Selasa, 17 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Berakhirnya Blokade


Selama tiga tahun berturut-turut piagam yang dibuat pihak Quraisy untuk memboikot Muhammad dan mengepung kaum Muslimin itu tetap berlaku. Pada saat itu Rasulullah dan keluarga serta sahabat-sahabatnya sudah mengungsi ke celah-celah gunung di luar kota Makkah, dengan mengalami pelbagai macam penderitaan. Sehingga untuk mendapatkan bahan makanan sekadar menahan rasa lapar pun tidak ada.

Rasulullah dan kaum Muslimin tidak diberikan kesempatan bergaul dan bercakap-cakap dengan orang lain, kecuali dalam bulan-bulan suci. Pada waktu itu orang-orang Arab berdatangan ke Makkah berziarah, segala permusuhan dihentikan—tak ada pembunuhan, tak ada penganiayaan, tak ada permusuhan, tak ada balas dendam.

Pada bulan-bulan itu Muhammad SAW turun, mengajak orang-orang Arab itu kepada agama Allah, diberitahukannya kepada mereka arti pahala dan arti siksa. Segala penderitaan yang dialami Rasulullah demi dakwah itu justru telah menjadi penolongnya.

Mereka yang telah mendengar tentang itu lebih bersimpati kepadanya, lebih suka mereka menerima ajakannya. Blokade yang dilakukan Quraisy kepadanya, kesabaran dan ketabahan hatinya memikul semua itu demi risalahnya, telah memikat hati orang banyak.

Penderitaan yang begitu lama, yang dialami kaum Muslimin karena kekerasan pihak Quraisy—padahal mereka masih sekeluarga—menimbulkan simpati sebagian warga Quraisy. Banyak diantara mereka yang merasakan betapa beratnya kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Quraisy. Dan sekiranya tidak ada penduduk Makkah yang bersimpati kepada kaum Muslimin, membawakan makanan ke celah-celah gunung tempat mereka mengungsi itu, niscaya mereka akan mati kelaparan.

Dalam hal ini, Hisyam bin Amr termasuk salah seorang dari kalangan Quraisy yang paling simpati kepada Muslimin. Tengah malam ia datang membawa unta yang dimuati makanan atau gandum. Ketika ia sudah sampai di depan celah gunung itu, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat kaum Muslimin.

Merasa kesal melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya dianiaya sedemikian rupa, Hisyam pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah (Bani Makhzum). Ibu Zuhair adalah Atika binti Abdul Muthalib (Bani Hasyim).

"Zuhair," kata Hisyam, "Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan wanita-wanita. Padahal seperti kau ketahui, keluarga ibumu tidak boleh berhubungan dengan orang lain, tidak boleh berjual-beli, tidak boleh saling mengawinkan. Aku bersumpah, bahwa kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibu—keluarga Abul Hakam bin Hisyam—lalu aku diajak seperti mengajak kau, tentu akan kutolak."

Keduanya kemudian sepakat akan sama-sama membatalkan piagam itu. Tapi meskipun begitu harus mendapat dukungan juga dari yang lain, dan secara rahasia mereka harus diyakinkan. Pendirian kedua orang itu kemudian disetujui oleh Mut'im bin Adi (Naufal), Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan Zam'ah bin Al-Aswad (keduanya Bani Asad). Mereka berlima lalu sepakat akan mengatasi persoalan piagam itu dan akan membatalkannya.

Dengan tujuh kali mengelilingi Ka'bah keesokannya pagi-pagi Zuhair bin Umayyah berseru kepada orang banyak, "Hai penduduk Makkah! Kamu sekalian enak-enak makan dan berpakaian padahal Bani Hasyim binasa tidak dapat mengadakan hubungan dagang. Demi Allah, aku tidak akan duduk sebelum piagam yang kejam ini dirobek!"

Abu Jahal, begitu mendengar ucapan itu, langsung berteriak, "Bohong! Tidak akan kita robek!"

Saat itu juga terdengar suara-suara Zam'ah, Abu Al-Bakhtari, Mut'im dan Amr bin Hisyam mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair.

Abu Jahal segera menyadari bahwa peristiwa ini akan terselesaikan juga malam itu dan orang pun sudah menyetujui. Kalau dia menentang mereka, tentu akan timbul bencana. Merasa khawatir, ia lalu cepat-cepat pergi.

Ketika Mut'im bersiap akan merobek piagam tersebut, dilihatnya sudah mulai dimakan rayap, kecuali pada bagian pembukaannya yang berbunyi: "Atas nama-Mu ya Allah..."

Dengan demikian terdapat kesempatan bagi Nabi SAW dan sahabat-sahabat untuk pergi meninggalkan celah bukit yang curam itu dan kembali ke Makkah. Kesempatan berjual-beli dengan Quraisy juga terbuka. Sekalipun demikian, hubungan antara keduanya masih seperti dulu; masing-masing siap-siaga bila permusuhan itu sewaktu-waktu memuncak lagi.

Setelah piagam disobek, Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya pun turun gunung. Seruannya dikumandangkan lagi kepada penduduk Makkah dan kepada kabilah-kabilah yang pada bulan-bulan suci itu datang berziarah ke Makkah.

Meskipun ajakan Rasulullah sudah tersiar ke seluruh kabilah Arab di samping banyaknya mereka yang sudah menjadi pengikutnya, namun para sahabatnya masih tidak selamat dari siksaan Quraisy.

sumber : Republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke