Selasa, 30 November 2010

Malaysia vs Indonesia – Jika 2 Muslim Berkelahi, Keduanya Masuk Neraka!

Kelihatan sekali rekayasa Yahudi (macam George Soros yang bolak-balik ke Indonesia) dengan antek-anteknya untuk mengadu-domba antar ummat Islam seperti Indonesia dgn Malaysia.

Terakhir adalah isyu DKP yang tidak bersenjata yang menangkap nelayan Malaysia kemudian akhirnya ditangkap polisi Malaysia yang bersenjata. Kesalahan Indonesia yang tidak menggunakan angkatan bersenjata seperti TNI AL atau Polri Air yang bersenjata dalam menangani “penyusup” akhirnya dituduhkan kepada Malaysia dan jadi alasan untuk perang melawan Malaysia.

Padahal Malaysia yang sebetulnya satu suku, satu bahasa (sama2 suku Melayu dan berbahasa Melayu dengan Indonesia), juga mayoritas beragama Islam. Mereka juga menyediakan 1,7 juta lowongan kerja yang upahnya lebih layak ketimbang di Indonesia saat di Indonesia pengangguran merajalela.

Sementara negara lain seperti Singapura yang mayoritas kafir dan telah merampas 100 km2 wilayah Indonesia dengan “Impor Pasir” serta mencuri ratusan trilyun rupiah dari Indonesia dengan menjadi tukang tadah hasil para koruptor Indonesia justru aman dari serangan Indonesia.

Sabda Nabi, jika 2 Muslim berperang/saling bunuh, maka keduanya masuk neraka.

Hendaknya ummat Islam terhindar dari tipu daya Yahudi dan antek2nya yang gemar mengadu domba ummat Islam. Kaum Yahudi sudah berpengalaman dalam mengadu-domba ummat Islam. Contohnya Suku Bani Aus dan Khazraj yang sama-sama Muslim nyaris berperang karena kaum Yahudi berhasil membakar semangat kebangsaan/kesukuan mereka. Banyak pula perang yang terjadi karena didukung/didanai Yahudi seperti halnya perang Inggris melawan Perancis zaman Napoleon yang didanai oleh Yahudi Rothschilds yang menguasai keuangan Inggris.

Kalau ummat Islam di Indonesia dan Malaysia lemah karena perang, kaum Yahudi dan Nasrani mudah sekali untuk menguasai ummat Islam di kedua negara tersebut. Silahkan baca bagaimana sebagian besar kekayaan alam Indonesia dikuasai pihak/asing/kafir/Yahudi sehingga mereka kaya dan ummat Islam miskin:

http://syiarislam.wordpress.com/2010/02/10/yahudi-kuasai-ekonomi-indonesia/

Solusi untuk menghindari perang/konflik antara Malaysia vs Indonesia atau negara2 Islam lainnya adalah dengan mendirikan 1 negara Islam yang membentang dari Maroko hingga Merauke.

Mudah2an artikel di bawah mencerahkan pikiran dan hati kita.

Nasehat Allah via Al Hujuraat untuk Kasus Indonesia vs Malaysia

peta Indonesia dan Malaysia Bersatu

Pada kasus ketegangan antara Indonesia vs Malaysia di mana kedua penduduk kedua negara saling hina bahkan mengancam saling perang, ada baiknya kita kembali pada petunjuk Allah yang tercantum dalam surat Al Hujuraat.

[49.6] Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Ayat di atas berkaitan dengan seorang fasik yang menyiarkan kabar bohong kepada Nabi bahwa suku X tidak mau bayar zakat dan bahkan ingin membunuhnya. Namun Nabi tidak begitu saja percaya berita itu dan menyerang mereka. Nabi mengirim utusan ke suku X untuk menanyakan kebenarannya.

Celakanya rakyat Indonesia dan Malaysia yang mayoritas Muslim banyak yang mempercayai begitu saja berita-berita yang disiarkan oleh kaum kafir dan sekuler tanpa mau memeriksa kebenarannya atau chek and recheck kepada pihak tertuduh. Tahun 1966 Indonesia dan Malaysia pernah perang. Sekarang juga nyaris perang.

Para ulama juga banyak yang tidak menyadari pentingnya penguasaan Media Massa agar ummat Islam tidak dijejali oleh berita yang disiarkan kaum kafir dan sekuler. Ummat Islam baru menguasai media cetak dan radio yang pemirsanya cuma 500 ribu atau kurang. Belum mampu menguasai TV yang bisa mempengaruhi 100 juta orang lebih sekali siaran.

Tak heran akhirnya pikiran ummat sesuai dengan opini publik yang dibentuk oleh kaum kafir dan sekuler.

[49.7] Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

[49.8] sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Saat Nabi ada, masih begitu mudah mengingatkan ummat dengan firman Allah karena mereka cinta pada keimanan dan benci pada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Sayangnya sekarang tidak ada tokoh sekelas Nabi yang dihormati ummat. Lebih parah lagi, ummat meski sudah diingatkan dengan firman Allah, Al Qur’an, tidak mau mengimaninya dan mengamalkannya. Sebagian tetap saja membangkang seperti Iblis yang sombong mentaati perintah Allah.

[49.9] Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Kita tahu mayoritas penduduk Indonesia dan Malaysia adalah Muslim. Hanya segelintir yang kafir dan mungkin jadi biang pengadu-domba. Oleh karena itu hendaknya kita berusaha mendamaikan mereka.

Aneh rasanya jika kaum kafir dan sekuler berusaha “mendidik” ummat Islam untuk toleran dan cinta damai terhadap kaum kafir AS, Israel, dan Eropa yang membantai ummat Islam di Iraq, Palestina, dan Afghanistan. Namun di sisi lain mereka menggunakan media massa yang mereka miliki untuk mengadu-domba ummat Islam Indonesia dengan Malaysia.

[49.10] Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Ayat di atas merupakan firman Allah yang menyatakan mukmin itu bersaudara. Jadi harus berdamai.

[49.11] Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

[49.12] Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Allah memerintahkan ummat Islam untuk tidak saling mengejek atau menghina. Allah juga melarang kita berburuk-sangka, mencari kesalahan orang, dan membicarakan keburukan orang karena itu sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Terakhir Allah menegaskan bahwa kita semua adalah saudara karena memiliki nenek moyang yang sama, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa.

[49.13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Baru setelah itu dijadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Kita harus tahu bahwa negara Indonesia itu baru muncul tahun 1945 setelah bebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Itu pun petanya berubah di mana Papua baru masuk tahun 1966 dan Timor Timur masuk di tahun 1976 untuk kemudian keluar lagi dari Indonesia. Malaysia pun baru merdeka tahun 1957 dari penjajahan Inggris.

Tapi di zaman sebelum penjajahan Portugis, Belanda, dan Inggris, baik Indonesia dan Malaysia pernah bersatu beberapa kali yaitu pada Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Kerajaan Malaka. Bahasa Melayu yang merupakan bahasa persatuan wilayah itu pun merupakan sumber dari Bahasa Indonesia.

Bangsa Indonesia dan Malaysia terpisah dalam 2 negara kurang dari 70 tahun. Tapi kita pernah tergabung dalam 1 negara di Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Malaka selama ratusan tahun.

Ummat Islam itu satu. Bersaudara. Jangan biarkan ilusi negara yang berubah-rubah peta dan pemerintahannya seiring perkembangan zaman memecah-belah persatuan ummat Islam!

Dulu negara Islam/Kekhalifahan Islam membentang dari Spanyol hingga Ternate. Tidak ada konflik antar ummat Islam karena beda negara. Jadi solusi agar tidak terjadi perang antara Indonesia dengan Malaysia atau pun antar negara Islam lainnya adalah dengan membentuk 1 negara Islam yang meliputi seluruh ummat Islam di berbagai penjuru dunia.

Nabi berkata, jika 2 muslim berperang atau saling bunuh, maka keduanya masuk neraka, tak peduli dia dari suku, bangsa, atau negara yang berbeda:

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Nabi juga berkata bahwa orang yang marah karena fanatisme golongan/kebangsaan, maka jika dia mati dia mati dalam keadaan jahiliyah/kafir:

Barangsiapa membangkang dan meninggalkan jama’ah lalu mati maka matinya jahiliyah, dan barangsiapa berperang di bawah bendera nasionalisme (kebangsaan atau kesukuan) yang menyeru kepada fanatisme atau marah karena mempertahankan fanatisme golongan lalu terbunuh maka mati dalam keadaan jahiliyah. (HR. An-Nasaa’i)

Hendaknya kita ummat Islam setelah mempelajari ayat Al Qur’an dan Hadits di atas segera taat dan tunduk. Sami’na wa atho’na. Tidak membangkang seperti Iblis.

http://berita.liputan6.com/sosbud/200910/247117/Malaysia.Bantu.Korban.Gempa.Sumbar

Malaysia Bantu Korban Gempa Sumbar

Rinaldo

11/10/2009 15:06

Liputan6.com, Padang: Pemerintah Malaysia memberikan bantuan sebesar US$ 1 juta untuk perbaikan infrastruktur dan bangunan publik yang rusak di Sumatra Barat akibat gempa bumi pada 30 September lalu. Bantuan tersebut secara resmi diserahkan Menteri Pertahanan Malaysia Dato Seri Ahmad Zahid bin Hamidi kepada Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di Padang, Ahad (11/10).

Menurut Ahmad Zahid, bantuan itu akan diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur, gedung pemerintahan serta fasilitas umum seperti rumah ibadah dan sekolah yang rusak akibat gempa. Sebelumnya, pemerintah Malaysia telah mengirimkan bantuan yang diangkut dengan 15 pesawat terbang khusus yang juga membawa 15 tim relawan. Mereka langsung bergerak ke lokasi bencana pascagempa.

http://media-islam.or.id/2009/10/11/pelajaran-surat-al-hujuraat-untuk-kasus-indonesia-vs-malaysia/

Mengapa Kita Beraninya Hanya pada Malaysia?

Thursday, 26 August 2010 14:01
E-mail Print PDF

Apakah kita akan tetap “berperang” dengan Malaysia atau mempertahankan persaudaraan besar bernama “rumpun Melayu?”

Oleh: Afriadi Sanusi*

SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana..”

Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?

Pertama, TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan sebagainya. Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Kedua, banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.

Ketiga, identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah, perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu dimuseumkan. Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid dan surau di Singapura.

Keempat, pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah membuat rakyat RI sengsara selama ini (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang baik terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian ekstradisi.

Kelima,
banyak rakyat, nelayan dan petugas kita diacungi senjata berat dan diusir dengan pengeras suara karena disangka telah melintasi garis batasan laut kepunyaan Singapura.

Malaysia Lebih Baik dari Singapura

“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI. Triliyunan uang TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat dibayangkan, bagaimana dampak sosial, ekonomi dan budaya yang akan berlaku di Indonesia kalau TKI pulang sekaligus.

Faktanya, TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang keberadaannya hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka sangat perlu dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan manfaat yang berarti kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak memberi manfaat.

Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini. Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah Malaysia dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan tinggi negeri Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas, infrastruktur dan kemudahan lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia tentunya.

Sebagai warga asli Indonesia, penulis tidak merasa sakit hati kalau ditilang oleh polisi Malaysia. Karena kami yakin, uang itu pasti akan masuk ke dalam kas negara untuk pemerintah Malaysia memperbaiki jalan, jembatan, lampu jalan yang aku gunakan setiap hari di negara ini.

Sebalinya, saya sering sakit hati jika ditilang oleh polisi Indonesia. Karena kami yakin, uang itu belum tentu masuk kas negara. Bahkan ada yang masuk pribadi polisi, keluarga dan golongannya tanpa dikembalikan kepada ke negara untuk membangun infrastruktur.

Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi oleh rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh segelintir orang yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam, Melayu dan Nusantara yang kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di negaraku begitu mudah emosi?

Pengalihan Isu

Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat terhadap berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI, Century, Rekening Gendut Polisi, kenaikan BBM dan harga bahan pokok, penangkapan Susno Duadji, buruknya birokrasi dan pelayanan publik, maraknya korupsi, pelemahan KPK, gagalnya sebuah kepemimpinan, meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, perbuatan kriminal, buta huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan institusi pemerintahan, dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti kepada rakyat.

Isu “memanasnya” hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang telah, sedang dan akan berlaku.

Damaikanlah Saudaramu

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam sebuah wawancara khusus dengan hidayatullah.com [“Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu Raya], mengatakan, dalam buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam “Melayu Raya”. Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai “alam Melayu”, atau di Indonesia dikenal istilah Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia ke-2. Saat itu, ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Intinya, ada hasrat untuk bersatu.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk banyak warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.

Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat “satu rumpun” untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya saja, jika berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar.

Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan kotoran ke Kedutaan Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan menyakitkan hati dan membuat hubungan bukan makin mendekat, tapi malah menjauh.

Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan orang-orang cerdas di Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah, ICMI, HMI, dll., namun warga Indonesia harus lebih peka dan mencari tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik agenda mereka?

Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh pihak asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?

Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media Malaysia. Namun akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’ hubungan Indonesia-Malaysia, ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar politik di berbagai media massa, seperti oleh Samy Vellu, Bernama dll.

Ada dua kemungkinan mengapa mereka menanggapinya. Pertama, untuk membangkitkan rasa nasionalisme rakyat menjelang hari kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Kedua, mungkin juga dimanfaatkan oleh keturunan China dan India Malaysia yang memang kurang suka dengan hubungan baik Indonesia-Malaysia. Karena ini akan menguatkan kepentingan mereka dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di Malaysia.

Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia? Apakah kita tetap ngotot mengajak perang dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu Riau, Palembang, Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, karena kita seagama Islam dan satu rumpun melayu?

Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita diselundupkan, tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang menguras minyak kita dengan Caltexnya? yang menguras gas kita dengan Harunnya dan sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan, ekonomi dan sosial rakyat?

Apakah kita takut pada Singapura karena mereka memiliki peralatan perang yang sangat canggih dan jauh meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat takut, karena para pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan Singapura yang menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.

Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap perusahaan penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor di Indonesia.

Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah, maka akan sama-sama kita dengar, tiga, lima bulan lagi. Malaysia akan membeli peralatan perang yang baru, Amerika pula akan menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman utang, untuk membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal perang bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.

Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat.”
(QS: al-Hujurat ayat 10)

*)Penulis yang berasal dari Sumatera, PhD. Candidate Islamic Political Science, University of Malaya, Kuala Lumpur

http://www.hidayatullah.com/kolom/opini/opini/13117-mengapa-kita-beraninya-hanya-pada-malaysia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke