Selasa, 04 Januari 2011

Riyadathus Shalihin : Sabar

1. Dari Abu malik al-Harits bin Ashim Al-Asy`ariy ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: ”Suci adalah sebagian dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, salat itu adalah cahaya,sedekah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita dan AlQuran untuk berhujjah (berargumentasi) terhadap yang tidak kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya,kemudian ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yangmembinasakan dirinya.” (H.R Muslim)

2. Dari Abu Sa`id bin Malik bin Sinan Al-Khudriy ra. Berkata:
“Ada beberapa sahabat Anshar meminta sesuatu kepada
Rasulullah SAW, maka beliau memberinya, kemudian mereka
meminta lagi dan beliau pun memberinya sehingga habislah
apa yang ada pada beliau. Ketika beliau memberikan semua
yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka :
”Semua kebaikan yang ada padaku tidak akan aku
sembunyikan pada kalian. Siapa saja yang menjaga
kehormatan dirinya, maka Allah pun akan menjaganya dan
siapa saja yang menyabarkan dirinya, maka Allah pun akan
memberikan kesabaran. Dan seseorang tidak akan
mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang
melebihi kesabaran.” (H.R Bukhari dan Muslim)

3. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. Ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda : ”Sangat menakjubkan bagi orang mukmin,
apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak
akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila
mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian
itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia
bersabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya.” (H.R
Muslim)
4. Dari Anas ra ., ia berkata : Ketika Nabi SAW menderita sakit
keras, Fathimah ra., mengeluh : “ Aduh ayah sakit keras.”
Kemudian beliau bersabda : “ Ayahmu tidak akan menderita
sakit lagi setelah hari ini.” Ketika beliau wafat, Fathimah ra.
berkata : “ Wahai ayahku, engkau telah memenuhi panggilan
Tuhan. Wahai ayahku, surga Firdauslah tempat kembalimu.
Wahai ayahku, kepada Jibril kami memberitakan wafatmu.”
Ketika beliau telah dikubur, Fathimah ra. berkata : “Apakah
kalian menyukai untuk menaburkan tanah di atas makam
Rasulullah SAW ?” (HR. Bukhari)

5. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, (dia adalah
pelayan,kekasih dan anak kekasih Rasulullah SAW ) ia
berkata : “ Salah seorang putri Nabi SAW mengutus
seseorang untuk memberitahu kepada beliau bahwa anaknya
sedang sakaratul maut, maka kami diminta untuk datang,
kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda
: “Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi
dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka
hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah .”
Kemudian orang itu disuruhnya kembali, menghadap Nabi
SAW, seraya meminta yang disertai dengan sumpah agar
beliau berkenan hadir. Maka pergilah beliau beserta Sa’ad bin
Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan
beberapa sahabat yang lain. Maka diberikan anak yang sakit
itu kepada Rasulullah SAW dan didudukkan di pangkuan
beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal, maka
meneteslah air mata beliau, kemudian Sa’ad bertanya :
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau meneteskan air mata ?”
Beliau menjawab : “Tetesan air mata adalah rahmat yang
dikaruniakan Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya.”
Dalam riwayat lain disebutkan : “Ke dalam hati hamba-hamba yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-
Nya yang mempunyai rasa sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Dari Shuhaib ra., Rasulullah SAW bersabda : “Pada zaman
dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang
sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata
kepada rajanya : “Sesungguhnya saya sekarang sudah lanjut
usia. Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta kepada
tuan untuk mengirimkan seorang pemuda dan saya akan
mengajarinya ilmu sihir.” Raja itupun mengirimkan seorang
pemuda untuk belajar ilmu sihir. Akan tetapi di tengah
perjalanan ke tempat tukang sihir, ia bertemu dengan
seorang pendeta,1 kemudian pemuda itu berhenti untuk
mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh
karena itu, ia terlambat datang ke tempat tukang sihir. Ketika
pemuda itu sampai ke tempat tukang sihir, maka pemuda itu
dipukul. Kemudian ia mengadukan kepada pendeta, dan si
pendeta itu berkata : “Apabila kamu takut terhadap tukang
sihir itu, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu,
dan apabila kamu takut terhadap keluargamu maka
katakanlah bahwa tukang sihir itu menahanmu.” Suatu hari
ketika dalam perjalanan, dijumpai di tengah jalan seekor
binatang yang sangat besar, sehingga orang-orang tidak
berani meneruskan perjalanan. Pada saat itulah si pemuda
berkata : “Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah
yang lebih utama ataukah pendeta ?”
Pemuda itu mengambil batu seraya berkata : “Ya Allah,
apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka
matikanlah binatang yang sangat besar itu agar orangpun
dapat meneruskan perjalanannya.” Kemudian ia lemparkan
batu itu, dan matilah binatang itu, sehingga orang-orangpun
dapat melanjutkan perjalanannya. Ia lalu mendatangi pendeta
itu dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu
berkata : “Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dari
saya karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui,
dan ketahuilah, kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi
ingatlah, apabila kamu diuji, janganlah kamu menyebutnyebut
namaku.” Setelah itu pemuda tadi dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang, dan berbagai
jenis penyakit lain.
Tersebarlah berita, bahwa kawan raja sakit mata hingga buta
dan sudah diusahakan ke mana-mana tetapi belum juga
sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan
membawa beraneka macam hadiah dan berkata : “
Seandainya kamu dapat menyembuhkan saya, akan saya
penuhi semua permintaanmu.” Pemuda itu menjawab :
“Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan seseorang,
tetapi yang menyembuhkan adalah Allah Ta’ala. Apabila
engkau beriman kepada Allah Ta’ala niscaya saya akan
berdo’a kepada-Nya agar menyembuhkan penyakitmu.” Maka
berimanlah orang itu kepada Allah Ta’ala dan sembuhlah
penyakitnya.
Orang itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama
sebagaimana biasanya, kemudian sang raja bertanya
kepadanya : “Siapakah yang menyembuhkan matamu itu ?”
Ia menjawab : “Tuhanku.” Sang raja berkata : “Apakah kamu
mempunyai Tuhan selain aku ?” Ia menjawab : “Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Allah.” Maka raja itu langsung menyiksanya
sehingga orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka
dipanggillah pemuda itu dan berkatalah sang raja kepadanya
: “Hai anakku, sihirmu sangat ampuh sehingga dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa
berbuat ini dan itu.” Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnnya
yang bisa menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” Maka
disiksalah pemuda itu sehingga ia menunjuk kepada sang
pendeta, maka dipangillah pendeta itu. Raja itupun berkata
kepadanya : ”Kembalilah kamu kepada agamamu semula.”
Tetapi pendeta itu tidak mau, kemudian raja itu menyuruh
untuk menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya
terbelah dua. Kemudian dipanggilah kawan raja itu dan
dikatakan kepadanya : “Kembalilah pada agamamu semula.”
Tetapi orang itu tidak mau, ia pun digergaji dari atas kepala
sampai badannya terbelah dua. Kemudian dipanggillah
pemuda itu. Raja itu kemudian berkata : “Kembalilah pada
agamamu semula.” Tetapi pemuda itu menolak, kemudian ia
diserahkan kepada pasukan dan memerintahkan untuk
membawanya ke suatu gunung. Ketika sampai di puncak
gunung, paksalah supaya kembali kepada agamanya semula.
Bila tidak, lemparkan ia dari atas gunung biar mati. Pasukan
itu pun membawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di
sana pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkan saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau
kehendaki.” Kemudian bergoncanglah gunung itu sehingga
pasukan tadi bergulingan dari atas gunung. Pemuda itu
mendatanginya, dan sang raja bertanya keheranan : “Apa
yang diperbuat oleh pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab :
“Allah Ta’ala telah menghindarkan saya dari kejahatan
mereka.” Pemuda itu ditangkapnya dan diserahkan kembali
kepada sekelompok pasukan yang lain, untuk membawa
pemuda itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah
lautan. Pasukan itu membawanya naik kapal, kemudian
pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkanlah saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan yang Engkau kehendaki.”
Kemudian kapal itu terbalik dan tenggelamlah mereka.
Pemuda itupun kembali kepada sang raja, dan sang raja
bertanya lagi keheranan : “Apakah yang diperbuat oleh
pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala telah
menghindarkan aku dari kejahatan mereka.” Kemudian
pemuda itu berkata kepada sang raja : “Sesungguhnya
engkau tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau
memenuhi permintaanku.” Raja bertanya : “Apakah yang
engkau inginkan ?” Pemuda itu menjawab : “Engkau harus
mengumpulkan orang banyak dalam satu lapangan dan
saliblah saya di atas sebuah tiang, kemudian ambillah anak
panahku dari tempatnya serta letakkanlah pada busurnya,
kemudian bacalah : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan
pemuda ini,” kemudian lepaskanlah anak panah itu ke arahku.
Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan
berhasil membunuhku. “ Mendengar yang demikian, raja itu
mengumpulkan orang banyak di salah satu lapangan dan
menyalib pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil
anak panah dari tempatnya dan diletakkan pada busurnya
kemudian ia membaca : “Dengan menyebut nama Allah,
Tuhan pemuda ini,” dan dilepaskanlah anak panah itu ke arah
pelipisnya, kemudian pemuda itu meletakkan tangannya pada
pelipis yang terluka, lalu ia pun mati. Pada saat itu juga
serentak orang-orang berkata : “Kami beriman dengan
Tuhannya pemuda itu .” Ada seorang yang menyampaikan
berita itu kepada sang raja seraya berkata : “Tahukah
engkau, apa yang engkau khawatirkan sekarang telah
menjadi kenyataan. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada
gunanya sama sekali karena orang-orang sudah beriman .”
Kemudian raja itu memerintahkan membuat parit yang besar
pada setiap persimpangan jalan, di dalamnya dinyalakan api,
kemudian memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau
kembali pada agama semula, maka akan dilemparkan ke
dalam parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita
yang berpegang teguh pada agama yang hak, namun ia
membawa bayinya dan merasa sangat kasihan kepada
anaknya kalau ia beserta anaknya masuk ke dalam parit,
akan tetapi bayi itu berkata : “Wahai ibu, sabarlah, karena
engkau berada dalam kebenaran .”
(HR. Muslim)
1 Pada masa itu, yang dimaksud dengan kata ar-rahib atau
pendeta, adalah pendeta yang masih kuat memegang ajaran
Tauhid dan menyembah Allah SWT.

7. Dari Anas ra., ia berkata : “Sewaktu Nabi SAW menjumpai
seorang wanita sedang menangis di atas kubur, maka beliau
bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah !” Wanita
itu berkata : “Pergilah dairi sini karena sesungguhnya engkau
tidak tertimpa musibah sebagaimana yang aku alami !”
Wanita itu tidak tahu bahwa yang berkata adalah Nabi.
Kemudian ada seseorang yang memberitahukan kalau itu
adalah Nabi SAW Maka wanita itu segera datang ke rumah
Beliau SAW dan ia tidak menjumpai para penjaga pintu,
sehingga dengan mudah ia memasukinya kemudian ia berkata
: “Saya tidak tahu kalau yang berkata tadi adalah engkau.”
Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya sabar itu hanyalah
pada hari pertama dari musibah itu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Wanita itu menangisi
anaknya yang baru meninggal.”

8. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Allah
Ta’ala berfirman : “Tidak ada balasan kecuali surga bagi
hamba-Ku yang mukmin, yang telah Aku ambil kembali
kekasihnya dari ahli dunia, dan ia hanya mengharapkan
pahala dari-Ku.” (HR. Bukhari)

9. Dari Aisyah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
wabah penyakit yang tersebar di seluruh negeri, kemudian
beliau memberitahu, bahwa wabah itu merupakan siksaan
yang ditimpakan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikannya
sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka
seseorang yang tetap tinggal pada suatu daerah yang
kejangkitan wabah dan ia sabar serta hanya memohon
kepada Allah kemudian sadar bahwa ia tidak akan tertimpa
wabah kecuali Allah akan menakdirkannya, maka ia mendapat
pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid.”
(HR.Bukhari)

10. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan
kubutaan pada kedua matanya kemudian ia sabar, maka Aku
akan menggantikannya dengan surga .” (HR. Bukhari)

11. Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata : “Ibnu Abbas ra.
berkata kepadaku : “Maukah saya tunjukkan seorang wanita
yang termasuk ahli surga ?” Saya menjawab tentu saja saya
mau. “ Ia berkata : “Adalah wanita berkulit hitam yang
pernah datang kepada Nabi SAW, waktu itu berkata :
“Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan, dan aurat
saya terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah
kepada Allah agar penyakit saya sembuh.” Beliau kemudian
bersabda : “Apabila kamu mau sabar maka kamu akan masuk
surga, dan apabila kamu tetap meminta maka saya pun akan
berdoa kepada Allah agar engkau sembuh dari penyakitmu.”
Wanita itu menjawab : “Kalau begitu saya akan bersabar.”
Kemudian wanita itu berkata lagi : “Sesungguhnya aurat saya
terbuka karenanya, oleh karena itu, mohonkanlah kepada
Allah agar aurat saya tidak terbuka.”Maka Nabi pun berdoa
untuknya agar auratnya tidak terbuka.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

12. Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Mas’ud ra., ia
berkata : “Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah SAW,
sewaktu menceritakan salah seorang dari para Nabi ketika
dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan ia
mengusap darah dari mukanya sambil berdoa : “Ya Allah,
ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)

13. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, ia
berkata : “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan,
kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun
kedukacitaan, sampai yang tertusuk duripun niscaya Allah
akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

14. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : “Saya masuk ke
tempat Nabi SAW, waktu itu beliau sedang sakit panas.
Kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
engkau benar-benar menderita sakit yang sangat panas. “
Beliau memberitahukan : “Benar, sakit panas yang saya
derita ini dua kali lipat lebih panas dari yang biasa diderita
kalian.” Saya bertanya : “Kalau begitu engkau mendapat
pahala dua kali lipat?” Beliau menjawab : “Benar, memang
demikianlah keadaannya.” “Seorang muslim yang tertimpa
suatu kesakitan, baik itu tertusuk duri maupun lebih dari itu,
niscaya Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan
menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun-daun yang
berguguran dari pohon.” (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda : “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang
baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)

16. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Janganlah salah seorang di antara kamu sekalian
menginginkan mati karena tertimpa kesulitan. Seandainya
terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah : “Ya
Allah, biarkanlah saya hidup apabila hidup lebih baik bagiku,
dan matikanlah saya apabila mati itu lebih baik bagiku.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

17. Dari Abu Abdillah Khabbab bin Arati , ia berkata : “Kami
mengadu kepada Rasulullah SAW Saat ini beliau sedang
berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kami
bertanya : “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan
buat kami ? Apakah engkau tidak mendoakan kami ?“ Beliau
menjawab : “Orang-orang sebelum kalian, ada yang ditanam
hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya
terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir
besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu
tidak menggoyahkan agama mereka. Demi Allah, Allah pasti
akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di
Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka
tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya
kambing terhadap serigala. Tetapi kalian sangat tergesa-gesa
.” (HR. Bukhari)
Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beliau sedang berbantalkan
sorbannya sedangkan kami baru saja bertemu dengan orangorang
musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat
berat .”

18. Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata : “Setelah perang
Hunain Rasulullah SAW mendahulukan orang-orang yang
terkemuka didalam membagi rampasan perang. Beliau
memberikan masing-masing seratus onta kepada Al-Aqra’ bin
Habis dan kepada ‘Uyainah bin Hishn. Dalam pembagian
rampasan perang pada beberapa hari itu, yang didahulukan
oleh beliau beberapa pemuka Arab. Ada seorang laki-laki yang
berkata : “Demi Allah sesungguhnya pembagian rampasan
perang ini tidak adil dan nampaknya semata-mata bukan
karena Allah.” Maka saya berkata : “Demi Allah, saya benarbenar
akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW”
Kemudian saya datang kepada beliau dan menceritakan apa
yang dikatakan oleh laki-laki tadi. Tiba-tiba berubahlah wajah
beliau bagaikan kesumba merah, kemudian bersabda :
“Siapakah yang adil bila Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak
adil ?” Beliau bersabda lagi : “Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat kepada Nabi Musa karena beliau telah
disakiti hatinya melebihi diriku, tetapi beliau tetap sabar.“
Saya berkata : “Tidak apa-apa, saya tidak menyampaikan
berita semacam itu lagi kepada beliau sesudah peristiwa itu .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

19. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang
baik, maka ia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila
Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka ia
menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan
menuntutnya pada hari kiamat .” (Perawi tidak tercantum)

20. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya pahala
itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta
suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga
siapa saja yang ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa
saja yang murka, maka Allah akan memurkainya .” (HR.
Tirmidzi)

21. Dari Anas ra., ia berkata : “Abu Thalhah mempunyai
anak yang sedang sakit. Sewaktu Abu Thalhah pergi, anaknya
meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya :
“Bagaimana kondisi anak kita ?” Ummu Sulaim, ia menjawab
: “Anak kita lebih tenang.” Kemudian isterinya
menghidangkan makanan lalu Abu Thalhah pun makan.
Selesai makan, isterinya berkata : “Kuburkanlah anak itu !”
Kemudian pada pagi harinya, Abu Thalhah datang kepada
Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu. Beliau bertanya :
“Apakah tadi malam kamu bersetubuh dengan dengan
isterimu ?” Abu Thalhah menjawab : “Ya.” Kemudian
Rasulullah SAW mendoakan keduanya : “Ya Allah mudahmudahan
Engkau memberkahi keduanya.” Selang beberapa
bulan, isterinya melahirkan bayi laki-laki. Kemudian Abu
Thalhah menyuruh saya ( Anas ) untuk membawa bayi itu
kepada Nabi SAW dengan menyertakan beberapa kurma.
Setelah sampai di hadapan Nabi, beliau bertanya : “Adakah
sesuatu yang disertakan bersama bayi ini ?“ Ia menjawab :
“Ya, beberapa buah kurma.” Beliau mengambil kurma-kurma
itu, dan dikunyah sampai halus, kemudian diambil kembali
dari mulut beliau lalu dimasukkannya ke dalam mulut bayi itu.
Ia diberi nama Abdullah . (HR. Bukhari dan Muslim )
Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, disebutkan, Ibnu
Uyainah berkata : “Ada seorang sahabat Anshar yang berkata :
“Saya melihat ada sembilan anak yang kesemuanya telah pandai
membaca Al-Quran.” Salah seorang di antaranya adalah Abdullah.”
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan : “Sewaktu
anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu
Sulaim berkata kepada segenap keluarganya : “Janganlah kalian
menceritakan peristiwa anakku kepada Abu Thalhah sebelum saya
sendiri menceritakannya.” Setelah Abu Thalhah datang, isterinya
segera menghidangkan makan, maka makan dan minumlah Abu
Thalha, setelah itu isterinya mengajak bercanda sehingga
bersetubuh dan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya.
Setelah isterinya tahu bahwa suaminya telah kenyang dan puas,
maka berkatalah Ummu Sulaim : “Wahai Abu Thalhah, bagaimana
pendapatmu seandainya ada sekelompok orang yang meminjamkan
sesuatu kepada salah satu keluarga kemudian orang itu meminta
kembali pinjamannya, apakah pantas keluarga itu menolaknya ?”
Abu Thalhah menjawab : “Tidak pantas.” Isterinya berkata :
“Relakan putramu.” Abu Thalhah marah-marah seraya berkata :
“Kenapa kamu diam saja sejak tadi sehingga saya bersetubuh
denganmu, barulah kamu memberitahu tentang anak kita.”
Kemudian Abu Thalhah pergi dan datang kepada Rasulullah SAW
serta menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Rasulullah SAW
bersabda : “Semoga Allah memberkahi apa yang telah kalian
lakukan tadi malam .”
Selang beberapa bulan hamillah isterinya. Setelah itu Rasulullah
SAW bepergian bersama-sama Abu Thalhah dan isterinya. Ketika
kembali dan akan masuk kota Madinah, Ummu Sulaim tidak bisa
melanjutkan perjalanan. Abu Thalhah berdoa : “Ya Allah,
sesungguhnya saya sangat senang kalau keluar masuk kota
bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sewaktu saya akan masuk
kota, ditahan di sini sebagaimana Engkau ketahui.” Kemudian
Ummu Sulaim berkata : “Wahai Abu Thalhah, rasa sakit perutku kini
hilang, maka mari kita berjalan terus.” Dan mulai terasa kembali
perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Di sanalah kemudian
Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia berkata :
“Janganlah ada seorang pun yang menetekinya sebelum engkau
bawa kepada Rasulullah SAW” Maka pada pagi harinya saya
membawa bayi itu ke hadapan Rasulullah SAW kemudian Rasulullah
menyuapkan makanan yang telah dikunyah dan bayi itu diberi
nama “Abdullah”.

22. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Yang
dikatakan orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat.
Tetapi, yang dikatakan orang kuat adalah orang yang dapat
mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

23. Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata : “Saya duduk
bersama Nabi SAW, tiba-tiba ada dua orang yang saling
memaki, salah seorang di antara mereka merah mukanya dan
pertikaian hampir terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda
: “Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, apabila
kalimat itu dibaca niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi ;
yaitu apabila ia membaca : “A’UUDZU BILLAAHI
MINASYSYAITHAANIRRAJIIM “ ( saya berlindung kepada Allah
dari godaan syaitan yang terkutuk ), niscaya hilanglah apa
yang sedang terjadi.” Maka para sahabat mengatakan kepada
orang yang sedang bertengkar itu : “Sesungguhnya Nabi SAW
menyuruh kalian supaya berlindung kepada Allah dari syaitan
yang terkutuk .” (HR. Bukhari dan Muslim)

24. Dari Mu’adz bin Anas ra., Nabi SAW bersabda : “Siapa
saja yang menahan marah padahal sebenarnya ia bisa untuk
melampiaskannya, maka pada hari kiamat Allah SWT. akan
memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian ia disuruh
untuk memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang
diinginkannya .” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

25. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ada seseorang
berkata kepada Nabi SAW : “Nasihatilah aku!” Beliau
bersabda : “Janganlah kamu marah ! “ Orang itu berkali-kali
minta nasihat kepada Nabi, tetapi Nabi SAW, tetap
menjawabnya : “Janganlah kamu marah !” (HR. Bukhari)

26. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW,
bersabda : “Orang mukmin, baik laki-laki maupun
perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya,
anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah
Ta’ala tanpa membawa dosa. “ (HR. At-Tirmidzi)

27. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Ketika Uyainah bin
Hishn datang, ia menginap di tempat kemenakannya Al Hurr
bin Qais, ia termasuk orang yang dekat dengan Umar ra. dan
Umar memang mengangkat orang-orang yang pandai di
dalam Al-Qur’an sebagai kawan duduk dan kawan
bermusyawarah, baik tua maupun muda. Uyainah berkata
kepada kemenakannya : “Wahai kemenakanku kamu adalah
orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan
izin agar saya dapat menghadap kepadanya !” Kemudian
kemenakannya memintakan izin, Umar pun mengizinkan.
Ketika Uyainah masuk ia berkata : “Wahai putra Al-
Khaththab, demi Allah engkau tidak berbuat banyak terhadap
kami dan engkau tidak adil di dalam mengadili kami.” Maka
marahlah Umar dan hampir saja ia dipukulnya. Kemudian Al-
Hurr berkata kepada Umar : “Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya
SAW : “Berikanlah maaf, suruhlah untuk berbuat baik dan
janganlah kamu hiraukan orang-orang yang bodoh .” Dan
sebenarnya orang ini adalah termasuk orang yang bodoh.
Demi Allah, ketika ayat ini dibaca, Umar seakan-akan belum
pernah mendengarnya, padahal Umar adalah orang yang
sangat teliti terhadap kitab Allah Ta’ala. “ (HR. Bukhari)

28. Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda :
“Sepeninggalanku akan ada orang yang hanya mementingkan
dirinya sendiri dan ada pula hal-hal yang diingkarinya.” Para
sahabat bertanya : “Wahai …Rasulullah, apa yang harus kami
lakukan ?” Beliau menjawab : “Kamu harus menyampaikan
kebenaran yang kamu ketahui dan memohonlah kepada Allah
agar mendapatkan hakmu .” (HR. Bukhari dan Muslim)

29. Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair ra., ia berkata : “Ada
seorang sahabat Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah,
mengapa engkau tidak memperkerjakanku sebagaimana
engkau telah memperkerjakan si Fulan ?” Beliau menjawab :
“Sesungguhnya sepeninggalku nanti kamu akan mendapatkan
orang yang suka mementingkan diri sendiri maka bersabarlah
kamu sampai bertemu denganku di dekat Telaga Kautsar .”
(HR. Bukhari dan Muslim)

30. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa ra., dikatakan
kali tertentu : Rasulullah SAW menanti kedatangan musuh
sehingga matahari tergelincir, maka bangkitlah beliau di
tengah-tengah para sahabat seraya bersabda : “Wahai
manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh
dan mintalah selalu pengampunan-Nya, serta sabarlah.
Ketahuilah, bahwa surga itu di bawah naungan pedang.”1
Kemudian Nabi SAW berdoa : “Wahai Allah yang menurunkan
Kitab, yang menjalankan awan, dan yang mengalahkan
musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk
mengalahkan mereka .” (HR. Bukhari dan Muslim)

sumber : sufiroad.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke