Senin, 27 September 2010

Mengenang Gus Dur Sang Penghalang Besar


Mengenang Gus Dur Sang Penghalang Besar


Oleh: H. Ahmad

Pada gilirannya, penghalang besar dan kosnsisten terhadap ditegakkannya Syari’at Islam, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur telah mati, dicabut malaikat maut, menjelang akhir tahun 2009. Tepatnya hari Rabu malam pukul 18.45, tanggal 30 Desember 2009 bertepatan dengan tanggal 13 Muharram 1431H, di Rumah Sakit Umum Pusat, Cipto Mangun Kusumo (RSCM), Jakarta.

Mayatnya dikuburkan di Jombang Jawa Timur tempat kelahirannya. Penguburan pada hari Kamis 31 Desember 2009/14 Muharram 1431H dilakukan secara militer dipimpin oleh Presiden SBY (Soesilo Bambang Yudhoyono) dan dari rumah GD di Ciganjur Jakarta ke Jombang itu dikawal oleh Ketua MPR Taufik Kiemas suami Megawati tokoh partai PDIP.

Menurut orang dekatnya yang diwawancarai Radio Elshinta Jakarta saat mayat itu dibawa dari RSCM ke rumahnya di Ciganjur Jakarta, Rabu Malam 30/ 12, bahwa Gus Dur menjelang matinya itu mengaduh dengan suara “waduh… waduh… “ sangat kesakitan di bagian bawah pusernya. Padahal kata orang dekat Gus Dur ini, selama ini Gus Dur tidak pernah mengeluh walau dalam keadaan sakit. Tapi saat itu sangat kesakitan… dan ada yang ganjil…

Ketika ditanya oleh pewawancara radio itu, kedengarannya seperti dijawab dengan agak mengalihkan masalah. Bahwa Gus Dur memandangi dia. Dibacakan Allah Allah (mestinya: Laa ilaaha illalLah) dan Gus Dur bilang ya ya, berarti masih sadar, kata orang yang diwawancara Radio itu dan saat itu ia duduk di kursi mobil Gus Dur yang biasa diduduki Gus Dur waktu hidupnya, dalam perjalanan ke rumah Gus Dur di belakang ambulan yang mengusung mayat ini ke Ciganjur Jakarta selatan dari RSCM.

Penghalang besar diterapkannya syari’at Islam.

Orang yang mengamati apalagi menekuni perpolitikan, baik Muslim maupun kafir mesti tahu, bahwa sejatinya Gus Dur adalah penghalang besar diterapkannya Syari’at Islam. Maka apapun bentuknya kalau itu berupa Syari’at Islam dan akan diterapkan, senantiasa Gus Dur tolak, dengan alasan akan meresahkan, membahayakan, dan sebagainya.

Penghalangan terhadap Syari’at Islam itu ketika misalnya dilakukan oleh orang di luar Islam maka lumrah. Tetapi anehnya, ini dilakukan oleh orang yang memimpin organisasi Islam dan dianggap sebagai tokoh Islam. Di sinilah letak suburnya dukungan dari orang-orang kafir dan lainnya terhadap Gus Dur. Ini pantas jadi pelajaran bagi orang seperti Amien Rais dan lainnya.

Dalam hal apa?

Dalam hal dipercaya oleh orang kafir sebagai sejalan dengan mereka. Contohnya, walaupun Amien Rais dalam kampanye-kampanyenya sering ke Klenteng, bahkan telah usul dan diamini oleh Gus Dur untuk disahkannya Konghuchu sebagai agama; namun tetap saja orang kafir tidak percaya kepada Amien Rais, dengan bukti mereka tidak mendukungnya, dan tidak begitu menghormati sebagaimana menghormati Gus Dur. Ini karena maqomnya beda antara Gus Dur yang sudah begitu diyakininya oleh orang kafir bahwa dia sebagai penolak Syari’at sejati, sedang Amien Rais masih dikhawatirkan kalau-kalau nanti masih akan berbau Syari’at.

Di samping itu, keyakinan orang kafir terhadap Gus Dur menjadi bulat, karena tambahan-tambahan yang dilakukan Gus Dur menambah pula keyakinan orang kafir. Misalnya dalam hal Gus Dur mendukung pornografi dan Inul penjoget ngebor yang dikecam para tokoh Islam sebagai maksiat. Mendukung pemurtadan dengan aneka bentuknya, kemusyrikan seperti ruwatan dan sebagainya. Gus Dur menyebarkan faham untuk mengganti lafal salam Islam assalmu’alaikum menjadi selamat pagi. Gus Dur bersikap lebih dekat dengan Zionis dan Nasrani, sampai-sampai diberi gelar Lasykar Kristus. Hal itu berbanding terbalik berupa kebencian yang amat terhadap pembela Islam, yang bahkan oleh Gus Dur disebut sebagai musuh besar. Kurang lebihnya, yang dimaksud musuh besar Gus Dur adalah orang-orang yang membela Islam secara istiqomah, hanya saja bisa diplintir dengan bahasa plintiran, misalnya ekstrimis dan sebagainya.

Sudah banyak orang yang menganalisis sikap Gus Dur. Dengan bahasa yang bergaya politis, uraian berikut ini menggambarkan hal itu:
Gus Dur seperti pidatonya di Sidang Tahunan MPR Agusutus 2000 menekankan kembali rekaman cetak biru raksasa (giant blue print) visi dan misi perjuangannya yang dilandasi filsafat pribadinya yang ia sebut sebagai : pluralisme, toleransi dan kemanusiaan. Lembaran pemikiran Gus Dur itu di awal kepresidenannya telah membangkitkan perlawanan dan mengentalnya sentimen religiousitas dan ideologi sebagian kelompok strategis umat Islam. Antara lain ketika Gus Dur berniat membuka hubungan dagang dengan Israel dan mencabut TAP MPR No. 25 Th. 1966 tentang pelarangan komunisme. Begitu pula pernyataannya tentang Departemen Agama sebagai arena pasar dan terlalu menitik beratkan hanya kepentingan satu agama (Islam?) , Mesjid Istiqlal harus dikelola oleh berbagai pemeluk agama seperti Katedral di Washington…

Menurut Mark R. Woodward (1998) filsafat politik Abdurrahman Wahid adalah: mengkombinasikan kesalehan Islam (individual ?. Pen.) dan apa yang disebutnya "kemanusiaan universal". Ia menjelaskan bahwa secara metodologis, NU masih tetap sepenuhnya tradisional, tetapi organisasi itu memanfaatkan penalaran fiqih mazhab Syafi'i untuk sampai pada pandangan-pandangan yang toleran dan pragmatis. Ia sepenuhnya berpegang pada gagasan negara sekular (huruf tebal, Pen.) di mana warga negara dari latar belakang berbagai agama memiliki hak-hak yang sama. Ia dengan gigih menentang setiap upaya untuk memasukkan ketetapan hukum Islam mengenai perzinaan dan pemurtadan ke dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia, dan (Ia) menyebut penerapan hukum pidana "Islam" di Malaysia sebagai "kembali ke zaman kegelapan.

Apabila Gus Dur memperjuangkan demokrasi, seperti dikutip Barton, tentulah harus diartikan demokrasi dalam memperjuangkan ketimpangan sosial, ekonomi, politik dan HAM serta memperjuangkan legalitas ideologi lain seperti rehabilitasi komunis seperti telah disinggung pada bagian terdahulu. Akan tetapi soal aspirasi sebagian umat Islam untuk mendapat pengayoman dalam menjalankan syariat agamanya , dengan mengamandemen pasal 29 UUD '45 tadi, dianggap oleh Gus Dur sebagai upaya formalisme agama yang akan meresahkan masyarakat. (http://shofwankarim.blogspot.com/)

Ketika secara kenyataan orang-orang kafir faham betul bahwa Gus Dur memang menolak apa-apa yang bersifat syar’I untuk diterapkan, sedang para pengamat apalagi yang menekuni politik juga fasih menguraikan hal itu, maka yang memprihatinkan justru Ummat Islam banyak yang tidak tahu atau tak mau tahu bahwa Gus Dur itu penghalang besar diterapkannya Syari’at Islam.

Sampai-sampai ditunjuki dengan buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Gus Dur Menjual Bapkanya yang isinya bahwa Gus Dur memutar balikkan fakta, yang sejatinya bapaknya itu memperjuangkan ditegakkannya Syari’at Islam di negeri Indonesia, namun oleh Gus Dur disejajarkan dengan tokoh PKI yang jelas anti Islam pun sebagian Ummat Islam tidak mau tahu. Seakan Gus Dur itu dianggap sebagai pejuang Islam. Hingga tokoh yang mereka pilih pun kemungkinan yang bergaya seperti Gus Dur. Di sinilah letak keberhasilan komunitas Gus Dur itu dalam melestarikan kebodohan di kalangan golongan yang mereka pimpin, yang kadang-kadang dengan disponsori oleh orang kafir pula. []

Sumber : voa-islam.com/
Suara Islam Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman Ke