Kamis, 24 November 2011

Keajaiban Kupang 1998: Misteri Lelaki Berjubah Putih Menunggang Kuda


Kupang (voa-islam) – Tidak ada media massa yang memberitakan keanehan yang terjadi pada saat peristiwa Kerusuhan Kupang 1998 yang lalu. Di tiga tempat yang berbeda, ketika kaum Muslimin yang minoritas itu dikepung oleh kaum Salibis, banyak mata yang menjadi saksi, saat melihat dari arah ketinggian, nampak lelaki berjubah putih yang sedang menunggang kuda dalam jumlah yang banyak. Subhanallah, tentara Allah betul-betul turun di Kupang ketika umat Islam dalam keadaan terjepit.

Seorang pemuda di Airmata, sebuah pemukiman Muslim di Kupang, menceritakan, tak sedikit masyarakat Kristen yang menyaksikan dari atas bukit. Mereka seolah-olah melihat, ada banyak kerumunan massa di Airmata. Percaya atau tidak, orang kafir itu melihat lelaki berjubah putih dan bersurban sedang menunggang kuda dalam jumlah yang besar. Lalu bergetarlah hati Masyarakat Kristen yang saat itu hendak menyerang kampung Muslim.

Rupanya keanehan itu tidak hanya terjadi Kampung Airmata, melainkan juga di Kampung Solor, sebuah pemukiman muslim di Kota Kupang. Kali ini orang kafir melihat anak-anak berjubah putih dalam jumlah yang besar seraya memegang kayu yang diayun-ayunkan. Maka bergetarlah hati kaum salibis yang ketika itu hendak membakar Kampung Solor.

Ketika voa-islam bersilaturahim ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Batakte, Kupang Barat, pimpinan pesantren tersebut juga menceritakan hal yang sama. Banyak mata yang menjadi saksi, yang saat itu melihat ada banyak anak kecil berjubah putih seraya memegang senjata tajam.

“Ketika itu pesantren didatangi kelompok massa Kristen sebanyak dua truk dengan menggunakan ikat kepala merah. Mereka bukan hanya memblokade jalan di Batakte, tapi juga bermaksud untuk membakar masjid di kompleks Hidayatullah. Alhamdulillah, Allah melindungi kami di sini. Kami ingat, santri yang hendak melalui blokade itu harus menyanyikan lagu-lagu Yesus atau gereja. Dengan terpaksa, santri itu menuruti kemauan mereka,” kenang Ustadz Usman Mamang, pimpinan Pesantren Hidayatullah Kupang, NTT.

Peristiwa Kupang 1998

Tanpa bermaksud membuka luka lama, perlu kiranya mengetahui latar belakang kejadian dan peristiwa kerusuhan Kupang tahun 1998. Bermula, dari acara perkabungan dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa Kristiani di Kupang yang tergabung dalam panitia Gemakristi sehubungan dengan peristiwa Ketapang Jakarta, berkembang menjadi aksi penutupan jalan raya.

Di sejumlah titik perkabungan di jalan-jalan dibangun blokade. Warga menyekat jalan antara lain dengan peti mati, salib berukuran besar, serta gambar Kristus bermahkota duri. Ini antara lain dapat disaksikan di depan Gereja Kota Kupang, dan beberapa lokasi di Jalan Soedirman, Kuanino.

Perkabungan ini berlangsung selama 24 jam, mulai Senin pukul 06.00 Wita. Perkabungan rencananya akan ditutup dengan kebaktian Oekumene, Selasa pagi di GOR Oepoi, Kupang. Upacara perkabungan diteruskan dengan pawai besar-besaran mengitari beberapa ruas jalan di Kota Kupang seperti Jalan Ahmad Yani-Merdeka, Urip Sumoharjo, Moh Hatta dan Sudirman Kuanino dan berbelok ke Jalan Pemuda-Jalan Cak Doko dan Jalan Lalamentik menuju ke Oebufu.Ketika itu semua kantor, pertokoan, dan pasar tutup. Kota Kupang sejak pagi Nampak lengang.

Kebanyakan warga kota dan daerah sekitarnya ambil bagian dalam aksi Gemakristi (Gerakan Perkabungan Umat Kristiani) sebagai wujud rasa solidaritas atas berbagai peristiwa, termasuk peristiwa Ketapang pekan lalu. Semua kendaraan angkutan penumpang dan barang dalam dan luar kota, berhenti beroperasi. Kantor pemerintah dan swasta, sekolah, pertokoan dan kios, tutup. Begitu juga pasar rakyat praktis lengang tanpa pengunjung.

Suasana berubah menjadi rusuh karena adanya sekelompok massa yang menyusup kedalam acara tersebut, telah memicu massa melakukan aksi pelemparan rumah ibadah/masjid dan pengrusakan terhadap beberapa rumah dan kantor serta tindak kerusuhan lainnya.

Kronologisnya, menurut data dari Departemen Pertahanan RI, tanggal 30 November 1998 pagi hari di kota Kupang dilaksanakan acara perkabungan nasional yang diawali dengan kegiatan membagi bunga di jalan-jalan protokol kepada setiap orang yang lewat kemudian berkembang menjadi penutupan/pemblokiran jalan-jalan raya.

Pukul 10.00 WITA tanggal 30 November 1998 suasana menjadi rusuh karena ada sekelompok massa dari luar kota menyusup kedalam acara tersebut. Saat melewati ruas jalan Oebufu, massa mulai melempari beberapa rumah, kios serta toko. Massa terus bergerak ke arah Jalan El Tari II menuju ke Penfui dan kembali memutar ke arah Oesapa.

Saat memasuki Jalan Adi Sucipto di kawasan Oesapa, beberapa rumah pengusaha yang berada di simpang tiga menjadi sasaran pelemparan sehingga kaca di bangunan itu berantakan. Hal yang sama juga terjadi di sekitar wilayah Oesapa Kecil. Beberapa kios dan bangunan serta sebuah sedan kacanya remuk dilempari batu.

Sekitar pukul 11.15 Wita, massa yang sudah tidak terkendali kembali lagi ke kota Kupang dan memasuki kawasan Kelurahan Solor. Di daerah ini juga terjadi saling lempar antara massa yang konvoi dengan warga setempat. Massa Kristen bahkan melakukan aksi pelemparan Masjid Al Fatah di kelurahan Solor serta Masjid Raya di kelurahan Fontein. Aksi tersebut terhenti sementara karena turun hujan, namun kemudian berlanjut kembali dengan sasaran pengrusakan dan pembakaran terhadap rumah ibadah, rumah tinggal dan fasilitas umum.

Pada pukul 13.10 WITA tanggal 1 Desember 1998 massa melakukan pengrusakan terhadap kantor Hutan Tanaman Industri Kupang.Pihak aparat kemudian melakukan langkah-langkah untuk melokalisir peristiwa agar tidak meluas, mengadakan dialog dan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyelesaikan masalah.

Setelah terjadi aksi saling melempar di depan sebuah masjid, berita menyebar dengan cepat. Akibatnya ratusan pemuda dari berbagai penjuru berdatangan dan membalas provokasi, dan terjadilah saling lempar dengan warga di belakang kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.

Sekitar pukul 17.00 Wita, massa bergerak menuju kampus Universitas Muhammadiyah Kupang, namun dihalau pasukan keamanan. Menurut informasi hingga pukul 18.30 Wita, dua masjid dibakar yaitu di daerah sekitar Kolhua dan di Bakunase. Tiga lainnya dirusak, yaitu Masjid Raya Kupang, Masjid Attaqwa Naikoten, dan masjid di sekitar kantor Kodya Kupang.

Pembakaran lainnya menimpa Asrama Haji di Bilangan Oebufu, Kodya Kupang, sebagian bangunan Pasar Inpres Naikoten II, SMP dan SMA Muhammadiyah. Suasana kota hingga Senin malam mencekam. Warga kota terlihat saling curiga antara satu dengan yang lainnya. Mereka rata-rata membawa senjata tajam, pentungan dan lainnya.

Akibat kejadian tersebut, menimbulkan luka berat (2), luka ringan (25), kerusakan masjid/ mushola (9), rumah tinggal (44), kios/ toko (45), rumah makan (30), gedung sekolah (3), kendaraan roda 4 (14) dan roda dua (16) serta 3.962 penduduk mengungsi.

Kerusuhan pun meluas, aksi perkabungan nasional juga berlangsung di Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (70 Km sebelah Timur Kupang). Begitu lonceng gereja berbunyi, penduduk keluar rumah mengetuk tiang listrik dengan membawa parang, golok, dan benda tajam lainnya. Masjid dikepung, dirusak, dan dibakar. Rumah dan toko milik milik BBMJ (Bugis, Bone, Makasar, dan Jawa) yang muslim itu diobrak-abrik, dirusak dan dijarah massa Kristen. Hari tu, tak ada Media lokal yang memberitakan, sebab, informasi kan sudah dimonopoli nonmuslim.

Yang mengejutkan, saat menjadi penceramah dalam seminar yang digelar Universitas Nusa Cendana, Theo Syafei ketika itu (15 November 1998) mengatakan, kalau di Jawa orang bisa bakar gereja, kenapa kita di sini tak bisa bakar masjid. Tepuk tangan pun bergemuruh di kampus itu.

Kupang dan sekitarnya ibarat api dalam sekam, jika daerah lain yang disulut, maka akan berimbas ke Kupang. Ingat Kasus Ketapang di Jakarta, bara api itu sampai terbawa ke Kota Kupang. Hampir saja, kasus Temanggung, kembali menyulut di kota ini. Saat ini masyarakat Kupang pada umumnya, semakin dewasa, mereka tak mau lagi diprovokasi oleh pihak dan kelompok tertentu yang ingin Kupang membara dan berdarah-darah. Desastian

sumber : voa-islam.com

Jumat, 28 Oktober 2011

Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja


Leslie Carter kini bekerja di pusat kebudayaan Islam di departemen erempuan sebagai koordinator wanita. Wanita asal Irlandia ini sudah tiga tahun menjadi Muslim. Ia berpindah agama dari Kristen. “

Sayabangga dilahirkan sebagai orang Irlandia. Saya juga bangga menjadi seorang muslim,” tuturnya.

Sekilas mengenai kehidupan sipil di Irlandia, semua urusan agama dipisahkan dengan urusan yang lain. Saat pusat budaya Islam diIrlandia dibangun pada 1996, ia melihat pusat budaya itu sebagaisesuatu yang sangat menakjubkan.

Pusat perkumpulan orang Islam yang didanai oleh yayasan Al-Maktoum d Dubai ini dibangun dengan arsitektur dan interior khas Irlandia. "Sebuah hal yang menakjubkan melihat pusat kebudayaan Islam terbesardan satu-satunya di Eropa didirikan di Irlandia,” ujarnya.

Ia telah menikah dan memiliki seorang anak berusia lima tahun. Saat menikah dulu, Leslie masih menganut Kristen. Suaminya seorang Muslim.

Walaupun berbeda agama, sepasang suami istri ini tidak pernah cek cok soal agama dalam kehidupan rumah tangganya. “Saya pergi ke gereja, dia pergi ke masjid. Saya merayakan natal, dia merayakan Idul Fitri. Kami saling menghormati,” ujarnya.

Hidup bersama dengan seorang muslim, membuatnya merasakan banyak kemiripan antara Islam dan Kristen. “Masing-masing kami mempercayai nabi, malaikat. Kami sama-sama tidak boleh mencuri, tak boleh membunuh,” ujarnya.

Yang berbeda adalah soal pengakuan trinitas. Kristen yang selama ini ia kenal adalah agama yang paling dekat dengan Islam. Lieslie pun sebenarnya telah memiliki banyak pertanyaan tentang kekristenanya selama masih remaja. Ia selalu merasa tidak nyaman ketika harus melakukan pengakuan dosa.

Ia risih harus menceritakan kepada pastor atas semua dosa-dosanya. Ia berpikir dosa adalah antara manusia dan Tuhan. Perlahan, ia mulai menjauh dari Kristen. Ia mulai membaca tentang Islam.

Alami Fase Cepat

Tiga tahun lalu, tanpa direncanakan, Lieslie memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Suatu hari, kebetulan ia akan pergi ke pasar. Ia pergi bersama sang suami yang hendak pergi ke kantor. Ia juga merencanakan untuk mengunjungi salah seorang kenalannya yang juga satu kantor dengan sang suami.

Saat ada adzan, suami pergi untuk shalat. Tiba-tiba saja ia menangis. Rasanya seperti ada sesuatu. “Ada semacam cahaya di dalam hati. Dan aku tahu akau tak mungkin meninggalkan masjid itu tanpa mengikrarkan keislaman saya,” katanya.

Sebenarnya, ia memang merencanakan untuk pindah keyakinan dari Kristen menjadi Islam. Tapi ia tak pernah menyangka proses ‘berislamnya’terjadi hanya dalam waktu tiga tahun saja. “Aku mengira mungkin akan berpindah agama dalam waktu 10 tahun atau entah ” katanya.

Sejak memeluk Islam, ia mengaku belum mengenakan jilbab sepanjang waktu. Ia hanya memakai pakaian yang biasa dibeli di toko. Tapi, ia tak pernah memakai baju ketat. “Bahkan sebelum bertemu dengan calon suami saya atau sebelum saya memeluk Islam sekalipun,” katanya.

Putri sulung Lieslie, kini berusia lima tahun. Dia sering menonton TV. Jika melihat wanita dengan pakaian mini di layar, ia akan berteriak "haram!” dan segera mengganti saluran TV.

“Ia masih berumur limatahun, tapi tak suka memakai rok diatas lutut. Ia suka memakai rok panjang,” katanya. Lieslie senang karena putrinya sudah memiliki polapikir yang baik sejak masih kecil.

Islam di Irlandia

Di dekat tempat tinggal lieslie, ia sering mendengar banyak orang yang berkomentar negatif tentang Islam. Ia menganggap orang yang sering memberikan komentar negatif soal muslim karena tidak memiliki rasa hormat, pendidikan dan moral yang baik.

Sementara itu, ia melihat kehidupan muslim di Irlandia sebagai suatu hal yang menarik. Banayak orang yang berbondong-bondong masuk Islam. Irlandia bukanlah negara dengan penduduk besar, tapi sekitar 23.000 warganya kini telah menjadi muslim. “Berarti ada sesuatu di dalam Islam,” ujarnya.

sumber : republika.co.id

Sabtu, 27 Agustus 2011

Mualaf Mu Kim Ni: Memilih Islam karena Kagum dengan Harmonisasi Keluarga Muslim


Karena merindukan profil keluarga yang rukun dan damai, Mu Kim Ni, kabur dari rumahnya di Baturaja Sumatera Selatan, tahun 1991. Saat itu, ia baru tamat SMA. Ani, begitu perempuan kelahiran 17 Oktober 1972 ini akrab disapa, menemuka kedamaian dan keharmonisan justru di dalam keluarga sahabat–sahabatnya yang dijumpai di rumah mereka saat belajar bersama semasa SMA.

Ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang mendorongnya memeluk Islam. Namanya kemudian berganti menjadi Murniati Mukhlisin.

"Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga," kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni (11), Hayyan Hani Tamanni (9) dan Rayyan Ayman Tamanni (7) ini.

Namun bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani tak terlalu mengambil hati dan tetap melakukan pendekatan pada keluarga.

Melalui seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi orangtua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. "Walau kadang sedih juga, karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab," katanya.

Walau jauh dari kampung halamannya, ia tetap memperhatikan keluarganya, yang saat itu belum sepenuhnya menerima keislamannya.
Ani mengungkapkan, sejak kabur dari rumah, ia berusaha mengambil hati keluarganya. Berkirim kabar dan hadiah, salah satu upayanya.

Kerja keras wanita yang kini menjabat sebagai wakil ketua Sekolah Tinggi Eknomi Islam Tazkia ini, membuahkan hasil. Mama dan beberapa adiknya luluh hatinya. Tak hanya merangkulnya kembali, belakangan mereka juga turut menganut Islam. Keinginannya terkabul: memiliki keluarga yang hangat dan saling mendukung.

Di sisi spiritual, Ani terus mengasah ilmu agamanya. Ia yang terpacu untuk terus mendalami Islam dengan melanjutkan kuliah di bidang akuntansi syariah setelah dua tahun bekerja di Jakarta. Ani berhasil melanjutkan kuliah di International Islamic Unviersity Malaysia dengan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta di sana. Di sana pula Ani belajar Islam lebih insentif, termasuk belajar bahasa Arab.

Bekal keluwesannya dalam bergaul dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab serta keaktifannya dalam organisasi, membuat Ani semakin mandiri. Bahkan, istri Luqyan Tamanni ini sudah mendapatkan pekerjaan bergengsi ketika belum selesai kuliah, di sebuah lembaga akuntan publik ternama di negeri jiran itu.

Kini, perempuan yang sangat meminati kajian standar akuntansi keuangan syariah internasional ini, segera berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah strata tiga. ''Insya Allah dalam waktu dekat saya berangkat," katanya. Di Gloucestershire University, ia bakal menimba ilmu ekonomi syariah.

sumber : republika.co.id

Jumat, 26 Agustus 2011

Kisah Singkat Sigit Nugroho, Dahulu Atheis Kini Ketua Talk Show Ramadhan 2011


Sore itu di gedung Fatahilah Masjid Sunda Kelapa (Sabtu, 13 Agustus 2011) sebuah kegiatan diskusi digelar dengan tema Kesalehan Sosial. Diskusi itu dihadiri oleh para mualaf.

Dalam acara tersebut ada salah satu anggota yang cukup menarik perhatian. Dia adalah Sigit Nugroho Wartawan senior Bola yang memiliki jaringan luas di tingkat Internasional. Ia adalah seorang mualaf yang kini mendirikan OLE!.

Pria kelahiran Semarang, 6 Oktober 1965 ini adalah anak tunggal dari pasangan Letkol Pol Djati Koenjtono(Alm) dan Soeharsi. Selain sebagai seorang wartawan ia juga berfrofesi sebagai komentator olah raga disejumlah stasiun televisi swasta dan juga stasiun tv nasional.

Sigit mengaku sudah dua tahun memeluk Islam. Sebelum memilih Islam, ia sebelumnya telah melewati tiga fase agama dalam kehidupannya.

Pertama ia dulu seorang yang tidak beragama (atheis), kemudian ia masuk menjadi orang khatolik. Tak beberapa lama kemudian ia keluar dari agama tersebut dan kemudian menjadi seorang Muslim

Kini Sigit mengakui lebih giat untuk memperdalam ajaran agama islam dan tidak akan mempermainkan agama seperti sebelumnya. Ada pengalaman religi yang ia ungkapkan setelah dirinya memeluk agama Islam.

Ia mengaku dahulu sebelum dirinya menjadi seorang mualaf, ia merasakan ketidaktenangan dalam hidup. Tak hanya itu, ia merasa uang hasil kerjanya tak bisa dinikmati dengan baik karena membuat tubuh jadi panas.

Namun kini setelah ia masuk dan memeluk agama islam, ia merasakan ketenangan dalam hidup dan uang hasil kerjanya dapat dinikmati tanpa ada keganjilan.

Setelah benar-benar mencoba menjadi seorang Muslim yang taat ibadah dan mempunyai pengetahuan agama, Sigit merasakan kedamaian dan ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan. "Islam menjadikann saya pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan," ujarnya.

Dahulu. tutur Sigit, ia selalu menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya. Ia juga mengaku tidak mempunyai seorang teman pun untuk membantunya mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya.

Kini setelah menjadi seorang Muslim ia mempunyai banyak teman dan selalu terbantu dalam memecahkan permasalah yang ada dalam kehidupannya. Diisinilah ia mengetahui arti islam yang sebenarnya.

Ramadhan selalu dimaknai Sigit sebagai bulan yang sangat istimewa, karena pada saat bulan suci ini, ia bisa lebih bersabar dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang. Kondisi itu menjadikan dirinya mempunyai ketegaran iman yang kuat dalam memaknai kehidupan yang baru sebagai seorang muslim.

Ramadhan kali ini ia juga mempunyai tugas yang cukup berat namun sekaligus pengalaman cukup berarti. Pasalnya ia menjadi ketua umum dalam acara kegiatan Talk Show Ramadhan 2011 yang diadakan bersama para mualaf yang ada di Jakarta.

Dalam penggalangan dana, ternyata ia mengalami kesulitan. “Untuk urusan agama ko masih banyak ya yang sulit sekali beramal dan menyisihkan sedikit hartanya di bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah ini” tuturnya.

Kini sebagai seorang Muslim, ia pun juga mempunyai keinginan mengajak para mualaf yang lain untuk lebih giat mempelajari ilmu agama islam dan mengetahui pengetahuan yang luas tentang ajaran islam.

Sigit pun memberikan sedikit saran kepada para mualaf lain yang datang di acara diskusi ini. "Sebagai eorang mualaf kita harus benar-benar pegang teguh agama ini, janganlah kalian main-mainkan ajaran Islam ini, dan para mualaf yang lain harus tetap semangat menghadapi cobaan yang begitu sulit, apalagi setelah kita mengucap ikrar keimanan," ujarnya.

sumber : republika.co.id

Rabu, 24 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Teladan dalam Rumah Tangga Rasulullah


Umar kemudian pergi ke masjid, dan dengan suara lantang ia berkata kepada kaum Muslimin, "Rasulullah SAW tidak menceraikan isterinya."

Sehubungan dengan peristiwa ini, turun ayat-ayat suci ini: "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Tahrim: 1-2)

"Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula."

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan."
(QS At-Tahrim: 3-6)

Dengan demikian peristiwa itu selesai. Istri-istri Nabi kembali sadar, dan beliau pun kembali kepada mereka setelah mereka benar-benar bertaubat, menjadi manusia yang rendah hati beribadah dan beriman. Kehidupan rumah tangganya sekarang kembali tenang, yang memang demikian diperlukan oleh setiap manusia yang sedang melaksanakan suatu beban besar yang ditugaskan kepadanya.

Apabila orang itu orang besar seperti Muhammad SAW, lemah-lembut seperti beliau, berlapang dada, tahan menderita, orang berwatak dengan segala sifat-sifat yang ada padanya—yang sudah disepakati dan diakui pula oleh semua penulis sejarah Hidupnya—maka menggambarkan salah satu dari kedua peristiwa itu an sich sebagai sebab ia memisahkan diri dan mengancam hendak menceraikan istri, adalah suatu hal yang kebalikannya, jauh daripada suatu cara kritik sejarah.

Sebaliknya, kritik yang akan dapat diterima orang dan sejalan pula dengan logika sejarah ialah apabila peristiwa-peristiwa itu mengikuti jejak yang sebenarnya, yang akan membawa kepada kesimpulan-kesimpulan yang sudah pasti tidak bisa lain akan ke sana. Maka dengan demikian ia akan menjadi masalah biasa, masuk akal dan secara ilmiah dapat diterima.

Ada beberapa orientalis yang juga bicara tentang ayat-ayat yang turun pada permulaan surah At-Tahrim seperti di atas. Disebutkan bahwa semua kitab suci di Timur tidak ada yang menyebut-nyebut peristiwa rumah tangga dengan cara semacam itu.

Rasanya tidak perlu kita mengatakan lagi apa yang tersebut dalam kitab-kitab suci itu semua—termasuk Alquran di antaranya tentang masyarakat Luth dengan segala cacat mereka. Bahkan Taurat (Perjanjian Lama) membawa cerita tentang Luth dan dua anaknya yang perempuan ketika mereka memberikan minuman anggur kepada bapaknya sehingga dua malam berturut-turut ia mabuk, dengan maksud supaya dapat masing-masing mereka dapat tidur dengan Luth dan dengan demikian mereka memperoleh keturunan—karena khawatir keluarga Luth kelak akan punah, setelah Tuhan menurunkan bencana. Oleh sebab itu, maka semua kitab suci membuat kisah-kisah para rasul serta apa yang mereka lakukan dan segala apa yang terjadi, ialah sebagai suri teladan bagi umat manusia.

Banyak sekali kisah-kisah demikian dalam Alquran. Tuhan menyampaikan kisah-kisah yang baik sekali kepada Rasulullah. Sedang Alquran bukan hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad, melainkan kepada seluruh umat manusia. Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul, sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul lain yang dibawakan kisahnya dalam Alquran.

Jika Qur'an menyampaikan berita-berita tentang Muhammad SAW dan menyangkut pula kehidupan pribadinya yang perlu menjadi contoh buat kaum Muslimin dan teladan yang baik pula, serta memberi isyarat tentang arti dalam tindakan dan kebijaksanaannya itu, maka kisah-kisah para nabi yang terdapat dalam Alquran itu sama sekali tidak berarti keluar daripada apa yang terdapat dalam kitab-kitab suci lain.

Apabila kita mengatakan bahwa masalah Muhammad SAW meninggalkan istrinya itu bukan sebab yang berdiri sendiri di samping sebab-sebab lain yang telah menimbulkan cerita itu, juga bukan karena Hafshah bercerita kepada Aisyah tentang apa yang dilakukan Nabi dengan Maria—suatu hal yang memang patut dilakukan oleh setiap laki-laki terhadap istrinya atau siapa saja yang sah menjadi miliknya—orang akan melihat, bahwa tinjauan yang dikemukakan oleh beberapa orientalis itu, dari segi kritik sejarah sama sekali tidak dapat dibenarkan. Juga tidak pula sejalan dengan apa yang ada dalam kitab-kitab suci sehubungan dengan kisah-kisah dan kehidupan para nabi itu.

sumber : republika.co.id

Senin, 22 Agustus 2011

Khotbah Paus Disambut Badai Hujan dan Petir, Padahal Siangnya Cuaca Panas


Tak hanya demonstran yang menyambut kunjungan Paus Benediktus XVI di Madrid, Spanyol. Bahkan badai, hujan dan petir pun ikut menyambut Paus saat pidato. Padahal siangnya, cuaca sangat panas mencapai 40 derajat Celcius.

Badai petir memaksa Paus Benediktus XVI memperpendek khotbahnya di hadapan satu juta peziarah muda, yang berkumpul di lapangan terbang Madrid, Spanyol, untuk memperingati Hari Pemuda Dunia, Sabtu (20/8/2011).

Ketika hujan membasahi kerumunan orang dan petir menerangi langit malam, Paus berusia 84 tahun ini melewatkan sebagian besar pidatonya. Ia hanya menyampaikan salam singkat dengan menggunakan setengah lusin bahasa.

Paus menyerukan kepada massa misa Minggu untuk menjadi misionaris bagi iman. "So do not keep Christ to yourselves. Share with others the joy of your faith," ujar Paus singkat. (Jangan simpan Kristus untuk diri kalian sendiri. Berbagilah dengan orang lain spaya merasakan sukacita iman kalian).

Dia tetap nyaman selama misa berkat sistem pendingin di altar. Paus pun mengumumkan bahwa Hari Pemuda Dunia berikutnya akan berlangsung di Rio de Janiero pada 2013, satu tahun lebih awal untuk menghindari bentrokan dengan Piala Dunia 2014 di Brazil.

Akibat hujan deras itu, beberapa kapel darurat di pinggiran lapangan terbang itu rusak. Ini memaksa penyelenggara mengumumkan, Minggu (21/8/2011), bahwa tidak semua orang akan dapat menerima komuni selama misa. Bahkan, kata Yago de la Cierva, ketua panitia Hari Pemuda Dunia, nyaris tidak akan ada orang yang menerima Ekaristi.

Kejadian ini sangat aneh, karena siang harinya cuaca sangat panas mencapai 104 derajat Fahrenheit, atau mendekati 40 derajat Celcius. Untuk mengurangi terik, petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air kepada massa, dan peziarah pun mencari tempat teduh untuk berlindung.

Badai, hujan dan petir saat Paus berpidato itu menambah daftar kerepotan Paus di Spanyol. Sebelumnya, seperti diberitakan voa-islam.com, Paus didemo umat Katolik karena biaya kunjungannya yang terlalu mahal diambil dari pajak rakyat Spanyol.

Biaya kunjungan Paus yang besarnya lebih dari 100 juta euro diprotes pendemo karena saat ini pemerintah Spanyol yang sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi. Spanyol telah mengadopsi langkah penghematan, guna memenuhi target pengurangan defisit. Tingkat pengangguran saat ini di Spanyol berada pada level 20,89 persen, sementara tingkat pengangguran kaum muda melebihi angka 45 persen. [silum/pelita, the guardian]

sumber : voa-islam.com

Kisah Sahabat Nabi: Mu'adz bin Jabal, Pelita Ilmu dan Amal


Tatkala Rasulullah mengambil baiat dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat. Perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu'adz bin Jabal RA.

Dengan demikian, ia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun—golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan.

Maka demikianlah halnya Mu'adz. Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: "Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz?"

"Kitabullah," jawab Mu'adz.

"Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya Rasulullah pula.

"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul."

"Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?"

"Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia," jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah," sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai "orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram".

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A'idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

"Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu'adz bin Jabal," tutur A'idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, "Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya."

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara."

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu'adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satu pun yang akan kuambil darimu," ujar Abu Bakar.

"Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik," kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu'adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu'adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.

Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, Mu'adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Mu'adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka beliau bertanya, "Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?"

"Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah," jawabnya.

"Setiap kebenaran ada hakikatnya," kata Nabi pula, "maka apakah hakikat keimananmu?"

"Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka."

Maka sabda Rasulullah SAW, "Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!"

Menjelang akhir hayatnya, Mu'adz berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan."

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, "Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan..." Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah.

sumber : republika.co.id

Halaman Ke