Rabu, 03 Agustus 2011

Wanita-Wanita Teladan: Ummu Kultsum binti Abu Bakar, Putri Khalifah yang Dipinang Khalifah


, Ia merupakan salah seorang wanita utama pada zamannya. Pernah dipinang oleh Umar bin Khathab, namun tidak jadi dinikahinya.

Awalnya, dikarenakan ada seorang lelaki Quraisy yang berkata pada Umar bin Khathab, "Maukah kau menikahi Ummu Kultsum binti Abu Bakar. Kau bisa menjaga kemuliaannya setelah Abu Bakar meninggal dan menggantikannya dalam keluarganya?"

Umar menjawab, "Boleh, aku suka itu. Pergilah kau pada Aisyah dan sebutkan apa yang kumaksud (meminang Ummi Kultsum). Lalu kembalilah padaku dengan jawabannya!"

Kemudian datanglah seorang utusan pada Aisyah dengan membawa pesan Umar. Aisyah menjawab apa yang ditanyakan Umar, dan berkata, "Sungguh suatu kemuliaan."

Tak lama berselang, Mu'irah bin Sya’bah datang dan melihat Aisyah gelisah. "Ada apa denganmu, wahai Ummul Mukminin?" tanyanya.

Aisyah menceritakan apa yang terjadi barusan tentang seorang utusan Umar yang hendak meminang Ummu Kultsum. "Dia (Ummu Kultsum) baru saja menjalani hidupnya. Dan aku ingin bersikap lemah lembut pada anak ini. Aku khawatir dengan sikap Umar yang keras terhadapnya."

"Aku akan menyampaikannya pada Umar, sebagai utusanmu," kata Mu’irah.

Dia pun berangkat ke tempat Umar, lalu berkata, "Semoga anda hidup damai dan diberkahi dengan banyak anak. Aku baru saja berkunjung dari Aisyah dan aku mendengar anda meminang Ummi Kultsum."

"Ya, benar demikian adanya," jawab Umar.

"Bukankah kau orang yang keras dalam bersikap terhadap keluargamu, wahai Amirul Mukminin," kata Mu'irah. "Dan orang yang hendak anda pinang ini masihlah anak yang berumur kecil. Dia masih belum tahu apa-apa. Bila suatu saat kau bersikap kasar padanya, tentu dia akan berteriak menangis. Dan hal itu tentu akan membuatmu khawatir. Aisyah juga akan merasa sakit perasaannya. Mereka akan teringat Abu Bakar, lalu mereka menangis. Sehingga musibah akan terus berlangsung pada keluarga mereka, yang masanya saling berdekatan di setiap harinya.

"Kapan kau datang dari Aisyah dan katakanlah jujur padaku!"

"Baru saja."

"Aku tahu mereka tidak suka padaku. Mereka menginginkan agar aku mencabut apa yang telah aku minta tadi. Dan Sungguh aku memaafkan mereka," kata Umar.

Mu’irah kembali kepada Aisyah dan mengatakan kabar yang barusan diperolehnya dari Umar. Dan Umar tetap berpegang pada pendapatnya. Dia tidak jadi meminang Ummu Kultsum.

Beberapa orang meriwayatkan hadits dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar, seperti saudara perempuannya, Aisyah Ummul Mukminin; anaknya, Ibrahim bin Abdurrahman bin Abu Rabi’ah bin Abdullah Al-Anshari; Talhah bin Yahya bin Talhah, dan Mughirah bin Hakim As-Shaghani. Dan beberapa imam juga meriwayatkan haditsnya, di antara mereka Muslim dan Tirmizi.

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kemenangan yang Nyata


Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul Allah, bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Beliau bukan seorang tiran, bukan manusia yang sok berkuasa.

Ketika Rasulullah memasuki Ka'bah, dilihatnya dinding-dinding Ka'bah sudah penuh dengan lukisan dan gambar. Beliau memerintahkan supaya gambar dan lukisan itu
dihancurkan. Demikian pula dengan berhala-berhala di sekeliling Ka'bah yang disembah oleh Quraisy.

Dengan tongkat di tangannya, Rasulullah menunjuk berhala-berhala itu seraya berkata: "Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (QS Al-Israa': 81)

Berhala-berhala itu kemudian dihancurkan pula. Dengan demikian, Rumah Suci itu dapat dibersihkan.

Pihak Anshar dari Madinah menyaksikan semua kejadian itu. Mereka melihat Rasulullah berdoa di atas gunung Shafa. Terbayang oleh mereka sekarang bahwa beliau pasti akan meninggalkan Madinah dan kembali ke tempat tumpah darahnya yang kini telah dibukakan Tuhan. Mereka berkata satu sama lain, "Menurut pendapatmu, adakah Rasulullah akan menetap di negerinya sendiri?"

Setelah selesai berdoa Rasulullah berkata kepada kaum Anshar, "Berlindunglah kita kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kalian." Dengan demikian, beliau telah memberikan teladan kepada orang-orang tentang keteguhannya memegang janji pada Baiat Aqabah, serta kesetiannya kepada sahabat-sahabatnya yang seiring sepenanggungan di kala menderita.

Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Ka'bah, Nabi menyuruh Bilal menyerukan azan dari atas Ka'bah. Kaum Muslimin mendirikan shalat bersama, dan Rasulullah sebagai imam.

Setelah memasuki Makkah pun Rasulullah mengeluarkan perintah jangan sampai ada pertumpahan darah dan jangan ada seorang pun yang dibunuh. Tetapi setelah keadaan kembali aman dan tenteram, dan orang melihat betapa Rasulullah berlapang dada dan memberikan pengampunan yang begitu besar kepada mereka, ada beberapa orang sahabat yang minta supaya mereka yang sudah dijatuhi hukuman mati juga diberi pengampunan. Di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati ada Abdullah bin Abi As-Sarh, Ikrimah bin Abu Jahal, dan beberapa orang murtad lainnya. Rasulullah mengampuni mereka semua.

Keesokan harinya setelah hari pembebasan itu ada seseorang dari pihak Hudhail yang masih musyrik dibunuh oleh Khuza'ah. Nabi marah sekali karena perbuatan itu, dan dalam khutbahnya di hadapan orang banyak beliau berkata, "Wahai manusia sekalian, Allah telah menjadikan Makkah ini tanah suci sejak Ia menciptakan langit dan bumi. Ia suci sejak pertama, kedua dan ketiga, sampai hari kiamat."

"Oleh karena itu," lanjut beliau, "Orang yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian tidak dibenarkan mengadakan pertumpahan darah atau menebang pohon di tempat ini. Tidak dibenarkan kepada siapa pun sebelum aku, dan tidak dibenarkan kepada siapa pun sesudah aku ini. Juga aku pun tidak dibenarkan marah kepada penghuni daerah ini hanya untuk saat ini saja, kemudian ia kembali dihormati seperti sebelum itu. Hendaklah kamu yang hadir ini memberitahukan kepada yang tidak hadir. Kalau ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Rasulullah telah berperang di tempat ini, katakanlah bahwa Allah telah membolehkan hal itu kepada Rasul-Nya, tapi tidak kepada kamu sekalian."

Rasulullah menambahkan, "Wahai orang-orang Khuza'ah, lepaskanlah tangan kalian dari pembunuhan, sebab sudah terlalu banyak; itu pun kalau ada gunanya. Kalau kamu sudah membunuh orang, tentu aku juga yang akan menebusnya. Barangsiapa ada yang dibunuh sesudah ucapanku ini, maka keluarganya dapat memilih satu dari dua pertimbangan ini; kalau mereka mau, dapat menuntut darah pembunuhnya, atau dengan jalan diyat."

Sesudah itu, Rasulullah membayar diyat keluarga orang yang dibunuh oleh Khuza'ah itu. Dengan khutbah itu serta sikapnya yang begitu lapang dada dan suka memaafkan, hati penduduk langsung terpesona pada Rasulullah. Dengan demikian orang-orang pun berbondong-bondong masuk Islam.

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, hendaknya menghancurkan setiap berhala dalam rumahnya," seru orang-orang.

Rasulullah tinggal di Makkah selama 15 hari, dan selama itu pula beliau membangun Makkah, mengajari penduduknya hukum-hukum agama. Dan selama itu pula regu-regu dakwah dikirimkan untuk mengajarkan Islam, bukan untuk berperang. Mereka juga dikirim untuk menghancurkan berhala-berhala tanpa pertumpahan darah.

Dalam waktu dua pekan selama beliau tinggal di Makkah, semua jejak paganisme dapat dibersihkan. Jabatan dalam Rumah Suci yang sudah pindah kepada Islam pada waktu itu ialah kunci Ka'bah, yang oleh Nabi diserahkan kepada Utsman bin Talhah. Dan sesudah itu kepada anak-anaknya, yang tidak boleh berpindah tangan. Sedang pengurusan air Zamzam pada musim haji berada di tangan pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib.

Dengan demikian, seluruh Makkah sudah beriman, panji dan menara tauhid sudah menjulang tinggi. Dan selama berabad-abad, dunia sudah pula disinari cahayanya yang berkilauan.

sumber : republika.co.id

Selasa, 02 Agustus 2011

Di Tengah Meningkatnya Sentimen Anti Islam, Hannah Snider 'Melawan Arus' dan Bersyahadat


Pada 27 Mei 2011, Hannah Snider bersyahadat, mendeklarasi imannya dalam Islam. Namun, wanita Asal Los Angeles, Amerika Serikat ini, mengaku tidak menjadi seorang Muslim pada hari itu. "Saya selalu Muslim, tapi tidak menyadarinya. Saya selalu percaya pada satu Tuhan. Hati saya telah Muslim," katanya.

Pemikiran ini, katanya, tak hanya merupakan salah satu pilar yang paling dasar, namun yang paling penting dari sebuah agama.

Tumbuh dalam lingkungan yang tak pernah bersinggungan dengan Muslim, Hannah tak pernah tahu tentang Islam. "Alasan saya tidak pernah tahu tentang agama agung ini karena tidak ada yang pernah mengatakan kepada saya. Aku punya teman sekamar Muslim, telah bertemu dengan orang Muslim, tapi tak seorang pun memberitahu saya apa yang umat Islam yakini," katanya.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun mencoba memahami tentang berbagai agama, seorang teman memintanya menjelaskan keyakinan dasarnya. Saat itu, ia mengaku percaya Tuhan tapi tak menganut satu agamapun. "Dia mengoreksi saya dengan menjelaskan bagaimana Islam masuk ke dalam keyakinan saya, dan saya mulai meneliti dan belajar dan membaca Alquran," katanya.

Jujur, katanya, ia takut ketika menyadari bahwa Islam telah merasuki hidupnya. Tempat dia lahir dan dibesarkan, Amerika, tidaklah 'ramah' untuk umat Islam. "Dan setelah semua gambaran media yang negatif tentang Islam, semua teman-teman saya berpandangan sama tentang agama ini," tambahnya.

Namun, katanya, setelah ditelusuri, kebencian mereka pada Islam bersumber pada kurangnya pengetahuan tentang Islam, dan seringkali dangkalnya pengetahuan akan agama mereka sendiri. Rasa takutnya bakal dikucilkan setelah memeluk Islam sirna, dan ia bertekad untuk bisa menjelaskan lebih jauh tentang Islam pada rekan-rekannya.

Ia pun bersyahadat.


***

Kini, diakui atau tidak, Hannah bak humas bagi Islam. Orang-orang nyaman mengajukan pertanyaan-pertanyaan padanya tentang agama barunya, baik di toko kelontong, atau di mal, atau di kantor. "Saya tidak pernah tersinggung. Ini adalah bagian dari agama kita untuk menjangkau orang lain dan menyebarkan pesan Islam. Ini disebut dakwah," katanya.

Ia menjelaskan tentang Islam, tanpa pretensi menarik pengikut. "Beragama itu lahir dari kesadaran, bukan paksaan," tambahnya.

Harapannya, kalaupun mereka tidak setuju pada ajaran Islam, setidaknya bisa menoleransi. "Menemukan perbedaan, menemukan kesamaan, dan merangkul mereka. Dan untuk populasi Muslim: sangat penting bahwa kita mengenal orang lain dan membantu mereka untuk memahami agama kita. Bukan bertengkar tentang hal itu dan membiarkan media menggambarkan kita," katanya.

sumber : republika.co.id

Senin, 01 Agustus 2011

Para Perawi Hadits: Imam Muslim, Murid Sekaligus Penerus Bukhari


Nama lengkapnya Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz Al-Qusyairi An-Naisaburi. Ia adalah penulis kitab As-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini.

Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada 206 H. Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, sejak usia 12 tahun. Ia mengembara ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara negara lainnya.

Dalam perjalannanya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk belajar hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar. Di Mesir ia berguru kepada Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.

Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. Pada waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya.

Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung dengan Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya.

Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya, yang diterimanya dari Bukhari. Padahal ia pun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalam Sahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.

Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id Al-Ayli, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.

Jika Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits sahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.

Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib Al-Baghdadi berkata, "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memerhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya." Pernyataan ini tidak berarti bahwa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab ia mempunyai cirri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya.

Abu Quraisy Al-Hafiz menyatakan bahwa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim. Maksud perkataan tersebut adalah ahli ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya Al-Jami’ As-Sahih (Sahih Muslim), Al-Musnad Al-Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits), Kitab Al-Asma’ wa Al-Kuna, Kitab Al-’Ilal, Kitab Al-Aqran, Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal, Kitab Al-Intifa’ bi Uhub As-Siba’, dan lainnya.

Di antara kitab-kitab di atas, yang paling agung dan sangat bermanfat luas serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al-Jami’ As-Sahih atau Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.

Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafadz-lafadz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafadz-lafdaz itu. Dengan usaha yang sedemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahih-nya.

Bukti konkret mengenai keagungan kitab itu adalah fakta bahwa Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Ia pernah berujar, "Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits."

Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.”

Ibnu Salah menyebutkan dari Abi Quraisy Al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. "Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang," kata Ibnu salah.

Di dalam Sahih-nya, Imam Muslim menulis, "Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits."

Ia juga pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Allah yang diterimanya, "Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini."

Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahih-nya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut: "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan. Juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula."

Dalam penulisan Sahih-nya, Muslim, tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.

Imam Muslim wafat pada Ahad sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad—salah satu daerah di luar Naisabur—pada hari Senin 25 Rajab 261 H. Ia wafat dalam usia 55 tahun.

sumber : republika.co.id

Kisah Sahabat Nabi: Ikrimah bin Abu Jahal, Mukmin Muhajir dan Mujahid


Ikrimah berusia 30 tahun ketika Rasulullah mulai menyampaikan dawah Islam secara terbuka. Ia adalah seorang bangsawan Quraisy yang dihormati, kaya, dan berasal dari keturunan ningrat. Kalaulah tidak terhalang oleh sikap ayahnya yang sangat keras menentang Islam, agaknya ia telah masuk Islam lebih awal, sebagaimana putra-putra Makkah yang berpandangan luas dan maju, seperti Saad bin Abi Waqqash dan Mush’ab bin Umair.

Ikrimah dikenal sebagai pemuda Quraisy yang gagah berani dan seorang penunggang kuda yang mahir. Ia memusuhi Rasulullah hanya karena didorong oleh sikap keras ayahnya yang sangat membenci beliau. Oleh sebab itu, Ikrimah turut memusuhi Rasulullah lebih keras lagi dan menganiaya para sahabat lebih kejam dan bengis, untuk menyenangkan hati ayahnya.

Sejak kematian ayahnya dalam Perang Badar, sikap dan pandangan Ikrimah terhadap kaum Muslimin berubah. Kalau dulu ia memusuhi kaum Muslimin lantaran untuk menyenangkan hati ayahnya, maka kini ia memusuhi Rasulullah dan para sahabatnya karena dendam atas kematian ayahnya. Dan dendam itu ia lampiaskan dalam Perang Uhud.

Ketika Perang Khandaq meletus, kaum musyrikin Quraisy mengepung kota Madinah selama berhari-hari. Ikrimah bin Abu Jahal tak sabar dengan pengepungan yang membosankan itu. Lalu ia nekad menyerbu benteng kaum Muslimin. Usahanya sia-sia, bahkan merugikannya hingga ia lari terbirit-birit di bawah hujan panah kaum Muslimin.

Ketika Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), kaum Quraisy memutuskan tidak akan menghalangi Rasulullah dan kaum Muslimin masuk kota Makkah. Tapi Ikrimah dan beberapa orang pengikutnya tak mengindahkan keputusan itu. Mereka menyerang pasukan besar kaum Muslimin. Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh Panglima Khalid bin Walid. Ikrimah melarikan diri ke Yaman lantaran takut dihukum mati oleh Rasulullah.

Ummu Hakim, istri Ikrimah, menemui Rasulullah untuk meminta ampunan. Rasulullah memenuhi permohonan itu. Maka Ummu Hakim pun berangkat menyusul Ikrimah. Setelah bertemu dengan Ikrimah di tempat pengasingannya, Ummu Hakim membujuk suaminya agar mau kembali ke Makkah. Ummu Hakim juga mengabarkan bahwa Rasulullah telah mengampuni dan memaafkannya.

Ketika Ikrimah dan istrinya hampir tiba di kota Makkah, Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Ikrimah bin Abu Jahal akan datang ke tengah-tengah kalian sebagai Mukmin dan Muhajir. Karena itu, janganlah kalian memaki ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang hidup. Padahal makian itu tidak terdengar oleh orang yang sudah meninggal."

Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah, beliau menyambutnya dengan gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah duduk pula di hadapan beliau dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya. Setelah itu, Ikrimah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahannya yang telah lalu. Rasulullah pun memenuhi permintaan Ikrimah itu.

Maka wajah Ikrimah pun berseri-seri. Kemudian ia berkata, "Demi Allah, ya Rasulullah. Tak satu sen pun dana yang telah saya keluarkan untuk memberantas agama Allah di masa lalu, melainkan mulai saat ini akan saya tebus dengan dengan mengorbankan hartaku berlipat ganda untuk menegakkan agama Allah. Dan tak seorang pun kaum Muslimin yang telah gugur di tanganku, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin berlipat ganda, demi untuk menegakkan agama Allah."

Sejak itu, Ikrimah menggabungkan diri ke dalam barisan dakwah sebagai anggota pasukan berkuda yang cekatan dan gagah berani di medan perang. Disamping itu, Ikrimah juga menjadi seorang ahli ibadah dan pembaca Alquran yang tekun di masjid.

Ketika terjadi Perang Yarmuk, Ikrimah maju berperang seperti kesetanan. Melihat tindakan nekat itu, Khalid bin Walid, yang menjadi panglima pasukan segera mengejar, "Ikrimah, kamu jangan bodoh! Kembali! Kematianmu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin."

Namun Ikrimah tidak mempedulikan peringatan tersebut. "Biarkan saja, ya Khalid. Biarkan aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Aku telah memerangi Rasulullah di beberapa medan peperangan. Pantaskah setelah masuk Islam, aku lari dari tentara Romawi ini? Tidak, sesekali tidak!" Kemudian dia berteriak, "Siapakah yang berani mati bersamaku?"

Beberapa orang segera melompat ke samping Ikrimah, kemudian menerjang ke depan, menghalau pasukan lawan yang terus maju. Akhirnya, walau korban berjatuhan, mereka berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan kemenangan yang gemilang.

Di akhir pertempuran, di bumi Yarmuk berjejer tiga mujahid Muslim yang terkapar dalam keadaan kritis. Mereka menderita luka yang sangat parah; Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan Ikrimah bin Abu Jahal.

Al-Harits meminta air minum. Ketika air didekatkan ke mulutnya, ia melihat Ikrimah dalam keadaan seperti yang ia alami. "Berikan dulu kepada Ikrimah," kata Al-Harits.

Ketika air didekatkan ke mulut Ikrimah, ia melihat Ayyasy menengok kepadanya. "Berikan dulu kepada Ayyasy!" ujarnya.

Ketika air minum didekatkan ke mulut Ayyasy, dia telah meninggal. Orang yang memberikan air minum segera kembali ke hadapan Harits dan Ikrimah, namun keduanya pun telah meninggal pula.

sumber : republika.co.id

Wanita-Wanita Teladan: Ummu Kultsum binti Ali, Sang Orator Ulung


Dia termasuk salah seorang wanita mulia di zamannya. Dilahirkan sebelum Rasulullah saw meninggal dunia. Khalifah Umar bin Khattab datang pada Ali bin Abu Thalib untuk melamarnya.

Namun Ali berkata, "Dia masih kecil."

"Nikahkanlah diriku dengannya, wahai Abu Hasan. Aku hanya ingin memperoleh kemuliaan dirinya, yang tidak diperoleh orang lain," kata Umar.

"Baiklah," kata Ali, "Aku akan kirimkan dia kepadamu. Jika dia rela, maka kau nikah dengannya."

Ali bin Abu Thalib kemudian mengirimkan anaknya yang hendak dipinang tadi pada Umar bin Khattab.

Kemudian Umar bin Khattab beranjak menuju majelis kaum Muhajirin yang bertempat di antara kuburan dan mimbar Nabi, untuk mengadakan pertemuan. Tidak lama kemudian Ali datang, disusul Ustman, Zubair, Talhah, dan Aburrahman bin Auf.

Telah menjadi kebiasaan, bila Umar datang menemui mereka dan mengundang mereka untuk menemuinya. Maka dia akan meminta nasihat pada mereka dalam suatu perkara.

Lalu Umar berkata, "Dukunglah aku!"

"Dengan siapa, ya Amirul Mukminin?" tanya mereka.

"Dengan anak perempuan Ali bin Abu Thalib," jawab Umar. "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda setiap nasab, sebab dan periparan akan terputus pada hari kiamat, kecuali nasabku, sebabku, dan menantuku. Aku telah mempunyai hubungan nasab dan sebab pada Rasulullah SAW, dan aku hanya ingin mengumpulkan ketiganya dengan menjadi menantunya."

Kemudian mereka mendukungnya. Umar akhirnya benar-benar menikahi Ummu Kultsum pada bulan Dzulqa’dah tahun 17 Hijriyah. Dia menjadi istri Umar hingga akhir hayat Al-Faruq yang terbunuh.

Ummu Kultsum melahirkan Zaid bin Umar Al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar. Ummu Kultsum dikenal sebagai seorang orator ulung yang berbakat.

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Islamnya Abu Sufyan


Abbas bin Abdul Muthalib—paman Rasulullah—meninggalkan kaumnya yang tengah berdebat itu. Ia dan keluarganya berangkat menemui Rasulullah di Juhfa. Kemungkinan ada orang-orang dari Bani Hasyim yang telah menerima berita atau kabar tentang kebenaran Rasulullah. Hingga mereka bermaksud menggabungkan diri tanpa akan mendapat gangguan.

Disamping Abbas, yang juga berangkat menyongsong ialah Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib, sepupu Nabi, dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, anak bibinya. Mereka menggabungkan diri dengan pasukan Muslimin di Niq Al-Uqab. Mereka berdua minta izin untuk menemui Nabi, tapi Rasulullah menolak.

"Aku tidak ada keperluan dengan mereka," kata Rasulullah kepada Ummu Salamah, istrinya, ketika ia mencoba membicarakan masalah dua orang itu. "Aku sudah banyak menderita karena anak pamanku itu. Sedang anak bibiku, dan iparku pula, ia sudah mengatakan yang bukan-bukan ketika ia di Makkah."

Keterangan ini disampaikan kepada Abu Sufyan. "Demi Allah," ujarnya, "Bagiku hanyalah aku ingin diizinkan bertemu. Atau dengan bantuan anakku ini, kami akan pergi ke mana saja, sampai kami mati kehausan dan kelaparan."

Rasulullah merasa kasihan kepada mereka. Kemudian mereka pun diizinkan masuk menemui beliau, dan mereka menyatakan masuk Islam.

Menyaksikan pasukan Muslimin serta kekuatannya yang demikian rupa, Abbas bin Abdul Muthalib merasa cemas dan sangat terkejut. Sekalipun ia sudah masuk Islam, namun hatinya selalu khawatir akan bencana yang akan menimpa Makkah jika kekuatan pasukan yang belum pernah ada bandingannya di seluruh Jazirah Arab itu, kelak menyerbu ke dalam kota.

Dengan duduk di atas seekor bagal putih kepunyaan Nabi, Abbas berangkat ke daerah Arak, dengan harapan dapat berjumpa dengan orang mencari kayu, atau tukang susu atau dengan siapa saja yang sedang pergi ke Makkah. Ia akan menitipkan pesan kepada penduduk kota itu tentang kekuatan pasukan Muslimin yang sebenarnya supaya mereka kelak menemui Rasulullah dan minta damai sebelum pasukan ini memasuki kota dengan kekerasan.

Sejak pihak Muslimin berlabuh di Mar Az-Zahran, pihak Quraisy sudah mulai merasakan adanya bahaya yang sedang mendekati mereka. Maka mereka mengutus Abu Sufyan bin Harb, Budail bin Warqa' dan Hakim bin Hizam—kerabat Khadijah—untuk mencari-cari berita serta mencari tahu seberapa jauh bahaya yang mungkin datang mengancam.

Sementara Abbas sedang mengendarai bagal Nabi yang putih itu, tiba-tiba ia mendengar ada percakapan antara Abu Sufyan bin Harb dengan Budail bin Warqa'. "Aku belum pernah melihat api unggun dan pasukan tentara seperti yang kita lihat malam ini," kata Abu Sufyan.

"Tentu itu api unggun Khuza'ah yang sudah dirangsang perang," timpal Budail.

Abbas yang sudah mengenal suara Abu Sufyan itu, lalu memanggil dengan nama julukannya, "Abu Hanzalah!"

"Abul Fadhl!" sahut Abu Sufyan.

"Abu Sufyan, kasihan engkau!" kata Abbas. "Rasulullah berada di tengah-tengah rombongan itu. Apa jadinya Quraisy kalau mereka memasuki Makkah dengan kekerasan."

"Apa yang harus kita perbuat!" kata Abu Sufyan. "Kupertaruhkan ibu-bapaku untukmu."

Abbas menaikkan Abu Sufyan di belakang bagal dan diajaknya berangkat bersama-sama, sedang kedua temannya disuruhnya kembali ke Makkah. Ketika kaum Muslimin melihat bagal itu, mereka membiarkannya lewat. Abbas berjalan di tengah-tengah 10.000 orang yang sedang memasang api unggun, yang sengaja dipasang untuk menimbulkan kegentaran dalam hati penduduk Makkah.

Akan tetapi ketika bagal itu lewat di depan api unggun Umar bin Khathab, Umar melihat dan mengenali Abu Sufyan. Ia juga bahwa Abbas hendak melindunginya. Umar segera menemui Rasulullah dan meminta izin kepada Nabi untuk membunuh Abu Sufyan.

"Rasulullah," kata Abbas. "Saya sudah melindunginya."

Menghadapi situasi semacam itu dan waktu sudah malam pula, terjadi perdebatan yang kadang sengit antara Umar dan Abbas.

Rasulullah kemudian berkata, "Bawalah dia dulu ke tempatmu, Abbas. Pagi-pagi besok bawa kemari!"

Keesokan harinya, ketika Abu Sufyan dibawa kembali menghadap Nabi dan disaksikan oleh pembesar-pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar terjadi dialog antara Rasulullah dan Abu Sufyan.

"Kasihan kau Abu Sufyan. Bukankah sudah tiba waktunya sekarang engkau harus mengetahui, bahwa tak ada Tuhan selain Allah?" kata Rasulullah.

Abu Sufyan menjawab, "Demi ibu-bapakku, sungguh bijaksana engkau. Sungguh pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga. Aku memang sudah menduga, bahwa tak ada Tuhan selain Allah, itu sudah mencukupi segalanya."

"Kasihan engkau Abu Sufyan, bukankah sudah tiba waktunya engkau harus mengetahui bahwa aku Rasulullah?"

"Demi ibu-bapakku, sungguh bijaksana engkau. Sungguh pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga. Tetapi mengenai hal ini, sungguh sampai sekarang masih ada sesuatu dalam hatiku."

Abbas campur tangan. Ia bicara dengan ditujukan kepada Abu Sufyan, supaya ia mau menerima Islam dan bersaksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad pesuruh-Nya. Menghadapi hal ini tak ada pilihan bagi Abu Sufyan.

"Rasulullah," kata Abbas. "Abu Sufyan adalah orang yang gila hormat. Berikanlah sesuatu kepadanya."

"Ya," kata Rasulullah, "Barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan, orang itu selamat. Barangsiapa menutup pintu rumahnya orang itu selamat dan barangsiapa masuk ke dalam masjid orang itu juga selamat."

sumber : republika.co.id

Halaman Ke