Selasa, 17 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Isra’ dan Mikraj


Malam itu Muhammad SAW sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun, putri Abu Thalib yang dipanggil Ummu Hani'.

Ketika itu Hindun berkata, "Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai shalat akhir malam, ia tidur dan kami pun tidur. Pada waktu sebelum fajar, Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melakukan ibadah pagi bersama-sama kami, ia berkata, 'Ummu Hani', aku sudah shalat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang kau lihat di lembah ini. Kemudian aku ke Baitul Maqdis (Yerusalem) dan shalat di sana. Sekarang aku shalat siang bersama-sama kamu seperti kau lihat.' Kataku, 'Rasulullah, janganlah ceritakan hal ini kepada orang lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!' Rasulullah menjawab, 'Tapi aku harus menceritakan kepada mereka."

Orang yang mengatakan bahwa Isra' dan Mikraj Muhammad SAW dengan ruh itu berpegang pada keterangan Ummu Hani' ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah, "Jasad Rasulullah SAW tidak hilang, tetapi Allah menjadikan Isra' itu dengan ruhnya."

Juga Muawiyah bin Abi Sufyan ketika ditanya tentang Isra' Rasul mengatakan, itu adalah mimpi yang benar dari Tuhan. Sebaliknya orang yang berpendapat, bahwa Isra' dari Makkah ke Baitul Maqdis itu dengan jasad, landasannya adalah apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah, bahwa dalam Isra' itu beliau berada di pedalaman. Sedang Mikraj ke langit adalah dengan ruh. Di samping mereka itu, ada lagi pendapat bahwa Isra' dan Mikraj itu keduanya dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini banyak terjadi di kalangan ahli-ahli ilmu kalam dan ribuan pula tulisan-tulisan yang sudah dikemukakan orang.

Jadi barangsiapa yang mau menyatakan pendapatnya, bahwa Isra' dan Mikraj itu keduanya dengan ruh, maka dasarnya adalah seperti yang sudah berulang-ulang pula disebutkan dalam Al-Qur'an dan diucapkan Rasulullah. "...Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: 'Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." (QS Al-Kahfi: 110).

Orang-orang Arab penduduk Makkah tidak dapat memahami semua pengertian ini. Itulah pula sebabnya, tatkala soal Isra' itu disampaikan oleh Rasulullah kepada mereka, mereka pun menanggapinya dengan beragam. Apa yang dikatakannya itu kemudian menimbulkan kesangsian juga pada beberapa orang pengikutnya. Mereka yang tadinya sudah percaya, berbalik arah.

Menurut mereka, masalah ini sudah jelas. Perjalanan kafilah yang terus-menerus pun antara Makkah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin Muhammad hanya satu malam saja pergi-pulang ke Makkah? Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik murtad.

Mereka yang masih menyangsikan hal ini lalu mendatangi Abu Bakar dan keterangan yang diberikan Muhammad SAW itu dijadikan bahan pembicaraan.

"Kalian berdusta," kata Abu Bakar.

"Sungguh, dia di masjid sedang bicara dengan orang banyak," kata mereka.

"Dan kalaupun itu yang dikatakannya," kata Abu Bakr lagi, "Tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan."

Abu Bakar lalu mendatangi Nabi SAW dan mendengarkan beliau melukiskan Baitul Maqdis. Abu Bakar sudah pernah berkunjung ke kota itu. Setelah Rasulullah selesai melukiskan keadaan masjidnya, Abu Bakar berkata tegas, "Rasulullah, saya percaya!"

Sejak itu Rasulullah memanggil Abu Bakar dengan "Ash-Shiddiq".

sumber : Republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke