Selasa, 26 Oktober 2010

Merapi Meletus, Mbah Maridjan Ditemukan Bersujud Meninggal Dunia

Sleman (voa-islam.com) --Juru Kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan diduga tewas akibat semburan awan panas letusan Gunung Merapi, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sore.

Seorang anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Slamet, mengatakan, saat dilakukan penyisiran pada Rabu pagi ditemukan sesosok mayat dalam posisi sujud di dalam kamar mandi rumah Mbah Maridjan.

"Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi," katanya. Menurut dia, mayat tersebut ditemukan di dalam kamar mandi rumah dalam posisi sujud dan tertimpa reruntuhan tembok dan pohon.

..."Kemungkinan mayat yang ditemukan tersebut adalah Mbah Maridjan, namun ini belum pasti karena wajah dan seluruh tubuhnya sudah rusak dan sulit dikenali lagi," katanya...

"Biasanya di dalam rumah Mbah Maridjan tersebut hanya ditinggali oleh Mbah Maridjan sendiri," katanya. Ia mengatakan, kondisi di dusun sekitar tempat tinggal Mbah Maridjan mengalami kerusakan yang sangat parah, hampir semua rumah dan pepohonan roboh. "Kerusakan ini akibat terjangan awan panas dan bukan karena material lava," katanya.

Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha mengatakan saat ini jenazah Mbah Maridjan masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta. "Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB, informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.

Sebelumnya, Mbah Maridjan sempat dikabarkan selamat. Informasi ini disampaikan oleh salah seorang tim penolong yang memasuki kawasan Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal.

Mayat Mirip Mbah Maridjan Ada Di Kamar Mayat

Setelah Dikonfirmasi, petugas Kamar Jenazah RS Sardjito Yogyakarta, mengakui pihaknya sudah menerima jenasah yang mirip benar dengan Mbah Maridjan. "Benar, jenasah mirip Mbah Maridjan sudah ada di sini," kata petugas tersebut.

Soal kondisi jenazah yang mirip Mbah Maridjan itu, dia mengaku tak berani menggambarkannya. Yang jelas, "kami menerima jenazah tersebut pukul 06.30 WIB," tambah dia.

..."Benar, jenasah mirip Mbah Maridjan sudah ada di sini," kata petugas tersebut...

Sementara jasad rekan kami, Yuniawan, saat ini berada di ruang forensik. Mas Wawan sudah menjalani proses otopsi. "Keluarganya sudah di sini," tambah dia.

Sejak kemarin sore pukul 17.02, Merapi sudah bererupsi dalam bentuk wedhus gembel yakni awan panas berisi abu dan kerikil. Sifat letusan eksplosif yang mengarah ke barat, barat daya, selatan dan tenggara.

Wedhus gembel membuat rumah Mbah Maridjan hancur lebur dan dipenuhi debu vulkanik. Menurut informasi, saat kejadian, Mbah Maridjan sedang melaksanakan salat di masjid.

Ucapan Duka Mengalir Di Facebook

Sesosok mayat laki-laki dalam posisi sedang bersujud yang ditemukan Tim SAR di depan rumah Mbah Maridjan, Rabu pagi (27/10/2010) dikabarkan adalah si juru kunci Gunung Merapi sendiri. Kabar meninggalnya ini ramai dibicarakan di situs jejaring sosial, facebook dan twitter.

..."Innalillaahiwainnailaihiraajiuun. Confirmed. Mbah Maridjan ditemukan wafat, Rabu jam 6.15 di kamar mandi rumahnya oleh SAR." Demikian rata-rata ucapan mereka sambil mengabarkan wafatnya Mbah Marijan...

Banyak ucapan belasungakawa datang dari facebooker maupun pengguna twitter. "Innalillaahiwainnailaihiraajiuun. Confirmed. Mbah Maridjan ditemukan wafat, Rabu jam 6.15 di kamar mandi rumahnya oleh SAR." Demikian rata-rata ucapan mereka sambil mengabarkan wafatnya Mbah Marijan.

Sebelumnya, ditemukan ada mayat dalam posisi tertelungkup di depan rumah Mbah Maridjan. Pada Selasa malam, muncul kabar Mbah Maridjan ditemukan masih hidup dalam kondisi lemah. Saat terjadi sapuan awan panas itu, Mbah Maridjan sedang shalat di masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Tapi, dia menolak untuk dievakuasi dan tetap ingin berada di masjid. (LieM/dbs)

Sumber : www.voa-islam.com

Waktumu adalah Umurmu!


Tanda orang yang merugi adalah banyak berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Banyak berbasa-basi, bercanda, dan banyak bicara
Dari Ibnu 'Abbas ra, Rasulullah bersabda:

وَالْفَرَاغُالصِّحَّةُ:النَّاسِ مِنَ كَثِيْرٌ فِيْهِمَا مَغْبُوْنٌ نِعْمَتَانِ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang.” (Riwayat Bukhori). (HR. Bukhori no.6412, At-Tirmidzi no.2304, Ibnu Majah no.4170, Ahmad no. I/258-344), Ad-Darimi no.II/297, Al-Hakim no.IV/306)
Waktu adalah ukuran zaman. Hari-hari yang kita lewati adalah umur kita. Apabila ia berlalu, maka hilanglah bagian dari hidup kita. Waktu adalah karunia terbesar dan paling berharga bagi manusia. Waktu menjadi rahasia berbagai prestasi cemerlang bagi seseorang ketika mampu menatanya dengan seksama.
Mumpung seseorang masih punya kesempatan waktu muda, maka seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Masa muda sebagai waktu emas, saat masih memiliki kekuatan semangat, pikiran masih jernih, kesibukan masih sedikit, dan tekat yang kuat. Sebaliknya pada usia tua, jasad semakin lemah, beban semakin berat, penyakit sering mampir, dan kekuatan pun kian berkurang.
Semua bentuk tindakan, kesungguhan, kekuatan, kemuliaan, kenikmatan, dan pencapaian tujuan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika badan sehat dan adanya waktu luang. Kewajiban yang seharusnya kita tunaikan teramat banyak, sementara waktu terluang sangat terbatas. Dengan waktu pula, betapa banyak lahan yang bisa diolah, berapa banyak perusahaan yang bisa didirikan, berapa ribu orang yang bisa dibantu dan yayasan yang bisa dikembangkan. Namun betapa banyak pula yang sudah puas dengan sedikit kualitas, sudah bangga dengan amal yang belum ada apa-apanya.
Tidaklah Allah bersumpah dalam al-Quran dengan meggunakan kata waktu, wal-‘ashri, wad-dhuha, wal-laili, bis-syafaqi, wal-fajri, dan sebagainya, kecuali semuanya mengisyaratkan tentang betapa pentingnya waktu. Dimaksudkan agar manusia disiplin penuh perhatian terhadap masa hidupnya.
Waktu yang Allah berikan kepada kita lebih berharga daripada emas karena ia adalah kehidupan itu sendiri. Seorang Muslim tidak pantas menyia-nyiakan waktu luangnya untuk hanya bercanda, bergurau, main-main, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena ia tidak akan pernah mampu mengganti waktunya yang telah berlalu. Siapa yang mengabaikan waktunya, maka semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana kerugian orang sakit, dia merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.
Seorang Muslim yang pada dirinya terkumpul dua nikmat ini, yakni kesehatan badan dan waktu luang, maka hendaknya menunaikan hak keduanya untuk melakukan ketaatan dan meraih kedekatan kepada-Nya. Tapi jika menyia-nyiakannya maka sebenarnya ia adalah manusia yang tertipu. Sebab, kesehatan akan digantikan dengan sakit dan waktu luang akan digantikan dengan kesibukan. Sebagaimana seorang pedagang yang memiliki modal, yaitu kesehatan dan waktu luang, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan modalnya yang ada padanya selain ketaatan kepada Allah.
Seseorang yang memiliki badan yang sehat tanpa menggunakannya untuk tindakan yang berguna dan tidak pula berbuat untuk akhiratnya adalah orang yang merugi. Dalam kenyataan memang kebanyakan manusia tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang. Mereka malah membuang usia dan mempermainkan umur. Kadang-kadang manusia juga tidak memiliki waktu luang. Waktunya habis hanya untuk mencari makan dan kebutuhan periuk nasi. Sebaliknya terkadang memiliki waktu luang namun badannya sakit, jiwanya juga sakit, malas, loyo, tidak bergairah yang pada akhirnya berujung pada kebangkrutan.
Seorang Muslim hendaknya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia tidak boleh menunda-nunda kesempatan melakukan amal kebaikan.
Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar pernah berkata; "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al-Bukhariy no.6416)
Ibnu Qoyyim berkata: ”Ada 4 hal yang dapat merusak hati, yaitu berlebihan dalam berbicara, berlebihan makan, berlebihan tidur, dan berlebihan dalam bergaul.” (Al-fawaid hal 262).
Beliau juga berkata: ”Pintu taufiq tertutup bagi seseorang karena melakukan 6 perkara, yaitu (1) meninggalkan syukur kepada Allah dengan menggunakan karunia bukan pada jalan-Nya, (2) gemar terhadap ilmu namun tidak mau mengamalkannya, (3) menunda-nunda taubat, (4) berteman dengan orang sholih tapi tidak mau meneladani mereka, (5) mengejar-ngejar dunia padahal dunia akan meninggalkannya, (6) berpaling dari akhirat padahal akhirat akan mendatanginya.” (Al-Fawaid)
Ucapan Salaful ummah tentang waktu
Muhammad bin Abdul Baqi’ (535 H) mengatakan: ”Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktu yang pernah berlalu dari umurku untuk main-main dan berbuat sia-sia.” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/26)
Imam Hasan Al-bashri mengatakan: “Wahai anak cucu Adam, dirimu sebenarnya adalah hari-harimu yang kau alami, jika harimu berlalu maka berkuranglah sebagian hidupmu, sungguh aku pernah bertemu dengan suatu kaum, mereka lebih mengutamakan, mencintai dan menghargai waktu melebihi dari apa yang kau lakukan terhadap dinar dan dirham.”
Ibnu Mas’ud berkata: “Aku tidak pernah menyesal atas hari yang berlalu, kecuali ketika matahari terbenam dan usiaku berkurang, tetapi ilmuku tidak bertambah di hari itu.”
Al-Kholil bin Ahmad (160H) mengatakan; “Waktu itu ada tiga bagian, waktu yang sudah berlalu darimu dan tak akan kembali, waktu sekarang yang sedang kau alami dan ia juga akan berlalu darimu, dan waktu yang engkau tunggu yang bisa jadi engkau tidak bakal mendapatkannya.” (Thobaqotul hanaabilah hal.35-36)
Kisah Dawud bin Abi Hindun (139 H) adalah di antara contoh yang mengagumkan. Beliau berkata: “Ketika kecil aku berkeliling pasar. Ketika pulang kuusahakan diriku untuk selalu berdzikir kepada Allah ta’ala hingga tempat tertentu. Jika telah sampai kuusahakan lagi dariku untuk berdzikir kepada Allah hingga tempat selanjutnya…hingga sampai di rumah. Tujuannya agar kugunakan waktu dalam umurku.” (Siyar A’lamin Nubala’ VI/378)
Ibnu Rojab Al-hambali berkata: “Seorang pelajar hendaknya seorang yang cepat dalam berjalan, menulis, membaca ketika makan.” (Thobaqot Al-hanabilah). Terbiasa cepat dalam berjalan maka akan sehat di waktu tuanya, cepat membaca maka akan menghemat waktu belajarnya, sekaligus lebih banyak mendapatkan ilmu.
Contoh Salaful ummah menggunakan waktu
Di dalam perjalanan para ulama’ terdahulu terdapat banyak contoh yang mencengangkan bagaimana mereka menggunakan umurnya yang mampu mendorong kita agar benar-benar menjaga detik-detik ini. Para pendahulu kita dengan keterbatasan dana, teknologi, tidak ada listrik, printer, dan sejenisnya, namun amal mereka tak mampu ditandingi oleh manusia sekarang. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk berjuang di jalan Allah, menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, melakukan amalan sunnah, berdzikir, bertasbih, beristighfar, mengajar, dan amal-amal ketaatan lainnya.
Abu Bakar Al-Baqilani pernah tidak tidur sebelum menulis sebanyak 35 halaman dari hafalannya. Abu Nashr Al-Farabi tinggal di Damaskus dekat taman dan kolam air. Di sinilah beliau pergunakan untuk menulis kitab-kitabnya. Imam Abu Yusuf sahabat Imam Abu hanifah menjelang detik-detik kematiannya masih sempat membahas masalah fiqh.
Seorang murid dari Al Alusi Al-hafidh, Bahjah Al-Atsari berkata: “Saya teringat bahwa saya tidak datang belajar pada suatu hari karena hujan dan angin kencang. Kami kira Al-Alusi tidak datang mengajar. Keesokan harinya beliau berkata: “Tidak ada kebaikan bagi orang yang terpengaruh oleh panas dan hujan untuk tidak belajar”.
Di antara sikap yang menakjubkan dalam menghargai waktu adalah Ibnu Taimiyah (590 H). Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu tanpa mengajar, menulis, dan ibadah lainnya. Pada waktu masuk kamar kecil pun beliau meminta seseorang untuk membacakan kitab kepadanya dari luar.
Ibnu Rojab berkata: “Hal ini menunjukkan betapa kuat dan tingginya kecintaan beliau untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu”. Murid beliau, Ibnu Qoyyim menyebutkan bahwa beliau di saat sakitpun masih sempat membaca dan menelaah ilmu. (Roudhotut Tholibin)
Daud At-Tho’i diriwayatkan membaca lima puluh ayat ketika makan roti. Seorang bijak mengatakan;Waktu adalah pedang, jika engkau tidak menggunakannya maka ia akan memotongmu. Bila engkau tidak menggunakan waktu yang ada, maka engkau akan celaka layaknya seseorang yang terkena sabetan pedang. Jika kamu tidak menggunakannya dalam kebaikan maka engkau akan dirusak di dalamnya.” (Bahjatus-nufus, Ibnu Abi Jamroh 3/96).
Sarri As-Saqoti ketika didatangi dan dikerumuni oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan dan hanya berbasa-basi saja, maka dikatakan mereka: “Anda telah dikerumuni oleh orang-orang yang tidak punya tindakan, jika orang yang didatangi lemah maka mereka akan duduk berlama-lama dan akibatnya kerugian waktupun tak terhindarkan. Padahal kalian punya kewajiban-kewajiban yang banyak”.
Imam Amir bin Qois kedatangan seseorang dan mengajaknya untuk duduk-duduk saja, maka dikatakan kepadanya: “Saya akan berbicara denganmu namun tolonglah hentikan matahari terlebih dahulu”
Umur yang sia-sia
Banyak waktu terbuang dengan sia-sia. Ini adalah tanda utama orang-orang yang dianggap merugi. Hilangnya waktu, juga menyebabkan hilangnya umur secara sia-siapa. Beberapa hal di antara kesia-siaan itu adalah banyak berkunjung dan berkumpul namun tidak untuk menambah ilmu. Duduk-duduk hanya untuk berbasa-basi, berlebih-lebihan dalam bergaul, banyak bercanda dan tertawa, banyak jalan-jalan, banyak bicara lebih dari keperluan, minum kopi 1 gelas sampai berjam-jam, meng-ghibah dan bersantai-santai membuang usia sehingga terlepaslah darinya manfaat yang banyak.
Di antara menyia-nyiakan umur pula adalah sibuk dengan sesuatu yang tidak penting. Berasyik-ria dengan kegiatan yang remeh temeh. Seperti main catur, domino, menonton TV, baca desas-desus berita koran, nonton berita ghibah, SMS atau bicara di HP dengan sesuatu yang tidak penting. Sehingga banyak ketinggalan ilmu yang seharusnya ia miliki.
Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap ilmu?” Beliau menjawab: “Ibarat seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya dan ia tidak memiliki anak kecuali anak tersebut.” (Adabus-Syafi’I wanaqibuh, Ar-Rozi, dinukil dari Ma’aalim fit-thoriqi thlabil ‘ilmi hal.41).
Bandingkanlah pemandangan antara Imam Syafi’I yang haus ilmu dengan orang-orang sekarang. Di kantor ia banyak ngobrol, meski banyak orang sedang membutuhkannya. Di rumah ia hanya nonton TV padahal banyak waktu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Bahkan nongkrong malam hari hanya untuk mengejak kesia-siaan.
Waktu lewat begitu saja dengan kelebihan jam tidur, banyak makan, banyak berleha-leha dan santai. Sehingga yang timbul justru panjang angan-angan, menunda-nunda pekerjaan, menunda taubat. Terutama antara adzan dan iqomah tidak digunakan untuk berdo’a, atau berdzikir, membaca al-Qur’an, mengulang hafalan, muhasabah, muroja’ah dan sebagainya.
Dalam kenyataan, kita saksikan manusia menggunakan umurnya dengan sesuatu yang aneh, membaca buku yang sama sekali tidak berguna, menyaksikan hiburan yang sungguh sia-sia, lawakan, berlama-lama istirahat, berhura-hura ke tempat keramaian dan sebagainya. Lebih aneh lagi kita sendiri menganggap aneh melihat seseorang yang mempersiapkan amal untuk perjalannya yang panjang, berpacu dengan cepatnya putaran waktu.
Imam Ibnu Jama’ah berkata: “Hendaknya seseorang membagi waktu malam dan siangnya, memanfaatkan sisa umur karena umur yang tersisa tidak ada bandingannya.”
Akhirul kalam, biasakanlah bertanya pada diri sendiri. Apa yang telah kita lakukan di waktu-waktu sehat dan luang kita? Apakah digunakan untuk tujuan kesehatan, kemanfaatan ilmu, untuk ibadah, atau hanya terbuang secara percuma?
Jika hanya kesia-siaan belakan, sepatutnya kita memohon kepada Allah agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu mengisi usia ini sebagus-bagusnya. Amiin. [Abu Hasan Husain/hidayatullah.com]

Senin, 25 Oktober 2010

Ibu, Sang Arsitek Peradaban


Oleh : Ibutina

Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.

Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.

Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.

Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih.
Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”

“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya.
Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan.
Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.

Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.
Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.

Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh DR. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi dunia tentang wanita di Beijing. Berikut tuturannya :

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang, menurut Katme, tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.

Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.

Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.

Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.

Muslimah perlu menyadari peran vitalnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.

Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia. (hdn)

sumber : dakwatuna.com

Jilbab Membawa Berkah (Kisah Orang Indonesia di Eropa)

Asty Rastiya, menceritakan pengalamannya kidentitas Asty sebagai seorang muslimah. Dengan berbekal pengetahuan yang didapat detika kuliah di Den Haag, Belanda. Dirinya sempat ketar-ketir karena menurut apa yang dia tahu sebelum berangkat ke Belanda, dunia barat mendiskriminasi Islam.

Apalagi dengan mengenakan jilbab, tambah jelaslah ari media, Asty teguh berangkat ke Belanda dan bersiap menghadapi segala resiko.

Kecele
"Eh ternyata tak seperti yang aku kira. Dosen gak keberatan aku sholat di kelas. Teman-teman terutama yang bule, mereka memandang sinis Islam karena cuma punya pengetahuan dari media. Samalah dengan aku sebelum berangkat ke Belanda, " demikian Asty.

Roma
Asty mengatakan, justru mendapatkan banyak keuntungan dan beberapa kali ditolong orang asing gara-gara jilbab. Contohnya, ketika berada di Roma, Italia dan memesan makanan di sebuah restoran Turki, Asty di'ganjar' secangkir teh gratis oleh pemilik restoran.

"Saya pikir tehnya memang gratis di restoran itu, tapi setelah saya lihat menu, ternyata harganya 1,5 euro. Alhamdullilah, rejeki..." kata Asty.

Masih di Roma, dia menceritakan pengalamannya ketika sedang berjalan menyusuri jajaran toko dan restoran. Ketika itu Asty dan temannya harus melewati sekelompok pemuda yang sedang nongkrong di pinggir jalan, lengkap dengan botol bir di tangan. Tiba-tiba seorang dari mereka mengucapkan salam, "Assalamualaikum!" Walaupun kaget, Asty menjawab juga.

Tak lama seseorang dari gerombolan itu melambaikan tangan memanggil mereka. Asty lumayan gugup, karena tidak mengerti apa mau si pemuda. Mereka bergeming. Lalu laki-laki itu menyerahkan botol bir yang sedang dipegangnya pada salah satu temannya, dan berjalan ke arah kedua gadis tersebut.

Si pemuda kemudian menunjuk ke kepalanya, lalu menunjuk Asty. "That's beautiful! No many people who wear that!" Serunya. Asty lega, ternyata pemuda itu hanya ingin memberi pujian. Dan caranya menyerahkan botol bir kepada temannya sebelum menghampiri, diartikan Asty sebagai cara menunjukkan rasa hormat.

Milan
Lain lagi pengalaman di Milan. Karena lupa membawa peta kota Milan, Asty dan temannya harus menanyakan alamat kepada orang sekitar. Di Italia, kebanyakan orang enggan atau tidak fasih berbahasa Inggris. Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka bertemu seorang pemuda yang membantu menunjukkan arah. Bahkan ikut menemani ke stasiun metro untuk membeli tiket dan membantu membelikan tiket dari mesin.

Ternyata pemuda itu seorang imigran asal Pakistan. Ketika Asty mengucapkan terima kasih atas bantuannya, dia menjawab "It's okay. I'm a Muslim, you are a Muslim, so I help you," jawabnya sambil tersenyum.

Praha
Kejadian lainnya ketika berada di Praha, Republik Ceko. Ketika sedang berjalan-jalan di sebuah kompleks Yahudi, kembali terdengar seseorang menyapa , "Assalamualaikum." Asty tidak menyangka karena itu keluar dari mulut seorang seorang laki-laki berkulitputih dan dalam kompleks pemakaman Yahudi di Praha.

Si pria yang ternyata pemilik toko suvenir itu menjanjikan korting untuk Asty. Asty waktu itu berpikir, yah semua pedagang akan bilang begitu, supaya dagangannya laku. Si laki-laki tersebut sempat bercakap singkat dengan si kasir, yang kemudian menghitung belanjaan Asty, yang totalnya sekitar 600 Kc. Tapi kemudian, ia berkata, "We give you discount." Total harga di monitor pun berubah menjadi sekitar 500 Kc. "Waaah, ternyata si pelayan toko tadi sungguh-sungguh dengan perkataanya! Alhamdulillah, rejeki lagi...," kata Asty.

London
Selain kejadian-kejadian di atas, masih ada beberapa pengalaman berkesan lain gara-gara jilbab yang Asty kenakan. Termasuk saat berjalan-jalan di London, Inggris. Saat sedang mengantri burger di sebuah restoran cepat saji, seorang ibu mengingatkan Asty makanan itu tidak halal, meskipun daging sapi. Asty yang kelaparan mengatakan mencari makanan sepenuhnya halal itu sulit di London. Ibu itu mengatakan, wah tidak benar itu. "And she was right!" kata Asty. Restoran yang menawarkan makanan halal ternyata cukup bertaburan di pusat kota London. "Saya bahkan menemukan sebuah restoran sushi bersertifikat halal!" Asty senang karena merasa diingatkan.

Belanda
Tak hanya pertolongan orang yang Asty dapatkan berkat jilbab. Keuntungan lain, berjilbab memudahkan untuk sholat di mana pun dan kapan pun, tanpa harus repot memakai mukena. Bahkan di kereta sekalipun.

Apa tidak takut dipandang aneh? Asty mengatakan, "Saya tidak pernah dipandang aneh atau dikucilkan begitu. Paling mereka berpikir, ini orang lagi yoga apa begitu, " sambungnya tergelak. Ada satu kejadian yang Asty tidak lupa, ketika itu ada seorang pria Belanda yang naik kereta bersama anjingnya. Sebelum duduk di depan Asty, pria itu bertanya lebih dahulu apakah Asty keberatan jika dia duduk di hadapan Asty. "Entah dia tahu kalau muslim tidak bisa sama anjing, tapi saya surprise, orang Belanda biasanya kan gak pernah tanya-tanya."

Kacamata
Menurut Asty, jika ada perdebatan soal mengapa tetap memeluk agama Islam walaupun sudah banyak anggapan teroris dan sebagainya, Asty mengatakan ,"Saya bilang, kamu tidak akan bisa memahami keyakinanku jika kamu melihatnya dengan kacamatamu sendiri. Sama dengan aku yang tidak bisa memahamimu yang atheis tidak percaya Tuhan, jika aku menggunakan kacamataku sendiri. Tapi aku berusaha melihat kamu dan memahami kamu dari kacamatamu sendiri, sehingga aku paham mengapa kamu atheis dan menghargai kamu dan pilihanmu."

[muslimdaily.net/RNW/foto dari Facebook]

Subhanallah..Awan Berbentuk Lafaz Allah Terpotret Kamera di Manado


Manado (voa-islam.com) - Subhanallah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tulisan lafaz Allah kembali terbentuk oleh awan di langit Manado yang berhasil diabadikan Rendra Suryansyah Pakaya warga Manado, Jumat (22/10/2010) malam.

Dari empat foto yang dikirim, tampak terbentuk tulisan lafaz Allah berada di dekat bulan berselimut awan biru di tengah semesta angkasa yang gelap.

Lafaz tersebut terbentuk oleh lahan kosong di antara awan biru, dengan huruf alif, lam jalalah dan ha' tanpa harakat. Ukuran dari lafaz itu sendiri tampak lebih besar dibanding bulan yang bulat putih sebagaimana pada foto.

..."Waktu pertama lihat, saya kaget sambil istighfar dan merinding. Setelah itu saya masuk rumah terus memberitahu pada keluarga," terang Rendra...

Foto ini asli tanpa rekayasa, dikirim oleh Rendra kepada wartawan Sabtu (23/10/2010) tengah malam. Sedangkan pada foto lainnya, tampak seperti planet Venus yang biasa berada tidak jauh dari posisi bulan, juga muncul lafaz Allah dengan posisi tidak berubah walau awan bergeser.

Dari jepretan kamera Nicon D3000 tanggal 22 Oktober 2010 pukul 21:28:26 hingga 21:28:55 ini juga tampak pergeseran posisi planet seperti Venus dari Bulan yang sangat indah.

"Awalnya saya hanya ingin ngasih makan kucing di belakang rumah. Saya lihat di langit ada bulan diselimuti awan. Karena tidak ingin melewatkan momen tersebut, langsung saya ambil kamera," kata Rendra.

"Pada saat akan mengambil gambar, tiba-tiba saya melihat kalimat Allah di langit. Langsung saya "jepret" sampai 4 kali. Waktu pertama lihat, saya kaget sambil istighfar dan merinding. Setelah itu saya masuk rumah terus memberitahu pada keluarga," terang Rendra.

Rendra yang juga karyawan Bank Syariah Mandiri Cabang Manado, memotret bulan itu di rumahnya kawasan Sario, Manado. Rendra saking kagumnya, kemudian memotret dari mulai muncul sampai hilang ditiup angin. "Insyaallah bisa bermanfaat untuk pembaca agar lebih ingat pada Sang Pencipta," pungkasnya. (Ibnudzar/trb)

KETIKA MUSIBAH DAN KESEDIHAN MENERPA



Kepada semua orang yang hatinya dipenuhi dengan kesedihan dan kegundahan, sesungguhnya salah satu sifat dunia ini wahai saudara tercinta dan saudara yang mulia adalah bahwasanya dia adalah tempat ujian, kesusahan, kegundahan, kesengsaraan dan musibah kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk melaluinya. Dan ini salah satu perbedaan antara dunia dengan Surga. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:


(( لقد خلقنا الإنسان في كبد ))

”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”(QS. Al-Balad: 4)

Dan bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


(( ولنبلونكم بشئ من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين)) ..

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155)

Bukankah manusia-manusia terbaik yaitu para Nabi dan Rasul 'alaihimussalam seluruhnya, dan bahkan Nabi dan Rasul terbaik, penghulu/pemimpin manusia yaitu Nabi dan kekasih kita, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam juga mengalami cobaan-cobaan dan kesedihan-kesedihan….dst? lihat dan bacalah sirah (perjalanan) beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan sirah seluruh para Nabi dan Rasul 'alaihimussalam, maka akan jelas bagi hakekat ini!!!

Bukankah manusia terbaik setelah para Nabi 'alaihimussalam yaitu para Sahabat radhiyallahu'anhum juga mengalami hal yang demikian? Bukankah hal itu juga menimpa para Tabi’in pilihan dan Ulama-ulama ummat seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan ulama-ulama lain yang masyhur??? Dan sesungguhnya tidak selamat darinya satu orang pun, baik laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun anak-anak. Inilah keadaan dunia dan inilah sunatullah yang terjadi pada makhluknya.

Maka dunia ini adalah hina bukan mulia, dia hanya tempat singgah sementara yang akan hilang, dan bukan tempat tinggal bagi orang-orang berakal, kecuali untuk mencari bekal di dalamnya untuk kehidupan Akherat dengan amal shalih. Dan orang yang mencermati kehidupan sebagian manusia dia akan mendapatkan bahwasanya mereka lalai dari sunatullah dan hakekat rabbaniyah ini, maka seandainya salah seorang di antara kita diuji dengan salah satu dari musibah-musibah ini –dan ini adalah sesuatu yang pasti menimpa kita semua – maka dia akan menganggap bahwa hanya dia sendiri, tidak manusia-manusia selainnya yang tertimpa kesedihan dan kesusahan yang disebabkan dari musibah itu, yang itu adalah hakikat dunia dan yang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada setiap makhluknya sesuai dengan hikmah yang diketahui oleh-Nya Subhanahu wa Ta'ala.
itu adalah.

Dan di sini kadang Syetan menghembuskan ke hati sebagian mereka dan menambah kesedihan di atas kesedihan –dan syetan tidak menginginkan kabaikan untuk seorang mukmin sedikitpun- sehingga hati sebagian manusia menjadi lembah yang dalam yang menampung kesedihan dan kesusahan, dan menjadi lautan-lautan yang berisi kesempitan dan kegundahan. Dan mungkin saja akhirnya mereka berputus asa dan dia memasukan diri mereka ke dalam jurang putus harapan yang gelap. Sama saja apakah hal itu karena sebab dari mereka –setelah iradah (kehendak) dari Allah- ataupun dari selain mereka.

Oleh sebab itu hendaknya setiap muslim dan muslimah beradaptasi dengan sunatullah yang seperti ini, sesuai dengan apa yang disyari’atkan oleh Rabb kita Subhanahu wa Ta'ala, kalau tidak maka demikian maka kesedihan dan kegundahanya -apabila dia larut dengannya- akan menjerumuskan manusia ke dalam sesuatu yang tidak terpuji dampaknya baik di dunia dan akherat.

Maka dari itu wajib bagi kita untuk mengetahui sebab-sebab yang bisa mendatangkan kesedihan dan kegundahan, supaya kiyta bisa mencegahnya sebelum terjadi dan apabila sudah terjadi kita bisa memiminalisir musibah tersebut dan akhirnya kita bisa bersabar dan mengharap pahala dari musibah dan kesedihan yang menimpa kita. Dan yang harus kita ketahui juga bahwasanya sebab-sebab tersebut ada yang bersifat materi (bisa ketahui hubungan sebab akibatnya dengan panca indera) dan ada yang bersifat maknawi (secara agama). Di antara sebab-sebab tersebut adalah sebagai berikut:

Sebab secara agama (maknawi) di antaranya :

1. Jauh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala secara umum dan tenggelam ke dalam syahwat, kelalaian dan syubhat.

2. Jauh dari membaca al-Qur’an dan dzikir-dzikir Nabawi (lalai dari membentengi dirinya sendiri dengan membaca dzikir-dzikir pagi petang dan lain-lain)

3 .Tidak beriman secara mantap kepada Qodho dan Qodar dan tidak ridha secara lahir batin.

4. Durhaka kepada orang tua dan memutus silaturahmi.

5. Kedengkian dan iri kepada orang lain, lebih-lebih kepada kerabat dan akhlak yang buruk secara umum.

Sebab secara hakiki (yang nyata):

A.Sebab sosial.

Kejadian-kejadian menyedihkan yang menimpa kita, seperti: kekerasan fisik dengan berbagai macam bentuknya, matinya orang yang dicintai, hilangnya teman dll. Demikian juga penyiksaan atau perasaan yang berlebihan dalam menyikapinya, masalah anak, pernikahan yang gagal, perselisihan dengan kerabat dan sahabat, pengangguran (khususnya pemuda) melajang bagi para gadis dll.

B.Sebab secara perilaku

Malas, cara yang salah dalam menyikapi fenomena buruk yang terjadi di masyarakat, enggan bermusyawarah dengan orang yang terpercaya yang bisa meringankan bebanmu dan mengarahkanmu. Demikian juga kutrang tidur dan banyak bergadang, salah dalam mengatur pola tidur, yang mana dia tidur ketika orang-orang bangun dan dia bangun ketika orang-orang tidur, maka jadilah dia orang yang kesepian dan merasa sendiri. Dan hal ini semakin menambah kesedihan dan kegundahannya. Dan yang termasuk sebab yang peling besar dalam menimbulkan kegundahan adalah waktu luang bagi orang-orang yang tidak bisa memanfaatkannya.

C.Sebab kejiwaan

Di antara sebab kesedihan dari sisi kejiwaan adalah tidak ridha, rasa malu yang berlebihan dan tidak pada tempatnya, dan ketakutan yang berlebihan untuk menghadapi masa depan. Demikian juga menyerah dan mudah terpengaruh dengan celaan-celaan dan hinaan yang sedikit sekali orang bisa selamat darinya –dan setiap orang yang mendapat nikmat pasti didengki orang lain-. Hinaan-hinaan dan kedustaan-keduastaan itu, yang tidak seorang pun selamat darinya, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sekalipun (orang musyrik telah berkata tentang beliau: penyihir, gila, dukun, penyaiur penipu dll), bahkan mereka sampai mencela beliau shallallahu 'alaihi wasallam dalam hal kehormatan beliau sebagaimana dalam ”haditsul Ifki”. Demikian juga tidak selamat dari tuduhan dan kedustaan-kedustaan istri beliau Ummil Mukminin ‘Aisyah ash-Shiddiqah radhiyallahu 'anha,.

Jalan keluar

Maka, tidak diragukan lagi bahwa kepastian (kelaziman) turunnya musibah dan ujian, bukan berarti kita tidak mengambil sebab (untuk menolak musibah) yang masyru’ (disyari’atkan) yang dperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam baik sebelum turunnya musibah atau setelahnya. Dan mungkin yang termasuk sebab-sebab yang disyari’atkan yang mampu kita lakukan untuk menolak dampak buruk dari kegundahan dan kesedihan, dan untuk mengurangi dampak musibah tersebut sekecil mungkin ketika terjadinya adalah hal-hal sebagai berikut:

1 .Amal shalih dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


((من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون))

” Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

2 . Memperhitungkan dan mempersiapkan diri untuk menerima musibah sebelum terjadi dengan ketegaran dan kesabaran dan bersabar saat musibah dan setelahnya, dan juga dia menata dirinya untuk siap menanggung musibah, bersabar dan menerima kenyataan bahwa musibah itu pasti akan terjadi. Dab tidak ada persiapan selain kesabaran dan mengharap pahala dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sesungguhnya kesabaran itu adalah ketika awal musibah itu terjadi, dan seadainya kita tidak pernah melatih diri kita dengan hal itu, dan kita tidak mepersiapkan diri dengnnya maka kemingkinan besar kita tidak bisa bersabar ketika terjadi musibah pada awal terjadinya. Yang akhirnya kita mengalami dampak kesedihan dan kesengsaraan yang lebih besar, kalau dibandingkan seandainya kita memiliki persiapan dan latihan untuk menghadapi musibah tersebut.

3 .Berdoa supaya Allah Subhanahu wa Ta'ala berlemah-lembut kepada anda dan kepada kita semua, dan supaya menjada anda dan kami, dan supaya meringankan untuk kita semua kesusahan-kesusahan dunia. Dan banyak do’a-do’a khusus dalam masalah sebagaimana telah diketahui bersama. (bisa dilihat di al-Adzkar karya Imam an-Nawawi atau Hisnul Muslim dll)

4 .Membiasakan diri membaca dzikir pagi dan petang, yang salah satu fungsinya adalah menjaga manusia di dunia ini pada siang dan malam harinya sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

5. Semua orang membiasakan diri untuk berakhlak dengan akhlak islami, lebih-lebih berbakti kepada orang tua, silaturahmi, berbuat ihsan (baik) kepada fakir dan miskin…dst. Karena sesungguhnya betapa banyak orang-orang yang berhias dengannya terhindar dari kesedihan,kesengsaraan dan kegundahan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, disebabkan akhlak mereka, dan betapa banyak orang yang diberikan kebahagiaan dan kelapangan hati dengan izin Allah disebabkan karena akhlaknya tersebut. Mungkin ini adalah kabar gembira yang disegerakan untuk orang yang beriman.

(Sumber:Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari طرق التعامل مع المصائب dari http://forum.sedty.com/t277664.html oleh Abu Yusuf )

sumber : alsofwah.or.id

DOSA-DOSA YANG DIANGGAP BIASA




oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

JUDI (DENGAN SEGALA BENTUK DAN RAGAMNYA)

Allah berfirman, “Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah : 90)

Di antara tradisi orang-orang Jahiliyah dahulu adalah berjudi. Adapun bentuk judi yang paling terkenal itu adalah sepuluh orang berserikat membeli seekor unta dengan saham yang sama. Kemudian dilakukan undian. Dari situ, tujuh orang dari mereka mendapat bagian yang berbeda-beda menurut tradisi mereka, dan tiga orang lainnya tidak mendapatkan apa-apa alias kalah.

Adapun di zaman kita saat ini, maka bentuk perjudian sudah beraneka ragam, diantaranya:

  • a. Apa yang dikenal dengan yanasib (undian) dalam berbagai bentuk. Yang paling sederhana di antaranya adalah dengan membeli nomor-nomor yang telah disediakan, kemudian nomor-nomor itu diundi. Pemenang pertama mendapat hadiah yang amat menggiurkan. Lalu, pemenang kedua, ketiga dan demikian seterusnya dengan jumlah hadiah yang berbeda-beda. Ini semua adalah haram, meski mereka berdalih untuk kepentingan sosial.

  • b. Membeli suatu barang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dirahasiakan atau memberinya kupon ketika membeli barang, lalu kupon-kupon itu diundi untuk menentukan pemenangnya.

  • c. Termasuk bentuk perjudian di zaman kita saat ini adalah asuransi jiwa, kendaraan, barang-barang, kebakaran atau asuransi secara umum, asuransi kerusakan, dan bentuk-bentuk asuransi lainnya. Bahkan sebagian artis penyanyi mengasuransikan suara mereka. Ini semua hukumnya haram. ( Tentang hukum asuransi dan solusinya menurut Islam. Lihat majalah Al Buhuts Al-Islamiyah; edisi 17, 19, 20.Terbitan Ar Ri’asatul Ammah Li Idarotil Buhutsil Ilmiyah.)


Demikianlah, dan semua bentuk taruhan masuk ke dalam kategori judi. Pada saat ini bahkan telah ada klub khusus judi (kasino) yang di dalamnya ada alat judi khusus yang disebut rolet khusus untuk permainan dosa besar tersebut.

Juga termasuk judi, taruhan yang diadakan saat berlangsung pertandingan sepak bola, tinju atau semacamnya. Demikian pula dengan bentuk-bentuk permainan yang ada di beberapa toko mainan dan pusat hiburan, sebagian besar mengandung unsur judi, seperti apa yang mereka namakan lippers.

Adapun berbagai pertandingan yang kita kenal sekarang, maka ada tiga macam:

  • Pertama, untuk maksud syiar Islam, maka hal ini di bolehkan, baik dengan menggunakan hadiah atau tidak. Seperti pertandingan pacuan kuda dan memanah. Termasuk dalam kategori ini -menurut pendapat yang kuat– berbagai macam perlombaan dalam ilmu agama, seperti menghafal Al-Qur’an.

  • Kedua, perlombaan dalam sesuatu yang hukumnya mubah, seperti pertandingan sepak bola dan lomba lari, dengan cacatan, tidak melanggar hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan shalat, membuka aurat dan sebagainya. Semua hal ini hukumnya ja’iz (boleh) dengan syarat tanpa menggunakan hadiah.

  • Ketiga, perlombaan dalam sesuatu yang diharamkan atau sarana kepada perbuatan yang diharamkan, seperti lomba ratu kecantikan atau tinju. Juga masuk ke dalam kategori ini menyelenggarakan sabung ayam, adu kambing atau yang semacamnya (Ini merupakan ringkasan diskusi bersama Syaikh Abdul Muhsin Az-Zamil semoga Allah menjaganya, kalau tidak salah beliau telah menulis makalah khusus tentang masalah ini.)

  • sumber : alsofwah.or.id

Halaman Ke