Senin, 22 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kecemburuan Ummahatul Mukminin


Rasulullah sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka (para istrinya), meninggalkan mereka, supaya sikap kasih sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka kian melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) itu sudah melampaui sopan santun, sehingga ketika terjadi percakapan antara Rasulullah dengan Aisyah. Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Rasulullah. Dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafshah pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala beliau sedang di rumah Hafshah dan agak lama. Ketika Hafshah kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang meluap-luap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi.

Ketika Maria keluar kemudian, Hafshah masuk menjumpai Nabi. "Saya sudah melihat dengan siapa kau tadi," kata Hafshah. "Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu."

Rasulullah segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafshah mengungkapkan perasaannya, dan membicarakannya kembali dengan Aisyah atau Ummul Mukminin yang lain.

Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafshah, Rasulullah bahkan hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya, jika Hafshah tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafshah berjanji akan melaksanakan. Namun kecemburuan begitu berkecamuk dalam hatinya, sehingga dia tidak sanggup lagi menyimpan perasaannya. Dan Hafshah pun menceritakan kejadian tersebut kepada Aisyah.

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab binti Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa beliau berlaku tidak adil terhadap para istrinya. Dan karena cintanya kepada Aisyah beliau telah merugikan yang lain.

Dalam berterus terang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para istrinya, ia bahkan mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk. Sehingga membuat Aisyah marah, namun ditenangkan oleh Rasulullah.

Namun Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah hingga melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain bagi Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Aisyah pun membalas kata-kata Zainab dan membuatnya terdiam.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan istri-istri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab beliau dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain. Sehingga Nabi bermaksud hendak menceraikan sebagian mereka.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini, Rasulullah—yang telah mengangkat tinggi derajat mereka—masih tetap bersikap lemah-lembut. Rasulullah tidak punya waktu untuk melayani sikap yang demikian dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang istri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan Ummahatul Mukminin itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula.

Rasulullah harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwahnya, seperti yang sudah ditentukan Allah kepadanya. Beliau hendak memberi pelajaran dengan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian.

Akhirnya, selama sebulan penuh Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga tak seorang pun yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu Rasulullah memusatkan perhatiannya pada upaya dakwah dan penyebaran Islam di Jazirah Arab.

Pada saat yang demikian, Abu Bakar dan Umar bin Khathab serta para mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Ummahatul Mukminin. Mereka khawatir dengan kemarahan Rasulullah yang akan berakibat pula dengan kemurkaan Allah dan para malaikat.

Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa Nabi telah menceraikan Hafshah, putri Umar, setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan kaum Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan istri-istrinya. Pada saat yang sama, para istri Rasulullah pun gelisah pula. Mereka menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai sebegitu jauhnya menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka, Rasulullah adalah segalanya dalam hidup ini.

Kini Rasulullah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama beliau dalam bilik itu, pelayannya yang bernama Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Sudah sebulan lamanya Rasulullah dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para istrinya.

Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam masjid dalam keadaan menekur. Mereka berbincang-bincang bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Kesedihan mendalam membayang jelas pada wajah mereka.

Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri, hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya. Dipanggilnya Rabah agar dimintakan izin hendak menemui Rasulullah. Namun Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengizinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaannya. Namun Rabah tetap tidak memberikan jawaban.

Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras. "Rabah, mintakan aku izin kepada Rasulullah SAW. Kukira beliau sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafshah. Sungguh, kalau beliau menyuruhku memenggal leher Hafshah, akan kupenggal."

Sekali ini Nabi memberi izin dan Umar pun masuk. Ketika Umar sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

"Apa yang membuatmu menangis, Ibnul Khathab?" tanya Rasulullah lembut.

Yang membuat Umar menangis adalah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya. Dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan dan kulit yang digantungkan.

Setelah mengatakan apa yang menyebabkannya menangis, dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, Umar pun kembali tenang.

"Rasulullah," kata Umar, "Apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para istri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu. Demikian juga para malaikat—Jibril dan Mikail—juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu."

Kemudian Umar terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajah beliau dan beliau pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini, ia kemudian menceritakan keadaan Muslimin yang ada di masjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya—Ummahatul Mukminin.

Nabi mengatakan bahwa beliau tidak menceraikan mereka. Dan Umar minta izin untuk mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang kini masih menunggu di masjid.

sumber : republika.co.id

Jumat, 19 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Sikap Rasulullah Terhadap Istri


Kecemburuan yang terjadi di antara para istri Rasulullah wajar terjadi. Beliau telah memberi tempat dan kedudukan kepada istri-istrinya sedemikian rupa, suatu hal yang tidak pernah dikenal di kalangan Arab.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khathab pernah berkata, "Sungguh, kalau kami dalam zaman jahiliyah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Kami menghargai mereka setelah Allah memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka."

Suatu ketika, saat Umar sedang dalam suatu urusan tiba-tiba istrinya berkata, "Coba kau berbuat begini atau begitu."

"Ada urusan apa engkau di sini, dan perlu apa engkau dengan urusanku!" kata Umar dengan nada tinggi.

Istrinya membalas, "Aneh sekali engkau, Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal putrimu menentang Rasulullah SAW sehingga beliau gusar sepanjang hari."

Umar kemudian mengambil mantelnya, lalu keluar menemui putrinya, Hafshah. "Anakku," kata Umar, "Engkau menentang Rasulullah SAW sampai beliau merasa gusar sepanjang hari?"

Hafshah menjawab, "Memang kami menentangnya."

"Engkau harus tahu, anakku. Kuperingatkan engkau, jangan terpedaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah SAW hanya karenanya."

Kemudian Umar pergi menemui Ummu Salamah, karena mereka masih berkerabat. Dia ingin membicarakan masalah Hafshah. Ummu Salamah berkata, "Aneh sekali engkau, Umar! Engkau sudah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah SAW dan rumah tangganya!'

Umar tak mampu berkata-kata. Ia pun kemudian pergi.

Muslim dalam Shahih-nya menyebutkan bahwa Abu Bakar pernah meminta izin kepada Nabi akan menemuinya dan setelah diizinkan ia pun masuk, kemudian datang Umar meminta izin dan masuk pula setelah diberi izin.

Mereka menjumpai Nabi SAW sedang duduk dalam keadaan masygul di tengah-tengah para istrinya yang juga sedang masygul dan diam. Ketika itu Umar berkata, "Saya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Nabi SAW tertawa." Lalu kata Umar, "Wahai Rasulullah, jika engkau melihat Binti Kharijah—istri Umar—meminta uang belanja kepadaku, maka aku bangun dan meninju lehernya."

Maka Rasulullah pun tertawa, seraya berkata, "Mereka itu sekarang di sekelilingku meminta uang belanja!"

Ketika itu Abu Bakar lalu menghampiri Aisyah dan meninju lehernya, demikian juga Umar, ia menghampiri Hafshah dan meninjunya, sambil berkata, "Kalian meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW!"

Mereka pun menjawab: "Demi Allah, kami sama sekali tidak minta kepada Rasullullah, sesuatu yang tidak dipunyainya."

Sebenarnya, Abu Bakar dan Umar waktu itu menemui Nabi, karena beliau tidak tampak keluar waktu shalat. Karena itu kaum Muslimin bertanya-tanya, ada apa gerangan yang menghalangi.

Dalam peristiwa Abu Bakar dan Umar dengan Aisyah dan Hafshah inilah turun firman Allah: "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar." (QS Al-Ahzab: 28-29)

Nabi telah memberi kedudukan kepada istri-istrinya, sedang sebelum itu—seperti wanita-wanita Arab lainnya—mereka tidak pernah mendapat penghargaan orang. Jadi wajar jika sikap mereka kini agak berlebih-lebihan dalam menggunakan kebebasan, suatu hal yang tidak pernah dialami oleh sesama kaum wanita.

Sampai-sampai ada di antara mereka yang menentang Nabi dan membuat Nabi gusar sepanjang hari. Beliau sudah berusaha menghindarkan diri dari mereka, meninggalkan mereka, supaya kasih sayang beliau kepada mereka tidak sampai membuat tingkah laku mereka tambah melampaui batas. Bahkan ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

sumber : republika.co.id

Kamis, 18 Agustus 2011

Tanya, Gadis Piatu Kanada yang Menemukan Damai dalam Islam


- Namanya Tanya. Kemiskinan membuatnya harus tinggal di panti asuhan. Ibunya tak lagi mampu menanggung ekonomi keluarga sepeninggal ayahnya.

Ia pernah menghuni tiga rumah asuh yang berbeda. "Selama waktu itu aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya ibu, ayah dan tidak ada teman, tidak ada tempat dimana saya bisa berpegang," katanya.

Dalam kesendirian itulah, ia mencari pegangan hidup: Tuhan. "Aku mulai menghadiri kebaktian di Gereja Pantekosta. Minggu menjadi hari yang kutunggu," katanya.

Beranjak remaja, ia bertemu seorang Muslim di sekolahnya. "Aku menjelaskan kepadanya lebih banyak tentang Kristen dan ia menjelaskan kepada saya tentang Islam," katanya. Namun, sang teman selalu menyangkal penjelasannya, dengan alasan yang logis.

Tak ingin terpengaruh, ia ke perpustakaan dan meneliti lebih lanjut tentang Islam, Kristen, dan semua agama, "Pintu-pintu terasa mulai terbuka bagiku," ia menggambarkan.

Islam, yang kerap dipandang sebelah mata publik Barat, tiba-tiba memukaunya, setelah membaca beragam literatur. "Islam memberi tuntutan nyata bagi umatnya," katanya.

Ia bimbang. "Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa berpikir, aku gelisah. Ini tidak masuk akal lagi," katanya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk berdoa pada siapapun Pencipta-nya. "Tolong jawab aku, beri aku arah dan pijakan. Beri aku pegangan. Aku hampir hilang," ia mengisahkan doanya saat itu.

Alhamdulillah, katanya, dalam dua hari, ia segera menemukan jawaban. Saat itu, ia tengah berada di dalam kelas 11 mengikuti pelajaran matematika. Islam dan Muhammad, dua kata itu yang mengisi hatinya. Ia terlonjak dan berlari ke luar kelas. "Hatiku hanya diisi dengan sukacita," katanya.

Ia pergi ke toilet. "Aku tak tahu apa itu wudhu, tapi aku tahu Islam menganjurkan bersuci. Aku menyiram wajahku, mencoba untuk mendapatkan suci itu," katanya.

Ia menemui temannya yang Muslim, dan meminta diislamkan. Sang teman mengajaknya ke rumahnya, dan mengenalkan pada orang tuanya.

Mereka tak langsung mengislamkan Tanya. Alih-alih menuntunnya bersyahadat, mereka malah memberinya pakaian, buku-buku, dan kehangatan sebuah keluarga. Baru setelah ia menyatakan kemantapan hatinya berislam, mereka mengantarkan Tanya ke masjid untuk bersyahadat.

"Hidupku telah benar-benar berubah setelah itu," akunya. Kini, ia tak lelah berbagi tentang bagaimana ia mendapatkan kedamaian batin dengan banyak orang. "Bukan dengan ke diskotik, minum, atau hura-hura. Tapi dengan mendekat pada Allah."

sumber : republika.co.id

Rabu, 17 Agustus 2011

Kumpulan SMS Ucapan Lebaran dan Idul Fitri 1432 H/ 2011 M


. Simak saja kumpulan kalimat di bawah ini, semoga ada yang berkenan dengan Anda :

=====
Waktu mengalir bagaikan air , bulan Ramadhan nan suci
segera usai, jika ada luka yg pernah terukir, Ada
khilaf dosa yg smpt mampir, Suci kan hati.. Damaikan
jiwa.. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, Mohon maaf lahir
batin, Slm takzim
=====
Ya ALLAH, jika Engkau turunkan rahmat hidayah-Mu kpd-ku
di bulan Ramadhan nan suci ini, turunkan pula rahmat
hidayah-Mu itu kpd saudara-ku ini & kel-nya. Agar kelak
mereka juga mjd bahagian dr ummat Rasullallah yg dibawa
dlm istana surga-Mu. Amien. Selamat Idul Fitri 1432 H
.. Mohon maaf lahir & bathin.
=====
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1432 H. Mohon
maaf lahir dan batin
=====
Mohon maaf lahir&bathin atas segala
kesalahan&kekhilafan.Semoga amal ibadah kita di
Ramadhan thn ini diterimaNya
Taqabbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum.
Slmt Idul Fitri 1Sywl1432H. Maaf lhr&btn.
HIDUP HANYA SBENTAR Bntar Snang Bntar SdiH
Bntar BokeK Bntar Bduit Bntar Nangis Bntar
Ktwa Eh….. BNTAR lg LEBARAN lho! Mhn Maaf Lahir
& Batin
=====
As.. Jika tingkah hadirkan duka, Lisan mnggores luka,
Hati mengukir prasangka, Janji berbuah dusta, kami mhn
ma’af lahir & batin agar bersih hati & Suci dlm jalani
hidup ini.. Slamat hr raya IDUL FITRI 1432 H
=====
“Manusia itu hidup serba sebentar”
Sebentar berduit
Sebentar lg g punya duit
Sebentar kenyang
Sebentar lg lapar
Sebentar sedih
Sebentar lg senang
Nah yang ini…
Sebentar lagi…
Lebaran….
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H Mohon Maaf
Lahir & Bathin
=====
Blh aya tu2r saur teu kaukur,reka basa pasalia,laku
lampah nu teu merenah, mugni sklrga neda dihpnten lhr &
btn. Wilujeng boboran siam 1432 H.
=====
Taqaballahu minna waminkum shiyamana washiamakum.
“Sesungguhnya perbuatan org2 yg SABAR & mau MEMAAFKAN
itu ialah perbuatan yg terpuji” (QS. 42:43). Mohon
dimaafkan segala kesalahan ya.Selamat idul fitri 1432 H
=====
Hti Q tK sBeNing EmbuN PriLku Q tK sLmbuT saLJu Tu2r kTa Q PnuH dEbu LPaNgkN hTimu aKn mmaaFkn khlf Q mhoN mAaf lhr&btin “MET IDUL FITRI 1432H”
Balebat fajar lebarn skdp deui ngbgeakn,hpntn sdy kalptn lahir sinrng btin
=====
Bilh aya saur nu teu kaukur, basa nu teu ka reka,laku lampah nu teu merenah,neda dihapunten tina samudaya kalepatan. Wiljng bo2ran siam 1432H
=====
“Allah Akbar” 3x “Lailahillallah Allah Akbar” Taqobbalallohu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1428 H. Maaf Lahir & Batin
=====
Bilih aya tutur saur nu teu ka ukur,rekaBasa nupasalia,lampah nu hnteu mernah kana manah, neda sihapunten samudaya kalepatn Taqabbalallahu minna wa minkum. “WILJNG BOBORAN 1432H”.
=====
Asslm.. Let’s celebrate this victorious day by forgiving each other & leaving all disputes behind… Happy Eid Al Fitr 1432 H… Minal ‘Aidin Wal Fa’idzin…
=====
Taqobbalallohu minna waminkum. Kasuhun kalingga murda, pamundut anu disuhun, mugia agung lumur jembar sih hapunten kana mangrupi kaleptan pribados saklwrga
=====
Ya Allah sampaikanlah kerinduan kami di ramadhan yg akan datang,amin. Taqobbalallah …minta Maaf Lahir & Batin. Met idul Fitri 1432 H
=====
Atas segala hilaf dan dosa, atas budi yg blum terbalas. Kuhaturkan ketulusan hati.minal aizin wal faidin.mohön maaf lahir dan bathin
=====
Asm. Sy & klrga bila ada salah kata, perbuatan & niat baik sengaja maupun tidak, langsung atau tidak, mohon dimaafkan. Mohon maaf lahir bathin.taqobalallohu minna waminkum siyamama wasiyamakum. Ja’alallohu minal ‘aaidin wal faaizin. Wsm
=====
Ied mubarok! Taqobbalallahu minna wa minkum, shiamana wa shiamakum, kullu aamin wa antum bi khair. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, mhn maaf lahir & bathin
=====
Ass Wb Wbr, Tiada waktu bertatap, tiada daya bersikap, tiada kata lain terucap, “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H” Minal Aidzin wal faizin Mohon Ma’af Lahir Batin
=====
meski kk ta dtg mdkat jr tgn t mjabat wjh ta tmpak btatap jk ucap mbekas lara dlm sukma dgn sgl kridoan hati mhn maaf lhr batin smg kt fitrah kmbali
=====
Selamat Idul Fitri 1432 H, mohon maaf atas segala yg kurang berkenan semoga Allah mengembalikan kita dalam keadaan yang fitri
=====
???? ???? ??? ????? ????????????? ?????? ??????
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf lahir bathin
=====
Wening galih nu d pamrih, jembar manah nu d penta,,Wilujeng boboran siam 1432 H..kalayan neda pangapunten tina samudayaning kalepatan..
=====
Stukan tn9an,hti.tulah indhnya silturhmi d hri kemnan9an.Pdukan keikhlsan tuk slin9 mmaafkn.Slmat hri rya idul ftri 1432 h.mhon maaf lhir&batin
=====
“kecubung batu dari kalimantan
“Cantik disanding dgn berlian,
“Berhubung 1 hari lgi Lebaran,
“Salah & khilaf mohon Dima’afkan.!
“SELAMAT HARI RAYA idul fitri. 1432 H
=====
l##l /,,,
( ^_^) (^_^))
/(”)’) (‘(”)_
Pa aDin anAk’y uDin,beLi la2p&iKan pAtin.minaL aiDzin waL faiDzin,mHn maV laHir baTin..
=====
Bilih aya tutur saur nu teu ka ukur,
laku lampah nu teu mrenah.
Simkuring neda dhapuntn sdya kaleptn.
Minl aidn wl faidzn hpuntn LhrBtn, wlujeng idulfitri1432H,

sumber : http://igcomputer.com/kumpulan-sms-ucapan-lebaran-dan-idul-fitri-1432-h-2011-m.html

Selasa, 16 Agustus 2011

Mualaf Iman Sotiria Kouvalis: Tuhan Kutahu Kau Ada...Pilihkan Agama Buatku!


Perkenalan Iman Sotiria Kouvalis dengan Islam dimulai dengan cara yang aneh. Suatu hari melihat perempuan Muslim di kampus dan merasa kasihan pada mereka. "Aku tidak mengenal mereka tapi ketika kami menyeberangi jalan di kafetaria, aku tersenyum pada mereka karena aku pikir mereka tertindas. Aku tidak pernah berbicara dengan mereka tapi aku hanya berasumsi bahwa mereka dipaksa memakai jilbab," katanya.

Saat itu, wanita yang tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Kejadian ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum peristiwa 11 september terjadi.

Pada saat yang sama, Iman, begitu ia minta dipanggil sekarang, tengah mengalami kekosongan batin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Ortodoks Yunani dan menghadiri gereja setiap Minggu hampir tak pernah bolong, "Gereja tidak lagi memiliki arti dalam hidupku dan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gereja," katanya.

Suatu dikotomi mulai muncul, di mana kehidupan dan agama itu hanyut ke sisi berlawanan. "Aku tidak bisa melihat bagaimana membuat agama relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan itulah bagaimana aku mulai menjauh dari Gereja," katanya.

Di kampus, ia mulai berinteraksi dengan mahasiswa Muslim. "Mereka menghidupkan kembali rohaniku untuk menjadi dekat dengan Tuhan lagi," katanya. Ia mengaku sedikit cemburu; bagaimana mereka begitu setia dan damai dan aku tidak, meskipun aku akan ke surga dan mereka tidak?

Ia mulai masuk ke perdebatan agama dengan mereka. Salah satu misinya, mengenalkan Yesus. Ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus, ia terkejut. "Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka," katanya.

Diam-diam, ketika tidak ada yang melihat, ia menyelinap ke perpustakaan untuk membaca tentang Islam untuk meyakinkan mereka bahwa mereka salah. "Aku hanya menemukan beberapa buku benar-benar aneh dan tua. Saat itu adalah zaman pra-Google sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikorek," katanya.

Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sampai di rumah ia mulai membaca dan takjub. Satu pamflet bahkan berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. "Alkitab? Aku pikir ini bohong! Tapi aku memeriksa ayat dalam Alkitab, ternyata benar," katanya.

Ia makin bimbang. "Sampai di satu titik aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan mana agama yang benar," katanya.

Ia mendatangi gereja lagi, dan lebih sering ke sana, dua kali seminggu. "Aku mulai membaca Alkitab lagi, tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku," katanya.

Setelah berbulan-bulan ini, ia mengaku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menemui pendeta. "Pertanyaanku tiga: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, lalu bagaimana itu masuk akal? Itu berarti aku dapat melakukan dosa dan diselamatkan? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?"

"Untuk dua pertanyaan pertama, ia mencoba yang terbaik untuk menjelaskan, tapi sudah jelas bagiku bahwa ada banyak ambiguitas dalam jawabannya. Ketika kami sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian."

Ia meninggalkan pertemuan dengan kecewa. "Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban," katanya.

Setelah berbulan-bulan lebih intens membaca, studi kritis terhadap kedua agama dan berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan agamanya, hatinya makin condong pada Islam. Namun, ia masih ragu dan takut akan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.

Namun, ia dikuatkan setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran. "Aku mengerti bahwa sebagai Muslim kita harus menghormati orang dari agama lain untuk beberapa dari mereka benar-benar tulus dan mereka percaya Allah. Pada akhirnya, bukan mereka atau aku yang akan menghakimi orang, hanya Tuhan yang bisa melakukan itu," katanya.

Iapun memutuskan bersyahadat. "Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain. Jika Anda berada dalam situasi ini, Anda berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban sekarang karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Dan untuk mengetahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. It's OK untuk mengajukan pertanyaan dan it's OK untuk menemukan jawaban."

sumber : republika.co.id

Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Sahabat Nabi: Miqdad bin Amr, Mujahid Ulung dan Ahli Filsafat


Di masa jahiliyah ia terikat janji dengan Aswad Abdu Yaghuts untuk diangkat sebagai anak hingga namanya berubah menjadi Miqdad bin Aswad. Tetapi setelah turunnya ayat mulia yang melarang merangkaikan nama anak dengan nama ayah angkatnya dan mengharuskan merangkaikannya dengan nama ayah kandungnya, maka namanya kembali dihubungkan dengan nama ayahnya, yaitu Amr bin Sa'ad.

Miqdad bin Amr termasuk golongan yang pertama kali masuk Islam. Ia adalah orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan, serta kekejaman kaum Quraisy. Keberanian dan perjuangannya di medan Perang Badar akan selalu diingat oleh kaum Muslimin sampai saat ini.

Bahkan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini."

Miqdad bin Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar karena kekuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah', sedang kami akan mengatakan kepada anda, 'Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu'. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan."

Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang Mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Bahkan cara bicara Miqdad patut dicontoh oleh yang lain. Kata-kata Miqdad benar-benar berdampak positif kepada segenap pasukan Islam.

Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum Anshar berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita."

Rasulullah sangat senang. Beliau bersabda kepada para pengikutnya, "Berangkatlah dan bergembiralah!"

Dan kedua pasukan pun berhadapan. Jumlah anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin Amr, Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam; sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta.

Ia pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai Gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, "Bagaimana dengan jabatanmu?"

Ia menjawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang."

Ia menjadi gubernur, lalu dirinya dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman pahit itu. Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Ia sering mengucapkan sabda Nabi SAW yang berbunyi, "Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran."

Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

Di antara sikap bijaknya adalah kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari Rasulullah SAW yang telah menyampaikan kepada umatnya, "Berubahnya hati manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih."

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan setelah kematian?

Dari percakapannya dengan seorang sahabat dan seorang tabi'in berikut ini, menunjukkan kemahirannya dalam berfilsafat dan ia berhak menyandang gelar seorang filsuf:

Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk dekat Miqdad. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki, dan berkata kepada Miqdad, "Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah! Demi Allah, andainya aku bisa melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan."

Miqdad berkata, "Apa yang mendorong kalian untuk menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya? Demi Allah, bukankah pada masa Rasulullah banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya di neraka Jahanam? Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian?"

Inilah suatu hikmah yang diungkapkan Miqdad, memang tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali ia dapat hidup di masa Rasulullah dan hidup bersamanya. Tetapi pandangan Miqdad tajam dan dalam, pemikirannya dapat menembus sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang sedikit pun.

sumber : republika.co.id

Para Perawi Hadits: Imam An-Nasa'i, Dari Al-Mujtaba ke Sunan Nasa'i


Nama lengkap Imam An-Nasa’i adalah Abu Abdul Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr Al-Khurasani Al-Qadi. Ia lahir di daerah Nasa’ pada 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa ia lahir pada 214 H.

Ia dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (An-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadits kaliber dunia. Ia berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadits, yakni Al-Mujtaba yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan An-Nasa’i.

Pada awalnya, Nasa'i tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Ia berhasil menghapal Alquran di madrasah yang ada di desa kelahirannya. Ia juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya.

Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, ia pun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau bukan untuk memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadits dan ilmu hadits.

Belum genap 15 tahun, Nasa'i sudah melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Irak, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh di kalangan para Imam Hadis.

Semua imam hadits, terutama enam imam hadits, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama hadits, termasuk Imam An-Nasa’i.

Kemampuan intelektual Imam Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, ia mengalami proses pembentukan intelektual. Sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.

Seperti para pendahulunya—Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi—Imam Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para gurunya memiliki nama harum yang tercatat oleh pena sejarah, antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, Al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abu Dawud), serta Imam Abu Isa At-Tirmidzi (penyusun Kitab Al-Jami’ atau Sunan At-Tirmidzi).

Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramahnya, antara lain; Abu Al-Qasim At-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far At-Thahawi, Al-Hasan bin Al-Khadir Al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin Al-Ahmar Al-Andalusi, Abu Nashr Ad-Dalaby, dan Abu Bakar bin Ahmad As-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam An-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan An-Nasa’i.

Sudah mafhum di kalangan peminat kajian hadits dan ilmu hadits, para imam hadits merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadits kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.

Tidak ketinggalan pula Imam Al-Nasa’i. Karya-karyanya yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab As-Sunan Al-Kubra), Al-Khashais, Fadhail Al-Shahabah, dan Al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn Al-Atsir Al-Jazairi dalam kitabnya Jami Al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i.

Karya Imam Al-Nasa’i paling monumental adalah Sunan An-Nasa’i. Sebenarnya, bila ditelusuri secara seksama, terlihat bahwa penamaan karya monumental beliau sehingga menjadi Sunan An-Nasa’i sebagaimana yang kita kenal sekarang, melalui proses panjang, dari As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra, Al-Mujtaba, dan terakhir terkenal dengan sebutan Sunan An-Nasa’i.

Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan An-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan As-Sunan Al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, Imam Nasa'i kemudian menghadiahkan kitab tersebut kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan.

Amir kemudian bertanya kepada An-Nasa’i, "Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadits shahih?"

Nasa'i menjawab dengan jujur, "Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya."

Kemudian Amir berkata kembali, "Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadits yang shahih-shahih saja!"

Atas permintaan Amir ini, Imam Nasa'i kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadits yang telah tertuang dalam kitab As-Sunan Al-Kubra. Dan akhirnya ia berhasil melakukan perampingan terhadap As-Sunan Al-Kubra, sehingga menjadi As-Sunan Al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.

Imam Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadits-hadits yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar, "Kedudukan kitab As-Sunan Al-Sughra di bawah derajat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadits dhaif yang terdapat di dalamnya."

Nah, karena hadits-hadits yang termuat di dalam kitab kedua (As-Sunan Al-Sughra) merupakan hadits-hadits pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan Al-Mujtaba. Pengertian Al-Mujtaba bersinonim dengan Al-Mukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadits-hadits pilihan, hadits-hadits hasil seleksi dari kitab Al-Sunan Al-Kubra.

Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadits. Ia juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadits-hadits yang diterimanya.

Abu Ali Al-Naisapuri pernah berujar, "Orang yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah seorang imam hadits yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abdul Rahman An-Nasa’i."

Setahun menjelang kemangkatannya, Imam Nasa'i pindah dari Mesir ke Damaskus (Suriah). Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggalnya. Ad-Daruquthni mengatakan, Imam Nasa'i wafat di Makkah dan dikebumikan di antara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah Al-’Uqbi Al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam Adz-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Yunus, Abu Ja’far At-Thahawi (murid Nasa’i) dan Abu Bakar An-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, An-Nasa’i meninggal pada 303 H dan dikebumikan di Baitul Maqdis, Palestina

sumber : republika.co.id

Halaman Ke