Senin, 20 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Mundurnya Pasukan Ahzab


Berita penggabungan Quraizah dengan pihak Ahzab itu sampai juga kepada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Mereka sangat terkejut dan khawatir sekali akan akibat yang mungkin terjadi. Rasulullah segera mengutus Sa'ad bin Mu'adz, pemimpin Aus dan Sa'ad bin Ubadah, pemimpin Khazraj, disertai pula oleh Abdullah bin Rawahah dan Khawat bin Jubair dengan tujuan untuk mempelajari duduk perkara yang sebenarnya.

Tetapi sesampainya para utusan itu ke sana, mereka melihat keadaan Quraizah justru lebih jahat lagi dari apa yang pernah mereka dengar semula. Para utusan itu meminta mereka agar menghormati perjanjian yang ada. Namun mereka menolak, bahkan pihak Yahudi kini mau melancarkan serangan kepada Rasulullah dan kaum Muslimin.

Utusan-utusan Rasulullah pulang. Mereka melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Bencana besar kini mengancam. Kekhawatiran makin menjadi-jadi. Penduduk Madinah kini melihat pihak Quraizah telah membukakan jalan bagi Ahzab, yang akan memasuki kota dan membasmi mereka. Hal ini bukan hanya sekedar khayal dan ilusi saja. Terbukti Bani Quraizah sekarang sudah memutuskan segala bantuan dan bahan makanan kepada mereka.

Juga terbukti sekembalinya Huyay bin Akhtab yang memberitahukan kepada mereka, bahwa Quraizah telah tergabung dengan pihak Quraisy dan Ghatafan—jiwa mereka berubah dan mereka sudah siap-siap melakukan peperangan. Bani Quraizah telah memperpanjang waktu selama sepuluh hari lagi buat pihak Ahzab guna mengadakan persiapan, asal pasukan Ahzab selama sepuluh hari itu benar-benar mau menyerbu kaum Muslimin.

Dan memang itulah yang mereka lakukan. Mereka telah menyusun tiga buah pasukan besar guna memerangi Nabi. Sebuah pasukan di bawah pimpinan Ibnu Al-A'war As-Sulami didatangkan dari jurusan sebelah atas wadi, pasukan yang dipimpin oleh Uyaynah bin Hishn datang dari sebelah samping, dan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan ditempatkan di jurusan parit.

Dalam peristiwa inilah turun ayat: "(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari." (QS Al-Ahzab: 10-13)

Pemimpin-pemimpin mereka segera berunding. Abu Sufyan lalu mengutus orang menemui Ka'ab, pemimpin Bani Quraizah dengan pesan, "Kami sudah cukup lama tinggal di tempat dan mengepung orang itu. Menurut hemat kami, besok kamu harus sudah menyerbu Muhammad dan kami di belakangmu."

Tetapi utusan Abu Sufyan itu kembali dengan membawa jawaban pemimpin Quraizah, "Besok hari Sabtu, dan pada hari Sabtu itu kami tidak dapat berperang atau bekerja apa pun."

Mendengar itu Abu Sufyan naik pitam. Utusan itu disuruhnya kembali dengan mengatakan kepada pihak Quraizah, "Cari Sabtu lain saja sebagai pengganti Sabtu besok. Sebab besok Muhammad harus diserbu. Kalau kami sudah mulai menyerang Muhammad sedang kamu tidak ikut serta dengan kami, maka persekutuan kita dengan sendirinya bubar. Dan kamulah yang akan kami serbu lebih dulu sebelum Muhammad!"

Pernyataan Abu Sufyan itu oleh Quraizah tetap dijawab dengan mengulangi bahwa mereka tidak akan melanggar hari Sabtu. Ada golongan mereka yang telah mendapat kemurkaan Tuhan karena telah melanggar hari Sabtu sehingga mereka itu menjadi monyet dan babi. Kemudian disebutnya juga jaminan yang mereka minta sebagai sandera, supaya mereka lebih yakin akan perjuangan mereka itu.

Malam harinya angin topan bertiup kencang sekali, disertai hujan yang turun dengan lebatnya. Bunyi petir menderu-deru diselingi kilat yang sambung-menyambung. Kini timbul rasa takut dalam hati pasukan Ahzab. Terbayang oleh mereka bahwa kaum Muslimin akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang dan menghantam mereka. Ketika itu Tulaihah bin Khuwailid maju seraya berteriak, "Muhammad telah mendahului menyerang kita. Selamatkan dirimu!"

"Saudara-saudara dari Quraisy," kata Abu Sufyan. "Tidak layak lagi kita tinggal lama-lama di tempat ini. Pasukan kita yang terdiri dari kuda dan unta sudah binasa, Bani Quraizah sudah tidak menepati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan hati dari mereka. Ditambah lagi kita menghadapi angin yang begitu dahsyat. Maka lebih baik pulang sajalah. Aku pun akan berangkat pulang."

Di tengah-tengah angin badai yang masih bertiup kencang, rombongan itu berangkat dengan membawa perbekalan seringan mungkin, diikuti oleh Ghatafan dan kelompok-kelompok lainnya.

Setelah pihak Ahzab berangkat pulang, Rasulullah kembali memikirkan keadaannya. Allah telah menyelamatkannya dari musuh yang selama ini mengancamnya. Tetapi sungguhpun demikian, pihak Yahudi dapat saja mengulang kembali peristiwa semacam itu—berkhianat dan membuka benteng. Mereka dapat saja mencari kesempatan lain, tidak lagi pada musim dingin yang begitu dahsyat seperti dalam tahun ini, yang merupakan bantuan Allah dalam menghancurkan pihak musuh.

Disamping itu, kalaupun tidak karena perginya pihak Azhab, dan peristiwa perpecahan yang telah terjadi di pihak Yahudi, niscaya Bani Quraizah sudah siap-siap pula turun ke Madinah, akan menghantam dan memberikan segala macam bantuan dalam menghancurkan kaum Muslimin. Atas perbuatannya itu Bani Quraizah harus dibasmi. Lalu Ali diberangkatkan lebih dulu ke perkampungan Bani Quraizah dengan membawa bendera. Melihat kemunculan Ali, kaum Yahudi malah memperoloknya dan memaki-maki Rasulullah dengan kata-kata yang menyakitkan.

Bani Quraizah tinggal dalam benteng-benteng yang begitu kukuh seperti perbentengan Bani Nadzir. Kendatipun benteng-benteng itu dapat melindungi mereka, namun mereka tidak akan dapat bertahan menghadapi pihak Muslimin. Persediaan bahan makanan kini berada di tangan penduduk Madinah, setelah pihak Ahzab meninggalkan tempat tersebut.

Kemudian Rasulullah memerintahkan supaya tempat itu dikepung. Pengepungan itu terjadi selama 25 malam. Sementara itu terjadi pula beberapa kali bentrokan dengan saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu Bani Quraizah sama sekali tidak berani keluar dari benteng mereka.

Setelah merasa lelah dan yakin bahwa mereka tidak akan dapat tertolong dari bencana, dan pasti akan jatuh ke tangan kaum Muslimin apabila masa pengepungan berjalan lama, mereka mengutus orang kepada Rasulullah dengan permintaan agar mengirimkan Abu Lubabah kepada mereka untuk dimintai pendapat.

Abu Lubabah adalah warga Anshar golongan Aus yang termasuk sahabat baik mereka. Begitu melihat kedatangan Abu Lubabah, mereka memberikan sambutan yang luar biasa. Kaum wanita dan anak-anak segera meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Abu Lubabah merasa iba melihat mereka.

"Abu Lubabah," kata mereka kemudian. "Apa kita harus tunduk kepada keputusan Muhammad?"

"Ya" jawabnya sambil memberi isyarat dengan tangan ke lehernya. "Kalau tidak berarti potong leher."

Beberapa buku sejarah Nabi menuliskankan, bahwa Abu Lubabah merasa sangat menyesal sekali memberikan isyarat demikian itu.

sumber : republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke