Kamis, 09 Desember 2010

Zubair bin Awwam, Tetangga Rasul di Surga

Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati. Atas petunjuk Nabi ia berbakti. Dialah sang pembela sejati. Kata dan perbuatannya bagai merpati. Di jalan Nabi, ia berjalanMembela kebenaran sebagai tujuan. Jika api peperangan sudah menyalaDialah penunggang kuda tiada duaDialah pejuang tak kenal menyerah. Dengan Rasul, masih keluargaTerhadap Islam, selalu membela. Pedangnya selalu siagaKala Rasul dihadang bahayaDan Allah tak ingkar pada janji-NyaMemberi pahala tiada terkira. (Hasan bin Tsabit).

Di usia 15 tahun, dia termasuk golongan assabiqunal awwalun yang masuk dalam Islam, ia sebagai perintis perjuangan di rumah Arqom. Di usia yang masih belia, ia telah diberi petunjuk, cahaya, dan kebaikan. Ahli peunggang kuda yang hebat dikenal memiliki keberanian, bahkan ahli sejarah menyebutkan bahwa ialah yang menghunuskan pedang pertama untuk membela Islam.

Tak hanya itu, ia juga merupakan pebisnis sukses dengan kekayaan yang melimpah ruah. Dan semuanya ia dermakan untuk kepentingan Islam.

Pada masa awal, jumlah muslimin masih sangat sedikit, terdengar kabar bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedangnya dan berkeliling kota Makkah. Ia mengecek kabar tersebut, jika kabar itu benar, maka ia akan memenggal orang-orang kafir Qurays atau ia sendiri yang gugur.

Lalu Rasulullah bertemu dengannya di suatu tempat, dan Zubair menceritakan maksudnya. Mendengar hal itu, Rasulullah berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi kemenangan.

Sesusai perang Uhud, pasukan Qurays dalam perjalanan ke Makkah dan berencana menyerang Madinah. Zubair dan Abu Bakar diperintah Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka agar mereka menganggap kaum muslimin masih memiliki kekuatan, sehingga kafir Quraisy tidak berfikir untuk menyerang Madinah.

Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka. Mereka menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.

Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.

Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng musuh yang kuat dan berkata, “Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah. Atau, akan kita buka benteng mereka.” Keduanya melompat ke dalam benteng. Dengan kecerdasannya, ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan berhasil membuka pintu benteng sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam benteng.

Di perang hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang memalukan. Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya bersembunyi di sebuah tempat, mengintai pasukan Islam, dan bermaksud membunuh para panglima Islam. Ketika Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang ,ereka seorang diri dan berhasil mengobrak-abrik mereka.

Rasulullah sangat sayang kepada Zubair, beliau bahkan pernah menyatakan kebanggannya atas perjuangan Zubair. “Setiap Nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam”Meski begitu, Zubair tak luput dari siksaan ketika memutuskan membela Islam. Ketika ia memutuskan mengucap kalimat syahadat, pamannya yang dahulu menyayanginya selalu menyiksa Zubair.

Kebenciannya membuncah tak terkira. Naufil sang paman, membungkus badan Zubair menggunakan kasur, kemudian menyalakan api disekelilingnya. Ketika asap mencekik napasnya, pamannya memaksanya untuk kembali ke ajaran nenek moyang.Namun Zubair menolak seraya mengatakan, “Tidak mungkin saya melepaskan keimanan saya atas Allah SWT. Jika aku mati, aku harus mati dalam keadaan muslim dan bukan sebagai orang kafir”.

Pada saat perang Jamal berkecamuk, dan ia mengetahui duduk permasalahannya, ia melakukan sholat. Di saat itulah musuh Allah menguntitnya dan menikam Zubair saat melakukan sholat.

Ketika khalifah Ali mengetahui pembunuh Zubair, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair, bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka”. Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”

Zubair bin Awwan meninggal 33 tahun setelah hijrah. Tubuh dipenuhi bekas luka sabetan pedang dan tusukan tombak akibat perang. Lukanya sebagai bukti keberanian dah kepahlawannya yang tidak pernah absen perang bersama Rasul.

Suatu ketika Rasulullah SAW berkata, “Zubair dan Thalhah akan menjadi tetanggaku di Surga”. (Daniel Handoko)

sumber : www.sabili.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke