Rabu, 20 Juli 2011

Kisah Sahabat Nabi: Fairus Ad-Dailamy, Penumpas Nabi Palsu


Rasulullah SAW bersabda, "Fairus seorang yang diberkati, berasal dari keluarga yang penuh berkah."

Sekembalinya dari Haji Wada', Rasulullah SAW sakit. Berita tentang sakitnya Rasulullah ini pun menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Tiga orang tokoh yang berpengaruh murtad dari agama Islam begitu mendengar berita tersebut. Mereka adalah Aswad Al-Ansy di Yaman, Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah, dan Thulaihah Al-Asady di perkampungan Bani Asad. Ketiga-tiganya mengklaim diri sebagai nabi yang diutus kepada kaumnya, sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang diutus kepada Quraiys.

Aswad Al-Ansy adalah tukang tenung yang menyebar kejahatan dengan mengelabui mata korbannya dengan mempergunakan musya'widz (semacam alat sulap untuk menyihir mata orang). Al-Ansy bertubuh kekar dan kuat, pandai bicara dan menyesatkan orang.

Ketika itu pemerintahan di Yaman dipegang oleh golongan "Abna" yang kelapai oleh pemimpin mereka, Fairus Ad-Dailamy, sahabat Rasulullah SAW. Abna adalah nama bagi golongan masyarakat Yaman. Bapak mereka orang Persia yang merantau jauh dari negeri mereka, dan ibu-ibu mereka adalah orang Arab. Raja Yaman saat itu adalah Badzan. Ketika Islam meluaskan dakwahnya, Badzan menjadi raja sekaligus kuasa Kisra, Maharaja Persia.

Orang yang mula-mula menjadi pengikut gerakan Aswal Al-Ansy adalah kaumnya sendiri, Bani Madzij. Dengan pengikut-pengikutnya itu, mula-mula Aswad menerkam Sana'a. Syahar, putra Badzan, dibunuhnya. Istri Syahar, Putri Dadzan, dikawininya dengan paksa.

Dari Sana'a, Aswad Al-Ansy menyerang daerah-daerah lain, sehingga dalam tempo singkat derah yang luas bertekuk lutut di bawah kekuasaannya—hampir mencapai seluruh daerah antara Hadhramaut hingga Thaif, dan antara Bahrain hingga Aden.

Ketika Rasulullah mendapat laporan tentang gerakan Aswad Al-Ansy yang murtad dan mencaplok Yaman, beliau mengutus sepuluh orang sahbat membawa surat kepada para sahabat yang dianggap pantas di Yaman. Isi surat tersebut memerintahkan mereka untuk bertindak menumpas bencana yang membahayakan iman dan Islam. Beliau memerintahkan supaya menyingkirkan

Setiap sahabat yang menerima surat perintah tersebut, segera tergugah untuk melaksanakannya. Orang yang mula-mula bertindak melaksanakan perintah Nabi adalah Fairus Ad-Dailamy.

Fairus kemudian menemui Dadzan, saudara sepupunya. Setelah itu mereka berdua menemui Qais dan menunjukkan surat Rasulullah kepadanya. Mereka juga mengajak Qais segera bertindak sebelum terlambat. Qais dengan senang hati menerima ajakan mereka. Bahkan ia berjanji akan menumpas Aswad dari dalam.

Dadzan adalah putri paman Fairus yang dikawini secara paksa oleh Aswad setelah membunuh suaminya, Syahar bin Badzan. Dialah yang memegang peran penting dalam pembunuhan Aswad sang nabi palsu.

Dadzan kemudian menceritakan seluk beluk istana, ketika Fairus mengunjunginya. Ternyata tiap ruangan di istana Aswad dipenuhi para pengawal. Hanya satu bangunan dalam istana itu yang tidak dikawal, yakni sebuah ruangan dalam puri. Kamar tersebut tidak dikawal karena telah dikelilingi parit dan terletak agak jauh.

"Dari sini ke sana ada lapangan. Bila malam sudah mulai gelap, lubangilah dinding kamar itu. Nanti kamu akan memperoleh senjata dan lampu di dalam. Aku akan menunggumu di sana. Sesudah itu masuklah ke ruangan dalam, maka bunuhlah dia!" kata Dadzan pada Fairus.

"Tetapi melubangi dinding tembok seperti puri ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika kebetulan ada orang lewat, tentu dia akan berteriak memanggil pengawal. Akibatnya akan buruk sekali..." kata Fairus sedikit keberatan.

"Kamu benar! Tapi aku mempunyai pikiran lain yang lebih baik."

"Apa itu?"

"Besok pagi," kata Dadzan, "Kirim kepadaku seorang yang kamu percayai untuk menjadi pekerja. Aku akan menyuruhnya membuat lubang dari dalam, namun tidak sampai tembus. Tinggalkan setipis mungkin, supaya kamu dapat mencoblosnya dengan mudah malam hari."

"Cara yang baik sekali," timpal Fairus.

Setelah itu, Fairus pergi memberitahu rekan-rekannya tentang rencana yang telah disepakati dengan Dadzan. Mereka pun menyiapkan segala sesuatunya, bertindak dengan sangat hati-hati dan rahasia serta menetapkan kata-kata sandi. Aksi akan dilakukan esok hari di waktu fajar.

Ketika malam mulai gelap, dan waktu yang ditentukan sudah tiba, Fairus dan kawannya pergi ke sasaran. Dinding yang dimaksud berhasil ditembus dengan mudah. Mereka kemudian masuk ke dalam gudang dan mengambil senjata yang telah disiapkan Dadzan.

Setelah itu mereka mengelilingi puri Aswad. Dadzan telah berdiri di muka pintu. Dia memberi isyarat kepada Fairus dan kawannya. Begitu masuk kamar, mereka mendapati Aswad tengah tidur mendengkur. Fairus kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Aswad yang membuatnya melenguh seperti sapi, kemudian mengelepar-gelepar.

Ketika pengawal mendengar lenguhan Aswad, mereka datang puri lalu bertanya pada Dadzan, "Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Kembalilah kalian! 'Nabi Allah' sedang mendapat wahyu," kata Dadzan.

Para pengawal kembali tanpa kecurigaan sedikit pun. Fairus dan kawannya tetap berada di istana hingga fajar. Setelah terbit fajar, Fairus naik ke sebuah pilar lalu berseru lantang, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Dan aku bersaksi bahwwa Aswad Al-Ansy sesungguhnya adalah seorang pendusta!"

Kalimat terakhir adalah sandi yang telah mereka disepakati Fairus dengan kawan-kawan Muslimin lainnya. Mendengar teriakan Fairus, kaum Muslimin berhamburan ke istana dari segala penjuru. Para pengawal terkejut kebingungan. Perang tanding pun berkecamuk di pagi buta itu.

Fairus kemudian bergegas kembali ke puri dan mengambil kepala Aswad yang telah lepas dari tubuhnya. Begitu kembali ke tengah pertempuran, ia langsung melempar kepala itu ke arah para pengawal istana.

Melihat kepala Aswad menggelinding di hadapan mereka, nyali prajurit istana langsung ciut. Sebaliknya kaum Muslimin kian bersemangat menyerbu dan menyerang musuh-musuh Allah. Pertempuran pun usai, dengan kemenangan di pihak Muslimin.

Begitu matahari mulai menebar kehangatan cahayanya, Fairus menulis surat kepada Rasulullah SAW, menyampaikan kabar gembira bahwa musuh-musuh Allah telah ditumpas habis. "Namun ketika utusan kami sampai di Madinah, mereka mendapati beliau telah berpulang ke Rahmatullah," kata Fairus lirih.

Rasulullah SAW wafat tidak lama setelah menerima wahyu yang mengabarkan bahwa Aswad Al-Ansy telah terbunuh persis saat kejadian. Maka beliau bersabda kepada para sahabat, "Aswad Al-Ansy telah meninggal dunia tadi malam, dibunuh oleh orang yang penuh berkah dan berasal dari rumah tangga yang diberkahi."

"Siapa orang itu, wahai Rasulullah?" tanya para sahabat.

Beliau menjawab, "Fairus... Fairus menang!"

sumber : republika.co.id

Selasa, 19 Juli 2011

Dulu JR Farrel Sangat Benci Muslim, Kini Islam adalah Hidupnya


JR Farrell masih mengingat betul masa kecilnya, bagaimana kedua orang tuanya bertengkar gara-gara uang, situasi kehidupan dan perkara-perkara lain. Tak hilang pula dari kenangannya saat ia mesti hidup di rumah-rumah sosial di sisi selatan Chicago hampir tanpa apa pun untuk di makan.

"Dengan keluarga beranggotakan 10 orang, sulit bagi ayah saya untuk menopang hidup sesuai dengan cara yang paling diinginkan,'tuturnya.

Masa muda yang sulit


Ayah arrell --berdarah campuran Jerman dan Irlandia--adalah pekerja keras tapi juga pemabuk. Meski kerap memukuli ibunya, arrell mengaku masih mencintai ayahnya.

Setiap kali pulang dalam kondisi mabuk dan kesal terhadap sesuatu ia akan mendatangi Farrell dan adik-adinya serta menimpakan semua lewat pukulan hingga tak ada yang bisa dilakukan. Farrell kerap tak bisa berjalan atau bernafas gara-gara pukulan tadi. Begitu pun bila kakak lakinya mengoceh dan jengkel ia pun akan menerima serangan fisik. "Itulah sebagian besar masa kecil saya." kenang Farrell

Masuk masa remaja, semua yang ada di sekitar Farrell mulai menggoda, teman wanita, minuman, klub malam, obat-obatan dan yang lain. "Tapi entah saya tak bisa, saya melarang diri untuk terlibat dalam semua tadi. Saya hanya merasa itu tidak benar."

Salah satu adiknya ternyata adalah pengedar narkoba terbesar di Chicago. Hampir setiap hari ia membawa jenis obat-obatan ke rumah untuk dijual eceran di lingkungan sekitar. Si adik paham betul pandangan Farrell.

Begitu adiknya tak berada di rumah, Farrell membuang semua obat-obatan senilai 1000 dolar ke toilet dan mengguyurnya. Saat pulang dan mengetahui itu, adiknya, tutur Farrell, sangat bernafsu membunuhnya. "Ia mungkin akan membunuh saya bila memiliki kesempatan. Tentu saya dibela orangtua karena saya lebih tua dan saya dianggap harus mengajarinya untuk lebih baik.

Pencarian Pengetahuan

Semua peristiwa dalam masa kecil hingga remaja membuat Farrell menyadari betapa rapuh kehidupan. "Saya tak ingin mati sebagai idiot, jadi saya mulai belajar apa pun dan semuanya." tutur Farrell.

"Satu hal yang patut diketahui tentang keluarga saya, mereka sangat kompetitif terhadap satu dan yang lain. Begitu mereka melihat salah satu anggota lebih maju maka mereka ingin menghentikan anda dari jalur dan membuat anda tak bisa melangkah lebih maju," ujarnya.

Mengetahui antusias Farrell, orangtuanya cemas. Mereka mengkhawtirkan ia akan tercuci otak atau mengikuti aliran atau mengkultuskan sesorang. Mereka benar. Pada 1994, Farrell menjadi Nazi. Ia mengaku saat itu menyukai fakta bahwa Hitler memiliki kendali atas ribuan orang. "Menjadi Nazi, membuat saya merasa penting, menjadi seseorang." Untuk satu ini, ayahnya tak menentang, justru senang dengan seluruh pemikiran Farrell.

Ada alasan mengapa ayah Farrell suka dengan gagasan Nazi. Sedikit ke belakang pada 1960-an, ketika Martin Luther King Jr. mulai membakar semangat orang-orang dengan 'mimpinya', ayah Farrell menrencanakan menyingkirkan semua warga kulit hitam dari area pertanian Chicago.

Satu fakta, ketika Martin Luther King Jr bersama pendukungnya turun ke jalan di sisi barat Chicago, ayahnya telah mengorganisir massa. Geng itu tak hanya membuat kulit hitam keluar kota, tetapi juga memicu perang antara kulit putih dan kulit hitam. Hari itu pula, ayah Farrell menghantam hidung Martin Luther King dengan batu bata, dan hingga kini, tutur Farrell, ia selalu berkoar-koar tentang itu.

Lama setelah itu, tahun 1997, keluarganya beserta Charles Mason memulai lagi misi rahasia. Farrell berda di sana ketika mereka mengorganisir serangan terhadap bocah kulit hitam berusia 11 tahun yang tak sengaja berjalan di lingkungan kulit putih Chicago. Mereka bisa membunuhnya setelah menganiaya si bocah, namun memilih meninggalkan ia berdarah-darah sebagai tanda peringatan. Setelah menyaksikan itu, Farrell merasa gagasan Nazi dan semua berbau ras tak lagi cocok dengannya.

Titik Balik


Pada 1995, Farrell bertemu dengan wanita pertama yang membuat ia jatuh cinta. Meski ia memiliki kesempatan untuk berbuat apa pun dengan gadis tersebut, lagi-lagi ia melarang dirinya. "Saya tidak bisa, saya tak membolehkan diri saya untuk memiliki hubungan intim dengan seseorang yang tidak saya nikahi." ujarnya.

Beberapa bulan setelah itu ia melamar kekasihnya. Mereka bertunangan tanpa sekalipun berhubungan seksual, sesuatu yang tidak biasa di kalangan barat. "Kami berdua paham bahwa akan banyak masalah terjadi bila kami lakukan itu," tutur Farrell.

Saat bersama kekasihnya ia mulai lebih fokus. Farrell terus belajar dan belajar. "Saya tahu saya merasa kehilangan sesuatu dan mulai menyadari kehidupan dan tujuan saya hidup, hanya saja saya tak bisa menunjuk pasti," tutur Farrell.

Semakin ia membaca, semakin besar pula upaya orang tuanya untuk menariknya mundur, seperti yang ia tuturkan soal keluarganya yang kompetitif. Orangtua Farrell mulai melakukan serangan mental. "Mereka mengatakan betapa buruknya saya waktu kecil dan bagaimana saya tidak berterima kasih sebagai anak atas makanan dan tempat berteduh yang mereka berikan untuk saya," tutur Farrell.

"Orang tua saya tak pernah lulus SMA. Mereka hanya sampai tingkat 8 lalu putus sekolah saat tingkat 9. Karena itu pendidikan orang tua saya terbatas. Semua yang mereka tahu hanyalah berdasar apa yang mereka lihat di TV dan perilaku orang-orang," kata Farrell.

Namun bukan berarti Farrell tak menghargai orangtuannya. "Saya memiliki rasa terima kasih besar terhadap apa yang mereka lakukan. Saya menghargai disiplin mereka," ungkap Farrell. Atas didikan mereka pula ia sudah mendapat pekerjaan pertama pada usia 12 tahun. Pada usia 13 ia sudah bekerja penuh waktu dengan pendapatan setara yang dihasilkan orangtuanya.

Pada usia 16 tahun ia telah memiliki apartemen pertamanya. Ia memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian, berbelanja sendiri. Farrell tengah bersiap menikah. Saat itu ia mengikuti pandangan orang tuanya yang menilai seseorang berdasar perbuatannya "Saya sepakat dengan orang tua saya, hingga kini," akunya.

"Namun itu pula yang membuat saya membenci Muslim dan Islam. Saya sungguh benar-benar membenci Muslim dalam tingkat yang tak anda percayai," ujarnya. Karena media? "Ya itu bagian dari propaganda, namun sebagian besar saya menilai itu karena ulah Muslim. Mereka kadang adalah pihak yang merusak reputasi Islam sehingga membenci kami. Itu menyedihkan tapi itu faktanya," ujar Farrell yang telah memeluk Islam.

Hadiah Paling Berharga

Pada 1997, tunangan Farrell memberinya Al Qur'an sebagai hadiah. "Semata-mata karena saya begitu suka membaca," tuturnya. "Sekedar memberitahu bagaimana dulu saya membenci Muslim, begitu ia memberi Al Qur'an kami bertengkar hebat dan kami putus hingga beberapa saat," kenang Farrell.

Akhirnya suatu malam ia mengambil kitab suci tersebut dan mulai membacanya. "Saya masih ingat betul saat itu, rumah begitu bersih, udara terasa enak dan nyaman, sorot lampu sungguh pas untuk membaca. Itu Alquran versi terjemahan Abdullah Yusuf Ali," tutur Farrell.

Ia membaca bagian awalan, tiga halaman pertama, dan, "Saya mulai menangis seperti bayi. Saya menangis dan menangis. Saya tak bisa menahan diri. Seketika saya tahu bahwa inilah yang saya cari selama lini. Saya seperti ingin memukuli diri sendiri karena tak segera menemukan sejak dulu," ujar Farrell.

Ia merasa tersihir oleh bait-bait Al Qur'an. "Ini bukan Islam yang saya kenai. Ini bukanlah Arab, bukan sesuatu yang buruk yang saya pikir sebelumnya," kata Farrel. Ia merasa hidupnya dibungkus sepenuhnya dalam halaman-halaman tadi. Farrell menjumpai seperti membaca jiwanya dalam Alqur'an. "Sungguh indah, tetapi juga membuat saya menyesali diri. Setelah itu saya kembali menjalin hubungan dengan tunangannya dan mendiskusikan banya hal secara dewasa," ujarnya. Tak lama setelah itu, Farrel dan tunangannya memeluk Islam dan beritikad untuk hidup sebagai Muslim, meski itu berarti tinggal terpisah.

Begitu orangtua Farrel mengetahui itu, pecahlah kemarahan mereka. "Ayah saya mengancam membunuh saya. Ia berkata, 'Kamu lahir Katholik, jadi tolong Tuhan, saya akan memastikan kamu mati sebagai Katholik,'". Reaksi ibu Farrell pun setali tiga uang.

Saat itu Farrell berhasrat besar untuk kuliah. "Saya ingin menempuh pendidikan formal. Saya dapat pekerjaan dan membayar semua kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan saya hingga ke perguruan tinggi," tuturnya.

Saat itu pula ia didepak keluar dari rumah dan Farrell pun tinggal di jalan selama 6 bulan. "Saya menyantap makanan dari tempat sampah, tidur di luar saat malam-malam terdingin, waktu itu tahun 1999," tutur Farrell.

Namun itu semua tak menyurutkan semangat Farrell. "Saya berjalan bermil-mil untuk bisa bersama Muslim. Saya dikejar keluar dari lingkungan tertentu oleh polisi hanya gara-gara masuk ke lingkungan kulit hitam demi mengikuti shalat Jumat. Saya dilempari batu, diludahi, dikasari. Saya hanya ingin bisa bersama Muslim lain,"

Hingga suatu hari ia bertemu seorang teman yang membantunya. Si teman berkata, bila Farrell bisa membangun sebuah masjid dalam toko knalpotnya, maka ia bisa tinggal di sana hingga menemukan tempat lebih layak. Farrell pun setuju.

Toko itu memiliki ruang di tingkat dua, sekitar 186 meter persegi yang dipakai untuk gudang. Setiap hari Farrell menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuang sampah dan memindahkan pasokan inventaris. Dalam satu bulan ia telah menggarap setengah ruangan, membangun dinding, menambah jendela, memasang satu pintu, menggelar karpet, mengecat dan akhirnya membuka masjid toko knalpot pertama di Kota Chicago. "Saya belajar pertukangan dari paman saya. Itu adalah pekerjaan penuh waktu saya yang pertama." tuturnya.

Sekitar 6 bulan berikut ia berhasil mendapat satu pekerjaan bagus dan pindah bersama dua teman ke apartemen baru. Tunangannya tak ada dalam adegan hidupnya kini. "Kami telah setuju untuk hidup sebagai Muslim, bukan seperti orang bodoh. Saya lebih mencintai dia dari sebelumya, namun menjadi Muslim jauh lebih penting dari pada bersama seseorang dan kami belum menikah," ungkap Farrell.

Pada 1999 ia menjadi Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim di kampusnya. Setiap hari ia menghadiri majelis taklim, ke seminar. Ia mulai memiliki seseorang yang menjadi tempat bertanya dan membangun hubungan dengan teman-teman Muslim lain.

Pergi Haji


Pada tahun 2000 Farrell melaksanakan ibadah Haji. Sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Ia mengunjungi Madinah dan lingkungan di sekitarnya. "Satu hal yang saya sadari Haji adalah kebenaran tentang Tuhan dan sejarah Islam. Selama ini saya mungkin hanya bisa mengetahui dari buku mengenai tempat dan orang-orang, di sana saya melihat dengan mata sendiri keajaiban sejarah Islam. Saya seperti hidup dalam sejarah. Saya merasa Hadis-hadis menjadi hidup. Saya seperti menyaksikan sahabat di atas puncak bukit. Saya mencium bau perang Badar. Saya menghirup udara yang dulu juga dihirup Rasul," tutur Farrell.

Meski ia sendiri tanpa istri dan keluarga, Farrell menyadari Islam adalah kehidupan. "Bukan hanya cara hidup tapi kehidupan itu sendiri. Saya memahami Islam bukan sekedar agama, karena agama dapat dibiaskan. Saya memahami bahwa Muslim bukanlah Islam dan Islam tak bisa dinilai karena aksi Muslim. Muslimlah yang dihakimi oleh nilai-nilai Islam.

Farrell selalu bermimpi bekerja di sektor bantuan yang meringankan dan menolong beban orang lain. Kini Farrell bekerja untuk Global Relief Fondation dan telah bergabung selama setahun

Dalam sebuah essay, Farrell menulis, "Sebanyak yang bisa saya tuturkan, tak ada yang dapat memaparkan isi hati saya. Saya hanya menyebut sedikit dari kendala yang sayah hadapi. Saya tahu banyak orang di luar sana mengalami jauh lebih banyak mungkin lebih buruk lagi. Tujuan saya berbagi adalah untuk mengatakan bahwa saya memahami kesulitan yang dialami mereka di sana, Wassalamu'alaikum"

sumber : republika.co.id

Wanita-Wanita Teladan, Amah binti Khalid, Baju Sutra Hadiah Rasulullah


Kedua orang tuanya adalah orang Quraisy yang termasuk generasi awal kaum beriman di kalangan para sahabat Rasululah SAW. Kedua orang tuanya termasuk orang-orang pertama yang merespons dakwah Rasulullah SAW, kemudian mendapat petunjuk melalui petunjuk beliau dan merupakan batu bata pertama di bangunan agama yang lurus ini.

Ketika sekelompok orang Quraisy berbondong-bondong untuk menjadi penganut agama yang mulia ini, di antara adalah Khalid bin Sa’ad bin Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abu Manaf bin Qusyai dan istrinya Umainah binti Khalaf bin As’ad bin Amir Al-Khuzaiyah. Kedua orang mulia dan terhormat inilah orang tua Amah.

Ketika beragam siksa mulai menimpa kaum Mukminin dan bermacam penganiayaan mendera mereka, Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah. Di Habasyah, kaum Mukminin mendapatkan keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Khalid dan istrinya pun berangkat ke Habasyah dengan berpegang teguh pada kesabaran. Di antara para sahabat yang hijrah ke Habasyah ialah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqaiyah binti Muhammad SAW.

Khalid dan istrinya menceritakan kisah keislaman keduanya kepada putri mereka. Amah binti Khalid mendengar kisah menarik kedua orang tuanya dengan serius. Kisah tersebut membekas dan terpatri di hati Amah binti Khalid yang masih kecil.

Suatu ketika Amah kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, kapan engkau masuk Islam?"

Khalid bin Sa'ad mendekap putrinya ke dadanya, sambil berkata, "Aku termasuk orang-orang yang pertama kali diberi kenikmatan iman. Orang yang masuk Islam bersamaku ialah pamanmu dari jalur aku, Amr bin Sa'ad. Dia sekarang ada bersamaku di Habasyah sedang hidup enak karena perlindungan Najasyi. Namun pamanmu dari jalurku yang lain, Aban bin Sa'ad, belum masuk Islam hingga sekarang."

Amah binti Khalid bertanya kepada ayahnya tentang nasib kakeknya, Abu Uhaihah, “Ayah, bagaimana dengan kakekku? Apakah Allah memberinya petunjuk untuk masuk Islam ataukah tetap berada pada kekafirannya?"

"Putriku, kakekmu tetap berada pada kekafiran dan kesombongannya," jawab Khalid bin Sa'ad, penuh kecintaan seorang ayah. "Kakekmu meninggal dunia dalam keadaan kafir. Sungguh aku selamat dengan Islam dan mengikuti Nabi Muhammad SAW."

Kaum Muhajirin dari Makkah menetap di Habasyah selama sepuluh tahun lebih, sedangkan Amah binti Khalid hanya hidup beberapa tahun di sana. Setelah itu, kaum Muhajirin kembali ke Madinah. Mereka pun bertemu Rasulullah SAW di Khaibar. Beliau berhasil menaklukkan Khaibar pada tahun ketujuh Hijriyah. Rasulullah kemudian memberi bagian rampasan perang kepada kaum Muhajirin dari Habasyah. Setelah itu, mereka pulang ke Madinah di bawah pimpinan Rasulullah SAW.
Di Madinah, putri-putri sahabat yang lahir di Habasyah mendapatkan perhatian dan asuhan Rasulullah SAW. Amah binti Khalid termasuk putri-putri sahabat yang belajar kepada Rasulullah SAW, mendapatkan kehormatan agung di sisi beliau, dan menjadi sahabiyah beliau. Amah binti Khalid ternasuk putri sahabat dan shahabiyah. Amah binti Khalid dikenal dengan nama panggilan Ummu Khalid. Ia dipanggil seperti itu, ketika Rasulullah SAW mengenakan pakaian baru kepadanya.

Sungguh Rasululah SAW amat memerhatikan putri dan putra sahabat dan menyayangi mereka. Itu sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada salah seorang dari orang tua mereka, atau kedua orang tua mereka. Amah binti Khalid termasuk orang yang dihormati Rasulullah SAW. Beliau juga menghormati kedua orang tua Amah dan mengetahui bahwa keduanya masuk Islam sejak dulu dan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, suatu ketika para sahabat membawa beberapa pakaian yang di dalamnya terdapat baju yang diberi garis-garis (dengan sutra atau wol) kepada Rasulullah SAW. Kemudian beliau bersabda, "Menurut kalian, siapa yang paling layak kita beri pakaian ini?"

Orang-orang diam, kemudian Rasululah SAW bersabda, "Bawa kemari Ummu Khalid."

Ummu Khalid pun dibawa ke hadapan Nabi SAW, kemudian beliau mengenakan pakaian tersebut kepadanya dengan tangan beliau langusng, sambil bersabda, "Kenakan pakaian ini hingga lusuh, kenakan pakaian ini hingga lusuh!"

Di antara makna perkataan tersebut ialah semoga hidup Amah binti Khalid panjang, hingga pakaian yang dikenakan Nabi SAW tersebut lusuh.

Di antara yang membuat Amah binti Khalid termasuk wanita-wanita mulia dan mempunyai kedudukan di antara para sahabat ialah karena ia termasuk salah seorang dari putri-putri sahabat yang meriwayatkan hadits dari Nabi SAW. Amah binti Khalid meriwayatkan tujuh hadis dari Rasulullah SAW.

Bukhari meriwayatkan dua hadits Amah binti Khalid. Ada dua orang di antara para penulis sunan yang meriwayatkan haditsnya, yaitu Abu Dawud dan Nasa'i. Mereka yang meriwayatkan hadis dari Amah binti Khalid adalah Sa'ad bin Amr bin Sa'ad bin Al-Ash, yang tidak lain adalah anak pamannya dari jalur ayah, Amr. Begitu juga Musa bin Uqbah, Ibrahim bin Uqbah, Karib bin Sulaim, Al-Kindi, dan lain-lain.

Ketika Amah binti Khalid menginjak usia dewasa, ia dinikahi pendekar Islam dan kepala keluarga Zubair bin Awwam, yang merupakan sahabat setia Rasulullah SAW. Dari hasil pernikahannya dengan Zubair bin Awwam, Amah binti Khalid mempunyai dua anak laki-laki; Umar dan Khalid. Amah binti Khalid dipanggil dengan anaknya yang bernama Khalid tersebut sehingga namanya menjadi Ummu Khalid. Kedua anaknya termasuk anak-anak para sahabat terbaik dan tabi’in terbaik pula. Ia sendiri juga salah satu putri-putri sahabat dan istri-istri para sahabat terbaik.

Amah binti Khalid merupakan salah seorang putri sahabat yang berumur panjang. Hal ini tidak lepas dari keberkahan doa Rasululah SAW, ketika beliau mengenakan pakaian yang bergaris-garis sutra tidak lama setelah kedatangannya dari Habasyah.

Ibnu Hajar berkata, "Ummu Khalid (Amah binti Khalid) hidup lama sekali, yakni hidup hingga zaman Musa bin Uqbah."

Sedasngkan Adz-Dzahabi berkata, "Ia hidup hampir 90 tahun. Saya berpendapat bahwa Amah binti Khalid adalah shahabiyah yang terakhir meninggal dunia, karena ia hidup hingga zaman Sahl bin Sa'ad."

sumber : republika.co.id

Kisah Sahabat Nabi: Dhihya bin Khalifah Al-Kalabi, Penyeru Kaisar Romawi


Untuk memperluas dakwah Islamiyah, Rasulullah SAW mengirim surat ke beberapa raja Arab dan non-Arab. Di antara raja yang mendapat seruan secara tulisan itu adalah Heraklius, Kaisar Romawi. Untuk mengemban amanat ini, beliau mengutus Dhihya bin Khalifah Al-Kalabi.

Setelah melakukan perjalanan cukup panjang akhirnya Dhihya tiba di istana Raja Romawi. Surat Rasulullah langsung dibaca oleh salah seorang staf Heraklius.

"Dari Muhammad utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi..."

Mendengar bunyi awal surat itu, keponakan pembesar Romawi langsung marah, lalu berseru, "Surat ini tidak boleh dibaca sekarang!"

"Kenapa?" tanya Kaisar.

"Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Romawi, bukan Maharaja Romawi."
"Tidak!" sambut Kaisar, "Biar surat ini dibaca untuk diketahui isinya."

Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai. Setelah semua pengiring Kaisar keluar dari majelisnya, Dhihya dipanggil untuk masuk. Bersamaan dengan itu dipanggillah seorang uskup yang mengetahui seluk beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu uskup itu dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya.

"Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita, Isa sendiri telah memberitahukan kita sejak lama!" jawab sang uskup.

"Apa pendapatmu yang harus aku perbuat?" tanya Kaisar kepada uskup.

"Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan memercayainya dan akan mengikuti ajarannya," jawab uskup dengan jujur.

"Tetapi aku jadi serba salah," kata Kaisar, "Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!"

Sementara Dhihya diperbolehkan meninggalkan tempat itu, Raja Romawi terus bertukar pendapat dengan sang uskup. Kebetulan, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di Romawi. Kala itu ia belum masuk Islam. Ia dipanggil oleh Kaisar untuk dimintai keterangan tentang Muhammad SAW.

"Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu!" tanya Kaisar.

"Dia seorang anak muda," jawab Abu Sufyan.

"Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakatmu?"

"Tidak ada yang melebihi kedudukan dan keturunannya," jawab Abu Sufyan jujur.

"Ini tentulah tanda-tanda kenabian," Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang di sampingnya.

"Bagaimana bicaranya, apakah dia selalu berkata benar?"

"Betul," jawab Abu Sufyan, "Dia memang tidak pernah berkata dusta."

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!" Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. "Baiklah," kata Kaisar lagi. "Adakah di antara pengikutnya yang meninggalkan agama nenek moyangmu, kembali ke agama mereka lagi?"

"Tidak," jawab Abu Sufyan.

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!" kata Kaisar pula. "Apakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?"

"Ya," jawab Abu Sufyan.

"Siapa yang selalu menang?"

"Kadang-kadang dia menang, kadang-kadang kami mengalahkannya," jelas Abu Sufyan.

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian," kata Kaisar Romawi itu.

Beberapa saat kemudian Dhihya Al-Kalbi dipanggil oleh Kaisar Romawi, seraya berkata, "Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi, tetapi apa daya, aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak mau ditumbangkan dari kerajaanku."

Adapun sang uskup itu yang biasanya selalu datang ke gerejanya setiap hari Ahad untuk menyampaikan ajaran Nasrani, sejak pertemuan itu, terus berdiam di rumahnya. Lantaran kecewa karena sang uskup tidak datang ke gereja, orang-orang pun berdatangan ke rumahnya. Kepada mereka, sang uskup mengatakan dirinya sedang sakit. Kejadian itu berlangsung berkali-kali, sehingga orang-orang mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada sang uskup dan memberinya peringatan. Jika ia tak mau datang lagi ke gereja, mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya.

Menurut orang-orang itu, sejak kedatangan Dhihya, sikap uskup banyak berubah. Sang uskup segera memanggil Dhihya, dan menyampaikan sepucuk surat. "Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu itu," pesan uskup itu dengan hati yang tidak tenang. "Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah. Katakan juga, bahwa aku beriman kepadanya, memercayainya, dan menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku. Ceritakan juga apa yang engkau saksikan ini," pesan uskup. Sejak saat itu sang uskup tidak datang lagi ke gereja. Sampai akhirnya ia dibunuh.

Sementara itu, sebenarnya Heraklius sudah meyakini kebenaran ajaran Islam. Namun, seperti yang ia katakan, ia malu untuk meninggalkan agama Nasrani. Apalagi kedudukannya sebagai raja. Tidak mungkin tunduk begitu saja kepada ajaran Dhihya yang menurut mereka orang Badui. Ia segera menyuruh salah seorang utusan membawa suratnya kepada Rasulullah.

"Bawalah suratku ini kepada orang yang mengaku Nabi itu," kata Heraklius. "Tetapi dengar baik-baik apa yang dikatakannya dan ingat tiga hal berikut ini. Pertama, apa komentarnya ketika membaca suratku. Kedua, apakah dia akan menyebut perkataan 'malam' atau tidak? Ketiga, usahakan sampai engkau dapat melihat di belakang tubuhnya. Adakah suatu tanda yang menarik perhatianmu? Ingat baik-baik tiga perkara ini. Beritahu aku paa yang engkau lihat!" pesan Heraklius dengan hati-hati.

Utusan itu berangkat membawa surat Heraklius, hingga tiba di Tabuk. Di situ dia bertanya kepada para sahabat Rasulullah, "Di mana ketua kamu, yang dikatakan Nabi itu?" tanyanya.

"Di sana, yang sedang duduk dikelilingi orang," jawab salah seorang dari mereka.

Saat itu, Nabi SAW sedang duduk di tepian telaga kecil bersama beberapa sahabatnya. Utusan itu pun maju ke dapan, menyerahkan surat Heraklius kepada Rasulullah.

"Dari mana engkau?" tanya Rasulullah.

"Aku orang Tarukh," jawab utusan itu.

"Maukah engkau kembali kepada agama yang suci dari kepercayaan nenek moyang kamu Ibrahim?" tanya Nabi SAW.

"Aku ini utusan sebuah negara dan menganut agama negara itu. Tidaklah wajar aku mengubah agamaku sehingga aku kembali kepada mereka lebih dulu," jawabnya jujur.

"Hai saudara dari Tarukh," tiba-tiba Nabi SAW berseru, "Aku telah menulis surat kepada Kisra (pembesar Persia), lalu suratku dikoyak-koyaknya, kelak Allah akan mengoyak-ngoyakkannya dan kerajaannya. Dan aku menulis surat kepada pembesarmu, dia masih ragu."

Mendengar ucapan tersebut sang utusan berkata dalam hati, "Nah, salah satu dari tiga yang dipesan oleh Heraklius supaya aku ingat baik-baik." Dia pun mengeluarkan sarung isi panahnya dan mencatat apa yang disampaikan Nabi.

Rasulullah menyerahkan surat Heraklius itu kepada seorang yang duduk di kirinya, yaitu Muawiyah untuk membacanya. Dalam suratnya Heraklius menyebut-nyebut surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

"Di manakah letaknya neraka, wahai Rasulullah?" salah seorang sahabat tiba-tiba bertanya.

"Subhanallah! Ajaib sekali pertanyaan ini," ujar Nabi SAW, "Jadi di manakah malam jika datang siang?" tanya beliau.

Utusan itu pun segera mencatat apa yang dikatakan Nabi. Beliau menyebutkan kata malam yang mesti disampaikan kepada Heraklius. Setelah membaca surat Heraklius Rasulullah bersabda, "Engkau patut diberi hadiah karena engkau utusan kepada kami. Seandainya kami mempunyai sesuatu yang berharga, tentu akan kami berikan kepadamu. Akan tetapi kami adalah musafir yang mempunyai perbekalan terbatas."

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rasulullah, "Aku yang akan memberinya hadiah jika engkau perkenankan, ya Rasulullah!" Sahabat yang tak lain Utsman adanya segera mengeluarkan seperangkat pakaian kepada utusan itu.

"Siapakah yang bersedia menerima orang ini sebagai tamunya?" tanya Rasulullah lagi.

"Saya!" jawab seorang pemuda Anshar lalu bangkit mengajak utusan itu pergi. Ketika ia akan meninggalkan tempat itu, Rasulullah memanggilnya, "Hai Saudara dari Tarukh!"

Utusan itu segera mendekat, berdiri di sisi Rasulullah. Beliau lalu menarik pakaiannya sehingga terbuka bagian belakangnya, sambil berkata, "Tunaikanlah tugasmu dengan baik, sebagaimana yang disuruh oleh tuanmu!"

Saat itulah utusan itu bisa melihat dengan jelas tanda di belakang badan Rasulullah, yaitu semacam tanda (khatamun nubuwah) di bagian atas bahunya dan berbentuk bulat.

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Perang Muktah (1)


Rasulullah SAW belum merasa perlu buru-buru membebaskan Makkah. Beliau sangat mengetahui bahwa masalahnya hanya soal waktu saja. Perjanjian Hudaibiyah baru setahun berjalan. Juga bukan maksudnya akan mengadakan pelanggaran. Rasulullah orang yang sangat setia. Tiada satu kata yang pernah diucapkan atau perjanjian yang pernah dibuat, akan dilanggarnya.

Oleh sebab itu, tatkala beliau kembali ke Madinah selama beberapa bulan tidak terjadi bentrokkan-bentrokan, kecuali kecil-kecilan saja. Seperti pengiriman 50 orang kepada Bani Sulaim dengan tugas dakwah mengajak mereka menganut Islam, yang kemudian dibunuh oleh Bani Sulaim secara gelap.

Begitu juga Bani Laits dan Zafar yang telah menyerang dan merampas. Sama pula dengan hukuman yang telah dijatuhkan kepada Bani Murrah karena pengkhianatan mereka. Demikian juga adanya 15 orang yang telah dikirim ke Dzat At-Talh di perbatasan Syam dengan tugas dakwah kemudian dibunuh, dan dibalas dengan pembunuhan juga, sehingga tak ada yang selamat kecuali pemimpinnya.

Memang perhatian Nabi tertuju ke wilayah Syam dan bagian-bagian utara ini, yaitu setelah di bagian selatan diadakan perjanjian keamanan dengan pihak Quraisy dan setelah penguasa di Yaman bersedia menerima seruan beliau. Jalur penyebaran dakwah Islam yang pertama setelah keluar dari semenanjung Arab sudah beliau bayangkan.

Rasulullah melihat Syam dan daerah-daerah di dekatnya itu merupakan pintu pertama jalur dakwah itu. Oleh karena itu beberapa bulan kemudian sekembali dari umrah, beliau mengerahkan 3.000 ribu orang yang kemudian di Mu'tah berhadapan dengan 100.000 orang pasukan lawan.

Ahli-ahli sejarah masih berbeda pendapat mengenai sebab-musabab terjadinya Perang Mu'tah tersebut. Sebagian mengatakan bahwa dibunuhnya sahabat Nabi di Dzat At-Talh itulah yang menyebabkan adanya penyerbuan sebagai hukuman atas mereka
yang telah berkhianat itu.

Sebagian lagi berpendapat bahwa ketika Nabi mengirim seorang utusan kepada gubernur Heraklius di Bushra (Bostra), itu dibunuh oleh orang Badui dari Ghassan atas nama Heraklius. Rasulullah kemudian memerintahkan mereka yang sedang berperang di Mu'tah supaya memberi hukuman kepada penguasa itu dan siapa saja yang membantunya.

Kalau Perjanjian Hudaibiyah merupakan pendahuluan 'Umratul Qadha', lalu pembebasan Makkah, maka ekspedisi Mu'tah ini juga merupakan pendahuluan Perang Tabuk; dan setelah Nabi wafat kemudian terjadi pembebasan Syam. Masalahnya sama saja, yang menimbulkan ekspedisi Mu'tah itu karena dibunuhnya utusan Nabi kepada penguasa Bushra, atau karena 15 orang sahabat beliau yang juga dibunuh di Dzat At-Talh.

Pada bulan Jumadil Awal tahun kedelapan Hijrah (tahun 629 M), Nabi SAW memanggil 3.000 orang pilihan dengan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid
bin Haritsah. "Kalau Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib yang memegang
pimpinan. Dan kalau Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang memegang pimpinan," pesan beliau.

Ketika pasukan ini berangkat, Khalid bin Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang, ia hendak memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah juga turut mengantarkan mereka sampai ke luar kota.

Beliau berpesan, "Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak. Jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Allah menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat."

Komandan pasukan berencana hendak menyergap pihak Syam secara tiba-tiba, sebagaimana yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sudah-sudah. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma'an di bilangan Syam tanpa mengetahui apa yang akan mereka hadapi di sana.

Akan tetapi berita keberangkatan mereka sudah lebih dulu sampai. Syurahbil, penguasa Heraklius di Syam, sudah mengumpulkan kelompok-kelompok kabilah yang ada di sekitarnya. Pasukan tentara yang terdiri dari orang-orang Yunani dan orang-orang Arab sebagai bantuan dari Heraklius didatangkan pula.

Beberapa keterangan menyebutkan bahwa Heraklius sendirilah yang tampil memimpin pasukannya itu sampai bermarkas di Ma'ab di bilangan Balqa'. Pasukan Heraklius ini terdiri dari 100.000 pasukan Romawi, ditambah dengan 100.000 lagi dari Lakhm, Judham, Qain, dan Bahra'. Dikatakan juga bahwa Theodore, saudara Heraklius, itulah yang memimpin pasukan, bukan Heraklius sendiri.

Ketika pihak Muslimin berada di Ma'an, mereka dapat melihat keadaan pasukan musuh. Dua malam mereka berada di tempat itu sambil melihat-lihat apa yang harus dilakukan berhadapan dengan jumlah pasukan musuh yang begitu besar. Suatu perbandingan yang sangat tak seimbang; pasukan Muslimin berjumlah 3.000 orang menghadapi pasukan musuh yang mencapai 200.000 orang.

Salah seorang dari mereka berkata, "Kita menulis surat kepada Rasulullah SAW dengan memberitahukan jumlah pasukan musuh. Kita bisa diberi bala bantuan atau kita mendapat perintah lain dan kita maju terus."

Saran ini hampir saja diterima oleh suara terbanyak, kalau bukan karena Abdullah bin Rawahah—yang dikenal ksatria dan juga penyair—berkata, "Saudara-saudara, apa yang tidak kita sukai, justru itu yang kita cari sekarang ini, yaitu mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena perlengkapan, bukan karena kekuatan, juga bukan karena jumlah orang yang besar. Tetapi kita memerangi mereka hanyalah karena agama juga, yang dengan itu Allah telah memuliakan kita. Oleh karena itu, marilah kita maju. Kita akan memperoleh satu dari dua pahala ini; menang atau mati syahid."

Kebanggan yang muncul dari penyair pemberani ini segera pula menular kepada anggota pasukan yang lain. Mereka serentak berseru, "Ibnu Rawahah memang benar!"

Mereka pun bergerak maju. Ketika sudah sampai di perbatasan Balqa', di sebuah desa bernama Masyarif, mereka bertemu dengan pasukan Heraklius, yang terdiri dari orang-orang Romawi dan Arab. Ketika melihat musuh sudah dekat, pihak Muslimin segera menghindar ke Mu'tah, yang dianggap sebagai kubu pertahanan yang lebih baik daripada Masyarif. Di Mu'tah inilah pertempuran sengit berkecamuk, antara 200-an ribu tentara Heraklius dengan 3.000 tentara Muslimin.

sumber : republika.co.id

Wanita-Wanita Teladan: Asma’ binti Yazid bin Sakan, Duta Kaum Muslimah


Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al-Anshariyyah. Ia adalah seorang ahli hadits yang utama dan seorang mujahidah agung.

Asma' adalah sosok yang cerdas, kuat agamanya, argumentasinya mumpuni, dan mempunyai kemampuan retorika yang baik. Ia mendapat julukan "Khatibah An-Nisa" (sang orator wanita).

Salah satu keistimewaan Asma’ adalah kepekaan indranya, kejelian perasaannya serta ketulusan hatinya. Sebagaimana wanita-wanita Islam lain yang telah lulus dalam madrasah nubuwah, ia tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina. Bahkan ia adalah seorang wanita pemberani, tegar, dan menjadi teladan di sejumlah medan perang.

Suatu ketika ia datang menemui Rasulullah SAW yang sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Kemudian dia berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang utusan kaum wanita yang datang padamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi para lelaki dan wanita seluruhnya secara sama. Maka kami beriman padamu dan Tuhanmu. Dan kami kaum wanita merasa terkungkung dan terpencil dalam rumah-rumah kaum lelaki, sebagai pelampiasan hawa nafsu kaum lelaki, dan mengandung anak-anak kalian."

Asma' melanjutkan, "Dan kalian wahai kaum lelaki, telah diutamakan atas kami kaum wanita, dengan diwajibkan melakukan shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Mengunjungi orang sakit, melayat orang mati, dan berhaji setelah melakukan haji. Dan lebih afdhal dari itu, kalian juga diwajibkan jihad fi sabilillah."

Ia menambahkan, "Sesungguhnya seorang lelaki dari golongan kalian bila keluar karena suatu kebutuhan atau sebagai seorang mujahid, kami harus menjaga harta kalian dan mencuci baju kalian, merawat anak-anak kalian. Apakah kami tidak bisa bersama kalian untuk memperoleh pahala dari berbagai keutamaan ibadah yang kalian lakukan itu"?

Rasulullah kagum mendengar uraian tersebut lalu berpaling kepada para sahabat dan berkata, "Apakah kalian pernah mendengar perkataan seorang wanita yang lebih baik darinya yang mengadukan permasalahannya dalam urusan agamanya?"

"Wahai Rasulullah, sebelumnya kami tidak pernah menyangka bahwa ada perempuan yang mendapat petunjuk seperti ini," jawab mereka.

Kemudian Nabi berpaling menghadap Asma', lalu bersabda, "Pahamilah wahai perempuan, dan ajarkanlah pada para wanita di belakangmu. Sesungguhnya amal wanita bagi suaminya, meminta keridhaan suaminya, mengikuti apa yang disetujui suaminya setara dengan amal yang dikerjakan oleh kaum lelaki seluruhnya."

Mendengar jawaban Rasulullah SAW, Asma' merasa sangat gembira lalu beranjak pergi.


Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Asma’ mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi SAW bersabda, “Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma’, tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari neraka?”

Tanpa ragu-ragu dan tanpa argumentasi, ia mengikuti perintah Rasulullah, melepaskan gelangnya dan meletakkan di depan beliau. Setelah itu Asma’ aktif dalam majelis Rasulullah, mendengar hadits-hadits beliau dan bertanya tentang segala persoalan yang menjadikannya paham urusan agama.

Dia pulalah yang bertanya kepada Rasulullah tentang tata cara thaharah (bersuci) bagi wanita yang selesai haidh. Asma' memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu untuk menanyakan sesuatu yang hak. Oleh sebab itu, ia dipercaya oleh kaum Muslimah sebagai wakil (duta) mereka untuk berbicara dengan Rasulullah tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Suatu ketika, terbetik keinginan yang kuat di dada Asma' untuk ikut andil dalam jihad. Hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi, setelah tahun 13 Hijriyah, ia turut serta dalam Perang Yarmuk.

Pada perang ini, para wanita Muslimah banyak yang ikut ambil bagian, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah, "Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani.”

Dalam bagian lain Ibnu Katsir menuliskan, “Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari kecamuk perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu. Adapun Khaulah binti Tsa’labah bersyair:
Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa
Tidak akan kalian lihat tawanan
Tidak pula perlindungan
Tidak juga keridhaan

Dalam perang besar ini, Asma’ binti Yazid menyertai pasukan Muslimin bersama wanita-wanita mukminat lain yang berada di belakang para mujahidin. Mereka mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati korban luka-luka. Ia dan kaum Muslimah lainnya memompa semangat juang kaum Muslimin.

Namun tatkala perang berkecamuk dan suasana panas membara, Asma’ lupa kalau dirinya adalah seorang wanita. Ketika pasukan musuh menyerbu, ia tak mau berdiam diri. Karena tidak mendapatkan apa-apa yang di dekatnya selain sebatang tiang kemah, maka ia mengambilnya sebagai senjata lalu berbaur dengan barisan pasukan.

Ia turung gelanggang menerjang musuh-musuh Allah, dan berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi. Usai perang tersebut, Asma’ pulang membawa luka di sekujur tubuhnya. Namun Allah SWT menghendakinya masih hidup. Asma' wafat 17 tahun pasca Perang Yarmuk, setelah mempersembahkan segala kebaikan bagi umat.

Asma' meriwayatkan sekitar 81 hadits dari Rasulullah SAW, beberapa orang juga meriwayatkan hadits darinya. Selain itu, beberapa orang juga memakai hadits yang diriwayatkan olehnya seperti Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Muhajir bin Abu Muslim, dan Syahru bin Hausyab.

sumber : republika.co.id

Kisah Sahabat Nabi: Dhihya bin Khalifah Al-Kalabi, Penyeru Kaisar Romawi


Untuk memperluas dakwah Islamiyah, Rasulullah SAW mengirim surat ke beberapa raja Arab dan non-Arab. Di antara raja yang mendapat seruan secara tulisan itu adalah Heraklius, Kaisar Romawi. Untuk mengemban amanat ini, beliau mengutus Dhihya bin Khalifah Al-Kalabi.

Setelah melakukan perjalanan cukup panjang akhirnya Dhihya tiba di istana Raja Romawi. Surat Rasulullah langsung dibaca oleh salah seorang staf Heraklius.

"Dari Muhammad utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi..."

Mendengar bunyi awal surat itu, keponakan pembesar Romawi langsung marah, lalu berseru, "Surat ini tidak boleh dibaca sekarang!"

"Kenapa?" tanya Kaisar.

"Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Romawi, bukan Maharaja Romawi."
"Tidak!" sambut Kaisar, "Biar surat ini dibaca untuk diketahui isinya."

Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai. Setelah semua pengiring Kaisar keluar dari majelisnya, Dhihya dipanggil untuk masuk. Bersamaan dengan itu dipanggillah seorang uskup yang mengetahui seluk beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu uskup itu dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya.

"Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita, Isa sendiri telah memberitahukan kita sejak lama!" jawab sang uskup.

"Apa pendapatmu yang harus aku perbuat?" tanya Kaisar kepada uskup.

"Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan memercayainya dan akan mengikuti ajarannya," jawab uskup dengan jujur.

"Tetapi aku jadi serba salah," kata Kaisar, "Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!"

Sementara Dhihya diperbolehkan meninggalkan tempat itu, Raja Romawi terus bertukar pendapat dengan sang uskup. Kebetulan, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di Romawi. Kala itu ia belum masuk Islam. Ia dipanggil oleh Kaisar untuk dimintai keterangan tentang Muhammad SAW.

"Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu!" tanya Kaisar.

"Dia seorang anak muda," jawab Abu Sufyan.

"Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakatmu?"

"Tidak ada yang melebihi kedudukan dan keturunannya," jawab Abu Sufyan jujur.

"Ini tentulah tanda-tanda kenabian," Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang di sampingnya.

"Bagaimana bicaranya, apakah dia selalu berkata benar?"

"Betul," jawab Abu Sufyan, "Dia memang tidak pernah berkata dusta."

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!" Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. "Baiklah," kata Kaisar lagi. "Adakah di antara pengikutnya yang meninggalkan agama nenek moyangmu, kembali ke agama mereka lagi?"

"Tidak," jawab Abu Sufyan.

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!" kata Kaisar pula. "Apakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?"

"Ya," jawab Abu Sufyan.

"Siapa yang selalu menang?"

"Kadang-kadang dia menang, kadang-kadang kami mengalahkannya," jelas Abu Sufyan.

"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian," kata Kaisar Romawi itu.

Beberapa saat kemudian Dhihya Al-Kalbi dipanggil oleh Kaisar Romawi, seraya berkata, "Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi, tetapi apa daya, aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak mau ditumbangkan dari kerajaanku."

Adapun sang uskup itu yang biasanya selalu datang ke gerejanya setiap hari Ahad untuk menyampaikan ajaran Nasrani, sejak pertemuan itu, terus berdiam di rumahnya. Lantaran kecewa karena sang uskup tidak datang ke gereja, orang-orang pun berdatangan ke rumahnya. Kepada mereka, sang uskup mengatakan dirinya sedang sakit. Kejadian itu berlangsung berkali-kali, sehingga orang-orang mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada sang uskup dan memberinya peringatan. Jika ia tak mau datang lagi ke gereja, mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya.

Menurut orang-orang itu, sejak kedatangan Dhihya, sikap uskup banyak berubah. Sang uskup segera memanggil Dhihya, dan menyampaikan sepucuk surat. "Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu itu," pesan uskup itu dengan hati yang tidak tenang. "Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah. Katakan juga, bahwa aku beriman kepadanya, memercayainya, dan menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku. Ceritakan juga apa yang engkau saksikan ini," pesan uskup. Sejak saat itu sang uskup tidak datang lagi ke gereja. Sampai akhirnya ia dibunuh.

Sementara itu, sebenarnya Heraklius sudah meyakini kebenaran ajaran Islam. Namun, seperti yang ia katakan, ia malu untuk meninggalkan agama Nasrani. Apalagi kedudukannya sebagai raja. Tidak mungkin tunduk begitu saja kepada ajaran Dhihya yang menurut mereka orang Badui. Ia segera menyuruh salah seorang utusan membawa suratnya kepada Rasulullah.

"Bawalah suratku ini kepada orang yang mengaku Nabi itu," kata Heraklius. "Tetapi dengar baik-baik apa yang dikatakannya dan ingat tiga hal berikut ini. Pertama, apa komentarnya ketika membaca suratku. Kedua, apakah dia akan menyebut perkataan 'malam' atau tidak? Ketiga, usahakan sampai engkau dapat melihat di belakang tubuhnya. Adakah suatu tanda yang menarik perhatianmu? Ingat baik-baik tiga perkara ini. Beritahu aku paa yang engkau lihat!" pesan Heraklius dengan hati-hati.

Utusan itu berangkat membawa surat Heraklius, hingga tiba di Tabuk. Di situ dia bertanya kepada para sahabat Rasulullah, "Di mana ketua kamu, yang dikatakan Nabi itu?" tanyanya.

"Di sana, yang sedang duduk dikelilingi orang," jawab salah seorang dari mereka.

Saat itu, Nabi SAW sedang duduk di tepian telaga kecil bersama beberapa sahabatnya. Utusan itu pun maju ke dapan, menyerahkan surat Heraklius kepada Rasulullah.

"Dari mana engkau?" tanya Rasulullah.

"Aku orang Tarukh," jawab utusan itu.

"Maukah engkau kembali kepada agama yang suci dari kepercayaan nenek moyang kamu Ibrahim?" tanya Nabi SAW.

"Aku ini utusan sebuah negara dan menganut agama negara itu. Tidaklah wajar aku mengubah agamaku sehingga aku kembali kepada mereka lebih dulu," jawabnya jujur.

"Hai saudara dari Tarukh," tiba-tiba Nabi SAW berseru, "Aku telah menulis surat kepada Kisra (pembesar Persia), lalu suratku dikoyak-koyaknya, kelak Allah akan mengoyak-ngoyakkannya dan kerajaannya. Dan aku menulis surat kepada pembesarmu, dia masih ragu."

Mendengar ucapan tersebut sang utusan berkata dalam hati, "Nah, salah satu dari tiga yang dipesan oleh Heraklius supaya aku ingat baik-baik." Dia pun mengeluarkan sarung isi panahnya dan mencatat apa yang disampaikan Nabi.

Rasulullah menyerahkan surat Heraklius itu kepada seorang yang duduk di kirinya, yaitu Muawiyah untuk membacanya. Dalam suratnya Heraklius menyebut-nyebut surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

"Di manakah letaknya neraka, wahai Rasulullah?" salah seorang sahabat tiba-tiba bertanya.

"Subhanallah! Ajaib sekali pertanyaan ini," ujar Nabi SAW, "Jadi di manakah malam jika datang siang?" tanya beliau.

Utusan itu pun segera mencatat apa yang dikatakan Nabi. Beliau menyebutkan kata malam yang mesti disampaikan kepada Heraklius. Setelah membaca surat Heraklius Rasulullah bersabda, "Engkau patut diberi hadiah karena engkau utusan kepada kami. Seandainya kami mempunyai sesuatu yang berharga, tentu akan kami berikan kepadamu. Akan tetapi kami adalah musafir yang mempunyai perbekalan terbatas."

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rasulullah, "Aku yang akan memberinya hadiah jika engkau perkenankan, ya Rasulullah!" Sahabat yang tak lain Utsman adanya segera mengeluarkan seperangkat pakaian kepada utusan itu.

"Siapakah yang bersedia menerima orang ini sebagai tamunya?" tanya Rasulullah lagi.

"Saya!" jawab seorang pemuda Anshar lalu bangkit mengajak utusan itu pergi. Ketika ia akan meninggalkan tempat itu, Rasulullah memanggilnya, "Hai Saudara dari Tarukh!"

Utusan itu segera mendekat, berdiri di sisi Rasulullah. Beliau lalu menarik pakaiannya sehingga terbuka bagian belakangnya, sambil berkata, "Tunaikanlah tugasmu dengan baik, sebagaimana yang disuruh oleh tuanmu!"

Saat itulah utusan itu bisa melihat dengan jelas tanda di belakang badan Rasulullah, yaitu semacam tanda (khatamun nubuwah) di bagian atas bahunya dan berbentuk bulat.

sumber : republika.co.id

Halaman Ke