beliau, aku berkata:”Ya
Rasulullah, sungguh, termasuk taubat saya (sebagai
pernyataan rasa syukurku), aku hendak menyerahkan harta
bendaku sebagai sedekah untuk (mendapakan ridha) Allah
dan Rasul-Nya.” Rasulullah SAW, bersabda: ”Simpanlah
sebagian harta bendamu (Jangan engkau serahkan
seluruhnya). Itu lebih baik. ”Kemudian saya menjawab: ”Saya
masih mempunyai tanah yang menjadi bagian saya hasil dari
rampasan perang di Khaibar.” Lebih lanjut saya berkata:”Ya
Rasulullah, sesungguhnya, Allah telah menyelamatkanku
karena kejujuran. Dan saya nyatakan, bahwa termasuk
taubatku (sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah).
Saya tidak akan berbicara selain yang benar, selama hidup
saya.” Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorangpun di
antara kaum muslimin yang diuji Allah Ta`ala untuk berkata
jujur, lebih baik dari saya semenjak berjanji kepada Rasululah
SAW Hingga kini, aku tidak pernah sengaja berbohong. Dan
saya berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku.
Kemudian Allah menurunkan ayat surat At-taubah.:”
Sesungguhnya Allah telah benar-benar menerima taubat Nabi,
sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi
(Berangkat ke Tabuk) dalam masa kesulitan (mencari
perlengkapan perang), sesudah hati segolongan dari para
sahabat tersebut hampir saja berpaling (saking berat dan
payahnya), kemudian Allah menerima taubat mereka,
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
terhadap mereka. Dan juga terhadap tiga orang (Ka`ab, Hilal,
dan Murarah) yang ditangguhkan (keputusan penerimaan)
taubat mereka, sehingga manakala bumi telah menjadi
sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan merekapun
telah sempit pula dirasakan oleh mereka, serta mereka tahu
bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan
kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka,
agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah
Zat Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Hai orangorang
yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah kalian berkumpul dengan orang-orang yang
benar.” Menurut Ka`ab, demi Allah! Belum pernah Allah
memberikan nikmat, sesudah Dia memberi saya petunjuk
memeluk islam yang melebihi kejujuran saya kepada
Rasulullah SAW Sebab, andaikata saya berbohong kepada
beliau, pastilah bencana menimpa saya (rusak agamaku),
sebagaimana orang-orang munafiq yang berdusta kepada
beliau. Sungguh, Allah berfirman untuk orang-orang yang
mendustai Rasulullah SAW dan mengecam betapa jelek orang
tersebut.
Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah, ayat 95
dan 96:”Orang-orang munafik itu akan bersumpah dengan
nama Allah kepada kalian, apabila kalian kembali kepada
mereka (di Madinah), agar kalian berpaling dari mereka (tidak
mencela mereka). Maka berpalinglah kalian dari mereka,
karena sesungguhnya mereka itu najis (hatinya) dan tempat
mereka adalah Jahannam (di Akhirat), sebagai balasan atas
apa yang mereka perbuat. Mereka akan bersumpah kepada
kalian, supaya kalian ridha terhadap mereka. Tetapi, jika
sekiranya kalian ridha terhadap mereka, maka ketahuilah
sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang yang fasik.”
Lebih lanjut Ka`ab berkata: ”Urusan kami bertiga ditunda dari
urusan orang-orang munafiq, ketika mereka bersumpah
kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerima bai`at mereka
dan meminta ampun kepada Allah. Tetapi masalah kami
ditunda Rasulullah SAW Sampai Allah memutuskan menerima
taubat kami.
Sebagaimana firman Allah Ta`ala :”Dan terhadap tiga orang
yang ditangguhkan taubatnya.”
Firman Allah tersebut menurut Ka`ab, bukan berarti kami
bertiga ketinggalan dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti
bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafiq
yang bersumpah kepada Rasulullah SAW Dan menyampaikan
bermacam-macam alasan yang kemudian diterima oleh
Rasulullah SAW”
( H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain : “ Nabi SAW Pada waktu perang Tabuk keluar
pada hari kamis; dan memang sudah menjadi kesukaan beliau
untuk bepergian pada hari kamis”
Dalam salah satu riwayat disebutkan :”Biasanya beliau kalau datang
dari bepergian pada waktu pagi, dan bila datang biasanya langsung
ke masjid dan salat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya.”
10. Dari Abu Nujaki Imran bin Al-Husain Al-Khuza`iy ra., ia
berkata :”Ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada
Rasulullah SAW, sedangkan ia sedang hamil karena berzina
dan berkata:”Ya Rasulullah, saya telah melakukan kesalahan,
dan saya harus di had(hukum), maka laksanakanlah had itu
pada diri saya. ”Kemudian Nabi SAW memanggil walinya9
seraya bersabda: “perlakukanlah baik-baik wanita ini, apabila
sudah melahirkan, bawalah kemari.”Maka dilaksanakan
perintah itu oleh walinya. Kemudian setelah wanita itu
melahirkan, dibawalah ke hadapan Rasulullah SAW Dan
memerintahkan untuk wanita, maka diikatkanlah pakaiannya
untuk dirajam.
Setelah ia mati, maka Rasulullah SAW menyalatkannya.
Namun Umar berkata kepada beliau: ”Ya Rasulullah, mengapa
engkau menyalatkan wanita itu, padahal ia telah berzina.”
Beliau menjawab : “Wanita itu benar-benar bertaubat, dan
seandainya taubatnya dibagi pada tujuh puluh penduduk
Madinah, niscaya masih cukup. Pernahkah kamu
mendapatkan orang yang lebih utama daripada seseorang
yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Tang
Maha Mulia lagi Maha Agung?” ( H.R Muslim)
9 Orang yang bertanggung jawab terhadap dia, di antaranya
orang tua, saudara laki-laki, pamannya atau kerabat dekat yang
lain.
11. Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra., Rasulullah SAW
bersabda : ”Seandainya seorang mempunyai satu lembah dari
emas, niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak
akan merasa puas kecuali tanah sudah memenuhi mulutnya10.
Dan Allah senantiasa menerima taubat orang yang
bertaubat.” ( H.R Bukhari dan Muslim)
10 Tidak akan puas untuk mengumpulkan harta , sebelum ia
meninggal dunia.
12. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW Bersabda: ”Allah
gembira manakala ada dua orang yang saling membunuh dan
keduanya masuk surga. Pertama, seseorang yang mati
berjuang di jalan Allah. Yang kedua, orang yang membunuh
itu bertaubat kepada Allah, kemudian masuk Islam dan
terbunuh di Jalan Allah (mati syahid)”.
(H.R Bukhari dan Muslim).

Sumber : sufiroad.blogspot.com


Pengenalan Diri


Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis : “Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya,” dan sebagaimana dikatakan Al Quran : “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka.” [QS 41 : 53]

Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang diri sendiri dari sisi lahiriah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tak akan mengantarmu untuk mengenal Tuhan. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukanlah kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan. Bagaimana bisa kau mencapai kemajuan dalam perjalanan ini jika kau mengandalkan insting hewani serupa itu ?

Sesungguhnya pengetahuan yang benar tentang diri meliputi beberapa hal berikut :
Siapa aku dan dari mana aku datang ? kemana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan dimanakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan ? ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam dalam dirimu : hewan, setan dan malaikat. Harus kau temukan, mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu , kau takkan temukan kebahagiaan sejati.

Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Karena itu, jika engkau hewan, sibukkanlah dirimu dalam aktivitas itu. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan tipu daya, dan dusta. Jika kau termasuk golongan setan, lakukan yang biasa ia kerjakan. Sementara, malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sepenuhnya bebas dari sifat hewani. Jika kau punya sifat malaikat, berjuanglah menemukan sifat-sifat asalimu agar kau dapat mengenali dan merenungi DIA Yang Maha Tinggi serta terbebas dari perbudakan syahwat dan amarah. Berupayalah untuk mencari tahu mengapa kau diciptakan dengan kedua insting hewan ini, syahwat dan amarah, sehingga kau tidak ditundukkan dan diperangkap keduanya. Alih-alih diperbudak keduanya, kau harus menundukkan mereka dan mempergunakannya sebagai kuda tunggangan dan senjatamu.

Langkah pertama untuk mengenal diri adalah menyadari bahwa dirimu terdiri atas bentuk luar yang disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut qalb atau ruh. Qalb yang saya maksudkan bukanlah segumpal daging yang terletak di dada kiri, melainkan tuan yang mengendalikan semua fakultas lainnya dalam diri serta mempergunakannya sebagai alat dan pelayannya. Pada hakikatnya, ia bukan sesuatu yang indrawi, melainkan sesuatu yang gaib; ia muncul di dunia ini sebagai pelancong dari negeri asing untuk berdagang dan kelak akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud dan sifat-sifatnya inilah yang menjadi kunci mengenal Tuhan.

Sebagian pemahaman mengenai hakikat hati atau ruh dapat diperoleh seseorang dengan mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain dirinya sendiri. Dengan begitu, ia akan mengetahui ketakterbatasan sifat dirinya itu. Namun syariat melarang kita menelisik hakikat ruh sebagaimana ditegaskan Al Quran : “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan : ruh adalah urusan Tuhanku.”[QS 17 : 85]
Jadi, sedikit yang dapat diketahui hanyalah bahwa ia merupakan suatu esensi tak terbagi yang termasuk dalam dunia titah [amr], dan bahwa ia bukanlah sesuatu yang abadi, melainkan ciptaan. Pengetahuan filosofis yang tepat mengenai ruh bukanlah awal yang niscaya untuk meniti jalan ruhani. Pengetahuan itu akan didapatkan melalui disiplin diri dan kesabaran menapaki jalan ruhani, sebagaimana dikatakan Al Quran : “Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami [yang lurus].” [QS 29 : 69]

Untuk memahami lebih jauh perjuangan batin untuk benar-benar mengenal diri dan Tuhan, kita dapat melihat jasad kita sebagai sebuah kerajaan; jiwa sebagai rajanya dan indra beserta fakultas lain sebagai tentaranya. Akal bisa disebut perdana menterinya, syahwat sebagai pemungut pajak, dan amarah sebagai polisi. Dengan alasan mengumpulkan pajak, syahwat selalu ingin merampas segala hal demi kepentingan sendiri, sementara amarah cenderung bersikap kasar dan keras. Pemungut pajak dan polisi harus selalu ditempatkan di bawah raja, tetapi tak mesti dibunuh atau ditindas, karena mereka punya peran tersendiri yang harus dipenuhinya. Namun jika syahwat dan amarah menguasai nalar, maka jiwa pasti runtuh. Jiwa yang membiarkan fakultas-fakultas yang lebih rendah menguasai yang lebih tinggi, ibarat orang yang menyerahkan bidadari kepada seekor anjing, atau seorang musim kepada seorang raja kafir yang zalim.

Memelihara sifat-sifat setan, hewan, atau malaikat akan melahirkan watak yang bersesuaian dengannya di hari kiamat akan mewujud dalam rupa yang kasat mata, seperti syahwat menjadi babi, amarah menjadi anjing dan srigala, serta kesucian mewujud dalam rupa malaikat. Pendisiplinan moral bertujuan membersihkan kalbu dari karat syahwat dan amarah sehingga sebening cermin yang mampu memantulkan cahaya ilahi.

Mungkin ada orang yang berkeberatan dan menanyakan, “jika manusia diciptakan dengan sifat-sifat hewan, setan dan malaikat, bagaimana kita bisa tahu bahwa sifat malaikat adalah esensi kita, sementara sifat hewan dan setan hanyalah aksidensi ?.”
Jawabannya, esensi setiap makhluk adalah sesuatu yang tertinggi dan khas dalam dirinya. Contohnya, kuda dan keledai adalah hewan pengangkut beban, tetapi kuda lebih unggul karena ia dipergunakan juga untuk perang. Jika tidak, kuda terpuruk hanya menjadi hewan pengangkut beban. Fakultas tertinggi dalam diri manusia adalah akal yang memampukannya merenung tentang Tuhan. Jika akal mendominasi, maka ketika mati ia terbebas dari kecenderungan syahwat dan amarah, sehingga dapat bergabung dengan para malaikat. Dibandingkan dengan beberapa jenis hewan, manusia jauh lebih lemah. Berkat akal, ia dapat mengungguli mereka sebagaimana dikatakan Al Quran : “Telah kami tundukkan segala sesuatu di atas bumi untuk manusia.” [QS 45 : 13]
Sebaliknya, jika sifat hewani atau setan yang berkuasa, maka setelah mati ia akan selalu menghadap ke bumi dan mendambakan kesenangan duniawi.

Betapa mengagumkan, jiwa rasional [akal] manusia berlimpah dengan pengetahuan dan kekuatan. Berkat keduanya ia dapat menguasai seni dan sains, mampu bolak-balik dari bumi ke angkasa secepat kilat, dapat memetakan langit dan mengukur jarak antarbintang. Berkat ilmu dan kekuatan ia juga dapat menangkap ikan dari lautan dan burung di udara, bahkan kuasa menundukkan binatang liar seperti gajah, unta dan kuda. Panca indranya bagaikan lima pintu yang terbuka menghadap dunia luar. Namun yang paling menakjubkan dari semua itu adalah kalbunya yang memiliki jendela terbuka ke dunia ruh yang gaib. Dalam keadaan tidur, ketika saluran indranya tertutup, jendela ini terbuka menerima berbagai gambaran dari dunia gaib, yang kadang-kadang mengabarkan isyarat tentang masa depan. Kalbunya bagaikan sebuah cermin yang memantulkan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh. Tetapi, bahkan di saat ia tidur, pikiran-pikiran yang bersifat duniawi akan memburamkan cermin tersebut sehingga kesan-kesan yang diterimanya tidak jelas. Bagaimanapun, saat kematian datang, semua pikiran seperti itu akan sirna dan hakikat segala sesuatu tampak sejelas-jelasnya. Saat itulah yang dimaksud dalam ayat Al Quran : “kamu lalai dari [hal] ini. Kami singkapkan tutup matamu sehingga penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” [QS 50 : 22]

Jendela dalam kalbu ini juga dapat terbuka dan mengarah ke dunia gaib di saat-saat yang menyerupai ilham kenabian, yakni ketika intuisi muncul dalam pikiran tanpa melalui perangkat indrawi. Makin seseorang memurnikan dirinya dari hasrat badani dan memusatkan pikiran kepada Tuhan, semakin peka ia terhadap intuisi-intuisi seperti itu. Orang yang tidak menyadari intuisi semacam itu tak berhak menyangkal keberadaannya.

Dan tidak hanya para nabi yang bisa menerima intuisi seperti itu. Layaknya sebatang besi yang terus dipoles akan berubah menjadi cermin, pikiran siapapun akan mampu menerima intuisi seperti itu jika dilatih dengan disiplin yang keras. Kebenaran inilah yang diisyaratkan oleh Nabi ketika beliau bersabda : “setiap anak dilahirkan dengan fitrah [kecenderungan menjadi musli]; orang tuanya kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Setiap manusia di lubuk terdalam kesadarannya mendengar pertanyaan, “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?,” dan menjawab, “ya” [referensi QS 7 : 172]. Tetapi kebanyakan kalbu manusia bagaikan cermin yang telah tertutup karat dan kotoran sehingga tidak dapat memantulkan gambaran yang jernih. Berbeda dengan kalbu para nabi dan wali yang, meski mereka pun memiliki nafsu serupa kita, sangat peka terhadap kesan-kesan ilahiah.

Sebagaimana dikatakan di atas, jiwa rasional dilimpahi pengetahuan dan kekuatan. Jadi, intuisi seperti itu tidak hanya bisa diraih dengan pengetahuan, yang membuat manusia lebih unggul dari semua makhluk lainnya, tetapi juga dengan kekuatan. Sebagaimana malaikat menguasai pelbagai kekuatan alam, jiwa manusia pun berkuasa mengatur semua anggota badan. Jiwa yang telah mencapai tingkat kekuatan tertentu, tidak saja dapat mengatur jasadnya sendiri, melainkan juga jasad orang lain. Jika ia ingin agar seseorang yang sakit sembuh, si sakit akan sembuh, atau jika ingin seseorang yang sehat agar jatuh sakit, sakitlah orang itu, atau jika ia inginkan kehadiran seseorang, orang itu akan dating dihadapannya. Baik atau buruk akibat yang ditimbulkan oleh jiwa yang sangat kuat ini bergantung pada sumber kekuatannya, sihir ataukah mukjizat.

Ada tiga hal yang membedakan jiwa yang sangat kuat ini dari jiwa orang kebanyakan.
Pertama, apa yang dilihat orang lain hanya dalam mimpi, mereka melihatnya di saat-saat jaga.
Kedua, sementara kehendak orang lain hanya mempengaruhi jasad mereka, jiwa ini, dengan kekuatan kehendakNya, bisa pula menggerakkan jasad orang lain.
Ketiga, jika orang lain mesti belajar keras untuk mendapatkan suatu pengetahuan, ia mendapatkannya melalui intuisi.

Tentu saja ada banyak hal lain yang membedakan jiwa mereka dari jiwa kebanyakan manusia. Namun, ketiga tanda itulah yang dapat diketahui umum. Sebagaimana tidak ada sesuatupun yang mengetahui hakikat sifat-sifat Tuhan kecuali Tuhan, sifat sejati seorang nabi pun hanya diketahui oleh nabi. Tak perlu merasa heran, karena dalam kehidupan sehari-haripun kita tak mungkin menerangkan keindahan puisi pada seseorang yang tak peka terhadap rima dan irama, atau menjelaskan keindahan warna kepada seorang yang buta. Selain ketidakmampuan, ada perintang-perintang lain untuk mencapai kebenaran spiritual. Satu di antaranya adalah pengetahuan capaian lahiriah. Jelasnya, hati manusia bisa digambarkan sebagai sumur dan panca indra sebagai lima aliran yang terus mengaliri sumur itu. Untuk mengetahui kandungan hati yang sebenarnya, kita harus menghentikan aliran-aliran tersebut dan membersihkan sampah yang dibawanya. Dengan kata lain, jika kita ingin sampai kepada kebenaran ruhani yang murni, kita mesti membuang pengetahuan yang telah dicapai melalui proses indrawi dan yang sering kali mengeras menjadi prasangka dogmatis.

Namun banyak juga orang yang salah kaprah menyikapi pengetahuan capaian lahiriah ini. Banyak orang yang dangkal ilmunya, seraya mengutip beberapa ungkapan yang mereka dengar dari guru-guru sufi, bercuap-cuap mencela dan menajiskan semua jenis pengetahuan. Ia tak ubahnya seseorang yang tak tahu kimia lalu berkoar : “kimia lebih baik daripada emas,” seraya menolak emas ketika ditawarkan kepadanya. Kimia memang lebih baik dari emas, tetapi alkemis sejati amatlah langka,begitupun sufi sejati.

Setiap orang yang mengkaji persoalan in akan melihat bahwa kebahagiaan sejati tak bisa dilepaskan dari makrifat, mengenal Tuhan. Tiap fakultas dalam diri manusia menyukai segala sesuatu yang untuk itu dia diciptakan. Syahwat senang memenuhi hasrat nafsu, kemarahan menyukai balas dendam, mata menyukai pemandangan indah, dan telinga senang mendengar suara-suara merdu. Jiwa manusia diciptakan dengan tujuan agar ia mencerap kebenaran. Karenanya, ia akan merasa senang dan tenang dalalm upaya tersebut. Bahkan dalam persoalan yang remeh sekalipun, seperti permainan catur, manusia merasakan kesenangan. Dan, semakin tinggi materi pengetahuan yang didapat, semakin besar rasa senangnya. Orang akan senang jika dipercaya menjadi perdana menteri, tetapi ia akan jauh senang jika semakin dekat kepada raja yang mungkin mengungkapkan berbagai rahasia kepadanya.

Seorang astronom yang dengan pengetahuannya bisa memetakan posisi bintang-bintang dan menguraikan lintasan-lintasannya, pasti merasa jauh lebih senang ketimbang pemain catur. Maka tentu saja hati ini akan merasa teramat bahagia saat mengetahui bahwa tak ada sesuatupun yang lebih tinggi dari Allah. Pengetahuan tentang Allah merupakan satu-satunya subyek pengetahuan tertinggi sehingga orang yang berhasil meraihnya pasti akan merasakan puncak kesenangan.

Orang yang tak menginginkan pengetahuan ini tak beda dengan orang yang tak menyukai makanan sehat; atau layaknya orang yang lebih suka lempung ketimbang roti. Ketika kematian datang dan membunuh semua organ tubuh yang bisa diperalat nafsu, semua dorongan dan hasrat badani musnah, tetapi jiwa manusia tidak. Ia akan tetap hidup dan menyimpan segala pengetahuannya tentang Tuhan, malah pengetahuannya semakin bertambah.

Satu bagian penting dari pengetahuan tentang Tuhan timbul dari kajian dan perenungan atas jasad manusia yang menampilkan kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Penciptanya. Dengan kekuasaanNya, Dia membangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa ini hanya dari setetes air mani. Kerumitan jasad kita dan kemampuan setiap bagiannya untuk bekerja secara harmonis menunjukkan kebijakanNya. CintaNya Dia perlihatkan dengan memberi organ tubuh yang mutlak diperlukan manusia, seperti hati, jantung, dan otak, dan juga organ yang tidak mutlak dibutuhkan, seperti tangan, kaki, lidah dan mata. Lalu Dia menyempurnakan ciptaanNya itu dengan menambahkan rambut yang hitam, bibir yang memerah, dan bulu mata yang melengkung.

Karena itu sangat pantas jika manusia disebut alam al shaghir [mikrokosmos]. Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang yang ingin menjadi dokter, melainkan juga oleh orang yang ingin mencapai pengetahuan lebih dalam tentang Tuhan, sebagaimana studi yang mendalam tentang keindahan dan gaya bahasa pada sebuah puisi yang indah akan mengungkapkan lebih banyak kegeniusan penulisnya.

Namun dibandingkan pengetahuan tentang jasad beserta fungsi-fungsinya, pengetahuan tentang jiwa lebih banyak berperan mengantar manusia pada pengetahuan tentang Tuhan. Jasad bisa diumpamakan seekor kuda sementara jiwa adalah penunggangnya. Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seseorang tidak mengetahui jiwanya, sesuatu yang paling dekat kepadanya, maka pengakuannya bahwa ia mengetahui hal-hal lain tidak berarti apa-apa. Ia tak ubahnya pengemis yang tak punya persediaan makanan, lalu mengaku bisa memberi makan seluruh penduduk kota.

Orang yang mengabaikan kebesaran jiwa manusia dan menodai kesuciannya dengan mengotori atau bahkan merusaknya, pasti akan kalah di dunia dan di akhirat. Kebesaran manusia yang sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk terus maju dan berkembang. Tanpa kemampuan itu ia akan menjadi makhluk lainnya, takluk oleh rasa lapar, haus, panas, dingin, dan musnah oleh penderitaan. Sering kali apa yang disukai seseorang justru sangat membahayakan dirinya. Dan segala hal yang memajukannya tidak bisa diperoleh kecuali dengan kesusahan dan kerja keras. Intelektualitas manusia sesungguhnya sangat rapuh. Sedikit saja kekacauan dalam otaknya sudah cukup untuk merusak atau membuatnya gila. Dan fisiknya pun lebih lemah dibanding dengan hewan; bahkan sengatan tawon saja sudah mampu mengusik ketenangan dan kesehatannya. Tabiatnya bahkan lebih lemah lagi. Satu rupiah hilang dari kantongnya ia kelabakan dan gelisah tak keruan. Kecantikannya pun, berkat kulitnya yang lembut, hanya sedikit lebih baik daripada makhluk lainnya. Jika tidak sering dicuci, manusia akan tampak sangat menjijikkan dan memalukan.

Sebenarnya manusia merupakan makhluk yang teramat lemah dan hina di dunia ini. Kebernilaian dan keutamaannya hanya akan mewujud di negeri akhirat. Melalui pendisiplinan diri ia akan naik dari tingkatan hewan ke tingkatan malaikat. Karena itu, disertai kesadaran sebagai makhluk terbaik dan paling unggul, ia harus berusaha mengetahui ketakberdayaannya, karena pengetahuan itu menjadi salah satu kunci untuk membuka pengetahuan tentang Allah.

Wallahualam bishhowab

sumber : Sufi Road

Halaman Ke