Rabu, 17 November 2010

Kekurangan Siswa Kristen, Sekolah Roma Diambil Alih Masjid

LANCASHIRE - Sekolah dasar Katolik Roma mungkin yang pertama di negara itu yang akan dijalankan oleh Masjid setelah peningkatan dramatis dalam jumlah murid Muslim.

Pemilik gereja ingin menutup Sekolah Dasar Katolik Roma Sacred Heart, di Blackburn, Lancashire, karena jumlah murid Katolik turun drastis dari 91 persen menjadi hanya tiga persen dalam satu dekade.

Dalam hal akan menjadi kasus pertama di Inggris, SD itu mungkin akan dialihkan ke organisasi lain untuk menjalankannya - yang paling memungkinkan adalah masjid lokal Tauheedul - dan dibuka kembali dengan nama baru.

Sekitar 95 persen dari 200 murid sekolah itu berasal dari Asia. Kebanyakan dari mereka tidak berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka dan kebanyakan dari mereka beragama Islam.

Keuskupan Salford mengatakan pada Blackburn dengan Dewan Darwen Borough bahwa mereka tidak lagi percaya bahwa gereja itu "layak" mengurusinya.

Menurut laporan yang disajikan pada eksekutif dewan, sekolah, yang berada sebagai area dengan kebanyakan berpopulasi Asia di kota tersebut, berjuang untuk merekrut kepala sekolah permanen karena peraturan yang dijatuhkan oleh gereja bahwa kepala sekolahnya harus beragama Katolik.

Badan pemerintah juga membuat keputusan untuk untuk keluar semuanya karena mereka percaya mereka bukan perwakilan akurat komunitas lokal.

Geraldine Bradbury, direktur pendidikan di Keuskupan, mengatakan populasi berubah berarti hanya tinggal "lima atau enam" murid Katolik yang tersisa di sekolah itu.

"Kami belum pernah mengalami perubahan sejauh ini sebelumnya," ujarnya. "Kami ingin memastikan bahwa kebutuhan atas pendidikan komunitas terpenuhi.

"Kami tidak akan melayani masyarakat setempat dengan memaksakan bahwa kami menjalankan sekolah itu. Hal ini akan meliputi hal-hal seperti memiliki kepala sekolah beragama Katolik dan menghabiskan 10 persen dari jadwal untuk pendidikan Roma. Kami salah jika memaksakan sekolah komunitas ke dalam hal seperti itu."

Masjid Tauheedul telah bertanggung jawab untuk bantuan sukarela bagi siswi SMP beragama Islam di kota tersebut.

Di bawah kepemimpinan masjid sekolah itu akan "menyediakan keberagaman yang meningkat… dan menawarkan sekolah agama yang sesuai dengan populasi di area kota ini," laporan itu mengatakan.

Hamid Patel, kepala sekolah dan pimpinan eksekutif SMA Islam Perempuan Taheedul Islam, mengatakan masjid itu akan mengambil alih Sacred Heart.

"Dengan kenyataan bahwa hampir semua muridnya adalah Muslim maka masuk akal bagi kami untuk terlibat dengan sekolah," ujarnya.

"Kami akan membutuhkan lebih banyak informasi tentang harapan pemerintah lokal, tapi jika komunitas dan sekolah ingin kami terlibat, maka iya, kami tertarik." Tapi James Gray, pegawai pendidikan di Asosiasi Humanis Inggris, mengkritik langkah tersebut.

"Ini menunjukkan bahwa kewenangan agama tidak selalu melihat pendidikan berarti melayani komunitas lokal," ujarnya. "Mereka telah memutuskan tidak cukup banyak murid Katolik dan ingin menjauhkan diri dari sekolah itu."

Penyelenggara baru akan ditentukan lewat kompetisi, dimana berbagai organisasi yang berbeda mengharap pemerintah lokal menunjuk mereka.

Dapat dimengerti bahwa keuskupan Gereja Inggris juga tertarik dalam kemungkinan mengambil alih SD tersebut.

Menurut laporan, dewan percaya bahwa usaha apapun untuk mengubah Sacred Heart menjadi sekolah komunitas non-agama akan ditolak oleh pemerintah karena Koalisi "menyatakan preferensi untuk … sekolah agama baru dan sekolah gratis.

Sekretaris Pendidikan Michael Gove menamai lima sekolah agama diantara daftar 16 teratas sekolah gratis yang akan dibuka tahun depan, termasuk dua sekolah Yahudi, sekolah Sikh dan sekolah dasar Hindu.

Harry Devonport, direktur layanan anak di Blackburn dengan Dewan Darwen, mengatakan: "Keputusan untuk menghentikan untuk menjaga sekolah itu sebagai sekolah Katolik diambil oleh Keuskupan Katolik Roma.

"Rekomendasinya adalah untuk menetapkan sekolah baru yang akan diperhatikan oleh badan eksekutif setelah konsultasi ekstensif dilakukan.

"Ini semata-mata hanya perubahan teknis yang akan melibatkan staf yang sama. Tidak akan ada gangguan bagi anak-anak kami yang masuk ke sekolah ini. Tujuan utama kami adalah untuk memastikan murid-murid mendapatkan akses untuk merasakan pendidikan." (raz/dm) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke