Minggu, 12 Juni 2011

Kisah Sahabat Nabi: Abu Darda', Ahli Hikmah yang Budiman


Pada saat balatentara Islam berperang, kalah dan menang di beberapa penjuru bumi, di kota Madinah berdiam seorang ahli hikmah dan filsuf yang mengagumkan. Dari dirinya memancar mutiara yang cemerlang dan bernilai.

Ia senantiasa mengucapkan kata-kata indah kepada masyarakat sekelilingnya, "Maukah kamu sekalian, aku kabarkan amalan-amalan yang terbaik. Amalan yang terbersih di sisi Allah dan paling meninggikan derajat kalian. Lebih baik dari memerangi musuh dengan menghantam batang leher mereka, lalu mereka pun menebas batang lehermu, dan malah lebih baik dari emas dan perak?"

Para pendengarnya menjulurkan kepala mereka ke depan karena ingin tahu, lalu bertanya, "Apakah itu wahai, Abu Darda'?"

Abu Darda' menjawab, "Dzikrullah!"

Ahli hikmah yang mengagumkan ini bukannya menganjurkan orang menganut filsafat dan mengasingkan diri. Ia juga tidak bermaksud menyuruh orang meninggalkan dunia, dan tidak juga mengabaikan hasil agama ini yang telah dicapai dengan jihad fi sabilillah.

Abu Darda' bukanlah tipe orang semacam itu, karena ia telah ikut berjihad mempertahankan agama Allah bersama Rasulullah SAW hingga datangnya pertolongan Allah dengan pembebasan dan kemenangan merebut kota Makkah.

Abu Darda' adalah ahli hikmah yang besar di zamannya. Ia adalah sosok yang telah dikuasai oleh kerinduan yang amat besar untuk melihat hakikat dan menemukannya. Ia menyerahkan diri secara bulat kepada Allah, berada di jalan lurus hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh.

Pernah ibunya ditanyai orang tentang amalan yang sangat disenangi Abu Darda'. Sang ibu menjawab, "Tafakur dan mengambil i'tibar (pelajaran)."

Pada saat memeluk Islam dan berbaiat pada Rasulullah SAW, Abu Darda' adalah seorang saudagar kaya yang berhasil di antara para saudagar kota Madinah. Dan sebelum memeluk Islam, ia telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam perniagaan, bahkan sampai Rasulullah dan kaum Muslimin lainnya hijrah ke Madinah. Tidak lama setelah memeluk Islam, kehidupannya berbalik arah.

"Aku tidak mengharamkan jual-beli. Hanya saja, aku pribadi lebih menyukai diriku termasuk dalam golongan orang yang perniagaan dan jual-beli itu tidak melalaikannya dari dzikir kepada Allah," ujarnya.

Abu Darda' sangat terkesan hingga mengakar ke dasar jiwanya dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang berisi bantahan terhadap, "Orang yang mengumpul-ngumpulkan harta dan menghitung-hitungnya." (QS Al-Humazah: 2-3).

Ia juga sangat terkesan sabda Rasulullah SAW, "Yang sedikit mencukupi, lebih baik daripada yang banyak namun merugikan."

Oleh sebab itulah, ia kerap menangisi mereka yang jatuh menjadi tawanan harta kekayaan. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang bercabang-cabang."

Orang-orang bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan hati yang bercabang-cabang itu?"

"Memiliki harta benda di setiap lembah!" jawabnya. Ia mengimbau manusia untuk memiliki dunia tanpa terikat padanya. Itulah cara pemilikan hakiki. Adapun keinginan hendak menguasainya secara serakah, takkan pernah ada kesudahannya. Maka yang demikian adalah seburuk-buruk corak penghambaan diri.

Saat itu ia juga berkata, "Barangsiapa yang tidak pernah merasa puas terhadap dunia, maka tak ada dunia baginya."

Bagi Abu Darda', harta hanyalah alat bagi kehidupan yang bersahaja dan sederhana, tidak lebih. Berpijak dari sini, maka manusia hendaknya mengusahakannya dengan cara yang halal, dan mendapatkannya secara sopan dan sederhana, bukan dengan kerakusan dan mati-matian. "Jangan kau makan, kecuali yang baik. Jangan kau usahakan kecuali yang baik. Dan jangan kau masukkan ke rumahmu, kecuali yang baik!" ujarnya.

Menurut keyakinannya, dunia dan seluruh isinya hanya semata-mata pinjaman dan menjadi jembatan untuk menyeberang menuju kehidupan yang abadi.

Pada suatu hari, para sahabat menjenguknya ketika ia sakit. Mereka mendapatinya terbaring di atas hamparan dari kulit. Mereka menawarkan kepadanya agar kulit itu diganti dengan kasur yang lebih baik dan empuk.

Tawaran ini dijawabnya sambil memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan kedua bola matanya menatap jauh ke depan. "Kampung kita nun jauh di sana, untuknya kita mengumpulkan bekal. Dan ke sana kita akan kembali. Kita akan berangkat kepadanya dan beramal untuk bekal di sana."

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Menjelang Perang Uhud


Sejak Perang Badar, pihak Quraisy tidak pernah tenang lagi. Lebih-lebih karena kesatuan Zaid bin Haritsah telah berhasil mengambil alih jalur perdagangan mereka ketika hendak pergi ke Syam melalui jalan Irak.

Orang-orang Quraisy kemudian sepakat menyiapkan angkatan perang guna memerangi Muhammad, dengan memperbesar jumlah dan perlengkapannya. Selanjutnya tenaga kabilah-kabilah akan dikerahkan dan agar ikut serta bersama mereka, menuntut balas terhadap kaum Muslimin. Tak hanya kaum pria, pihak Quraisy juga membawa pula kaum wanita mereka, dipimpin oleh Hindun, istri Abu Sufyan.

Hindun adalah sosok yang paling ingin membalas dendam, karena dalam peristiwa Badar itu, ayahnya, saudaranya dan orang-orang yang dicintainya tewas terbunuh. Keberangkatan Quraisy dengan tujuan Madinah yang disiapkan dari Dar An-Nadwa itu terdiri dan tiga brigade.

Brigade terbesar dipimpin oleh Talhah bin Abi Talhah terdiri dari 3.000 orang. Kecuali 100 orang saja dari Tsaqif, selebihnya dari Makkah, termasuk pemuka-pemuka, sekutu-sekutu serta golongan Ahabisynya. Perlengkapan dan senjata yang mereka bawa tidak sedikit, dengan 200 pasukan berkuda dan 3.000 unta, di antaranya 700 orang berbaju besi.

Sementara itu, Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi, yang juga berada di tengah-tengah mereka, dengan teliti dan seksama memerhatikan semua kejadian itu. Di samping kesayangannya pada agama nenek-moyangnya dan golongannya, Abbas juga mempunyai rasa solider dan sangat mengagumi Muhammad.

Hal inilah yang mendorongnya—tatkala diketahuinya keputusan Quraisy akan berangkat dengan kekuatan yang begitu besar—menulis surat menggambarkan segala tindakan, persiapan dan perlengkapan mereka. Surat itu diserahkannya kepada seseorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan kepada Nabi. Dan orang ini pun sampai di Madinah dalam tiga hari, dan surat itu pun diserahkan kepada Rasulullah.

Pasukan Quraisy pun berangkat dan sampai di Abwa'. Ketika melalui makam Aminah binti Wahab—ibunda Rasulullah SAW—timbul kedengkian beberapa orang yang berpikiran picik. Terpikir oleh mereka akan membongkarnya. Tetapi pemuka-pemuka mereka menolak perbuatan itu agar kelak tidak menjadi kebiasaan Arab. "Jangan menyebut-nyebut soal ini. Kalau ini kita lakukan, Bani Bakar dan Bani Khuza'ah akan membongkar juga kuburan mayat-mayat kita," kata mereka.

Quraisy meneruskan perjalanan sampai di 'Aqiq, kemudian mereka berhenti di kaki gunung Uhud, dalam jarak lima mil dari Madinah.

Orang dari Ghifar yang diutus oleh Abbas bin Abdul Muthalib telah sampai di Madinah. Ia kemudian menyerahkan surat tersebut kepara Rasulullah, yang kemudian dibacakan oleh Ubay bin Ka'ab. Rasulullah meminta isi surat itu dirahasiakan, dan sang utusan kembali ke Madinah langsung menemui Sa'ad ibnu Al-Rabi' di rumahnya. Diceritakannya apa yang telah disampaikan Abbas kepadanya dan ia juga meminta supaya hal itu dirahasiakan. Akan tetapi istri Sa'ad yang sedang berada dalam rumah waktu itu, mendengar juga percakapan mereka. Dengan demikian, sudah tentu hal itu bukan rahasia lagi.

Dua orang anak-anak Fudzala, yaitu Anas dan Mu'nis, oleh Muhammad ditugaskan menyelidiki keadaan Quraisy. Menurut pengamatan mereka, ternyata Quraisy sudah mendekati Madinah. Kuda dan unta mereka dilepaskan di padang rumput sekeliling Madinah. Di samping dua orang itu, Rasulullah juga mengutus Hubab ibnu Al-Mundhir bin Al-Jamuh.

Setelah keadaan mereka itu disampaikan kepadanya seperti dikabarkan oleh Abbas, Nabi SAW sangat terkejut. Ketika kemudian Salamah bin Salamah keluar, ia melihat barisan depan pasukan kuda Quraisy sudah mendekati Madinah, bahkan sudah hampir memasuki kota. Salamah segera kembali dan menyampaikan apa yang dilihatnya kepada warga Madinah.

Pihak Aus dan Khazraj, begitu juga semua penduduk Madinah merasa khawatir sekali akan akibat serbuan ini, yang dalam sejarah perang, Quraisy belum pernah mengadakan persiapan sebaik itu. Pemuka-pemuka Muslimin di Madinah malam itu berjaga-jaga dengan senjata di masjid untuk menjaga keselamatan Nabi. Sepanjang malam itu seluruh kota dijaga ketat.

Keesokan harinya, orang-orang terkemuka dari kalangan Muslimin dan mereka yang pura-pura Islam—kaum munafik seperti disebutkan dan dilukiskan pula oleh Al-Qur'an—oleh Nabi diminta berkumpul untuk bermusyawarah. Nabi SAW berpendapat akan tetap bertahan dalam kota dan membiarkan Quraisy di luar kota. Apabila mereka mencoba menyerbu masuk kota, maka penduduk kota ini akan lebih mampu menangkis dan mengalahkan mereka.

Abdullah bin Ubay bin Salul mendukung pendapat Nabi itu. Para sahabat Rasulullah—baik Muhajirin ataupun Anshar—juga sependapat dengan Rasulullah. Akan tetapi pemuda-pemuda yang bersemangat yang belum mengalami Perang Badar, juga orang-orang yang pernah ikut Perang Badar—dan mendapat kemenangan disertai hati yang penuh iman, bahwa tak ada sesuatu kekuatan yang dapat mengalahkan mereka—lebih suka keluar menyongsong musuh di tempat mereka berada.

Pendapat ini mendapat dukungan luas. Mereka semua mengatakan bahwa bila Tuhan memberikan kemenangan kepada mereka atas musuh, itulah yang mereka harapkan. Dan itu pula kebenaran yang telah dijanjikan Allah kepada Rasul-Nya. Kalaupun mereka mengalami kekalahan dan mati syahid, mereka akan mendapat surga. Kata-kata yang menanamkan semangat keberanian dan mati syahid ini, sangat menggetarkan hati mereka.

Setelah jelas bahwa suara terbanyak ada pada pihak yang mau menyerang dan menghadapi musuh di luar kota, Rasulullah berkata kepada mereka, "Saya khawatir kalian akan kalah."

Tetapi mereka tetap ngotot ingin menyerbu. Tak ada jalan lain, Rasulullah pun mengikuti pendapat mereka. Cara musyawarah ini sudah menjadi undang-undang dalam kehidupan beliau. Dalam menyikapi tiap masalah, beliau tidak mau bertindak sendiri, kecuali yang sudah diwahyukan Allah kepadanya.

Apabila suatu masalah yang dibahas telah diterima dengan suara terbanyak, maka hal itu tak dapat dibatalkan oleh sesuatu keinginan atau karena ada maksud-maksud tertentu. Sebaliknya ia harus dilaksanakan, tapi orang yang akan melaksanakannya harus pula dengan cara yang sebaik-baiknya dan diarahkan ke suatu sasaran yang yang akan mencapai sukses.

Dan Muhammad SAW berangkat memimpin kaum Muslimin menuju Uhud. Di Syaikhan beliau berhenti. Dilihatnya di tempat itu ada sepasukan tentara yang identitasnya belum dikenal. Ketika ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan, bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi sekutu Abdullah bin Ubay. Nabi bersabda, "Jangan meminta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik, sebelum mereka masuk Islam!"

sumber : republika.co.id

Kamis, 09 Juni 2011

Putri Pendeta Menjadi Daiyah


Aku tidak mengenal sedikitpun tentang Islam, bahkan selama hampir duapuluh tahun, sampai aku kuliah di jurusan informatika Universitas Timbell Philadelphia. Pertama kali aku melirik Islam berawal ketika beberapa dosenku menyampaikan informasi tentang Islam. Mereka menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang merusak (destruktif). Hal ini menggugahku untuk lebih banyak membaca literatur tentang Islam. Setelah aku mengkajinya ternyata aku dapati semua itu hanyalah tuduhan palsu, zalim dan penuh kebencian. Akupun segera –tanpa ragu– menyatakan diri masuk Islam. Sejak itu aku ganti namaku menjadi Laila Ramzy.

Aku dilahirkan di New England pada bulan Januari tahun 1959, Ayahku seorang pendeta yang mengabdi di sebuah gereja. Sudah lama aku banyak meragukan gereja, terlebih setelah Ayahku ingin agar aku menjadi misionaris. Akan tetapi Allah SWT menghendakiku sesuatu yang lebih baik dan kekal. Sementara sejak kecil aku sama sekali tidak mengenal tentang Islam. Hal ini terus berlangsung hingga usiaku 20 tahun dan mulai melanjutkan kuliah di Universitas. Di samping itu aku juga mendapat kuliah tambahan tentang strategi politik wilayah Timur Tengah, ternyata kuliah ini menjadi pintu kebaikan dan kebahagiaan untukku.

Dari mata kuliah itu aku banyak mengetahui tentang negara-negara Arab-Islam. Ternyata apa yang aku dapatkan sebelumnya informasi tentang Islam sangat jauh dari kenyataan. Karena sejak 1400 tahun yang lalu Islam telah mewarnai kehidupan sosial politiknya dan telah mengukir sejarahnya dengan gilang genilang. Aku bertanya kepada diriku, “Anda lihat mengapa mereka sengaja mendelete Islam dan menjauhkan para mahasiswa dari pemahaman yang benar terhadap Islam?” Dampaknya para mahasiswa menganggap Islam sebagai agama yang berbahaya bagi struktur pemahaman dunia Barat umumnya dan bagi pemikran kaum muda Nasrani khususnya.

Meskipun ditentang oleh Ayahku, aku mulai terus membaca literatur tentang Islam. Sehingga aku dapatkan prinsip-prinsip agama yang agung ini menghunjam dalam hatiku dan mendomonasi pikiranku. Aku mulai memahami akidah Tauhid dan meyakini bahwa Isa adalah manusia biasa seperti Musa, Ibrahim, dan Muhammad. Aku juga mulai mengerti bahwa khamr, zina, dan, judi adalah sesuatu yang diharamkan. Hal ini amat kontras dengan kehidupan yang berlangsung di Eropa dan Amerika. Akupun mulai semakin banyak mempelajari ibadah dalam Islam; seperti shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.

Aku mulai mengumumkan keislamanku. Meskipun ayahku marah dan sedih aku memutuskan untuk pergi ke Mesir agar bisa hidup di sana bersama umat Islam. Di sanalah aku mempelajari Al-Qur’an lebih dalam. Di Kairo aku juga bertemu dengan pemuda muslim yang memiliki komitmen kuat dengan agamanya, ia menawarkan dirinya untuk menikahiku, akupun menerima dan menyetujuinya, dan perkawinanku dengannya telah berlangsung dua tahun. Allah telah menganugrahkan kepadaku seorang anak yang kuberikan nama islami, Toha. Aku berdoa kepada Allah Azza wa jalla agar ia tumbuh menjadi anak yang baik, dan menjadi penyedap pandanganku dan suamiku.

Laila berkeinginan untuk meneruskan studi Islamnya, menghapal Al-Qur’an dan hadits nabi agar memperoleh maslahat dari pengetahuan dan wawasannya yang sahih.

Disadur dari kitab At-Taa’ibuuna ilallah, Syaikh Ibrahim bin Abdillah Al-Hazimy.

sumber : Dakwatuna.com

Subhanallah...Melalui Internet, Mereka Belajar Islam, Lalu Menjadi Muallaf


Usianya baru 18 tahun. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Berpamitan hendak berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri, ia terbang ke Arab Saudi dan menyatakan kislamannya di negeri itu.

"Dia masih ada di sini untuk berlibur," kata Majed Al-Osaimi, direktur www.edialogue.org, website dakwah yang banyak dikunjungi publik Barat yang tertarik pada Islam.

Berbicara kepada Arab News, ia mengatakan seorang remaja, yang sedang belajar di Amerika Serikat, juga menerima Islam sebagai agama baru setelah ngobrol dengan seorang daiyah yang berhubungan dengan website itu.

"Gadis itu telah memperoleh beberapa pengetahuan tentang Islam dan membersihkan semua keraguannya selama 20 menit percakapan dengan pekerja dakwah kami dan menyatakan dia ingin segera bersyahadat," kata Al-Osaimi.

Dia mengatakan, situs, yang didirikan pada bulan Maret tahun ini, telah berperan dalam mengislamkan 119 orang dari kebangsaan berbeda. Kini mereka terus menjalin kontak dengan para mualaf ini untuk melakukan bimbingan online.

Ia memprediksi, jumlahnya akan meningkat pesat, mengingat respons jamaah maya saat ini. "Setiap satu atau dua hari sekali, ada satu orang yang menerima Islam sebagai agama mereka melalui website kita," jelasnya.

Al-Osaimi juga meminta Muslim lainnya di Barat untuk mengajar anak-anak mereka tentang Islam pada usia dini. "Itu tugas mereka untuk membawa anak-anaknya atas dasar budaya Islam dan tradisinya," katanya.

Ia mengatakan ia juga telah menghubungi gadis itu dan menemukan bahwa ia telah belajar banyak tentang Islam dari sumber yang berbeda.

"Dia bertanya beberapa pertanyaan yang sangat penting tentang Islam," tambahnya. Gadis itu juga ingin belajar bahasa Arab untuk membaca dan memahami Alquran dalam bahasa aslinya.

Dia mengatakan mereka yang berkebangsaan India adalah mayoritas mualaf baru yang menyatakan keislamannya melalui website yang berbasis di Dammam, Arab Saudi ini.

Ia menjelaskan, situs dijalankan oleh 11 staf yang kesemuanya adalah relawan dan pekerja full-time. Mereka yang memeluk Islam melalui situs ini berasal dari Inggris, Perancis, Australia, Amerika Utara, Filipina, Rumania, Nigeria, dan Kamerun.

Lebih dari 90 ribu orang sejauh ini telah berpartisipasi dalam web chat room mereka.

"Kami memiliki rencana untuk memperluas situs web termasuk dalam beragam bahasa," katanya.

sumber : republika.co.id

Awalnya Bagi Carole Sturm Agama adalah Misteri dan Tuhan Sulit Dipahami, Hingga ia Mengenal Islam


Ketika mengenang kembali seluruh perjalanannya, Carole Sturm merunut satu-persatu jejak, mulai dari sebuah doa yang ia lafalkan di gereja Katolik Roma saat berusia 15 tahun.

Ia bertutur, perjalanannya menuju Islam didorong oleh semangat spiritual seorang remaja yang dibesarkan dalam gereja. Saat masih menjadi wanita muda ia telah mempercayai Tuhan. Namun, ia juga berjuang mengatasi keraguan ditimbulkan misteri keimanan dan pengampunan dalam Katholik.

"Saya lalu berkata, Tuhan tunjukkan padaku apa artinya semua ini atau perlihatkan padaku sesuatu yang lain," ujar Sturm, kini 45 tahun. Ia mengatakan itu 20 tahun lalu di Tulsa, Oklahoma. "Setelah itu saya merasa saya seperti masuk neraka. Maksud saya, karena saya masih 15 thun."

Ia merasa butuh waktu 5 tahun hingga ia mendapat jawaban. Sturm mengatakan Tuhan menanggapi doanya dan menunjukkan Islam kepadanya

"Rasanya seperti fajar yang lambat merekah," ungkap analis sistem komputer sebuah perusahaan di Texas itu. "Itu bukan pengalaman seperti saya terjaga satu malam dan tiba-tiba berkata, "Ini dia."

Ketika beralih ke Islam, Sturm bergabung dengan sejumlah besar warga Amerika yang telah berganti keyakinan ke agama Tauhid tersebut, agama yang awalnya ia pandang diimpor masuk ke tanah AS yang didominasi umat Kristen.

Seperti sebagian besar yang beralih, Sturm mengatakan ia menemukan bahwa agama barunya mengizinkan ia secara spiritual untuk memahami Tuhan yang sebelumnya ia pandang sulit dipahami.

Untuk memeluk Islam pun, Sturm menilai sangat sederhana, tak ada ritual resmi. "Mereka hanya diminta mengikrarkan keyakinan pada satu Tuhan dan mengakui Muhammad adalah rasull Allah," ujar Sturm.

Meski Sturm mengatakan Islam awalnya terkesan sebagai keyakinan asing baginya, ia menjadi kian akrab ketika mengejar gelar keuangan dari Universitas Oklahoma dan bertemu banyak negara Islam. Dari sana ia mendapat banyak pengetahuan baru, termasuk dari pria yang akhirnya ia nikahi, Shazhad Khan.

Bagi Sturm, dengan membaca Al Qur'an, semua pertanyaannya terkait keyakinan dapat terjawab secara logis. "Islam tak menuntut saya untuk membuat lompatan keimanan besar hingga diluar logika, seperti menerima bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan jalan untuk menebus dosa," ujarnya.

"Tidak mungkin kita sampai ke surga tanpa pengampunan Tuhan, dan untuk itu ada tanggung jawab lebih di pundak setiap orang," kata Sturm mengungkapkan ajaran Islam yang ia yakini. "Ini penting bagi saya."

Melihat putrinya beralih ke Islam, Ayah Sturm, merasa tidak nyaman. Namun ia kini menerima keputusan putrinya setelah melihat bagaimana ia sekarang, menikah dengan Khan dan memiliki dua cucu putri yang juga memeluk Islam.

"Saya tentu dulu tidak akan menyarankan putri saya melakukan ini," ujar Charles Sturm. "Ketika ia menganut Katholik, ia adalah wanita yang baik. "Namun saya tidak memiliki keraguan bahwa ia kini menjadi wanita lebih baik ketika mengikuti Islam."

Sturm tidak selalu menutup kepalanya di tempat kerja, di mana ia kerap berhubungan dengan klien perusahaannya. Namun ia menekankan bahwa perusahaannya memberi lingkungan kerja nyaman bagi Muslim, termasuk dirinya.

"Saya hanya tidak bisa menghadapi pertanyaan dan pandangan orang-orang," ungkapnya. "Orang-orang akan memandang anda berbeda, warna berbeda, bagaimana serius mereka memandang semua yang anda lakukan dan yang anda utarakan."

Namun ia juga menolak keras anggapan bahwa Islam menindas wanita. Salah satu contoh, ujarnya, adalah kebebasan bekerja atau bahkan berjalan sendiri di luar yang diterapkan di negara-negara Islam. Bagi Strum yang terpenting adalah Islam telah menunjukkan jalan untuk memahami Tuhan.

sumber : republika.co.id

Mualaf Rita Rahmat: Allah Datang Ketika Saya Berada di Titik Terendah


"Mudahkan orang lain, maka Allah akan memudahkan kita," kata Rita Rahmat. Direktur perusahaan komunikasi dan media relation Aircomm ini tidak asal bicara. Mengelola bisnis, ia kerap mengalami jatuh bangun. Namun ia selalu optimis, sampai di suatu titik, kemudahan akan datang tanpa disangka-sangka. "Itu matematika yang susah untuk dijelaskan."

Mengenal Allah, dilakukan Rita saat dia berada di titik terendah hidupnya. Usahanya bangkrut, dan musibah datang bertubi-tubi. Ia mengurung diri di kamar, merenung. Rita kehilangan kepercayaan pada Tuhan. Daripada bingung berdoa pada banyak Tuhan, katanya, maka ia memutuskan 'berhenti' beragama. "Saya menyembah dan percaya pada Tuhan Sang Maha Pencipta, tapi tanpa agama," katanya.

Ia memutuskan pergi dari Jakarta, menggarap tawaran proyek kecil di Pulau Bintan. Walau diakuinya, pekerjaan itu tak terlalu menolong secara ekonomi.

Bahkan, ia pernah pulang ke Jakarta dari Bintan, dalam kondisi tak punya sepeser uangpun, dan terdampar di bandara Changi pula, karena tertinggal pesawat. Namun ia menyadari kini, itulah cara yang diatur-Nya untuk hidup dalam tuntunan Islam.

Dengan uang seadanya hasil pengembalian tiket, ia menyeberang ke Batam. Baru keesokan harinya ia kembali ke Jakarta dengan penerbangan berikutnya.

Jalan pulang yang dilalui, tidaklah mulus. Cuaca buruk, pesawat bergetar hebat. Penumpang panik, termasuk Rita. "Saya berpikir tentang kematian. Bagaimana jika saya mati dan tak beragama?" ia mengisahkan pada Republika Online, Rabu Siang.

Tiba-tiba ia teringat Islam yang ajarannya sempat mencuri perhatiannya beberapa bulan terakhir. "Saya bersumpah dalam hati, jika pesawat berhenti terguncang, maka saya akan masuk Islam," ujarnya. Tak menunggu sampai semenit, seketika itu juga pesawat kembali tenang.

Rita bersyukur. Namun, ia menyesali sumpahnya, dan meralat, dengan menyatakan guncangan adalah akibat cuaca buruk, dan membaik karena cuaca membaik, bukan campur tangan Allah.

"Sesaat setelah pikiran itu terlintas, pesawat kembali terguncang, lebih hebat. Seketika itulah saya menyadari, saya manusia lemah, ada yang lebih berkuasa atas saya. Islam, itu yang ada dalam hati saya," katanya, yang kemudian bertekad untuk menjadi Muslim secepatnya. Ia ingat, waktu menunjukkan pukul 17.35 saat itu, di pengujung 1999. Ia pulang untuk menghormati keluarga besarnya yang merayakan Natal.

***

Sampai di Jakarta, Rita belajar tentang Islam. Hingga ia mantap untuk bersyahadat, dan menghadiahkan Islam bagi dirinya sendiri, di hari ulang tahunnya, 2 April.

Namun, kedatangannya di masjid, ditolak takmirnya. "Besok saja datang lagi," ujarnya menirukan sang takmir. Pintu ditutup.

Ia menuju Masjid Agung Al Azhar Jakarta. Bertemu dengan seorang guru mengaji di lantai dua yang tengah mengajar seorang ibu dengan anak gadisnya, ia mengutarakan niatnya. Sang guru mengaji menyarankan untuk menunggu hingga Maghrib. "Namun saya minta bersyahadat saat itu juga, dan dia menuntun saya," ujarnya. Ia bersyahadat disaksikan dua orang yang ada di situ. Ia melihat arlojinya, jarum jam menunjukkan pukul 17.35. "Waktu yang sama dengan saat saya bersumpah akan masuk Islam."

Maghrib menjelang, ia terharu ketika banyak mualaf berdatangan, menyalaminya. Ia melakukan shalat pertamanya, berjamaah. "Saya dituntun berwudhu, diajari sebentar tentang shalat. Karena saya hanya bisa membaca Al Fatihah, itulah yang saya baca sepanjang shalat," kenangnya.

Pulang dari Al Azhar, ia pergi ke Melawai, membeli perlengkapan shalat.

Hal terberat adalah ketika memberitahu keluarganya tentang keislamannya. Ibunya hanya terdiam, dan menyodorkan Injil padanya untuk kembali dipelajari. Ia menggeleng. "Saya sudah memutuskan Islam, tapi saya tak akan berubah. Saya tetap Rita anak mama." Sang ibu menunduk, meneteskan air mata.

Demi menghormati sang mama, Rita selalu pergi ke masjid jika hendak menunaikan shalat, saat ibunya itu berkunjung ke rumahnya. "Saya tak ingin frontal di depan mama," ujarnya.

Namun ia selalu meyakinkan ibunya, bahwa Islam adalah pilihan hatinya. "Itu hanya antara saya dan pencipta saya, dan cara saya berkomunikasi dengan-Nya," ujarnya. Sedang soal habluminannas (hubungan antar manusia), ia tak mngurangi sedikitpun sikapnya pada wanita yang melahirkannya dan keluarga besarnya. Lama-lama hati sang mama luluh. Dua bulan kemudian, ia harus kehilangan papanya, berpulang ke alam baka.

***
Rita berkisah, ajaran Islam tentang berbaik sangka benar adanya. Apalagi berbaik sangka pada nikmat Allah. ia kerap menemukan 'keajaiban' berbaik sangka ini.

Salah satunya, saat ia berniat umrah Ramadhan. "Daripada berlebaran di Jakarta seorang diri, mending saya berumrah dan berlebaran di sana," katanya.

Namun, pendaftaran telah ditutup. Pemilik biro malah menyarankan untuk berhaji. "Saya tak punya uang," katanya.

Namun, saran pemilik biro untuk menyerahkan berkas untuk berhaji, dipenuhi. "Toh bisa batal seandainya urung," katanya. "Niat saya ke Tanah Suci baik, insya Allah, Allah memberi jalan."

Tak disangka, sepulang dari biro haji, ia ditelepon stafnya. Proposal proyeknya berhasil, dan ia mempunyai sisa uang lebih untuk melunasi ongkos haji.

Rita memandang hidup bak puzzle. Saling terangkai. Ibadah haji pulalah yang mengantarkannya pada jodohnya saat ini, Hari Rahmat. "Dua bulan berkenalan, kami menikah," ujarnya.

Menurut Rita, hidup akan mudah jika selalu berbaik sangka. Ia juga memegang teguh satu filosofi lain: "Mudahkan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusan kita."

"Bantulah siapa saja, tak usah melihat latar belakangnya," kata dia yang mengaku hubungannya dengan keluarga tetap terjalin baik hingga saat ini.

"Kuncinya saling menenggang, saling bertoleransi," ujar ibu satu anak yang kini aktif sebagai relawan di sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada penderita lupus ini.

sumber : republika.co.id

Rabu, 01 Juni 2011

Sebelum Menjadi Ruqaiyyah, Rosalyn Rushbrook Adalah Penulis Buku-buku Nasrani


Menyebut nama Rosalyn Rushbrook, publik Inggris pasti akan segera ingat buku-buku pengetahuan dasar Kristen. Peraih gelar sarjana teologi di Hull University ini memang aktif menulis buku-buku bertema Kristen untuk penerbit beberapa arus utama. Bahkan, beberapa bukunya direkomendasikan untuk mengajaran di banyak sekolah di Inggris.

Wanita kelahiran tahun 1942 ini menikah dengan penyair George Morris Kendrick pada tahun 1964 dan kemudian memiliki dua anak. Pernikahan mereka berakhir setelah suaminya berpindah menganut agama Scientologis tahun 1986.

Akhir tahun 1986, ia menemukan hidayah. Ia menerima Islam dan mengganti namanya menjadi Ruqaiyyah.

Pada tahun 1990 ia menikah dengan seorang pria kelahiran Pakistan, Waris Maqsood Ali. Namun sembilan tahun kemudian mereka bercerai karena Waris menikahi sepupunya yang masih muda di Pakistan, demi memungkinkan status istri barunya menjadi warga Inggris.

Setelah menjadi Muslim, ia aktif menulis buku-buku keislaman. Ia menjabat sebagai Kepala Studi Keagamaan di William Gee High School, Hull, Inggris. Ia telah menulis lebih dari empat puluh buku tentang berbagai aspek agama, berkonsentrasi pada antara lain indahnya menganut Islam dan pedoman bagi para mualaf.

Banyak dari buku-bukunya diterbitkan oleh Goodword Press dari New Delhi, termasuk Living Islam, The Muslim Prayer Encyclopedia, dan buku-buku konsultasi bagi remaja. Dia pernah diundang oleh Hodder Headlines untuk menulis buku Islam dalam bab World Faiths dalam seri buku populer di seluruh dunia, Teach Yourself

Dia juga telah menciptakan program yang memungkinkan siswa untuk mempelajari Islam. Buku berjudul Islam ini diterbitkan oleh Heinemann Press pada tahun 1986 dan terus dicetak ulang, dan Do-it-Yourself Coursebook untuk menyertainya yang diterbitkan oleh IPCI. Buku ini telah digunakan secara luas di sekolah-sekolah Inggris selama lebih dari 20 tahun, dan studi DIY kini telah diambil oleh banyak orang mahasiswa, dan kelompok swasta tidak hanya di Inggris tapi di beberapa negara.

Dia ada di antara Muslim Inggris pertama yang menerima penghargaan Muslim News Awards for Excellence pada tahun 2001, dan Muhammad Iqbal Award untuk Kreativitas dalam pemikiran Islam.

Berikut petikan wawancaranya dengan BBC soal keislamannya:

Bagaimana menjadi mualaf di mata Anda?

Tak ada yang lebih mudah dari berpindah menjadi Muslim - momen ketika kita menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Allah itu memang ada, dan seorang pria kelahiran Arab bernama Muhammad adalah utusan-Nya. Kemudian kita bersyahadat. Ini langkah pertama kita menjadi Muslim. Bertakwa, kemudian hati menjadi ihsan.

Dari segi sosial, Islam harus menjadi bagian dari gaya hidup Anda. Bagi mualaf perempuan, maka artinya ada pertaruhan besar menyangkut pembangunan kepercayaan diri. Tak hanya karena cara berbusana juga berubah -- yang pasti akan disertai perubahan sikap keluarga dan orang-orang terdekat -- juga Anda harus bersiap tak disapa seorang pria pun di masjid manapun yang Anda masuki (ia menyampaikannya dengan sedikit bercanda).

Bagimana makna menerima keyakinan Islam?

Menjadi Muslim, artinya mendapatkan keyakinan universal. Kita tak perlu berpura-pura menjadi orang Arab atau Pakistan, untuk merasa memiliki dan dimiliki oleh Islam.

Kita sekarang tahu ada Muslim di setiap tempat di dunia, dari Eskimo hingga Aborigin.

Kita mungkin mengambil nama Arab, atau kita dapat memilih untuk menjaga nama lama kita, itu tidak terlalu penting.


Ada kekecewaan setelah menjadi Muslim?

Kita telah menjadi cukup dewasa untuk menyadari bahwa tidak setiap Muslim adalah orang suci. Mereka adalah juga manusia biasa dan kebanyakan dari kita jauh dari sempurna.

Kita mungkin akan mendapatkan kekecewaan menemukan bahwa tidak setiap Muslim hidup dengan cara muslim. Tapi al ini tidak membuat kami menyerah atau menuduh mereka bagian dari kemunafikan, kita hanya melakukan yang terbaik untuk hidup kita sendiri dengan cara terbaik yang kita bisa.

Beberapa Muslim sangat spiritual dalam arti Islam benar-benar menjadi tuntunan hidupnya, sementara beberapa hanya ritualistik dalam berislam.

Tapi kami para Muslim 'pendatang' semakin merasa kita dapat mengambil tempat bersama yang lain dalam hal ini umat yang luas atau keluarga, dan selama kita melakukan yang terbaik, Allah akan memberikan balasan atas niat baik kita.

sumber : republika.co.id

Halaman Ke