Rabu, 18 Mei 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Baiat Aqabah


Permusuhan Quraisy terhadap Muhammad SAW dan kaum Muslimin semakin keras. Rasanya tak ada lagi harapan bagi Rasulullah untuk mendapat dukungan kabilah-kabilah sesudah mereka menolaknya dengan cara yang tidak baik. Rasulullah merasa bahwa tiada seorang pun dari Quraisy yang dapat diharapkan diajak kepada kebenaran.

Meskipun beliau merasa berbesar hati karena adanya Hamzah dan Umar, dan meskipun yakin, bahwa Quraisy tidak akan terlalu membahayakan mengingat adanya pertahanan pihak keluarganya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, tapi beliau melihat bahwa risalah Allah itu akan terhenti hanya pada suatu lingkaran pengikutnya saja. Mereka yang terdiri dari orang-orang yang masih lemah dan sedikit sekali jumlahnya, hampir-hampir saja punah atau tergoda meninggalkan agamanya kalau tidak segera datang kemenangan dan pertolongan Allah. Hal ini berjalan cukup lama.

Apabila musim ziarah tiba, orang-orang dari segenap jazirah Arab berkumpul lagi di Makkah, Rasululah mulai menemui kabilah-kabilah itu. Diajaknya mereka memahami kebenaran agama yang dibawanya. Tidak peduli apakah kabilah-kabilah tidak mau menerima ajakannya atau akan mengusirnya secara kasar.

Tiba giliran tahun berikutnya, bulan-bulan suci pun datang bersama datangnya musim ziarah ke Makkah, dan ke tempat itu datang pula duabelas orang penduduk Yatsrib. Mereka bertemu dengan Nabi SAW di Aqabah. Di tempat inilah mereka menyatakan baiat atau ikrar kepada Rasulullah, yang kemudian dikenal dengan sebutan Baiat Aqabah Pertama. Mereka berikrar kepada Rasulullah untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik di depan atau di belakang. Dan tidak menolak berbuat kebaikan.

Rasulullah kemudian menugaskan Mush'ab bin Umair supaya membacakan Al-Qur'an kepada mereka, mengajarkan Islam serta seluk-beluk hukum agama. Setelah adanya baiat ini Islam makin tersebar di Yatsrib. Mush'ab bertugas memberikan pelajaran agama di kalangan Muslimin Aus dan Khazraj.

Pada 622 M, jamaah haji dari Yatsrib jumlahnya banyak sekali, terdiri dari 75 orang, 73 pria dan dua wanita. Mengetahui kedatangan mereka ini, Rasulullah berniat akan mengadakan baiat lagi, tidak terbatas hanya pada seruan kepada Islam seperti selama ini, melainkan lebih jauh dari itu. Baiat ini hendaknya menjadi suatu pakta persekutuan. Dengan demikian kaum Muslimin dapat mempertahankan diri; pukulan dibalas dengan pukulan, serangan dengan serangan. Rasulullah lalu mengadakan pertemuan rahasia dengan pemimpin-pemimpin mereka.

Setelah ada kesediaan mereka, dijanjikannya pertemuan itu akan diadakan di Aqabah pada tengah malam. Peristiwa ini oleh kaum Muslimin Yatsrib tetap dirahasiakan dari kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka. Sesampai di gunung Aqabah, mereka semua mendaki lereng-lereng gunung tersebut, kemudian menunggu kedatangan Rasul SAW.

Rasulullah pun datang bersama pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang pada waktu itu belum memeluk Islam. Setelah masing-masing pihak menyatakan kesediaan berbaiat, mereka kemudian mengulurkan tangan dan menyatakan baiat kepada Rasulullah. Selesai baiat, Rasulullah berkata kepada mereka, "Pilihlah dua belas orang pemimpin dari kalangan tuan-tuan yang akan menjadi penanggung jawab masyarakatnya!"

Mereka lalu memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu Nabi berkata, "Tuan-tuan adalah penanggung jawab masyarakat tuan-tuan seperti pertanggung jawaban pengikut-pengikut Isa bin Maryam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggungjawab."

Dalam ikrar kedua ini mereka berkata, "Kami berikrar, mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara. Kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada. Dan kami tidak takut kritik siapa pun atas jalan Allah ini."

Peristiwa ini selesai pada tengah malam di celah gunung Aqabah, jauh dari masyarakat ramai, atas dasar kepercayaan bahwa hanya Allah yang mengetahui keadaan mereka.

Dengan adanya Baiat Aqabah ini, pintu harapan akan menang jadi terbuka di depan Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya. Setidak-tidaknya harapan kebebasan menyebarkan agama, serta menyerang berhala-berhala dan penyembah-penyembahnya. Rasulullah meminta para sahabatnya supaya menyusul kaum Anshar ke Yatsrib. Hanya saja, ketika meninggalkan Makkah hendaknya mereka
berpencar agar tidak menimbulkan kepanikan.

Mulailah kaum Muslimin melakukan hijrah secara sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil. Akan tetapi hal itu rupanya sudah diketahui oleh pihak Quraisy. Mereka segera bertindak, berusaha mengembalikan kaum Muslimin ke Makkah untuk kemudian dibujuk supaya kembali kepada kepercayaan mereka. Kalau mereka menolak, akan disiksa dan dianiaya.

Berturut-turut kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib, sedang Rasulullah tetap berada di tempatnya. Tak ada yang tahu, apakah beliau akan tetap tinggal di tempatnya atau akan hijrah juga. Apabila Rasulullah masih tinggal di Makkah dan berusaha meninggalkan tempat itu, maka pihak Quraisy masih merasa terancam oleh adanya tindakan pihak Yatsrib dalam membela Nabi SAW.

Jadi tak ada jalan keluar bagi Quraisy selain membunuhya. Dengan begitu mereka lepas dari malapetaka yang terus-menerus itu. Tetapi kalau mereka membunuhnya, tentu keluarga Hasyim dan keluarga Muthalib akan menuntut balas. Maka pecahlah perang saudara di Makkah, dan suatu bencana yang sangat mereka takuti juga akan datang dari pihak Yatsrib.

sumber : Republika.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Halaman Ke