Jumat, 27 Mei 2011

Kisah Sahabat Nabi: Abdullah bin Mughafal, Ahli Hadits dan Ahli Fikih


Abdullah bin Mughafal, nama panggilannya Abu Sa'id atau Abu Abdurrahman atau Abu Ziad. Karena ia memang mempunyai anak-anak yang bernama Sa'id, Abdurrahman, Ziad dan lain-lain yang berjumlah tujuh orang.

Dia adalah termasuk golongan sahabat yang ikut melakukan Bai'atur Ridwan atau Bai'atus Sajarah, yaitu sumpah setia yang dilakukan di bawah sebatang pohon, di tempat yang bernama Hudaibiyah pada tahun 7 Hijriyah. "Aku termasuk di antara orang-orang yang berada di bawah pohon di mana Nabi SAW mengambil bai'at dari para sahabat," tuturnya.

Sejak itu, Abdullah bin Mughafal tak pernah absen dalam perjuangan menegakkan dan menyebarkan agama Islam bersama Rasulullah hingga wafatnya, kecuali pada Perang Tabuk.

Pada waktu Perang Tabuk, Abdullah bin Mughafal tidak bisa ikut karena medannya yang sangat jauh dan sulit. Hingga hari keberangkatan, ia gagal mendapatkan kendaraan perang dan biaya perjalanan.

Hal inilah yang membuatnya sedih. Apalagi waktu itu Rasulullah juga tidak dapat mengusahakan kendaraan untuknya. Ia pun mengadukan masalahnya kepada Tuhannya dengan cara menangis.

Namun sedihnya menjadi sirna ketika mendengar bunyi ayat yang baru diturunkan kepada Nabi SAW: "Dan tiada (pula terkena dosa) atas orang-orang yang apabila datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.' Maka mereka kembali, sedang air matanya bercucuran karena kesedihan lantaran mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan atau ongkos." (QS At-Taubah: 92).

Untuk sementara, ia senang karena termasuk di antara orang yang dimaksud dalam ayat itu. Namun ia masih tetap bersedih hati lantaran tidak dapat ikut bertempur dan tidak dapat mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abdullah bin Mughafal tetap ikut dalam peperangan untuk menumpas kaum yang murtad dan tidak mau mengeluarkan zakat. Pada zaman Khalifah Umar dan Utsman, ia juga tidak ketinggalan dalam usaha menyebarkan Islam ke daerah-daerah Timur Tengah lainnya.

Ketika wilayah Irak telah diislamkan, Khalifah Umar secara beruntun mengirimkan sepuluh orang ahli fikih untuk mengajarkan agama di Bashrah, termasuk Abdullah bin Mughafal. Ia meriwayatkan sejumlah hadits Rasulullah.

Pada masa pemerintahanan Khalifah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mughafal memilih tinggal di Bashrah. Di sana ia memiliki sebuah rumah yang dibangun di dekat masjid. Di rumahnya inilah ia menghabiskan sisa hidupnya dengan mengajar dan beribadah. Abdullah bin Mughafal wafat pada 60 H, pada akhir masa pemerintahan Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.

sumber : republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke