Rabu, 25 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Kemenangan di Badar


Kaum Muslimin harus siap menantikan pertempuran yang sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.

Ketika Ali sudah kembali dengan kedua orang anak yang membawa berita tentang Quraisy itu, dua orang Muslimin lainnya berangkat lagi menuju lembah Badar. Mereka berhenti di atas sebuah bukit tidak jauh dari tempat air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya, dan di sini mereka mengisi air.

Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi setelah ada berita-berita bahwa Abu Sufyan sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang yang tadinya mempunyai harapan penuh akan beroleh harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang bertukar pikiran dengan Nabi dengan maksud supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu berhadapan dengan mereka yang datang dari Makkah hendak berperang.

Pada pihak Quraisy juga demikian. Perlu apa mereka berperang, perdagangan mereka sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga berpikir begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy sambil berpesan, "Kalian telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Tuhan. Kembalilah!"

Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini. Tetapi Abu Jahal tiba-tiba berteriak, "Kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, makan-makan, minum-minum khamr, dan kita minta para biduanita bernyanyi. Biar orang-orang Arab itu mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Agar mereka tidak lagi menakut-nakuti kita."

Mereka jadi ragu-ragu, antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Namun yang kemudian kembali pulang hanya Bani Zuhrah, setelah mereka mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang cukup ditaati mereka.

Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir.

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh sebab itum mereka pun segera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun.

Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundzir bini Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, bertanya kepada Nabi SAW. "Rasulullah, bagaimana pendapat anda berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur setapak pun dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat anda sendiri, suatu taktik perang belaka?"

"Sekedar pendapatku dan sebagai taktik perang," jawab Rasulullah.

"Rasulullah," katanya lagi. "Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat, lalu sumur-sumur kering yang di belakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak."

Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Rasulullah setuju, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa beliau juga manusia seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan beliau tidak akan menggunakan pendapat sendiri tanpa melibatkan mereka.

Setelah kolam selesai dibuat, Sa'ad bin Mu'adz mengusulkan, "Rasulullah," katanya, "Kami akan membuatkan sebuah dangau sebagai tempat tinggalmu, kendaraanmu kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh. Kalau Allah memberi kemenangan kepada kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi, dengan kendaraan itu, engau dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepadamu tidak kurang dari cinta kami kepadamu. Sekiranya mereka dapat menduga bahwa engkau akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah darimu. Dengan mereka, Allah menjagamu. Mereka benar-benar ikhlas kepadamu, berjuang bersamamu."

Rasulullah sangat menghargai dan menerima baik saran Sa'ad itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangun. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Madinah.

Alangkah besarnya kecintaan para sahabat kepada Rasulullah, dan alangkah besarnya kepercayaan mereka pada ajaran beliau. Mereka semua mengetahui bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar dari kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Namun sungguhpun demikian, mereka sanggup menghadapi dan sanggup melawan. Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini? Iman mana lagi yang lebih menjamin akan memberikan kemenangan seperti iman mereka ini?

Dan pertempuran pun dimulai. Aswad bin Abdul Asad (Bani Makhzum) keluar dari barisan Quraisy langsung menyerbu ke tengah-tengah barisan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah selesai dibuat. Namun Hamzah bin Abdul Muthalib menyambutnya dengan sebuah pukulan yang mengenai kakinya, hingga ia tersungkur. Hamzah kemudian menebaskan pedangnya, dan Aswad pun tewas di dekat kolam.

Begitu Aswad tewas, Utbah bin Rabi'ah didampingi oleh Syaibah, saudaranya, dan Walid bin Utbah, anaknya, maju ke gelanggang pertempuran. Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib dan Ubaida bin Al-Harits, menyambut mereka. Hamzah tidak lagi memberi kesempatan kepada Syaibah, juga Ali tidak memberi kesempatan kepada Walid, keduanya dapat mereka bunuh. Lalu keduanya segera membantu Ubaidah yang sedang terancam oleh Utbah. Melihat kenyataan demikian, Quraisy pun maju menyerbu.

Pada pagi Jumat 17 Ramadan itulah kedua pasukan itu saling berhadap-hadapan. Rasulullah sendiri tampil memimpin pasukan Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, disamping perlengkapan perang yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, beliau kembali ke pondoknya ditemani oleh Abu Bakar. Beliau sangat cemas dengan peristiwa yang bakal terjadi hari itu.

Rasulullah pun menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan seluruh jiwanya menghadapkan diri kepada Allah, membisikkan permohonan dalam hatinya agar Dia memberikan pertolongan. Rasulullah tenggelam dalam doanya.

Dalam keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya yang demikian inilah kedua ayat ini turun: "Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Anfaal: 65-66).

Keadaan kaum Muslimin ternyata bertambah kuat setelah Rasulullah kembali dan membangkitkan semangat mereka. Beliau turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh. Beliau menyerukan kepada mereka, bahwa surga telah menanti mereka yang terjun ke medang perang dan terbunuh oleh musuh. Kaum Muslimin pun mengarahkan perhatian mereka pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Kaum Muslimin hendak mengikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala mereka disiksa di Makkah dulu.

Tatkala Rasul SAW melihat bahwa Allah telah melaksanakan janji-Nya dan setelah nyata pula kemenangan berada di pihak umat Islam, beliau kembali ke pondoknya. Orang-orang Quraisy kabur, namun dikejar terus oleh Muslimin. Yang tidak terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.

Inilah Perang Badar, yang kemudian telah memberikan tempat yang stabil kepada umat Islam di seluruh tanah Arab, dan yang merupakan sebuah pendahuluan lahirnya persatuan seluruh jazirah di bawah naungan Islam.

Dengan perasaan dongkol orang-orang Makkah lari tunggang-langgang. Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata mereka tertumbuk pada salah seorang kawan sendiri, karena rasa malunya ia segera membuang muka, mengingat nasib buruk yang telah menimpa mereka semua.

Sumber : Republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke