Rabu, 06 Juli 2011

Kisah Sahabat Nabi: Amr bin Ash, Sang Pembebas Mesir


Ada tiga orang pemuka Quraisy yang sangat menyusahkan Rasulullah SAW disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap dawah beliau dan siksaan mereka terhadap sahabatnya.

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW selalu berdoa dan memohon kepada Allah agar menurunkan azabnya pada mereka. Tiba-tiba, tatkala beliau berdoa dan memohon, turunlah firman Allah: "Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS Ali Imran: 128)

Rasulullah SAW memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan doa permohonan azab dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam keaniayaan hingga akan menerima azab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan memperoleh rahmat karunia-Nya.

Amr bin Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjuki-Nya mereka jalan untuk menganut Islam. Dan Amr bin Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani.

Para ahli sejarah biasa menggelari Amr bin Ash sebagai “Penakluk Mesir”. Namun gelar ini tidaklah tepat, yang paling tepat untuk Amr adalah “Pembebas Mesir”. Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya ialah membebaskannya dari cengkraman dua kerajaan besar yang menjajah negeri ini serta rakyatnya dari perbudakan dan penindasan yang dahsyat, yaitu imperium Persi dan Romawi.

Mesir sendiri, ketika pasukan perintis tentara Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Romawi, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa. Maka tatkala dari tapal batas kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.

Jika demikian halnya, Amr bin Ash bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir. Mereka hanyalah merintis serta membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikat norma dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami.

Amr bin Ash tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid tidak lama sebelum dibebaskannya kota Makkah.

Anehnya keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus raja Habsyi. Sebabnya ialah karena Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap Amr yang sering bolak-balik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja. Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlak mulia di tanah Arab.

Raja Habsyi itu menanyakan kepada Amr kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah?

“Benarkah begitu?” tanya Amr kepada Negus.

“Benar,” jawab Negus. “Turutilah petunjukku, hai Amr dan ikutilah dia! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya.”

Secepatnya Amr ia mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah. Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Makkah dengan maksud hendak baiat kepada Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu berkata kepada para sahabat, “Makkah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita.”

Mula-mula tampil Khalid dan mengangkat baiaat. Kemudian majulah Amr dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan baiat kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu.”

Maka Rasulullah menjawab, “Hai Amr, berbaiatlah, karena Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya.”

Tatkala Rasulullah SAW wafat, Amr bin Ash sedang berada di Oman menjadi gubernurnya. Dan di masa pemerintahan Umar bin Al-Khathab, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Suriah, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Romawi.

Amr tidak hanya seorang panglima perang tangguh sebagaimana Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Ia tidak hanya seorang diplomat ulung sebagaimana Muawiyah. Tapi juga seorang negarawan yang pintar memerintah. Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa. Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu berkata, “Tidak pantas bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir.”

Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Al-Khathab—seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya—menetapkannya sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Al-Faruq.

Amr bin Ash adalah seorang yang berpikiran tajam, cepat tanggap dan berpandangan jauh ke depan. Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan berkemauan keras dan cerdik.

Pada tahun ke-43 Hijriyah, Amr bin Ash wafat di Mesir ketika menjadi gubernur di sana. Di saat-saat kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya. “Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah SAW hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka. Kemudian aku membaiat kepada Rasulullah SAW, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau. Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup karena disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku. Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga. Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan beroleh kekuasaan begitu pun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataukah kerugian.”

Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, seraya berdoa, “Ya Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan. Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi pertolongan. Sekiranya daku tidak beroleh rahmat karunia-Mu, pasti celakalah nasibku.”

sumber : republika.co.id

Selasa, 05 Juli 2011

Mualaf Angela Collins: Begini Alasan Saya Menyerahkan Hati Saya pada Islam


Angela Collins pernah menjadi buah bibir di Amerika Serikat. Bukan tentang film televisi yang dibintanginya, tapi tentang keislamannya. Ia bersyahadat tak lama setelah Tragedi 11 September 2001.

Apa yang membuatnya jatuh hati pada Islam? Pada situs turntoislam, ia menceritakan alasannya:

Saya meyakini bahwa saya tidak bisa mengendalikan peristiwa yang terjadi dalam hidup saya atau dalam kehidupan orang lain.

Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu. Sebagai seorang Muslim saya tahu bahwa semua yang saya lakukan pertama dimulai dengan niat dan kemudian saya harus mengubah niat itu menjadi upaya dalam rangka melaksanakan apa yang telah ditetapkan. Kebijaksanaan ini mendefinisikan jalan saya untuk menjadi orang yang lebih baik bagi diri sendiri, keluarga saya, komunitas saya, dan semua orang di muka bumi.

Dalam hakikat Allah (satu-satunya Allah) membuka hati saya, Islam memberi saya arah, dan sekarang saya hidup dengan panduan yang dipinjamkan oleh Pencipta saya untuk kebahagiaan di bumi ini dan insya Allah, di akhirat nanti.

Sementara agama adalah sumber daya untuk membantu memandu diri untuk perilaku yang baik melalui spiritualitas kita.

Saya seorang mualaf. Katolik adalah agama nenek moyang saya. Pada usia 14 tahun, saya menolak konsep trinitas dan mempersempit apa yang saya lihat sebagai kisah rumit 'tiga dalam satu', menjadi 'dua dalam satu' dan mulai menghadiri gereja Baptis.

Sepanjang hidup saya, saya telah mencari untuk memahami, tetapi ketika sampai pada konsep ketuhanan saya benar-benar bingung. Terutama tentang mengapa Tuhan akan datang sebagai manusia dan akan membiarkan dirinya untuk mati bagi dosa-dosapengikutnya.

Saya bertanya pada diri sendiri, "Mengapa agama saya perlu begitu rumit?"

Ketika saya mencapai usia dewasa, saya memutuskan untuk membuatnya sangat sederhana. Hanya ada satu, Pencipta kita dan itu saja. Tidak ada penjelasan lain yang rasional dan lebih masuk akal.

Saya melihat Islam sebagai agama yang datang untuk mengklarifikasi kesalahan manusia yang mengubah firman Allah yang asli agar sesuai kepentingan mereka. Islam adalah sederhana: Allah adalah Allah. Allah menciptakan kami dan kami menyembah Allah dan Allah saja. Allah mengutus Musa, Yesus, dan Muhammad (saw) untuk menyampaikan pesan-Nya untuk membimbing semua orang.

Dalam Islam, Yesus (Isa) adalah satu-satunya nabi yang tidak pernah mati itulah sebabnya ia adalah utusan yang akan datang kembali sebelum Hari Penghakiman.

Islam menegaskan bahwa Anda tidak diberikan jalan ke surga hanya karena Anda mengatakan Anda adalah Muslim. Dan Anda mungkin tidak langsung pergi ke surga hanya karena Anda percaya bahwa Allah bersifat monotheistik.

Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan berikut pesan yang diajarkan kepada kita oleh para rasul sendiri dan dikonfirmasi oleh buku-buku asli dari Allah.

Surga bukanlah klub eksklusif bagi mereka yang hanya mengikuti apa yang ayah mereka ajarkan pada mereka. Sebaliknya, itu adalah tanggung jawab Anda, terutama sebagai seorang Muslim, untuk terus mencari kebenaran, pemahaman, dan untuk membaca serta berpikir.

Setelah membaca setiap bab dalam Quran dua kali dan menelaah secara rinci, saya percaya bahwa karya ini hanya bisa datang dari Pencipta saya. Tanpa ragu penulis buku ini tahu lebih banyak tentang saya daripada saya tahu tentang diri saya sendiri.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Islam secara serius disalahpahami di tanah air saya, Amerika Serikat. Maka, pilihan saya pada agama "kontroversial" membuat keluarga dan teman-teman bingung.

Ini adalah keyakinan saya yang tulus bahwa Allah membawa saya ke Islam dengan meningkatkan gairah saya dalam mengeksplorasi perspektif 'asing' melalui 'perjalanan asing'.

Setelah menemukan diri saya dalam Islam, saya dapat mematuhi ajaran-ajaran dalam Quran dan Hadis. Islam adalah multi-budaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apapun pada setiap titik waktu.

Saya yakin dapat mengatakan bahwa jika Allah tidak meniupkan Islam ke dalam jiwa saya, saya tak akan pernah menemukan Angela.

Well, hari ini, di sinilah saya: Angela, seorang Muslim Amerika: adalah jiwa yang terus-menerus mencari Penciptanya dan kini telah menemukan Pencipta semesta alam, dalam Islam.

sumber : republika.co.id

Minggu, 03 Juli 2011

Wanita-Wanita Terkemuka: Ruqayyah binti Muhammad SAW, Sang Pemilik Cahaya

Ruqayyah dilahirkan sekitar 20 tahun sebelum Hijrah. Sebelum masa kenabian Muhammad SAW, Ruqayyah dinikahkan dengan Utbah bin Abu lahab. Sebenarnya hal ini sangat tidak disukai oleh Khadijah, karena ia sangat mengetahui perilaku ibu Utbah, Ummu Jamil binti Harb, yang terkenal berperangai buruk dan jahat. Ia khawatir putrinya akan memperoleh sifat-sifat buruk dari ibu mertuanya tersebut.

Dan ketika Rasulullah diangkat menjadi Nabi, maka Abu Lahablah, orang yang paling memusuhi Rasulullah dan Islam. Abu Lahab kerap menghasut orang-orang Makkah agar memusuhi Nabi dan para sahabat. Begitu pula istrinya, Ummu Jamil, yang senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah dan memfitnahnya.

Atas perilaku Abu lahab dan permusuhannya yang keras terhadap Rasulullah, maka Allah menurunkan firman-Nya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (QS Al-Lahab: 1-5)

Setelah ayat ini turun, Abu Lahab berkata kepada anaknya, "Hubungan kita terputus jika kau tidak menceraikan anak perempuan Muhammad."

Kemudian Utbah menceraikan Zainab. Hal itu terjadi sesaat setelah pernikahan, dan belum sempat disetubuhi.

Ruqayyah masuk Islam bersamaan ketika Ibunya Khadijah juga memilih Islam. Setelah itu Utsman bin Affan menikahinya di Makkah. Hati Ruqayyah pun berseri-seri dengan pernikahannya ini, karena Utsman adalah seorang Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari golongan bangsawan Quraisy.

Setelah pernikahan itu, penderitaan kaum Muslimin bertambah berat, dengan tekanan dan penindasan kaum kafir Quraisy. Ketika penderitaan kaum Muslimin bertambah berat, termasuk keluarga Rasululah, maka dengan berat hati Nabi mengizinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa Muslim lainnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah.

Rombongan muhajirin ke Habasyah ini membawa 11 orang wanita. Ini berarti bahwa wanita Muslim adalah bagian dari dakwah dan jihad di jalan Allah SWT. Mereka meninggalkan kesenangan hidup berupa harta, anak dan keluarga serta negeri demi Allah.

Anas bin Malik meriwayatkan, Utsman bin Affan keluar bersama istrinya, Ruqayyah, putri Rasulullah SAW menuju negeri Habasyah. Lama Rasulullah SAW tidak mendengar kabar kedua orang itu. Kemudian datang seorang wanita Quraisy berkata, "Wahai Muhammad, aku telah melihat menantumu bersama istrinya."

Nabi SAW bertanya, "Bagaimanakah keadaan mereka ketika kau lihat?"

Wanita itu menjawab, "Dia telah membawa istrinya ke atas seekor keledai yang berjalan perlahan, sementara ia memegang kendalinya."

Maka Rasulullah SAW bersabda, "Allah menemani keduanya. Sesungguhnya Utsman adalah laki-laki pertama yang hijrah membawa istrinya sesudah Luth AS."

Setibanya di Habasyah, mereka memperoleh perlakuan yang sangat baik dari Raja Habasyah. Mereka hidup tenang dan tenteram, hingga datanglah berita bahwa keadaan kaum Muslimin di Makkah telah aman.

Mendengar berita tersebut, disertai kerinduan kepada kampung halaman, maka Utsman memutuskan bahwa kafilah Muslimin yang dipimpinnya itu akan kembali lagi ke Makkah. Mereka pun kembali. Namun apa yang dijumpai berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di Habasyah.

Pada masa itu, mereka menyaksikan keadaan kaum Muslimin yang mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan atas umat Islam semakin meningkat. Sehingga rombongan ini tidak berani memasuki Makkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti kota Makkah, barulah mereka mengunjungi rumah masing-masing yang dirasa aman.

Ruqayyah pun pulang ke rumahnya, melepas rindu terhadap orang tua dan saudara-saudaranya. Namun ternyata ibunya, Khadijah, telah wafat. Ruqayyah dilanda kesedihan yang sangat mendalam. Tak lama kemudian, kaum Muslimin kembali hijrah ke Madinah. Ruqayyah juga ikut hijrah bersama suaminya, Utsman, sehingga dia menjadi wanita yang hijrah dua kali.

Tak berapa lama setelah mereka tinggal di Madinah, bergema seruan Perang Badar. Para sahabat bersiap-siap untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah binti Rasulullah SAW diserang sakit. Rasulullah pun memerintahkan Utsman bin Affan untuk tetap tinggal menemani dan merawat istrinya.

Namun maut menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah SAW masih berada di medan Badar. Ruqayyah wafat pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijrah. Kemudian berita wafatnya Ruqayyah ini dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Pada saat wafatnya Ruqayyah, Rasulullah SAW berkata, "Bergabunglah dengan pendahulu kita, Utsman bin Maz’un."

Menjelang pemakaman Ruqayyah, kaum Muslimin di Badar meraih kemenangan. Berita kemenangan kaum Muslimin ini dibawa pula oleh Zaid bin Haritsah. Ketika memasuki ke kota Madinah, Rasulullah disambut dengan berita pemakaman Ruqayyah.

Ketika Ruqayyah wafat banyak wanita di Madinah menangis sedih, sehingga membuat Umar bin Al-Khathab mengambil cemetinya untuk menghentikan tangisan mereka.

Namun Rasulullah SAW mengambil cemeti yang ada di tangan Umar, seraya bersabda, "Wahai Umar, biarkanlah mereka menangis. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan syetan. Yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari tangan dan lidah adalah dari syetan."

Fathimah, adik Ruqayyah, duduk di bibir liang kubur kakaknya di samping Rasulullah SAW dan menangis. Melihat putrinya menangis, Rasulullah mengusap air mata Fathimah yang menetes dengan ujung pakaian beliau.

Anas bin Malik bertutur, "Kami melihat prosesi pemakaman Ruqayyah binti Rasulullah SAW. Beliau duduk di atas kuburannya, kemudian kulihat kedua matanya berlinang air mata. Kemudian beliau bertanya, 'Apakah ada salah seorang di antara kalian yang tidak melakukan hubungan suami istri semalam?' Abu Talhah menjawab, 'Saya.' Lalu, Rasulullah SAW berkata, 'Turunlah ke liang kuburnya.' Kemudian Abu Thalhah turun ke liang kuburnya."

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Hikmah Perjanjian Hudaibiyah


Setelah Perjanjian Hudaibiyah, agama Islam tersebar luas, berkembang lebih cepat daripada sebelumnya. Jumlah mereka yang datang ke Hudaibiyah ketika itu sebanyak 1.400 orang. Namun dua tahun kemudian, tatkala Rasulullah hendak membuka Makkah, jumlah mereka yang datang sudah mencapai 10.000 orang.

Mereka yang masih menyangsikan hikmah Perjanjian Hudaibiyah ini, sangat keberatan dengan klausul perjanjian yang menyebutkan, bahwa barangsiapa dari golongan Quraisy menyeberang kepada Nabi SAW tanpa seizin walinya, harus dikembalikan kepada mereka. Dan barangsiapa dari pengikut Rasulullah yang menyeberang kepada Quraisy, tidak akan dikembalikan kepada Muhammad.

Tanggapan Rasulullah SAW dalam hal ini, apabila ada orang yang murtad dari Islam dan minta perlindungan Quraisy, maka orang semacam ini tidak perlu lagi kembali kepada jamaah Muslimin. Dan siapa-siapa yang masuk Islam dan berusaha menggabungkan diri dengan kaum Muslimin, mudah-mudahan Allah akan membukakan jalan keluar.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi sesudah itu memang membuktikan kebenaran pendapat Rasulullah SAW. Bahkan lebih cepat dari yang diduga para sahabatnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan Perjanjian Hudaibiyah tersebut Islam telah memperoleh keuntungan besar yang luar biasa. Dan dua bulan sesudah itu, terbuka jalan bagi Rasulullah untuk mengirimkan surat-surat kepada para raja dan kepala negara asing, mengajak mereka masuk Islam.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah itu juga membuktikan kebenaran pendapat Rasulullah lebih cepat dari yang diduga sahabat-sahabatnya. Abu Bashir Utbah bin Usaid datang dari Makkah ke Madinah sebagai seorang Muslim—keyakinan agamanya, ia dipenjarakan oleh Quraisy di Makkah, kemudian melarikan diri menyusul Nabi ke Madinah.

Sesuai dengan isi perjanjian, Abu Bashir mesti dikembalikan kepada Quraisy, sebab ia pergi tanpa seizin tuannya. Untuk itu maka Azhar bin Auf dan Akhnas bin Syariq mengirim surat kepada Nabi SAW supaya ia dikembalikan. Surat-surat itu dibawa oleh seorang laki-laki dari Bani Amir yang datang bersama seorang budak.

"Abu Bashir," kata Nabi, "Kita telah membuat perjanjian dengan pihak mereka, seperti sudah kau ketahui. Suatu pengkhianatan menurut agama kita tidak dibenarkan. Semoga Allah membuat engkau dan orang-orang Islam yang ditindas bersamamu merupakan suatu kelapangan dan jalan keluar. Berangkatlah engkau kembali ke dalam lingkungan masyarakatmu."

"Wahai Rasulullah, saya akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menyiksa saya karena agama saya ini," kata Abu Bashir.

Nabi SAW kemudian mengulangi kata-kata tadi. Dan kedua orang itu pun berangkat. Sesampai di Dzul Hulaifa, Abu Bashir meminta kawan seperjalanannya dari Bani Amir agar memperlihatkan pedangnya. Setelah menggenggamnya erat-erat, Abu Bashir mengayungkan pedang itu tubuh si lelaki Bani Amir hingga tewas. Sang budak yang melihat kejadian tersebut, lari ke jurusan Madinah dan langsung menemui Nabi.

"Orang ini tampaknya dalam ketakutan," kata Rasulullah setelah melihat orang itu. Lalu beliau bertanya kepadanya, "Apa yang terjadi?"

"Teman tuan membunuh teman saya," jawabnya.

Tidak lama kemudian Abu Bashir muncul dengan membawa pedang terhunus dan berkata kepada Rasulullah. "Wahai Rasulullah, jaminan tuan sudah terpenuhi, dan Allah sudah melaksanakan buat tuan. Tuan menyerahkan saya ke tangan mereka dan dengan agama saya itu saya tetap bertahan, supaya jangan dianiaya atau dipermainkan."

Sebenarnya Rasulullah tidak dapat menyembunyikan kekagumannya dan harapannya pada Abu Bashir. Sesudah itu Abu Bashir berangkat juga. Ia berhenti di Al-Ish, di pantai sepanjang jalur Quraisy ke Syam.

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah dan Quraisy menetapkan jalan ini sebagai lalu lintas perdagangan, yang tidak boleh diganggu oleh kedua belah pihak. Namun setelah Abu Bashir pergi ke daerah itu, dan hal ini didengar oleh kaum Muslimin yang tinggal di Makkah serta tentang kekaguman Rasul kepadanya, sebanyak 70 orang laki-laki dari mereka menggabungkan diri dengan Abu Bashir di tempat tersebut. Ia kemudian dijadikan pemimpin oleh mereka.

Kini Abu Bashir dan rekan-rekannya mencegat Quraisy dalam perjalanan itu. Setiap orang yang berhasil mereka tangkap, mereka bunuh dan setiap ada kafilah dagang yang lewat tentu mereka rampas. Ketika itulah Quraisy menyadari bahwa hal ini merupakan suatu kerugian besar bagi mereka apabila kaum Muslimin masih tetap tinggal di Makkah.

Bagi Quraiys, usaha mengurung orang yang benar-benar teguh imannya, lebih berbahaya daripada membebaskannya. Tentu mereka akan mencari kesempatan untuk lari, dan akan melancarkan perang yang tak berkesudahan terhadap mereka yang mengurungnya. Dan Quraiys juga yang akan rugi. Quraisy teringat ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah, beliau mencegat perjalanan kafilah mereka. Perbuatan semacam itu mereka khawatirkan akan diulangi oleh Abu Bashir.

Sehubungan dengan inilah mereka lalu mengutus orang kepada Nabi SAW, meminta beliau agar menampung kaum Muslimin Makkah, serta membiarkan lalu lintas kembali aman. Dengan demikian Quraisy telah mundur selangkah dari apa yang secara gigih disyaratkan oleh Suhail bin Amr—bahwa Muslimin Quraisy yang pergi menyeberang kepada Rasulullah tanpa seizin walinya harus dikembalikan ke Makkah. Dengan sendirinya klausul itu jadi gugur. Klausul yang dulu pernah membuat Umar bin Al-Khathab gusar karenanya, dan telah menyebabkannya marah-marah pada Abu Bakar. Selanjutnya, Rasulullah SAW menampung sahabat-sahabatnya itu dan jalan ke Syam pun kembali aman.

Sekali lagi, peristiwa-peristiwa yang terjadi itu membuktikan kebenaran kebijaksanaan Rasulullah. Membenarkan pandangannya yang jauh ke depan serta politiknya yang tepat sekali. Dan hal itu juga membuktikan bahwa ketika membuat Perjanjian Hudaibiyah, beliau telah meletakkan dasar yang sangat kokoh dalam politik dan penyebaran Islam. Dan inilah kemenangan yang nyata itu.

Dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah ini segala hubungan antara Quraisy dan Rasulullah beserta kaum Muslimin menjadi tenang. Masing-masing pihak kini merasa aman pula. Quraisy mencurahkan seluruh perhatiannya pada perluasan perdagangan, dengan harapan moga-moga semua kerugian yang dialaminya selama perang dengan Muslimin dapat ditarik kembali.

Sebaliknya, Rasulullah SAW mencurahkan segenap perhatiannya pada kelanjutan dakwa Islam, menyampaikan ajarannya kepada seluruh umat manusia di segenap pelosok dunia. Beliau memfokuskan perhatian dalam rangka menciptakan ketenteraman kaum Muslimin di seluruh jazirah. Untuk itulah beliau mengirimkan beberapa utusan kepada raja-raja di sejumah negara, disamping mengosongkan orang-orang Yahudi dari seluruh Jazirah Arab, yang semuanya berhasil dilakukan seusai Perang Khaibar.

sumber : republika.co.id

Sabtu, 02 Juli 2011

Kisah Sahabat Nabi: Khansa binti Amr, Ibunda Para Syuhada



Khansa terkenal dengan julukan "Ibunda Para Syuhada". Ia dilahirkan pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam dirinya.

Ia adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tak kenal pura-pura dan suka berterus terang. Selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. Ia terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang tercinta yang telah tiada. Terutama kepada kedua orang saudara lelakinya, yaitu Muawiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia.

Khansa sering bersyair tentang kedua saudaranya itu sehingga ia ditegur oleh Umar bin Khathab. Umar pernah bertanya kepada Khansa, "Mengapa matamu bengkak-bengkak?"

"Karena aku terlalu banyak menangisi pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu," jawab Khansa.

Umar berkata, "Wahai Khansa, mereka semua ahli neraka."

"Justru itulah yang membuatku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia ahli neraka."

Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Azis As-Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak laki-laki. Melalui pembinaan dan pendidikan tangannya yang dingin, keempat anak lelakinya ini tumbuh menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu para syuhada. Hal itu karenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur sebagai syahid di medan Perang Qadisiyah.

Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan sengit di rumah Khansa. Di antara keempat putranya saling berebut kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling menunjuk yang lain untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh-musuh Allah. Rupanya perdebatan mereka itu terdengar oleh Khansa.

Maka Khansa mengumpulkan keempat anaknya dan berkata, "Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain dia, sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati ayahmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu."

Khansa berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, "Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah. Majulah paling depan, niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat, negeri keabadian. Sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Inilah kebenaran sejati, maka berperanglah dan bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya kalian dianugerahi hidup."

Pemuda-pemuda itu pun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang mati-matian melawan musuh, sehingga banyak yang tewas di tangan mereka. Akhirnya mereka pun satu per satu gugur sebagai syahid. Ketika Khansa mendengar kematian dan kesyahidan putra-putranya, sedikit pun ia tak merasa sedih.

Bahkan ia berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggilku dan berkenan mempertemukanku dengan mereka dalam naungan rahmat-Nya yang luas."

Khansa wafat pada permulaan pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, pada tahun ke-24 Hijriyah.

sumber : republika.co.id

Liburan Membawa Leila Reeb Temukan Hidayah


Leila Reeb, wanita Inggris berusia 29 tahun, memeluk Islam ketika usia 25 tahun. Dia kini menikah dengan Danny (28) yang juga seorang mualaf sejak empat tahun lalu.

Pasangan guru yang tinggal di Milton Keynes, Bucks, itu menuturkan bahwa setiap orang pasti merasa heran ketika mendengar ada orang yang masuk Islam.

"Reaksi yang biasa ketika orang tahu bahwa aku masuk Islam pada usia dua puluhan tahun. Yakni, rasa ingin tahu yang muncul,’’ cerita Leila Reeb. ‘’Aku dan suami sama-sama orang Inggris berkulit putih. Jadi, Anda jangan berpikir kami seperti ‘tipikal’ Muslim.’’

Pemberontak, Tato hingga Piercing
Leila Reeb memiliki pendidikan yang normal dalam sebuah keluarga khas Inggris. Dia tumbuh dengan kondisi di mana agama tidak benar-benar memainkan peran apa pun dalam kehidupan.

‘’Saya adalah seorang remaja stereotip,’’ katanya.

Leila Reeb tumbuh sebagai remaja pemberontak. Dia memiliki tato dan piercing pada bibirnya. Dia juga punya pacar dan senang pergi minum-minum bersama teman-teman. ‘’Di Inggris, ada budaya minum dan saya menghabiskan sebagian waktu untuk pergi ke bar,’’ ceritanya.

Leila Reeb tidak punya teman muslim. Dalam pandangannya saat itu, Islam adalah budaya patriarki di mana kaum laki-laki mendominasi dan menindas kaum perempuan.

Liburan ke Mesir
Pandangan sempit Leila Reeb tentang Islam berubah ketika dia pergi berlibur ke Mesir. Usianya saat itu sudah menginjak 25 tahun.

Di Mesir, Leila Reeb bertemu dengan penduduk Muslim setempat. Dia menemukan dirinya diserap oleh budaya mereka. ‘’Ketika mendengar panggilan ibadah setiap hari , ada sesuatu yang hidup dalam diriku. Aku mulai merasakan hubungan spiritual yang kuat dengan Islam,’’ tuturnya. ‘’Aku heran bagaimana orang-orang tampak hormat.’’

Setelah tiba di rumah, Leila Reeb memutuskan untuk mempelajari Islam lebih dalam. Dia menjalin hubungan dengan seorang teman yang telah masuk Islam.

Sang teman mengundang Leila Reeb untuk berbincang-bincang. Ketika Leila Reeb masuk, ruangan itu penuh dengan wanita mengenakan niqab. ‘’Saya pikir mereka akan menilai saya. Tapi, mereka begitu ramah,’’ ceritanya.

Saat mendalami Islam, Leila Reeb menemukan banyak kebiasannya selama ini yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Namun, dia menilai Islam lebih masuk akal untuk diikuti. Salah satu contohnya adalah larangan untuk tidak minum minuman keras karena kebiasaan tersebut buruk bagi kesehatan. Leila Reeb kini juga menemukan bahwa menutup aurat itu lebih membebaskan daripada menjadi budak mode.

Segera setelah semua itu, Leila Reeb akhirnya memutuskan untuk mengucapkan syahadat. ‘’Rasanya seperti hal yang benar untuk dilakukan. Tapi, saya butuh beberapa pekan untuk memberitahu keluarga saya dan saya merasa gugup tentang reaksi mereka,’’ katanya.

Isu Teroris
Saat Leila Reeb masuk Islam, ada banyak penangkapan teroris di Inggris. Keluarga Leila Reeb sempat khawatir. Tetapi, Leila Reeb melakukan upaya nyata untuk menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya tidak berubah.

‘’Saya memakai jilbab. Tapi, aku saat itu memilih untuk tidak memakai jilbab dan keluarga saya bisa melihat aku masih orang yang sama. Sekarang mereka sangat mendukung,’’ tutur Leila Reeb.

Danny dan Leila Reeb datang dari keluarga non-muslim. Mereka bertemu secara online mengobrol tentang ini dan itu. Mereka menikah dua tahun lalu di sebuah masjid.

‘’Kami beruntung tinggal di Inggris karena setiap orang bebas untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Saya bangga menjadi orang Inggris dan menjadi seorang Muslim. Tidak ada konflik antara keduanya,’’ katanya.

Leila Reeb rajin membaca Alquran dan belajar lebih banyak tentang Islam sepanjang waktu. Makan makanan halal dan berpuasa selama Ramadhan adalah perubahan besar pada kehidupan Leila Reeb. ‘’Bangun setiap pukul 03.00 dini hari untuk berdoa itu tidak pernah mudah,’’ kata Leila Reeb. ‘’Tapi, sekarang aku benar-benar percaya bahwa aku kini benar-benar hidup. Aku tidak pernah menyesali pilihan saya."

sumber : republika.co.id

Jumat, 01 Juli 2011

Pengalaman Mualaf Freeway, Keislamannya Ditantang Petugas Bea Cukai Bandara


Ketika mencoba melewati pemeriksaan petugas bea cukai di Kanada, seorang petugas menghentikannya. Alasannya ia seorang Muslim.

Freeway baru saja melancong ke Kanada. Ia menghadapi situasi tak biasa itu ketika tiba di Philadelphia. Warga asli Pennsylvania itu ditarik dari antrian oleh seorang petugas yang menantang keyakinan Islamnya setelah memeriksa paspornya.

"Mereka menarik saya dari antrian di bea cukai padahal saya sudah berdiri menunggu paling tidak satu jam. Mereka bilang hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan," ujarnya seperti yang dikutip The Come Up Show.

"Begitu saya berada di antrian terdepan, petugas tadi melihat paspor saya. Saya juga pernah bepergian ke Arab Saudi beberapa kali sehingga saya memiliki stempel imigrasi dari negara itu," tuturnya.

Petugas tadi bertanya, "Kapan anda ke Arab Saudi?". Freeway pun menjawab. Petugas pun berkata lagi, "Kamu seorang Muslim? Mengapa kamu menjadi Muslim?"

Freeway berkata, "Saya mengetahui bahwa ayah saya juga seorang Muslim. Saya mempelajari Islam dan merasa bahwa itu adalah agama yang tepat untuk saya. Itu agama yang indah, indah."

Tidak menghiraukan kemungkinan apakah jawabannya bisa membuat situasi kian sulit, Free menerangkan bahwa memeluk Islam adalah pengalaman yang membuka matanya.

"Itu benar-benar menyentuh saya," Free menuturkan apa yang ia ucapkan kepada si petugas. Petugas tadi kembali bertanya, "Itu memang indah, tapi bila ada sesuatu yang datang dan lebih cantik dari itu, apakah kamu akan mengambilnya? berpindah? Itu pun sangat masuk akal,"

Freeway lalu menjawab. "Ya, tapi hanya sekedar masuk akal. Sementara Islam masuk akal bagi saya. Semuanya seperti 'klik', tepat."

Petugas tadi kembali merespon "Ah, itulah jawabannya. Seketika itu pula perasaan Freeway membaik.

Ia pun berkata kepada si petugas, "Anda tahu ketika anda mengeluarkan saya dari antrian saya sangat jengkel karena anda telah menghabiskan waktu saya. Namun saya sabar."

Ternyata petugas tadi pun seorang Muslim. Pada akhir pemeriksaan si petugas menyapanya, "Asalamua'alaikum, saudaraku'. Freeway pun membalas, "Wa'alaikum salam". Ia berkata, "Itu pengalaman baik."

sumber : republika.co.id

Halaman Ke