Senin, 22 November 2010

Mengatasi Konflik Demi Kemesraan Rumah Tangga

Pernikahan adalah tentang menyatukan dua hati dan pemikiran. Sering kali terjadi perbedaan diantara keduanya yang biasanya diwujudkan dalam konflik, pertengkaran atau perdebatan. Banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bumbu-bumbu penyedap yang memiliki esensi dalam hubungan itu sendiri, dan bukanlah menjadi jurang pemisah di antara pasangan. Jadi bagaimanakah mengatasi konflik atau pertengkaran agar setelah semua selesai, justru hubungan suami istri akan semakin mesra?

Adakalanya suami istri harus mengingat kembali tujuan awal dari pernikahan yang menjadikan agama sebagai pondasi. Maka dengan adanya kesadaran tersebut, walaupun konflik telah memanas, namun pikiran akan tergerak untuk mengatasinya berdasarkan aturan aturan agama. Selain itu, cobalah untuk berpikir realistis dan atau dengan logika, bahwa pasangan yang anda nikahi adalah seorang manusia, sepaket dengan kekurangan dan kelebihannya. Dia adalah bukan malaikat yang tanpa cela. Ingatlah pula bahwa setiap pribadi yang diciptakan Allah adalah unik, maka komunikasi yang sehat tersebut juga akan berjalan lancar jika dari awal kita bisa memahami atau paling tidak mempunyai keinginan untuk memahami keunikan karakter, sifat dan atau kesukaan pasangan. Perasaan menerima semua kenyataan itu akan memberi ruang pemikiran yang lebih luas untuk mengatasi semua konflik dengan jalan kompromi, dan komunikasi yang sehat. Hal itu bisa dilakukan pula lewat keterbukaan, kejujuran, dan pengenalan yang baik terhadap kondisi, situasi, waktu dan cara yang baik untuk menyampaikan pesan kepada pasangan.

Cobalah untuk berpikir realistis dan atau dengan logika, bahwa pasangan yang anda nikahi adalah seorang manusia, sepaket dengan kekurangan dan kelebihannya. Dia adalah bukan malaikat yang tanpa cela.

Konflik dengan pasangan juga selalu identik dengan kemarahan. Marah tidaklah dilarang, apalagi kalau dikarenakan alasan yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, kepada orang yang tepat, dan dengan kadar yang pas tentunya. Namun sebaiknya dihindari kemarahan yang akan membawa kita pada situasi yang semakin buruk dan berakhir dengan penyesalan, karena pada saat marah, akal pikiran kita tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tenangkan diri terlebih dahulu, jernihkan pikiran, dinginkan kepala, agar keputusan yang diambil tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.

permasalahan apapun juga akan bisa diatasi dengan mengedepankan sikap yang dewasa,dan sabar. Jika emosi meningkat, cobalah untuk meredamnya beberapa saat dengan diam sejenak. Jika suami sudah memulai dahulu dengan omelan, cobalah untuk menahan diri satu tingkat lebih, hal ini terlebih lagi jika konflik terjadi didepan buah hati. Penting untuk diingat, bahwa saling menjaga mulut antara istri dan suami di depan anak sangatlah penting. Usahakan jangan sampai konflik yang mengatas namakan perbedaan tersebut memancing kesedihan si kecil.

Rumah tangga adalah tentang belajar, salah satunya adalah belajar menyadari dan saling memenuhi hak dan kwajiban sebagai suami istri. Setiap kita mau tidak mau dituntut untuk belajar hal tersebut demi kebahagiaan bersama.

Konflik juga mungkin terjadi apabila suami istri tidak atau belum mengetahui dan menyadari hak dan kewajiban masing masing. Dan rumah tangga adalah tentang belajar, salah satunya adalah belajar menyadari dan saling memenuhi hak dan kwajiban sebagai suami istri. Setiap kita mau tidak mau dituntut untuk belajar hal tersebut demi kebahagiaan bersama. Keselarasan akan muncul jika suami istri tidak membawa kedua hal tersebut dalam sebuah interaksi yang kaku. Buatlah sefleksibel dan senyaman mungkin dalam kegiatan pemenuhan hak dan kewajiban, agar tidak ada rasa keterpaksaan diantara pasangan dalam melakukannya. Tentu saja penerapan hal tersebut memerlukan kepahaman dan pengertian dan keluasan hati masing-masing pasangan.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan dalam rumah tangga dan juga menjadi salah satu penetralisir konflik adalah rasa bersyukur. Rumah tangga akan terasa damai jika suami istri saling menyadari Bagaimanapun kondisi pasangannya. Kekurangan dan kelebihan itu adalah hal yang perlu disyukuri, karena bisa jadi dia lah pasangan yang paling tepat untuk kita. Ketika ada hal-hal yang kurang pada pasangan,jangan buru buru mengalihkan pandangan kepada " yang lain". Cobalah sama-sama perbaiki, saling introspeksi, dan bersemangat dalam meningkatkan kebaikan dalam diri masing-masing.

Rumah tangga akan terasa damai jika suami istri saling menyadari Bagaimanapun kondisi pasangannya. Kekurangan dan kelebihan itu adalah hal yang perlu disyukuri, karena bisa jadi dia lah pasangan yang paling tepat untuk kita.

Terakhir, pernikahan indah bukan berarti lepas dari kesalahan dan kekurangan. Sebagai seorang manusia biasa, suami istri pasti pernah melakukan kesalahan dan atau tanpa sengaja menyakiti satu sama lain. Namun dengan satu kata maaf yang ikhlas dari dalam hati dan kemakluman atas sebuah ketidak sempurnaan manusia, akan bisa mengurangi beban masalah itu sendiri. Tidak ada salahnya jika kita mencoba mengesampingkan gengsi dan harga diri didepan pasangan. Toh, kita manusia biasa yang sama seperti pasangan. Dengan memaafkan bisa berarti kita memberi kesempatan pasangan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan memberikan kesempatan kepadanya untuk tidak mengulangi kesalahannya. Selain itu, perasaan memaafkan adalah juga menjadi simbol ketulusan cinta kedua pasangan, dan hal ini adalah yang tak ternilai oleh apapun. Dan akhirnya, Dengan pengelolaan yang cantik dalam hal kesadaran, perasaan hati dan sikap ketika terjadi konflik, justru akan memunculkan respek dan kemesraan ketika suami istri berhasil melalui semua itu. So, hadapi dan nikmati saja konfliknya [Syahidah]

Sumber : voa-islam.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke