Rabu, 22 Juni 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Provokasi Uyainah bin Hishn


Usai Perang Khandaq dan setelah hukuman dijatuhkankan terhadap Bani Quraizah, keadaan Rasulullah dan kaum Muslimin makin stabil. Orang-orang Arab mulai takut takut dan segan. Banyak kalangan Quraisy yang mulai berpikir-pikir untuk berdamai dengan Rasulullah.

Kaum Muslimin sekarang merasa lega setelah pihak Yahudi yang berada di sekitar Madinah dapat dibersihkan sehingga mereka sudah tidak punya arti apa-apa lagi. Mereka masih diperbolehkan tinggal di Madinah selama enam bulan lagi sesudah peristiwa itu. Mereka meneruskan hidup dalam usaha perdagangan, hidup tenteram dan sejahtera.

Rasulullah SAW kembali fokus dalam membentuk masyarakat Madani, dan mereformasi sistem sosial kemasyarakatan. Namun penyusunan kehidupan sosial secara berangsur-angsur sebagai persiapan ke arah transisi besar yang dilakukan Islam bagi umat manusia ini, tidak mengurangi kehendak pihak Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya untuk menghancurkan Rasulullah. Namun beliau tidak kurang pula kewaspadaannya.

Enam bulan kemudian, setelah Bani Quraizah dapat dihancurkan, beliau sudah merasakan adanya suatu gerakan lain di sekitar Makkah. Untuk dapat menyergap pihak musuh, beliau pura-pura pergi ke Syam. Dengan membawa perlengkapan perang Rasulullah berangkat menuju ke arah utara.

Setelah yakin sekali bahwa Quraisy dan sekutu-sekutunya yang berdekatan tak ada yang menyadari maksudnya, beliau pun membelok ke arah Makkah dengan berjalan lebih cepat lagi. Tetapi sesampainya di perkampungan Bani Lihyan di Uran, masyarakat setempat melihatnya. Dari mereka inilah Bani Lihyan mengetahui bahwa Rasulullah menuju ke tempat mereka. Mereka pun segera berlindung ke puncak-puncak bukit dengan membawa harta-benda yang ada. Nabi tidak berhasil menyergap mereka.

Saat itulah beliau kemudian menugaskan Abu Bakar dengan membawa seratus orang pasukan menuju Usfan, sebuah desa dekat Makkah. Rasulullah sendiri kemudian kembali ke Madinah.

Baru beberapa malam saja Rasulullah kembali ke Madinah, tiba-tiba datang Uyainah bin Hishn menyerang pinggiran kota itu. Di tempat tersebut ada beberapa ekor unta yang digembalakan, dijaga oleh seorang laki-laki Muslim dan istrinya. Laki-laki itu dibunuh oleh Uyainah dan kawan-kawannya, unta diambil dan perempuan tersebut dibawa pergi. Mereka segera melarikan diri dengan perkiraan takkan mungkin dikejar oleh kaum Muslimin.

Tetapi sebenarnya, Salamah bin Amr bin Al-Akwa' sempat melihat rombongan yang sedang menggiring unta dan membawa wanita itu. Ia pun berteriak meminta bantuan sambil terus mengikuti jejak rombongan tersebut. Ia melepaskan anak panahnya ke arah mereka, sambil terus berteriak. Teriakan Salamah itu akhirnya sampai jua kepada Rasulullah. Maka beliau pun memanggil-manggil penduduk Madinah, "Ada bahaya! Ada bahaya!"

Seketika itu juga kaum Muslimin datang dari segala penjuru kota. Setelah mendapat perintah, mereka pun berangkat mengikuti jejak gerombolan Uyainah. Rasulullah sendiri mempersiapkan pasukan, lalu berangkat menyusul mereka. Beliau berhenti di sebuah gunung di bilangan Dzu Qarad.

Sementara itu, Uyainah dan anak buahnya kian mempercepat langkah, ingin segera bergabung dengan Ghatafan dan melepaskan diri dari kejaran Muslimin. Akan tetapi pasukan Madinah berhasil mencapai barisan belakang mereka. Sebagian unta itu dapat diselamatkan kembali dari tangan mereka. Tak lama kemudian Rasulullah datang menyusul dan memberikan bantuan. Wanita Muslimah yang dibawa oleh gerombolan Uyainah itu pun selamat.

Ada beberapa orang dari sahabat-sahabat Nabi—yang terdorong oleh amarah—ingin terus mengejar Uyainah, tetapi dilarang oleh Rasulullah. Sebab beliau tahu bahwa Uyainah dan anak buahnya telah sampai ke tempat Ghatafan dan berlindung kepada mereka.

Beberapa bulan kemudian, terjadi pertempuran dengan Bani Mushtaliq di Muraisi'. Suatu peperangan yang sangat penting antara kedua belah pihak—Muslimin dan musuhnya—di mana pertempuran terjadi dengan sengit. Peristiwa ini menimbulkan malapetaka dan hampir menjalar dalam tubuh kaum Muslimin, seandainya Rasulullah tidak segera mengambil langkah tegas dan meyakinkan.

Pada saat itu pula Rasulullah menikah dengan Juwairiyah binti Al-Harits, putri pemimpin Bani Mushtaliq. Dan yang paling menegangkan di antara semua ini adalah terjadinya Hadits Ifq—peristiwa bohong—tentang diri Aisyah, Ummul Mukminin.

sumber : republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke