Selasa, 28 September 2010

Nourdeen Wildeman: Akhir Ramadan "Pindah Rumah" ke Masjid

Nourdeen Wildeman: Akhir Ramadan "Pindah Rumah" ke Masjid

Nourdeen Wildeman masih ingat betul pengalaman pertamanya i'tikaf di masjid, sama menariknya dengan pengalaman pertamanya berpuasa setelah menjadi seorang mualaf.

Keinginan i'tikaf melintas ketika Nourdeen sedang memikirkan banyak rencana yang ingin ia lakukan untuk mengisi hari liburnya. Menjelang hari raya Idul Fitri, Nourdeen sengaja mengambil cuti agar bisa melakukan banyak hal. Tapi ia merasa rencana yang menghampiri pikirannya, yang membuatnya merasa sibuk dan tak punya banyak waktu.

Saat itu, hari pertama di 10 terakhir bulan Ramadan. Nourdeen sedang berkendaraan sambil mendengarkan CD yang ia ambil secara tak sengaja berisi ceramah imam favoritnya. Entah kebetulan atau tidak, ketika CD diputar, kalimat pertama yang ia dengar dari imam di CD tersebut adalah "Hari ini, kita sudah melalui hari pertama paruh ketiga bulan Ramadan dan kita harus membuat keputusan: apakah kita sudah melaksanakan segala rencana yang diniatkan di bulan Ramadan ini? Kalau belum, apa yang akan Anda lakukan?"

"Imam itu seperti bertanya langsung pada saya. Dan saya langsung membuat rencana," kata Nourdeen.

Sore itu juga, Nourdeen datang ke sebuah masjid di Rotterdam. Selama bulan Ramadan, Masjid Rotterdam dibuka selama 24 jam dan kala itu ia muncul satu jam setelah salat tarawih usai.

"Saya berjalan menuju tempat salat dan naik ke lantai dua masjid. Ada beberapa orang di sana yang sudah menggelar matras atau alas tidur di lantai. Saya menyapa mereka sambil tersenyum dan mengatakan bahwa saya ingin ikut i'tikaf," tutur Nourdeen.

Salah seorang teman yang sudah dikenal Nourdeen, seorang Muslim asal Maroko, tertawa melihat apa yang dibawa Nourdeen. Nourdeen memang membawa semacam kasur yang biasa digunakan untuk keperluan alam terbuka dan barang itu mengundang tawa rekan Nourdeen di masjid karena barang yang dibawa Nourdeen termasuk 'barang mewah'.

"Lihat, lelaki Belanda gila ini," kata rekan Nourdeen sambil bercanda. "Kami selalu pergi ke masjid begitu saja, baru kemudian memikirkan bagaimana dan dimana kami akan tidur. Tapi orang-orang Belanda benar-benar mempersiapkan membuat perencanaan matang dan menyiapkan segalany," sambung rekan Nourdeen yang asli Maroko tadi.

Tapi Nourdeen tidak tersinggung meski diledek "i'tikaf seperti orang pindah rumah". Ia tetap menganggap teman-temannya sebagai saudara-saudarannya seiman. Setiap pagi seusai salat subuh dan tidur sebentar, Nourdeen mengisi i'tikafnya dengan membaca al-Quran bahkan menghapal surat-surat Al-Quran yang belum pernah ia baca sebelumnya. Nourdeen juga membaca buku berisi fatwa-fatwa.

"Saya menemukan kegiatan yang tepat di Ramadan kala itu," ujar Nourdeen.

Ramadan tahun ini, aktivitas Nourdeen bertambah padat karena ia juga sering diundang ceramah dalam acara buka puasa bersama dengan kelompok-kelompok non-Muslim. "Saya masih harus banyak baca Al-Quran, lebih banyak menghapal surat-surat dan harus lebih banyak menghabiskan malam-malam Ramadan saya di masjid," imbuhnya.

Nourdeen saat ini aktif di yayasan 'OntdekIslam' (Menemukan Islam), sebuah yayasan yang bergerak dalam dakwah Islam di Belanda. Ia juga aktif sebagai pembicara di organisasi National Islamic Congress, menulis berbagai artikel untuk Dutch Islamic Broadcasting Organization serta membuat database online berisi informasi tentang 400 masjid yang tersebar di seluruh Negeri Kincir Angin.(ln/iol)

sumber : eramuslim.com

Ya, Saya Seorang Muslim, Nama Saya Nourdeen ..."

Ya, Saya Seorang Muslim, Nama Saya Nourdeen ..."

Nourdeen Wildeman bukan tipikal orang yang mau menceritakan ikhwal dirinya masuk Islam. Karena ia malas menjawab pertanyaan-pertanyaan standar seperti, bagaimana ia masuk Islam, mengapa ia masuk Islam, apa reaksi orang tua dan pertanyaan sejenis yang membuatnya bosan.

Ia bahkan mengaku sering "kaget" jika ada Muslim yang bertanya mengapa ia masuk Islam. Dan jawaban yang selalu ia ucapkan adalah,"Well, Islam adalah satu-satunya agama yang benar, ingat?". Tapi sesungguhnya, Wildeman mengaku ia sendiri tidak tahu mengapa memutuskan masuk Islam. Semuanya terjadi begitu saja ... bukan karena ia sedang gelisah mencari kehidupan yang sebenarnya atau sedang mencari Tuhan. Tapi keputusan besar itu berawal ketika ia pergi ke sebuah toko buku antara tahun 2003-2004.

"Saya masuk ke sebuah toko buku, tapi tidak tahu buku apa yang ingin saya beli. Waktu itu saya cuma ingin membaca, dan saya berminat pada buku-buku sejarah, filosofi dan sosiologi yang dijual di toko tersebut," tutur Wildeman mengawali kisahnya.

"Lalu ada sebuah buku berwarna hijau yang menarik perhatian saya, berjudul 'Islam; Values, Principles and Reality'. Saya pegang buku itu, saya lihat-lihat isinya, dan akhirnya saya menyadari bahwa saya cuma tahu sedikit tentang orang Islam tapi tidak tahu apa yang mereka yakini," sambungnya.

Wildeman memutuskan membeli buku itu, untuk mengetahui lebih banyak tentang Islam, apalagi saat itu Islam dan Muslim sedang menjadi bahan pemberitaan media massa dan mempengaruhi masalah internasional di dalam dan di luar Belanda.

Wildeman yang asal Negeri Kincir Angin itu mengakui, sebelum belajar banyak tentang Islam, ia memiliki pandangan yang negatif tentang Islam. Ia pernah punya pemikiran, bagaimana seorang Muslim mengaku sebagai orang yang beragama tapi pada saat yang sama ia menindas isterinya sendiri. Wildeman juga mengaku tak habis pikir, mengapa umat Islam "menyembah" batu berbentuk kubus di Makkah (Ka'bah) padahal batu atau patung tidak punya kekuatan atau bisa membantu manusia. Ia juga menganggap Muslim tidak toleran dengan penganut agama lain.

Setelah buku pertama yang ia beli, Wildeman membaca buku-buku lainnya tentang Islam bertahun-tahun kemudian dan ia mengaku terkejut bahwa apa yang selama ini ia pikirkan adalah bagian dari ajaran Islam dan apa yang selama ini ia kritisi juga dikritisi dalam Islam.

"Saya menemukan dalam Islam bahwa Rasulullah Muhammad Saw berkata, ketaqwaan seseorang bisa terlihat dari bagaimana seseorang itu memperlakukan isterinya. Saya juga menemukan bahwa umat Islam tidak menyembah Ka'bah karena umat Islam justeru tidak boleh menyembah patung dan sejenisnya. Dan saya menemukan, peradaban Islam dalam seluruh sejarahnya, mencontohkan toleransi antar umat beragama," papar Wildeman.

Sayangnya, di lingkungan tempatnya tinggal tidak ada kegiatan dakwah Islam dimana ia bisa langsung berdialog dan bertanya tentang Islam. Pada bulan Ramadhan, Wildeman memutuskan untuk menemui rekan-rekan kerjanya yang Muslim dan mengatakan pada mereka bahwa ia akan ikut berpuasa. Wildeman juga membeli al-Quran dan mencari jadwal imsakiyah di internet.

Saya membawa susu dan kurma ke tempat kerja dan menjelaskan bahwa itu adalah sunnah Rasul. Saya belajar banyak saat bulan Ramadhan itu juga rekan-rekan Muslim lainnya. Kami melewati bulan Ramadhan dengan kegiatan yang menyenangkan. Dan saat idul fitri bagaimana hari pemakaman buat saya, tapi setelah itu semuanya kembali normal," ujar Wildeman menggambarkan kesedihannya saat Ramadan berakhir.

'Alhamdulillah, Akhirnya ...'

Usai Ramadan, Wildeman membayarkan zakatnya ke sebuah masjid. Itulah pertamakalinya ia bertemu dengan bendahara masjid yang menanyakan apakah ia seorang Muslim dan Wildeman menjawab bahwa ia bukan seorang Muslim tapi ia ikut puasa bulan Ramadan lalu.

Wildeman terus menggali informasi tentang Islam dari buku-buku, terutama yang ditulis dari kalangan non-Muslim seperti penulis Karen Amstrong. Wildeman merasakan, setiap pertanyaan yang muncul di kepalanya, selalu ia temukan jawaban yang meyakinkan dalam ajaran Islam.

Tak terasa, Ramadan kembali datang dan ia bertemu lagi dengan bendahara masjid yang sama ketika membayar zakat. Si bendahara bertanya lagi apakah saya sudah Muslim. "Saya menjawab "Belum. Tapi bukankah Anda bilang supaya saya tidak terburu-buru dan santai saja?" Si bendahara mengangguk sambil tersenyum.

Sejak mengenal Islam, Wildeman pelan-pelang menghentikan kebiasaannya minum minuman keras dan merokok. Saat liburan, Wildeman berkunjung ke Turki dan melihat-lihat bagian dalam masjid-masjid besar di negara itu. "Seiring bertambanya hari, saya makin merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan saya," tukasnya.

Lewat sebuah situs jejaring sosial yang populer di Belanda 'Hyves', Wildeman berkenalan dengan seorang muslimah mualaf. Ia lalu diundang makan malam dan bertemu dengan suami muslimah tadi, seorang Muslim yang taat kelahiran Mesir.

Sepanjang makan malam, mereka berdiskusi tentang Islam. Di pertemuan kedua, Wildeman belajar salat dari keluarga itu dan ketika istirahat sebentar. Suami muslimah tadi yang kemudian menjadi sahabatnya bertanya,"Nah, apakah kamu sudah siap melakukannya (salat)?"

"Ya, saya pikir saya siap," jawab Wildeman.

Ketika itu Wildeman merasa sudah menjadi seorang Muslim, cuma ia belum bersyahadat saja. Dua minggu setelah belajar salat, Wildeman beserta ayahnya dan sahabatnya itu mendatangi sebuah masjid. Imam masjid sudah diberitahu apa maksud kedatangannya.

Imam itu menuntut Wildeman untuk mengucapkan syahadat. Setelah itu membacakan doa untuk Wildeman yang hari itu resmi menjadi seorang Muslim. "Mendengar isi doa itu, saya seperti habis berlari bermil-mil dan sekarang sudah mencapai garis finish. Saya merasa tenang dan bahagia," ujar Wildeman yang diberi nama Islam, Nordeen.

Dan ketika ia mendatangi masjid yang biasa ia kunjungi untuk membayar zakat, ia bertemu lagi dengan bendahara masjid yang sama dan melontarkan pertanyaan serupa apakah ia sudah menjadi seorang Muslim.

Wildeman menjawab sambil tersentum,"Ya Pak, saya seorang Muslim dan nama saya Nourdeen."

Dan si bendaharawa dengan senang berkata,"Alhamdulillah, akhirnya ...". (ln/readislam)

sumber : eramuslim.com

Milyuner AS Yang Juga Pengacara Michael Jackson Masuk Islam

Milyuner AS Yang Juga Pengacara Michael Jackson Masuk Islam

Seorang miliyuner Amerika, Mark Shaffer mendeklarasikan keislamannya di Saudi Arabia pada hari Sabtu 17 Oktober 2009 yang lalu. Saat itu Mark sedang berwisata ke Saudi Arabia untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha dan Jeddah selama 10 hari.

Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampai di Saudi, Mark menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di Riyadh Mark sangat concern pada Islam. Setelah itu kami pindah ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. Di sana terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, Khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir. Mark kaget saat meilahat tiga pemuda Saudi yang mendampingi kami di Al-Ula, karena mereka shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.

Setelah dua hari di Al-Ula, kami pergi ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Mark minta dicarikan buku-buku tentang Islam. Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku tersebut dibaca habis oleh Mark. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhuk. Lalu dia ikut shalat di samping saya.

Setelah shalat, Mark bercerita bahwa dia sekarang sangat tentram jiwanya. Sore Kamisnya, kami meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan dia terlihat serius sekali membaca buku-buku tentag Islam. Pagi hari Jumatnya, kami mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu sahalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Mark berkata pada saya : Saya ingin ikut Anda shalat Jumat agar saya menyaksikannya seperti apa shalat Jumat itu. Lalu saya jawab : welcome…

Kamipun pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Jeddah. Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang mebludak. Terlihat Mark mengamati jamaah apalagi setelah selesai shalat Jumat, mereka salaing bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Mark semakin kagung dengan pemandangan tersebut.

Setelah kami pulang ke hotel, tiba-tiba Marka menyampaikan kepada saya keinginannya untuk masuk Islam. Lalu sya katakan padanya : Silahakan Anda mandi terlebih dulu. Seteah dia mandi saya bimbing Mark mengucapkan dua kalimat syahadat kemudain dia shalata sunnah dua rakaat. Setelah itu, Mark mengungkapakan keinginannya untuk mengunjungi Masjid Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum dia meninggalkan Saudi Arabia.

Untuk dapat mewujudkan keinginan beliau, kami pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Mekkah dan Masjid Haram. Lalu Mark diberi sertifikat sementara masuk Islam. Karena beberapa anggota grup yang mengikuti kunjungan Mark ke Saudi Arabia sudah harus kembali ke Amerika sore Sabtunya, Al-Hamdullah, Ustadz Muhammad Turkistani bersedia mengantarkan Mark Ke tanah haram Mekkah pagi itu juga.

Terkait kunjungan Mark ke Masjid Haram, Ustazd Muhammad Turkistani menceritakan : setelah Mark medapatkan sertifikat Islam sementara kamipun langsung berangkat menuju Masjid Haram yang mulia. Ketiak dia menyaksikan Masjid Haram, tampak sekali wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjid Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut. Setelah beliu tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, kami shalat sunnah dan kemudian keluar dari Masjid Haram. Saya lihat Mark sngat berat untuk berpisah dengan Masjid Haram.

Setelah Mark Mengumumkan keislamannya, dia sempat mengungkapkan kebahagiaanya pada Koran Al-Riyadh sambil berkata : Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…Lalu dia menambahkan : Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.

Terkait pertanyaan langkah ke depan setelah ia masuk Islam, Mark menjelaskan : saya akan belajar lebih banyak tentag Islam, akan mendalami agama Allah ini (Islam) dan akan kembali lagi ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah Haji.

Terkait faktor pendoring masuk Islam, Mark menjelaskan : Sebelumnya saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di Saudi dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam. Ketika saya membca informasi yang benar tentang Islam, sayapun yakin bahwa Islam adalah agama yang haq (benar).

Pagi Ahad 18 Okteber 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi fomulir imigrasi, Mark mencantumkan agamanya adalah ISLAM.

Selamat jalan Mark… Semoga Allah memberkahi Anda dan menjadikan Anda seorang Muslim yang taat dan Da’i yang akan mengajak masyarakat Amerika untuk menikmati kebahagiaan Islam sebagaimana yang Anda rasakan, agar mereka, khusunya pemerintah Amerika tidak takut kepada Islam. Karena hanya Islamlah yang mampu menyelamatakan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak...Amin… (fj)

sumber : eramuslim.com

"Aku Tersentuh dengan Toleransi yang Diajarkan Islam"

"Aku Tersentuh dengan Toleransi yang Diajarkan Islam"

Zarif Aarif adalah nama Islamnya sekarang. Pria Australia yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama Kristen memutuskan masuk Islam karena begitu terkesan dengan toleransi yang diajarkan Islam terhadap penganut agama lain.

Ia pertama kali mengenal Islam saat remaja ketika berkunjung ke Maroko dan ke Granada sebuah kota di distrik Andalusia, Spanyol. Di Maroko, Aarif terpesona melihat seni budaya Islam dan ikut merasakan atmosfir budaya islami dalam kehidupan sehari-hari penduduk negeri itu. Di Alhambra ia menyaksikan pemandangan berupa arsitektur bangsa Moor dalam wujud perkebunan yang di bagian dibawahnya mengalir sungai-sungai. Pemandangan yang membuatnya tersentuh dan kagum. Di masa kecilnya dulu, Aarif lebih senang berayun-ayun di tali lonceng gereka sambil berteriak-teriak menirukan Tarzan daripada ikut latihan paduan suara gereja. Ia selalu punya alasan untuk menghindari Tuhan dan tidak ikut kebaktian di gereja. Tapi di suatu pagi, 16 tahun kemudian, entah mengapa ia memutuskan untuk pergi ke gereja. Beberapa bulan kemudian, ia seperti benar-benar menjadi seorang Kristiani dan beberapa tahun kemudian ia mendaftarkan diri ke sebuah perguruan tinggi ternama di Tabor untuk meraih gelar sarjana di bidang Alkitab.

Di sanalah ia mulai menemukan desas-desus yang selama ini beredar di kalangan orang-orang Kristen, yang menurutnya kadang melecehkan dan ia tidak yakin informasi yang didengarnya benar. Tapi informasi itu juga ia dengar dari para pemasok buku ke toko yang ia kelola. "Sejarah Kristen menjadi pembuka mata saya bahwa apa yang terjadi selama dan sesudah perang Salib benar-benar menggangu para penganut agama ini," ujarnya.

Beberapa tahun kemudian, Aarif mulai meninggalkan ibadah formalnya karena ia tidak sepakat dengan doktrin yang menempatkan Tuhan dalam kerangka yang dibatasi oleh definisi-definisi. Ia juga menilai organisasi Kristen lebih condong berpolitik dan menonjolkan diri, dibandingkan sebagai wakil sebuah agama. Ia akhirnya memutuskan keluar dari agama Kristen.

Beberapa tahun setelah itu, Aarif sempat tinggal beberapa waktu di Jeddah dan Riyadh karena mengerjakan proyek sebuah perusahaan investasi. Meski sudah tidak pernah ke gereja lagi, ia masih memiliki keyakinan terhadap agama Kristen dan ingin tahu lebih banyak tentang Islam. Ia ingin tahu perbedaan antara Kristen dan Islam.

Suatu hari, Aarif pergi ke sebuah toko buku Islam di dekat hotelnya menginap dan membeli beberapa buku literatur tentang Islam. "Kemudian saya bertanya pada penunjuk jalan saya selama di Saudi, namanya Mahmoud atau Muhammad, saya lupa, dimana saya bisa mendapatkan Al-Quran," kenang Aarif. Pemandunya memberikan rekomendasi terjemahan Al-Quran yang bagus dan malam itu Aarif mulai membaca dan berdoa agar memberikan bimbingan padanya saat membaca terjemahan Al-Quran. Ayat-ayat pertama yang ia baca adalah tentang para ahli kitab-umat Kristiani dan Yahudi-yang menjadi bagian dari umat Allah. Ayat-ayat itu membuka matanya akan sebuah agama yang mengajarkan toleransi bahkan terhadap keyakinan yang bertentangan dengannya.

Tujuh tahun kemudian Aarif bertemu dengan seorang Muslimah asal Indonesia. Mereka saling berkirim surat dan berdiskusi lewat internet. "Pada saat itu, saya melihat lebih ke dalam Islam, dan apa yang mungkin berarti buat saya secara pribadil Saya lalu mengunjungi Indonesia; kami bertemu lagi dan berbicara tentang masa depan. Saya melamarnya dan ia menerima," tutur Aarif.

Ia lalu mengurus dokumen-dokumen resmi untuk menikah di Australia. Saat itu Aarif belum masuk Islam, tapi ia sangat menghormati keyakinan isterinya. Hingga pada titik tertentu ia merasa perbedaan agama tidak membuat nyaman pernikahannya.

"Saya berpikir dan merenung. Mengajukan banyak pertanyaan dan berdoa selama berbulan-bulan sampai saya merasakan kedamaian dalam hati saya tentang jalan yang akan saya ambil," ungkap Aarif.

"Sungguh, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memeluk Islam. Saya akui saya bukan tipikal orang yang rajin ibadah, tapi saya pikir kemalasan itu bisa dihilangkan dengan kemauan dan tekad," sambungnya.

Saya pun berkomitmen dan mulai belajar salat. Saya kemudian pergi ke masjid di Perth, bicara dengan imam disana dan mengucapkan syahadat di masjid itu. "Meski saya sudah beberapa tahun masuk Islam, saya masih dalam tahap belajar dan saya menikmati proses belajar itu," tukasnya. (ln/readislam)

sumber : eramuslim.com

"Saya Memilih Islam, Meski Harus Melawan Budaya dan Keluarga"

"Saya Memilih Islam, Meski Harus Melawan Budaya dan Keluarga"

Nama muslimnya Aysha. Muslimah ini berasal dari Hungaria Utara. Pertama kali mendengar tentang Islam ketika ia masih di sekolah menengah saat mata pelajaran sejarah. Sekedar informasi, Hungaria pernah berada dibawah pendudukan Turki selama 150 tahun.

Selanjutnya, Aysha kuliah di universitas jurusan biologi molekular, di mana ia bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dari negara lain. Sejak lama sebenarnya Aysha bertanya-tanya mengapa Muslim selalu bangga dengan kemuslimannya. Aysha sendiri, ketika itu penganut agama Kristen Katolik. Ia cukup taat dengan agamanya, tapi ia masih meragukan dan tidak setuju dengan beberapa bagian dari ajaran agamanya, misalnya; bagaimana bisa Tuhan memiliki anak laki-laki. Ia juga tidak bisa mempercayai konsep Trinitas dalam ajaran Katolik.

Aysha kemudian sering berdiskusi dengan teman-temannya. Suatu ketika ia dan teman-temannya sedang makan malam dan terdengar suara azan. Saalah seorang temannya meminta mereka diam sejenak, tapi Aysha menolak. Meski demikian, Aysha mengaku sangat terkesan temannya itu dan merasakan sesuatu telah menyentuh hatinya.

Pada suatu musim panas, Aysha mengunduh program Al-Quran dari internet. Ia tidak tahu mengapa dan untuk apa ia melakukan hal. Aysha lalu mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam bahasa Arab dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, Aysha banyak berpikir tentang agama Islam dan ia mulai banyak membaca banyak buku tentang Islam.

Setelah dua bulan terus memikirkan agama Islam, Aysha memutuskan untuk masuk Islam. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh dua sahabat saya, "La ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah".

"Saya memilih Islam, meski harus melawan budaya dan keluarga, terutama ibu saya," kata Aysha.

Bulan Ramadan pun tiba. Aysha membulatkan tekadanya untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang Muslimah bersama bulan suci Ramadan. Dan ia bersyukur karena berhasil melalui bulan Ramadan dengan sukses. Hal yang paling sulit buat Aysha sebagai seorang mualaf adalah saat ia belajar salat, karena ia tinggal di lingkungan non-Muslim dan ia tidak bisa bertanya pada orang-orang di sekelilingnya.

"Saya belajar sendiri bagaimana cara salat dari Internet, karena tidak ada yang menunjukkan pada saya bagaimana melaksanakan salat , bagaimana cara berwudhu, atau apa doa yang diucapkan sebelum melakukan kegiatan itu serta bagaimana etika dan hukum Islam itu," tutur Aysha.

Aysha pernah punya seorang teman pria yang membuatnya patah semangat. Temannya itu mengatakan bahwa Aysha tidak akan pernah bisa memahami Islam, karena Aysha tidak dilahirkan sebagai seorang Muslim. Ketika Aysha mengatakan bahwa ia ingin berpuasa pada bulan Ramadan, temannya itu mengatakan bahwa puasa bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar. Waktu itu Aysha baru satu bulan menjadi seorang muslim.

"Saat itu saya ketakutan, bagaimana jika saya tidak pernah belajar menunaikan salat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak melakukannya dengan cara yang benar? Dan saya tidak punya jilbab atau sajadah untuk salat. Tak yang membantu saya, sehingga saya begitu ketakutan," ungkap Aysha.

"Tapi ketika saya mulai salat, saya berpikir Allah pasti sedang tersenyum melihat saya sekarang. Karena saya menuliskan bacaan-bacaan salat di selembar kertas di atas kertas, beserta instruksinya. Saya memegang kertas itu di tangan kanan dan membacanya dengan keras. Kemudian sujud dan membacanya lagi dan begitu seterusnya. Saya yakin saya terlihat sangat lucu. Tapi kemudian saya berhasil menghafal bacaan-bacaan salat dalam bahasa Arab begitu," cerita Aysha.

Aysha lalu membuka akun di Facebook. Di situs jejaring sosial itu, Aysha mendapat banyak teman baru dan banyak saudara sesama muslimah. Dari sahabat-sahabatnya di internet, Aysha mendapatkan banyak perhatian dan dukungan. Seorang laki-laki muslim melamarnya, dari lelaki itu Aysha mendapatkan jilbab pertamanya, sajadah dan buku-buku Islam. Ia juga mendapatkan Al-Quran pertamanya dalam bahasa Arab yang dikirim dari Yordania karena ia sulit mendapatkan Al-Quran di Hungaria. Sekarang, sudah lebih dari setahun Aysha memakai jilbab.

Aysha mengalami periode yang sangat buruk dengan ibunya. Ibu Aysha selalu mengatakan bahwa Aysha akan menjadi teroris, bahwa Aysha akan meninggalkan ibunya seperti Aysha meninggalkan agama Katolik yang dianutnya dan bahwa Aysha juga akan meninggalkan Hungaria, negara kelahirannya.Ibu Aysha menaruh semua makanan yang mengandung daging babi di dalam lemari es dan tentu saja Aysha menolak untuk memakannya. Hal seperti itu kadang memicu pertengkaran besar antara Aysha dan ibunya.

"Ibu tidak senang melihat saya salat dan berjilbab. Saya selalu salat di dalam kamar agar ibu tidak melihat aku salat dan mengenakan jilbab. Ibu selalu berkata,'Aku melahirkan seorang anak Kristen, bukan seorang Muslim yang berjilbab'," kisah Aysha menirukan ucapan ibunya.

"Jadi, kami punya masalah serius, tapi saya tidak pernah kasar pada Ibu. Alhamdulilah, ibu sudah tenang sekarang dan tampaknya ia menerima keislaman saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah untuk itu. Sekarang saya keluar rumah dengan berjilbab, dan ibu tidak mengatakan apa-apa," ungkap Aysha.

Hubungan Aysha dengan sang ayah, yang sejak lama dingin dan tidak saling bertegur sapa, juga membaik setelah Aysha memeluk Islam. Aysha mencoba membuka kembali komunikasi dengan ayahnya, dan kini ayah Aysha mulai mengunjunginya secara teratur.

"Ya, hidup saya adalah ujian besar tapi saya bersyukur pada Tuhan karena memiliki kesabaran dan harapan. Pada hari kiamat saya akan sangat bersyukur atas semua itu. Jadi aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik, dan belajar lebih banyak dan lebih banyak untuk memahami agama saya," ujar Aysha.

Ia melanjutkan, "Saya percaya semuanya sudah ditakdirkan, jadi apa pun yang Allah katakan akan terjadi kepada saya, tidak bisa berubah, tapi saya dapat memilih untuk menjalani hidup dengan baik."

"Saya sedang membantu sesama di Debrecen. Saya membuat proyek mengumpulkan pakaian bekas untuk kamp pengungsi.. Ada banyak Muslim di sana yang tidak punya rumah karena perang. Jadi kami mengumpulkan pakaian, kami pergi ke sana dan saya membuatkan roti Pakistan untuk anak-anak dan perempuan, mereka sangat bahagia dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka," papar Aysha.

Ia juga mencoba memberikan bimbingan pada para pengungsi yang ingin masuk Islam atau baru saja masuk Islam. Di kamp pengungsi Aysha bertemu dengan dua muslimah Hungaria yang baru masuk Islam. Pada mereka, Aysha memberikan buku-buku, sajadah dan Al-Quran. "Alhamdulillah. Kami salat bersama dan mereka benar-benar bahagia," kata Aysha haru.

Aysha menyatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang ramah dan memiliki hati yang penuh kasih sayang. Dulu, Aisyah akan bersuara keras jika ada seseorang melontarkan pernyataan yang membuatnya merasa terganggu. Tapi sekarang, Aysha selalu memberikan contoh yang baik sebagai seorang muslimah, kemanapun ia pergi. Aysha, meski baru masuk Islam satu setengah tahun yang lalu, kini sudah menunaikan salat lima waktu dengan rutin, banyak membaca buku Islam dan Al-Quran, berusaha mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah dan sekarang sedang belajar bahasa Arab. (ln/iol)

sumber : eramuslim.com

Lima Bulan Menjelang Pernikahan, Membawanya ke Islam

Lima Bulan Menjelang Pernikahan, Membawanya ke Islam

Lima bulan sebelum hari pernikahannya, Karen Meek shock mendengar pengakuan Eric, tunangannya. Eric mengatakan bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim. Pengakuan itu bagai petir di siang bolong buat Karen yang seperti warga Rusia lainnya, tidak menganut agama apapun alias ateis.

"Saya pikir ia (Eric) sudah mengalami cuci otak. Tiba-tiba saja ia berhenti minum minuman beralkohol. Ia salat lima waktu sehari dan tidak mau lagi makan daging babi," cerita Karen tentang perubahan perilaku tunangannya.

Sementara Eric, yang semula penganut Kristen Baptis, tapi kemudian menjadi seorang atheis, selama berbulan-bulan mempelajari Islam tanpa memberitahu Karen, hingga akhirnya ia memutuskan menjadi seorang Muslim.

Meski shock Karen tetap ingin melanjutkan rencana pernikahannya dengan Eric. Karen lalu mencari berbagai referensi, mulai dari buku sampai video tentang Islam, untuk memahami agama baru yang dianut calon suaminya. Tapi ia sama sekali tidak berharap akan masuk Islam.

"Saya tumbuh dewasa dengan pola pikir bahwa agama adalah sesuatu yang bodoh. Saya tidak percaya adanya Tuhan. Saya tidak memikirkan bagaimana dunia ini diciptakan, dan terus terang, saya tidak peduli," ujar Karen.

Namun Karen mengakui bahwa agama Islam memberikan penjelasan paling logis tentang Tuhan dan penciptaan alam semesta dan sulit bagi Karen membantahnya.

Karen akhirnya menikah dengan Eric. Ia masih terus mempelajari Islam dan untuk pertamakalinya ia mencoba menunaikan salat, saat suaminya bekerja di kantor. Ia belajar salat sendiri dari sebuah buku.

"Sampai pada titik ini, saya melakukan segala sesuatunya dengan diam-diam. Saya tidak cerita pada Eric. Saya tidak mau memeluk agama hanya karena suami saya memeluk sebuah agama. Saya ingin menemukan jalan saya sendiri," ungkap Karen.

"Karena berlatar belakang atheis, saya lebih mudah menerima Islam dibandingkan seorang Kristiani, karena dalam hal ini saya tidak perlu melepas agama apapun," sambungnya.

Karen dan suaminya mulai sering melakukan pertemuan dengan komunitas Muslim untuk belajar Al-Quran. Hingga akhirnya, Karen membulatkan tekad untuk mengikuti jejak suaminya memeluk agama Islam. Karen pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.

Tapi pilihan Karen membuat orang tuanya kaget. "Suatu hari, ia datang dengan mengenakan gaun panjang dan jilbab. Saya terkejut dibuatnya," kata ayah Karen, Ray Alfred.

Alfred mengaku merasa asing melihat anak perempuannya ketika itu dan ia merasa khawatir dengan keselamatan Karen saat terjadi serangan 11 September 2001 di AS.

"Anda ingin mencintai anak Anda, tapi ketika mereka melakukan sesuatu yang asing bagi Anda. Hal ini sangat sulit," ujar Alfred, "Saya akan memberikan apa saja asalkan ia tidak memeluk agama itu (Islam)."

Ibu Karen mengungkapkan komentar serupa, yang terus terang mengatakan bahwa ia tidak suka dengan jilbab yang digunakan puterinya. "Karen adalah seorang gadis cantik dengan rambut yang indah," kata Jane Barret.

Karen memahami kegundahan kedua orang tuanya mendengar ia sudah menjadi seorang muslimah dan mengenakan busana muslim. Karena sendiri mengaku butuh waktu berbulan-bulan sebelum ia memutuskan untuk berjilbab.

"Saya hanya memakai jilbab jika pergi ke tempat-tempat yang saya rasa tidak akan ada orang yang mengenal saya," ujar Karen sambil tertawa.

Tapi sekarang, Karen selalu mengenakan jilbab kemanapun ia pergi, termasuk ke tempat kerjanya dimana ia bekerja sebagai staf akuntan di sebuah jaringan restoran.

Karen mengatakan, memeluk Islam telah membuatnya melihat kehidupan dengan cara pandang yang baru. "Dari seorang yang tidak percaya Tuhan menjadi orang yang percaya Tuhan, rasanya sungguh luar biasa. Islam membuka mata saya terhadap banyak hal yang selama ini saya abaikan. Terutama, bahwa kehidupan adalah sebuah karunia," tukas Karen menutup kisahnya. (ln/MCC)

sumber : eramuslim.com

Keniscayaan Bangkitnya Islam di Rusia

Keniscayaan Bangkitnya Islam di Rusia

Oleh:Frassminggi Kamasa*

Pascaruntuhnya Uni Soviet, Islam memainkan peranan penting dalam perkembangan di Rusia. Umat Islam terus berkembang menjadi salah satu soko guru bagi Rusia secara keseluruhan. Bahkan bila ingin mengetahui politik Rusia secara utuh, mau tidak mau harus memahami pula perkembangan Islam kontemporer di Rusia dan peranannya dalam masyarakat. Benarkah Islam sedang bangkit di Rusia?

Memang tidak banyak orang Indonesia yang mengetahui bahwa umat Islam di Rusia merupakan kelompok kedua terbesar setelah penganut Ortodoksi (Pravoslaviya).

Beberapa data dan pernyataan menyebutkan angka sampai 25 juta muslim dari 145-an juta penduduk Rusia keseluruhan. Hubungan antara umat Islam dan mayoritas Ortodoksi nampak cukup harmonis dan pemerintah sekarang juga memberikan keleluasaan bagi perkembangan kedua kelompok terbesar ini.

Dalam membangun kehidupan antarumat beragama di Rusia terdapat fundamental yang melandasinya. Fundamental itu adalah setiap etnis grup mempunyai agama dan tiap etnis dapat menghitung berapa pemeluknya. Andaikan terjadi pindah agama dalam suku tertentu maka akan dianggap radikal dan teroris.

Islam sebagai agama terbesar kedua di Rusia mempunyai pola yang berbeda dengan Ortodoksi. Islam tidak mengenal patriarki atau sentralisasi kekuasaan agama. Hal ini membuat pemerintah sulit untuk mengontrol Islam meski mekanisme pengontrolan Islam telah diatur dalam Departemen Spiritual yang dibentuk sejak abad ke-18 di masa pemerintahan Tsarina Catherine Agung.

Islam yang diatur menurut pengaturan Ortodoksi semacam ini mendapat pertentangan keras dari umat Islam tetapi mereka masih melaksanakannya dengan bernaung dalam grup besar yang akan terlihat di bawah nanti.

Membicarakan perjalanan Islam di Rusia tidak bisa dilepaskan bagaimana suatu masyarakat berproses dan bermetamorfosis dari satu bentuk ke bentuk lainnya dalam rangka pencapaian tujuan bangsa. Dinamika beragama di Rusia dimulai pada fase pascaruntuhnya Uni Soviet. Pada periode ini terjadi vakum ideologi dalam masyarakat Rusia secara keseluruhan.

Ideologi Sosialisme/Komunisme yang memerintah selama 74 tahun dianggap tidak efektif mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang dicita-citakan, tidak berhasil mewujudkan persatuan dan kesatuan, dan bertindak represif terhadap agama.

Oleh karena itu, terdapat pencarian kembali ideologi menurut akar masyarakat Rusia sendiri yang berbeda-beda tiap kawasan dengan perkembangan yang berbeda pula tetapi mempunyai karakteristik yang sama: menggali dari nilai agama dan kepercayaan.

Dalam hal ini, kebangkitan Islam bagi muslim Rusia berarti memengaruhi pula cara pandang mereka dalam keagamaan, sosial, politik, dan ekonomi yang selama masa Soviet ditundukkan oleh negara.

Meskipun perkembangan Islam di kawasan Privolga (Rusia tengah) yang adem ayem berbeda dengan Kawasan Kaukasus Utara yang relatif bergolak, tetapi mereka sama-sama bercirikan warna hijau. Bahkan khusus wilayah Kaukasus, mereka sudah menyentuh aktivitas dan realitas politik dan dalam batas-batas tertentu menggunakan organisasi keagamaan bukan hanya untuk tujuan spiritual tetapi juga untuk tujuan sosial yang kadang harus berbenturan dengan kepentingan persatuan nasional.

Tren Umum dan Faktor Penyebab

Meski evolusi Islam Rusia berkembang dalam tingkat dan arah yang berbeda-beda, namun terdapat kecenderungan (tren) umum dan dan kemiripan faktor peyebabnya. Tren umumnya biasanya diberikan julukan revitalisasi Islam yang berarti kegairahan masyarakat dalam mencari, menggali, dan menemukan Islam secara menyeluruh sedangkan faktor penyebabnya menurut kami dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu proses kesejarahan yang berakar pada perjalanan Islam di Rusia yang dahulu dimasukkan dalam imperium Tsar Rusia, masa pengekangan oleh Soviet, dan ketidakseimbangan sosial-ekonomi.

Tiga faktor dalam evolusi kebangkitan Islam ini berbaur dengan lima faktor kontemporer yakni pengaruh Timur Tengah; pengaruh ajaran radikal; masih berlanjutnya ketidakseimbangan sosial ekonomi; persepsi dan respons terhadap dunia luar; dan kebijakan sistem Federal Rusia dalam menyikapi perkembangan yang ada.

Pengaruh Timur Tengah bukan hanya datang dari Arab Saudi atau gejala “Arabisasi” misalnya di Kaukasus Utara, tetapi juga peran dan karakter revolusi Islam Iran. Di Kaukasus Utara, semangat puritanisme Islam menjadi semakin kuat dan muncul dalam pemerintahan. Di Dagestan, pengaruh keduanya mucul pada elit politik dan pemuka agama yang mengembangkan kebijakan “Arabisasi”.

Berlanjutnya ketimpangan sosial-ekonomi antara daerah Islam dengan non-Islam ditengarai memunculkan ingatan kolektif masa lalu. Pemasukkan wilayah mereka ke dalam imperium Tsar Rusia, perebutan tanah air, gejolak resistensi Rusifikasi, deportasi penduduk muslim besar-besaran zaman Soviet, penindasan kebebasan beragama, kerja paksa di Gulag, dan perang menjadi ingatan yang sudah berlalu tetapi masih belum dilupakan.

Menurut Badan Statistika Nasional Rusia, Rosstat, pendapatan daerah terkaya di Rusia hampir mencapai 10 kali lebih tinggi dibanding dengan daerah yang termiskin. Menurut harian Kommersant, perbedaan antara rata-rata pendapatan perkapita di daerah yang maksimum (Moskwa) dengan yang minimum (Ingushetia) adalah sebesar 9,8 kali di paruh pertama tahun 2007.

Pada faktor keempat, Islam dipengaruhi tentu saja oleh persepsi lokal dan orientasi terhadap dunia luar. Etnis Muslim mayoritas ada di tujuh republik Federasi Rusia yakni Republik Bashkortostan dan Tatarstan di kawasan Volga-Ural, dan Republik Chechnya, Ingushetia, Dagestan, Kabardino-Balkaria dan Karachay-Cherkessia di Kaukasus Utara.

Komunitas Islam begitu majemuk sehingga tidak terlepas dari benturan apabila masing-masing ingin mengadaptasikan Islam menurut kepentingan mereka sesaat. Dalam konteks ini seperti halnya sejarah pemikiran Rusia yang terbagi dua menjadi zapadniki (pro-Barat) dan slavophil (pro-Rusia) maka dalam konteks Islam pun terdapat Ero-Islam dan Eroasia Islam yang mempunyai karakteristik dan perkembangannya masing-masing.

Faktor kelima adalah kegamangan bentuk subjek republik antara federalisme dengan unitarianisme. Republik Islam telah menjadi bagian dari Rusia tetapi mereka masih bergelut dengan status hukum integrasi mereka dengan Federasi Rusia.

Setelah runtuhnya Uni Soviet maka konstitusi federal Soviet Rusia diamandemen untuk menghapus istilah otonomi dari bekas republik di dalam Soviet Rusia yang kemudian diganti dengan Federasi Rusia. Jadi, seluruh wilayah, kawasan, dan kota federal kemudian diakui sebagai bagian Federasi Rusia.

Subjek federasi Rusia terikat dengan pemerintah Federal Rusia melalui Perjanjian Federal, yaitu persetujuan mengenai yurisdiksi dan kekuasaan antara badan federal dan pemerintah pusat di Moskwa.

Pada prinsipnya, UUD Rusia membayangkan adanya hak-hak yang sama bagi seluruh subjek; tetapi republik-republik federal menikmati status yang berbeda yang memungkinkan mereka untuk mengadopsi UUD domestik, menetapkan bahasa negara, memilih presiden, dan membentuk Mahkamah Konstitusi.

Rusia adalah negara berbentuk federasi dengan subjek federasi yang terdiri dari 83 subjek federasi (dahulu 89 menurut UUD 1993) yakni: 21 republik; 46 oblast (provinsi); 9 kray (daerah besar/wilayah/teritori); 1 oblast-otonom (provinsi otonom); 4 okrug otonom (distrik otonom); dan 2 kota federal.

Status yang berbeda mengandung arti federalisme yang asimetris dalam pengertian tidak seluruh unit konstituen sama dalam lingkup ekonomi, geografi, dan sosial. Inilah masalah pelik sistem dan struktur politik Federal Rusia dalam tingkat sub-nasional dan level lokal.

Pemerintah pusat mencoba untuk menaklukkan negara-negara federal tidak hanya semata-mata demi federalisme terpusat tetapi malah menjadi de-federalisasi, seperti negara kesatuan (unitarianisme).

Peta Pembagian Administrasi Pemerintahan Federasi Rusia

Potensi Kebangkitan

Di Federasi Rusia, awal abad ke-21 adalah periode kebangkitan kembali rohani dan keagamaan, termasuk Islam. Mayoritas muslim Rusia adalah sunni. Terdapat dua mazhab di Rusia: mazhab Shafii di Kaukasus Utara dan mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya. Dalam beberapa kawasan terdapat tradisi sufi, utamanya pada suku Chechen dan Azeri.

Bangunnya kembali Islam di Rusia dimulai dengan pembentukan berbagai organisasi Islam dan masjid sebagai tempat berkumpulnya umat. Muslim Rusia membentuk organisasi dan masjid ini untuk mengorganisir struktur, pengaturan, dan pendekatan yang efesien, dan tertib untuk mencapai tujuan dan kerja kebangkitan Islam.

Pendidikan adalah prioritas utama organisasi Islam Rusia. Mereka menyadari bahwa kebangkitan Islam tidak mungkin tanpa kebangkitan pendidikan Islam, karenanya sampai tahun 2007, tercatat telah berdiri 16 sekolah tinggi Islam hasil upaya mereka.

Menurut data register negara, terdapat 3.345 organisasi keagamaan muslim di tingkat lokal. Jumlah yang terbesar dari organisasi keagamaan tersebut terdaftar di daerah Volga sebanyak 1.945, Kaukasus Utara mencapai 980, dan Ural mencapai 316 lembaga.

Di beberapa kawasan lain pun bermunculan organisasi serupa meski jumlahnya lebih kecil
Untuk jumlah masjid, yang tercatat resmi saat ini sebanyak 4.750 masjid. Kawasan yang paling banyak terdapat masjid adalah di Dagestan dengan jumlah 3.000 masjid.

Begitu pula di Tatarstan, yang dalam 10 tahun terakhir telah mencapai lebih dari 1.000 masjid. Sementara di ibukota Moskwa, yang populasi muslimnya sekitar satu juta jiwa, terdapat 20 komunitas Islam dan lima masjid besar. Pakar data Rusia memperkirakan, jumlah masjid seluruhnya dapat mencapai sedikitnya 7.000 masjid di Rusia.

Bukti konkret potensi kebangkitan yang dapat dilihat saat ini antara lain makin maraknya muslim Rusia untuk mempelajari Al-Quran, tingginya animo untuk berangkat ke tanah suci untuk haji dan umrah, jamaah masjid yang meningkat untuk menghadiri sholat atau acara religius lainnya, tingginya proposal untuk pembangunan masjid baru, meningkatnya proyek acara-acara Islam di radio dan program televisi, serta maraknya restorasi pemakaian bahasa Arab dalam kehidupan mereka.

Menurut catatan, lebih dari 32 ribu muslim Rusia telah menunaikan ibadah haji di tahun 2008.

Jumlah itu mengalami peningkatan setelah sebelumnya hanya 26 ribu dan kemudian ditambah kuotanya oleh pemerintah Arab Saudi sebanyak 6 ribu akibat meningkatnya minat muslim Rusia untuk pergi haji. Meski kondisi ekonomi mereka sulit tetapi kerinduan berat pergi ke tanah suci dapat menjadi bukti konkret makin menguatnya gelombang kebangkitan muslim Rusia.

Setiap minggu, TV pemerintah Rusia menayangkan program yang dinamakan “Muslim”. Program tersebut menceritakan mengenai tradisi, adat istiadat dan budaya pemeluk Islam di Rusia. Radio pemerintah juga mempunyai program serupa.

Pada tahun 2003, dibentuk Persatuan Wartawan Muslim Rusia di bawah payung Mufti Rusia dan dukungan Persatuan Wartawan Rusia. Muslim Rusia juga aktif berpartisipasi dalam dialog antaragama yang diadakan pemerintah Rusia setahun sekali untuk membahas isu-isu aktual dan memecahkan isu-isu sensitif antarumat beragama.

Negara-negara republik Islam di Kaukasus Utara mempunyai arti strategis dan menjadi tulang punggung Rusia jalur pipa migas Rusia dari Asia Tengah menuju Eropa melewati mereka. Negara-negara republik Islam di Kaukasus Utara juga terkenal kaya akan minyak, gas alam, batu bara, emas, dan sumber daya mineral lainnya
Menurut pakar, terdapat cadangan minyak raksasa di bawah Laut Kaspia yang diperkirakan lebih dari 25 juta barrel.

Republik Islam di Kaukasus Utara diperkirakan kaya dengan minyak, gas alam, batu bara emas, dan sumber tambang lainnya. Republik Ingushetia misalnya diperkirakan mempunyai minyak bumi lebih dari 60 miliar ton. Chechnya diperkirakan mempunyai cadangan minyak bumi yang cukup banyak tetapi produksi minyaknya telah merosot drastis 71% sejak tahun 1991.

Potensi kebangkitan lain adalah tingkat fertilitas muslim Rusia yang telah melampaui etnis Rusia. Misalnya, tingkat fertilitas Republik muslim di Kaukaus Utara, khususnya Chechnya, mempunyai jumlah penduduk muda yang termuda dalam struktur demografi masyarakat Rusia yang menua.

Pada paruh pertama tahun 2007, tingkat kelahiran di Chechnya 26,4 per 1.000 orang sementara di Rusia 11,28 per 1.000 orang. Perbedaan 15,12 point ini merupakan gap tingkat fertilitas etnis yang besar di Rusia. Untuk itu masa depan Islam nampaknya akan menjadi perhatian serius bagi pemerintah Rusia di masa depan dan menarik untuk dilihat bagaimana pemerintah Rusia menanggapi statistik faktual ini.

Dengan runtuhnya Uni Soviet muslim Rusia mulai menata kembali kehidupan agama dan sosial mereka. Muslim Rusia merupakan muslim terbesar di Eropa dengan jumlah 25 juta atau sekitar 17% dari 140 juta jumlah penduduk Rusia.

Islam terus mengalami pertumbuhan di Rusia. Di samping berasal dari muslim keturunan, banyak di antara mereka merupakan muslim Rusia yang mualaf. Bahkan bisa dikatakan 60% pemeluk baru adalah etnis Rusia yang sebelumnya atheis.

Berbeda dengan muslim Eropa, muslim Rusia mempunyai sejarah panjang di Rusia yang dimulai di pertengahan abad ke-7. Dari 182 etnis di Rusia, 57 etnis mengikuti agama Islam dan hal ini membuat Islam adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari budaya dan sejarah Rusia. Muslim Rusia punya hubungan baik dengan agama-agama lain dan mereka tidak bersikap ekstrim.

Itulah mengapa mereka menantang kelompok-kelompok seperti Al Qaeda dan Taliban karena mereka tidak menerima sikap kekerasan dan pemikiran fanatik. Sekalipun demikian ini tidak berarti muslim Rusia lemah, ketika terjadi pengusiran besar-besaran dari tanah air, mereka telah membuktikan sebagai umat yang sulit ditaklukkan.

Itulah sebabnya barangkali, saat bertemu dengan ulama Islam Rusia, Presiden Rusia Dmitry Medvedev menegaskan tentang pentingnya posisi umat Islam Rusia. Ia mengatakan “umat Islam Rusia di negara ini dihormati dan punya pengaruh.

Lembaga-lembaga Islam punya peran penting dalam menyebarkan perdamaian dan menciptakan atmosfir spiritual dan perilaku baik di tengah-tengah masyarakat serta berjuang melawan sikap ekstrim”.

Dua grup besar di komunitas Islam diwakili oleh pemimpinnya yakni Ravil Gainutdin dan Talgat Tadjuddin. Talgat berorientasi pada Islam spirit dan penggabungan antara Islam dengan Ortodoksi atau yang dikenal sebagai Krypto Ortodoksi. Ia mengatakan bahwa hari raya Natal adalah hari raya orang Islam juga karena berasal dari nabi Isa.

Hal ini berbeda dengan pandangan Ravil yang lebih puritan karena menakankan kembali kepada ajaran Al Quran dan Hadis. Ia lebih dekat kepada pengaruh Arab yang menentang setiap tradisi pagan yang masih tersisa dan dipakai peninggalan sebelum masuknya Islam di Rusia.

Sebagai contoh dari budaya pagan yang masih lekat di Rusia dan masih dilaksanakan oleh beberapa umat Islam Rusia adalah percaya adanya sungai suci, meminta air suci, dan semacamnya. Dalam mengatasi kurangnya ilmu agama ini maka dibentuklah semacam majelis ulama yang bertujuan mendidik ulama untuk berdakwah kepada masyarakat.

Meski dua-duanya mempunyai perbedaan tajam dalam hal akidah tetapi kedua-duanya sepakat bahwa Wahabisme dianggap sebagai ancaman bagi kerukunan umat beragama Rusia. Hal ini karena Wahabisme menurut mereka dan juga merupakan pandangan resmi pemerintah Rusia dianggap telah memurtadkan orang Rusia (Slavia) Ortodoksi menjaid Islam.

Ortodoksi dan Mufti mengutuk aksi Wahabi semacam ini dan oleh karena itu Wahabi merupakan musuh bersama di Rusia. Bahkan di Republik Ingushetia terdapat UU yang melarang ajaran Wahabi, penyebaran Wahabi, dan menjadi Wahabi.

Di Rusia, paham Wahabi dianggap sebagai penyimpangan Islam dan bukan Islam sesungguhnya. Meski dilarang tetapi paradoksnya banyak para ulama Rusia yang belajar di Arab Saudi yang secara resmi memakai paham Wahabi dalam metode pendidikannya. Hal ini berarti secara tidak langsung pemerintah Rusia masih mengakui bahwa Wahabi hanya tidak boleh di dalam negeri tetapi membolehkan untuk dipelajari di luar negeri.

Penutup

Dalam bukan puasa Ramadhan di Masjid Prospek Mira Moskwa tahun lalu, Mufti Besar Ravil Gainetdinov menekankan tradisi turun temurun dialog antara muslim dengan pemeluk agama lain di Rusia. Ia menyatakan “Rusia adalah tanah air kita bersama, kami selaku muslim Rusia berkeawajiban untuk melindungi dan memperluas kekayaan spiritual yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita.”

Kebijakan yang menyejahterakan rakyat, memberikan kesempatan yang sama dalam segala bidang bagi muslim Rusia untuk maju, meningkatkan pendidikan, merangkul segenap lapisan Islam, serta sensitif terhadap Islam adalah strategi kebijakan Islam yang bijaksana. Itulah kebijakan paling manjur yang selama ini telah dilakukan dan semestinya ditingkatkan oleh Pemerintahan Rusia (). *Penulis adalah WNI yang pernah tinggal di Rusia.

Sumber :eramuslim.com

Halaman Ke