Kamis, 20 Januari 2011

Sholawat Nariyah


Allohumma sholli ’sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lummin lak”

Artinya :Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

Penjelasan
Sholawat Tafrijiyyah (sholawat memohon kelepasan dari kesusahan dan bencana) adalah antara sholawat yang terkenal diamalkan oleh para ulama kita. Sholawat ini juga dikenali sebagai Sholawat at-Tafrijiyyah al-Qurthubiyyah (dinisbahkan kepada Imam al-Qurthubi), dan ada juga ulama yang menisbahkannya kepada Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam al-Husain.
Dalam kitab Khozinatul Asror (hlm. 179) dijelaskan, “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah).”

“Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yang mumpuni:. .. Dan imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

Sholawat an-Naariyah menjadi amalan apabila ingin melaksanakan sesuatu hajat atau menolak sesuatu bencana, mereka akan berkumpul dan membaca sholawat ini 4444 kali lalu terkabul hajat mereka dan tertolak segala malapetaka secepat api yang menyambar atau membakar. Ianya juga dikenali sebagai Miftahul Kanzil Muhiith li naili muraadil ‘abiid (kunci perbendaharaan yang meliputi untuk menyampaikan harapan si hamba).

Sholawat ini mempunyai keistimewaannya kerana selain sholawat ianya merupakan tawassul kepada Allah dengan Junjungan Nabi s.a.w. di mana kita menyebut nama dan dhamir Junjungan s.a.w. sebanyak 8 kali.Menurut Imam al-Qurthubi sesiapa yang melazimi akan sholawat ini setiap hari 41 kali atau 100 kali atau lebih, nescaya Allah melepaskan kedukaan, kebimbangan dan kesusahannya, menyingkap penderitaan dan segala bahaya, memudahkan segala urusannya, menerangi sirnya, meninggikan kedudukannya, memperbaikkan keadaannya, meluaskan rezekinya, membuka baginya segala pintu kebajikan, kata-katanya dituruti, diamankan dari bencana setiap waktu dan dari kelaparan serta kefakiran, dicintai oleh segala manusia, dimakbulkan permintaannya. Akan tetapi untuk mencapai segala ini, seseorang itu hendaklah mengamalkan sholawat ini dengan mudaawamah (berkekalan).

Imam as-Sanusi berkata bahawa sesiapa yang melazimi membacanya 11 kali setiap hari, maka seakan-akan rezekinya turun langsung dari langit dan dikeluarkan oleh bumi.

Imam ad-Dainuri berkata bahawa sesiapa yang membaca sholawat ini dan menjadikannya wirid setiap selepas sholat 11 kali, nescaya tidak berkeputusan rezekinya, tercapai martabat yang tinggi dan kekuasaan yang mencukupi.
-Siapa yang mendawamkannya selepas sholat Subuh setiap hari 41 kali, tercapai maksudnya.
-Siapa yang mendawamkannya 100 kali setiap hari, terhasil kehendaknya dan memperoleh kehormatan/kemuliaan melebihi kehendaknya.
-Siapa yang mendawamkannya setiap hari menurut bilangan para rasul (313 kali) untuk menyingkap segala rahsia, maka dia akan menyaksikan segala apa yang dikehendakinya.
-Siapa yang mendawamkannya 1000 kali sehari, maka baginya segala yang tidak dapat hendak diterang dengan kata-kata, tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar dan tidak pernah terbetik di hati manusia.


Hadits riwayat Ibnu Mundah dari Jabir mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca shalawal kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia… Dan hadits Rasulullah yang mengatakan; Perbanyaklah shahawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah yang dikutib juga dalam Khozinatul Asror.

Diriwayatkan juga Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits, beliau bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal -amal kalian disampaikan kepadaku, jika saya tahu amal itu baik, aku memujii Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. Hadits riwayat al-Hafizh Ismail al Qadhi, dalam bab Shalawat ‘ala an-Naby. Imam Haitami menyebutkan dalam kitab Majma’ az-Zawaid, ia menganggap shahih hadits di atas.

Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa untuk umatnya pasti bermanfaat. Ada lagi hadits lain: Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa mennjawab salam itu. (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih).

Sholawat Nuril Anwar

Allahumma shalli 'alaa nuuril anwaari wasirril asraari, watiryaaqil aghyaari wamiftaahi baabil yasaari, sayyidinaa wamaulaana Muhammadinil muhtaari wa aalihil ath haari wa ash haabihil ahyaari 'adada ni'amillaahi wa ifdhaalih.

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, pe-nawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Say-yidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada ke-luarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya."

Penjelasan:
Shalawat ini bersumber dari Sayyid Ahmad Al-Badawi r.a., Sayyid Ahmad Ruslan mengomentari shalawat ini, "Sha-lawat ini sangat mujarab untuk menunaikan hajat, mengusir kesusahan, menolak bencana, dan memperoleh ca-haya; bahkan sangat manjur untuk segala keperluan."
Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani rhm. dalam "Afdhalush Sholawat" menukil sebagaimana di atas daripada Sidi Ahmad Zaini Dahlan rhm. dengan sedikit tambahan, yaitu: ".....bahkan sholawat ini mujarrab untuk segala sesuatu dan bilangan wiridannya adalah 100 kali setiap hari.
Hikmah dari membaca sholawat ini ialah menerangkan hati dapat menyingkap rahasia-rahasia ilmu dan mengobati bisa-bisa dan pembuka rezeki. Sholawat ini hendaklah dibaca setiap hari 100 kali atau 92 kali.
Jika dibaca setiap selesai shalat fardhu, maka akan terhindar dari segala mara bahaya dan memperoleh rizki dengan mudah
Jika dibaca 7 kali sebelum tidur, insya Allah akan terhindar dari sihir yang dilakukan orang jahat
Jika dibaca 100 kali sehari semalam, akan memperoleh cahaya Illahi, menolak bencana, mendapat rizki lahir batin

Sholawat Nurridzati


Allaahumma shalli wasallim 'ala sayyidinaa Muhammadinin nuuridz dzaatii wassirrissaarii fii saairil asmaai wash shifaati wa'alaa aalihi washah bihii wasallim

Artinya :
Ya Allah berikanlah rahmat keselamatan dan berkah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW merupakan cahaya Dzat (Allah) dan merupakan raasia yang mengalir pada seluruh nama dan sifat dan berikanlah pula salam sejahtera, barokah atas keluarganya dan para sahabatnya.

Fadhilah :
Lafadz sholawat Nuridzzati disusun oleh Imam Syadzali, kata beliau satu sholawat nilainya sama dengan 100.000 sholawat. Gunanya ialah untuk menghilangkan segala macam kesusahan, untuk membuka pintu rizqi dan memudahkannya. Dibaca paling sedikit 3 x setelah shalat fardlu

Sholawat untuk Segala Penyakit


Allahumma sholli alaa sayyidina muhammad thibilqulubi wa dawaa ihaa wa afiatil ajsadwa syifaa ihaa wa nuuril absor wa dhiyaa ihaawa alaa alihi wa shohbihi wa baari wa sallam

Artinya :
Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, nabi Muhammad S.A.W. yang dengan berkat baginda, engkau menyembuhkan hati, menjadi penawar dan menyehatkan tubuh juga memberi kesembuhan penyakit serta mengaruniai cahaya penglihatan dan kurniakanlah juga rahmat keberkatan dan kesejahteraan keatas keluarga dan sahabat baginda

Penjelasan dari Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani
(dari buku Reflecting of The Souls: Ramadan Suhba 2006)

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin, Sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin

Penyembuhan terhadap penyakit ada di tangan para awliya Allah dan mereka dapat menyembuhkan penyakit apa saja, karena Allah SWT memberikan rahasia kepada Nabi SAW untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Dengan selawat penyakit apapun dapat disembuhkan. Dengan mengucapkan: Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad, tibil quluubi wal dawaa’ihaa wal `afiyyat al-abdaani wa syifa’iha. (ya Allah semoga Engkau menganugerahkan selawat kepada Sayyidina Muhammad SAW, sembuhkan hatiku dengan obatnya dan sehatkan badanku dengan obatnya.—dikenal dengan shalawat tibbil qulub)

Nabi SAW adalah sumber dan inti dari proses penyembuhan, selawat kepada Nabi SAW adalah penyembuhan. Tulislah selawat itu dan ia akan menjadi penyembuh bagi segala macam penyakit.
Jangan khawatir, dengan kecintaan terhadap Sayyidina Muhammad SAW, Allah SWT akan menyembuhkan setiap orang yang sakit, dan dengan istaghfirullah Allah SWT menyembuhkan semua orang yang sakit.
Dan Iman atau keyakinan adalah sangat penting. Iman akan selalu menyembuhkan kalian. `Itiqaad (yakin) dengan apa yang diberikan oleh Syekh kepada kalian atau apa yang dikatakan oleh Nabi SAW mengenai pengobatan tradisional ala Nabi karena Allah SWT akan memberikan kesembuhan itu dan tubuh kalian akan mengeluarkan hormon sesuai dengan apa yang kalian fokuskan dan kalian akan sehat kembali.[]

Sholawat "Cahaya Kiamat"


Artinya:
"Ya Allah limpahkanlah shalawat atas junjunan kami, Muhammad-- samudera cahaya-Mu, tambang ra-hasia-Mu, singgasana kerajaan-Mu, imam hadrat-Mu, bingkai kerajaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syariat-Mu,yang mendapat kelezatan dengan tauhid-Mu, insan yang menjadi sebab segala yang maujud, penghulu para makhluk-Mu, yang memperoleh pancaran sinar cahaya-Mu- dengan shalawat yang kekal sekekal diri-Mu, yang tetap sebagaimana tetap-Mu, dan yang tidak ada akhir di balik ilmu-Mu; juga dengan shalawat, yang meridhakan-Mu dan meridhakannya serta meridhakan kami dengannya, duhai Tuhan semesta alam."

Penjelasan :
Shalawat ini dinamakan shalawat 'Cahaya Kiamat'. Sha-lawat ini disebut demikian karena banyaknya cahaya yang akan diperoleh oleh orang yang membacanya pada Hari Kiamat kelak."
Sayyid Ahmad Al-Shâwî dan yang lainnya mengatakan, shalawat ini saya dapatkan tertulis di atas sebongkah batu dengan tulisan qudrati.
Di dalam syarah atas kitab Dalâ'il disebutkan, sebagian pemuka para wali mengatakan, bahwa shalawat ini berbanding dengan 14.000 shalawat lainnya.

Mengenai Wali Allah dan Tanda-tandanya

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari tkebatalan kepada ketetapannya adalah kesungguhan menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah segala kebaikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, dalam kitabnya Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”

Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya (awliya’), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah pasti menang. (QS. al Maidah : 56)

Bagi Allah, ada orang takkan dapat dikenal melainkan oleh para khusus. Bagi Allah, ada orang (kelompok) yang dapat dikenal oleh oleh para khusus dan awam. Bagi Allah, ada orang yang takkan dapat dikenal oleh para khusus maupun para umum. Bagi Allah, ada yang telah diungkapkan pada “Bidayat” (permulaan)dan ditutup rapat pada “Nihayat” (kesudahan). Bagi Allah, ada orang yang ditutup rapat pada “Bidayat” (permulaan) dan diungkapkan pada “Nihayat”. Dan bagi Allah ada orang (kelompok) yang tidak dapat dikenal selain oleh Dia sendiri. Tiada yang dapat mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan Allah Swt, kecuali para malaikat.


Seorang wali selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dia tidak tertarik mengejar keutamaan duniawi, apalagi menguasai seperti diinginkan banyak orang. Ketika mendapat sedikit nikmat dia tetap bersabar, jika banyak dia bersyukur. Celaan atau pujian, terkenal atau tidak, baginya sama saja. Dia tidak sombong dengan kewalian yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Semakin tinggi Allah menaikkan derajadnya, semakin bertambah kedudukannya. Dialah orang yang berakhlak baik, sangat ramah dan bijaksana. Seorang wali senantiasa menyibukkan dirinya dengan hal yang disenangi dan di sunahkan Allah, sehingga ia dicintai Allah, menyatu dengan-Nya, do’a-do’anya selalu terkabul dan selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : اِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا يُغْبِطُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ. هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِنُوْرِ اللهِ مِنْ غَيْرِ اَمْوَالِ وَاَنْسَابِ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ. وَهُمْ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ لاَيَخَافُوْنَ اِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَخْزَنُوْنَ اِذَا حَزِنَ النَاسُ. ثُمَّ تَلاَ. اَلاَ اِنَّ اَوْلِياَءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ.
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Dan apa amal perbuatan mereka? Semoga kita dapat mencintai mereka? Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda yang dengannya mereka saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Di antara sifat-sifat mereka adalah dapat mewariskan kepada para kawan semajelis mereka mengenai kesempurnaan dzikir. Mereka karena cintanya kepada Allah dan menyatu dengan-Nya, maka setiap orang yang menyebut Allah, mereka pun harus diingat pula. Dan setiap orang yang menyebut mereka, berarti Allah pun disebut. Karena nama Allah tidak bisa dipisahkan dengan nama mereka, dan nama mereka pun tidak bisa dipisahkan dengan nama Allah.
اِنَّ اَوْلِياَئِى مِنْ عِبَادِى وَاَحِبَّانِى مِنْ خَلْقِى الَّذِيْنَ يُذْكَرُوْنَ بِذِكْرِى وَاذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para wali diantara para hamba-Ku dan para kekasih-Ku di antara makhluk adalah mereka yang selalu disebut dengan nama-Ku. Begitu juga Aku disebut dengan sebutan (nama) mereka.

Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka.

Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para hawariyun telah bertanya kepada Nabi Isa tentang siapa para wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada batin dunia ini, padahal para manusia yang lain memandang dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya umur) dunia ini, ketika para manusia melihat pada kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia ini merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan mereka terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi berikut ini :
ياَ أَوْلِيَائِى، جَزَائِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْجَزَاءِ، وَعَطَائِى لَكُمْ اَجْزَلُ الْعَطَاءِ، وَبَذْلِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْبَذْلِ، وَفَضْلِى عَلَيْكُمْ اَكْثَرُ الْفَضْلِ، وَمُعَامَلَتِى لَكُمْ اَوْفَى مُعَامَلَةٍ وَمُطَالَبَتِى لَكُمْ اَشَدُّ الْمُطَالَبَةِ. اَناَ مُجْتَبَى الْقُلُوْبِ وَاَناَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ وَاَناَ مُرَاقِبُ الْحَرَكَاتِ وَمُلاَحِظُ اللَّحَظَاتِ اَناَالْمُشْرِفُ عَلىَ الْخَوَاطِرِ، اَناَ الْعَالِمُ بِمَا جَالَ الْفِكْرُ فَكُوْنُوْا دُعَاةً لِى لاَ يَفُزُّ عَنْكُمْ ذَوِى سُلْطَانٍ سِوَايَ، فَمَنْ عَادَاكُمْ عَادَيْتُهُ وَمَنْ وَالاَكُمْ وَالَيْتُهُ وَمَنْ اَذَاكُمْ اَهْلَكْتُهُ وَمَنْ اَحْسَنُ اِلَيْكُمْ جَازَيْتُهُ، وَمَنْ هَجَرَكُمْ قَلَّيْتُهُ
Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku kepadamu adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku demi untukmu adalah semulia-mulianya pendermaan. Anugerah-Ku terhadapmu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku atas kamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilik setiap hati sanubari. Akulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran.

Dengan demikian hendaklah kamu menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barang siapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barang siapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Akulah yang akan membinasakannya. Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang memberinya pahala dan barang siapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya.

Dalam riwayat yang lain, yaitu dari Dzunnun yang juga berkenaan dengan sifat mereka adalah bersegera kepada amal kebaikan, berpaling daripada senda gurau dan terbebas dari keraguan serta kekejian. Mereka seperti orang-orang yang bisu dan buta, padahal mereka fasih dan melihat, malah mereka memiliki pandangan yang tajam. Tentang kaum ini, tiada seorang pun yang berkemampuan untuk menguraikan seluruh dari hal ihwal mereka. Bersama mereka, dapat tercegah balas dendam dan atas mereka diturunkan berbagai keberkahan di muka bumi. Merekalah manusia yang paling indah dalam bertutur kata, manusia-manusia yang sangat memenuhi janji setia, cahaya bagi para hamba yang memberi sinar terang kepada Negara, pelita dimalam gelap gulita, pancaran hikmat kebijaksanaan, tiang yang kokoh bagi umat dan masyarakat. Tulang rusuk mereka amat renggang dari tempat tidur, memiliki sifat pemaaf dan gemar memberi keringanan. Tangan mereka terbuka serta dermawan. Mereka memandang pahala Allah dengan jiwa-jiwa yang penuh kerinduan. Dengan lirikan mata yang tepat. Amal perbuatan mereka yang rapi penuh dengan kesesuaian.

Mereka itulah yang telah mendapatkan cahaya Ilahiyat dengan nur ar Rahman, sehingga dapat memandang keindahan maut dan memandang akhirat dengan mata keridlaan. Membeli yang kekal dengan yang fana. Alangkah nikmatnya apa yang mereka jual-belikan dengan menghimpun dua kebaikan dan menyempurnakan dua kelebihan. Nabi bersabda :
اَحَبُّ الْعِبَادِ إِلىَ اللهِ اْلاَتْقِيَاءُ اْلاَخْفِيَاءُ الَّذِيْنَ اِذَا غَابُوْا لَمْ يَفْتَقِدُوْا وَاِذَا شَهِدُوْا لَمْ يَعْرِفُوْا اُولَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيْحُ الْعِلْمِ
Hamba yang paling cinta kepada Allah adalah yang tersembunyi. Apabila mereka gaib (tidak hadir), sekali-kali tiada orang yang dapat mengenalnya. Mereka itu adalah para imam hidayat dan lampu-lampu ilmu pengetahuan.

Sabda Beliau Saw yang lain :
اِنَّ مِنْ خِيَارِ اُمَّتِى قَوْمٌ يَضْحَكُوْنَ جَهْراً مِنْ سَعَةِ رَحْمَةِ رَبِّهِمْ وَيَبْكُوْنَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ شِدَّةِ عَذَابِ رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ يَذْكُرُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ وَيَدْعُوْنَهُ بِأَلْسِنَتِهِمْ رَغَبًا وَرَهَباً وَيَشْتَاقُوْنَ اِلَيْهِ بِقُلُوْبِهِمْ عَوْدًا وَبَدَأَ مُؤْنَتُهُمْ عَلىَ النَّاسِ خَفِيْفَةً وَعَلىَ اَنْفُسِهِمْ ثَقِيْلَةً عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالىَ شُهُوْدٌ حَاضِرَةٌ وَاَعْيُنٌ حَافِظَةٌ وَنِعَمٌ ظَاهِرَةٌ يَتَوَسَّمُوْنَ الْعِبَادَ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى الْبِلاَدِ اَجْسَادُهُمْ فِى اْلاَرْضِ وَقُلُوْبُهُمْ فِى السَّمَاءِِ
Orang yang terbaik di antara umatku adalah suatu kaum yang tersenyum karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Di samping itu, mereka manangis tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya adzab (siksa) Allah. Mereka senantiasa berdzikir dan berdoa sambil menaruh penuh harapan dan rasa takut. Mereka merindukan Rabb-Nya dengan hati yang tulus. Beban mereka atas manusia sangat ringan tapi atas diri mereka sendiri berat sekali. Penyaksian atas mereka dari Allah Swt dengan penglihatan yang memelihara dan aneka nikmat yang nyata. Mereka melihat tanda-tanda seorang hamba dan memikirkan negerinya. Jasad mereka berada di permukaan bumi, sedang hati sanubari mereka menjulang tinggi di langit.

Kemudian Beliau bersabda :
Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku. (QS. Ibrahim : 14)

Al Hakim at Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (tanda-tanda kewalian), yang diantaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kewalian itu.


Sumber : Wasiat Sufi (Drs. K. Ahmad Mufid)

Kamis, 06 Januari 2011

Kisah WALI WAFAT DI HADAPAN PARA WALI

Ada seorang wali Allah bernama Abu Jahir telah keluar dari negerinya dan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kampung asal bersama isteri dan keluarganya yang lain. Di tempat baru ini, dia telah mendirikan sebuah masji dan beribadah di situ dengan tekun dan tenang. Beliau sentiasa dikunjungi oleh orang yang ingin belajar dan mendalami jalan menuju Allah SWT.

Pada suatu hari seorang wali Allah yang lain bernama Soleh Al-Mari berazam untuk menziarahi Abu Jahir untuk mendapatkan barakah dari beliau. Maka pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Soleh menuju negeri tempat tinggalnya Abu Jahir. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Muhammad bin Wasi’, kenalannya yang juga seorang Wali Allah.

“Assalaamuálaikum.” kata Soleh.

“Waálaikumussalaam warahmatuLlah” jawab Muhammad bin Wasi’

Kedua wali Allah ini pun berpelukan sambil bertanyakan khabar masing-masing dan berbual mengenai masalah kesufian.

“Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Muhammad.

“Aku hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Ke rumah Abu Jahir?”

“Ya, betul”

“Masya Allah, aku juga hendak pergi bersama.”

Kedua-duanya pun berangkat menuju ke tempat tinggal Abu Jahir dan setelah berjalan beberapa batu, mereka bertemu dengan seorang lagi Wali Allah bernama Hubaibul Ajami. Mereka bersalaman dan bertanyakan khabar.

“Hendak ke mana anda berdua ini?” tanya Hubaibul Ajami.

“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Aku juga dalam perjalanan ke sana”

“Kalau begitu eloklah kita pergi bersama”

Mereka meneruskan perjalanan dalam keadaan yang sungguh menggembirakan kerana bilangan mereka semakin ramai. Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba mereka berjumpa dengan Malik bin Dinar, seorang wali Allah yang masyhur. Mereka bersalaman.

“Hendak pergi ke manakah kamu ini?” tanya Malik bin Dinar.

“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Subhanallah, aku juga sedang menuju ke sana.”

“Kalau begitu, kita pergi bersama.”

Sekarang mereka menjadi berempat dengan tujuan yang sama. Dengan kuasa Allah SWT, di tengah perjalanan, mereka berjumpa seorang lagi rakan Wali Allah yang bernama Thabit Al-Bannani. Mereka pun bersamalam dan saling bertanyakan khabar.

“Kamu hendak ke mana?” tanya Thabit.

“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”

“Masya Allah, saya juga akan ke sana.”

“Kalau begitu, kita pergi bersama.”

“Segala puji-pujian bagi Allah sWT yang telah mengumpulkan kita dan pergi bersama-sama walaupun tanpa perjanjian” kata Thabit Al-Bannani

Berjalanlah kelima-lima Wali Allah berkenaan menuju rumah Abu Jahir. Sepanjang perjalanan, mereka tidak putus-putus memuji dan bersyukur ke hadhirat Allah SWT justeru mengurniakan peluang berjalan bersama menuju ke rumah WaliNya. Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut mereka melainkan perkataan yang mendatangkan manfaat.

Setelah berjalan beberapa lama, mereka singgah di suatu tempat untuk berehat dan solat.

“Marilah kita solat dua rakaat di sini, agar tempat ini ikut menjadi saksi esok di hari Kiamat di hadapan Allah Azza Wajalla” kata Thabit Al-Bannani

“Satu cadangan yang baik” sahut yang lain.

Lalu mereka mengerjakan solat bersama-sama dengan penuh khusyuk dan tawadduk. Setelah menunaikan solat, mereka berdoa untuk kepentingan umat Islam sekeliannya untuk di dunia dan di akhirat. Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Abu Jahir.

Terasa kedamaian pada mereka apabila terpandang rumah dan masjid yang didirikan oleh Abu Jahir. Namun mereka tidak terburu-buru mengetuk pintu atau minta izin untuk masuk demi menjaga peradaban Wali Allah. Mereka pun duduk di masjid menunggu Abu Jahir keluar untuk solat. Tidak berapa lama kemudia, waktu Zohor pun masuk. Maka keluarlah Abu Jahir tanpa bercakap apa-apa sebaliknya terus masuk ke masjid, berazan, iqamah dan solat. Kelima-lima tetamunya yang mulia itu solat berjemaah berimamkan Abu Jahir.

Selepas solat, barulah mereka menemui Abu Jahir satu persatu. Mula-mula sekali Muhammad bin Wasi’.

“Assalaamuálaikum” kata Muhammad

“Waálaikumussalaam” jawab Abu Jahir disambung dengan pertanyaan

“Anda ini siapa?”

“Saya saudaramu Muhammad bin Wasi’ “

“O...Kalau begitu andalah orang Basrah yang terkenal paling bagus solatnya itu kan?”

Muhammad diam tanpa berkata apa-apa.

Kemudian, Thabit Al-Bannani maju ke hadapan.

“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir

“Saya saudaramu Thabit Al-Bannani”

“O...Kalau begitu kamu yang dikatakan sebagai orang Basrah yang paling banyak solatnya itu kan?” Tanya Abu Zahir.

Thabit juga diam tanpa berkata apa-apa.

Tiba pula giliran Malik bin Dinar.

“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir

“Saya saudaramu Malik bin Dinar” jawabnya.

“Masya Allah, jadi kamulah yang termasyhur sebagai orang yang paling zuhud di kalangan penduduk Basrah, bukan?”

Malik juga tidak berkata apa-apa. Kemudian Hubaib Al-Ajami menemui Abu Jahir.

“Anda ini siapa?” tanya Abu Jahir

“Saya adalah saudaramu Hubaib Al-Ajami”

“Masya Allah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai orang yang mustajab doanya” kata Abu Jahir

Seperti yang lain, Hubaib mendiamkan diri. Akhirnya tiba giliran Soleh Al-Mari maju ke hadapan untuk memperkenalkan dirinya.

“Anda pula siapa?” tanya Abu Jahir.

“Saya saudaramu Soleh Al-Mari” jawabnya.

“Subhanallah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai qari yang fasih dan bagus suaranya.”

Soleh juga tidak mengeluarkan apa-apa komen.

Abu Jahir bertafakur sebentar seperti mengenangkan sesuatu.

“Aku sebenarnya sangat rindu dan ingin mendengar suaramu wahai saudaraku” kata Abu Jahir. “Oleh itu, aku suka engkau bacakan empat atau lima ayat Al-Qurán kerana aku ingin sangat mendengarnya.”

Soleh memenui permintaannya lalu dia membuka Al-Qurán dan membaca Surah Al-Furqan : Ayat 22 yang bermaksud :

“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada khabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata “Hijraan mahjuuraa” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu debu yang berterbangan”

Sebaik sahaja mendengar bacaan ‘debu yang berterbangan’, Abu Jahir berteriak kuat sehingga pengsan disebabkan rasa ketakutan yang teramat sangat kepada Allah SWT. Apabila beliau sedar dari pengsannya, dia berkata “Sila ulangi pembacaan ayat tadi”

Soleh mengulangi bacannya dan apabila sampai kepada “Debu yang berterbangan”, sekali lagi Abu Jahir berteriak sehingga rebah di tempat sujud dan wafat ketika itu juga.

Soleh dan teman-teman Wali Allah nya sangat terharu menyaksikan kewafatan Abu Jahir yang mengkagumkan itu. Beliau wafat dalam keadaan amat ketakutan mendengar Kalam Ilahi. Tidak lama kemudian, isteri Abu Jahir muncul.

“Siapakah kalian ini?” tanya isteri Abu Jahir.

“Kami datang dari Basrah. Yang ini Malik bin Dinar, Hubaib Al-Ajami, Muhammad bin Wasi’, Thabit Al-Bannani dan saya adalah Soleh Al-Mari” jawab Soleh mewakili para aulia sahabatnya itu.

Tiba-tiba perempuan itu berkata “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raajiúun...kalau begitu Abu Jahir telah wafat”

Soleh dan rakan-rakan wali Allah nya merasa hairan terhadap perempuan itu, kerana dia telah memastikan kematian suaminya, padahal dia belum menyaksikannya dan mereka juga belum memberitahunya apa yang telah terjadi.

“Dari mana puan tahu bahawa Abu Jahir telah wafat?” tanya mereka kehairanan.

“Saya telah banyak kali mendengar doanya di mana beliau sering mengucapkan “Ya Allah, kumpulkanlah para Aulia-Mu pada saat ajalku” dan perempuan itu menyambung “Jadi, tidaklah kamu berkumpul di sini sekarang ini melainkan Abu Jahir telah wafat”

Rupa-rupanya doa Abu Jahir telah dimakbulkan Allah SWT.

Maka para Aulia itu pun menguruskan mayatnya dari memandikan, mengkafankan, menyembahyangkan sehinggalah menguburkan.

Maha Suci Allah, yang telah mewafatkan hambaNya yang mulia dan diuruskan oleh tangan-tangan yang mulia pula. Semoga kita dikumpulkan oleh Allah SWT dalam golongan orang yang baik-baik dan mati syahid..Amin Ya Rabbal Aa’lamiin.

sumber : sufiroad.blogspot.com

Halaman Ke