Sabtu, 27 Agustus 2011

Mualaf Mu Kim Ni: Memilih Islam karena Kagum dengan Harmonisasi Keluarga Muslim


Karena merindukan profil keluarga yang rukun dan damai, Mu Kim Ni, kabur dari rumahnya di Baturaja Sumatera Selatan, tahun 1991. Saat itu, ia baru tamat SMA. Ani, begitu perempuan kelahiran 17 Oktober 1972 ini akrab disapa, menemuka kedamaian dan keharmonisan justru di dalam keluarga sahabat–sahabatnya yang dijumpai di rumah mereka saat belajar bersama semasa SMA.

Ia melihat keluarga teman-temannya yang Muslim sangat harmonis menjalankan ajaran agama Islam dengan tekun. Alasan ini pula yang mendorongnya memeluk Islam. Namanya kemudian berganti menjadi Murniati Mukhlisin.

"Saya ingin memperbaiki keadaan keluarga dan memberikan contoh kepada keluarga terutama adik–adik, tentang makna sebuah keluarga," kata ibu dari Layyina Humaira Tamanni (11), Hayyan Hani Tamanni (9) dan Rayyan Ayman Tamanni (7) ini.

Namun bukannya didengar, ia malah diejek dan dicemooh. Namun, Ani tak terlalu mengambil hati dan tetap melakukan pendekatan pada keluarga.

Melalui seorang wartawan, Ani mendapatkan rekomendasi orangtua asuh dari PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Ia diterima dengan hangat di keluarga Ustazah Qomariah Baladraf Teh Giok Sien di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Di Jakarta, Ani aktif mengikuti kegiatan kepemudaan Islam di Masjid Istiqlal dan di Yayasan H Karim Oei, di Jl Lautze. Secara ekonomi, ia juga mulai mandiri setelah diterima bekerja di sebuah bank swasta di Jalan Sudirman Jakarta. "Walau kadang sedih juga, karena harus melepas jilbab setiba di kantor, karena bank yang banyak memperkerjakan staf non-Muslim tidak memberikan izin berjilbab," katanya.

Walau jauh dari kampung halamannya, ia tetap memperhatikan keluarganya, yang saat itu belum sepenuhnya menerima keislamannya.
Ani mengungkapkan, sejak kabur dari rumah, ia berusaha mengambil hati keluarganya. Berkirim kabar dan hadiah, salah satu upayanya.

Kerja keras wanita yang kini menjabat sebagai wakil ketua Sekolah Tinggi Eknomi Islam Tazkia ini, membuahkan hasil. Mama dan beberapa adiknya luluh hatinya. Tak hanya merangkulnya kembali, belakangan mereka juga turut menganut Islam. Keinginannya terkabul: memiliki keluarga yang hangat dan saling mendukung.

Di sisi spiritual, Ani terus mengasah ilmu agamanya. Ia yang terpacu untuk terus mendalami Islam dengan melanjutkan kuliah di bidang akuntansi syariah setelah dua tahun bekerja di Jakarta. Ani berhasil melanjutkan kuliah di International Islamic Unviersity Malaysia dengan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta di sana. Di sana pula Ani belajar Islam lebih insentif, termasuk belajar bahasa Arab.

Bekal keluwesannya dalam bergaul dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan Arab serta keaktifannya dalam organisasi, membuat Ani semakin mandiri. Bahkan, istri Luqyan Tamanni ini sudah mendapatkan pekerjaan bergengsi ketika belum selesai kuliah, di sebuah lembaga akuntan publik ternama di negeri jiran itu.

Kini, perempuan yang sangat meminati kajian standar akuntansi keuangan syariah internasional ini, segera berangkat ke Inggris untuk melanjutkan kuliah strata tiga. ''Insya Allah dalam waktu dekat saya berangkat," katanya. Di Gloucestershire University, ia bakal menimba ilmu ekonomi syariah.

sumber : republika.co.id

Jumat, 26 Agustus 2011

Kisah Singkat Sigit Nugroho, Dahulu Atheis Kini Ketua Talk Show Ramadhan 2011


Sore itu di gedung Fatahilah Masjid Sunda Kelapa (Sabtu, 13 Agustus 2011) sebuah kegiatan diskusi digelar dengan tema Kesalehan Sosial. Diskusi itu dihadiri oleh para mualaf.

Dalam acara tersebut ada salah satu anggota yang cukup menarik perhatian. Dia adalah Sigit Nugroho Wartawan senior Bola yang memiliki jaringan luas di tingkat Internasional. Ia adalah seorang mualaf yang kini mendirikan OLE!.

Pria kelahiran Semarang, 6 Oktober 1965 ini adalah anak tunggal dari pasangan Letkol Pol Djati Koenjtono(Alm) dan Soeharsi. Selain sebagai seorang wartawan ia juga berfrofesi sebagai komentator olah raga disejumlah stasiun televisi swasta dan juga stasiun tv nasional.

Sigit mengaku sudah dua tahun memeluk Islam. Sebelum memilih Islam, ia sebelumnya telah melewati tiga fase agama dalam kehidupannya.

Pertama ia dulu seorang yang tidak beragama (atheis), kemudian ia masuk menjadi orang khatolik. Tak beberapa lama kemudian ia keluar dari agama tersebut dan kemudian menjadi seorang Muslim

Kini Sigit mengakui lebih giat untuk memperdalam ajaran agama islam dan tidak akan mempermainkan agama seperti sebelumnya. Ada pengalaman religi yang ia ungkapkan setelah dirinya memeluk agama Islam.

Ia mengaku dahulu sebelum dirinya menjadi seorang mualaf, ia merasakan ketidaktenangan dalam hidup. Tak hanya itu, ia merasa uang hasil kerjanya tak bisa dinikmati dengan baik karena membuat tubuh jadi panas.

Namun kini setelah ia masuk dan memeluk agama islam, ia merasakan ketenangan dalam hidup dan uang hasil kerjanya dapat dinikmati tanpa ada keganjilan.

Setelah benar-benar mencoba menjadi seorang Muslim yang taat ibadah dan mempunyai pengetahuan agama, Sigit merasakan kedamaian dan ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan. "Islam menjadikann saya pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan," ujarnya.

Dahulu. tutur Sigit, ia selalu menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya. Ia juga mengaku tidak mempunyai seorang teman pun untuk membantunya mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapinya.

Kini setelah menjadi seorang Muslim ia mempunyai banyak teman dan selalu terbantu dalam memecahkan permasalah yang ada dalam kehidupannya. Diisinilah ia mengetahui arti islam yang sebenarnya.

Ramadhan selalu dimaknai Sigit sebagai bulan yang sangat istimewa, karena pada saat bulan suci ini, ia bisa lebih bersabar dalam menghadapi setiap permasalahan yang datang. Kondisi itu menjadikan dirinya mempunyai ketegaran iman yang kuat dalam memaknai kehidupan yang baru sebagai seorang muslim.

Ramadhan kali ini ia juga mempunyai tugas yang cukup berat namun sekaligus pengalaman cukup berarti. Pasalnya ia menjadi ketua umum dalam acara kegiatan Talk Show Ramadhan 2011 yang diadakan bersama para mualaf yang ada di Jakarta.

Dalam penggalangan dana, ternyata ia mengalami kesulitan. “Untuk urusan agama ko masih banyak ya yang sulit sekali beramal dan menyisihkan sedikit hartanya di bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah ini” tuturnya.

Kini sebagai seorang Muslim, ia pun juga mempunyai keinginan mengajak para mualaf yang lain untuk lebih giat mempelajari ilmu agama islam dan mengetahui pengetahuan yang luas tentang ajaran islam.

Sigit pun memberikan sedikit saran kepada para mualaf lain yang datang di acara diskusi ini. "Sebagai eorang mualaf kita harus benar-benar pegang teguh agama ini, janganlah kalian main-mainkan ajaran Islam ini, dan para mualaf yang lain harus tetap semangat menghadapi cobaan yang begitu sulit, apalagi setelah kita mengucap ikrar keimanan," ujarnya.

sumber : republika.co.id

Rabu, 24 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Teladan dalam Rumah Tangga Rasulullah


Umar kemudian pergi ke masjid, dan dengan suara lantang ia berkata kepada kaum Muslimin, "Rasulullah SAW tidak menceraikan isterinya."

Sehubungan dengan peristiwa ini, turun ayat-ayat suci ini: "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS At-Tahrim: 1-2)

"Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula."

"Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan."
(QS At-Tahrim: 3-6)

Dengan demikian peristiwa itu selesai. Istri-istri Nabi kembali sadar, dan beliau pun kembali kepada mereka setelah mereka benar-benar bertaubat, menjadi manusia yang rendah hati beribadah dan beriman. Kehidupan rumah tangganya sekarang kembali tenang, yang memang demikian diperlukan oleh setiap manusia yang sedang melaksanakan suatu beban besar yang ditugaskan kepadanya.

Apabila orang itu orang besar seperti Muhammad SAW, lemah-lembut seperti beliau, berlapang dada, tahan menderita, orang berwatak dengan segala sifat-sifat yang ada padanya—yang sudah disepakati dan diakui pula oleh semua penulis sejarah Hidupnya—maka menggambarkan salah satu dari kedua peristiwa itu an sich sebagai sebab ia memisahkan diri dan mengancam hendak menceraikan istri, adalah suatu hal yang kebalikannya, jauh daripada suatu cara kritik sejarah.

Sebaliknya, kritik yang akan dapat diterima orang dan sejalan pula dengan logika sejarah ialah apabila peristiwa-peristiwa itu mengikuti jejak yang sebenarnya, yang akan membawa kepada kesimpulan-kesimpulan yang sudah pasti tidak bisa lain akan ke sana. Maka dengan demikian ia akan menjadi masalah biasa, masuk akal dan secara ilmiah dapat diterima.

Ada beberapa orientalis yang juga bicara tentang ayat-ayat yang turun pada permulaan surah At-Tahrim seperti di atas. Disebutkan bahwa semua kitab suci di Timur tidak ada yang menyebut-nyebut peristiwa rumah tangga dengan cara semacam itu.

Rasanya tidak perlu kita mengatakan lagi apa yang tersebut dalam kitab-kitab suci itu semua—termasuk Alquran di antaranya tentang masyarakat Luth dengan segala cacat mereka. Bahkan Taurat (Perjanjian Lama) membawa cerita tentang Luth dan dua anaknya yang perempuan ketika mereka memberikan minuman anggur kepada bapaknya sehingga dua malam berturut-turut ia mabuk, dengan maksud supaya dapat masing-masing mereka dapat tidur dengan Luth dan dengan demikian mereka memperoleh keturunan—karena khawatir keluarga Luth kelak akan punah, setelah Tuhan menurunkan bencana. Oleh sebab itu, maka semua kitab suci membuat kisah-kisah para rasul serta apa yang mereka lakukan dan segala apa yang terjadi, ialah sebagai suri teladan bagi umat manusia.

Banyak sekali kisah-kisah demikian dalam Alquran. Tuhan menyampaikan kisah-kisah yang baik sekali kepada Rasulullah. Sedang Alquran bukan hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad, melainkan kepada seluruh umat manusia. Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul, sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul lain yang dibawakan kisahnya dalam Alquran.

Jika Qur'an menyampaikan berita-berita tentang Muhammad SAW dan menyangkut pula kehidupan pribadinya yang perlu menjadi contoh buat kaum Muslimin dan teladan yang baik pula, serta memberi isyarat tentang arti dalam tindakan dan kebijaksanaannya itu, maka kisah-kisah para nabi yang terdapat dalam Alquran itu sama sekali tidak berarti keluar daripada apa yang terdapat dalam kitab-kitab suci lain.

Apabila kita mengatakan bahwa masalah Muhammad SAW meninggalkan istrinya itu bukan sebab yang berdiri sendiri di samping sebab-sebab lain yang telah menimbulkan cerita itu, juga bukan karena Hafshah bercerita kepada Aisyah tentang apa yang dilakukan Nabi dengan Maria—suatu hal yang memang patut dilakukan oleh setiap laki-laki terhadap istrinya atau siapa saja yang sah menjadi miliknya—orang akan melihat, bahwa tinjauan yang dikemukakan oleh beberapa orientalis itu, dari segi kritik sejarah sama sekali tidak dapat dibenarkan. Juga tidak pula sejalan dengan apa yang ada dalam kitab-kitab suci sehubungan dengan kisah-kisah dan kehidupan para nabi itu.

sumber : republika.co.id

Senin, 22 Agustus 2011

Khotbah Paus Disambut Badai Hujan dan Petir, Padahal Siangnya Cuaca Panas


Tak hanya demonstran yang menyambut kunjungan Paus Benediktus XVI di Madrid, Spanyol. Bahkan badai, hujan dan petir pun ikut menyambut Paus saat pidato. Padahal siangnya, cuaca sangat panas mencapai 40 derajat Celcius.

Badai petir memaksa Paus Benediktus XVI memperpendek khotbahnya di hadapan satu juta peziarah muda, yang berkumpul di lapangan terbang Madrid, Spanyol, untuk memperingati Hari Pemuda Dunia, Sabtu (20/8/2011).

Ketika hujan membasahi kerumunan orang dan petir menerangi langit malam, Paus berusia 84 tahun ini melewatkan sebagian besar pidatonya. Ia hanya menyampaikan salam singkat dengan menggunakan setengah lusin bahasa.

Paus menyerukan kepada massa misa Minggu untuk menjadi misionaris bagi iman. "So do not keep Christ to yourselves. Share with others the joy of your faith," ujar Paus singkat. (Jangan simpan Kristus untuk diri kalian sendiri. Berbagilah dengan orang lain spaya merasakan sukacita iman kalian).

Dia tetap nyaman selama misa berkat sistem pendingin di altar. Paus pun mengumumkan bahwa Hari Pemuda Dunia berikutnya akan berlangsung di Rio de Janiero pada 2013, satu tahun lebih awal untuk menghindari bentrokan dengan Piala Dunia 2014 di Brazil.

Akibat hujan deras itu, beberapa kapel darurat di pinggiran lapangan terbang itu rusak. Ini memaksa penyelenggara mengumumkan, Minggu (21/8/2011), bahwa tidak semua orang akan dapat menerima komuni selama misa. Bahkan, kata Yago de la Cierva, ketua panitia Hari Pemuda Dunia, nyaris tidak akan ada orang yang menerima Ekaristi.

Kejadian ini sangat aneh, karena siang harinya cuaca sangat panas mencapai 104 derajat Fahrenheit, atau mendekati 40 derajat Celcius. Untuk mengurangi terik, petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air kepada massa, dan peziarah pun mencari tempat teduh untuk berlindung.

Badai, hujan dan petir saat Paus berpidato itu menambah daftar kerepotan Paus di Spanyol. Sebelumnya, seperti diberitakan voa-islam.com, Paus didemo umat Katolik karena biaya kunjungannya yang terlalu mahal diambil dari pajak rakyat Spanyol.

Biaya kunjungan Paus yang besarnya lebih dari 100 juta euro diprotes pendemo karena saat ini pemerintah Spanyol yang sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi. Spanyol telah mengadopsi langkah penghematan, guna memenuhi target pengurangan defisit. Tingkat pengangguran saat ini di Spanyol berada pada level 20,89 persen, sementara tingkat pengangguran kaum muda melebihi angka 45 persen. [silum/pelita, the guardian]

sumber : voa-islam.com

Kisah Sahabat Nabi: Mu'adz bin Jabal, Pelita Ilmu dan Amal


Tatkala Rasulullah mengambil baiat dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat. Perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu'adz bin Jabal RA.

Dengan demikian, ia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun—golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan.

Maka demikianlah halnya Mu'adz. Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: "Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz?"

"Kitabullah," jawab Mu'adz.

"Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya Rasulullah pula.

"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul."

"Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?"

"Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia," jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah," sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai "orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram".

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A'idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

"Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu'adz bin Jabal," tutur A'idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, "Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya."

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara."

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu'adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satu pun yang akan kuambil darimu," ujar Abu Bakar.

"Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik," kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu'adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah—amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu'adz—meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.

Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, Mu'adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Mu'adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka beliau bertanya, "Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?"

"Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah," jawabnya.

"Setiap kebenaran ada hakikatnya," kata Nabi pula, "maka apakah hakikat keimananmu?"

"Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka."

Maka sabda Rasulullah SAW, "Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!"

Menjelang akhir hayatnya, Mu'adz berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan."

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, "Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan..." Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah.

sumber : republika.co.id

Para Perawi Hadits: Ibnu Majah, Pakar Hadits dan Sejarah


Dari sekian banyak ulama yang dikenal sebagai ahli hadits dan banyak meriwayatkan sabda-sabda Nabi SAW adalah Imam Ibnu Majah. Nama lengkapnya Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i Al-Qazwini. Ia lebih akrab dipanggil Ibnu Majah.

Ulama yang dikenal kejujuran dan akhlak mulianya ini dilahirkan di Qazwin, Irak pada 209 H/824 M. Sebutan Majah dinisbahkan kepada ayahnya, Yazid, yang juga dikenal dengan nama Majah Maula Rab’at. Ibnu Majah adalah muhaddits ulung, mufassir dan seorang alim. Ia memiliki beberapa karya, di antaranya adalah Kitabus Sunan, Tafsir dan Tarikh Ibnu Majah.

Ibnu Majah mulai belajar sejak usia remaja. Namun baru mulai menekuni bidang ilmu hadits pada usia 15 tahun pada seorang guru ternama kala itu, yaitu Ali bin Muhammad At-Tanafasi. Bakat dan minatnya di bidang hadits makin besar.

Hal inilah yang membuat Ibnu Majah berkelana ke beberapa daerah dan negara guna mencari, mengumpulkan, dan menulis hadits. Puluhan negeri telah ia kunjungi, antara lain Rayy (Teheran), Bashrah, Kufah, Baghdad, Khurasan, Suriah, dan Mesir.

Dengan cara inilah, Ibnu Majah dapat menghimpun dan menulis puluhan bahkan ratusan hadits dari sumber-sumber yang dipercaya kesahihannya. Tak hanya itu, dalam berbagai kunjungannya itu, ia juga berguru pada banyak ulama setempat. Seperti, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numayr, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin Al-Azhar, Basyar bin Adam, dan para pengikut perawi dan ahli hadits, Imam Malik serta Al-Lays.

Dari pengembaraannya ini, tak sedikit ulama yang akhirnya meriwayatkan hadits dari Ibnu Majah. Antara lain Ishaq bin Muhammad, Ali bin Ibrahim bin Salamah Al-Qattan, Ahmad bin Ibrahim, dan sebagainya.

Sepanjang hayatnya, Imam Ibnu Majah telah menulis puluhan buku, baik dalam bidang hadits, sejarah, fiqh, maupun tafsir. Di bidang tafsir, ia antara lain menulis Tafsir Alquranul Karim. Sementara itu, di bidang sejarah, Ibnu Majah menulis buku At-Tarikh, karya sejarah yang memuat biografi para perawi hadits sejak awal hingga ke masanya. Lantaran tak begitu monumental, kemungkinan besar kedua karya tersebut tak sampai di tangan generasi Islam berikutnya.

Yang menjadi monumental dan populer di kalangan Muslim dan literatur klasik dari karya Ibnu Majah adalah kitab di bidang hadits berjudul Kitab Sunan Ibnu Majah. Kitab ini merupakan karya terbesarnya. Di bidang ini pula, Ibnu Majah telah meriwayatkan sedikitnya 4.000 buah hadits.

Bahkan seperti diungkapkan Muhammad Fuad Abdul Baqi, penulis buku Mu’jam Al-Mufahras li Alfaz Alquran (Indeks Alquran), jumlah hadits dalam kitab Sunan Ibnu Majah berjumlah 4.241 buah hadits. Sebanyak 3.002 di antaranya termaktub dalam lima kitab kumpulan hadits yang lain. "Tak hanya hukum Islam, dalam kitab Sunan Ibnu Majah tersebut juga membahas masalah-masalah akidah dan muamalat. Dari sekian banyak hadits yang diriwayatkan, beberapa kalangan ulama mengkategorikan sebagiannya sebagai hadits lemah," kata Baqi.

Sunan Ibnu Majah ini berisikan hadits yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik ada hampir 30 hadits maudhu' di dalam Sunan Ibnu Majah walaupun disanggah oleh As-Suyuthi.

Atas ketekunan dan kontribusinya di bidang ilmu-ilmu Islam itu, khususnya disiplin ilmu hadits, banyak ulama yang kagum dan menilainya sebagai salah seorang ulama besar Islam. Seorang ulama bernama Abu Ya’la Al-Khalili Al-Qazwini misalnya, berkata, "Ibnu Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghapal hadits."

Ulama lainnya, Zahabi dalam Tazkiratul Huffaz, melukiskannya sebagai seorang ahli hadits besar dan mufassir (ahli tafsir), pengarang kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadits kenamaan negerinya.

Sementara mufassir besar kenamaan, Ibnu Kasir, dalam karyanya, Al-Bidayah, berkata, "Muhammad bin Yazid (Ibnu Majah) adalah pengarang Kitab Sunan yang masyhur. Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada hadits dan usul serta furu’."

Al-Imam Al-Bushiri menulis ziadah (tambahan) hadits di dalam Sunan Abu Dawud yang tidak terdapat di dalam Kitabul Khomsah—Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Tirmidzi—sebanyak 1.552 hadits di dalam kitabnya Misbah Az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah, serta menunjukkan derajat shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’. "Oleh karena itu, penelitian terhadap hadits-hadits di dalamnya amatlah urgen dan penting," kata Bushiri.

Setelah sekian lama mendedikasikan hidup dan pemikirannya kepada Islam, Sang Khaliq akhirnya memanggil Imam Ibnu Majah selama-lamanya pada tanggal 22 Ramadhan 273 H/887 M. Ia dimakamkan di tanah kelahirannya, Qazwin, Irak. Umat Islam terus mengenangnya melalui berbagai karyanya, terutama Kitab Sunan Ibnu Majah yang termasuk dalam Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadis).

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kecemburuan Ummahatul Mukminin


Rasulullah sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka (para istrinya), meninggalkan mereka, supaya sikap kasih sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka kian melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) itu sudah melampaui sopan santun, sehingga ketika terjadi percakapan antara Rasulullah dengan Aisyah. Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Rasulullah. Dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafshah pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala beliau sedang di rumah Hafshah dan agak lama. Ketika Hafshah kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang meluap-luap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi.

Ketika Maria keluar kemudian, Hafshah masuk menjumpai Nabi. "Saya sudah melihat dengan siapa kau tadi," kata Hafshah. "Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu."

Rasulullah segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafshah mengungkapkan perasaannya, dan membicarakannya kembali dengan Aisyah atau Ummul Mukminin yang lain.

Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafshah, Rasulullah bahkan hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya, jika Hafshah tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafshah berjanji akan melaksanakan. Namun kecemburuan begitu berkecamuk dalam hatinya, sehingga dia tidak sanggup lagi menyimpan perasaannya. Dan Hafshah pun menceritakan kejadian tersebut kepada Aisyah.

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab binti Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa beliau berlaku tidak adil terhadap para istrinya. Dan karena cintanya kepada Aisyah beliau telah merugikan yang lain.

Dalam berterus terang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para istrinya, ia bahkan mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk. Sehingga membuat Aisyah marah, namun ditenangkan oleh Rasulullah.

Namun Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah hingga melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain bagi Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Aisyah pun membalas kata-kata Zainab dan membuatnya terdiam.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan istri-istri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab beliau dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain. Sehingga Nabi bermaksud hendak menceraikan sebagian mereka.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini, Rasulullah—yang telah mengangkat tinggi derajat mereka—masih tetap bersikap lemah-lembut. Rasulullah tidak punya waktu untuk melayani sikap yang demikian dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang istri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan Ummahatul Mukminin itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula.

Rasulullah harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwahnya, seperti yang sudah ditentukan Allah kepadanya. Beliau hendak memberi pelajaran dengan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian.

Akhirnya, selama sebulan penuh Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga tak seorang pun yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu Rasulullah memusatkan perhatiannya pada upaya dakwah dan penyebaran Islam di Jazirah Arab.

Pada saat yang demikian, Abu Bakar dan Umar bin Khathab serta para mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Ummahatul Mukminin. Mereka khawatir dengan kemarahan Rasulullah yang akan berakibat pula dengan kemurkaan Allah dan para malaikat.

Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa Nabi telah menceraikan Hafshah, putri Umar, setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan kaum Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan istri-istrinya. Pada saat yang sama, para istri Rasulullah pun gelisah pula. Mereka menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai sebegitu jauhnya menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka, Rasulullah adalah segalanya dalam hidup ini.

Kini Rasulullah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama beliau dalam bilik itu, pelayannya yang bernama Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Sudah sebulan lamanya Rasulullah dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para istrinya.

Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam masjid dalam keadaan menekur. Mereka berbincang-bincang bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Kesedihan mendalam membayang jelas pada wajah mereka.

Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri, hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya. Dipanggilnya Rabah agar dimintakan izin hendak menemui Rasulullah. Namun Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengizinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaannya. Namun Rabah tetap tidak memberikan jawaban.

Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras. "Rabah, mintakan aku izin kepada Rasulullah SAW. Kukira beliau sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafshah. Sungguh, kalau beliau menyuruhku memenggal leher Hafshah, akan kupenggal."

Sekali ini Nabi memberi izin dan Umar pun masuk. Ketika Umar sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

"Apa yang membuatmu menangis, Ibnul Khathab?" tanya Rasulullah lembut.

Yang membuat Umar menangis adalah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya. Dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan dan kulit yang digantungkan.

Setelah mengatakan apa yang menyebabkannya menangis, dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, Umar pun kembali tenang.

"Rasulullah," kata Umar, "Apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para istri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu. Demikian juga para malaikat—Jibril dan Mikail—juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu."

Kemudian Umar terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajah beliau dan beliau pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini, ia kemudian menceritakan keadaan Muslimin yang ada di masjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya—Ummahatul Mukminin.

Nabi mengatakan bahwa beliau tidak menceraikan mereka. Dan Umar minta izin untuk mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang kini masih menunggu di masjid.

sumber : republika.co.id

Jumat, 19 Agustus 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Sikap Rasulullah Terhadap Istri


Kecemburuan yang terjadi di antara para istri Rasulullah wajar terjadi. Beliau telah memberi tempat dan kedudukan kepada istri-istrinya sedemikian rupa, suatu hal yang tidak pernah dikenal di kalangan Arab.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khathab pernah berkata, "Sungguh, kalau kami dalam zaman jahiliyah, wanita-wanita tidak lagi kami hargai. Kami menghargai mereka setelah Allah memberikan ketentuan tentang mereka dan memberikan pula hak kepada mereka."

Suatu ketika, saat Umar sedang dalam suatu urusan tiba-tiba istrinya berkata, "Coba kau berbuat begini atau begitu."

"Ada urusan apa engkau di sini, dan perlu apa engkau dengan urusanku!" kata Umar dengan nada tinggi.

Istrinya membalas, "Aneh sekali engkau, Umar. Engkau tidak mau ditentang, padahal putrimu menentang Rasulullah SAW sehingga beliau gusar sepanjang hari."

Umar kemudian mengambil mantelnya, lalu keluar menemui putrinya, Hafshah. "Anakku," kata Umar, "Engkau menentang Rasulullah SAW sampai beliau merasa gusar sepanjang hari?"

Hafshah menjawab, "Memang kami menentangnya."

"Engkau harus tahu, anakku. Kuperingatkan engkau, jangan terpedaya. Orang telah terpesona oleh kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah SAW hanya karenanya."

Kemudian Umar pergi menemui Ummu Salamah, karena mereka masih berkerabat. Dia ingin membicarakan masalah Hafshah. Ummu Salamah berkata, "Aneh sekali engkau, Umar! Engkau sudah ikut campur dalam segala hal, sampai-sampai mau mencampuri urusan Rasulullah SAW dan rumah tangganya!'

Umar tak mampu berkata-kata. Ia pun kemudian pergi.

Muslim dalam Shahih-nya menyebutkan bahwa Abu Bakar pernah meminta izin kepada Nabi akan menemuinya dan setelah diizinkan ia pun masuk, kemudian datang Umar meminta izin dan masuk pula setelah diberi izin.

Mereka menjumpai Nabi SAW sedang duduk dalam keadaan masygul di tengah-tengah para istrinya yang juga sedang masygul dan diam. Ketika itu Umar berkata, "Saya akan mengatakan sesuatu yang akan membuat Nabi SAW tertawa." Lalu kata Umar, "Wahai Rasulullah, jika engkau melihat Binti Kharijah—istri Umar—meminta uang belanja kepadaku, maka aku bangun dan meninju lehernya."

Maka Rasulullah pun tertawa, seraya berkata, "Mereka itu sekarang di sekelilingku meminta uang belanja!"

Ketika itu Abu Bakar lalu menghampiri Aisyah dan meninju lehernya, demikian juga Umar, ia menghampiri Hafshah dan meninjunya, sambil berkata, "Kalian meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW!"

Mereka pun menjawab: "Demi Allah, kami sama sekali tidak minta kepada Rasullullah, sesuatu yang tidak dipunyainya."

Sebenarnya, Abu Bakar dan Umar waktu itu menemui Nabi, karena beliau tidak tampak keluar waktu shalat. Karena itu kaum Muslimin bertanya-tanya, ada apa gerangan yang menghalangi.

Dalam peristiwa Abu Bakar dan Umar dengan Aisyah dan Hafshah inilah turun firman Allah: "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar." (QS Al-Ahzab: 28-29)

Nabi telah memberi kedudukan kepada istri-istrinya, sedang sebelum itu—seperti wanita-wanita Arab lainnya—mereka tidak pernah mendapat penghargaan orang. Jadi wajar jika sikap mereka kini agak berlebih-lebihan dalam menggunakan kebebasan, suatu hal yang tidak pernah dialami oleh sesama kaum wanita.

Sampai-sampai ada di antara mereka yang menentang Nabi dan membuat Nabi gusar sepanjang hari. Beliau sudah berusaha menghindarkan diri dari mereka, meninggalkan mereka, supaya kasih sayang beliau kepada mereka tidak sampai membuat tingkah laku mereka tambah melampaui batas. Bahkan ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

sumber : republika.co.id

Kamis, 18 Agustus 2011

Tanya, Gadis Piatu Kanada yang Menemukan Damai dalam Islam


- Namanya Tanya. Kemiskinan membuatnya harus tinggal di panti asuhan. Ibunya tak lagi mampu menanggung ekonomi keluarga sepeninggal ayahnya.

Ia pernah menghuni tiga rumah asuh yang berbeda. "Selama waktu itu aku benar-benar sendirian. Aku tidak punya ibu, ayah dan tidak ada teman, tidak ada tempat dimana saya bisa berpegang," katanya.

Dalam kesendirian itulah, ia mencari pegangan hidup: Tuhan. "Aku mulai menghadiri kebaktian di Gereja Pantekosta. Minggu menjadi hari yang kutunggu," katanya.

Beranjak remaja, ia bertemu seorang Muslim di sekolahnya. "Aku menjelaskan kepadanya lebih banyak tentang Kristen dan ia menjelaskan kepada saya tentang Islam," katanya. Namun, sang teman selalu menyangkal penjelasannya, dengan alasan yang logis.

Tak ingin terpengaruh, ia ke perpustakaan dan meneliti lebih lanjut tentang Islam, Kristen, dan semua agama, "Pintu-pintu terasa mulai terbuka bagiku," ia menggambarkan.

Islam, yang kerap dipandang sebelah mata publik Barat, tiba-tiba memukaunya, setelah membaca beragam literatur. "Islam memberi tuntutan nyata bagi umatnya," katanya.

Ia bimbang. "Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa berpikir, aku gelisah. Ini tidak masuk akal lagi," katanya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk berdoa pada siapapun Pencipta-nya. "Tolong jawab aku, beri aku arah dan pijakan. Beri aku pegangan. Aku hampir hilang," ia mengisahkan doanya saat itu.

Alhamdulillah, katanya, dalam dua hari, ia segera menemukan jawaban. Saat itu, ia tengah berada di dalam kelas 11 mengikuti pelajaran matematika. Islam dan Muhammad, dua kata itu yang mengisi hatinya. Ia terlonjak dan berlari ke luar kelas. "Hatiku hanya diisi dengan sukacita," katanya.

Ia pergi ke toilet. "Aku tak tahu apa itu wudhu, tapi aku tahu Islam menganjurkan bersuci. Aku menyiram wajahku, mencoba untuk mendapatkan suci itu," katanya.

Ia menemui temannya yang Muslim, dan meminta diislamkan. Sang teman mengajaknya ke rumahnya, dan mengenalkan pada orang tuanya.

Mereka tak langsung mengislamkan Tanya. Alih-alih menuntunnya bersyahadat, mereka malah memberinya pakaian, buku-buku, dan kehangatan sebuah keluarga. Baru setelah ia menyatakan kemantapan hatinya berislam, mereka mengantarkan Tanya ke masjid untuk bersyahadat.

"Hidupku telah benar-benar berubah setelah itu," akunya. Kini, ia tak lelah berbagi tentang bagaimana ia mendapatkan kedamaian batin dengan banyak orang. "Bukan dengan ke diskotik, minum, atau hura-hura. Tapi dengan mendekat pada Allah."

sumber : republika.co.id

Rabu, 17 Agustus 2011

Kumpulan SMS Ucapan Lebaran dan Idul Fitri 1432 H/ 2011 M


. Simak saja kumpulan kalimat di bawah ini, semoga ada yang berkenan dengan Anda :

=====
Waktu mengalir bagaikan air , bulan Ramadhan nan suci
segera usai, jika ada luka yg pernah terukir, Ada
khilaf dosa yg smpt mampir, Suci kan hati.. Damaikan
jiwa.. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, Mohon maaf lahir
batin, Slm takzim
=====
Ya ALLAH, jika Engkau turunkan rahmat hidayah-Mu kpd-ku
di bulan Ramadhan nan suci ini, turunkan pula rahmat
hidayah-Mu itu kpd saudara-ku ini & kel-nya. Agar kelak
mereka juga mjd bahagian dr ummat Rasullallah yg dibawa
dlm istana surga-Mu. Amien. Selamat Idul Fitri 1432 H
.. Mohon maaf lahir & bathin.
=====
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1432 H. Mohon
maaf lahir dan batin
=====
Mohon maaf lahir&bathin atas segala
kesalahan&kekhilafan.Semoga amal ibadah kita di
Ramadhan thn ini diterimaNya
Taqabbalallahu Minna Waminkum Shiyamana Washiyamakum.
Slmt Idul Fitri 1Sywl1432H. Maaf lhr&btn.
HIDUP HANYA SBENTAR Bntar Snang Bntar SdiH
Bntar BokeK Bntar Bduit Bntar Nangis Bntar
Ktwa Eh….. BNTAR lg LEBARAN lho! Mhn Maaf Lahir
& Batin
=====
As.. Jika tingkah hadirkan duka, Lisan mnggores luka,
Hati mengukir prasangka, Janji berbuah dusta, kami mhn
ma’af lahir & batin agar bersih hati & Suci dlm jalani
hidup ini.. Slamat hr raya IDUL FITRI 1432 H
=====
“Manusia itu hidup serba sebentar”
Sebentar berduit
Sebentar lg g punya duit
Sebentar kenyang
Sebentar lg lapar
Sebentar sedih
Sebentar lg senang
Nah yang ini…
Sebentar lagi…
Lebaran….
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H Mohon Maaf
Lahir & Bathin
=====
Blh aya tu2r saur teu kaukur,reka basa pasalia,laku
lampah nu teu merenah, mugni sklrga neda dihpnten lhr &
btn. Wilujeng boboran siam 1432 H.
=====
Taqaballahu minna waminkum shiyamana washiamakum.
“Sesungguhnya perbuatan org2 yg SABAR & mau MEMAAFKAN
itu ialah perbuatan yg terpuji” (QS. 42:43). Mohon
dimaafkan segala kesalahan ya.Selamat idul fitri 1432 H
=====
Hti Q tK sBeNing EmbuN PriLku Q tK sLmbuT saLJu Tu2r kTa Q PnuH dEbu LPaNgkN hTimu aKn mmaaFkn khlf Q mhoN mAaf lhr&btin “MET IDUL FITRI 1432H”
Balebat fajar lebarn skdp deui ngbgeakn,hpntn sdy kalptn lahir sinrng btin
=====
Bilh aya saur nu teu kaukur, basa nu teu ka reka,laku lampah nu teu merenah,neda dihapunten tina samudaya kalepatan. Wiljng bo2ran siam 1432H
=====
“Allah Akbar” 3x “Lailahillallah Allah Akbar” Taqobbalallohu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri 1428 H. Maaf Lahir & Batin
=====
Bilih aya tutur saur nu teu ka ukur,rekaBasa nupasalia,lampah nu hnteu mernah kana manah, neda sihapunten samudaya kalepatn Taqabbalallahu minna wa minkum. “WILJNG BOBORAN 1432H”.
=====
Asslm.. Let’s celebrate this victorious day by forgiving each other & leaving all disputes behind… Happy Eid Al Fitr 1432 H… Minal ‘Aidin Wal Fa’idzin…
=====
Taqobbalallohu minna waminkum. Kasuhun kalingga murda, pamundut anu disuhun, mugia agung lumur jembar sih hapunten kana mangrupi kaleptan pribados saklwrga
=====
Ya Allah sampaikanlah kerinduan kami di ramadhan yg akan datang,amin. Taqobbalallah …minta Maaf Lahir & Batin. Met idul Fitri 1432 H
=====
Atas segala hilaf dan dosa, atas budi yg blum terbalas. Kuhaturkan ketulusan hati.minal aizin wal faidin.mohön maaf lahir dan bathin
=====
Asm. Sy & klrga bila ada salah kata, perbuatan & niat baik sengaja maupun tidak, langsung atau tidak, mohon dimaafkan. Mohon maaf lahir bathin.taqobalallohu minna waminkum siyamama wasiyamakum. Ja’alallohu minal ‘aaidin wal faaizin. Wsm
=====
Ied mubarok! Taqobbalallahu minna wa minkum, shiamana wa shiamakum, kullu aamin wa antum bi khair. Selamat Hari Raya Iedul Fitri, mhn maaf lahir & bathin
=====
Ass Wb Wbr, Tiada waktu bertatap, tiada daya bersikap, tiada kata lain terucap, “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H” Minal Aidzin wal faizin Mohon Ma’af Lahir Batin
=====
meski kk ta dtg mdkat jr tgn t mjabat wjh ta tmpak btatap jk ucap mbekas lara dlm sukma dgn sgl kridoan hati mhn maaf lhr batin smg kt fitrah kmbali
=====
Selamat Idul Fitri 1432 H, mohon maaf atas segala yg kurang berkenan semoga Allah mengembalikan kita dalam keadaan yang fitri
=====
???? ???? ??? ????? ????????????? ?????? ??????
Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf lahir bathin
=====
Wening galih nu d pamrih, jembar manah nu d penta,,Wilujeng boboran siam 1432 H..kalayan neda pangapunten tina samudayaning kalepatan..
=====
Stukan tn9an,hti.tulah indhnya silturhmi d hri kemnan9an.Pdukan keikhlsan tuk slin9 mmaafkn.Slmat hri rya idul ftri 1432 h.mhon maaf lhir&batin
=====
“kecubung batu dari kalimantan
“Cantik disanding dgn berlian,
“Berhubung 1 hari lgi Lebaran,
“Salah & khilaf mohon Dima’afkan.!
“SELAMAT HARI RAYA idul fitri. 1432 H
=====
l##l /,,,
( ^_^) (^_^))
/(”)’) (‘(”)_
Pa aDin anAk’y uDin,beLi la2p&iKan pAtin.minaL aiDzin waL faiDzin,mHn maV laHir baTin..
=====
Bilih aya tutur saur nu teu ka ukur,
laku lampah nu teu mrenah.
Simkuring neda dhapuntn sdya kaleptn.
Minl aidn wl faidzn hpuntn LhrBtn, wlujeng idulfitri1432H,

sumber : http://igcomputer.com/kumpulan-sms-ucapan-lebaran-dan-idul-fitri-1432-h-2011-m.html

Selasa, 16 Agustus 2011

Mualaf Iman Sotiria Kouvalis: Tuhan Kutahu Kau Ada...Pilihkan Agama Buatku!


Perkenalan Iman Sotiria Kouvalis dengan Islam dimulai dengan cara yang aneh. Suatu hari melihat perempuan Muslim di kampus dan merasa kasihan pada mereka. "Aku tidak mengenal mereka tapi ketika kami menyeberangi jalan di kafetaria, aku tersenyum pada mereka karena aku pikir mereka tertindas. Aku tidak pernah berbicara dengan mereka tapi aku hanya berasumsi bahwa mereka dipaksa memakai jilbab," katanya.

Saat itu, wanita yang tumbuh dan besar di Ontario, Kanada ini mengaku benar-benar berpikir bahwa semua orang di dunia adalah orang Kristen. Kejadian ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, sebelum peristiwa 11 september terjadi.

Pada saat yang sama, Iman, begitu ia minta dipanggil sekarang, tengah mengalami kekosongan batin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga Ortodoks Yunani dan menghadiri gereja setiap Minggu hampir tak pernah bolong, "Gereja tidak lagi memiliki arti dalam hidupku dan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Gereja," katanya.

Suatu dikotomi mulai muncul, di mana kehidupan dan agama itu hanyut ke sisi berlawanan. "Aku tidak bisa melihat bagaimana membuat agama relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan itulah bagaimana aku mulai menjauh dari Gereja," katanya.

Di kampus, ia mulai berinteraksi dengan mahasiswa Muslim. "Mereka menghidupkan kembali rohaniku untuk menjadi dekat dengan Tuhan lagi," katanya. Ia mengaku sedikit cemburu; bagaimana mereka begitu setia dan damai dan aku tidak, meskipun aku akan ke surga dan mereka tidak?

Ia mulai masuk ke perdebatan agama dengan mereka. Salah satu misinya, mengenalkan Yesus. Ketika mereka menyatakan percaya pada Yesus, ia terkejut. "Mereka menghormati Yesus bukan sebagai Tuhan, tapi utusan Tuhan dan salah satu nabi mereka," katanya.

Diam-diam, ketika tidak ada yang melihat, ia menyelinap ke perpustakaan untuk membaca tentang Islam untuk meyakinkan mereka bahwa mereka salah. "Aku hanya menemukan beberapa buku benar-benar aneh dan tua. Saat itu adalah zaman pra-Google sehingga tidak ada sumber informasi lain yang bisa dikorek," katanya.

Suatu hari, saat berjalan menyusuri salah satu aula universitas ia melihat beberapa pamflet di dinding tentang Islam. Sampai di rumah ia mulai membaca dan takjub. Satu pamflet bahkan berbicara tentang isyarat Muhammad dalam Alkitab. "Alkitab? Aku pikir ini bohong! Tapi aku memeriksa ayat dalam Alkitab, ternyata benar," katanya.

Ia makin bimbang. "Sampai di satu titik aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan mana agama yang benar," katanya.

Ia mendatangi gereja lagi, dan lebih sering ke sana, dua kali seminggu. "Aku mulai membaca Alkitab lagi, tapi kali ini dalam rangka untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku," katanya.

Setelah berbulan-bulan ini, ia mengaku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk pergi menemui pendeta. "Pertanyaanku tiga: Jika Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kita hanya perlu percaya ini untuk diselamatkan dan masuk surga, lalu bagaimana itu masuk akal? Itu berarti aku dapat melakukan dosa dan diselamatkan? Bagaimana bisa Tuhan 3 in 1? Apa pendapat Anda tentang Islam?"

"Untuk dua pertanyaan pertama, ia mencoba yang terbaik untuk menjelaskan, tapi sudah jelas bagiku bahwa ada banyak ambiguitas dalam jawabannya. Ketika kami sampai ke pertanyaan ketiga, matanya melotot keluar dan wajahnya memerah! Ia memintaku untuk menjauh dari orang-orang yang mempengaruhiku hingga bertanya demikian."

Ia meninggalkan pertemuan dengan kecewa. "Untuk pertama kalinya, hal ini menyebabkan celah pasti dalam imanku. Aku justru makin menemukan jawaban," katanya.

Setelah berbulan-bulan lebih intens membaca, studi kritis terhadap kedua agama dan berdoa pada Tuhan untuk ditunjukkan agamanya, hatinya makin condong pada Islam. Namun, ia masih ragu dan takut akan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama keluarganya. Ia takut menyakiti hati mereka.

Namun, ia dikuatkan setelah bertemu ayat 113-115 dalam surat Ali Imran. "Aku mengerti bahwa sebagai Muslim kita harus menghormati orang dari agama lain untuk beberapa dari mereka benar-benar tulus dan mereka percaya Allah. Pada akhirnya, bukan mereka atau aku yang akan menghakimi orang, hanya Tuhan yang bisa melakukan itu," katanya.

Iapun memutuskan bersyahadat. "Aku datang pada Islam melalui buku. Melalui studi kritis dan intens seperti mualaf lain. Jika Anda berada dalam situasi ini, Anda berutang kepada diri sendiri untuk menemukan jawaban sekarang karena kita tidak tahu kapan kita akan mati. Dan untuk mengetahui bahwa Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir kritis. It's OK untuk mengajukan pertanyaan dan it's OK untuk menemukan jawaban."

sumber : republika.co.id

Senin, 15 Agustus 2011

Kisah Sahabat Nabi: Miqdad bin Amr, Mujahid Ulung dan Ahli Filsafat


Di masa jahiliyah ia terikat janji dengan Aswad Abdu Yaghuts untuk diangkat sebagai anak hingga namanya berubah menjadi Miqdad bin Aswad. Tetapi setelah turunnya ayat mulia yang melarang merangkaikan nama anak dengan nama ayah angkatnya dan mengharuskan merangkaikannya dengan nama ayah kandungnya, maka namanya kembali dihubungkan dengan nama ayahnya, yaitu Amr bin Sa'ad.

Miqdad bin Amr termasuk golongan yang pertama kali masuk Islam. Ia adalah orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan, serta kekejaman kaum Quraisy. Keberanian dan perjuangannya di medan Perang Badar akan selalu diingat oleh kaum Muslimin sampai saat ini.

Bahkan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini."

Miqdad bin Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badar karena kekuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah', sedang kami akan mengatakan kepada anda, 'Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu'. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan."

Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang Mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Bahkan cara bicara Miqdad patut dicontoh oleh yang lain. Kata-kata Miqdad benar-benar berdampak positif kepada segenap pasukan Islam.

Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum Anshar berkata, "Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan kami telah saksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita."

Rasulullah sangat senang. Beliau bersabda kepada para pengikutnya, "Berangkatlah dan bergembiralah!"

Dan kedua pasukan pun berhadapan. Jumlah anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin Amr, Martsad bin Abi Martsad, dan Zubair bin Awwam; sementara yang lain berjalan kaki atau menunggang unta.

Ia pernah diangkat oleh Rasulullah sebagai Gubernur di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, "Bagaimana dengan jabatanmu?"

Ia menjawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang."

Ia menjadi gubernur, lalu dirinya dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi gubernur lagi setelah pengalaman pahit itu. Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Ia sering mengucapkan sabda Nabi SAW yang berbunyi, "Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran."

Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

Di antara sikap bijaknya adalah kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari Rasulullah SAW yang telah menyampaikan kepada umatnya, "Berubahnya hati manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih."

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan setelah kematian?

Dari percakapannya dengan seorang sahabat dan seorang tabi'in berikut ini, menunjukkan kemahirannya dalam berfilsafat dan ia berhak menyandang gelar seorang filsuf:

Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk dekat Miqdad. Tiba-tiba lewat seorang laki-laki, dan berkata kepada Miqdad, "Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah! Demi Allah, andainya aku bisa melihat apa yang engkau lihat, dan menyaksikan apa yang engkau saksikan."

Miqdad berkata, "Apa yang mendorong kalian untuk menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya? Demi Allah, bukankah pada masa Rasulullah banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya di neraka Jahanam? Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian?"

Inilah suatu hikmah yang diungkapkan Miqdad, memang tidak seorang pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali ia dapat hidup di masa Rasulullah dan hidup bersamanya. Tetapi pandangan Miqdad tajam dan dalam, pemikirannya dapat menembus sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang sedikit pun.

sumber : republika.co.id

Para Perawi Hadits: Imam An-Nasa'i, Dari Al-Mujtaba ke Sunan Nasa'i


Nama lengkap Imam An-Nasa’i adalah Abu Abdul Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr Al-Khurasani Al-Qadi. Ia lahir di daerah Nasa’ pada 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa ia lahir pada 214 H.

Ia dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (An-Nasa’i), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadits kaliber dunia. Ia berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadits, yakni Al-Mujtaba yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan An-Nasa’i.

Pada awalnya, Nasa'i tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’. Ia berhasil menghapal Alquran di madrasah yang ada di desa kelahirannya. Ia juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu keagamaan dari para ulama di daerahnya.

Saat remaja, seiring dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, ia pun mulai gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia. Apalagi kalau bukan untuk memburu ilmu-ilmu keagamaan, terutama disiplin hadits dan ilmu hadits.

Belum genap 15 tahun, Nasa'i sudah melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Irak, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh di kalangan para Imam Hadis.

Semua imam hadits, terutama enam imam hadits, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulama-ulama hadits, termasuk Imam An-Nasa’i.

Kemampuan intelektual Imam Nasa’i menjadi kian matang dan berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena justru di daerah inilah, ia mengalami proses pembentukan intelektual. Sementara masa pengembaraannya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.

Seperti para pendahulunya—Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi—Imam Nasa’i juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para gurunya memiliki nama harum yang tercatat oleh pena sejarah, antara lain; Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, Al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abu Dawud), serta Imam Abu Isa At-Tirmidzi (penyusun Kitab Al-Jami’ atau Sunan At-Tirmidzi).

Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramah-ceramahnya, antara lain; Abu Al-Qasim At-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far At-Thahawi, Al-Hasan bin Al-Khadir Al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin Al-Ahmar Al-Andalusi, Abu Nashr Ad-Dalaby, dan Abu Bakar bin Ahmad As-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam An-Nasa’i dalam meriwayatkan kitab Sunan An-Nasa’i.

Sudah mafhum di kalangan peminat kajian hadits dan ilmu hadits, para imam hadits merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah, para imam hadits kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak terhingga nilainya.

Tidak ketinggalan pula Imam Al-Nasa’i. Karya-karyanya yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah antara lain; As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra (kitab ini merupakan bentuk perampingan dari kitab As-Sunan Al-Kubra), Al-Khashais, Fadhail Al-Shahabah, dan Al-Manasik. Menurut sebuah keterangan yang diberikan oleh Imam Ibn Al-Atsir Al-Jazairi dalam kitabnya Jami Al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i.

Karya Imam Al-Nasa’i paling monumental adalah Sunan An-Nasa’i. Sebenarnya, bila ditelusuri secara seksama, terlihat bahwa penamaan karya monumental beliau sehingga menjadi Sunan An-Nasa’i sebagaimana yang kita kenal sekarang, melalui proses panjang, dari As-Sunan Al-Kubra, As-Sunan As-Sughra, Al-Mujtaba, dan terakhir terkenal dengan sebutan Sunan An-Nasa’i.

Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan An-Nasa’i, kitab ini dikenal dengan As-Sunan Al-Kubra. Setelah tuntas menulis kitab ini, Imam Nasa'i kemudian menghadiahkan kitab tersebut kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan.

Amir kemudian bertanya kepada An-Nasa’i, "Apakah kitab ini seluruhnya berisi hadits shahih?"

Nasa'i menjawab dengan jujur, "Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir serupa dengannya."

Kemudian Amir berkata kembali, "Kalau demikian halnya, maka pisahkanlah hadits yang shahih-shahih saja!"

Atas permintaan Amir ini, Imam Nasa'i kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadits yang telah tertuang dalam kitab As-Sunan Al-Kubra. Dan akhirnya ia berhasil melakukan perampingan terhadap As-Sunan Al-Kubra, sehingga menjadi As-Sunan Al-Sughra. Dari segi penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.

Imam Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadits-hadits yang termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama berkomentar, "Kedudukan kitab As-Sunan Al-Sughra di bawah derajat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir, sedikit sekali hadits dhaif yang terdapat di dalamnya."

Nah, karena hadits-hadits yang termuat di dalam kitab kedua (As-Sunan Al-Sughra) merupakan hadits-hadits pilihan yang telah diseleksi dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan Al-Mujtaba. Pengertian Al-Mujtaba bersinonim dengan Al-Mukhtar (yang terpilih), karena memang kitab ini berisi hadits-hadits pilihan, hadits-hadits hasil seleksi dari kitab Al-Sunan Al-Kubra.

Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadits. Ia juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadits-hadits yang diterimanya.

Abu Ali Al-Naisapuri pernah berujar, "Orang yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah seorang imam hadits yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abdul Rahman An-Nasa’i."

Setahun menjelang kemangkatannya, Imam Nasa'i pindah dari Mesir ke Damaskus (Suriah). Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggalnya. Ad-Daruquthni mengatakan, Imam Nasa'i wafat di Makkah dan dikebumikan di antara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah Al-’Uqbi Al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam Adz-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Yunus, Abu Ja’far At-Thahawi (murid Nasa’i) dan Abu Bakar An-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, An-Nasa’i meninggal pada 303 H dan dikebumikan di Baitul Maqdis, Palestina

sumber : republika.co.id

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kelahiran Ibrahim


Rasulullah kembali ke Madinah setelah membebaskan Makkah dan setelah mendapat kemenangan di Hunain dan mengepung Ta'if. Dalam hati orang Arab, semua sudah nyata dan yakin, bahwa takkan ada yang dapat menandingi kaum Muslimin di seluruh jazirah, juga tak ada lagi lidah yang akan mengganggu atau mencela Rasulullah.

Pihak Anshar dan Muhajirin semua merasa sangat gembira karena Allah telah membukakan jalan kepada Nabi, membebaskan negeri tempat Masjid Suci. Mereka gembira karena penduduk Makkah telah beroleh hidayah dengan menganut Islam, dan orang-orang Arab—dengan kabilahnya yang beraneka ragam itu—telah tunduk dan taat kepada agama ini.

Kemenangan yang belum ada taranya dalam sejarah Arab ini telah menimbulkan kesan yang dalam sekali di dalam hati orang-orang Arab, juga dalam hati pembesar-pembesar dan bangsawan-bangsawan Quraiys. Mereka tak pernah membayangkan, bahwa pada suatu hari mereka akan tunduk kepada Muhammad SAW atau akan menerima agamanya sebagai agama mereka.

Kabilah-kabilah Arab mulai berdatangan kepada Nabi dan menyatakan kesetiaannya. Dari kabilah Tayy, datang utusan yang dipimpin oleh ketuanya sendiri, Zaid Al-Khail. Setelah mereka ini tiba, Nabi pun menyambut mereka dengan baik sekali.

Ketika terjadi pembicaraan dengan Zaid, Nabi berkata, "Setiap ada orang dari kalangan Arab yang digambarkan begitu baik, kemudian orang itu datang kepadaku, ternyata ia kurang daripada apa yang digambarkan orang, kecuali Zaid Al-Khail ini. Ia melebihi daripada apa yang digambarkan orang."

Lalu Rasulullah menamainya Zaid Al-Khair (Zaid yang baik) bukan lagi, Zaid Al-Khail (Zaid si kuda). Kabilah Tayy kemudian masuk Islam termasuk Zaid sendiri sebagai pemimpinnya.

Demikian juga pemuka-pemuka kabilah yang lain berdatangan kepada Rasulullah—setelah pembebasan Makkah dan kemenangan di Hunain serta pengepungan Ta'if—mereka hendak mengakui risalahnya dan menerima Islam. Sementara itu, ketika kembali ke Madinah, kaum Rasulullah lega dengan adanya pertolongan Allah dan kehidupan yang tenteram itu.

Akan tetapi ketenteraman hidup masa itu tampaknya tidak begitu cerah. Pada waktu itu Zainab, putri Rasulullah sedang menderita sakit yang sangat mengkhawatirkan. Akhirnya sakit yang diderita Zainab berujung maut. Dengan kematiannya itu tak ada lagi dari keturunan Rasulullah yang masih hidup selain Fatimah—setelah Ummu Kultsum dan Ruqayyah wafat lebih dulu sebelum Zainab. Dengan kehilangan putrinya ini, Rasulullah sangat sedih.

Namun kesedihan itu tak berlangsung lama, Mariyah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberinama Ibrahim, nama yang diambil dari Nabi Ibrahim—leluhur para nabi.

Sejak Mariyah diberikan oleh Muqauqis kepada Nabi Muhammad, sampai pada waktu itu masih berstatus hamba sahaya. Oleh karena itu, tempatnya tidak di samping masjid seperti istri-istri Nabi, Ummul Mukminin yang lain. Rasulullah menempatkan Mariyah di Alia, di bagian luar kota Madinah—tempat yang kini diberinama Masyraba Ummu Ibrahim—dalam sebuah rumah di tengah-tengah kebun anggur.

Dengan kelahiran Ibrahim itu, kedudukan Mariyah dalam pandangannya tampak lebih tinggi, dari tingkat bekas budak ke derajat istri. Dan Rasulullah juga kian dekat dengannya. Wajar sekali jika hal ini menambah rasa iri hati di kalangan istri-istri Nabi yang lain. Apalagi Mariyah melahirkan keturunan beliau, sedang mereka semua tidak memperoleh seorang putra pun.

sumber : republika.co.id

Minggu, 14 Agustus 2011

Alex Hendra Lukman, Ketua PDIP Sumbar: Menjadi Muallaf Melalui Penelitian Ilmiah


PILIHAN menjadi muallaf bagi Alex Hendra Lukman, bukanlah sebuah keputusan yang terjadi tiba-tiba. Namun, proses itu telah dilaluinya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Bergaul dengan banyak sahabat muslim, membuatnya tertarik mempelajari agama Islam lebih dalam. Rasa ketertarikannya pada agama Islam itulah akhirnya mengubah keyakinan yang sejak kecil telah dianutnya. Setelah melakukan penelitian panjang terhadap Islam, ia pun mantap memilih Islam sebagai agamanya.

Sejak kecil Alex –panggilan Alex Hendra Lukman– lahir dalam keluarga Pancasilais. Masing-masing anggota keluarga memiliki keyakinan yang berbeda. Menariknya, semuanya tetap menghargai apa pun keyakinan yang dianut anggota keluarga yang lain. Rasa toleransi telah hidup dalam keluarga besar Alex.

“Saat saya sekolah di Pemancungan, saya banyak bergaul dengan teman-teman muslim. Dari merekalah saya belajar Islam sedikit demi sedikit. Keputusan mengubah akidah saya bukan terjadi secara instan, tapi melalui proses cukup panjang. Tak mudah bagi saya membuat keputusan tersebut, mungkin bagi orang-orang yang sejak kecil sudah beragama Islam tak merasakan apa yang saya rasakan. Saya menjadi muallaf lewat proses pemilihan bukan terlahir sebagai muslim,” ujar Alex.

....Saya menjadi muallaf lewat proses pemilihan bukan terlahir sebagai muslim...

Meski banyak bergaul dengan muslim, tak berarti Alex langsung mengubah keyakinannya. Ia mulai melakukan perbandingan dengan agama yang dianutnya, serta agama lainnya. Menurutnya, pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan. Namun, ia merasakan ajaran Islam jauh lebih komprehensif membahas tatapergaulan di masyarakat. Ia pun terus menggali informasi dan pengetahuan tentang ajaran Islam dari berbagai sumber. Semakin ia menggali ajaran Islam, rasa ketertarikannya terhadap Islam semakin kuat.

“Rasa ketertarikan mempelajari Islam di saat SMA tak cukup membuat saya segera berubah keyakinan. Saya tetap dengan keyakinan saya. Saat kuliah di Luftanza, Jerman, saya juga bergaul dengan banyak orang muslim ditempat itu. Terkadang saya juga ikut-ikutan puasa kalau teman-teman berpuasa. Hal itu terjadi secara otomatis saja, karena saya menghormati agama mereka,” ucapnya.

Ketua Umum DPD PDIP Sumbar ini berada di Luftanza dari tahun 1990 sampai 1996. Di sana ia bekerja sambil kuliah. Di tempat itu pun ia kembali menggali ajaran Islam dari rekan-rekannya. Baginya semakin ia mengenal lebih banyak soal ajaran Islam, rasa ketertarikannya semakin kuat. Namun, saat menempuh pendidikan di tempat itu, ia masih saja belum berani membuat keputusan berpindah agama.

Tahun 2007, setelah melalui proses yang cukup panjang, Alex memutuskan berpindah agama. Ia pun menghubungi Buya Masoed Abidin untuk mengislamkan dirinya. Keinginan berpindah agama tersebut didukung Buya Masoed Abidin dan juga Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur Sumbar. Waktu itu, Gamawan Fauzi dan mantan Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman, jadi saksi.

...Tahun 2007, setelah melalui proses yang cukup panjang, Alex memutuskan berpindah agama...

“Prosesi saya menjadi muallaf dilakukan di Gubernuran, disaksikan banyak orang. Sebetulnya, saya tak mau juga perpindahan keyakinan diketahui banyak orang. Bagi saya, urusan agama adalah urusan individu dengan tuhan. Tak ada korelasinya dengan sesama manusia,” ucapnya

Jika sebelumnya Alex hanya belajar ajaran Islam, setelah masuk Islam ia mulai melaksanakan ajaran secara sungguh-sungguh. Bagi Alex menjalankan shalat dan ibadah puasa pertama di bulan Ramadhan, bukanlah suatu hal yang berat. Sebab, ia telah terbiasa berpuasa.

“Jika semuanya berasal dari hati tak ada yang sulit. Misalnya saja saat ada orang nonmuslim merokok dan makan di depan saya, tak ada sedikit pun niat saya untuk membatalkan puasa. Bagi saya itulah hakikat dari puasa, yakni menahan diri dari berbagai macam godaan termasuk godaan dari penjual-penjual makanan,” ucapnya.

Empat tahun Alex resmi menjadi muallaf, ia terus menggali pengetahuannya soal ajaran Islam. Jika ada ajaran Islam yang tidak dimengertinya, ia akan langsung menanyakan persoalan itu pada buya Masoed Abidin. Sebut saja menghitung zakat mall dari harta yang ia miliki. Termasuk menghitung fidyah yang harus dibayarkan istrinya. “Kalau saya bingung, langsung saya koordinasikan bagaimana cara pembayarannya. Sampai hari ini saya masih terus belajar agama Islam. Untuk belajar tentunya tak akan pernah ada kata cukup,” katanya.

Saat memutuskan memeluk agama Islam, Alex mengaku, keluarga besarnya tak mempersoalkan agama baru yang dianutnya. Keluarganya tetap menghargai apa pilihan hidupnya. Bahkan, saat ia belum menikah orangtuanya kerap membuatkan makanan untuk sahur baginya. Padahal, orangtuanya tak muslim. Demikian juga saudaranya yang lain, sangat menghargai agama barunya.

“Kalau mereka makan, minum atau merokok saat saya sedang puasa, biasanya mereka akan sembunyi dari saya. Tapi, kalau mereka tak ingat, ada juga yang makan, minum dan merokok di depan saya. Setelah teringat, dia berhenti makan, minum dan merokok,” katanya.

Alex juga merasa miris atas tudingan sejumlah pihak padanya yang mengatakan kepindahan keyakinannya adalah sebagai salah satu cara menarik dukungan politik. Padahal, pandangan tersebut adalah pandangan keliru. Sebab, hal tersebut tak pernah sama sekali terlintas dalam pikiran dan hatinya. Bahkan, ia baru menjabat sebagai ketua partai setelah cukup lama ia memeluk Islam.

“Saya tak pernah menarik dukungan dengan mendatangi masjid atau pun mengucapkan selamat saat momen-momen perayaan agama Islam. Bagi saya, semua itu sangat prinsip sekali. Ibadah adalah urusan saya dengan tuhan, orang lain tak perlu tahu bagaimana hubungan saya dengan tuhan. Sekarang dari segi mana saya memanfaatkan agama untuk kepentingan politik? Tidak ada kan? Keputusan saya menjadi muslim itu adalah pilihan hati saya, bukan karena adanya embel-embel tertentu,” jelasnya.

Alex juga menyesalkan anggapan miring sekelompok orang yang mengaitkan kepindahan agamanya dikarenakan agar ia bisa menikah. “Memang untuk sesuatu yang baik itu keimanan kita selalu diuji, termasuk saya. Berbagai tudingan miring saat saya baru memeluk Islam kerap datang. Namun, saya berusaha untuk ikhlas menerimanya. Mungkin, itu adalah ujian juga terhadap keimanan saya,” jelasnya.

....Berbagai tudingan miring saat saya baru memeluk Islam kerap datang. Namun, saya berusaha ikhlas menerimanya. Mungkin, itu adalah ujian keimanan saya...

Meski banyak anggapan orang yang meragukan alasannya untuk berpindah keyakinan, Alex mengaku tidak terpengaruh dengan semua itu. Sebab, kata hati seseorang hanya orang tersebut dan tuhan mengetahuinya. Sementara orang lain hanya bisa menerka-nerka. Manusia dapat saja membohongi orang lain dengan perkataan dan perbuatannya, namun manusia atau muslim tentu tak dapat membohongi penciptanya.

“Makanya, saya tak ambil pusing soal itu. Hanya saya dan tuhan yang tahu apa yang ada dalam pikiran dan hati saya. Manusia lain tidak akan pernah tahu apa yang saya rasakan dan pikirkan. Biarlah itu jadi rahasia saya dan tuhan saja,” ucapnya. [taz/jpn]

sumber : voa-islam.com

Promosikan produk anda voa-i

Sabtu, 13 Agustus 2011

Mualaf Elena Pouliasi Sempat Salah Duga tentang Kehidupan Muslimah


Melihat penampilannya sekarang, tak ada yang menyangka gadis yang tumbuh di lingkungan kelas menengah Yunani ini belum pernah bersinggungan dengan islam sampai ia menginjak usia 20-an tahun. Elena Pouliasi, kini anggun dalam balutan busana Muslimah. Ia bersyahadat setahun lalu dengan mengambil risiko yang sangat besar, pecahnya hubungan dengan keluarga besarnya. "Setidaknya, orang tua saya tahu saya 'jatuh' ke arah kebenaran, bukan ke jurang narkoba," ia trsenyum menuturkannya.

Elena mengenal Islam jauh dari negerinya, di Inggris. Ia terbang ke negara itu untuk melanjutkan pendidikan, tiga tahun lalu.

Di negara ini, populasi Muslim populasi Muslim cukup banyak. Ia kerap bersinggungan dengan mereka baik di kampus atau di sekitar tempat ia tinggal di London.

"Seperti kebanyakan orang Yunani, aku tumbuh dengan mentalitas bahwa Muslim adalah orang-orang yang ketat dan tertindas. Aku melihat wanita dengan jilbab dan aku prihatin. Mereka sungguh tak punya kehidupan," ia menceritakan apa yang ada dalam pikirannya saat sebelum berislam.

Namun makin dekat dengan mereka, Elena menemukan kondisi yang berbeda. Dua sahabatnya di London berasal dari Arab Saudi - ia menggambarkan mereka sebagai sangat cerdas dan berbakat - dan apa yang dibayangkannya tentang ketertindasan sangat jauh dari kenyataan.

"Mereka secara alami mengenakan jilbab.Tapi mereka sungguh independen," katanya.

Elena mulai mencari tahu tentang Islam. Ia juga kerap membaca Quran dalam terjemahan bahasa Yunaninya. "Aku mulai menyadari bahwa aku keliru selama ini. Aku melihat, sebagai contoh, cinta dan menghormati wanita dan ibu adalah utama dalam Islam," katanya.

Ia makin larut belajar Islam. "Hampir tidak sadar aku berhenti minum dan makan daging babi," katanya.

Proses ini berlangsung sekitar delapan bulan. "Aku merasa aku mulai hidup sebagai seorang Muslim. Aku berhati-hati saat aku pergi, aku lebih berhati-hati dengan pakaian yang kupakai, aku berhenti bersumpah serapah, dan menjadi lebih murah hati dan sopan," katanya.

Pada 15 Mei tahun lalu, ia resmi menjadi seorang Muslim. Jilbab sempat menjadi hal yang dikhawatirkannya. Pada awalnya, ia mengenakan jilbab ketika ia di keluar kantor, tapi begitu masuk halaman kantornya, ia buru-buru melepaskan dan menyimpannya di dashboard mobilnya. Namun, kini ia konsisten mengenakannya, apapun risiko yang dihadapi. Elena kini memiliki kantor sendiri, sebuah biro penerjemah resmi.

sumber : republika.co.id

Jumat, 12 Agustus 2011

Kisah Sahabat Nabi: Khubaib bin Adi, Syahid di Tiang Salib


, Pada tahun ke-3 hijriyah, beberapa utusan dari kabilah Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah SAW. Mereka mengabarkan bahwa mereka telah mendengar tentang Islam. Untuk itu mereka meminta Rasulullah agar mengirim utusan agar dapat mengajarkan Islam kepada mereka.

Maka Rasulullah pun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir (pemimpin) mereka. Namun di suatu tempat, di antara Usfan dan Makkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari Bani Lihyan. Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.

Sebenarnya, Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah musyrik tersebut. Namun Allah SWT berkehendak lain. Biji-biji kurma yang mereka bawa sebagai bekal dari Madinah, tercecer sepanjang jalan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya kesepuluh sahabat itu pun terkejar.

"Kami berjanji tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian jika kalian menyerah," teriak salah seorang musyrik yang mengepung mereka.

"Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu," jawab Ashim tegar.

Maka rombongan musyrik itu pun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan enam sahabat lain, hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak, "Ini adalah pengkhianatan pertama!" serunya sambil berusaha melawan. Ia pun syahid.

Selanjutnya Khubaib dan Zaid dibawa ke Makkah dan dijual sebagai budak. Sementara itu, Bani Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib, mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib telah mereka hapal luar kepala, karena Khubaiblah yang membunuh Harits bin Amir, seorang pemuka Makkah, pada perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaib pun mereka beli.

Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota Al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut, memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Makkah dan Khubaib pun diikat tangannya dengan rantai besi.

Keluarga Al-Harits menakut-nakuti Khubaib, bahwa saudara sekaligus sahabatnya, Zaid yang juga dibeli keluarga Makkah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya!

Namun berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya. Sebaliknya, hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya keluarga Al-Harits pun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanan yang tegar itu.

Namun sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka Khubaib mendirikan shalat dua rakaat. Usai shalat, Khubaib menoleh kepada para algojo yang mengawasinya sambil berkata, "Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku."

Inilah shalat sunnah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian. Kemudian Khubaib melantunkan sebait syair:
Mati bagiku tak menjadi masalah
Asalkan dalam ridha dan rahmat Allah
Dengan jalan apa pun kematian itu terjadi
Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi
Kuberserah kepada-Nya
Sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya

Setelah itu, Khubaib pun disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikit pun rasa belas kasih, pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah. Dalam keadaan demikian, seorang pemuka Quraisy menghampirinya dan berkata, "Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat wal afiat bersama keluargamu?"

"Demi Allah," jawab Khubaib, "Tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!"

"Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad," kata Abu Sufyan suatu hari, mengenai para sahabat Rasulullah.

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojo pun menghabisi Khubaib. Namun sebelum ruhnya meninggalkan raga, Khubaib sempat berucap, "Ya Allah, kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami."

Setelah, itu orang-orang musyrik meninggalkan tubuh Khubaib dalam keadaan tetap tersalib di tiangnya. Sementara burung-burung nazar yang sejak tadi berputar-putar menanti mangsanya, tiba-tiba juga meninggalkannya. Rupanya Sang Khalik tidak ridha hamba-Nya yang taat itu menjadi mangsa burung-burung pemakan bangkai.

Demikian pula doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Pemilik dalam keadaan pasrah dan ridha pada ketetapan-Nya. Tampak jelas bahwa Sang Khalik tidak tega menolaknya. Itu sebabnya, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul ke tempat Khubaib disalib. Padahal ketika itu tak seorang pun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut.

Setiba di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam, kedua utusan tadi kemudian melepaskan sang mujahid dari tiang salib kemudian membawa dan memakamkannya di suatu tempat yang hingga detik ini tak seorang pun mengetahuinya.

sumber : republika.co.id

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa'id bin Ash, Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat


Khalid bin Sa’id bin Ash dilahirkan di sebuah keluarga kaya dan mewah, dan tergolong kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan.

Khalid adalah seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara. Tapi yang sebenarnya, pada batinnya dan dalam lubuk hatinya, bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegembiraan.

Suatu hari, Khalid yang sudah bangun itu masih berada di tempat tidurnya, baru saja mengalami suatu mimpi yang sangat dahsyat. Bahwa ia berdiri di bibir nyala api yang besar, sedang ayahnya dari belakang hendak mendorongnya dengan kedua tangannya ke arah api itu dan bermaksud hendak melemparkannya ke dalamnya. Kemudian dilihatnya Rasulullah datang ke arahnya, lalu menariknya dari belakang dengan tangan kanan­nya yang penuh berkah hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api.

la tersadar dari mimpinya dengan memperoleh bekal langkah perjuangan menghadapi masa depannya. Ia segera pergi ke rumah Abu Bakar lalu menceritakan mimpinya itu. Dan mimpi seperti itu sebetulnya tidak memerlukan ta’bir lagi.

Kata Abu Bakar kepadanya, "Sesungguhnya tak ada yang kuinginkan untukmu selain dari kebaikan. Nah, dialah Rasulullah SAW. Ikutilah dia, karena sesungguhnya Islam akan menghindarkanmu dari api neraka!"

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah SAW sampai menemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang dakwahnya.

Kata Nabi, "Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Dan engkau beriman kepada Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nya. Dan engkau tinggalkan penyembahan berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudharat dan tidak pula manfaat."

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan Rasulullah SAW dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun berucap, "Aku bersaksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah."

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari agama ini adalah salah seorang di antaranya putra Sa’id bin Ash, maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya menjadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy. Dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya, Khalid, lalu bertanya, "Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan membiarkannya mencaci tuhan-tuhan kita?"

Jawab Khalid, "Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguhnya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya."

Ketika itulah pukulan ayahnya secara bertubi-tubi menimpa dirinya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga. Namun Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci, "Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman kepadanya!"

Jelaslah sekarang bagi Sa’id, bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu, dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Makkah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panas menyengat. Sa'id memperlakukan putranya sedemikian rupa selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan, tanpa setetes air pun yang membasahi bibirnya.

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumahnya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara, baik dengan membujuk atau mengancamnya.

Tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, "Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apa pun, aku akan hidup dan mati bersamanya!" katanya pada sang ayah.

Maka berteriaklah Sa’id, "Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat. Demi Lata, kau tak boleh makan di sini!"

"Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki," jawab Khalid. Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan dan kesenangan itu. Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pengorbanan dan mengatasi segala halangan demi keimanan.

Dan sewaktu Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya hijrah yang kedua ke Habasyah, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ke-7. Mereka dapatkan kaum Muslimin telah membebaskan Khaibar.

Khalid kemudian bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru. Di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau pertempuran. Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan kesayangan dan penghormatan.

Sebelum wafatnya, Rasulullah mengangkat Khalid menjadi gubernur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

Ia kenal betul kelebihan Abu Bakar yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun. Tetapi ia berpendirian bahwa di antara kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan khalifah itu adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak berbaiat kepada Abu Bakar. Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat baiat dan tidak pula membencinya. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya.

Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di masjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka ia pun membaiatnya dengan tulus dan hati yang teguh.

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria (Suriah), dan menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. Tetapi sebelum tentara itu bergerak meninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya Abu Bakar merubah keputusannya dalam pengangkatan ini.

Abu Bakar Ash-Shiddiq meringankan langkah ke rumah Khalid meminta maaf padanya serta menerangkan pendiriannya yang baru. Abu Bakar menanyakan Sa'id kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah?

Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjukkan kebesaran jiwa dan ketakwaannya. "Anak pamanku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya." Kemudian ia memilih sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah.

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria, yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, terdapat seorang syahid yang mulia. Ketika kaum Muslimin mencari-cari para syuhada sebagai korban pertempuran, mereka mendapati jasad Khalid dalam keadaan tenang, diam, dengan seulas senyum tipis.

sumber : republika.co.id

Halaman Ke