Jumat, 27 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Pengusiran Bani Qainuqa'


Peristiwa Badar itu telah menimbulkan kesan yang dalam sekali di Makkah. Namun pengaruh yang timbul di Madinah ternyata lebih jelas dan lebih erat berhubungan dengan kehidupan Rasulullah dan kaum Muslimin. Sesudah peristiwa Badar, golongan Yahudi, orang-orang musyrik dan kaum munafik sangat merasakan bertambahnya kekuatan kaum Muslimin.

Sejak sebelum Perang Badar, orang-orang Yahudi sudah mulai menggerutu dan mengadakan bentrokan-bentrokan dengan pihak Muslimin. Beberapa peristiwa tidak sampai meletus hanya karena masih adanya perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Itu pula sebabnya, begitu kaum Muslimin kembali dari Badar membawa kemenangan, beberapa kelompok di sekitar Madinah mulai saling bermain mata dan berkomplot.

Dengan demikian, gelanggang revolusi kini pindah dari Makkah ke Madinah, dan dari masalah agama ke masalah politik. Yang diperangi sekarang bukan hanya dakwah Muhammad SAW dalam bidang agama saja, melainkan kewibawaan dan pengaruhnya juga. Faktor ini yang menyebabkan mereka berkomplot dan berkonspirasi untuk membunuhnya.

Tetapi semua rahasia itu bukan tidak diketahui oleh Rasulullah. Bahkan beliau sudah mengetahui semua berita dan setiap rencana yang ditujukan kepadanya. Pihak Muslimin ataupun pihak Yahudi, dari hari ke hari, sedikit demi sedikit hati mereka sarat dengan kebencian. Satu sama lain tinggal menunggu adanya bencana yang akan menimpa lawan.

Sejak sebelum mendapat kemenangan di Badar, kaum Muslimin masih merasa takut kepada penduduk Madinah. Dan belum berani mengadakan serangan balasan apabila ada seorang Muslim yang diserang. Namun kini situasinya berbalik. Hal ini membuat pihak Yahudi bertambah cemas. Mereka merasa dengan nasibnya. Walau demikian, mereka tidak juga mau berhenti mengecam Rasulullah dan kaum Muslimin.

Ada seorang wanita Arab datang ke pasar Yahudi Bani Qainuqa' dengan membawa perhiasan. Ia sedang duduk menghadapi tukang emas. Mereka berusaha supaya si wanita memperlihatkan mukanya. Namun wanita Muslimah itu menolak. Tiba-tiba datang seorang Yahudi dengan diam-diam dari belakang, lalu mengaitkan ujung baju wanita itu dengan sebatang penyemat ke punggungnya. Dan ketika wanita itu berdiri, tampaklah auratnya. Mereka ramai-ramai menertawakannya. Wanita itu menjerit-jerit. Tiba-tiba datang seorang laki-laki Muslim langsung menerkam tukang emas dan membunuh Yahudi yang bertindak kurang ajar itu. Orang-orang Yahudi yang lain datang ramai-ramai mengikat laki-laki Muslim dan membunuhnya.

Keluarga Muslim ini meminta bantuan kaum Muslimin dalam menghadapi pihak Yahudi, yang selanjutnya menimbulkan bencana besar antara mereka dengan pihak Yahudi Bani Qainuqa'. Rasulullah kemudian meminta mereka agar jangan lagi mengganggu kaum Muslimin dan supaya tetap memelihara perjanjian perdamaian yang sudah ada. Kalau tidak, mereka akan mengalami nasib seperti Quraisy. Akan
tetapi peringatan ini tidak diindahkan oleh mereka.

Mereka malah menantang. "Muhammad, jangan kau tertipu karena kau sudah berhadapan dengan suatu golongan yang tidak punya pengetahuan berperang sehingga engkau mendapat kesempatan mengalahkan mereka. Tetapi kalau kami yang memerangimu, niscaya akan kau ketahui, bahwa kami inilah orangnya," kata mereka.

Kalau mereka sudah keras kepala begini, maka tak ada jalan lain kecuali memerangi mereka. Jika tidak, maka kedudukan kaum Muslimin di Madinah akan runtuh, dan selanjutnya akan menjadi bahan tertawaan pihak Quraisy.

Kaum Muslimin melakukan aksi balasan dan mengepung orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' selama lima belas hari berturut-turut, di tempat mereka sendiri. Tak ada orang yang dapat keluar, juga tak ada yang dapat masuk membawakan makanan. Tak ada jalan lain lagi bagi mereka kecuali tunduk pada aturan Rasulullah dan pasrah pada ketentuannya. Akhirnya, mereka pun menyerah. Konsekuensinya, Bani Qainuqa' harus meninggalkan Madinah.

Kekuasaan kaum Yahudi di Madinah semakin lemah setelah Bani Qainuqa' meninggalkan kota ini. Sebagian besar orang-orang Yahudi yang disebut-sebut dari Madinah ini, tinggal jauh di Khaibar dan Wadi Al-Qura. Inilah yang menjadi target Rasulullah dengan pengusiran mereka.

Ini adalah sebuah langkah politik yang sangat cemerlang yang diperlihatkan Rasulullah, yang menunjukkan kebijaksanaan dan pandangan beliau yang jauh ke depan. Peristiwa ini juga merupakan pendahuluan yang memiliki pengaruh politik yang kelak akan berjalan sesuai dengan garis yang telah ditentukan oleh Nabi Muhammad.

sumber : Republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke