Jumat, 24 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Hadits Ifk (Dusta) tentang Aisyah


Semua peristiwa itu terjadi setelah kaum Muslimin—dengan membawa tawanan dan rampasan perang—kembali ke Madinah. Namun kemudian ada suatu peristiwa yang pada mulanya tidak memberi dampak apa pun, tiba-tiba menjadi masalah besar; peristiwa yang terkait dengan Ummul Mukminin Aisyah.

Biasanya, bila Nabi SAW berangkat melakukan ekspedisi, beliau mengadakan undian terhadap istri-istrinya. Barangsiapa yang keluar namanya, maka dialah yang ikut serta. Sorenya, pada waktu ekspedisi ke Bani Mushtaliq akan dilakukan, yang keluar namanya adalah Aisyah. Jadi dialah yang dibawa oleh Rasulullah. Aisyah adalah seorang wanita yang berperawakan kecil dan ringan. Bila pelangkin sudah diantarkan orang sampai di depan pintu tendanya, dia pun naik. Lalu mereka membawanya ke punggung unta. Saking ringannya, mereka hampir tidak dapat merasakan keberadaan Aisyah dalam pelangkin.

Selesai dari ekspedisi (peperangan) dengan Bani Musthaliq itu, Nabi dan rombongannya berangkat lagi meneruskan perjalanan yang panjang dan sangat meletihkan—sebagaimana disebutkan di dua seri sebelumnya. Sesudah itu beliau menuju Madinah. Pada suatu tempat dekat kota, Rasulullah berhenti dan bermalam di sana. Kemudian diumumkan kepada rombongan, perjalanan akan diteruskan lagi.

Karena hendak menunaikan hajat, Aisyah keluar dari kemah Nabi, sedang pelangkin sudah menunggu di depan tenda, menantikan ia masuk kembali. Aisyah mengenakan seuntai kalung, dan setelah menyelesaikan keperluannya, kalung itu lepas dari lehernya. Ia pun kembali menyusuri jalan sambil mencari-cari. Dan setelah sekian lama mencari, Aisyah pun menemukannya kembali. Namun begitu kembali ke tenda, ternyata pelangkin itu sudah dipasang kembali di punggung unta. Sang pengiring mengira Ummul Mukminin sudah berada di dalamnya, mereka pun langsung berangkat.

Aisyah tidak menemukan seorang pun di tempat itu, namun ia tidak merasa takut atau khawatir karena yakin bahwa jika rombongan itu nanti mengetahui ia tidak ada di punggung unta, tentu mereka akan kembali ke tempat semula. Jadi ia lebih baik tidak meninggalkan tempat daripada mengarungi padang pasir tanpa pedoman. Aisyah pun berbaring berselimutkan pakaian luarnya di tempat itu, sambil menunggu orang yang akan datang mencarinya.

Pada sedang berbaring itu, Shafwan bin Mu'athal lewat di tempat tersebut, yang juga terlambat ikut rombongan pasukan karena harus menunaikan urusannya pula. Shafwan sebelumnya pernah melihat Ummul Mukminin Aisyah, sebelum ada ketentuan hijab terhadap istri-istri Nabi. Begitu melihat Aisyah, Shafwan sangat terkejut dan melangkah mundur sambil berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un! Istri Rasulullah SAW! Kenapa anda sampai tertinggal?" ujarnya.

Aisyah tidak menjawab. Shafwan mendekatkannya untanya dan dia sendiri mundur sambil berkata, "Naiklah, wahai Ummul Mukminin!"

Setelah Aisyah naik, Shafwan kemudian segera menggeber untanya hendak menyusul rombongan yang lain. Tetapi tidak terkejar juga, karena ternyata mereka mempercepat perjalanan agar segera sampai di Madinah. Pasukan Muslimin ingin segera dapat beristirahat setelah mengalami perjalanan yang sangat meletihkan, perjalanan yang juga diperintahkan oleh Rasulullah guna menghindarkan fitnah yang hampir-hampir terjadi akibat perbuatan Abdullah bin Ubay.

Shafwan memasuki Madinah pada siang hari disaksikan orang banyak, sementara Aisyah di atas untanya. Sampai di depan rumahnya, Aisyah pun masuk. Tak terlintas dalam pikiran orang bahwa peristiwa ini akan dijadikan buah bibir, atau akan menimbulkan syak karena ia terlambat dari rombongan. Dalam hati Rasulullah sendiri tidak terlintas suatu prasangka buruk terhadap Shafwan, seorang orang Mukmin yang beriman teguh.

Juwairiyah binti Harits termasuk salah seorang tawanan perang Bani Mushtaliq. Dia seorang wanita cantik dan manis. Ia jatuh menjadi bagian salah seorang Anshar. Dalam hal ini ia ingin menebus diri, oleh sebab itu, ia segera pergi menemui Nabi yang saat itu sedang berada di rumah Aisyah.

"Saya Juwairiyah putri Harith bin Abi Dzirar, pemimpin masyarakat," katanya. "Saya mengalami bencana, seperti sudah tuan ketahui tentunya. Tetapi karena saya sudah menjadi milik si fulan, maka saya telah mengajukan penawaran untuk membebaskan diri saya. Kedatangan saya kemari ingin mendapat bantuan tuan mengenai penawaran itu."

"Maukah engkau dengan yang lebih baik dari itu?" tanya Nabi SAW.

"Apa?"

"Saya penuhi penawaranmu dan saya menikahimu," kata Rasulullah.

Setelah berita itu tersiar, sebagai penghormatan terhadap semenda Rasulullah dengan Bani Mushtaliq, tawanan-tawanan perang yang ada di tangan pasukan Muslimin segera dibebaskan. Sehingga mengenai Juwairiyah ini, Aisyah pernah berkata, "Tak pernah saya lihat ada seorang wanita yang lebih besar membawa keuntungan buat golongannya seperti dia ini."

Setelah Rasulullah menikah dengan Juwairiyah, beliau membuatkan rumah untuknya di samping rumah-rumah istrinya yang lain di dekat mesjid. Dengan demikian, Juwairiyah pun menjadi Ummul Mukminin pula.

Sementara itu, orang di luar mulai pula berbisik-bisik tentang keterlambatan Aisyah dan kedatangannya bersama Shafwan dengan menumpang untanya, sedang Shafwan sendiri seorang pemuda yang tegap dan tampan.

Saudara perempuan Zainab binti Jahsy yang bernama Hamna, sudah tahu bahwa posisi Aisyah di hati Rasulullah lebih tinggi dibanding saudaranya itu. Ia segera menyebarkan desas-desus tentang Aisyah ini.

Dengan demikian, Abdullah bin Ubay merasa mendapat lahan subur dalam usahanya menyebarkan isu tersebut, yang sekaligus merupakan penawar terhadap api kebencian di hatinya. Ia mati-matian menyebarluaskan gosip ini. Namun dalam hal ini, kalangan Aus telah menentukan sikap untuk membela Aisyah. Ummul Mukminin Aisyah adalah lambang kesucian dan seorang wanita yang berakhlak tinggi, yang patut menjadi teladan. Peristiwa ini hampir saja menjadi fitnah besar di Madinah.

Berita-berita ini kemudian sampai juga kepada Rasulullah SAW. Tentu saja beliau resah dan gelisah. Beliau juga kebingungan, antara percaya atau tidak.

Orang-orang tak ada yang berani menyampaikan desas-desus itu kepada Aisyah, meskipun ia sendiri sudah merasa aneh melihat sikap Rasulullah yang kaku. Suatu sikap yang belum pernah dilihatnya dan memang tidak sesuai dengan perangainya yang selalu lemah-lembut, selalu penuh kasih kepadanya.

Kemudian Aisyah jatuh sakit, dan cukup parah. Bila Rasulullah datang menengoknya dan ibunya ada di tempat itu merawatnya, beliau hanya berkata, "Bagaimana?"

Aisyah merasa pilu melihat sikap Nabi yang begitu kaku kepadanya. Sehingga berkata, "Kalau kau izinkan, aku akan pindah ke rumah ibu, supaya ia dapat merawatku."

Ia pun pindah ke tempat ibunya. Sikap Rasulullah yang demikian menimbulkan kepedihan di hati Aisyah. Setelah lebih dari dua puluh hari menderita sakit, akhirnya Aisyah sembuh. Segala pembicaraan orang yang terjadi tentang dirinya, tidak ia ketahui.

Sebaliknya Rasulullah merasa sangat terganggu dengan berita-berita yang disebarkan orang-orang. Beliau kemudian berbicara di hadapan mereka. "Saudara-saudara, kenapa orang-orang menggangguku mengenai keluargaku. Mereka mengatakan hal-hal yang tidak sebenarnya mengenai diriku. Padahal yang kuketahui mereka itu orang baik-baik. Lalu mereka mengatakan sesuatu yang ditujukan kepada seseorang, yang kuketahui, demi Allah, dia juga orang baik. Ia tak pernah datang ke salah satu rumahku kecuali bersama denganku."

Kemudian Usaid bin Hudzair berdiri seraya berkata, "Wahai Rasulullah, kalau mereka itu dan saudara-saudara kami kalangan Aus, biarlah kami selesaikan. Dan kalau mereka itu dan saudara-saudara kami dari golongan Khazraj, perintahkanlah juga kepada kami. Sungguh patut leher mereka itu dipenggal."

Kaum Khazraj tentu saja menolak, bahkan balik menuding Aus. Keadaan pun jadi ramai. Dan hampir-hampir terjadi fitnah besar, jika Rasulullah tidak segera campur tangan dan menengahi mereka dengan kebijaksanaan beliau.

sumber : republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke