Kamis, 04 November 2010

Menjadi Muslim di Kansas


Tidak mudah hidup menjadi minoritas, tapi Muslim di Kansas tetap semangat mengajak orang untuk memahami Islam

Hidayatullah.com --Ketika Mohammad Awad-Eljied bermigrasi ke Amerika Serikat dia sadar bahwa dirinya akan menghadapai tantangan-tantangan tertentu.

"Saya mengimpikan pergi ke negeri ini sejak usia 12 tahun," katanya. "Ketika umur 22, saya datang ke negeri ini."

Ketika pertama kali tiba dari Sudan, dia tinggal di New York dan mencari nafkah dengan cara bekerja di McDonald's. Dia kemudian memutuskan untuk pindah ke Kansas setelah seorang kawan mengatakan hal itu akan lebih baik baginya.

Mohammad melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Wichita. Dia lalu bekerja menjadi teller bank dan akhirnya sekarang menjadi salah satu konsultan keuangan terkemuka di Edward Jones. Menurutnya, sukses yang dia raih adalah karena dia memiliki tekad yang kuat.

"Saya menolak untuk gagal."

Lahir dan dibesarkan sebagai seorang Muslim, Mohammad berpendapat bahwa kelompok teroris dan ekstrimis tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Islam.

"Saya merasa orang-orang itu membajak Islam. Saya tidak menganggap mereka yang menyerang kita pada 11 September sebagai Muslim. Saya menganggap mereka teroris dan penjahat."

Tapi di Amerika sekarang ini, banyak orang mempertanyakan pendapat seperti yang dinyatakannya itu, meskipun serupa dengan apa yang disampaikan para tokoh Muslim di Wichita.

"Kami menggunakan hak-hak kami, kami bayar pajak, kami berusaha mematuhi hukum dan menjadi warga yang baik," papar Hussam Madi, seorang imam di Pusat Islam Wichita. Dia ingin mengajak orang datang ke pusat Islam supaya bisa belajar lebih banyak, sehingga non-Muslim tidak salah paham.

"Jika Anda tidak pergi ke tempat dan mendengar dari sumbernya, bukan dari orang yang ingin mengacaukannya, melainkan dari sumbernya langsung, seperti pusat-pusat Islam semacam ini, maka Anda akan tahu apakah (Islam) itu misterius atau tidak."

Diperkirakan ada sekitar 8.000 orang Muslim yang sekarang menetap di Kansas dan mungkin mendatangani pusat Islam tersebut. Di dalamnya ada masjid dan Sekolah An-Nur yang memiliki kelas mulai pra-taman kanak-kanak hingga kelas 8.

"Biaya pendidikan kami USD 259," kata Stephanie Musleh yang mengajar kelas 2 di An-Nur. Sekolah juga memberikan pelajaran bahasa Arab dan Al-Qur`an.

Stephanie masuk Islam 22 tahun lalu, dia dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen di Wichita.

"Saya masuk Islam sekitar 4 tahun setelah menikah dengan suami saya yang Muslim."

"Saya mendapati, semakin banyak saya membaca tentang Islam, semakin cocok dengan apa yang saya yakini."

Katanya, sebelum peristiwa 9/11 dia belum pernah mendapati pengalaman seputar Islamofobia, atau dicurigai karena dia seorang Muslim.

Namun setelah itu, "Orang mengatakan hal-hal buruk kepada saya, orang menuding dan menatap (sinis)."

Ketika putrinya naik kelas 5, dia berpikir untuk menanggalkan jilbabnya, karena khawatir dengan keselamatan putrinya.

"Saya katakan padanya, jika kamu ingin saya melepasnya maka akan saya lepas. (Tapi) dia bilang 'tidak bu, tidak apa-apa. Saya tidak takut'."

Stephanie mengatakan, kerudung adalah hal pertama yang orang perhatikan ketika dia berada di tempat umum.

"Saya merasa semakin banyak yang menatapi."

Baginya dan Muslim lain, sangatlah membuat frustasi karena banyak orang mengaitkan Islam secara keseluruhan dengan terorisme.

"Ya, itu membuat saya frustasi. Saya harap in akan berubah. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan keluar dan bicara pada orang-orang."

"Islam tidak berwarna dan tidak memiliki ras," kata Awad-Eljied. "Di seluruh ras, Anda akan mendapati seorang Muslim."

Sekarang ada sekitar 1,3 milyar Muslim di seluruh dunia, sehingga menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua. Di Kansas dia menjadi minoritas. Meskipun demikian, kata mereka yang tinggal di sana, Kansas menerima mereka.

"Kota Wichita sangat baik dan penuh pengertian," ujar Hussam Madi.

Dia mengundang siapa saja yang ingin datang ke pusat Islam untuk mengetahui Islam lebih banyak. Semua orang akan disambut dan mereka akan menjawab pertanyaan apapun dengan jawaban yang mereka punya.[di/ewn/ hidayatullah.com]
Keterangan Foto:
1. Seorang pelajar Kansas, zigha Tufail shalat . Para siswa Muslim berdoa lima kali sehari dan sering merasa disalahpahami oleh siswa lain. [ljworld.com]

2. Wajah Tufail tersenyum saat mendengarkan pelajaran agama. Dalam beberapa kasus, katanya, mengenakan pakaian Islam telah membawa dia menjadi ejekan teman-temannya [Ljworld.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke