Selasa, 19 Juli 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Perang Muktah (1)


Rasulullah SAW belum merasa perlu buru-buru membebaskan Makkah. Beliau sangat mengetahui bahwa masalahnya hanya soal waktu saja. Perjanjian Hudaibiyah baru setahun berjalan. Juga bukan maksudnya akan mengadakan pelanggaran. Rasulullah orang yang sangat setia. Tiada satu kata yang pernah diucapkan atau perjanjian yang pernah dibuat, akan dilanggarnya.

Oleh sebab itu, tatkala beliau kembali ke Madinah selama beberapa bulan tidak terjadi bentrokkan-bentrokan, kecuali kecil-kecilan saja. Seperti pengiriman 50 orang kepada Bani Sulaim dengan tugas dakwah mengajak mereka menganut Islam, yang kemudian dibunuh oleh Bani Sulaim secara gelap.

Begitu juga Bani Laits dan Zafar yang telah menyerang dan merampas. Sama pula dengan hukuman yang telah dijatuhkan kepada Bani Murrah karena pengkhianatan mereka. Demikian juga adanya 15 orang yang telah dikirim ke Dzat At-Talh di perbatasan Syam dengan tugas dakwah kemudian dibunuh, dan dibalas dengan pembunuhan juga, sehingga tak ada yang selamat kecuali pemimpinnya.

Memang perhatian Nabi tertuju ke wilayah Syam dan bagian-bagian utara ini, yaitu setelah di bagian selatan diadakan perjanjian keamanan dengan pihak Quraisy dan setelah penguasa di Yaman bersedia menerima seruan beliau. Jalur penyebaran dakwah Islam yang pertama setelah keluar dari semenanjung Arab sudah beliau bayangkan.

Rasulullah melihat Syam dan daerah-daerah di dekatnya itu merupakan pintu pertama jalur dakwah itu. Oleh karena itu beberapa bulan kemudian sekembali dari umrah, beliau mengerahkan 3.000 ribu orang yang kemudian di Mu'tah berhadapan dengan 100.000 orang pasukan lawan.

Ahli-ahli sejarah masih berbeda pendapat mengenai sebab-musabab terjadinya Perang Mu'tah tersebut. Sebagian mengatakan bahwa dibunuhnya sahabat Nabi di Dzat At-Talh itulah yang menyebabkan adanya penyerbuan sebagai hukuman atas mereka
yang telah berkhianat itu.

Sebagian lagi berpendapat bahwa ketika Nabi mengirim seorang utusan kepada gubernur Heraklius di Bushra (Bostra), itu dibunuh oleh orang Badui dari Ghassan atas nama Heraklius. Rasulullah kemudian memerintahkan mereka yang sedang berperang di Mu'tah supaya memberi hukuman kepada penguasa itu dan siapa saja yang membantunya.

Kalau Perjanjian Hudaibiyah merupakan pendahuluan 'Umratul Qadha', lalu pembebasan Makkah, maka ekspedisi Mu'tah ini juga merupakan pendahuluan Perang Tabuk; dan setelah Nabi wafat kemudian terjadi pembebasan Syam. Masalahnya sama saja, yang menimbulkan ekspedisi Mu'tah itu karena dibunuhnya utusan Nabi kepada penguasa Bushra, atau karena 15 orang sahabat beliau yang juga dibunuh di Dzat At-Talh.

Pada bulan Jumadil Awal tahun kedelapan Hijrah (tahun 629 M), Nabi SAW memanggil 3.000 orang pilihan dengan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid
bin Haritsah. "Kalau Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi Thalib yang memegang
pimpinan. Dan kalau Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang memegang pimpinan," pesan beliau.

Ketika pasukan ini berangkat, Khalid bin Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang, ia hendak memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah juga turut mengantarkan mereka sampai ke luar kota.

Beliau berpesan, "Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak. Jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Allah menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat."

Komandan pasukan berencana hendak menyergap pihak Syam secara tiba-tiba, sebagaimana yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sudah-sudah. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma'an di bilangan Syam tanpa mengetahui apa yang akan mereka hadapi di sana.

Akan tetapi berita keberangkatan mereka sudah lebih dulu sampai. Syurahbil, penguasa Heraklius di Syam, sudah mengumpulkan kelompok-kelompok kabilah yang ada di sekitarnya. Pasukan tentara yang terdiri dari orang-orang Yunani dan orang-orang Arab sebagai bantuan dari Heraklius didatangkan pula.

Beberapa keterangan menyebutkan bahwa Heraklius sendirilah yang tampil memimpin pasukannya itu sampai bermarkas di Ma'ab di bilangan Balqa'. Pasukan Heraklius ini terdiri dari 100.000 pasukan Romawi, ditambah dengan 100.000 lagi dari Lakhm, Judham, Qain, dan Bahra'. Dikatakan juga bahwa Theodore, saudara Heraklius, itulah yang memimpin pasukan, bukan Heraklius sendiri.

Ketika pihak Muslimin berada di Ma'an, mereka dapat melihat keadaan pasukan musuh. Dua malam mereka berada di tempat itu sambil melihat-lihat apa yang harus dilakukan berhadapan dengan jumlah pasukan musuh yang begitu besar. Suatu perbandingan yang sangat tak seimbang; pasukan Muslimin berjumlah 3.000 orang menghadapi pasukan musuh yang mencapai 200.000 orang.

Salah seorang dari mereka berkata, "Kita menulis surat kepada Rasulullah SAW dengan memberitahukan jumlah pasukan musuh. Kita bisa diberi bala bantuan atau kita mendapat perintah lain dan kita maju terus."

Saran ini hampir saja diterima oleh suara terbanyak, kalau bukan karena Abdullah bin Rawahah—yang dikenal ksatria dan juga penyair—berkata, "Saudara-saudara, apa yang tidak kita sukai, justru itu yang kita cari sekarang ini, yaitu mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena perlengkapan, bukan karena kekuatan, juga bukan karena jumlah orang yang besar. Tetapi kita memerangi mereka hanyalah karena agama juga, yang dengan itu Allah telah memuliakan kita. Oleh karena itu, marilah kita maju. Kita akan memperoleh satu dari dua pahala ini; menang atau mati syahid."

Kebanggan yang muncul dari penyair pemberani ini segera pula menular kepada anggota pasukan yang lain. Mereka serentak berseru, "Ibnu Rawahah memang benar!"

Mereka pun bergerak maju. Ketika sudah sampai di perbatasan Balqa', di sebuah desa bernama Masyarif, mereka bertemu dengan pasukan Heraklius, yang terdiri dari orang-orang Romawi dan Arab. Ketika melihat musuh sudah dekat, pihak Muslimin segera menghindar ke Mu'tah, yang dianggap sebagai kubu pertahanan yang lebih baik daripada Masyarif. Di Mu'tah inilah pertempuran sengit berkecamuk, antara 200-an ribu tentara Heraklius dengan 3.000 tentara Muslimin.

sumber : republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke