Senin, 19 Desember 2011

Jadi Muslimah, Jessica Fay Tidak Lagi Dijuluki 'Si Blonde Bodoh'


Rambut pirang Jessica Fay kini tertutup balutan kain. Ya, ia telah menjadi seorang Muslimah dan konsisten mengenakan jilbab. "Akhirnya, aku tidak lagi mendengar cemooh yang mengatakan diriku sebagai 'si pirang bodoh'," ungkap Jessica seperti dikutip columbiamissourian.com, Rabu (7/12).

Selama dua tahun terakhir, Jessica mendalami Islam. Ia tak mau hanya sekedar bersyahadat.Tak lama setelah menyatakan keislamannya, ia pun memutuskan mengenakan jilbab.

"Ada banyak alasan aku memutuskan mengenakan jilbab. Alquran telah mengajarkan bagaimana seorang Muslimah berpakaian yakni menutupi kepala sampai kaki, dengan sebagian besar lengan tertutup," kata dia.

Ia sadar putusannya menjadi Muslim dan mengenakan jilbab akan menarik perhatian lingkungan di sekitarnya. Ia pun menjadikan pandangan orang lain sebagai latihan memperkuat keimannya. "Aku merasa bahagia. Aku tidak lagi melihat pria melihat tubuhku. Mereka justru mengalihkan perhatian ke objek yang lain," kata dia.

Jessica mengaku semenjak mengenakan jilbab, ia merasa lebih terhormat dan bermartabat."AKu tidak perlu menunjukan bagian tubuhku untuk mendapatkan rasa hormat dari seorang pria," ungkapnya.

Kembali Muslim

Jessica butuh beberapa tahun untuk beradaptasi mengenakan jilbab. Ia mengawali jilbab saat umrah ke Tanah Suci. Di sana, Jessica kian mantap mendalami Islam. Ia kian kuat karena bertemu saudara-saudara seiman dari segala penjuru dunia.

Jessica lalu menyebut keputusannya berpindah agama merupakan proses pembalikan. "Dalam Islam, apa yang mereka yakini adalah semua bayi dilahirkan muslim. Jika keluarga mereka bukan Muslim, mereka belajar agama yang berbeda, maka saat ia menjadi Muslim artinya bukan berpindah tetapi kembali," katanya.

Bagi Jessica yang tidak dibesarkan dalam lingkungan Muslim, menjadi Muslim merupakan hal yang sulit. Ia harus melawan arus budaya yang berbeda jauh. Ia diwajibkan shalat lima waktu, tidak mengkonsumsi alkohol, berhubungan seks diluar nikah dan dilarang mengkonsumsi babi.

"Sulit awalnya," kata dia.

Namun, ia beruntung. Lingkungan tempat ia tinggal begitu terbuka dengan perubahan dirinya. Mereka bahkan tertarik untuk berdiskusi tentang Islam. "Aku seorang kulit putih. Mereka tentu penasaran dengan apa yang aku kenakan. Tapi aku senang, mereka begitu terbuka," kata dia.

Fay mengatakan ia berharap penampilannya akan membantu mereka yang tidak memahami Islam untuk mengajukan pertanyaan. Dia ingin menjadi Muslim yang baik dengan menjaga kehormatan agamanya.

"AKy berharap dapat berbicara banyak tentang Islam kepada mereka yang belum memahaminya. Aku sebenarnya orang yang pemalu tapi aku akan coba untuk menjalankan tugasku menyebarkan syiar Islam," ujarnya.

sumber : republika.co.id

Kisah Muhamad dari Keluarga Zionis , Saat Remaja Ia Hampa dan Haus Spiritualitas


Dulu, bagi Muhammad, Islam hanya sebatas jawaban tentang kehampaan yang ada di hatinya. Meskipun sudah bersyahadat di tahun 1970-an ia tak lantas melakukan kewajiban shalat dan puasa. “Pada dasarnya, aku naif dan bodoh,” akunya.

Ia hanya merasa ingin menjadi muslim seperti orang-orang yang ia temui. Saat bekerja di Universitas New York, ia banyak bertemu dengan orang muslim yang menurutnya memiliki sikap kemurahan hati, kerendahan hati, dan berkarisma. “Aku ingin memeluk agama seperti orang-orang yang aku kagumi itu,” kata dia.

Ketidaktahuannya soal ibadah membuatnya sempat melalaikan kewajibannya ketika awal menjadi seorang Muslim. Namun, kini shalat dan puasa sudah menjadi kebutuhannya. Berdoa sekarang telah menjadi seperti ‘menyikat gigi ketika sehabis makan’, sesuatu yang spontan dilakukan.

Bahkan puasa Ramadhan kini menjadi ibadah yang ia nanti-nantikan saban tahun. Saat-saat membahagiakan adalah ketika bisa berkumpul dengan komunitas muslim.

Lahir sebagai seorang Yahudi, Muhammad tak pernah merasakan nikmatnya menjadi hamba Tuhan. Orang tuanya adalah Yahudi kelas menengah yang tinggal di New York. Keluarga itu, bukan keluarga penganut Yahudi biasa. “Keluargaku lebih dekat dengan Zionis,” ujarnya.

Ada kehampaan yang mulai merasuk dalam jiwanya ketika masa remajanya hampir habis. Muhammad tak pernah merasakan tumbuh dengan ajaran agama atau petunjuk Tuhan. Ia merasa haus kebutuhan spiritual

Saat memasuki masa kuliah, mulai mencari suatu kebahagiaan yang nilainya lebih dari sekedar materi. “Aku ingin sesuatu yang lebih dari sekedar mengejar gaya hidup materialistis,” kata dia. Ia tak merasa bahagia dengan mobil, televisi atau apapun yang sifatnya materi.

Saat kuliah, ia mencoba mencari jawab atas semaua rasa ingin tahunya tentang Tuhan. Ia banyak menghabiskan waktu dengan para filsuf dan dosen untuk mempelajari agama. Ia menghabiskan waktu dengan Dalai Lama, penganut Buddha, Hindu, anggota gereja dan para Rabi Yahudi. Dari sekian banyak agama yang ia pelajari. Namun saat itu belum pernah sekalipun ia berkenalan dengan Islam.

Ia tak pernah mendengar tentang Islam sebelum bekerja di Universitas New York pada pertengahan tahun 1970-an. Islam adalah hal asing baginya. Pada awalnya ia pikir Islam agama yang terlalu banyak aturan. Banyak larangan ‘ini-itu’. “Saya tak yakin bisa menerima semua peraturan itu,” ujar dia.

Namun ketika telah mengenal ternyata aturan-aturan itu tak menjadi soal baginya. Islam melarang makan babi, minum alkohol, dan semua bukan hal berat karena pada dasarnya ia tak suka makan babi atau minum alkohol.

Ia jatuh cinta dengan Islam saat mengetahui banyak hal tentang kehidupan yang diajarkan oleh agama ini. ”Ada shalat, puasa dan beramal 2,5 persen dari kekayaan setiap tahun,” kata dia.

Satu hal yang benar-benar ia kagumi dalam Islam adalah tak ada jarak antara manusia dengan Tuhan. “Allah selalu menunjukkan dirinya.” Ia merasa dekat dengan Tuhan yang selama ini ia cari. Di dalam Alquran, semua isinya adalah bahwa Allah maha pemaaf. “Sebelum shalat kita juga melakukan wudhu untuk mengapus dosa-dosa kecil kita,” kata dia.

Muhammad yakin dengan keimanannya. Seuatu ketika seorang temannya Nasrani bertanya mengapa ia tidak memeluk Kristen. Dengan diplomatis ia berkata, “Kalau saya harus menyembah manusia, maka saya akan menyembah Adam. Yesus tidak memiliki ayah, Adam bahkan tak memiliki ayah dan ibu."


Sebagai seorang muslim, ia yakin bahwa apa yang diajarkan Yesus sebenarnya juga menyeru untuk menyembah kepada Allah saja.

Nikmat Islam yang dirasakannya ia coba tularkan juga kepada orang lain. Setelah memeluk Islam, ia sempat mendapat kesempatan bernilai dengan mengantarkan seorang nasrani menjemput hidayah.

Suatu hari di hari Jumat, Muhammad sedang berada di masjid. Ia tiba-tiba batuk cukup parah. Ia merasa perlu keluar dari masjid untuk mengambil air minum agar batuknya tak menganggu jamaah lain.

“Saat keluar, aku melihat ada seorang pria yang tertarik masuk Islam,” ujar dia. Pria yang ia temui di beranda masjid itu kebingungan bagaimana untuk berkomunikasi dengan orang muslim. “Ia tak tahu bagaimana caranya masuk masjid, ia juga tak tahu bagaimana bertanya soal Islam,” kata dia.

Muhammad lalu memperkenalkan kepada pria yang baru dikenalnya bagaimana cara berwudhu. Mereka ngobrol, Muhammad juga menunjukkan bagimana cara shalat. Ia memperkenalkan pria itu dengan para jamaah lain. “Alhamdulilah, ia kini memeluk Islam. Itu hidayah Allah, tapi mungkin melalui perantara diriku,” ujarnya.

Kisah Lia Rojas , Ingin Mendalami Agama yang Dianutnya, Ia Malah Terpikat Islam


Lia Rojas memeluk Islam sejak enam bulan lalu. Sebelumnya, wanita asal Dallas, Texas ini memeluk Katolik sejak kecil. Ia bersyahadat setelah mempelajari Islam selama satu tahun.

Rojas mengalami sebuah proses yang unik dalam menemukan Islam. Awalnya, ia yang seorang calon guru agama Katolik berniat mempelajari lebih dalam ajaran agama yang dianutnya sebagai bekal memberikan ajaran kepada murid-muridnya.

Rencananya, ia akan membawakan materi ‘Mengapa Katolik’. Sebelum memeberikan materi itu, ia benar-benar mempersiapkan diri. Hampir delapan bulan ia berupaya membekali diri untuk mengajar. Siapa sangka, saat ia berniat mempelajari lebih dalam agama Katolik, ia justru ‘tersandung’ Islam.

Sempat ia bercerita kepada temannya yang muslim, sang kawan semakin ‘mendorongnya’ kepada cahaya Islam. “Saya punya beberapa teman Muslim tapi saya tidak tahu mereka adalah Muslim. Saya memberitahu mereka tentang kelas saya dan bagaimana saya sedang belajar tentang Islam,” ujar Rojas.

Rojas lalu diberi salinan Alquran dalam bahasa Inggris yang kemudian ia pelajari lebih jauh. Selama waktu delapan bulan itu, ia justru lebih banyak mempelajari Islam dibanding mendalami agama Katolik.

Sebuah proses menuju cahaya Islam yang ditemukan dengan jalan yang tak pernah ia pikirkan. Sejak saat itu, ia tak lagi pergi ke gereja. Ia malah membatalkan mengajar kelas Katolik, tugas yang awalnya dipercayakan padanya.

Hampir seperti mualaf lain, Rojas juga mempelajari Alquran melalui internet. “Kemudian saya mulai mengunjungi ke masjid,” ujar dia.

Saat menemukan hidayah Islam, Rojas kini beranggapan Allah-lah yang telah menyelamatkannya dari segala kebutaan yang pernah ia lalui. “Sebelumnya kita berdoa kepada Maria atau Yesus untuk menolong kita. Aku berumur 40 tahun dan aku nyaris tidak menyadarinya (kesalahan dalam berdoa),” ujar dia.

Ia kini menyadari Maria adalah ibu dari Yesus Kristus, tapi Maria bukanlah ibu dari Tuhan. “Aku hanya tidak bisa percaya bahwa selama ini aku begitu buta,” kata dia.

Banyak hal yang tak bisa diungkapkan Lia Rojas, mualaf asal Dallas, Texas, ketika pertama kali mengucapkan syahadat. “Sangat istimewa. Itu sangat luar biasa,” ujar dia.

Rojaz mengakui memang sulit pada awalnya menerima respon keluarga dan teman. Tapi sejak pikirannya terbuka ia yakin tak mungkin lagi terus bertahan dengan agama Katolik yang dianutnya. Awalnya memang banyak teman yang tiba-tiba menjauh, tapi itu bukanlah masalah bagi Rojas.

Ketika pertama kali mengucapkan syahadat, kondisi Rojas sangat jauh berbeda dibandingkan yang sekarang. Sekarang ia mengenakan jilbab. Dulu, ia masih suka mengenakan celana pendek dan tank top.

Ada kejadian yang cukup aneh ketika awal memeluk Islam. Ketika itu, ia berniat pergi berbelanja, ia tiba-tiba terpaku di dalam mobil. “Ketika hendak turun dari mobil untuk berbelanja, aku tiba-tiba merasa malu melihat kakiku (masih terbuka),” kata dia.

Ia begitu terpaku hingga tak bisa keluar dari mobil. Tiga kali mencoba keluar, namun ia merasa tak kuasa. Ia mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja ia merasa malu dengan apa yang ia kenakan di badan. “Saya pulang ke rumah dan menangis,” kata dia. Itulah awal mula Rojas mulai berkenalan dengan jilbab.

Ia yang kini telah menjadi seorang muslim hanya bersyukur kepada Allah atas hidayah yang diberikan. “Alhamdulillah, jika aku mati hari ini aku akan mati sebagai seorang Muslim,” ujar dia.

sumber : republika.co.id

Kamis, 24 November 2011

Keajaiban Kupang 1998: Misteri Lelaki Berjubah Putih Menunggang Kuda


Kupang (voa-islam) – Tidak ada media massa yang memberitakan keanehan yang terjadi pada saat peristiwa Kerusuhan Kupang 1998 yang lalu. Di tiga tempat yang berbeda, ketika kaum Muslimin yang minoritas itu dikepung oleh kaum Salibis, banyak mata yang menjadi saksi, saat melihat dari arah ketinggian, nampak lelaki berjubah putih yang sedang menunggang kuda dalam jumlah yang banyak. Subhanallah, tentara Allah betul-betul turun di Kupang ketika umat Islam dalam keadaan terjepit.

Seorang pemuda di Airmata, sebuah pemukiman Muslim di Kupang, menceritakan, tak sedikit masyarakat Kristen yang menyaksikan dari atas bukit. Mereka seolah-olah melihat, ada banyak kerumunan massa di Airmata. Percaya atau tidak, orang kafir itu melihat lelaki berjubah putih dan bersurban sedang menunggang kuda dalam jumlah yang besar. Lalu bergetarlah hati Masyarakat Kristen yang saat itu hendak menyerang kampung Muslim.

Rupanya keanehan itu tidak hanya terjadi Kampung Airmata, melainkan juga di Kampung Solor, sebuah pemukiman muslim di Kota Kupang. Kali ini orang kafir melihat anak-anak berjubah putih dalam jumlah yang besar seraya memegang kayu yang diayun-ayunkan. Maka bergetarlah hati kaum salibis yang ketika itu hendak membakar Kampung Solor.

Ketika voa-islam bersilaturahim ke Pondok Pesantren Hidayatullah di Batakte, Kupang Barat, pimpinan pesantren tersebut juga menceritakan hal yang sama. Banyak mata yang menjadi saksi, yang saat itu melihat ada banyak anak kecil berjubah putih seraya memegang senjata tajam.

“Ketika itu pesantren didatangi kelompok massa Kristen sebanyak dua truk dengan menggunakan ikat kepala merah. Mereka bukan hanya memblokade jalan di Batakte, tapi juga bermaksud untuk membakar masjid di kompleks Hidayatullah. Alhamdulillah, Allah melindungi kami di sini. Kami ingat, santri yang hendak melalui blokade itu harus menyanyikan lagu-lagu Yesus atau gereja. Dengan terpaksa, santri itu menuruti kemauan mereka,” kenang Ustadz Usman Mamang, pimpinan Pesantren Hidayatullah Kupang, NTT.

Peristiwa Kupang 1998

Tanpa bermaksud membuka luka lama, perlu kiranya mengetahui latar belakang kejadian dan peristiwa kerusuhan Kupang tahun 1998. Bermula, dari acara perkabungan dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa Kristiani di Kupang yang tergabung dalam panitia Gemakristi sehubungan dengan peristiwa Ketapang Jakarta, berkembang menjadi aksi penutupan jalan raya.

Di sejumlah titik perkabungan di jalan-jalan dibangun blokade. Warga menyekat jalan antara lain dengan peti mati, salib berukuran besar, serta gambar Kristus bermahkota duri. Ini antara lain dapat disaksikan di depan Gereja Kota Kupang, dan beberapa lokasi di Jalan Soedirman, Kuanino.

Perkabungan ini berlangsung selama 24 jam, mulai Senin pukul 06.00 Wita. Perkabungan rencananya akan ditutup dengan kebaktian Oekumene, Selasa pagi di GOR Oepoi, Kupang. Upacara perkabungan diteruskan dengan pawai besar-besaran mengitari beberapa ruas jalan di Kota Kupang seperti Jalan Ahmad Yani-Merdeka, Urip Sumoharjo, Moh Hatta dan Sudirman Kuanino dan berbelok ke Jalan Pemuda-Jalan Cak Doko dan Jalan Lalamentik menuju ke Oebufu.Ketika itu semua kantor, pertokoan, dan pasar tutup. Kota Kupang sejak pagi Nampak lengang.

Kebanyakan warga kota dan daerah sekitarnya ambil bagian dalam aksi Gemakristi (Gerakan Perkabungan Umat Kristiani) sebagai wujud rasa solidaritas atas berbagai peristiwa, termasuk peristiwa Ketapang pekan lalu. Semua kendaraan angkutan penumpang dan barang dalam dan luar kota, berhenti beroperasi. Kantor pemerintah dan swasta, sekolah, pertokoan dan kios, tutup. Begitu juga pasar rakyat praktis lengang tanpa pengunjung.

Suasana berubah menjadi rusuh karena adanya sekelompok massa yang menyusup kedalam acara tersebut, telah memicu massa melakukan aksi pelemparan rumah ibadah/masjid dan pengrusakan terhadap beberapa rumah dan kantor serta tindak kerusuhan lainnya.

Kronologisnya, menurut data dari Departemen Pertahanan RI, tanggal 30 November 1998 pagi hari di kota Kupang dilaksanakan acara perkabungan nasional yang diawali dengan kegiatan membagi bunga di jalan-jalan protokol kepada setiap orang yang lewat kemudian berkembang menjadi penutupan/pemblokiran jalan-jalan raya.

Pukul 10.00 WITA tanggal 30 November 1998 suasana menjadi rusuh karena ada sekelompok massa dari luar kota menyusup kedalam acara tersebut. Saat melewati ruas jalan Oebufu, massa mulai melempari beberapa rumah, kios serta toko. Massa terus bergerak ke arah Jalan El Tari II menuju ke Penfui dan kembali memutar ke arah Oesapa.

Saat memasuki Jalan Adi Sucipto di kawasan Oesapa, beberapa rumah pengusaha yang berada di simpang tiga menjadi sasaran pelemparan sehingga kaca di bangunan itu berantakan. Hal yang sama juga terjadi di sekitar wilayah Oesapa Kecil. Beberapa kios dan bangunan serta sebuah sedan kacanya remuk dilempari batu.

Sekitar pukul 11.15 Wita, massa yang sudah tidak terkendali kembali lagi ke kota Kupang dan memasuki kawasan Kelurahan Solor. Di daerah ini juga terjadi saling lempar antara massa yang konvoi dengan warga setempat. Massa Kristen bahkan melakukan aksi pelemparan Masjid Al Fatah di kelurahan Solor serta Masjid Raya di kelurahan Fontein. Aksi tersebut terhenti sementara karena turun hujan, namun kemudian berlanjut kembali dengan sasaran pengrusakan dan pembakaran terhadap rumah ibadah, rumah tinggal dan fasilitas umum.

Pada pukul 13.10 WITA tanggal 1 Desember 1998 massa melakukan pengrusakan terhadap kantor Hutan Tanaman Industri Kupang.Pihak aparat kemudian melakukan langkah-langkah untuk melokalisir peristiwa agar tidak meluas, mengadakan dialog dan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menyelesaikan masalah.

Setelah terjadi aksi saling melempar di depan sebuah masjid, berita menyebar dengan cepat. Akibatnya ratusan pemuda dari berbagai penjuru berdatangan dan membalas provokasi, dan terjadilah saling lempar dengan warga di belakang kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.

Sekitar pukul 17.00 Wita, massa bergerak menuju kampus Universitas Muhammadiyah Kupang, namun dihalau pasukan keamanan. Menurut informasi hingga pukul 18.30 Wita, dua masjid dibakar yaitu di daerah sekitar Kolhua dan di Bakunase. Tiga lainnya dirusak, yaitu Masjid Raya Kupang, Masjid Attaqwa Naikoten, dan masjid di sekitar kantor Kodya Kupang.

Pembakaran lainnya menimpa Asrama Haji di Bilangan Oebufu, Kodya Kupang, sebagian bangunan Pasar Inpres Naikoten II, SMP dan SMA Muhammadiyah. Suasana kota hingga Senin malam mencekam. Warga kota terlihat saling curiga antara satu dengan yang lainnya. Mereka rata-rata membawa senjata tajam, pentungan dan lainnya.

Akibat kejadian tersebut, menimbulkan luka berat (2), luka ringan (25), kerusakan masjid/ mushola (9), rumah tinggal (44), kios/ toko (45), rumah makan (30), gedung sekolah (3), kendaraan roda 4 (14) dan roda dua (16) serta 3.962 penduduk mengungsi.

Kerusuhan pun meluas, aksi perkabungan nasional juga berlangsung di Kota SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (70 Km sebelah Timur Kupang). Begitu lonceng gereja berbunyi, penduduk keluar rumah mengetuk tiang listrik dengan membawa parang, golok, dan benda tajam lainnya. Masjid dikepung, dirusak, dan dibakar. Rumah dan toko milik milik BBMJ (Bugis, Bone, Makasar, dan Jawa) yang muslim itu diobrak-abrik, dirusak dan dijarah massa Kristen. Hari tu, tak ada Media lokal yang memberitakan, sebab, informasi kan sudah dimonopoli nonmuslim.

Yang mengejutkan, saat menjadi penceramah dalam seminar yang digelar Universitas Nusa Cendana, Theo Syafei ketika itu (15 November 1998) mengatakan, kalau di Jawa orang bisa bakar gereja, kenapa kita di sini tak bisa bakar masjid. Tepuk tangan pun bergemuruh di kampus itu.

Kupang dan sekitarnya ibarat api dalam sekam, jika daerah lain yang disulut, maka akan berimbas ke Kupang. Ingat Kasus Ketapang di Jakarta, bara api itu sampai terbawa ke Kota Kupang. Hampir saja, kasus Temanggung, kembali menyulut di kota ini. Saat ini masyarakat Kupang pada umumnya, semakin dewasa, mereka tak mau lagi diprovokasi oleh pihak dan kelompok tertentu yang ingin Kupang membara dan berdarah-darah. Desastian

sumber : voa-islam.com

Jumat, 28 Oktober 2011

Tiga Tahun Lalu Saat Mendengar Adzan, Tiba-tiba Lieslie Carter Menangis Begitu Saja


Leslie Carter kini bekerja di pusat kebudayaan Islam di departemen erempuan sebagai koordinator wanita. Wanita asal Irlandia ini sudah tiga tahun menjadi Muslim. Ia berpindah agama dari Kristen. “

Sayabangga dilahirkan sebagai orang Irlandia. Saya juga bangga menjadi seorang muslim,” tuturnya.

Sekilas mengenai kehidupan sipil di Irlandia, semua urusan agama dipisahkan dengan urusan yang lain. Saat pusat budaya Islam diIrlandia dibangun pada 1996, ia melihat pusat budaya itu sebagaisesuatu yang sangat menakjubkan.

Pusat perkumpulan orang Islam yang didanai oleh yayasan Al-Maktoum d Dubai ini dibangun dengan arsitektur dan interior khas Irlandia. "Sebuah hal yang menakjubkan melihat pusat kebudayaan Islam terbesardan satu-satunya di Eropa didirikan di Irlandia,” ujarnya.

Ia telah menikah dan memiliki seorang anak berusia lima tahun. Saat menikah dulu, Leslie masih menganut Kristen. Suaminya seorang Muslim.

Walaupun berbeda agama, sepasang suami istri ini tidak pernah cek cok soal agama dalam kehidupan rumah tangganya. “Saya pergi ke gereja, dia pergi ke masjid. Saya merayakan natal, dia merayakan Idul Fitri. Kami saling menghormati,” ujarnya.

Hidup bersama dengan seorang muslim, membuatnya merasakan banyak kemiripan antara Islam dan Kristen. “Masing-masing kami mempercayai nabi, malaikat. Kami sama-sama tidak boleh mencuri, tak boleh membunuh,” ujarnya.

Yang berbeda adalah soal pengakuan trinitas. Kristen yang selama ini ia kenal adalah agama yang paling dekat dengan Islam. Lieslie pun sebenarnya telah memiliki banyak pertanyaan tentang kekristenanya selama masih remaja. Ia selalu merasa tidak nyaman ketika harus melakukan pengakuan dosa.

Ia risih harus menceritakan kepada pastor atas semua dosa-dosanya. Ia berpikir dosa adalah antara manusia dan Tuhan. Perlahan, ia mulai menjauh dari Kristen. Ia mulai membaca tentang Islam.

Alami Fase Cepat

Tiga tahun lalu, tanpa direncanakan, Lieslie memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Suatu hari, kebetulan ia akan pergi ke pasar. Ia pergi bersama sang suami yang hendak pergi ke kantor. Ia juga merencanakan untuk mengunjungi salah seorang kenalannya yang juga satu kantor dengan sang suami.

Saat ada adzan, suami pergi untuk shalat. Tiba-tiba saja ia menangis. Rasanya seperti ada sesuatu. “Ada semacam cahaya di dalam hati. Dan aku tahu akau tak mungkin meninggalkan masjid itu tanpa mengikrarkan keislaman saya,” katanya.

Sebenarnya, ia memang merencanakan untuk pindah keyakinan dari Kristen menjadi Islam. Tapi ia tak pernah menyangka proses ‘berislamnya’terjadi hanya dalam waktu tiga tahun saja. “Aku mengira mungkin akan berpindah agama dalam waktu 10 tahun atau entah ” katanya.

Sejak memeluk Islam, ia mengaku belum mengenakan jilbab sepanjang waktu. Ia hanya memakai pakaian yang biasa dibeli di toko. Tapi, ia tak pernah memakai baju ketat. “Bahkan sebelum bertemu dengan calon suami saya atau sebelum saya memeluk Islam sekalipun,” katanya.

Putri sulung Lieslie, kini berusia lima tahun. Dia sering menonton TV. Jika melihat wanita dengan pakaian mini di layar, ia akan berteriak "haram!” dan segera mengganti saluran TV.

“Ia masih berumur limatahun, tapi tak suka memakai rok diatas lutut. Ia suka memakai rok panjang,” katanya. Lieslie senang karena putrinya sudah memiliki polapikir yang baik sejak masih kecil.

Islam di Irlandia

Di dekat tempat tinggal lieslie, ia sering mendengar banyak orang yang berkomentar negatif tentang Islam. Ia menganggap orang yang sering memberikan komentar negatif soal muslim karena tidak memiliki rasa hormat, pendidikan dan moral yang baik.

Sementara itu, ia melihat kehidupan muslim di Irlandia sebagai suatu hal yang menarik. Banayak orang yang berbondong-bondong masuk Islam. Irlandia bukanlah negara dengan penduduk besar, tapi sekitar 23.000 warganya kini telah menjadi muslim. “Berarti ada sesuatu di dalam Islam,” ujarnya.

sumber : republika.co.id

Sabtu, 27 Agustus 2011

Mualaf Mu Kim Ni: Memilih Islam karena Kagum dengan Harmonisasi Keluarga Muslim


Karena merindukan profil keluarga yang rukun dan damai, Mu Kim Ni, kabur dari rumahnya di Baturaja Sumatera Selatan, tahun 1991. Saat itu, ia baru tamat SMA. Ani, begitu perempuan kelahiran 17 Oktober 1972 ini akrab disapa, menemuka kedamaian dan keharmonisan justru di dalam keluarga sahabat–sahabatnya yang dijumpai di rumah mereka saat belajar bersama semasa SMA.

Ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang mendorongnya memeluk Islam. Namanya kemudian berganti menjadi Murniati Mukhlisin.

"Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga," kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni (11), Hayyan Hani Tamanni (9) dan Rayyan Ayman Tamanni (7) ini.

Namun bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani tak terlalu mengambil hati dan tetap melakukan pendekatan pada keluarga.

Melalui seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi orangtua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. "Walau kadang sedih juga, karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab," katanya.

Walau jauh dari kampung halamannya, ia tetap memperhatikan keluarganya, yang saat itu belum sepenuhnya menerima keislamannya.
Ani mengungkapkan, sejak kabur dari rumah, ia berusaha mengambil hati keluarganya. Berkirim kabar dan hadiah, salah satu upayanya.

Kerja keras wanita yang kini menjabat sebagai wakil ketua Sekolah Tinggi Eknomi Islam Tazkia ini, membuahkan hasil. Mama dan beberapa adiknya luluh hatinya. Tak hanya merangkulnya kembali, belakangan mereka juga turut menganut Islam. Keinginannya terkabul: memiliki keluarga yang hangat dan saling mendukung.

Di sisi spiritual, Ani terus mengasah ilmu agamanya. Ia yang terpacu untuk terus mendalami Islam dengan melanjutkan kuliah di bidang akuntansi syariah setelah dua tahun bekerja di Jakarta. Ani berhasil melanjutkan kuliah di International Islamic Unviersity Malaysia dengan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta di sana. Di sana pula Ani belajar Islam lebih insentif, termasuk belajar bahasa Arab.

Bekal keluwesannya dalam bergaul dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab serta keaktifannya dalam organisasi, membuat Ani semakin mandiri. Bahkan, istri Luqyan Tamanni ini sudah mendapatkan pekerjaan bergengsi ketika belum selesai kuliah, di sebuah lembaga akuntan publik ternama di negeri jiran itu.

Kini, perempuan yang sangat meminati kajian standar akuntansi keuangan syariah internasional ini, segera berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah strata tiga. ''Insya Allah dalam waktu dekat saya berangkat," katanya. Di Gloucestershire University, ia bakal menimba ilmu ekonomi syariah.

sumber : republika.co.id

Jumat, 26 Agustus 2011

Kisah Singkat Sigit Nugroho, Dahulu Atheis Kini Ketua Talk Show Ramadhan 2011


Sore itu di gedung Fatahilah Masjid Sunda Kelapa (Sabtu, 13 Agustus 2011) sebuah kegiatan diskusi digelar dengan tema Kesalehan Sosial. Diskusi itu dihadiri oleh para mualaf.

Dalam acara tersebut ada salah satu anggota yang cukup menarik perhatian. Dia adalah Sigit Nugroho Wartawan senior Bola yang memiliki jaringan luas di tingkat Internasional. Ia adalah seorang mualaf yang kini mendirikan OLE!.

Pria kelahiran Semarang, 6 Oktober 1965 ini adalah anak tunggal dari pasangan Letkol Pol Djati Koenjtono(Alm) dan Soeharsi. Selain sebagai seorang wartawan ia juga berfrofesi sebagai komentator olah raga disejumlah stasiun televisi swasta dan juga stasiun tv nasional.

Sigit mengaku sudah dua tahun memeluk Islam. Sebelum memilih Islam, ia sebelumnya telah melewati tiga fase agama dalam kehidupannya.

Pertama ia dulu seorang yang tidak beragama (atheis), kemudian ia masuk menjadi orang khatolik. Tak beberapa lama kemudian ia keluar dari agama tersebut dan kemudian menjadi seorang Muslim

Kini Sigit mengakui lebih giat untuk memperdalam ajaran agama islam dan tidak akan mempermainkan agama seperti sebelumnya. Ada pengalaman religi yang ia ungkapkan setelah dirinya memeluk agama Islam.

Ia mengaku dahulu sebelum dirinya menjadi seorang mualaf, ia merasakan ketidaktenangan dalam hidup. Tak hanya itu, ia merasa uang hasil kerjanya tak bisa dinikmati dengan baik karena membuat tubuh jadi panas.

Namun kini setelah ia masuk dan memeluk agama islam, ia merasakan ketenangan dalam hidup dan uang hasil kerjanya dapat dinikmati tanpa ada keganjilan.

Setelah benar-benar mencoba menjadi seorang Muslim yang taat ibadah dan mempunyai pengetahuan agama, Sigit merasakan kedamaian dan ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan. "Islam menjadikann saya pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan," ujarnya.

Dahulu. tutur Sigit, ia selalu menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya. Ia juga mengaku tidak mempunyai seorang teman pun untuk membantunya mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya.

Kini setelah menjadi seorang Muslim ia mempunyai banyak teman dan selalu terbantu dalam memecahkan permasalah yang ada dalam kehidupannya. Diisinilah ia mengetahui arti islam yang sebenarnya.

Ramadhan selalu dimaknai Sigit sebagai bulan yang sangat istimewa, karena pada saat bulan suci ini, ia bisa lebih bersabar dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang. Kondisi itu menjadikan dirinya mempunyai ketegaran iman yang kuat dalam memaknai kehidupan yang baru sebagai seorang muslim.

Ramadhan kali ini ia juga mempunyai tugas yang cukup berat namun sekaligus pengalaman cukup berarti. Pasalnya ia menjadi ketua umum dalam acara kegiatan Talk Show Ramadhan 2011 yang diadakan bersama para mualaf yang ada di Jakarta.

Dalam penggalangan dana, ternyata ia mengalami kesulitan. “Untuk urusan agama ko masih banyak ya yang sulit sekali beramal dan menyisihkan sedikit hartanya di bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah ini” tuturnya.

Kini sebagai seorang Muslim, ia pun juga mempunyai keinginan mengajak para mualaf yang lain untuk lebih giat mempelajari ilmu agama islam dan mengetahui pengetahuan yang luas tentang ajaran islam.

Sigit pun memberikan sedikit saran kepada para mualaf lain yang datang di acara diskusi ini. "Sebagai eorang mualaf kita harus benar-benar pegang teguh agama ini, janganlah kalian main-mainkan ajaran Islam ini, dan para mualaf yang lain harus tetap semangat menghadapi cobaan yang begitu sulit, apalagi setelah kita mengucap ikrar keimanan," ujarnya.

sumber : republika.co.id

Rabu, 24 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Teladan dalam Rumah Tangga Rasulullah


Umar kemudian pergi ke masjid, dan dengan suara lantang ia berkata kepada kaum Muslimin, "Rasulullah SAW tidak menceraikan isterinya."

Sehubungan dengan peristiwa ini, turun ayat-ayat suci ini: "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Tahrim: 1-2)

"Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula."

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan."
(QS At-Tahrim: 3-6)

Dengan demikian peristiwa itu selesai. Istri-istri Nabi kembali sadar, dan beliau pun kembali kepada mereka setelah mereka benar-benar bertaubat, menjadi manusia yang rendah hati beribadah dan beriman. Kehidupan rumah tangganya sekarang kembali tenang, yang memang demikian diperlukan oleh setiap manusia yang sedang melaksanakan suatu beban besar yang ditugaskan kepadanya.

Apabila orang itu orang besar seperti Muhammad SAW, lemah-lembut seperti beliau, berlapang dada, tahan menderita, orang berwatak dengan segala sifat-sifat yang ada padanya—yang sudah disepakati dan diakui pula oleh semua penulis sejarah Hidupnya—maka menggambarkan salah satu dari kedua peristiwa itu an sich sebagai sebab ia memisahkan diri dan mengancam hendak menceraikan istri, adalah suatu hal yang kebalikannya, jauh daripada suatu cara kritik sejarah.

Sebaliknya, kritik yang akan dapat diterima orang dan sejalan pula dengan logika sejarah ialah apabila peristiwa-peristiwa itu mengikuti jejak yang sebenarnya, yang akan membawa kepada kesimpulan-kesimpulan yang sudah pasti tidak bisa lain akan ke sana. Maka dengan demikian ia akan menjadi masalah biasa, masuk akal dan secara ilmiah dapat diterima.

Ada beberapa orientalis yang juga bicara tentang ayat-ayat yang turun pada permulaan surah At-Tahrim seperti di atas. Disebutkan bahwa semua kitab suci di Timur tidak ada yang menyebut-nyebut peristiwa rumah tangga dengan cara semacam itu.

Rasanya tidak perlu kita mengatakan lagi apa yang tersebut dalam kitab-kitab suci itu semua—termasuk Alquran di antaranya tentang masyarakat Luth dengan segala cacat mereka. Bahkan Taurat (Perjanjian Lama) membawa cerita tentang Luth dan dua anaknya yang perempuan ketika mereka memberikan minuman anggur kepada bapaknya sehingga dua malam berturut-turut ia mabuk, dengan maksud supaya dapat masing-masing mereka dapat tidur dengan Luth dan dengan demikian mereka memperoleh keturunan—karena khawatir keluarga Luth kelak akan punah, setelah Tuhan menurunkan bencana. Oleh sebab itu, maka semua kitab suci membuat kisah-kisah para rasul serta apa yang mereka lakukan dan segala apa yang terjadi, ialah sebagai suri teladan bagi umat manusia.

Banyak sekali kisah-kisah demikian dalam Alquran. Tuhan menyampaikan kisah-kisah yang baik sekali kepada Rasulullah. Sedang Alquran bukan hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad, melainkan kepada seluruh umat manusia. Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul, sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul lain yang dibawakan kisahnya dalam Alquran.

Jika Qur'an menyampaikan berita-berita tentang Muhammad SAW dan menyangkut pula kehidupan pribadinya yang perlu menjadi contoh buat kaum Muslimin dan teladan yang baik pula, serta memberi isyarat tentang arti dalam tindakan dan kebijaksanaannya itu, maka kisah-kisah para nabi yang terdapat dalam Alquran itu sama sekali tidak berarti keluar daripada apa yang terdapat dalam kitab-kitab suci lain.

Apabila kita mengatakan bahwa masalah Muhammad SAW meninggalkan istrinya itu bukan sebab yang berdiri sendiri di samping sebab-sebab lain yang telah menimbulkan cerita itu, juga bukan karena Hafshah bercerita kepada Aisyah tentang apa yang dilakukan Nabi dengan Maria—suatu hal yang memang patut dilakukan oleh setiap laki-laki terhadap istrinya atau siapa saja yang sah menjadi miliknya—orang akan melihat, bahwa tinjauan yang dikemukakan oleh beberapa orientalis itu, dari segi kritik sejarah sama sekali tidak dapat dibenarkan. Juga tidak pula sejalan dengan apa yang ada dalam kitab-kitab suci sehubungan dengan kisah-kisah dan kehidupan para nabi itu.

sumber : republika.co.id

Senin, 22 Agustus 2011

Khotbah Paus Disambut Badai Hujan dan Petir, Padahal Siangnya Cuaca Panas


Tak hanya demonstran yang menyambut kunjungan Paus Benediktus XVI di Madrid, Spanyol. Bahkan badai, hujan dan petir pun ikut menyambut Paus saat pidato. Padahal siangnya, cuaca sangat panas mencapai 40 derajat Celcius.

Badai petir memaksa Paus Benediktus XVI memperpendek khotbahnya di hadapan satu juta peziarah muda, yang berkumpul di lapangan terbang Madrid, Spanyol, untuk memperingati Hari Pemuda Dunia, Sabtu (20/8/2011).

Ketika hujan membasahi kerumunan orang dan petir menerangi langit malam, Paus berusia 84 tahun ini melewatkan sebagian besar pidatonya. Ia hanya menyampaikan salam singkat dengan menggunakan setengah lusin bahasa.

Paus menyerukan kepada massa misa Minggu untuk menjadi misionaris bagi iman. "So do not keep Christ to yourselves. Share with others the joy of your faith," ujar Paus singkat. (Jangan simpan Kristus untuk diri kalian sendiri. Berbagilah dengan orang lain spaya merasakan sukacita iman kalian).

Dia tetap nyaman selama misa berkat sistem pendingin di altar. Paus pun mengumumkan bahwa Hari Pemuda Dunia berikutnya akan berlangsung di Rio de Janiero pada 2013, satu tahun lebih awal untuk menghindari bentrokan dengan Piala Dunia 2014 di Brazil.

Akibat hujan deras itu, beberapa kapel darurat di pinggiran lapangan terbang itu rusak. Ini memaksa penyelenggara mengumumkan, Minggu (21/8/2011), bahwa tidak semua orang akan dapat menerima komuni selama misa. Bahkan, kata Yago de la Cierva, ketua panitia Hari Pemuda Dunia, nyaris tidak akan ada orang yang menerima Ekaristi.

Kejadian ini sangat aneh, karena siang harinya cuaca sangat panas mencapai 104 derajat Fahrenheit, atau mendekati 40 derajat Celcius. Untuk mengurangi terik, petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air kepada massa, dan peziarah pun mencari tempat teduh untuk berlindung.

Badai, hujan dan petir saat Paus berpidato itu menambah daftar kerepotan Paus di Spanyol. Sebelumnya, seperti diberitakan voa-islam.com, Paus didemo umat Katolik karena biaya kunjungannya yang terlalu mahal diambil dari pajak rakyat Spanyol.

Biaya kunjungan Paus yang besarnya lebih dari 100 juta euro diprotes pendemo karena saat ini pemerintah Spanyol yang sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi. Spanyol telah mengadopsi langkah penghematan, guna memenuhi target pengurangan defisit. Tingkat pengangguran saat ini di Spanyol berada pada level 20,89 persen, sementara tingkat pengangguran kaum muda melebihi angka 45 persen. [silum/pelita, the guardian]

sumber : voa-islam.com

Kisah Sahabat Nabi: Mu'adz bin Jabal, Pelita Ilmu dan Amal


Tatkala Rasulullah mengambil baiat dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat. Perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu'adz bin Jabal RA.

Dengan demikian, ia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun—golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan.

Maka demikianlah halnya Mu'adz. Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: "Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz?"

"Kitabullah," jawab Mu'adz.

"Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya Rasulullah pula.

"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul."

"Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?"

"Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia," jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah," sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai "orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram".

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A'idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

"Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu'adz bin Jabal," tutur A'idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, "Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya."

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara."

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu'adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satu pun yang akan kuambil darimu," ujar Abu Bakar.

"Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik," kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu'adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu'adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.

Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, Mu'adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Mu'adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka beliau bertanya, "Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?"

"Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah," jawabnya.

"Setiap kebenaran ada hakikatnya," kata Nabi pula, "maka apakah hakikat keimananmu?"

"Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka."

Maka sabda Rasulullah SAW, "Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!"

Menjelang akhir hayatnya, Mu'adz berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan."

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, "Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan..." Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah.

sumber : republika.co.id

Para Perawi Hadits: Ibnu Majah, Pakar Hadits dan Sejarah


Dari sekian banyak ulama yang dikenal sebagai ahli hadits dan banyak meriwayatkan sabda-sabda Nabi SAW adalah Imam Ibnu Majah. Nama lengkapnya Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i Al-Qazwini. Ia lebih akrab dipanggil Ibnu Majah.

Ulama yang dikenal kejujuran dan akhlak mulianya ini dilahirkan di Qazwin, Irak pada 209 H/824 M. Sebutan Majah dinisbahkan kepada ayahnya, Yazid, yang juga dikenal dengan nama Majah Maula Rab’at. Ibnu Majah adalah muhaddits ulung, mufassir dan seorang alim. Ia memiliki beberapa karya, di antaranya adalah Kitabus Sunan, Tafsir dan Tarikh Ibnu Majah.

Ibnu Majah mulai belajar sejak usia remaja. Namun baru mulai menekuni bidang ilmu hadits pada usia 15 tahun pada seorang guru ternama kala itu, yaitu Ali bin Muhammad At-Tanafasi. Bakat dan minatnya di bidang hadits makin besar.

Hal inilah yang membuat Ibnu Majah berkelana ke beberapa daerah dan negara guna mencari, mengumpulkan, dan menulis hadits. Puluhan negeri telah ia kunjungi, antara lain Rayy (Teheran), Bashrah, Kufah, Baghdad, Khurasan, Suriah, dan Mesir.

Dengan cara inilah, Ibnu Majah dapat menghimpun dan menulis puluhan bahkan ratusan hadits dari sumber-sumber yang dipercaya kesahihannya. Tak hanya itu, dalam berbagai kunjungannya itu, ia juga berguru pada banyak ulama setempat. Seperti, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numayr, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin Al-Azhar, Basyar bin Adam, dan para pengikut perawi dan ahli hadits, Imam Malik serta Al-Lays.

Dari pengembaraannya ini, tak sedikit ulama yang akhirnya meriwayatkan hadits dari Ibnu Majah. Antara lain Ishaq bin Muhammad, Ali bin Ibrahim bin Salamah Al-Qattan, Ahmad bin Ibrahim, dan sebagainya.

Sepanjang hayatnya, Imam Ibnu Majah telah menulis puluhan buku, baik dalam bidang hadits, sejarah, fiqh, maupun tafsir. Di bidang tafsir, ia antara lain menulis Tafsir Alquranul Karim. Sementara itu, di bidang sejarah, Ibnu Majah menulis buku At-Tarikh, karya sejarah yang memuat biografi para perawi hadits sejak awal hingga ke masanya. Lantaran tak begitu monumental, kemungkinan besar kedua karya tersebut tak sampai di tangan generasi Islam berikutnya.

Yang menjadi monumental dan populer di kalangan Muslim dan literatur klasik dari karya Ibnu Majah adalah kitab di bidang hadits berjudul Kitab Sunan Ibnu Majah. Kitab ini merupakan karya terbesarnya. Di bidang ini pula, Ibnu Majah telah meriwayatkan sedikitnya 4.000 buah hadits.

Bahkan seperti diungkapkan Muhammad Fuad Abdul Baqi, penulis buku Mu’jam Al-Mufahras li Alfaz Alquran (Indeks Alquran), jumlah hadits dalam kitab Sunan Ibnu Majah berjumlah 4.241 buah hadits. Sebanyak 3.002 di antaranya termaktub dalam lima kitab kumpulan hadits yang lain. "Tak hanya hukum Islam, dalam kitab Sunan Ibnu Majah tersebut juga membahas masalah-masalah akidah dan muamalat. Dari sekian banyak hadits yang diriwayatkan, beberapa kalangan ulama mengkategorikan sebagiannya sebagai hadits lemah," kata Baqi.

Sunan Ibnu Majah ini berisikan hadits yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik ada hampir 30 hadits maudhu' di dalam Sunan Ibnu Majah walaupun disanggah oleh As-Suyuthi.

Atas ketekunan dan kontribusinya di bidang ilmu-ilmu Islam itu, khususnya disiplin ilmu hadits, banyak ulama yang kagum dan menilainya sebagai salah seorang ulama besar Islam. Seorang ulama bernama Abu Ya’la Al-Khalili Al-Qazwini misalnya, berkata, "Ibnu Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghapal hadits."

Ulama lainnya, Zahabi dalam Tazkiratul Huffaz, melukiskannya sebagai seorang ahli hadits besar dan mufassir (ahli tafsir), pengarang kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadits kenamaan negerinya.

Sementara mufassir besar kenamaan, Ibnu Kasir, dalam karyanya, Al-Bidayah, berkata, "Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah) adalah pengarang Kitab Sunan yang masyhur. Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadits dan usul serta furu’."

Al-Imam Al-Bushiri menulis ziadah (tambahan) hadits di dalam Sunan Abu Dawud yang tidak terdapat di dalam Kitabul Khomsah—Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Tirmidzi—sebanyak 1.552 hadits di dalam kitabnya Misbah Az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah, serta menunjukkan derajat shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’. "Oleh karena itu, penelitian terhadap hadits-hadits di dalamnya amatlah urgen dan penting," kata Bushiri.

Setelah sekian lama mendedikasikan hidup dan pemikirannya kepada Islam, Sang Khaliq akhirnya memanggil Imam Ibnu Majah selama-lamanya pada tanggal 22 Ramadhan 273 H/887 M. Ia dimakamkan di tanah kelahirannya, Qazwin, Irak. Umat Islam terus mengenangnya melalui berbagai karyanya, terutama Kitab Sunan Ibnu Majah yang termasuk dalam Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadis).

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kecemburuan Ummahatul Mukminin


Rasulullah sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka (para istrinya), meninggalkan mereka, supaya sikap kasih sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka kian melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) itu sudah melampaui sopan santun, sehingga ketika terjadi percakapan antara Rasulullah dengan Aisyah. Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Rasulullah. Dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafshah pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala beliau sedang di rumah Hafshah dan agak lama. Ketika Hafshah kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang meluap-luap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi.

Ketika Maria keluar kemudian, Hafshah masuk menjumpai Nabi. "Saya sudah melihat dengan siapa kau tadi," kata Hafshah. "Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu."

Rasulullah segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafshah mengungkapkan perasaannya, dan membicarakannya kembali dengan Aisyah atau Ummul Mukminin yang lain.

Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafshah, Rasulullah bahkan hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya, jika Hafshah tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafshah berjanji akan melaksanakan. Namun kecemburuan begitu berkecamuk dalam hatinya, sehingga dia tidak sanggup lagi menyimpan perasaannya. Dan Hafshah pun menceritakan kejadian tersebut kepada Aisyah.

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab binti Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa beliau berlaku tidak adil terhadap para istrinya. Dan karena cintanya kepada Aisyah beliau telah merugikan yang lain.

Dalam berterus terang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para istrinya, ia bahkan mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk. Sehingga membuat Aisyah marah, namun ditenangkan oleh Rasulullah.

Namun Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah hingga melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain bagi Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Aisyah pun membalas kata-kata Zainab dan membuatnya terdiam.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan istri-istri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab beliau dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain. Sehingga Nabi bermaksud hendak menceraikan sebagian mereka.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini, Rasulullah—yang telah mengangkat tinggi derajat mereka—masih tetap bersikap lemah-lembut. Rasulullah tidak punya waktu untuk melayani sikap yang demikian dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang istri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan Ummahatul Mukminin itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula.

Rasulullah harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwahnya, seperti yang sudah ditentukan Allah kepadanya. Beliau hendak memberi pelajaran dengan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian.

Akhirnya, selama sebulan penuh Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga tak seorang pun yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu Rasulullah memusatkan perhatiannya pada upaya dakwah dan penyebaran Islam di Jazirah Arab.

Pada saat yang demikian, Abu Bakar dan Umar bin Khathab serta para mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Ummahatul Mukminin. Mereka khawatir dengan kemarahan Rasulullah yang akan berakibat pula dengan kemurkaan Allah dan para malaikat.

Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa Nabi telah menceraikan Hafshah, putri Umar, setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan kaum Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan istri-istrinya. Pada saat yang sama, para istri Rasulullah pun gelisah pula. Mereka menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai sebegitu jauhnya menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka, Rasulullah adalah segalanya dalam hidup ini.

Kini Rasulullah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama beliau dalam bilik itu, pelayannya yang bernama Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Sudah sebulan lamanya Rasulullah dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para istrinya.

Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam masjid dalam keadaan menekur. Mereka berbincang-bincang bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Kesedihan mendalam membayang jelas pada wajah mereka.

Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri, hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya. Dipanggilnya Rabah agar dimintakan izin hendak menemui Rasulullah. Namun Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengizinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaannya. Namun Rabah tetap tidak memberikan jawaban.

Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras. "Rabah, mintakan aku izin kepada Rasulullah SAW. Kukira beliau sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafshah. Sungguh, kalau beliau menyuruhku memenggal leher Hafshah, akan kupenggal."

Sekali ini Nabi memberi izin dan Umar pun masuk. Ketika Umar sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

"Apa yang membuatmu menangis, Ibnul Khathab?" tanya Rasulullah lembut.

Yang membuat Umar menangis adalah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya. Dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan dan kulit yang digantungkan.

Setelah mengatakan apa yang menyebabkannya menangis, dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, Umar pun kembali tenang.

"Rasulullah," kata Umar, "Apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para istri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu. Demikian juga para malaikat—Jibril dan Mikail—juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu."

Kemudian Umar terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajah beliau dan beliau pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini, ia kemudian menceritakan keadaan Muslimin yang ada di masjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya—Ummahatul Mukminin.

Nabi mengatakan bahwa beliau tidak menceraikan mereka. Dan Umar minta izin untuk mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang kini masih menunggu di masjid.

sumber : republika.co.id

Jumat, 19 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Sikap Rasulullah Terhadap Istri


Kecemburuan yang terjadi di antara para istri Rasulullah wajar terjadi. Beliau telah memberi tempat dan kedudukan kepada istri-istrinya sedemikian rupa, suatu hal yang tidak pernah dikenal di kalangan Arab.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khathab pernah berkata, "Sungguh, kalau kami dalam zaman jahiliyah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Kami menghargai mereka setelah Allah memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka."

Suatu ketika, saat Umar sedang dalam suatu urusan tiba-tiba istrinya berkata, "Coba kau berbuat begini atau begitu."

"Ada urusan apa engkau di sini, dan perlu apa engkau dengan urusanku!" kata Umar dengan nada tinggi.

Istrinya membalas, "Aneh sekali engkau, Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal putrimu menentang Rasulullah SAW sehingga beliau gusar sepanjang hari."

Umar kemudian mengambil mantelnya, lalu keluar menemui putrinya, Hafshah. "Anakku," kata Umar, "Engkau menentang Rasulullah SAW sampai beliau merasa gusar sepanjang hari?"

Hafshah menjawab, "Memang kami menentangnya."

"Engkau harus tahu, anakku. Kuperingatkan engkau, jangan terpedaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah SAW hanya karenanya."

Kemudian Umar pergi menemui Ummu Salamah, karena mereka masih berkerabat. Dia ingin membicarakan masalah Hafshah. Ummu Salamah berkata, "Aneh sekali engkau, Umar! Engkau sudah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah SAW dan rumah tangganya!'

Umar tak mampu berkata-kata. Ia pun kemudian pergi.

Muslim dalam Shahih-nya menyebutkan bahwa Abu Bakar pernah meminta izin kepada Nabi akan menemuinya dan setelah diizinkan ia pun masuk, kemudian datang Umar meminta izin dan masuk pula setelah diberi izin.

Mereka menjumpai Nabi SAW sedang duduk dalam keadaan masygul di tengah-tengah para istrinya yang juga sedang masygul dan diam. Ketika itu Umar berkata, "Saya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Nabi SAW tertawa." Lalu kata Umar, "Wahai Rasulullah, jika engkau melihat Binti Kharijah—istri Umar—meminta uang belanja kepadaku, maka aku bangun dan meninju lehernya."

Maka Rasulullah pun tertawa, seraya berkata, "Mereka itu sekarang di sekelilingku meminta uang belanja!"

Ketika itu Abu Bakar lalu menghampiri Aisyah dan meninju lehernya, demikian juga Umar, ia menghampiri Hafshah dan meninjunya, sambil berkata, "Kalian meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW!"

Mereka pun menjawab: "Demi Allah, kami sama sekali tidak minta kepada Rasullullah, sesuatu yang tidak dipunyainya."

Sebenarnya, Abu Bakar dan Umar waktu itu menemui Nabi, karena beliau tidak tampak keluar waktu shalat. Karena itu kaum Muslimin bertanya-tanya, ada apa gerangan yang menghalangi.

Dalam peristiwa Abu Bakar dan Umar dengan Aisyah dan Hafshah inilah turun firman Allah: "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar." (QS Al-Ahzab: 28-29)

Nabi telah memberi kedudukan kepada istri-istrinya, sedang sebelum itu—seperti wanita-wanita Arab lainnya—mereka tidak pernah mendapat penghargaan orang. Jadi wajar jika sikap mereka kini agak berlebih-lebihan dalam menggunakan kebebasan, suatu hal yang tidak pernah dialami oleh sesama kaum wanita.

Sampai-sampai ada di antara mereka yang menentang Nabi dan membuat Nabi gusar sepanjang hari. Beliau sudah berusaha menghindarkan diri dari mereka, meninggalkan mereka, supaya kasih sayang beliau kepada mereka tidak sampai membuat tingkah laku mereka tambah melampaui batas. Bahkan ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

sumber : republika.co.id

Kamis, 18 Agustus 2011

Tanya, Gadis Piatu Kanada yang Menemukan Damai dalam Islam


- Namanya Tanya. Kemiskinan membuatnya harus tinggal di panti asuhan. Ibunya tak lagi mampu menanggung ekonomi keluarga sepeninggal ayahnya.

Ia pernah menghuni tiga rumah asuh yang berbeda. "Selama waktu itu aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya ibu, ayah dan tidak ada teman, tidak ada tempat dimana saya bisa berpegang," katanya.

Dalam kesendirian itulah, ia mencari pegangan hidup: Tuhan. "Aku mulai menghadiri kebaktian di Gereja Pantekosta. Minggu menjadi hari yang kutunggu," katanya.

Beranjak remaja, ia bertemu seorang Muslim di sekolahnya. "Aku menjelaskan kepadanya lebih banyak tentang Kristen dan ia menjelaskan kepada saya tentang Islam," katanya. Namun, sang teman selalu menyangkal penjelasannya, dengan alasan yang logis.

Tak ingin terpengaruh, ia ke perpustakaan dan meneliti lebih lanjut tentang Islam, Kristen, dan semua agama, "Pintu-pintu terasa mulai terbuka bagiku," ia menggambarkan.

Islam, yang kerap dipandang sebelah mata publik Barat, tiba-tiba memukaunya, setelah membaca beragam literatur. "Islam memberi tuntutan nyata bagi umatnya," katanya.

Ia bimbang. "Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa berpikir, aku gelisah. Ini tidak masuk akal lagi," katanya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk berdoa pada siapapun Pencipta-nya. "Tolong jawab aku, beri aku arah dan pijakan. Beri aku pegangan. Aku hampir hilang," ia mengisahkan doanya saat itu.

Alhamdulillah, katanya, dalam dua hari, ia segera menemukan jawaban. Saat itu, ia tengah berada di dalam kelas 11 mengikuti pelajaran matematika. Islam dan Muhammad, dua kata itu yang mengisi hatinya. Ia terlonjak dan berlari ke luar kelas. "Hatiku hanya diisi dengan sukacita," katanya.

Ia pergi ke toilet. "Aku tak tahu apa itu wudhu, tapi aku tahu Islam menganjurkan bersuci. Aku menyiram wajahku, mencoba untuk mendapatkan suci itu," katanya.

Ia menemui temannya yang Muslim, dan meminta diislamkan. Sang teman mengajaknya ke rumahnya, dan mengenalkan pada orang tuanya.

Mereka tak langsung mengislamkan Tanya. Alih-alih menuntunnya bersyahadat, mereka malah memberinya pakaian, buku-buku, dan kehangatan sebuah keluarga. Baru setelah ia menyatakan kemantapan hatinya berislam, mereka mengantarkan Tanya ke masjid untuk bersyahadat.

"Hidupku telah benar-benar berubah setelah itu," akunya. Kini, ia tak lelah berbagi tentang bagaimana ia mendapatkan kedamaian batin dengan banyak orang. "Bukan dengan ke diskotik, minum, atau hura-hura. Tapi dengan mendekat pada Allah."

sumber : republika.co.id

Rabu, 17 Agustus 2011

Kumpulan SMS Ucapan Lebaran dan Idul Fitri 1432 H/ 2011 M


. Simak saja kumpulan kalimat di bawah ini, semoga ada yang berkenan dengan Anda :

=====
Waktu mengalir bagaikan air , bulan Ramadhan nan suci
segera usai, jika ada luka yg pernah terukir, Ada
khilaf dosa yg smpt mampir, Suci kan hati.. Damaikan
jiwa.. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, Mohon maaf lahir
batin, Slm takzim
=====
Ya ALLAH, jika Engkau turunkan rahmat hidayah-Mu kpd-ku
di bulan Ramadhan nan suci ini, turunkan pula rahmat
hidayah-Mu itu kpd saudara-ku ini & kel-nya. Agar kelak
mereka juga mjd bahagian dr ummat Rasullallah yg dibawa
dlm istana surga-Mu. Amien. Selamat Idul Fitri 1432 H
.. Mohon maaf lahir & bathin.
=====
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1432 H. Mohon
maaf lahir dan batin
=====
Mohon maaf lahir&bathin atas segala
kesalahan&kekhilafan.Semoga amal ibadah kita di
Ramadhan thn ini diterimaNya
Taqabbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum.
Slmt Idul Fitri 1Sywl1432H. Maaf lhr&btn.
HIDUP HANYA SBENTAR Bntar Snang Bntar SdiH
Bntar BokeK Bntar Bduit Bntar Nangis Bntar
Ktwa Eh….. BNTAR lg LEBARAN lho! Mhn Maaf Lahir
& Batin
=====
As.. Jika tingkah hadirkan duka, Lisan mnggores luka,
Hati mengukir prasangka, Janji berbuah dusta, kami mhn
ma’af lahir & batin agar bersih hati & Suci dlm jalani
hidup ini.. Slamat hr raya IDUL FITRI 1432 H
=====
“Manusia itu hidup serba sebentar”
Sebentar berduit
Sebentar lg g punya duit
Sebentar kenyang
Sebentar lg lapar
Sebentar sedih
Sebentar lg senang
Nah yang ini…
Sebentar lagi…
Lebaran….
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H Mohon Maaf
Lahir & Bathin
=====
Blh aya tu2r saur teu kaukur,reka basa pasalia,laku
lampah nu teu merenah, mugni sklrga neda dihpnten lhr &
btn. Wilujeng boboran siam 1432 H.
=====
Taqaballahu minna waminkum shiyamana washiamakum.
“Sesungguhnya perbuatan org2 yg SABAR & mau MEMAAFKAN
itu ialah perbuatan yg terpuji” (QS. 42:43). Mohon
dimaafkan segala kesalahan ya.Selamat idul fitri 1432 H
=====
Hti Q tK sBeNing EmbuN PriLku Q tK sLmbuT saLJu Tu2r kTa Q PnuH dEbu LPaNgkN hTimu aKn mmaaFkn khlf Q mhoN mAaf lhr&btin “MET IDUL FITRI 1432H”
Balebat fajar lebarn skdp deui ngbgeakn,hpntn sdy kalptn lahir sinrng btin
=====
Bilh aya saur nu teu kaukur, basa nu teu ka reka,laku lampah nu teu merenah,neda dihapunten tina samudaya kalepatan. Wiljng bo2ran siam 1432H
=====
“Allah Akbar” 3x “Lailahillallah Allah Akbar” Taqobbalallohu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1428 H. Maaf Lahir & Batin
=====
Bilih aya tutur saur nu teu ka ukur,rekaBasa nupasalia,lampah nu hnteu mernah kana manah, neda sihapunten samudaya kalepatn Taqabbalallahu minna wa minkum. “WILJNG BOBORAN 1432H”.
=====
Asslm.. Let’s celebrate this victorious day by forgiving each other & leaving all disputes behind… Happy Eid Al Fitr 1432 H… Minal ‘Aidin Wal Fa’idzin…
=====
Taqobbalallohu minna waminkum. Kasuhun kalingga murda, pamundut anu disuhun, mugia agung lumur jembar sih hapunten kana mangrupi kaleptan pribados saklwrga
=====
Ya Allah sampaikanlah kerinduan kami di ramadhan yg akan datang,amin. Taqobbalallah …minta Maaf Lahir & Batin. Met idul Fitri 1432 H
=====
Atas segala hilaf dan dosa, atas budi yg blum terbalas. Kuhaturkan ketulusan hati.minal aizin wal faidin.mohön maaf lahir dan bathin
=====
Asm. Sy & klrga bila ada salah kata, perbuatan & niat baik sengaja maupun tidak, langsung atau tidak, mohon dimaafkan. Mohon maaf lahir bathin.taqobalallohu minna waminkum siyamama wasiyamakum. Ja’alallohu minal ‘aaidin wal faaizin. Wsm
=====
Ied mubarok! Taqobbalallahu minna wa minkum, shiamana wa shiamakum, kullu aamin wa antum bi khair. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, mhn maaf lahir & bathin
=====
Ass Wb Wbr, Tiada waktu bertatap, tiada daya bersikap, tiada kata lain terucap, “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H” Minal Aidzin wal faizin Mohon Ma’af Lahir Batin
=====
meski kk ta dtg mdkat jr tgn t mjabat wjh ta tmpak btatap jk ucap mbekas lara dlm sukma dgn sgl kridoan hati mhn maaf lhr batin smg kt fitrah kmbali
=====
Selamat Idul Fitri 1432 H, mohon maaf atas segala yg kurang berkenan semoga Allah mengembalikan kita dalam keadaan yang fitri
=====
???? ???? ??? ????? ????????????? ?????? ??????
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf lahir bathin
=====
Wening galih nu d pamrih, jembar manah nu d penta,,Wilujeng boboran siam 1432 H..kalayan neda pangapunten tina samudayaning kalepatan..
=====
Stukan tn9an,hti.tulah indhnya silturhmi d hri kemnan9an.Pdukan keikhlsan tuk slin9 mmaafkn.Slmat hri rya idul ftri 1432 h.mhon maaf lhir&batin
=====
“kecubung batu dari kalimantan
“Cantik disanding dgn berlian,
“Berhubung 1 hari lgi Lebaran,
“Salah & khilaf mohon Dima’afkan.!
“SELAMAT HARI RAYA idul fitri. 1432 H
=====
l##l /,,,
( ^_^) (^_^))
/(”)’) (‘(”)_
Pa aDin anAk’y uDin,beLi la2p&iKan pAtin.minaL aiDzin waL faiDzin,mHn maV laHir baTin..
=====
Bilih aya tutur saur nu teu ka ukur,
laku lampah nu teu mrenah.
Simkuring neda dhapuntn sdya kaleptn.
Minl aidn wl faidzn hpuntn LhrBtn, wlujeng idulfitri1432H,

sumber : http://igcomputer.com/kumpulan-sms-ucapan-lebaran-dan-idul-fitri-1432-h-2011-m.html

Selasa, 16 Agustus 2011

Mualaf Iman Sotiria Kouvalis: Tuhan Kutahu Kau Ada...Pilihkan Agama Buatku!


Perkenalan Iman Sotiria Kouvalis dengan Islam dimulai dengan cara yang aneh. Suatu hari melihat perempuan Muslim di kampus dan merasa kasihan pada mereka. "Aku tidak mengenal mereka tapi ketika kami menyeberangi jalan di kafetaria, aku tersenyum pada mereka karena aku pikir mereka tertindas. Aku tidak pernah berbicara dengan mereka tapi aku hanya berasumsi bahwa mereka dipaksa memakai jilbab," katanya.

Saat itu, wanita yang tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Kejadian ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum peristiwa 11 september terjadi.

Pada saat yang sama, Iman, begitu ia minta dipanggil sekarang, tengah mengalami kekosongan batin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Ortodoks Yunani dan menghadiri gereja setiap Minggu hampir tak pernah bolong, "Gereja tidak lagi memiliki arti dalam hidupku dan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gereja," katanya.

Suatu dikotomi mulai muncul, di mana kehidupan dan agama itu hanyut ke sisi berlawanan. "Aku tidak bisa melihat bagaimana membuat agama relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan itulah bagaimana aku mulai menjauh dari Gereja," katanya.

Di kampus, ia mulai berinteraksi dengan mahasiswa Muslim. "Mereka menghidupkan kembali rohaniku untuk menjadi dekat dengan Tuhan lagi," katanya. Ia mengaku sedikit cemburu; bagaimana mereka begitu setia dan damai dan aku tidak, meskipun aku akan ke surga dan mereka tidak?

Ia mulai masuk ke perdebatan agama dengan mereka. Salah satu misinya, mengenalkan Yesus. Ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus, ia terkejut. "Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka," katanya.

Diam-diam, ketika tidak ada yang melihat, ia menyelinap ke perpustakaan untuk membaca tentang Islam untuk meyakinkan mereka bahwa mereka salah. "Aku hanya menemukan beberapa buku benar-benar aneh dan tua. Saat itu adalah zaman pra-Google sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikorek," katanya.

Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sampai di rumah ia mulai membaca dan takjub. Satu pamflet bahkan berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. "Alkitab? Aku pikir ini bohong! Tapi aku memeriksa ayat dalam Alkitab, ternyata benar," katanya.

Ia makin bimbang. "Sampai di satu titik aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan mana agama yang benar," katanya.

Ia mendatangi gereja lagi, dan lebih sering ke sana, dua kali seminggu. "Aku mulai membaca Alkitab lagi, tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku," katanya.

Setelah berbulan-bulan ini, ia mengaku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menemui pendeta. "Pertanyaanku tiga: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, lalu bagaimana itu masuk akal? Itu berarti aku dapat melakukan dosa dan diselamatkan? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?"

"Untuk dua pertanyaan pertama, ia mencoba yang terbaik untuk menjelaskan, tapi sudah jelas bagiku bahwa ada banyak ambiguitas dalam jawabannya. Ketika kami sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian."

Ia meninggalkan pertemuan dengan kecewa. "Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban," katanya.

Setelah berbulan-bulan lebih intens membaca, studi kritis terhadap kedua agama dan berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan agamanya, hatinya makin condong pada Islam. Namun, ia masih ragu dan takut akan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.

Namun, ia dikuatkan setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran. "Aku mengerti bahwa sebagai Muslim kita harus menghormati orang dari agama lain untuk beberapa dari mereka benar-benar tulus dan mereka percaya Allah. Pada akhirnya, bukan mereka atau aku yang akan menghakimi orang, hanya Tuhan yang bisa melakukan itu," katanya.

Iapun memutuskan bersyahadat. "Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain. Jika Anda berada dalam situasi ini, Anda berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban sekarang karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Dan untuk mengetahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. It's OK untuk mengajukan pertanyaan dan it's OK untuk menemukan jawaban."

sumber : republika.co.id

Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Sahabat Nabi: Miqdad bin Amr, Mujahid Ulung dan Ahli Filsafat


Di masa jahiliyah ia terikat janji dengan Aswad Abdu Yaghuts untuk diangkat sebagai anak hingga namanya berubah menjadi Miqdad bin Aswad. Tetapi setelah turunnya ayat mulia yang melarang merangkaikan nama anak dengan nama ayah angkatnya dan mengharuskan merangkaikannya dengan nama ayah kandungnya, maka namanya kembali dihubungkan dengan nama ayahnya, yaitu Amr bin Sa'ad.

Miqdad bin Amr termasuk golongan yang pertama kali masuk Islam. Ia adalah orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan, serta kekejaman kaum Quraisy. Keberanian dan perjuangannya di medan Perang Badar akan selalu diingat oleh kaum Muslimin sampai saat ini.

Bahkan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini."

Miqdad bin Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar karena kekuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah', sedang kami akan mengatakan kepada anda, 'Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu'. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan."

Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang Mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Bahkan cara bicara Miqdad patut dicontoh oleh yang lain. Kata-kata Miqdad benar-benar berdampak positif kepada segenap pasukan Islam.

Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum Anshar berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita."

Rasulullah sangat senang. Beliau bersabda kepada para pengikutnya, "Berangkatlah dan bergembiralah!"

Dan kedua pasukan pun berhadapan. Jumlah anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin Amr, Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam; sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta.

Ia pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai Gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, "Bagaimana dengan jabatanmu?"

Ia menjawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang."

Ia menjadi gubernur, lalu dirinya dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman pahit itu. Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Ia sering mengucapkan sabda Nabi SAW yang berbunyi, "Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran."

Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

Di antara sikap bijaknya adalah kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari Rasulullah SAW yang telah menyampaikan kepada umatnya, "Berubahnya hati manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih."

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan setelah kematian?

Dari percakapannya dengan seorang sahabat dan seorang tabi'in berikut ini, menunjukkan kemahirannya dalam berfilsafat dan ia berhak menyandang gelar seorang filsuf:

Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk dekat Miqdad. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki, dan berkata kepada Miqdad, "Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah! Demi Allah, andainya aku bisa melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan."

Miqdad berkata, "Apa yang mendorong kalian untuk menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya? Demi Allah, bukankah pada masa Rasulullah banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya di neraka Jahanam? Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian?"

Inilah suatu hikmah yang diungkapkan Miqdad, memang tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali ia dapat hidup di masa Rasulullah dan hidup bersamanya. Tetapi pandangan Miqdad tajam dan dalam, pemikirannya dapat menembus sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang sedikit pun.

sumber : republika.co.id

Para Perawi Hadits: Imam An-Nasa'i, Dari Al-Mujtaba ke Sunan Nasa'i


Nama lengkap Imam An-Nasa’i adalah Abu Abdul Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr Al-Khurasani Al-Qadi. Ia lahir di daerah Nasa’ pada 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa ia lahir pada 214 H.

Ia dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (An-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadits kaliber dunia. Ia berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadits, yakni Al-Mujtaba yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan An-Nasa’i.

Pada awalnya, Nasa'i tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Ia berhasil menghapal Alquran di madrasah yang ada di desa kelahirannya. Ia juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya.

Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, ia pun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau bukan untuk memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadits dan ilmu hadits.

Belum genap 15 tahun, Nasa'i sudah melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Irak, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh di kalangan para Imam Hadis.

Semua imam hadits, terutama enam imam hadits, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama hadits, termasuk Imam An-Nasa’i.

Kemampuan intelektual Imam Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, ia mengalami proses pembentukan intelektual. Sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.

Seperti para pendahulunya—Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi—Imam Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para gurunya memiliki nama harum yang tercatat oleh pena sejarah, antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, Al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abu Dawud), serta Imam Abu Isa At-Tirmidzi (penyusun Kitab Al-Jami’ atau Sunan At-Tirmidzi).

Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramahnya, antara lain; Abu Al-Qasim At-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far At-Thahawi, Al-Hasan bin Al-Khadir Al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin Al-Ahmar Al-Andalusi, Abu Nashr Ad-Dalaby, dan Abu Bakar bin Ahmad As-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam An-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan An-Nasa’i.

Sudah mafhum di kalangan peminat kajian hadits dan ilmu hadits, para imam hadits merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadits kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.

Tidak ketinggalan pula Imam Al-Nasa’i. Karya-karyanya yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab As-Sunan Al-Kubra), Al-Khashais, Fadhail Al-Shahabah, dan Al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn Al-Atsir Al-Jazairi dalam kitabnya Jami Al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i.

Karya Imam Al-Nasa’i paling monumental adalah Sunan An-Nasa’i. Sebenarnya, bila ditelusuri secara seksama, terlihat bahwa penamaan karya monumental beliau sehingga menjadi Sunan An-Nasa’i sebagaimana yang kita kenal sekarang, melalui proses panjang, dari As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra, Al-Mujtaba, dan terakhir terkenal dengan sebutan Sunan An-Nasa’i.

Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan An-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan As-Sunan Al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, Imam Nasa'i kemudian menghadiahkan kitab tersebut kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan.

Amir kemudian bertanya kepada An-Nasa’i, "Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadits shahih?"

Nasa'i menjawab dengan jujur, "Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya."

Kemudian Amir berkata kembali, "Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadits yang shahih-shahih saja!"

Atas permintaan Amir ini, Imam Nasa'i kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadits yang telah tertuang dalam kitab As-Sunan Al-Kubra. Dan akhirnya ia berhasil melakukan perampingan terhadap As-Sunan Al-Kubra, sehingga menjadi As-Sunan Al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.

Imam Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadits-hadits yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar, "Kedudukan kitab As-Sunan Al-Sughra di bawah derajat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadits dhaif yang terdapat di dalamnya."

Nah, karena hadits-hadits yang termuat di dalam kitab kedua (As-Sunan Al-Sughra) merupakan hadits-hadits pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan Al-Mujtaba. Pengertian Al-Mujtaba bersinonim dengan Al-Mukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadits-hadits pilihan, hadits-hadits hasil seleksi dari kitab Al-Sunan Al-Kubra.

Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadits. Ia juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadits-hadits yang diterimanya.

Abu Ali Al-Naisapuri pernah berujar, "Orang yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah seorang imam hadits yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abdul Rahman An-Nasa’i."

Setahun menjelang kemangkatannya, Imam Nasa'i pindah dari Mesir ke Damaskus (Suriah). Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggalnya. Ad-Daruquthni mengatakan, Imam Nasa'i wafat di Makkah dan dikebumikan di antara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah Al-’Uqbi Al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam Adz-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Yunus, Abu Ja’far At-Thahawi (murid Nasa’i) dan Abu Bakar An-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, An-Nasa’i meninggal pada 303 H dan dikebumikan di Baitul Maqdis, Palestina

sumber : republika.co.id

Halaman Ke