Minggu, 08 Mei 2011

Hidayah Datang Dari Pasienku Yang Berhijab


Namaku Orevia, aku adalah seorang dokter spesialis wanita dan kebidanan di salah satu Rumah Sakit di Kanada. Sudah lebih dari delapan tahun aku mengabdi di rumah sakit tersebut.

Masih ku ingat, tepatnya setahun yang lalu, ada seorang muslimah Arab datang ke rumah sakit tempatku berkerja. Rupanya ia akan melahirkan.

Sejak awal kedatangannya, ia sudah mengeluh sakit dan mules. Namun anehnya aku tidak melihat setetes air mata pun di wajahnya. Ketika jam kantorku sudah hampir usai, kukatakan kepadanya bahwa aku akan pulang ke rumah.

Sebagai gantinya, akan ada seorang dokter pria yang akan menangani kelahirannya nanti. Seketika itu wanita tersebut menangis dan menolak mentah – mentah.

“Tidak ! Pokoknya aku tidak mau ditangani oleh dokter pria!”

Aku begitu terkejut mendengarnya. Suaminya yang dari tadi setia menanti di sisinya menjelaskan kepadaku bahwa selama ini tak seorang pria pun yang pernah melihat dirinya selain ayah, kakak, suami atau mereka yang termasuk mahram wanita tersebut. Aku pun tertawa mendengarnya.

“Kupikir tak seorang priapun yang belum pernah melihat wajahku selama ini..” balasku dengan nada penuh canda.

Akhirnya kupenuhi juga permintaanya kali ini. Setelah sabar menanti dua jam, akhirnya wanita itu melahirkan anaknya dengan selamat.

Keesokan harinya aku kembali menjenguknya, sekedar mengingatkan kepadanya akan bahaya melakukan hubungan intim saat istri sedang menjalani masa nifas. Karena hal ini dapat menimbulkan berbagai penyakit dan peradangan pada tubuh si istri.

Mendengar itu, ia pun langsung menimpali dengan panjang lebar, bagaimana Islam membimbing umatnya ketika menjalani masa – masa nifas. Sebagai seorang non muslim, aku pun terperanjat mendengar uraianya tadi.

Ketika kami sedang asyik berbincang – bincang, tiba-tiba datang seorang spesialis anak masuk ke dalam ruangan sambil membawa anaknya.

“Sebaiknya si kecil tidur dalam posisi menghadap ke sebelah kanan, agar detak jantungnya bisa teratur” katanya di sela-sela pembicaraan kami.

Mendengar hal ini, suaminya langsung menambahkan, “Ya, selama ini kami memang sudah terbiasa meletakannya sambil menghadap ke sebelah kanan sebagaimana yang telah diajarkan Nabi kami, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam”.

Kembali aku terperanjat untuk kedua kalinya. Bertahun-tahun kami menghabiskan usia dan energi untuk mempelajari hal ini, namun ternyata mereka lebih dahulu mengetahuinya melalui ajaran agamanya.

Akhirnya kuputuskan untuk mengenal lebih dalam tentang Islam dan segala semua yang berhubungan dengannya.

Beberapa waktu kemudian aku langsung mengambil cuti kerja selama satu bulan. Kumanfaatkan waktu tersebut untuk mengunjungi salah satu pusat informasi dan studi Islam yang ada.

Kupergunakan kesempatan tersebut untuk menggali seluas-luasnya tentang ajaran Islam. Tak lupa kutemui komunitas muslim, baik yang berasal dari arab maupun dari warga amerika sendiri.

Dan sebelum aku kembali ke kotaku, ku bawa beberapa buah buku yang menjelaskan kepada ku tentang apa dan bagaimana Islam itu sebenarnya. Sejak saat itu aku menjalin hubungan dengan beberapa orang pengurus pusat informasi dan studi islam tersebut.

Alhamdulillah, beberapa bulan berikutnya akhirnya kuputuskan mengubah jalan hidupku. Kini aku telah menjadi seorang muslimah.

Allah telah berkenan membuka jalan hidayah untukku melalui hijab seorang muslimah Arab yang pernah kujumpai beberapa bulan yang lalu.

Semoga keislamanku menjadi sebuah titik baru bagiku untuk bisa menapaki kehidupan lebih baik lagi di masa yang akan datang, amiin

sumber : situslakalaka.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke